(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Minggu,
tgl 10 Juni 2012, pk 08.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
Yesus gembala yang baik(1)
Yohanes 10:1-30
Yoh
10:1-18,26-30 - “(1)
‘Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba
dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang
pencuri dan seorang perampok; (2) tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia
adalah gembala domba. (3) Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba
mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut
namanya dan menuntunnya ke luar. (4) Jika semua dombanya telah dibawanya ke
luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena
mereka mengenal suaranya. (5) Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti,
malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka
kenal.’ (6) Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka,
tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
(7) Maka kata Yesus sekali lagi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah
pintu ke domba-domba itu. (8) Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah
pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. (9)
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk
dan keluar dan menemukan padang rumput. (10) Pencuri datang hanya untuk
mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang,
supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (11)
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi
domba-dombanya; (12) sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang
bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang,
meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan
mencerai-beraikan domba-domba itu. (13) Ia lari karena ia seorang upahan dan
tidak memperhatikan domba-domba itu. (14) Akulah gembala yang baik dan Aku
mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku (15) sama seperti Bapa
mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawaKu bagi
domba-dombaKu. (16) Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang
ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu
dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. (17) Bapa mengasihi
Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. (18) Tidak
seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut
kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya
kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.’ ... (26) tetapi kamu tidak
percaya, karena kamu tidak termasuk domba-dombaKu. (27) Domba-dombaKu
mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan
Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan
binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari
tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar
dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan
Bapa. (30) Aku dan Bapa adalah satu.’”.
I) Domba
sebagai simbol dari orang Kristen; dan Allah / Yesus sebagai Gembalanya.
Maz
95:7a - “Sebab Dialah Allah
kita, dan kitalah umat gembalaanNya dan kawanan domba tuntunan tanganNya”.
Yes
40:10-11 - “(10)
Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tanganNya Ia
berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payahNya ada bersama-sama Dia,
dan mereka yang diperolehNya berjalan di hadapanNya. (11) Seperti seorang
gembala Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan
tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan
hati-hati”.
Barclay (tentang Yoh 10:1-6):
“In the Old
Testament, God is often pictured as the shepherd, and the people as his flock.
‘The Lord is my shepherd, I shall not want’ (Psalm 23:1). ‘You led your
people like a flock by the hand of Moses and Aaron’ (Psalm 77:20). ‘We your
people, the flock of your pasture, will give thanks to you for ever’ (Psalm
79:13). ‘Give ear, O Shepherd of Israel, you who lead Joseph like a flock’
(Psalm 80:1). ‘For he is our God, and we are the people of his pasture, and
the sheep of his hand’ (Psalm 95:7). ‘We are his people, and the sheep of
his pasture’ (Psalm 100:3). God’s Anointed One, the Messiah, is also
pictured as the shepherd of the sheep. ‘He will feed his flock like a
shepherd; he will gather the lambs in his arms, and carry them in his bosom, and
gently lead the mother sheep’ (Isaiah 40:11). ... This picture passes over
into the New Testament. Jesus is the good shepherd. He is the shepherd who will
risk his life to seek and to save the one straying sheep (Matthew 18:12; Luke
15:4). He has pity upon the people because they are as sheep without a shepherd
(Matthew 9:36; Mark 6:34). His disciples are his little flock (Luke 12:32). When
he, the shepherd, is smitten, the sheep are scattered (Mark 14:27; Matthew
26:31). He is the shepherd of human souls (1 Peter 2:25), and the great shepherd
of the sheep (Hebrews 13:20)” [= Dalam Perjanjian
Lama, Allah sering digambarkan sebagai gembala, dan bangsa / umat itu sebagai
kawanan dombaNya. ‘TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku’ (Maz
23:1). ‘Engkau telah menuntun umatMu seperti
kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun’ (Maz 77:21). ‘Maka kami
ini, umatMu, dan kawanan domba gembalaanMu, akan bersyukur kepadaMu untuk
selama-lamanya’ (Maz 79:13). ‘Hai gembala Israel, pasanglah telinga, Engkau
yang menggiring Yusuf sebagai kawanan domba’ (Maz 80:2). ‘Sebab Dialah Allah
kita, dan kitalah umat gembalaanNya dan kawanan domba tuntunan tanganNya’ (Maz
95:7). ‘punya Dialah kita, umatNya dan kawanan domba gembalaanNya’ (Maz
100:3). Yang diurapi dari Allah, sang Mesias, juga digambarkan sebagai gembala
dari domba-domba. ‘Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternakNya
dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk
domba dituntunNya dengan hati-hati’ (Yes 40:11). ... Gambaran ini berlanjut ke
dalam Perjanjian Baru. Yesus adalah gembala yang baik. Ia adalah gembala yang
mau meresikokan nyawaNya untuk mencari dan menyelamatkan satu domba yang
tersesat (Mat 18:12; Luk 15:4). Ia mempunyai belas kasihan kepada orang-orang
karena mereka seperti domba tanpa gembala (Mat 9:36; Mark 6:34). Murid-muridNya
adalah kawanan kecil domba-dombaNya (Luk 12:32). Pada waktu Ia, sang gembala,
dipukul / dibunuh, domba-domba tercerai-berai (Mark 14:27; Mat 26:31). Ia adalah
gembala dari jiwa-jiwa manusia (1Pet 2:25), dan gembala yang agung dari
domba-domba (Ibr 13:20)].
Mat 18:12 - “‘Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba,
dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh
sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?”.
Luk 15:4 - “‘Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan
jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan
puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai
ia menemukannya?”.
Mat 9:36 - “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan
kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak
bergembala”.
Mark 6:34 - “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah
hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak
mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka”.
Luk 12:32 - “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah
berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”.
Mark 14:27 - “Lalu Yesus berkata kepada mereka: ‘Kamu semua akan tergoncang
imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan
tercerai-berai”.
Mat 26:31 - “Maka berkatalah Yesus kepada mereka: ‘Malam ini kamu semua akan
tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala
dan kawanan domba itu akan tercerai-berai”.
1Pet 2:25 - “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah
kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu”.
Ibr 13:20 - “Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal
telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba,
yaitu Yesus, Tuhan kita”.
II)
Domba.
1)
Domba sangat tergantung dan membutuhkan gembala. Mengapa?
a)
Domba itu bodoh dan sangat mudah tersesat.
Calvin
(tentang Yer 23:4): “We
indeed know that a sheep is a silly animal, and therefore has need of a shepherd
to rule and guide it” (= Kita memang tahu bahwa seekor domba
adalah seekor binatang yang tolol, dan karena itu mempunyai kebutuhan akan
seorang gembala untuk menguasai / mengepalai dan membimbingnya).
William
Hendriksen (tentang Yoh 10):
“That
sheep have a tendency to wander, and are, therefore in need of a guiding
shepherd, is clear from Ps. 119:176; Is. 53:6”
(= Bahwa domba mempunyai kecenderungan untuk mengembara, dan karena itu
membutuhkan seorang gembala yang membimbing, adalah jelas dari Maz 119:176; Yes
53:6).
Maz 119:176
- “Aku sesat seperti domba yang hilang,
carilah hambaMu ini, sebab perintah-perintahMu tidak kulupakan”.
Yes 53:6
- “Kita
sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri,
tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
Fred
H. Wight: “It is very important that sheep
should not be allowed to stray away from the flock, because when by
themselves they are utterly helpless. In such a condition, they become
bewildered, for they have no sense at all of locality. And if they do
stray away, they must be brought back” (= Adalah sangat penting bahwa domba tidak
diijinkan untuk mengembara dari / meninggalkan kawanannya, karena pada waktu
mereka sendirian mereka sama sekali tak berdaya. Dalam keadaan seperti itu, mereka
menjadi bingung, karena mereka tidak mempunyai pengertian / perasaan sama
sekali tentang tempat. Dan jika mereka meninggalkan kawanannya mereka harus
dibawa kembali) - ‘Manners
and Customs of Bible Lands’, hal 158.
Adam
Clarke (tentang Luk 15:4): “The lost sheep is an emblem of a heedless, thoughtless sinner:
one who follows the corrupt dictates of his own heart, without ever reflecting
upon his conduct, or considering what will be the issue of his unholy course of
life. No creature strays more easily than a sheep; none is more heedless; and
none so incapable of finding its way back to the flock, when once gone astray:
it will bleat for the flock, and still run on in an opposite direction to the
place where the flock is; this I have often noticed” (= Domba yang hilang
adalah simbol dari orang berdosa yang tidak memperhatikan / mempedulikan dan tak
memikirkan: seseorang yang mengikuti suara hatinya yang rusak, tanpa pernah
memikirkan tingkah lakunya, atau mempertimbangkan apa yang akan merupakan hasil
dari jalan kehidupannya yang tidak kudus. Tidak ada makhluk yang lebih mudah
tersesat dari domba; tidak ada yang lebih tidak memperhatikan; dan tidak ada
yang begitu tidak mampu untuk menemukan jalannya kembali kepada kawanan pada
saat mereka tersesat: ia akan mengembik untuk kawanan itu tetapi tetap akan
berlari ke arah yang berlawanan dari tempat dimana kawanan itu berada; ini telah
sering saya perhatikan).
b)
Tempat penggembalaan domba di Yudea menyebabkan domba secara mutlak
membutuhkan gembala.
Barclay
(tentang Yoh 10): “There is no better loved picture of Jesus
than the Good Shepherd. The picture of the shepherd is woven into the language
and imagery of the Bible. ... The main part of Judaea was a central plateau,
stretching from Bethel to Hebron for a distance of about 35 miles and varying
from 14 to 17 miles across. The ground, for most part, was rough and stony.
Judaea was, much more a pastoral than an agricultural country and was,
therefore, inevitable that the most familiar figure of the Judaean uplands was
the shepherd. His life was very hard. No flock ever grazed without a shepherd,
and he was never off duty. There being little grass, the sheep were bound to
wander, and since there were no protecting walls, the sheep had constantly to be
watched. On either side of the narrow plateau the ground dipped sharply down to
the craggy deserts and the sheep were always liable to stray away and get lost.
The shepherd’s task was not only constant but dangerous, for, in addition, he
had to guard the flock against wild animals, especially against wolves, and
there were always thieves and robbers ready to steal the sheep” (= Tidak ada gambaran
yang dicintai lebih baik tentang Yesus dari pada Gembala yang Baik. Gambaran
tentang gembala ditenun / dirangkaikan ke dalam bahasa dan perumpamaan dari
Alkitab. ... Bagian besar dari Yudea adalah dataran tinggi di tengah, membentang
dari Betel ke Hebron untuk suatu jarak dari kira-kira 35 mil dan lebarnya
bervariasi dari 14 sampai 17 mil. Tanahnya, sebagian besar, adalah kasar dan
berbatu-batu. Yudea lebih merupakan negara penggembalaan dari pada pertanian,
dan karena itu merupakan sesuatu yang tak terhindarkan bahwa gambaran yang
paling akrab tentang dataran tinggi Yudea adalah gembala. Kehidupan gembala
sangat sukar / berat. Tak ada kawanan domba yang pernah makan rumput tanpa
seorang gembala, dan ia tidak pernah bebas tugas. Karena disana hanya ada
sedikit rumput, domba-domba harus / terpaksa mengembara, dan karena disana tidak
ada tembok yang melindungi, domba-domba harus dijaga terus menerus. Di kedua
sisi dari dataran tinggi yang sempit tanahnya turun dengan tajam pada padang
gurun yang berbatu-batu dan domba selalu mempunyai kemungkinan yang besar untuk
mengembara / keluar dari kawanan dan hilang. Tugas gembala bukan hanya terus
menerus, tetapi juga berbahaya, karena sebagai tambahan, ia harus menjaga
kawanan domba itu terhadap binatang-binatang liar, khususnya terhadap
serigala-serigala, dan disana selalu ada pencuri-pencuri dan perampok-perampok
yang siap untuk mencuri domba).
E.
W. Heaton: “Judaea,
indeed (wrote George Adam Smith), offers as good ground as there is in all the
East for observing the grandeur of the shepherd’s character. On the boundless
Eastern pasture, so different from the narrow and dyked hillsides with which we
are familiar, the shepherd is indispensable. With us sheep are often left to
themselves; but I do not remember ever to have seen in the East a flock of sheep
without a shepherd. In such a landscape as Judaea, where a day’s pasture is
thinly scatterred over an unfenced tract of country, covered with delusive
paths, still frequented by wild beasts, and rolling off into the desert,
the man and his character are indispensable”
[= Yudea memang (tulis George Adam Smith), menawarkan / memberikan dasar yang
baik yang ada di seluruh wilayah Timur untuk mengamati kehebatan / keagungan
dari karakter seorang gembala. Di padang rumput Timur yang tak ada batasnya,
begitu berbeda dari lereng gunung yang sempit dan mempunyai tanggul dengan mana
kita akrab, gembala mutlak diperlukan. Pada kita domba-domba sering dibiarkan
sendirian; tetapi saya tidak ingat pernah melihat di Timur suatu kawanan domba
tanpa seorang gembala. Di tanah seperti Yudea, dimana padang rumput untuk satu
hari tersebar secara tipis atas suatu tanah yang luas tanpa pagar dari negeri,
ditutupi dengan jalan-jalan kecil yang cenderung untuk menyesatkan, dan masih
tetap sering dikunjungi oleh binatang-binatang liar, dan naik turun menuju
(?) padang pasir, orang itu dan karakternya mutlak diperlukan]
- ‘Everyday Life in Old Testament Times’, hal 48-49.
Catatan:
penulis ini mengutip bagian ini dari buku George Adam Smith yang berjudul ‘The
Historical Geography of The Holy Land’, hal 301-dst.
c)
Alkitab berulangkali menunjukkan keadaan yang menyedihkan dari domba
tanpa gembala.
Mat 9:36
- “Melihat orang banyak
itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka
lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”.
Mark 6:34
- “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat
sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada
mereka, karena mereka seperti domba yang tidak
mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada
mereka”.
1Raja
22:17 - “Lalu jawabnya: ‘Telah
kulihat seluruh Israel bercerai-berai di
gunung-gunung seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala, sebab
itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak punya tuan; baiklah masing-masing pulang
ke rumahnya dengan selamat.’”.
William
Hendriksen (tentang Mark 6:34):
“He
sees these people as sheep without a shepherd. To understand what this means one
should first read I Kings 22:17; then Ps. 23; then Matt. 9:36; then John 10. ...
No animal is as dependent as is a sheep. Without someone to guide it, it
wanders, is lost, becomes food for wolves, etc. Without someone to graze it, it
starves. Jesus knows that the people are like that: their leaders fail to
give them reliable guidance. They do not supply their souls with nourishing food” (= Ia melihat orang-orang ini seperti
domba tanpa gembala. Untuk mengerti apa artinya ini orang harus pertama-tama
membaca IRaja 22:17; lalu Maz 23; lalu Mat
9:36; lalu Yoh 10. ... Tak ada binatang yang begitu tergantung seperti seekor
domba. Tanpa seseorang untuk membimbingnya, domba itu mengembara, terhilang,
menjadi makanan untuk serigala-serigala, dsb. Tanpa seseorang untuk
menggembalakannya, ia mati kelaparan. Yesus tahu bahwa orang-orang itu adalah
seperti itu: pemimpin-pemimpin mereka gagal untuk memberi mereka bimbingan yang
bisa diandalkan. Mereka tidak menyuplai jiwa-jiwa mereka dengan makanan yang
bergizi).
William
Hendriksen (tentang Mat 9:36):
“Jesus
sees them as only he, with his marvelously sympathetic heart, is able to see
them, namely, as sheep whose shepherd has abandoned them, and who are therefore
perishing on the barren, windswept steppe. Such sheep are ‘fatigued and
forlorn,’ ‘dejected and deserted.’ They are thoroughly exhausted and are
exposed to ravenous beasts, wind and weather, hunger
and thirst. What domestic animal is more dependent, hence more helpless when
left to itself, than a sheep? Sheep untended, unprotected, and unsought,
what a picture of sinners left to themselves or harassed by the rabbis of that
day. The people, like sheep, were in need of true guides and shepherds.
The figure of sheep without a shepherd is rich in Biblical references. In
addition to the passages based on Zech. 13:7, namely, Matt. 26:31 and Mark
14:27, see also Num. 27:17; I Kings 22:17; Ezek. 34; Zech. 10:2; 11:5; and John
10:12. For a more favorable situation - the shepherd seeking his lost sheep and
finding it - see on Matt. 18:12–14; cf. Luke 15:3–7”
(= Yesus melihat mereka karena hanya Dia, dengan hatiNya yang bersimpati secara
mengagumkan, bisa melihat mereka, yaitu, sebagai domba yang gembalanya telah
meninggalkan mereka, dan yang karena itu sekarat di padang rumput luas yang
berangin dan tandus. Domba-domba seperti itu ‘lelah dan terlantar’,
‘tertekan dan ditinggalkan’. Mereka lelah / kehabisan tenaga sama sekali,
dan terbuka terhadap binatang-binatang sangat lapar, angin dan cuaca, lapar dan
haus. Binatang peliharaan apa yang lebih tergantung, dan karena itu lebih tak
berdaya, pada waktu ditinggalkan pada dirinya sendiri, dari pada seekor domba?
Domba yang tidak dirawat / dipelihara, tidak dilindungi, dan tidak dicari,
betul-betul suatu gambaran dari orang-orang berdosa yang ditinggalkan pada diri
mereka sendiri atau diganggu / dipersulit oleh rabi-rabi dari jaman itu.
Orang-orang itu, seperti domba, ada dalam kebutuhan terhadap
pembimbing-pembimbing dan gembala-gembala yang benar / sejati. Gambaran tentang
domba tanpa gembala sangat banyak dalam referensi-referensi Alkitab. Sebagai
tambahan pada text-text yang didasarkan pada Zakh 13:7, yaitu, Mat 26:31 dan Mark 14:27, lihat juga
Bil 27:17; IRaja 22:17; Yeh 34; Zakh. 10:2; 11:5; dan Yoh 10:12. Untuk keadaan
yang lebih baik / menyenangkan - sang gembala mencari dombanya yang terhilang
dan menemukannya - lihat tentang Mat 18:12–14; bdk. Luk 15:3–7).
Bil
27:15-17 - “(15)
Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: (16) ‘Biarlah TUHAN, Allah dari roh segala
makhluk, mengangkat atas umat ini seorang (17) yang mengepalai mereka waktu
keluar dan masuk, dan membawa mereka keluar dan masuk, supaya umat TUHAN jangan
hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala.’”.
Zakh
10:2-3,6-9 - “(2) Sebab apa yang dikatakan oleh
terafim adalah jahat, dan yang dilihat oleh juru-juru tenung adalah dusta, dan
mimpi-mimpi yang disebutkan mereka adalah hampa, serta hiburan yang diberikan
mereka adalah kesia-siaan. Oleh sebab itu bangsa itu berkeliaran seperti
kawanan domba dan menderita sengsara sebab tidak ada gembala. (3)
‘Terhadap para gembala akan bangkit murkaKu dan terhadap kepala-kepala kawanan
kambing Aku akan mengadakan pembalasan, sebab TUHAN semesta alam
memperhatikan kawanan ternakNya, yakni kaum Yehuda, dan membuat mereka
sebagai kuda keagunganNya dalam pertempuran. ... (6) Aku akan membuat kuat
kaum Yehuda, dan Aku menyelamatkan keturunan Yusuf. Aku akan membawa mereka
kembali, sebab Aku menyayangi mereka; dan keadaan mereka seakan-akan tidak
pernah ditolak oleh Aku, sebab Akulah TUHAN, Allah mereka, dan Aku akan menjawab
mereka. (7) Efraim akan seperti seorang pahlawan, hati mereka akan bersukacita
seperti oleh anggur. Anak-anak mereka akan melihatnya, lalu bersukacita dan hati
mereka bersorak-sorak karena TUHAN. (8) Aku akan bersiul memanggil mereka dan
Aku akan mengumpulkan mereka, sebab Aku sudah membebaskan mereka, dan jumlah
mereka menjadi banyak seperti dahulu. (9) Sekalipun Aku telah menyerakkan mereka
ke antara bangsa-bangsa, tetapi di tempat-tempat yang jauh mereka akan ingat
kepadaKu; mereka akan hidup bersama-sama anak-anak mereka dan mereka akan
kembali”.
Catatan:
saya hanya memberikan sebagian ayat-ayat referensi yang diberikan oleh William
Hendriksen dalam kutipan di atas karena ada yang sudah ada di atas, dan ada yang
nanti akan saya bahas di belakang.
d)
Domba merupakan binatang yang sama sekali tidak mempunyai alat pertahanan
atau cara / jalan untuk lari / menyembunyikan diri terhadap pemangsanya.
Adam
Clarke (tentang Luk 15:4): “No creature is more defenseless than a sheep, and more
exposed to be devoured by dogs and wild beasts. Even the fowls of the air seek
their destruction. I have known ravens often attempt to destroy lambs by picking
out their eyes, in which, when they have succeeded, as the creature does not see
whither it is going, it soon falls an easy prey to its destroyer” (= Tidak ada makhluk
yang lebih tak mempunyai pertahanan dari pada domba, dan yang lebih terbuka
untuk dimangsa oleh anjing-anjing dan binatang-binatang liar. Bahkan
burung-burung di udara mencari penghancuran mereka. Saya tahu bahwa
burung-burung gagak sering berusaha untuk menghancurkan anak-anak domba dengan
mencungkil mata mereka, dalam mana, jika mereka berhasil, karena makhluk itu tak
bisa melihat kemana ia pergi, ia dengan cepat menjadi mangsa dari penghancurnya).
e)
Adanya pencuri, perampok dan serigala menambah bahaya bagi domba yang
tidak punya gembala untuk melindungi dan menjaganya.
Ay
8,10,12b: “(8) Semua orang yang datang sebelum
Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan
mereka. ... (10) Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan
membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam
segala kelimpahan. ... (12b) ... ketika melihat serigala datang, ...”.
Calvin
(tentang Maz 23:4): “As
a sheep, when it wanders up and down through a dark valley, is preserved safe
from the attacks of wild beasts and from harm in other ways, by the presence
of the shepherd alone, so David now declares that as often as he shall be
exposed to any danger, he will have sufficient defense and protection in being
under the pastoral care of God”
(= Sebagaimana seekor domba, pada saat ia mengembara naik turun melalui lembah
yang gelap, dijaga aman dari serangan-serangan dari binatang-binatang
liar dan dari kerugian / kerusakan dengan cara-cara yang lain, oleh kehadiran
dari gembala saja, demikianlah sekarang Daud menyatakan bahwa sesering ia
terbuka terhadap bahaya apapun, ia akan mendapat penjagaan dan perlindungan yang
cukup pada waktu ia berada dibawah pemeliharaan penggembakaan dari Allah).
Maz
23:4 - “Sekalipun
aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau
besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku”.
William
Hendriksen (tentang Yoh 10):
“The
absolute dependence of sheep upon the shepherd is everywhere implied. The sheep
are dependent on him for provision, direction, and protection. The shepherd is
‘all things’ to them. And they place all their confidence in him”
(= Ketergantungan mutlak dari domba kepada gembala dinyatakan secara implicit
dimana-mana. Domba tergantung kepadanya untuk penyediaan makanan, pengarahan,
dan perlindungan. Gembala adalah ‘segala sesuatu / segala-galanya’ bagi
mereka. Dan mereka menempatkan seluruh keyakinan mereka dalam dia).
Penerapan:
setelah mengetahui keadaan domba dan ketergantungannya yang mutlak kepada
gembalanya, pikirkan: kalau ajaran Arminian meletakkan keselamatan akhir dari
domba itu pada domba itu sendiri, cocokkah itu? Kalau keselamatan akhir
diletakkan pada domba itu sendiri, dan bukan pada gembalanya, domba itu PASTI
terhilang!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali