Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

 

Minggu, tgl 22 Maret 2009, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

YOSUA 8:1-35(1)

 

Yosua 8:1-35 - “(1) Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: ‘Janganlah takut dan janganlah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya, (2) dan haruslah kaulakukan kepada Ai dan rajanya, seperti yang kaulakukan kepada Yerikho dan rajanya; hanya barang-barangnya dan ternaknya boleh kamu jarah. Suruhlah orang bersembunyi di belakang kota itu.’ (3) Lalu bersiaplah Yosua beserta seluruh tentara untuk pergi ke Ai. Yosua memilih tiga puluh ribu orang, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa, mereka disuruhnya pergi pada waktu malam (4) dan kepada mereka diperintahkannya, katanya: ‘Ketahuilah, kamu harus bersembunyi di belakang kota itu untuk menyerangnya, janganlah terlalu jauh dari kota itu, dan bersiap-siaplah kamu sekalian. (5) Aku dan semua orang yang bersama-sama dengan aku akan mendekati kota itu; apabila mereka keluar menyerbu kami, seperti yang pertama kali, maka kami akan melarikan diri dari hadapan mereka. (6) Jadi mereka akan keluar menyusul kami, sehingga kami memancing mereka jauh dari kota itu, sebab mereka akan berkata: orang-orang itu melarikan diri dari hadapan kita seperti yang pertama kali. Jika kami melarikan diri dari hadapan mereka, (7) maka kamu harus bangun dari tempat persembunyianmu itu untuk menduduki kota itu, dan TUHAN, Allahmu, akan menyerahkannya ke dalam tanganmu. (8) Segera setelah kamu merebut kota itu, haruslah kamu membakarnya; sesuai dengan firman TUHAN kamu harus melakukan semuanya itu; ingatlah, itulah perintahku kepadamu.’ (9) Demikianlah Yosua menyuruh mereka pergi, lalu berjalanlah mereka ke tempat persembunyian dan tinggal di antara Betel dan Ai, di sebelah barat Ai. Tetapi Yosua bermalam di tengah-tengah rakyat pada malam itu. (10) Keesokan harinya Yosua bangun pagi-pagi, lalu diperiksanyalah barisan bangsa itu dan berjalanlah ia maju beserta para tua-tua orang Israel di depan bangsa itu ke Ai. (11) Juga seluruh tentara yang bersama-sama dengan dia berjalan maju; mereka maju mendekat, lalu sampai ke tentangan kota itu, kemudian berkemahlah mereka di sebelah utara Ai, sehingga lembah itu ada di antara mereka dan Ai. (12) Yosua telah mengambil kira-kira lima ribu orang, lalu disuruhnya mereka bersembunyi di antara Betel dan Ai, di sebelah barat kota itu. (13) Beginilah rakyat itu diatur: seluruh tentara itu di sebelah utara kota dengan barisan belakang di sebelah barat kota. Pada malam itu berjalanlah Yosua melalui lembah itu. (14) Pagi-pagi, ketika raja negeri Ai melihat hal itu, maka ia dan seluruh rakyatnya, orang-orang kota itu, segera keluar berperang, menyerbu orang Israel, ke lereng di seberang dataran itu; raja itu tidak tahu, bahwa ada orang bersembunyi di belakang kota. (15) Yosua dan seluruh orang Israel itu berlaku seolah-olah dipukul mundur oleh mereka, lalu melarikan diri ke arah padang gurun. (16) Sebab itu semua orang yang ada di kota dikerahkan untuk mengejar orang Israel. Maka mereka mengejar Yosua, sehingga makin jauhlah mereka terpancing dari kota. (17) Seorangpun tidak tertinggal lagi di Ai dan Betel yang tidak keluar memburu orang Israel. Mereka meninggalkan kota itu terbuka, karena mereka mengejar orang Israel. (18) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: ‘Acungkanlah lembing yang ada di tanganmu ke arah Ai, sebab Aku menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu.’ Maka Yosua mengacungkan lembing yang di tangannya ke arah kota itu. (19) Ketika diacungkannya tangannya, maka segeralah bangun orang-orang yang bersembunyi itu dari tempatnya, mereka berlari memasuki kota, merebutnya, lalu segera membakar kota itu. (20) Ketika orang Ai berpaling menoleh ke belakang, tampaklah asap kota itu naik membubung ke langit; mereka tidak sempat melarikan diri ke manapun juga, sebab rakyat yang tadinya lari ke padang gurun, berbalik melawan pengejar-pengejarnya. (21) Ketika Yosua dan seluruh Israel melihat, bahwa orang-orang yang bersembunyi itu telah merebut kota dan bahwa asap kota itu naik membubung, berbaliklah mereka, lalu menewaskan orang-orang Ai. (22) Sementara itu juga keluar orang-orang Israel yang lain dari dalam kota menyerbu orang-orang Ai, sehingga terjepit di tengah-tengah orang Israel itu, yang ini dari sini dan yang itu dari sana; orang-orang Ai ditewaskan, sehingga seorangpun dari mereka tidak ada yang dibiarkan terlepas atau luput. (23) Tetapi raja Ai ditangkap mereka hidup-hidup dan dihadapkan kepada Yosua. (24) Segera sesudah orang Israel selesai membunuh seluruh penduduk kota Ai di padang terbuka ke mana orang Israel mengejar mereka, dan orang-orang ini semuanya tewas oleh mata pedang sampai orang yang penghabisan, maka seluruh Israel kembali ke Ai dan memukul kota itu dengan mata pedang. (25) Jumlah semua orang yang tewas pada hari itu, baik laki-laki maupun perempuan, ada dua belas ribu orang, semuanya orang Ai. (26) Dan Yosua tidak menarik tangannya yang mengacungkan lembing itu, sebelum seluruh penduduk kota Ai ditumpasnya. (27) Hanya ternak dan barang-barang kota itu dijarah oleh orang Israel, sesuai dengan firman TUHAN, yang diperintahkanNya kepada Yosua. (28) Yosua membakar Ai dan membuatnya menjadi timbunan puing untuk selama-lamanya, menjadi tempat yang tandus sampai sekarang. (29) Dan raja Ai digantungnya pada sebuah tiang sampai petang. Ketika matahari terbenam, Yosua memerintahkan orang menurunkan mayat itu dari tiang, lalu dilemparkan di depan pintu gerbang kota, kemudian didirikan oranglah di atasnya suatu timbunan batu yang besar, yang masih ada sampai sekarang. (30) Pada waktu itulah Yosua mendirikan mezbah di gunung Ebal bagi TUHAN, Allah Israel, (31) seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN, kepada orang Israel, menurut apa yang tertulis dalam kitab hukum Musa: suatu mezbah dari batu-batu yang tidak dipahat, yang tidak diolah dengan perkakas besi apapun. Di atasnyalah mereka mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN dan mengorbankan korban keselamatan. (32) Dan di sanalah di atas batu-batu itu, dituliskan Yosua salinan hukum Musa, yang dituliskannya di depan orang Israel. (33) Seluruh orang Israel, para tua-tuanya, para pengatur pasukannya dan para hakimnya berdiri sebelah-menyebelah tabut, berhadapan dengan para imam yang memang suku Lewi, para pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu, baik pendatang maupun anak negeri, setengahnya menghadap ke gunung Gerizim dan setengahnya lagi menghadap ke gunung Ebal, seperti yang dahulu diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN, apabila orang memberkati bangsa Israel. (34) Sesudah itu dibacakannyalah segala perkataan hukum Taurat, berkatnya dan kutuknya, sesuai dengan segala apa yang tertulis dalam kitab hukum. (35) Tidak ada sepatah katapun dari segala apa yang diperintahkan Musa yang tidak dibacakan oleh Yosua kepada seluruh jemaah Israel dan kepada perempuan-perempuan dan anak-anak dan kepada pendatang yang ikut serta”.

 

I) Firman Tuhan kepada Yosua (ay 1-2).

 

1)   Tuhan berkata bahwa mereka tidak boleh takut / tawar hati.

Ay 1: Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: ‘Janganlah takut dan janganlah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya.

 

a)   Kejahatan / dosa di dalam gereja, memberi pengaruh yang lebih negatif terhadap semangat dari para pemimpin gereja, dari pada musuh-musuh dari luar gereja / orang-orang kafir yang ada diluar gereja. Ini sangat melemahkan semangat dari para pemimpin tersebut.

Matthew Henry: “The encouragement God gives to Joshua to proceed: Fear not, neither be thou dismayed, v. 1. This intimates that the sin of Achan, and the consequences of it, had been a very great discouragement to Joshua, and made his heart almost ready to fail. Corruptions within the church weaken the hands, and damp the spirits, of her guides and helpers, more than oppositions from without; treacherous Israelites are to be dreaded more than malicious Canaanites. But God bids Joshua not be dismayed; the same power that keeps Israel from being ruined by their enemies shall keep them from ruining themselves” (= Penguatan / pemberian semangat yang Allah berikan kepada Yosua untuk maju: Janganlah takut, dan janganlah cemas / tawar hati, ay 1. Ini menunjukkan bahwa dosa Akhan, dan konsekwensi darinya, telah merupakan suatu pelemahan semangat yang besar bagi Yosua, dan membuat hatinya hampir siap untuk gagal. Kejahatan di dalam gereja melemahkan tangan, dan menekan roh / semangat, dari pembimbing-pembimbing dan penolong-penolongnya, lebih dari pada oposisi dari luar; orang-orang Israel yang mengkhianat harus lebih harus ditakuti dari pada orang-orang Kanaan yang jahat. Tetapi Allah meminta Yosua untuk tidak cemas / tawar hati; kuasa yang sama yang menjaga Israel supaya tidak dihancurkan oleh musuh-musuh mereka akan menjaga mereka dari tindakan menghancurkan diri mereka sendiri).

Catatan: yang dimaksud dengan pembimbing-pembimbing dan penolong-penolong dari gereja adalah pemimpin-pemimpin gereja, seperti pendeta, penginjil, dsb.

 

Bdk. Ibr 13:17 - “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu”.

 

b)   Mereka mau berperang, dan karena itu rasa takut / tawar hati itu harus disingkirkan karena bisa menjadi penggangu dalam perang!

Penerapan: apakah saudara sering berperang (secara rohani) dengan hati yang takut / tawar? Kalau ya, banyaklah berdoa supaya Tuhan membuang semua itu! Juga, banyaklah belajar Firman Tuhan untuk menguatkan iman saudara sehingga saudara bebas dari rasa takut.

 

c)   Mereka sudah membuang dosa dalam Yos 7, dan karena itu mereka tak perlu merasa takut lagi, karena sekarang Tuhan pasti menyer­tai mereka, dan ini dibuktikan dengan Ia mau memberikan Firman Tuhan / petunjuk lagi!

Ay 1: Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: ‘Janganlah takut dan janganlah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya.

 

Matthew Henry: “When we have faithfully put away sin, that accursed thing, which separates between us and God, then, and not till then, we may expect to hear from God to our comfort; and God’s directing us how to go on in our Christian work and warfare is a good evidence of his being reconciled to us” (= Pada saat kita dengan setia sudah membuang dosa, hal yang terkutuk itu, yang memisahkan kita dengan Allah, pada saat itu, dan tidak sampai saat itu, kita bisa berharap untuk mendengar dari Allah bagi penghiburan kita; dan pengarahan / pimpinan Allah kepada kita bagaimana berjalan dalam pekerjaan dan peperangan Kristen kita merupakan bukti yang baik bahwa Ia telah diperdamaikan dengan kita).

 

Penerapan: asalkan saudara betul-betul sudah bertobat dari dosa saudara, janganlah merasa takut / tawar hati lagi! Percayalah bahwa Allah pasti beserta saudara!

 

d)         Kegagalan yang lalu tidak boleh membuat mereka tidak memulai lagi.

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: No matter what mistakes we may make, the worst mistake of all is not to try again; for ‘the victorious Christian life is a series of new beginnings’ (Alexander Whyte). … No matter how badly we have failed, we can always get up and begin again; for our God is the God of new beginnings [= Tak peduli kesalahan-kesalahan apa yang kita perbuat, kesalahan yang terburuk dari semua adalah tidak mencoba lagi; karena ‘kehidupan orang Kristen yang menang adalah suatu seri dari permulaan yang baru’ (Alexander Whyte). … Tak peduli betapa buruknya kita telah gagal, kita bisa selalu bangun dan memulai lagi; karena Allah kita adalah Allah dari permulaan yang baru].

 

2)   Tuhan memberi pimpinan dengan menyuruh mereka berperang dengan membawa ‘seluruh tentara’ (ay 1). Ini kontras dengan pengiriman 2-3 ribu orang saja dalam 7:3-4.

Mengapa mereka harus berperang dengan menggunakan seluruh tentara? Dari Bil 26:1,2,51 bisa kita dapatkan bahwa tentara / orang yang bisa berperang dalam bangsa Israel berjumlah lebih dari 600.000 orang! Apa perlunya mengerahkan orang sebanyak itu, padahal seluruh penduduk Ai hanya 12.000 orang (bdk. ay 25)? Ada beberapa jawaban:

 

a)   Calvin mengatakan: karena mereka baru kalah melawan Ai. Dengan membawa seluruh tentara, ini akan membesarkan hati mereka.

Penerapan: makin banyak yang ikut dalam perang rohani ini, makin kita saling meneguhkan semangat satu sama lain. Karena itu, mari kita semua rajin dan tekun dalam perang rohani ini supaya kita semua bisa makin bersemangat.

 

b)   Tuhan tidak senang ada orang yang bisa berperang, tetapi tidak berperang.

Hakim 5:23 - “‘Kutukilah kota Meros!’ firman Malaikat TUHAN, ‘kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu TUHAN, membantu TUHAN sebagai pahlawan.’”.

Yer 48:10 - “Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedangnya dari penumpahan darah!”.

Memang dalam kasus Gideon, Tuhan justru menyuruh Gideon untuk mengurangi pasukannya sampai tinggal 300 orang, karena Tuhan tidak mau kalau mereka menang nanti, mereka menganggap kemenangannya bukan dari Tuhan tapi dari mereka sendiri (Hakim 7:1-8). Tetapi ini adalah keadaan khusus! Pada umumnya Tuhan menghendaki semua ikut perang.

Penerapan: apakah saudara adalah orang kristen yang ikut ‘perang’? Kalau saudara adalah orang kristen yang hanya seminggu sekali pergi ke gereja, dan tidak pernah mau melayani Tuhan, maka sadarilah bahwa itu bukan hidup yang dikehendaki oleh Tuhan!

Mat 12:30 - “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.

 

c)         Albert Barnes memberikan kemungkinan jawaban yang lain lagi.

Barnes’ Notes: “Though Ai was but a small city (compare Josh 8:25 and Josh 7:3), yet the discouragement of the people rendered it inexpedient to send a second time a mere detachment against it; and the people of Ai had, as appears from Josh 8:17, help from Bethel, and possibly from other places also. It was fitting too that all the people should witness with their own eyes the happy consequences of having faithfully put away the sin which had separated them from God [= Sekalipun Ai hanyalah kota yang kecil (bandingkan dengan Yos 8:25 dan Yos 7:3), tetapi kelemahan / penurunan semangat dari bangsa Israel membuatnya tidak bijaksana untuk mengirimkan untuk kedua-kalinya hanya suatu pasukan terhadapnya; dan orang-orang Ai, seperti terlihat dari Yos 8:17, mendapatkan pertolongan dari Betel, dan mungkin dari tempat-tempat lain juga. Adalah cocok / tepat juga bahwa seluruh bangsa menyaksikan dengan mata mereka sendiri konsekwensi yang menggembirakan dari tindakan membuang dosa dengan setia yang telah memisahkan mereka dari Allah].

 

3)   Tuhan menyuruh untuk bersembunyi di belakang kota.

Ay 2c: “Suruhlah orang bersembunyi di belakang kota itu”.

Ay 2c ini menunjukkan bahwa strategi perang yang dipakai oleh Yosua berasal dari Tuhan sendiri, dan ay 18 bahkan menunjukkan bahwa Tuhan terlibat dalam pelaksanaan strategi tersebut!

Ay 15-19: “(15) Yosua dan seluruh orang Israel itu berlaku seolah-olah dipukul mundur oleh mereka, lalu melarikan diri ke arah padang gurun. (16) Sebab itu semua orang yang ada di kota dikerahkan untuk mengejar orang Israel. Maka mereka mengejar Yosua, sehingga makin jauhlah mereka terpancing dari kota. (17) Seorangpun tidak tertinggal lagi di Ai dan Betel yang tidak keluar memburu orang Israel. Mereka meninggalkan kota itu terbuka, karena mereka mengejar orang Israel. (18) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: ‘Acungkanlah lembing yang ada di tanganmu ke arah Ai, sebab Aku menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu.’ Maka Yosua mengacungkan lembing yang di tangannya ke arah kota itu. (19) Ketika diacungkannya tangannya, maka segeralah bangun orang-orang yang bersembunyi itu dari tempatnya, mereka berlari memasuki kota, merebutnya, lalu segera membakar kota itu”.

 

Ay 18 ini ada dalam kontext dimana orang-orang Ai sudah dipancing sehingga keluar meninggalkan kota mereka. Maka pada saat itu Tuhan yang memberikan perintah kepada Yosua untuk menyerang kota yang sudah kosong itu.

 

Ada 2 hal yang perlu kita perhatikan:

 

a)   Secara umum, pura-pura harus dianggap sebagai dusta dengan perbuatan / sikap, dan ini adalah dosa. Misalnya: Daud berpura-pura gila dalam 1Sam 21:10-15.

Tetapi berdasarkan bagian ini, maka jelas bahwa strategi dalam perang (pura-pura kalah dan mundur) adalah sesuatu yang diperbo­lehkan! Adalah sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal untuk menyalahkan hal ini, seperti yang dilakukan oleh Agustinus, padahal strategi ini diberikan oleh Tuhan, dan Tuhan sendiri bahkan terlibat dalam pelaksanaan strategi ini.

Penerapan: demikian juga kalau dalam suatu pertandingan / olah raga, ada taktik yang dilakukan untuk ‘menipu’ lawan, maka ini merupakan sesuatu yang sah-sah saja untuk dilakukan.

 

b)   Tuhan menggunakan cara lain dibandingkan dengan pada waktu mereka mengalahkan Yerikho.

Pada waktu perang dengan Yerikho, Tuhan menggunakan mujijat. Tetapi di sini Tuhan menggunakan strategi!

Ini menunjukkan bahwa sekalipun Tuhan itu tidak berubah, tetapi cara-caraNya bisa saja berubah!

Calvin berkata bahwa di sini Tuhan tidak menggunakan mujijat, supaya Israel tak terus mengharapkan mujijat dan menjadi malas.

 

4)   Dari cerita ini terlihat bahwa sekalipun ada jaminan kemenangan yang diberikan oleh Tuhan kepada Yosua dan bangsa Israel (ay 1b), tetapi Tuhan tetap menyuruh untuk mengerahkan seluruh pasukan Israel, dan juga menggunakan strategi dalam perang itu. Dengan kata lain, sekalipun ada jaminan kemenangan dari Tuhan sendiri, yang pasti tidak akan salah, tetapi Israel sendiri tetap dituntut untuk melakukan kewajiban mereka dengan semaximal mungkin.

Adam Clarke, yang adalah seorang Arminian yang keras, memberikan penafsiran yang ‘aneh dan miring’ tentang hal ini.

 

Adam Clarke: “It is only in the use of lawful means that we have any reason to expect God’s blessing and help. One of the ancients has remarked ‘Though God has made man without himself, he will not save him without himself;’ and therefore man’s own concurrence of will, and co-operation of power with God, are essentially necessary to his preservation and salvation. This co-operation is the grand condition, sine qua non, on which God will help or save. But is not this ‘endeavouring to merit salvation by our own works?’ No: for this is impossible unless we could prove that all the mental and corporeal powers which we possess came from and are of ourselves, and that we held them independently of the power and beneficence of our Creator; and that every act of these was of infinite value, to make it an equivalent for the heaven we wished to purchase. Putting forth the hand to receive the alms of a benevolent man, can never be considered a purchase-price for the bounty bestowed. Forever shall that word stand true in all its parts, Christ is the AUTHOR of eternal salvation to all them that OBEY him, Heb. 5:9” (= Hanya dalam penggunaan cara-cara yang sah maka kita punya alasan untuk mengharapkan berkat dan pertolongan Allah. Salah satu dari orang-orang kuno berkata: ‘Sekalipun Allah telah membuat manusia tanpa diri manusia itu sendiri, Ia tidak akan menyelamatkannya tanpa dirinya sendiri’; dan karena itu persetujuan dari kehendak manusia itu sendiri dan kerja sama dari kuasa / kekuatannya dengan Allah, adalah mutlak perlu untuk pemeliharaan dan keselamatannya. Kerja sama ini merupakan syarat yang besar, syarat yang mutlak, pada mana Allah akan menolong atau menyelamatkan. Tetapi apakah bukan ‘mengusahakan untuk mendapatkan keselamatan oleh pekerjaan / perbuatan baik kita sendiri?’ Tidak: karena ini tidak mungkin kecuali kita bisa membuktikan bahwa semua kuasa / kekuatan pikiran dan jasmani yang kita miliki datang dari, dan adalah dari, diri kita sendiri, dan bahwa kita menganggap hal-hal itu sebagai bebas / tak tergantung pada kuasa dan kemurahan hati dari Pencipta kita; dan bahwa setiap tindakan dari hal-hal ini mempunyai nilai yang tak terbatas, membuatnya kata-kata yang sama artinya dengan surga yang ingin kita beli. Mengulurkan tangan untuk menerima sedekah dari seorang yang murah hati, tidak pernah bisa dianggap sebagai suatu harga pembelian untuk hadiah / karunia yang diberikan. Untuk selama-lamanya firman itu akan berdiri / bertahan benar dalam semua bagian-bagiannya, ‘Kristus adalah Pencipta dari keselamatan kekal bagi semua mereka yang mentaati Dia, Ibr 5:9).

 

Ibr 5:9 - “dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya”.

KJV: ‘And being made perfect, he became the author of eternal salvation unto all them that obey him’ (= Dan sesudah disempurnakan, Ia menjadi pencipta dari keselamatan kekal bagi semua mereka yang mentaatiNya).

 

Ada beberapa hal yang ingin saya berikan sebagai tanggapan / jawaban terhadap kata-kata Adam Clarke ini:

 

a)   Dalam persoalan predestinasi, jelas bahwa manusia tidak mempunyai peranan / andil apapun. Allah menentukan siapa yang selamat dan siapa yang binasa, semata-mata dan sepenuhnya, berdasarkan kehendakNya yang berdaulat.

Ro 9:10-18 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ (16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. (17) Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya.

 

Ro 9:16 versi KJV menterjemahkan ayat ini secara hurufiah: “So then it is not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that sheweth mercy” [= Jadi hal itu bukanlah dari dia yang mau, bukan juga dari dia yang berlari (maksudnya ‘berusaha’), tetapi dari Allah yang menunjukkan belas kasihan].

 

Jadi, kata yang diterjemahkan ‘usaha’, secara hurufiah adalah ‘running’ (= berlari). Dalam Kitab Suci, kata ‘lari’ sering menunjuk pada ‘usaha manusia’ (bdk. 1Kor 9:24,26  Gal 2:2  Gal 5:7  Ibr 12:1).

 

Editor dan penterjemah Calvin’s Commentary tentang surat Roma, yaitu John Owen, memberikan catatan kaki yang menarik dengan mengatakan bahwa istilah ‘willing’ dan ‘running’ didapatkan dari sejarah Esau. Sia-sia Esau menginginkan berkat, sia-sia ia berlari untuk mendapatkan daging buruan bagi ayahnya (Kej 27:1-5,30-40).

John Owen lalu mengutip kata-kata Turretin: “‘In vain,’ says Turretin, ‘did Esau seek the blessing. In vain did Isaac hasten to grant it and in vain did Esau run to procure venison for his father; neither the father’s willingness nor the running of the son availed anything; God’s favour overruled the whole’” (= ‘Sia-sia,’ kata Turretin, ‘Esau mencari berkat. Sia-sia Ishak bergegas untuk memberikannya dan sia-sia Esau berlari untuk mendapatkan daging buruan / rusa untuk ayahnya; kemauan sang ayah maupun berlarinya sang anak tidak ada gunanya sama sekali; kemurahan / kebaikan hati Allah mengesampingkan / mengalahkan seluruhnya’).

 

John Owen melanjutkan: “Isaac’s ‘willingness’ to give the blessing to Esau, notwithstanding the announcement made at his birth, and Rebecca’s conduct in securing it to Jacob, are singular instances of man’s imperfections, and of the overruling power of God. Isaac acted as though he had forgotten what God had expressed as his will; and Rebecca acted as though God could not effect his purpose without her interference, and an interference, too, in a way highly improper and sinful. It was the trial of faith, and the faith of both halted exceedingly; yet the purpose of God was still fulfilled, but the improper manner in which it was fulfilled was afterwards visited with God’s displeasure” (= Kemauan Ishak untuk memberikan berkat kepada Esau meskipun ada pemberitahuan yang diberikan pada saat kelahirannya, dan kelakuan Ribka untuk memastikan berkat itu bagi Yakub, merupakan contoh yang luar biasa tentang ketidak-sempurnaan manusia, dan tentang kuasa Allah yang mengesampingkan / mengalahkan. Ishak bertindak seakan-akan ia telah lupa apa yang Allah nyatakan sebagai kehendakNya; dan Ribka bertindak seakan-akan Allah tidak bisa melaksanakan rencanaNya tanpa campur tangannya, dan ini adalah campur tangan yang sangat tidak tepat dan berdosa. Itu adalah ujian iman, dan iman dari keduanya sangat terputus-putus; tetapi rencana Allah tetap tergenapi, tetapi cara yang tidak tepat melalui mana rencana itu digenapi akhirnya mendapatkan ketidaksenangan Allah).

 

Pada waktu berkata bahwa pemilihan tidak tergantung pada kehendak / usaha kita, kita harus memperhatikan peringatan dari Luther: “This does not mean that God’s mercy altogether excludes our willing or running” (= Ini tidak berarti bahwa belas kasihan Allah sama sekali membuang kemauan dan usaha / larinya kita).

Maksud Luther adalah: sekalipun pemilihan tidak tergantung pada kehendak atau usaha orang, tetapi itu tidak berarti bahwa kalau Allah sudah memilih seseorang maka orang itu pasti akan selamat sekalipun ia tidak mau dan tidak berusaha. Yang benar adalah: kalau Allah sudah memilih seseorang maka Allah akan bekerja dalam diri orang itu sehingga ia akan mau dan berusaha (bdk. Fil 2:13).

 

b)   Biarpun pada saat seseorang percaya, ia percaya dengan kehendaknya, tetapi baik kemampuan maupun kehendak untuk percaya itu dianugerahkan sepenuhnya oleh Tuhan, melalui kelahiran baru (yang menghidupkan dan mengubah manusia itu sehingga condong kepada Tuhan, bisa tertarik pada Injil, bisa mengerti Injil) dan pemberian iman / pertobatan.

 

1.   Bahwa baik kemauan maupun kemampuan untuk percaya merupakan pekerjaan Allah, terlihat dari Fil 2:13. Untuk jelasnya saya akan membahas Fil 2:12-13.

Fil 2:12-13 - “(12) Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, (13) karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya.

 

Mari kita bahas kedua ayat ini satu per satu.

 

Ay 12: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.

 

a.         ‘Tetaplah kerjakan keselamatanmu’.

·         Ini tidak berarti bahwa:

*        keselamatan = usaha manusia.

*        keselamatan = usaha manusia + Allah (ay 12-13).

*        orang Filipi belum selamat.

*        orang Filipi tidak yakin selamat (bdk. ay 12 - ‘takut dan gentar’).

*        keselamatan bisa hilang (bdk. ay 12 - ‘takut dan gentar’).

Alasannya: lihat point selanjutnya di bawah ini!

·         Calvin (hal 69) berkata bahwa kata ‘keselamatan’ di sini artinya adalah ‘the entire course of our calling’ (= seluruh jalan panggilan kita).

Jadi di sini kata ‘keselamatan’ itu mempunyai arti yang berbeda dari biasanya. Di sini, ‘keselamatan’ itu mencakup daerah mulai saat kita percaya sampai saat kita masuk surga.

·         Kata ‘kerjakan’ (ay 12) di dalam bahasa Yunaninya adalah KATERGAZESTHE, yang berasal dari kata kerja yang berarti ‘to bring to completion’ (= menyelesaikan).

Jadi, ‘kerjakan keselamatanmu’ berarti: dalam jalan saudara ikut Tuhan, jangan berhenti di tengah jalan! Ikutlah terus sampai akhir!

·         Tetaplah kerjakan keselamatanmu’ (ay 12).

Kata ‘tetaplah’ ini menunjukkan bahwa kita harus tekun / terus berusaha, mulai saat kita percaya kepada Kristus, sampai kita bertemu dengan Dia muka dengan muka!

 

b.         ‘dengan takut dan gentar’ (ay 12).

·         kata-kata ini tentu tak berarti bahwa kita betul-betul harus ikut Tuhan dengan gemetaran! Artinya adalah: Paulus menghen­daki suatu usaha yang serius!

Seseorang berkata: “Paul has no sympathy with a cold and dead orthodoxy or formalism that knows nothing of struggle and growth” (= Paulus tidak bersimpati dengan kekolotan dan formalisme yang dingin dan mati, yang tidak mengenal pergumulan dan pertum­buhan).

·         kata-kata ini juga menunjukkan bahwa dalam berusaha kita harus punya kerendahan hati, yang diwujudkan dengan suatu kesadaran bahwa kita sebetulnya tidak bisa melakukan hal itu dengan kekuatan kita sendiri.

 

Ay 13: karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya.

 

Kalau ay 12 menyuruh kita mengerjakan keselamatan kita, mengapa ay 13 mengatakan bahwa Allahlah yang bekerja?

 

a.   Ay 13 (NASB): ‘for it is God who is at work in you, both to will and to work (= karena Allahlah yang bekerja di dalam kamu, baik dalam menghendaki maupun dalam bekerja).

Kata ‘work’ yang pertama dalam bahasa Yunaninya adalah ENERGON (present participle). Kata ini menunjukkan bahwa Allah disebut sebagai ‘the energizing one’ atau ‘the ener­gizer’ (= orang yang memberi energi).

Selanjutnya, baik kata ‘work’ yang pertama maupun yang kedua, menggunakan kata Yunani yang berasal dari kata ENER­GEIN yang selalu menunjuk pada tindakan Allah, dan selalu menunjukkan pada tindakan yang effective / pasti berhasil.

 

b.   Ay 13 ini menunjukkan bahwa baik ‘to will’ maupun ‘to work / to do’ (= untuk mau maupun untuk mengerjakan), semuanya adalah karena pekerjaan Allah dalam diri kita. Ini yang merupakan penekanan saya dalam membahas Fil 2:13 itu di sini. Ini menunjukkan bahwa sekalipun kita harus mau / menghendaki untuk percaya, dan harus berbuat (tindakan percaya itu), tetapi baik kemauan maupun kemampuan kita semuanya terjadi karena pekerjaan Allah!

 

c.         ‘menurut kerelaanNya’ (ay 13) menunjukkan kedaulatan Allah!

 

2.   Kelahiran baru kita mutlak merupakan pekerjaan Roh Kudus / Allah sendiri.

Yoh 3:3,5 - “(3) Yesus menjawab, kataNya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.’ … (5) Jawab Yesus: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah”.

Bentuk pasif yang digunakan (‘dilahirkan’) menunjukkan bahwa manusia itu pasif total, dan kelahiran baru itu mutlak merupakan pekerjaan Roh Kudus.

 

3.   Iman / pertobatan juga merupakan anugerah / pemberian dari Allah.

Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.

Kis 11:18 - “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: ‘Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.’”.

 

4.   Kalau keselamatan memang merupakan hasil kerja sama Allah dan manusia, maka bagaimana mungkin Firman Tuhan mengatakan bahwa itu merupakan anugerah yang bersifat cuma-cuma?

Ro 3:24 - “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.

Yes 55:1 - “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!”.

 

5.   Tentang kata-kata Clarke bahwa Mengulurkan tangan untuk menerima sedekah dari seorang yang murah hati, tidak pernah bisa dianggap sebagai suatu harga pembelian untuk hadiah / karunia yang diberikan, saya menanggapi dengan menunjukkan bahwa Firman Tuhan menggambarkan manusia berdosa di luar Kristus bukan sebagai sakit secara rohani, tetapi sebagai mati secara rohani. Ini terlihat dari ayat-ayat ini:

a.   Yoh 10:10 - “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.

Kalau Ia datang supaya mereka mempunyai hidup, jelas bahwa mereka tadinya mati.

b.   Ef 2:1 - “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”.

Kalau manusia itu mati secara rohani, bagaimana mungkin ia bisa mengulurkan tangan, dan menerima pemberian / anugerah rohani (keselamatan) dari Allah? Orang mati mana yang bisa mengulurkan tangan?

 

6.   Juga ayat yang dikutip oleh Clarke, yaitu Ibr 5:9 dalam terjemahan KJV menyatakan Kristus sebagai Pencipta keselamatan kekal kita itu! Apakah dengan menuliskan kata ‘OBEY’ (= TAAT) semuanya dengan huruf besar, yang menunjukkan bahwa ia menekankan hal itu, ia mau mengatakan bahwa kita adalah co-creator (= rekan pencipta) dari keselamatan kekal itu? Ini omong kosong, bukan?

 

Arthur W. Pink menguraikan hal ini dengan cara yang menarik. Ia berkata: “‘Salvation is of the Lord’ (Jonah 2:9); but the Lord does not save all. Why not? He does save some; then if He saves some, why not others? Is it because they are too sinful and depraved? No; for the apostle wrote, ‘This is a faithful saying, and worthy of all acceptation, that Christ Jesus came into the world to save sinners; of whom I am chief’ (1Tim. 1:15). Therefore, if God saved the ‘chief’ of sinners, none are excluded because of their depravity. Why then does not God save all? Is it because some are too stony-hearted to be won? No; because of the most stony-hearted people of all it is written, that God will yet ‘take the stony heart out of their flesh, and will give them a heart of flesh (Ezek. 11:19)” [= ‘Keselamatan adalah dari TUHAN’ (Yunus 2:9); tetapi Tuhan tidak menyelamatkan semua orang. Mengapa tidak? Ia memang menyelamatkan sebagian orang; lalu jika Ia menyelamatkan sebagian orang, mengapa Ia tidak menyelamatkan yang lain? Apakah karena mereka terlalu berdosa dan bejat? Tidak; karena rasul menulis, ‘Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa’ (1Tim 1:15). Karena itu, jika Allah menyelamatkan orang yang paling berdosa, tidak ada yang tidak bisa diselamatkan karena kebejatan mereka. Lalu mengapa Allah tidak menyelamatkan semua? Apakah karena sebagian orang terlalu keras hatinya untuk dimenangkan? Tidak; karena tentang bangsa yang paling keras hatinya dituliskan, bahwa Allah akan ‘mengambil hati yang keras itu dari daging mereka, dan akan memberikan hati dari daging’ (Yeh 11:19)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 45.

 

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: manusia tidak selamat bukan karena mereka terlalu jahat / keras hati.

 

Arthur W. Pink lalu melanjutkan: “Why is it that all are not saved, particularly all who hear the Gospel? Do you still answer, Because the majority refuse to believe? Well, that is true, but it is only a part of the truth. It is the truth from the human side. But there is a Divine side too, and this side of the truth needs to be stressed or God will be robbed of His glory” (= Mengapa tidak semua diselamatkan, khususnya semua yang mendengar Injil? Apakah kamu tetap menjawab, Karena mayoritas menolak untuk percaya? Itu memang benar, tetapi itu hanyalah sebagian dari kebenaran. Itu adalah kebenaran dari sudut manusia. Tetapi ada sudut Allah juga, dan sudut kebenaran ini perlu ditekankan, atau Allah akan dirampok kemuliaanNya) - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

 

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: sekalipun memang benar bahwa manusia tidak selamat karena mereka menolak untuk percaya, tetapi itu adalah dari sudut pandang manusia. Ada sudut pandang Allah yang juga harus diperhatikan.

 

Arthur W. Pink melanjutkan lagi: “The unsaved are lost because they refuse to believe; the others are saved because they believe. But why do these others believe? What is it that causes them to put their trust in Christ? Is it because they are more intelligent than their fellows, and quicker to discern their need of salvation? Perish the thought, ‘Who maketh thee to differ from another? And what hast thou that thou didst not receive? Now if thou didst receive it, why dost thou glory, as if thou hadst not received it?’ (1Cor. 4:7)” [= Orang yang tidak selamat terhilang karena mereka menolak untuk percaya; yang lain diselamatkan karena mereka percaya. Tetapi mengapa yang lain ini percaya? Apa yang menyebabkan mereka percaya kepada Kristus? Apakah karena mereka lebih pandai dari pada sesama mereka, dan lebih cepat melihat kebutuhan keselamatan mereka? Buanglah pikiran itu, ‘Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari orang lain? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?’ (1Kor 4:7)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

Catatan: 1Kor 4:7 versi Kitab Suci Indonesia berbunyi: Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”.

Bagian yang saya garisbawahi itu salah terjemahan.

NIV: For who makes you different from anyone else? What do you have that you did not receive? And if you did receive it, why do you boast as though you did not?” (= Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari orang lain? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?).

 

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: seseorang bisa percaya, bukan karena ia lebih baik dari orang-orang yang tidak percaya.

 

Akhirnya Arthur W. Pink menyimpulkan dan sekaligus memberikan dasar Kitab Suci untuk kesimpulannya itu:

¨       “It is God himself who makes the difference between the elect and the non-elect, for of His own it is written, ‘And we know that the Son of God is come, and hath given us an understanding, that we may know Him that is true’ (1John 5:20)” [= Adalah Allah sendiri yang membuat perbedaan antara orang pilihan dan orang yang bukan pilihan, karena tentang milikNya dituliskan, ‘Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar’ (1Yoh 5:20)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

¨       “Faith is God’s gift, and ‘all men have not faith’ (2Thess. 3:2); there-fore, we see that God does not bestow this gift upon all. Upon whom then does He bestow this saving favour? And we answer, upon His own elect - ‘As many as were ordained to eternal life believed’ (Acts 13:48)” [= Iman adalah pemberian / karunia Allah, dan ‘bukan semua orang beroleh iman’ (2Tes 3:2); karena itu, kita melihat bahwa Allah tidak memberikan pemberian / karunia ini kepada semua orang. Lalu kepada siapa Ia memberikan hadiah / kemurahan yang menyelamatkan ini? Dan kami menjawab, kepada orang pilihanNya - ‘Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya’ (Kis 13:48)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 47.

 

Penekanan dari kesimpulan ini adalah: perbedaan yang menyebabkan satu orang percaya sedangkan yang lain tidak, terletak dalam diri Allah. Ia memberikan iman hanya kepada orang-orang pilihan!

 

Perhatikan juga komentar dari Calvin dan John Owen dalam persoalan ini.

 

Calvin: “Nothing, however slight, can be credited to man without depriving God of his honor, and without man himself falling into ruin through brazen confidence” (= Tidak ada sesuatupun, bagaimanapun kecilnya, bisa dipuji / dihargai dari manusia tanpa mencabut / menghilangkan kehormatan dari Allah, dan tanpa menghancurkan manusia itu sendiri melalui kepercayaan kepada diri sendiri yang tidak tahu malu) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter II, no 1.

 

John Owen: “As a desire of self-sufficiency was the first cause of this infirmity ... nothing doth he more contend for than an independency of any supreme power, which might either help, hinder, or control him in his actions. ... Never did any man ... more eagerly endeavour the erecting of this Babel than the Arminians, the modern blinded patrons of human self-sufficiency” (= Karena suatu keinginan untuk pencukupan diri sendiri adalah penyebab pertama dari kelemahan ini ... tidak ada yang lebih ia perjuangkan dari pada suatu ketidaktergantungan pada kuasa tertinggi manapun, yang bisa menolong, menghalangi atau mengontrolnya dalam tindakan-tindakannya. ... Tidak pernah ada orang ... yang lebih sungguh-sungguh berusaha mendirikan Babel ini dari pada orang-orang Arminian, pelindung modern yang buta dari pencukupan diri sendiri dari manusia) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 11.

 

John Owen: “... of making themselves differ from others who will not make so good use of the endowments of their natures; that so the first and chiefest part in the work of their salvation may be ascribed unto themselves; - a proud Luciferian endeavour!” (= ... membuat diri mereka sendiri berbeda dengan yang lain yang tidak mau menggunakan dengan baik anugerah kepada diri mereka; sehingga dengan demikian bagian yang pertama dan terutama dalam peker-jaan keselamatan bisa dianggap berasal dari diri mereka sendiri; - suatu usaha Lucifer yang sombong!) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 13.

 

John Owen: “And so at length, with much toil and labour, they have placed an altar for their idol in the holy temple, on the right hand of the altar of God, and on it offer sacrifice to their own net and drag; at least, ‘nec Deo, nec libero arbitrio, sed dividatur’ - not all to God, nor all to free-will, but let the sacrifice of praise, for all good things, be divided between them” [= Dan demikian akhirnya, dengan banyak kerja keras, mereka telah meletakkan sebuah altar untuk berhala mereka dalam Bait Suci, di sebelah kanan dari altar Allah, dan di atasnya mereka mempersembahkan korban bagi usaha mereka sendiri; setidaknya ‘nec Deo, nec libero arbitrio, sed dividatur’ (kata-kata ini ada dalam bahasa Latin) - bukan semua bagi Allah, juga bukan semua bagi kehendak bebas, tetapi biarlah korban pujian, untuk semua hal yang baik, dibagi di antara mereka) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 14.

 

Jadi, penafsiran / penerapan Clarke terhadap text Yosua ini salah. Seharusnya kita mengatakan / menerapkan sebagai berikut: Allah menjamin untuk menyerahkan Ai ke dalam tangan mereka. Tetapi mereka tetap harus berusaha secara maximal. Analoginya dalam dunia rohani adalah: Allah menjamin keselamatan kita yang percaya kepada Kristus. Keselamatan itu tidak bisa hilang. Tetapi itu tak berarti kita tak perlu berusaha untuk memelihara keselamatan itu!

 

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali