Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

 

Minggu, tgl 12 Juli 2009, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

YOSUA 9:1-27 (2)

 

Yos 9:1-27 - “(1) Ketika terdengar oleh raja-raja di sebelah barat sungai Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit dan sepanjang tepi pantai Laut Besar sampai ke seberang gunung Libanon, yakni raja-raja orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, (2) bergabunglah mereka dengan seia sekata untuk memerangi Yosua dan orang Israel. (3) Tetapi ketika terdengar kepada penduduk negeri Gibeon apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai, (4) maka merekapun bertindak dengan memakai akal: mereka pergi menyediakan bekal, mengambil karung yang buruk-buruk untuk dimuatkan ke atas keledai mereka dan kirbat anggur yang buruk-buruk, yang robek dan dijahit kembali, (5) dan kasut yang buruk-buruk dan ditambal untuk dikenakan pada kaki mereka dan pakaian yang buruk-buruk untuk dikenakan oleh mereka, sedang segala roti bekal mereka telah kering, tinggal remah-remah belaka. (6) Demikianlah mereka pergi kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal. Berkatalah mereka kepadanya dan kepada orang-orang Israel itu: ‘Kami ini datang dari negeri jauh; maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami.’ (7) Tetapi berkatalah orang-orang Israel kepada orang-orang Hewi itu: ‘Barangkali kamu ini diam di tengah-tengah kami, bagaimana mungkin kami mengikat perjanjian dengan kamu?’ (8) Lalu kata mereka kepada Yosua: ‘Kami ini hamba-hambamu.’ Tanya Yosua: ‘Siapakah kamu ini dan dari manakah kamu datang?’ (9) Jawab mereka kepadanya: ‘Dari negeri yang sangat jauh hamba-hambamu ini datang karena nama TUHAN, Allahmu, sebab kami telah mendengar kabar tentang Dia, yakni segala yang dilakukanNya di Mesir, (10) dan segala yang dilakukanNya terhadap kedua raja orang Amori itu di seberang sungai Yordan, Sihon, raja Hesybon, dan Og, raja Basan, yang diam di Asytarot. (11) Sebab itu para tua-tua kami dan seluruh penduduk negeri kami berkata kepada kami, demikian: Bawalah bekal untuk di jalan dan pergilah menemui mereka dan berkatalah kepada mereka: Kami ini hamba-hambamu, maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami. (12) Inilah roti kami: masih panas ketika kami bawa sebagai bekal dari rumah pada hari kami berangkat berjalan mendapatkan kamu, tetapi sekarang, lihatlah, telah kering dan tinggal remah-remah belaka. (13) Inilah kirbat-kirbat anggur, yang masih baru ketika kami mengisinya, tetapi lihatlah, telah robek; dan inilah pakaian dan kasut kami, semuanya telah buruk-buruk karena perjalanan yang sangat jauh itu.’ (14) Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN. (15) Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka. (16) Tetapi setelah lewat tiga hari, sesudah orang Israel mengikat perjanjian dengan orang-orang itu, terdengarlah oleh mereka, bahwa orang-orang itu tinggal dekat mereka, bahkan diam di tengah-tengah mereka. (17) Sebab orang Israel berangkat pergi dan pada hari ketiga sampai ke kota-kota orang-orang itu; adapun kota-kota itu ialah Gibeon, Kefira, Beerot dan Kiryat-Yearim. (18) Orang Israel tidak menewaskan, sebab para pemimpin umat telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel. Lalu bersungut-sungutlah segenap umat kepada para pemimpin. (19) Berkatalah pemimpin-pemimpin itu kepada seluruh umat: ‘Kami telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel; oleh sebab itu kita tidak dapat mengusik mereka. (20) Beginilah akan kita perlakukan mereka: membiarkan mereka hidup, supaya kita jangan tertimpa murka karena sumpah yang telah kita ikrarkan itu kepada mereka.’ (21) Lagi kata para pemimpin kepada mereka: ‘Biarlah mereka hidup.’ Maka merekapun dijadikan tukang belah kayu dan tukang timba air untuk segenap umat, seperti yang ditetapkan oleh para pemimpin mengenai mereka. (22) Lalu Yosua memanggil mereka dan berkata kepada mereka, demikian: ‘Mengapa kamu menipu kami dengan berkata: Kami ini tinggal sangat jauh dari pada kamu, padahal kamu diam di tengah-tengah kami? (23) Oleh sebab itu, terkutuklah kamu dan tak putus-putusnya kamu menjadi hamba, tukang belah kayu dan tukang timba air untuk rumah Allahku.’ (24) Jawab mereka kepada Yosua, katanya: ‘Sebab telah dikabarkan dengan sungguh-sungguh kepada hamba-hambamu ini, bahwa TUHAN, Allahmu, memerintahkan kepada Musa hambaNya, memberikan seluruh negeri itu kepadamu dan memunahkan seluruh penduduk negeri itu dari depan kamu, maka sangatlah kami takut kehilangan nyawa, menghadapi kamu; itulah sebabnya kami melakukan yang demikian. (25) Maka sekarang, kami ini dalam tanganmu; perlakukanlah kami seperti yang kaupandang baik dan benar untuk dilakukan kepada kami.’ (26) Demikianlah dilakukannya kepada mereka. Dilepaskannyalah mereka dari tangan orang-orang Israel, sehingga mereka tidak dibunuh. (27) Dan pada waktu itu Yosua menjadikan mereka tukang belah kayu dan tukang timba air untuk umat itu dan untuk mezbah TUHAN, sampai sekarang, di tempat yang akan dipilihNya”.

 

II) Yosua / bangsa Israel tertipu.

 

1)   Mula-mula orang-orang Israel ragu-ragu dan curiga.

Ay 7: “Tetapi berkatalah orang-orang Israel kepada orang-orang Hewi itu: ‘Barangkali kamu ini diam di tengah-tengah kami, bagaimana mungkin kami mengikat perjanjian dengan kamu?’”.

 

a)   Mereka tahu bahwa firman Tuhan melarang mereka mengadakan perjanjian dengan penduduk Kanaan.

Bandingkan dengan:

·        Ul 7:1-5 - “(1) ‘Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, (2) dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka. (3) Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; (4) sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari padaKu, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. (5) Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis”.

·        Ul 20:10-18 - “(10) Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. (11) Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu. (12) Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya; (13) dan setelah TUHAN, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. (14) Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kaurampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, boleh kaupergunakan. (15) Demikianlah harus kaulakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini. (16) Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apapun yang bernafas, (17) melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, (18) supaya mereka jangan mengajar kamu berbuat sesuai dengan segala kekejian, yang dilakukan mereka bagi allah mereka, sehingga kamu berbuat dosa kepada TUHAN, Allahmu. Bdk. Kel 23:20-33  Kel 34:11-16.

 

b)   Mereka curiga, jangan-jangan orang-orang ini bukan datang dari jauh, tetapi mereka adalah penduduk Kanaan, terhadap siapa Tuhan melarang mereka untuk berdamai, membuat perjanjian dsb.

Kecurigaan ini merupakan sesuatu yang benar, dan harus ditiru khususnya dalam hubungan dengan orang-orang kafir / sesat.

 

Matthew Henry: “the men of Israel suspected a fraud (v. 7): ‘Peradventure you dwell among us, and then we may not, we must not, make any league with you.’ ... Joshua put the questions to them, Who are you? and whence come you? He finds himself concerned to stand upon his guard against secret fraud as well as against open force. We in our spiritual warfare must stand against the wiles of the devil, remembering he is a subtle serpent as well as a roaring lion. In all leagues of relation and friendship we must first try and then trust, lest we repent at leisure agreements made in haste” [= orang-orang Israel mencurigai suatu penipuan (ay 7): ‘Mungkin kamu ini diam di antara kami, maka kami tidak boleh membuat persatuan apapun dengan kamu’. ... Yosua bertanya kepada mereka, Siapa kamu? dan dari mana kamu datang? Ia mendapati dirinya sendiri prihatin untuk berjaga-jaga terhadap penipuan diam-diam / rahasia maupun kekuatan terbuka. Dalam peperangan rohani kita, kita harus berjaga-jaga terhadap tipu muslihat Iblis, sambil mengingat bahwa ia adalah ular yang cerdik / licik maupun singa yang mengaum. Dalam setiap persatuan hubungan dan bersahabatan kita harus pertama-tama mencoba / menguji dan lalu mempercayai, supaya pada saat tenang jangan kita menyesali persetujuan yang kita buat dengan tergesa-gesa].

 

Contoh: Ev. Esra yang berikan pass word dari alamat emailnya kepada orang tak dikenal sehingga web dan alamat emailnya dihancurkan.

 

c)   Anehnya, sekalipun mereka mempunyai kecurigaan, mereka tetap masih kurang berhati-hati sehingga tertipu.

 

Adam Clarke: “It is strange they should have had such a suspicion, as the Gibeonites had acted so artfully; and it is as strange that, having such a suspicion, they acted with so little caution” (= Adalah aneh bahwa mereka curiga karena orang-orang Gibeon telah bertindak dengan begitu pandai; dan adalah aneh bahwa, setelah mempunyai kecurigaan seperti itu, mereka bertindak dengan begitu sedikit kehati-hatian).

 

Contoh: Saya menggunakan Telkom Vision dan Telkom Speedy, padahal saya sudah curiga! Ternyata keduanya brengsek!

 

2)   Orang Israel mengambil bekal orang-orang Gibeon itu untuk diperiksa, tetapi mereka tidak meminta petunjuk Tuhan.

Ay 14: “Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN”.

 

Pada­hal dari Bil 27:18-21, terlihat bahwa Yosua mempunyai jalan untuk menanyakan kehendak Tuhan.

Bil 27:18-21 - “(18) Lalu TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Ambillah Yosua bin Nun, seorang yang penuh roh, letakkanlah tanganmu atasnya, (19) suruhlah ia berdiri di depan imam Eleazar dan di depan segenap umat, lalu berikanlah kepadanya perintahmu di depan mata mereka itu (20) dan berilah dia sebagian dari kewibawaanmu, supaya segenap umat Israel mendengarkan dia. (21) Ia harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN; atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu.’”.

 

Jadi, dalam mengambil keputusan disini, mereka hanya menggunakan logika / akal mereka, tetapi mereka sama sekali tidak berdoa atau meminta petunjuk Tuhan. Dan akibatnya mereka mengambil keputusan yang salah!

 

Pulpit Commentary: “And asked not counsel at the mouth of the Lord. Even in the most obvious matter it is well not to trust too implicitly to our own judgment. Nothing could seem more clear or satisfactory than the account given of themselves by the Gibeonites - nothing more easy for the unassisted intellect to decide. And yet Joshua and the congregation were deceived. It is perhaps too much to say, with some commentators - Maurer, for instance - that Joshua disobeyed a plain command in acting thus. The passage in which Joshua is instructed to ‘stand up before Eleazar the priest, who shall ask counsel for him at the judgment of Urim before the Lord’ (Num 27:18-23), does not require him to do so in all cases. But it was clearly ‘an act of gross carelessness’ (Calvin). And the inference may safely be drawn that in no case whatever is it wise to trust to ourselves. However obvious our course may be, we shall do well to take counsel with God by prayer” [= Dan tidak meminta keputusan Tuhan. Bahkan dalam hal yang paling jelas adalah baik untuk tidak mempercayai secara terlalu mutlak penilaian kita sendiri. Tidak ada yang kelihatannya lebih jelas atau memuaskan dari pada cerita yang diberikan oleh orang-orang Gibeon tentang diri mereka sendiri - tidak ada yang lebih mudah bagi intelek untuk memutuskan tanpa bantuan. Tetapi Yosua dan kumpulan orang Israel itu tertipu. Mungkin terlalu keras untuk mengatakan, bersama dengan beberapa penafsir, seperti Murer, bahwa Yosua tidak mentaati suatu perintah yang jelas dalam bertindak seperti itu. Text dalam mana Yosua diinstruksikan untuk ‘berdiri di depan imam Eleazar, yang akan menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan Tuhan’ (Bil 27:18-23), tidak menuntutnya untuk melakukan hal itu dalam semua kasus. Tetapi itu jelas merupakan ‘suatu tindakan ceroboh yang besar’ (Calvin). Dan kesimpulan bisa ditarik secara aman, bahwa tidak ada kasus apapun dalam mana adalah bijaksana untuk mempercayai diri kita sendiri. Bagaimanapun jelasnya jalan kita, kita bertindak dengan baik untuk meminta nasehat Allah dengan doa].

 

Pulpit Commentary: “Joshua and the princes in this narrative made a distinction which many of us make, and which is not warranted by the Word of God; the distinction, that is, between matters of importance, which we should never think of deciding without prayer, and comparatively unimportant matters, in which the exercise of our own judgment is sufficient. But the truth is, that no matter is unimportant. Everything, strictly speaking, should be the subject of prayer; not necessarily of formal and prolonged prayer, but of a momentary ejaculation to God for help” (= Yosua dan para pemimpin dalam cerita ini membuat suatu pembedaan yang banyak kita buat, dan yang tidak dibenarkan oleh Firman Allah; yaitu pembedaan antara hal-hal yang penting, yang tidak pernah boleh kita pikirkan tanpa doa, dan hal-hal yang relatif tidak penting, dalam mana penggunaan dari penilaian kita sendiri adalah cukup. Tetapi kebenarannya adalah bahwa tidak ada hal yang tidak penting. Berbicara secara ketat, segala sesuatu harus menjadi pokok doa; tidak harus doa yang formil dan panjang, tetapi suatu lontaran sesaat kepada Allah untuk pertolongan).

 

Pulpit Commentary: “We must expect to fall into practical error when we fail to seek Divine direction. The wisest and best need something higher than their own judgment to guide them in the serious businesses of life. ‘In all thy ways acknowledge him, and he will direct thy steps’ (Prov 3:6)” [= Kita harus mengharapkan untuk jatuh ke dalam kesalahan praktis pada waktu kita gagal untuk mencari pimpinan Ilahi. Orang yang paling bijaksana dan paling baik membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi dari pada penilaian mereka sendiri untuk membimbing mereka dalam kesibukan / urusan yang serius dari kehidupan. ‘Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu’ (Amsal 3:6)].

 

Kesaksian: saya pernah didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai seorang petinju bernama Johnny Rompis (ini mungkin sekali merupakan dusta), yang minta biaya untuk menemui Jusuf Rony di Jakarta.

 

Penerapan: maukah saudara belajar dari peristiwa ini untuk selalu meminta petunjuk dari Tuhan sebelum mengambil keputusan, apalagi dalam hal-hal yang penting? Apakah saudara berdoa meminta pimpinan Tuhan dalam:

·        memilih pacar / jodoh?

·        memilih sekolah?

·        memilih pekerjaan / pindah kerja?

·        membeli rumah?

·        memilih pelayanan?

·        memilih gereja?

Kalau saudara tidak mau meminta petunjuk Tuhan, jangan salahkan siapa-siapa (kecuali diri saudara sendiri) kalau saudara salah jalan!

 

3)   Yosua / bangsa Israel tertipu, dan mereka mengadakan perjanjian dengan orang-orang Gibeon.

Ay 15: “Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka”.

 

Cerita ini merupakan suatu peringatan bagi orang Kristen dalam menghadapi kelicikan dan tipu daya orang dunia. Bdk. Mat 10:16 - “‘Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”.

Yang saya sebut ‘orang dunia’ tidak harus orang non Kristen! Bisa ‘orang Kristen’, bahkan ‘hamba Tuhan’!

Contoh: banyak orang Kristen percaya pada rekan bisnis, sehingga tanpa bukti / surat apapun mereka lalu mempercayakan harta / uang / tanah, dan ternyata lalu ‘dimakan’ oleh ‘saudara seiman’ itu! Bahkan saya baru dengar sebuah cerita tentang seorang jemaat yang begitu mengasihi pendetanya yang tidak punya rumah, sehingga lalu mengijinkan pendeta itu tinggal selama-lamanya di rumahnya. Ternyata dengan tipu muslihat pendeta itu, disertai kebodohan / keluguan jemaat tersebut, rumah itu sekarang dikuasai oleh si pendeta tersebut!

 

III) Yosua / bangsa Israel tertipu.

 

1)   Setelah beberapa hari, Israel tahu bahwa mereka telah ditipu oleh orang-orang Gibeon itu.

Ay 16: “Tetapi setelah lewat tiga hari, sesudah orang Israel mengikat perjanjian dengan orang-orang itu, terdengarlah oleh mereka, bahwa orang-orang itu tinggal dekat mereka, bahkan diam di tengah-tengah mereka”.

 

2)   Bangsa Israel mendatangi orang-orang Gibeon itu, tetapi tidak membunuh mereka. Bangsa Israel bersungut-sungut kepada para pemimpin mereka (ay 18b).

Ay 17-18: “(17) Sebab orang Israel berangkat pergi dan pada hari ketiga sampai ke kota-kota orang-orang itu; adapun kota-kota itu ialah Gibeon, Kefira, Beerot dan Kiryat-Yearim. (18) Orang Israel tidak menewaskan, sebab para pemimpin umat telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel. Lalu bersungut-sungutlah segenap umat kepada para pemimpin.

 

Mungkin karena dengan mereka tidak boleh membunuh orang-orang Gibeon, mereka tidak memperoleh jarahan apa-apa, dan itu membuat mereka bersungut-sungut. Matthew Henry mengatakan bahwa ditakutkan bahwa kejengkelan mereka itu bukan disebabkan karena semangat mereka dalam mentaati perintah Tuhan dengan membunuh semua orang Kanaan, tetapi karena ‘semangat’ mereka demi keuntungan mereka sendiri!

Jadi, kalau tadinya mereka mentaati perintah Tuhan secara murni, dengan membunuh semua orang Kanaan, tetapi setelah pembasmian terhadap kota Ai menghasilkan jarahan yang menguntungkan mereka, maka mereka justru menjadi haus akan keuntungan, dan ‘ingin mentaati Tuhan’ demi keuntungan!

 

Penerapan: ada hamba-hamba Tuhan yang mula-mula betul-betul ingin melayani Tuhan dengan mendirikan gereja, mencari jiwa-jiwa baru dsb, tetapi setelah semua itu ternyata mendatangkan keuntungan / kekayaan, maka sekarang motivasi mereka dalam mendirikan gereja / mencari jiwa-jiwa berubah! Bukan untuk mentaati Tuhan, tetapi demi keuntungan mereka sendiri! Ini merupakan sesuatu yang sangat membahayakan, yang harus dihindari oleh setiap hamba Tuhan yang sejati!

 

3)   Sekalipun jengkel dan merasa dirugikan, tetapi Yosua / bangsa Israel menepati janji mereka untuk tidak membunuh orang-orang Gibeon itu. Orang-orang Gibeon tidak dibunuh, tetapi dijadikan budak.

Ay 19-23: (19) Berkatalah pemimpin-pemimpin itu kepada seluruh umat: ‘Kami telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel; oleh sebab itu kita tidak dapat mengusik mereka. (20) Beginilah akan kita perlakukan mereka: membiarkan mereka hidup, supaya kita jangan tertimpa murka karena sumpah yang telah kita ikrarkan itu kepada mereka.’ (21) Lagi kata para pemimpin kepada mereka: ‘Biarlah mereka hidup.’ Maka merekapun dijadikan tukang belah kayu dan tukang timba air untuk segenap umat, seperti yang ditetapkan oleh para pemimpin mengenai mereka. (22) Lalu Yosua memanggil mereka dan berkata kepada mereka, demikian: ‘Mengapa kamu menipu kami dengan berkata: Kami ini tinggal sangat jauh dari pada kamu, padahal kamu diam di tengah-tengah kami? (23) Oleh sebab itu, terkutuklah kamu dan tak putus-putusnya kamu menjadi hamba, tukang belah kayu dan tukang timba air untuk rumah Allahku.’.

 

a)   Ada orang-orang yang berpendapat bahwa seharusnya Yosua / bangsa Israel tidak menepati janji / sumpah mereka untuk tidak membunuh orang-orang Gibeon. Alasannya adalah:

 

1.   Janji itu dibuat berlandaskan dusta, sehingga tidak sah / tidak berlaku.

 

2.   Dengan menepati janji itu, mereka berdosa karena tidak melaku­kan firman Tuhan yang menyuruh membunuh semua orang Kanaan (bdk. Ul 7:2).

Kalau seseorang harus menepati janjinya dengan suatu tindakan yang berdosa, maka sebetulnya ia justru tidak boleh menepati janji. Contoh: Yefta (Hak 11:29-40) dan Herodes (Mat 14:6-11). Sudah pasti bahwa Yefta sebetulnya tidak boleh mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran, dan Herodes sebetulnya tidak boleh membunuh Yohanes Pembaptis.

 

b)   Tetapi saya berpendapat bahwa tindakan Yosua / bangsa Israel dalam menepati janji / sumpah ini, adalah sesuatu yang benar. Alasan saya:

 

1.   Sekalipun janji itu dilandasi dusta, tetapi mereka bersumpah demi nama Tuhan untuk tidak membunuh orang-orang Gibeon (ay 15,18,19). Karena itu, mereka harus menepati sumpah ini, kalau mereka memang mau menghormati nama Tuhan yang mereka pakai untuk bersumpah itu.

 

a.         Ini mengajarkan kejujuran kepada kita.

Pulpit Commentary mengatakan bahwa bahasa tidak dimaksudkan untuk menyembunyikan, tetapi untuk menyatakan pikiran kita, dan kata-kata yang diucapkan sama mengikatnya seperti kata-kata yang dituliskan. Dalam bisnis setiap kata-kata orang Kristen harus bisa dipercaya, dan mereka harus rela menanggung resiko yang besar dari pada membuat dalih dan tidak melakukan apa yang mereka janjikan, baik dengan kata-kata maupun dengan tulisan / kontrak.

Matthew Henry menambahkan bahwa kalau suatu janji yang didasarkan pada dusta seperti itu saja tetap ditepati, lebih-lebih kalau janji itu didasarkan pada kejujuran.

 

Matthew Henry: “If a covenant obtained by so many lies and deceits might not be broken, shall we think to evade the obligation of those that have been made with all possible honesty and fairness? If the fraud of others will not justify or excuse our falsehood, certainly the honesty of others in dealing with us will aggravate and condemn our dishonesty in dealing with them” (= Jika suatu perjanjian yang didapatkan oleh begitu banyak dusta dan penipuan tidak boleh dilanggar, apakah kita berpikir untuk menghindari kewajiban dari perjanjian-perjanjian yang telah dibuat dengan semua kemungkinan kejujuran dan keadilan? Jika penipuan / kecurangan dari orang-orang lain tidak membenarkan atau memberi dalih bagi kepalsuan kita, pastilah kejujuran dari orang-orang lain dalam menghadapi kita akan memperburuk dan mengecam ketidak-jujuran kta dalam berhadapan dengan mereka).

 

b.         Sumpah, lebih-lebih lagi, merupakan sesuatu yang harus ditepati.

 

Pulpit Commentary: “By not allowing the Israelites to break their oath to the Gibeonites, even though they had been deceived by them, GOD TEACHES US THAT WRONG DONE BY OUR NEIGHBOUR DOES NOT AT ALL VINDICATE US IN BEING GUILTY OF A LIKE WRONG. ... We are to ‘overcome evil with good,’ and it is this which distinguishes the people of God from all other people” (= Dengan tidak mengijinkan orang Israel melanggar sumpah mereka kepada orang-orang Gibeon, sekalipun mereka telah ditipu oleh orang-orang Gibeon itu, Allah mengajar kita bahwa kesalahan yang dilakukan oleh sesama kita sama sekali tidak membebaskan kita dari kesalahan yang sama. ... Kita harus ‘mengalahkan kejahatan dengan kebaikan’ dan inilah yang membedakan umat Allah dari semua umat / bangsa lain).

 

Calvin: the sacred name of God is more precious than the wealth of a whole world. Hence though a man may have sworn with little consideration, no loss or expense will free him from performance (= nama yang keramat dari Allah lebih berharga dari pada kekayaan seluruh dunia. Karena itu sekalipun seseorang telah bersumpah dengan sedikit pertimbangan, tidak ada kerugian atau biaya akan membebaskan dia dari pelaksanaan sumpah itu).

 

Calvin: “if a private interest only is to be affected, everything which we may have promised by oath must be performed” (= jika hanya suatu kepentingan pribadi yang terpengaruh, segala sesuatu yang kita janjikan dengan sumpah harus dilakukan).

Catatan: karena itu, harus dibedakan sumpah Yefta dan Herodes, dengan sumpah orang Israel di sini. Yang pertama berkenaan dengan nyawa orang lain yang tidak bersalah, yang terakhir berkenaan dengan kepentingan pribadi dari orang yang bersumpah. Karena itu, yang pertama sebetulnya tidak boleh dilakukan, yang kedua harus dilakukan.

 

Bdk. Maz 15:4 - “yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi.

Kata-kata yang saya beri garis bawah tunggal salah terjemahan.

KJV: ‘In whose eyes a vile person is contemned; but he honoureth them that fear the LORD. He that sweareth to his own hurt, and changeth not’ (= Dalam mata siapa seseorang yang keji / busuk direndahkan / dipandang hina; tetapi ia menghormati mereka yang takut kepada TUHAN. Ia yang bersumpah bagi kerugiannya sendiri, dan tidak berubah).

 

2.   Firman Tuhan untuk membunuh semua orang Kanaan itu, tujuannya supaya orang Kanaan itu tidak menyesatkan bangsa Israel (bdk. Ul 7:2-4). Karena itu, orang Gibeon tidak dibunuh, tetapi dijadikan budak. Ini berfungsi sebagai hukuman bagi mereka, dan sekaligus supaya mereka tidak bisa menyesat­kan bangsa Israel (NB: status budak menyebabkan mereka tidak bisa menyesatkan bangsa Israel). Jadi sekalipun bangsa Israel tidak membunuh orang-orang Gibeon, tetapi sebetulnya mereka sudah melaksanakan tujuan / inti dari Ul 7:2-4!

 

3.   Pada waktu raja-raja Kanaan yang lain marah dan berperang melawan orang Gibeon, dan Yosua / bangsa Israel membantu mereka, Tuhan memberikan Yosua / bangsa Israel kemenangan yang luar biasa (bdk. Yos 10).

 

4.   Dalam 2Sam 21:1-14 terlihat bahwa Tuhan murka akibat dilang­garnya perjanjian ini oleh Saul.

2Sam 21:1 - “Dalam zaman Daud terjadilah kelaparan selama tiga tahun berturut-turut, lalu Daud pergi menanyakan petunjuk TUHAN. Berfirmanlah TUHAN: ‘Pada Saul dan keluarganya melekat hutang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon.’”.

 

Barnes’ Notes: “This sparing of the Gibeonites, as well as the previous sparing of Rahab and her household, must be borne in mind when the massacre of the Canaanites by Joshua and the Israelites is discussed” (= Tidak dibunuhnya orang-orang Gibeon, maupun tidak dibunuhnya Rahab dan keluarganya sebelum peristiwa ini, harus dicamkan pada waktu pembunuhan terhadap orang-orang Kanaan oleh Yosua dan orang-orang Israel didiskusikan).

 

4)   Kutuk dan hukuman kepada orang-orang Gibeon.

Ay 22-23: (22) Lalu Yosua memanggil mereka dan berkata kepada mereka, demikian: ‘Mengapa kamu menipu kami dengan berkata: Kami ini tinggal sangat jauh dari pada kamu, padahal kamu diam di tengah-tengah kami? (23) Oleh sebab itu, terkutuklah kamu dan tak putus-putusnya kamu menjadi hamba, tukang belah kayu dan tukang timba air untuk rumah Allahku.’.

 

a)   Dari Ul 29:10-11, kelihatannya tukang belah kayu dan tukang timba air merupakan kedudukan yang paling / sangat rendah.

Ul 29:10-11 - “(10) Kamu sekalian pada hari ini berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu: para kepala sukumu, para tua-tuamu dan para pengatur pasukanmu, semua laki-laki Israel, (11) anak-anakmu, perempuan-perempuanmu dan orang-orang asing dalam perkemahanmu, bahkan tukang-tukang belah kayu dan tukang-tukang timba air di antaramu.

 

b)         Apakah perbudakan seperti itu tidak merupakan dosa?

Jelas bahwa perbudakan merupakan dosa, kalau ditinjau dari sudut Perjanjian Baru. Tetapi pada jaman Yosua, Tuhan hanya melarang bangsa Israel untuk memperbudak sesama orang Israel. Tetapi dari kalangan non Israel, mereka diijinkan untuk mempunyai budak.

Im 25:39-46 - “(39) Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. (40) Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu. (41) Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya. (42) Karena mereka itu hamba-hambaKu yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak. (43) Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu. (44) Tetapi budakmu laki-laki atau perempuan yang boleh kaumiliki adalah dari antara bangsa-bangsa yang di sekelilingmu; hanya dari antara merekalah kamu boleh membeli budak laki-laki dan perempuan. (45) Juga dari antara anak-anak pendatang yang tinggal di antaramu boleh kamu membelinya dan dari antara kaum mereka yang tinggal di antaramu, yang dilahirkan di negerimu. Orang-orang itu boleh menjadi milikmu. (46) Kamu harus membagikan mereka sebagai milik pusaka kepada anak-anakmu yang kemudian, supaya diwarisi sebagai milik; kamu harus memperbudakkan mereka untuk selama-lamanya, tetapi atas saudara-saudaramu orang-orang Israel, janganlah memerintah dengan kejam yang satu sama yang lain.

 

c)         Perbedaan Rahab dan orang-orang Gibeon.

Barnes’ Notes: “It was mere fear which drove the Gibeonites to act as they did. They sought for union with God’s people, not for its own sake, but to save their lives. Rahab’s motives were higher (Josh. 2:9 ff). Hence, she was adopted into Israel; the Gibeonites remained forever bondsmen of Israel” [= Hanya semata-mata rasa takutlah yang mendorong orang-orang Gibeon untuk bertindak seperti yang mereka lakukan. Mereka mencari persatuan dengan umat Allah, bukan demi hal itu sendiri, tetapi untuk menyelamatkan nyawa mereka. Motivasi Rahab lebih tinggi (Yos 2:9-dst). Karena itu, ia diadopsi ke dalam Israel; sedangkan orang-orang Gibeon tetap selama-lamanya sebagai budak-budak Israel].

 

d)   Hukuman perbudakan ini menguntungkan, dan karena itu menenangkan, bangsa Israel.

Matthew Henry mengatakan bahwa ini menenangkan kemarahan bangsa Israel, karena mereka menganggap bahwa perbudakan seperti itu lebih buruk dari pada kematian, dan karena dengan perbudakan itu, sekalipun mereka tidak mendapat jarahan, tetapi mereka diuntungkan oleh pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang Gibeon itu.

 

e)   Lebih dari itu, hukuman perbudakan ini menguntungkan imam-imam dan orang-orang Lewi, karena pekerjaan membelah kayu dan menimba air untuk kepentingan Kemah Suci merupakan pekerjaan yang sangat berat.

 

f)          Kutuk yang menjadi berkat.

Wycliffe: “Actually, it was Joshua’s curse, not God’s. Because they were assigned to perpetual service in God’s house, He blessed them. For the protection of Gibeon the Lord performed a great miracle (Josh 10:10-14), and in later years the Tabernacle was pitched there (2 Chr 1:3). For sixtyseven years or more God let the ark of the covenant remain at Kirjath-jearim (1 Sam 7:1-2; 2 Sam 6:2-3). Because Joshua [made] (from natan, ‘to give’) them to be hewers of wood, etc. (Josh 9:27), later they were called the Nethinim (‘ones given’ to the Temple service; 1 Chr 9:2; Ezr 2:43,58; 8:20) and were brought back from the Exile along with the priests and Levites by God’s providential hand” [= Sesungguhnya itu merupakan kutuk Yosua, bukan kutuk Allah. Karena mereka ditugaskan untuk pelayanan kekal di rumah Allah, Ia memberkati mereka. Untuk melindungi orang-orang Gibeon, Tuhan melakukan mujijat yang besar (Yos 10:10-14), dan dalam tahun-tahun belakangan Kemah Suci didirikan di sana (2Taw 1:3). Selama 67 tahun atau lebih Allah membiarkan tabut perjanjian berada di Kiryat-Yearim (1Sam 7:1-2; 2Sam 6:2-3). Karena Yosua ‘membuat’ (dari NATAN, ‘memberikan’) mereka untuk menjadi tukang belah kayu, dst. (Yos 9:27), belakangan mereka disebut NETHINIM (‘orang-orang yang diberikan’ pada pelayanan Kemah Suci; 1Taw 9:2; Ezra 2:43; 8:20) dan dibawa kembali dari pembuangan bersama-sama dengan imam-imam dan orang-orang Lewi oleh tangan / kuasa providensia Allah].

Catatan:

1.   Kiryat-Yearim memang termasuk wilayah orang Gibeon (bdk ay 17).

2.   Untuk 1Taw 9:2; Ezra 2:43; 8:20 lihat terjemahan KJV yang menggunakan kata NETHINIM untuk mereka.

 

Bible Knowledge Commentary: “So the very thing the Gibeonites hoped to attain they lost. They desperately wanted to remain free men; in the end they became slaves. But the curse became a blessing. It was on behalf of the Gibeonites that God worked a great miracle (cf. 10:10-14). Later the tabernacle was pitched at Gibeon (2 Chron 1:3); still later some Gibeonites helped Nehemiah rebuild Jerusalem’s wall (Neh 3:7). Such is the grace of God. He is still able to turn a curse into a blessing. Though it is usually true that the natural consequences of sin must run their course, the grace of God can not only forgive but also overrule mistakes and often bring blessings out of sins and failures” [= Jadi orang Gibeon kehilangan hal yang paling mereka harapkan. Mereka sangat ingin untuk tetap menjadi orang-orang merdeka; pada akhirnya mereka menjadi budak-budak. Tetapi kutuk itu menjadi suatu berkat. Demi kepentingan orang-orang Gibeonlah Allah mengerjakan mujijat yang besar (bdk. 10:10-14). Belakangan Kemah Suci didirikan di Gibeon (2Taw 1:3); dan lebih belakangan lagi beberapa orang Gibeon membantu Nehemia membangun kembali tembok Yerusalem (Neh 3:7). Begitulah kasih karunia Allah. Ia tetap mampu untuk membalikkan kutuk menjadi suatu berkat. Sekalipun biasanya benar bahwa konsekwensi alamiah dari dosa harus berjalan, kasih karunia Allah bukan hanya bisa mengampuni tetapi juga mengesamingkan / menyingkirkan kesalahan-kesalahan dan sering membawa berkat-berkat dari dosa-dosa dan kegagalan-kegagalan].

Catatan: jangan menyalah-gunakan hal ini seakan-akan ini merupakan suatu ijin untuk berbuat dosa!

 

Penutup / kesimpulan.

 

1)   Kecuali kalau penepatan janji itu melibatkan dosa, maka saudara harus selalu berusaha menepati janji, baik janji itu besar / penting maupun kecil / remeh. Bandingkan dengan Maz 15:4b!

Apakah saudara selalu berusaha menepati janji?

·        janji pada waktu pacaran / pernikahan?

·        janji kepada anak?

·        janji kepada pegawai / bawahan / pembantu rumah tangga?

·        janji kepada rekan bisnis / langganan saudara?

·        janji pada waktu diangkat sebagai pejabat gereja?

 

2)   Sekalipun seseorang ‘bertobat’ dengan melakukan hal-hal buruk dalam pertobatannya, tetapi Tuhan tetap memberkati orang yang bertobat dengan cara itu.

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali