Providence of God
oleh : Pdt. Budi
Asali MDiv.
III.
PROVIDENCE BERHUBUNGAN
DENGAN
SEGALA SESUATU
A) Rencana
Allah berhubungan dengan segala sesuatu.
Dengan kata lain, Rencana Allah itu mencakup segala sesuatu dalam
arti kata yang semutlak-mutlaknya.
Dasar dari pandangan ini:
1) Dasar Kitab Suci:
a) Ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Rencana Allah mencakup
‘semuanya’.
Maz 139:16 - "... dalam
kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada
satupun dari padanya".
b) Ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Rencana Allah mencakup
hal-hal yang remeh / kecil / tak berarti.
Mat 10:29-30 - "Bukankah burung
pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh
ke bumi di luar kehendak BapaMu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung
semuanya".
Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa hal yang remeh / kecil /
tidak berarti seperti jatuhnya burung pipit yang tidak berharga, atau rontoknya
rambut kita, ternyata hanya bisa terjadi kalau itu sesuai dengan kehendak /
Rencana Allah.
B. B. Warfield: "the minutest
occurrences are as directly controlled by Him as the greatest (Matt. 10:29-30,
Luke 12:7)" [= Peristiwa-peristiwa /
kejadian-kejadian yang terkecil dikontrol secara langsung oleh Dia sama seperti
peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terbesar (Mat 10:29-30, Luk 12:7)]
- ‘Biblical and Theological Studies’, hal 296.
Calvin:
"But anyone who has been taught by
Christ’s lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will
look farther afield for a cause, and will consider that all events are
governed by God’s secret plan"
[= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut
kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab,
dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah]
- ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 2.
Calvin:
"... it is certain that not one drop
of rain falls without God’s sure command"
(= ... adalah pasti bahwa tidak satu titik hujanpun yang jatuh tanpa perintah
yang pasti dari Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I,
Chapter XVI, no 5.
Dalam tafsirannya tentang kata-kata ‘jika Allah menghendakinya’
dalam Kis 18:21, Calvin berkata:
"we do all confess that we be not able to stir one finger without his
direction" (= kita semua mengakui bahwa kita tidak bisa menggerakkan
satu jari tanpa pimpinanNya).
Mengomentari Luk
22:60-61 Spurgeon berkata:
"God
has all things in his hands, he has servants everywhere, and the cock shall
crow, by the secret movement of his providence, just when God wills; and there
is, perhaps, as much of divine ordination about the crowing of a cock as about
the ascending of an emperor to his throne. Things are only little and great
according to their bearings; and God reckoned not the crowing bird to be a small
thing, since it was to bring a wanderer back to his Saviour, for, just as the
cock crew, ‘The Lord turned, and looked upon Peter.’ That was a different
look from the one which the girl had given him, but that look broke his
heart" [= Allah mempunyai / memegang
segala sesuatu di tanganNya, Ia mempunyai pelayan di mana-mana, dan ayam akan
berkokok, oleh gerakan / dorongan rahasia dari providensiaNya, persis pada saat
Allah menghendakinya; dan di sana mungkin ada pengaturan / penentuan ilahi yang
sama banyaknya tentang berkokoknya seekor ayam seperti tentang naiknya seorang
kaisar ke tahtanya. Hal-hal hanya kecil dan besar menurut hubungannya / sangkut
pautnya / apa yang diakibatkannya; dan Allah tidak menganggap berkokoknya burung
/ ayam sebagai hal yang kecil, karena itu akan membawa orang yang menyimpang
kembali kepada Juruselamatnya, karena, persis pada saat ayam itu berkokok,
‘berpalinglah Tuhan memandang Petrus’. Ini adalah pandangan yang berbeda
dengan pandangan yang tadi telah diberikan seorang perempuan kepadanya (Luk
22:56), tetapi pandangan itu menghancurkan hatinya] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 12,
hal 20.
Kalau saudara merasa heran mengapa hal-hal yang kecil / remeh itu
juga ditetapkan oleh Allah, seakan-akan Allah itu kekurangan kerjaan (bahasa
Jawa: kengangguren), maka ingatlah bahwa:
· kedaulatan
yang mutlak dari Allah tidak memungkinkan adanya hal yang bagaimanapun kecil dan
remehnya ada di luar Rencana Allah dan Providence of God.
· semua
hal-hal di dunia / alam semesta ini berhubungan satu dengan yang lain, sehingga
hal kecil / remeh bisa menimbulkan hal yang besar!
Tentang
kejatuhan Ahazia dari kisi-kisi kamar atas dalam 2Raja 1:2, Pulpit Commentary
memberikan komentar sebagai berikut:
"The
fainéant king came to his end in a manner: 1. Sufficiently simple. Idly
lounging at the projecting lattice window of his palace in Samaria - perhaps
leaning against it, and gazing from his elevating position on the fine prospect
that spreads itself around - his support suddenly gave way, and he was
precipitated to the ground, or courtyard, below. He is picked up, stunned, but
not dead, and carried to his couch. It is, in common speech, an accident - some
trivial neglect of a fastening - but it terminated this royal career. On such
slight contingencies does human life, the change of rulers, and often the course
of events in history, depend. We cannot sufficiently ponder that our
existence hangs by the finest thread, and that any trivial cause may at any
moment cut it short (Jas. 4:14). 2. Yet providential. God’s providence is to
be recognized in the time and manner of this king’s removal. He had
‘provoked to anger the Lord God of Israel’ (1Kings 22:53), and God in this
sudden way cut him off. This is the only rational view of the providence of God,
since, as we have seen, it is from the most trivial events that the greatest
results often spring. The whole can be controlled only by the power that
concerns itself with the details. A remarkable illustration is afforded by the
death of Ahaziah’s own father. Fearing Micaiah’s prophecy, Ahab had
disguised himself on the field of battle, and was not known as the King of
Israel. But he was not, therefore, to escape. A man in the opposing ranks
‘drew a bow at a venture,’ and the arrow, winged with a Divine mission,
smote the king between the joints of his armour, and slew him (1Kings 22:34).
The same minute providence which guided that arrow now presided over the
circumstances of Ahaziah’s fall. There is in this doctrine, which is also
Christ’s (Matt. 10:29,30), comfort for the good, and warning for the wicked.
The good man acknowledges, ‘My times are in thy hand’ (Ps. 31:15), and the
wicked man should pause when he reflects that he cannot take his out of that
hand" [= Raja yang malas sampai pada
akhir hidupnya dengan cara: 1. Cukup sederhana. Duduk secara malas pada
kisi-kisi jendela yang menonjol dari istananya di Samaria - mungkin bersandar
padanya, dan memandang dari posisinya yang tinggi pada pemandangan yang indah di
sekitarnya - sandarannya tiba-tiba patah, dan ia jatuh ke tanah atau halaman di
bawah. Ia diangkat, pingsan, tetapi tidak mati, dan dibawa ke dipan /
ranjangnya. Dalam pembicaraan umum itu disebut suatu kecelakaan / kebetulan -
suatu kelalaian yang remeh dalam pemasangan (jendela / kisi-kisi) - tetapi itu
mengakhiri karir kerajaannya. Pada hal-hal kebetulan / tak tentu yang remeh
seperti ini tergantung hidup manusia, pergantian penguasa / raja, dan seringkali
rangkaian dari peristiwa-peristiwa dalam sejarah. Kita tidak bisa terlalu
banyak dalam merenungkan bahwa keberadaan kita tergantung pada benang yang
paling tipis, dan bahwa setiap saat sembarang penyebab yang remeh bisa
memutuskannya (Yak 4:14). 2. Tetapi bersifat providensia. Providensia ilahi /
pelaksanaan rencana Allah harus dikenali dalam waktu dan cara penyingkiran raja
ini. Ia telah ‘menimbulkan kemarahan / sakit hati Tuhan, Allah Israel’
(1Raja 22:54), dan Allah dengan cara mendadak ini menyingkirkannya. Ini
merupakan satu-satunya pandangan rasionil tentang providensia Allah, karena,
seperti telah kita lihat, adalah dari peristiwa yang paling remehlah sering
muncul akibat yang terbesar. Seluruhnya bisa dikontrol hanya oleh kuasa yang
memperhatikan hal-hal yang kecil. Suatu ilustrasi yang hebat / luar biasa
diberikan oleh kematian dari ayah Ahazia sendiri. Karena takut pada nubuat
Mikha, Ahab menyamar dalam medan pertempuran, dan tidak dikenal sebagai raja
Israel. Tetapi hal itu tidak menyebabkannya lolos. Seseorang dari barisan lawan
‘menarik busurnya secara untung-untungan / sembarangan’ dan anak panah itu,
terbang dengan misi ilahi, mengenai sang raja di antara sambungan baju zirahnya,
dan membunuhnya (1Raja 22:34). Providensia yang sama seksamanya, yang memimpin
anak panah itu, sekarang memimpin / menguasai situasi dan kondisi dari kejatuhan
Ahazia. Dalam doktrin / ajaran ini, yang juga merupakan ajaran Kristus (Mat
10:29-30), ada penghiburan untuk orang baik / saleh, dan peringatan untuk orang
jahat. Orang baik mengakui: ‘Masa hidupku ada dalam tanganMu’ (Maz 31:16),
dan orang jahat harus berhenti ketika ia merenungkan bahwa ia tidak bisa
mengambil masa hidupnya dari tangan itu]
- hal 13-14.
Catatan:
1Raja 22:53 dalam Kitab Suci Inggris adalah 1Raja 22:54 dalam Kitab Suci
Indonesia.
Lalu, dalam
tafsiran tentang 2Raja 5, dimana kata-kata yang sederhana dari seorang gadis
Israel ternyata bisa membawa kesembuhan bagi Naaman dari penyakit kustanya,
Pulpit Commentary mengatakan sebagai berikut:
"The
dependence of the great upon the small. The recovery of this warrior resulted
from the word of this captive maid. Some persons admit the hand of God in what
they call great events! But what are the great events? ‘Great’ and
‘small’ are but relative terms. And even what we call ‘small’ often
sways and shapes the ‘great.’ One spark of fire may burn down all
London" (= Ketergan-tungan hal yang
besar pada hal yang kecil. Kesembuhan dari pejuang ini dihasilkan / diakibatkan
dari kata-kata dari pelayan tawanan ini. Sebagian orang mengakui tangan Allah
dalam apa yang mereka sebut peristiwa besar! Tetapi apakah peristiwa besar itu?
‘Besar’ dan ‘kecil’ hanyalah istilah yang relatif. Dan bahkan apa yang
kita sebut ‘kecil’ sering mempengaruhi dan membentuk yang ‘besar’.
Sebuah letikan api bisa membakar seluruh kota London)
- hal 110.
R. C. Sproul: "For want of a nail
the shoe was lost; for want of the shoe the horse was lost; for want of the
horse the rider was lost; for want of the rider the battle was lost; for want of
the battle the war was lost" [= Karena
kekurangan sebuah paku maka sebuah sepatu (kuda) hilang; karena kekurangan
sebuah sepatu (kuda) maka seekor kuda hilang; karena kekurangan seekor kuda maka
seorang penunggang kuda hilang; karena kekurangan seorang penunggang kuda maka
sebuah pertempuran hilang (kalah); karena kekurangan sebuah pertempuran maka
peperangan hilang (kalah)] - ‘Chosen By God’, hal 155.
Jadi, melalui illustrasi ini terlihat dengan jelas bahwa sebuah
paku, yang merupakan hal yang remeh / kecil, ternyata bisa menimbulkan kekalahan
dalam peperangan, yang jelas merupakan hal yang sangat besar! Karena itu jangan
heran kalau hal-hal yang kecil / remeh juga ditetapkan / direncanakan oleh
Allah.
c) Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa hal-hal yang
kelihatannya seperti ‘kebetulan’ juga hanya bisa terjadi karena itu
merupakan Rencana Allah.
· Kel
21:13 - "Tetapi jika pembunuhan itu
tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka
Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari".
Yang dimaksud dengan ‘pembunuhan yang tidak disengaja’ itu
dijelaskan / diberi contoh dalam Ul 19:4-5, yaitu orang yang pada waktu
mengayunkan kapak, lalu mata kapaknya terlepas dan mengenai orang lain sehingga
mati. Hal seperti ini kelihatannya ‘kebetulan’, tetapi toh Kel 21:13 itu
mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena ‘tangannya
ditentukan Allah melakukan itu’. Jadi, jelas bahwa hal-hal yang kelihatannya kebetulan sekalipun
hanya bisa terjadi kalau itu sesuai kehendak / Rencana Allah.
· 1Sam
6:7-12 - "Oleh sebab itu ambillah dan
siapkanlah sebuah kereta baru dengan dua ekor lembu yang menyusui, yang belum
pernah kena kuk, pasanglah kedua lembu itu pada kereta, tetapi bawalah
anak-anaknya kembali ke rumah, supaya jangan mengikutinya lagi. Kemudian
ambillah tabut TUHAN, muatkanlah itu ke atas kereta dan letakkanlah benda-benda
emas, yang harus kamu bayar kepadaNya sebagai tebusan salah, ke dalam suatu peti
di sisinya. Dan biarkanlah tabut itu pergi. Perhatikanlah: apabila tabut itu
mengambil jalan ke daerahnya, ke Bet-Semes, maka Dialah itu yang telah
mendatangkan malapetaka yang hebat ini kepada kita. Dan jika tidak, maka kita
mengetahui, bahwa bukanlah tanganNya yang telah menimpa kita; kebetulan saja hal
itu terjadi kepada kita.’ Demikianlah diperbuat orang-orang itu. Mereka
mengambil dua ekor lembu yang menyusui, dipasangnya pada kereta, tetapi
anak-anaknya ditahan di rumah. Mereka meletakkan tabut TUHAN ke atas kereta,
juga peti berisi tikus-tikus emas dan gambar benjol-benjol mereka. Lembu-lembu
itu langsung mengikuti jalan yang ke Bet-Semes; melalui satu jalan raya,
sambil menguak dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sedang raja-raja
kota orang Filistin itu berjalan di belakangnya sampai ke daerah
Bet-Semes".
Orang Filistin ingin tahu apakah wabah yang menimpa mereka (1Sam 5)
berasal dari Tuhan atau hanya kebetulan saja. Dan untuk mengetahui hal itu
mereka melakukan percobaan. Hasil dari percobaan itu adalah jelas. Itu bukan
kebetulan, tetapi Tuhanlah yang melakukan semua itu.
· 1Raja
22:34 - "Tetapi seseorang menarik
panahnya dan menembak dengan sembarangan saja dan mengenai raja Israel di
antara sambungan baju zirahnya. Kemudian ia berkata kepada pengemudi keretanya:
‘Putar! Bawa aku keluar dari pertempuran, sebab aku sudah luka.’".
Kitab Suci Indonesia: ‘menembak
dengan sembarangan’.
KJV/RSV: ‘drew a bow at
a venture’ (= menarik busurnya secara
untung-untungan).
NIV/NASB: ‘drew his
bow at random’ (= menarik busurnya
secara sembarangan).
Catatan:
Kata bentuk jamaknya muncul dalam 2Sam 15:11 dan dalam Kitab Suci Indonesia
diterjemahkan ‘tanpa curiga’.
NIV: ‘quite innocently’
(= dengan tak bersalah).
NASB: ‘innocently’
(= dengan tak bersalah).
KJV/RSV: ‘in their
simplicity’ (= dalam kesederhanaan
mereka).
Pulpit Commentary: "An
unknown, unconscious archer. The arrow that pierced Ahab’s corselet was shot
‘in simplicity,’ without deliberate aim, with no thought of striking the
king. It was an unseen Hand that guided that chance shaft to its destination. It
was truly ‘the arrow of the Lord’s vengeance.’"
(= Seorang pemanah yang tak dikenal, dan yang tak menyadari tindakannya. Panah
yang menusuk pakaian perang Ahab ditembakkan ‘dalam kesederhanaan’, tanpa
tujuan yang disengaja, dan tanpa pikiran untuk menyerang sang raja. Adalah
‘Tangan yang tak kelihatan’ yang memimpin ‘panah kebetulan’ itu pada
tujuannya. Itu betul-betul merupakan ‘panah pembalasan Tuhan’)
- hal 545.
Pulpit Commentary: "how useless are
disguises when the providence of Omniscience is concerned! Ahab might hide
himself from the Syrians, but he could not hide himself from God. Neither could
he hide himself from angels and devils, who are instruments of Divine
Providence, ever influencing men, and even natural laws, or forces of
nature" (= betapa tidak bergunanya
penyamaran pada waktu providensia dari Yang Mahatahu yang dipersoalkan! Ahab
bisa menyembunyikan dirinya dari orang Aram, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan
dirinya dari Allah. Ia juga tidak bisa menyembunyikan dirinya dari malaikat dan
setan, yang merupakan alat-alat dari Providensia Ilahi, yang selalu mempengaruhi
manusia, dan bahkan hukum-hukum alam, atau kuasa / kekuatan alam)
- hal 552.
Pulpit Commentary: "The chance shot. The
success of Ahab’s device only served to make the blow come more plainly from
the hand of God. Benhadad’s purpose could be baffled, but not His. There is no
escape from God" (= Tembakan
kebetulan. Sukses dari muslihat Ahab hanya berfungsi untuk membuat kelihatan
dengan lebih jelas bahwa serangan itu datang dari tangan Allah. Tujuan / rencana
Benhadad bisa digagalkan / dihalangi, tetapi tidak tujuan / rencanaNya. Tidak
ada jalan untuk lolos dari Allah) - hal 557.
Jadi, ini lagi-lagi menunjukkan bahwa tidak ada ‘kebetulan’.
Semua yang kelihatannya merupakan kebetulan, diatur oleh Allah.
· Amsal
16:33 - "Undi dibuang di pangkuan,
tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN".
Tidak ada yang kelihatan lebih bersifat kebetulan dari pada undi
yang dibuang di pangkuan, tetapi toh ayat ini mengatakan bahwa setiap
keputusannya berasal dari Tuhan.
Catatan:
ini tidak berarti bahwa pada jaman sekarang kita boleh mencari kehendak Tuhan
dengan cara ini. Pada jaman sekarang, dimana kita sudah mempunyai Kitab Suci
yang lengkap, maka kita harus mencari kehendak Tuhan melalui Kitab Suci / Firman
Tuhan.
· Rut
2:3 - "Pergilah ia, lalu sampai di
ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada
di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh".
Charles Haddon Spurgeon memberikan renungan tentang Rut 2:3, dimana
ia berkata sebagai berikut:
"Her hap was. Yes, it seemed nothing but an accidental happenstance,
but how divinely was it planned! Ruth had gone forth with her mother’s
blessing under the care of her mother’s God to humble but honorable toil, and
the providence of God was guiding her every step. Little did she know that amid
the sheaves she would find a husband, that he would make her the joint owner of
all those broad acres, and that she, a poor foreigner, would become one of the
progenitors of the great Messiah. ... Chance is banished from the faith of
Christians, for they see the hand of God in everything. The trivial events of
today or tomorrow may involve consequences of the highest importance"
(= ‘Kebetulan ia berada’. Ya, itu kelihatannya bukan lain dari pada suatu
kejadian yang bersifat kebetulan, tetapi hal itu direncanakan secara ilahi! Rut
telah pergi dengan berkat dari ibunya di bawah pemeliharaan dari Allah ibunya
kepada pekerjaan yang rendah tetapi terhormat, dan providensia Allah membimbing
setiap langkahnya. Sedikitpun ia tidak menyangka bahwa di antara berkas-berkas
jelai itu ia akan menemukan seorang suami, bahwa ia akan membuatnya menjadi
pemilik dari seluruh tanah yang luas itu, dan bahwa ia, seorang asing yang
miskin, akan menjadi salah seorang nenek moyang dari Mesias yang agung. ...
Kebetulan dibuang dari iman orang-orang Kristen, karena mereka melihat bahwa
tangan Allah ada dalam segala sesuatu. Peristiwa-peristiwa remeh dari hari ini
atau besok bisa melibatkan konsekwensi-konsekwensi yang paling penting)
- ‘Morning and Evening’, October 25, evening.
Semua ini menunjukkan bahwa dalam membuat RencanaNya, Allah bukan
hanya merencanakan / menetapkan garis besarnya saja, tetapi lengkap dengan semua
detail-detailnya, sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya.
Loraine Boettner: "The Pelagian
denies that God has a plan; the Arminian says that God has a general plan but
not a specific plan; but the Calvinist says that God has a specific plan which
embraces all events in all ages" (=
Orang yang menganut Pelagianisme menyangkal bahwa Allah mempunyai rencana; orang
Arminian berkata bahwa Allah mempunyai rencana yang umum tetapi bukan rencana
yang specific; tetapi orang Calvinist mengatakan bahwa Allah mempunyai rencana
yang specific yang mencakup semua peristiwa / kejadian dalam semua jaman)
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 22-23.
B. B. Warfield:
·
"Throughout the Old Testament,
behind the processes of nature, the march of history and the fortunes of each
individual life alike, there is steadily kept in view the governing hand of God
working out His preconceived plan - a plan broad enough to embrace the whole
universe of things, minute enough to concern itself with the smallest details,
and actualizing itself with inevitable certainty in every event that comes to
pass" (= Sepanjang Perjanjian Lama,
dibalik proses alam, gerakan dari sejarah dan nasib dari setiap kehidupan, terus
menerus ditunjukkan tangan pemerintahan Allah yang melaksanakan rencana yang
sudah direncanakanNya lebih dulu - suatu rencana yang cukup luas untuk mencakup
seluruh alam semesta, cukup kecil / seksama untuk memperhatikan detail-detail
yang terkecil, dan mewujudkan dirinya sendiri dengan kepastian yang tidak dapat
dihindarkan / dielakkan dalam setiap peristiwa / kejadian yang terjadi)
- ‘Biblical and Theological Studies’, hal 276.
·
"But, in the infinite wisdom of the
Lord of all the earth, each event falls with exact precision into its proper
place in the unfolding of His eternal plan; nothing, however small, however
strange, occurs without His ordering, or without its peculiar fitness for its
place in the working out of His purpose; and the end of all shall be the
manifestation of His glory, and the accumulation of His praise"
(= Tetapi, dalam hikmat yang tidak terbatas dari Tuhan seluruh bumi, setiap
peristiwa / kejadian jatuh dengan ketepatan yang tepat pada tempatnya dalam
pembukaan dari rencana kekalNya; tidak ada sesuatupun, betapapun kecilnya,
betapapun anehnya, terjadi tanpa pengaturan / perintahNya, atau tanpa
kecocokannya yang khusus untuk tempatnya dalam pelaksanaan RencanaNya; dan akhir
dari semua adalah akan diwujudkannya kemuliaanNya, dan pengumpulan pujian
bagiNya) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 285.
Charles Hodge:
"As God works on a definite plan in
the external world, it is fair to infer that the same is true in reference to
the moral and spiritual world. To the eye of an uneducated man the heavens are a
chaos of stars. The astronomer sees order and system in this confusion; all
those bright and distant luminaries have their appointed places and fixed
orbits; all are so arranged that no one interferes with any other, but each is
directed according to one comprehensive and magnificent conception"
(= Sebagaimana Allah menger-jakan rencana tertentu dalam dunia lahiriah /
jasmani, adalah wajar untuk mengambil kesimpulan bahwa hal itu juga benar
berkenaan dengan dunia moral dan rohani. Bagi mata seorang yang tidak
berpendidikan langit merupakan bintang-bintang yang kacau. Ahli perbintangan /
ilmu falak melihat keteraturan dan sistim dalam kekacauan ini; semua
benda-benda bersinar yang terang dan jauh itu mempunyai tempat dan orbit tetap
yang ditetapkan; semua begitu diatur sehingga tidak satupun mengganggu yang
lain, tetapi masing-masing diarahkan menurut suatu konsep yang luas dan besar /
indah) - ‘Systematic
Theology’, vol II hal 313.
Saya berpendapat bagian yang saya garis-bawahi tersebut
merupakan hal yang perlu dicamkan. Analoginya dalam dunia theologia adalah: bagi
orang yang tidak mengerti theologia, semua merupakan kekacauan, atau semua
terjadi begitu saja, atau secara kebetulan. Tetapi bagi mata seorang ahli
theologia, segala sesuatu ditetapkan dan diatur oleh Allah.
2) Kemahatahuan Allah.
Bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, atau bahwa
Allah telah menetapkan segala sesuatu, juga bisa terlihat dari kemahatahuan
Allah.
a) Kemahatahuan Allah menunjukkan bahwa Ia menentukan segala sesuatu.
Penjelasan:
Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta,
malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini
adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah
adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah
itu maha tahu (1Sam 2:3), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti
kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan
terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain,
semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada
yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri).
Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang
menentukan semua itu.
Loraine Boettner:
· "This
fixity or certainty could have had its ground in nothing outside of the divine
Mind, for in eternity nothing else existed"
(= Ketertentuan atau kepastian ini tidak bisa mempunyai dasar pada apapun di
luar Pikiran ilahi, karena dalam kekekalan tidak ada apapun yang lain yang ada)
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 45.
· "Yet
unless Arminianism denies the foreknowledge of God, it stands defenseless before
the logical consistency of Calvinism; for foreknowledge implies certainty and
certainty implies foreordination" (=
Kecuali Arminianisme menyangkal / menolak pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia
tidak mempunyai pertahanan di depan kekonsistenan yang logis dari Calvinisme;
karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan
kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu)
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44.
· "The
Arminian objection against foreordination bears with equal force against the
foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case,
be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with
the free agency of man, the other is also. Foreordination renders the events
certain, while foreknowledge presupposes that they are certain"
(= Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu mengandung / menghasilkan
kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah
ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang
ditentukan lebih dulu; dan jika yang satu tidak konsisten dengan kebebasan
manusia, yang lain juga demikian. Penentuan lebih dulu membuat
peristiwa-peristiwa pasti / tertentu, sedangkan penge-tahuan lebih dulu
mensyaratkan bahwa mereka itu pasti / tertentu)
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 42.
b) Dalam persoalan ini perlu saudara ketahui bahwa penentuan itu
terjadi bukan karena Allah sudah tahu.
Roma 8:29 (NIV) - ‘For
those He foreknew, He also predestined ...’ (=
Karena mereka yang Ia ketahui lebih dulu, juga Ia tentukan ...).
Ayat ini sering dipakai oleh orang Arminian sebagai dasar untuk
mengatakan bahwa Allah menentukan karena Dia sudah tahu bahwa hal itu akan
terjadi. Jadi, Allah menentukan supaya si A menjadi orang beriman, karena Ia
tahu bahwa orang itu akan menjadi orang beriman. Allah menentukan si B menjadi
orang saleh, karena Ia tahu si B akan mentaati Dia, dsb.
Ada beberapa hal yang perlu disoroti dari penafsiran Arminian
tentang Ro 8:29 ini:
1. ‘Menentukan karena sudah tahu’ tidak bisa disebut sebagai
‘menentukan’, karena kalau Allah sudah tahu bahwa suatu hal akan terjadi,
maka hal itu pasti akan terjadi. Lalu apa gunanya ditentukan lagi?
2. Kalau kita menafsirkan Ro 8:29 sebagai ‘menentukan karena
sudah tahu’, maka ini akan bertentangan dengan Ef 1:4,5,11.
· Ef
1:4 mengatakan bahwa kita dipilih supaya menjadi kudus / tak bercacat. Jadi,
pemilihan itulah yang menyebabkan kita menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, dalam
pemikiran Allah, pemilihan itu yang ada dulu, dan tujuannya adalah supaya kita
menjadi kudus dan tidak bercacat. Sedangkan kalau diambil penafsiran tadi /
penafsiran Arminian, maka ‘kudus / tak bercacat’ inilah yang ada dulu dalam
pemikiran Allah, dan sebagai akibatnya maka kita dipilih. Ini jelas terbalik!
· Ef
1:5b,11b menunjukkan bahwa kita dipilih sesuai dengan kerelaan kehendak Allah
(dalam bahasa Jawa / pasaran mungkin bisa dikatakan ‘saksirnya Allah’). Jadi
jelas bahwa pemilihan itu dilakukan oleh Allah bukan karena Ia melihat akan
adanya sesuatu yang baik dalam diri kita!
3. Ro 8:29 itu tidak mengatakan bahwa ‘Allah tahu lebih dulu tentang
iman / perbuatan baik mereka’.
A. H. Strong: "The Arminian
interpretation of ‘whom he foreknew’ (Rom 8:29) would require the phrase
‘as conformed to the image of His Son’ to be conjoined with it. Paul,
however, makes conformity to Christ to be the result, not the foreseen
condition, of God’s foreordination"
[= Penafsiran Arminian tentang ‘siapa yang diketahuiNya lebih dulu’ (Ro
8:29) mengharuskan kata-kata ‘untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya’
dihubungkan dengannya. Tetapi Paulus membuat keserupaan dengan Kristus sebagai hasil,
dan bukan sebagai syarat yang dilihat lebih dulu, dari penetapan Allah]
- ‘Systematic Theology’, hal 781.
Saya sangat
setuju dengan kata-kata A. H. Strong ini! Orang-orang Arminian membaca /
menafsirkan Ro 8:29-30 ini seakan-akan ayat itu berbunyi sebagai berikut:
"Karena
mereka yang diketahuiNya lebih dulu akan menjadi serupa dengan gambaran
AnakNya, lalu dipredestinasikanNya, supaya Ia menjadi yang sulung di
antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya;
mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga
dimuliakanNya".
Bandingkan
dengan bunyi Ro 8:29-30 yang asli (diterjemahkan dari NIV):
"Karena
mereka yang diketahuiNya lebih dulu, juga dipredestinasikanNya untuk menjadi
serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara
banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka
yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga
dimuliakanNya".
Loraine Boettner: "Notice
especially that Rom. 8:29 does not say that they were foreknown as doers of good
works, but that they were foreknown as individuals to whom God would extend the
grace of election" (= Perhatikan
khususnya bahwa Ro 8:29 tidak berkata bahwa mereka diketahui lebih dulu sebagai
pembuat kebaikan, tetapi bahwa mereka diketahui lebih dulu sebagai
individu-individu kepada siapa Allah memberikan kasih karunia pemilihan)
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.
Charles Haddon Spurgeon: "it is further
asserted that the Lord foreknew who would exercise repentance, who would believe
in Jesus, and who would persevere in a consistent life to the end. This is
readily granted, but a reader must wear very powerful magnifying spectacles
before he will be able to discover that sense in the text. Upon looking
carefully at my Bible again I do not perceive such statement. Where are those
words which you have added, ‘Whom he did foreknew to repent, to believe, and
to persevere in grace’? I do not find them either in the English version or in
the Greek original. If I could so read them the passage would certainly be very
easy, and would very greatly alter my doctrinal views; but, as I do not find
those words there, begging your pardon, I do not believe in them. However wise
and advisable a human interpolation may be, it has no authority with us; we bow
to holy Scripture, but not to glosses which theologians may choose to put upon
it. No hint is given in the text of foreseen virtue any more than of foreseen
sin, and, therefore, we are driven to find another meaning for the word"
(= Selanjutnya ditegaskan / dinyatakan bahwa Tuhan mengetahui lebih dulu siapa
yang akan bertobat, siapa yang akan percaya kepada Yesus, dan siapa yang akan
bertekun dalam hidup yang konsisten sampai akhir. Ini dengan mudah diterima,
tetapi seorang pembaca harus memakai kaca mata pembesar yang sangat kuat sebelum
ia bisa menemukan arti itu dalam text itu. Melihat dalam Alkitab saya dengan
teliti sekali lagi, saya tidak mendapatkan arti seperti itu. Dimana kata-kata
yang kamu tambahkan itu ‘Yang diketahuiNya lebih dulu akan bertobat, percaya,
dan bertekun dalam kasih karunia’? Saya tidak menemukan kata-kata itu baik
dalam versi Inggris atau dalam bahasa Yunani orisinilnya. Jika saya bisa membaca
seperti itu, text itu pasti akan menjadi sangat mudah, dan akan sangat mengubah
pandangan doktrinal saya; tetapi, karena saya tidak menemukan kata-kata itu di
sana, maaf, saya tidak percaya padanya. Bagaimanapun bijaksana dan baiknya
penyisipan / penambahan manusia, itu tidak mempunyai otoritas bagi kami; kami
membungkuk / menghormat pada Kitab Suci, tetapi tidak pada komentar / keterangan
yang dipilih oleh ahli-ahli theologia untuk diletakkan padanya. Tidak ada
petunjuk yang diberikan dalam text itu tentang kebaikan atau dosa yang dilihat
lebih dulu, dan karena itu, kami didorong untuk mencari / mendapatkan arti yang
lain untuk kata itu) - ‘Spurgeon’s
Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 22.
4. Disamping itu, penafsiran Arminian ini menafsirkan kata ‘foreknew’
(= mengetahui lebih dulu)
sekedar sebagai suatu pengetahuan intelektual. Tetapi saya percaya bahwa
penafsiran seperti itu adalah salah. Untuk itu mari kita melihat penjelasan di
bawah ini:
a. Pembahasan kata ‘know’
(= tahu / kenal) dalam Kitab Suci.
· dalam
Perjanjian Lama.
Kata ‘know’
(= tahu) dalam bahasa Ibrani adalah YADA. Sekalipun YADA memang bisa
diartikan sebagai ‘tahu secara intelektual’ tetapi seringkali kata YADA
tidak bisa diartikan demikian. Saya akan memberikan beberapa contoh dimana kata
YADA tidak bisa diartikan sekedar sebagai ‘tahu secara intelektual’:
o
Kej 4:1 (KJV/Lit): ‘Adam
knew Eve his wife, and she conceived’ (=
Adam tahu / kenal Hawa istrinya, dan ia mengandung).
Di sini jelas bahwa YADA tidak mungkin diartikan ‘tahu secara
intelektual’! Tidak mungkin Adam hanya mengetahui Hawa secara intelektual, dan
itu menyebabkan Hawa lalu mengandung! Jelas bahwa YADA / ‘to know’ di
sini tidak sekedar berarti ‘tahu’, tetapi ada kasih / hubungan intim di
dalamnya.
Karena itu kalau Ro 8:29 mengatakan Allah tahu / kenal, lalu
menentukan, maksudnya adalah Allah mengasihi, lalu menentukan. Jadi penekanannya
adalah: penentuan itu didasarkan atas kasih. Bdk. Ef 1:5 - ‘Dalam
kasih Allah telah memilih kita ...’.
Catatan:
tafsiran ini saya ambil dari buku tafsiran kitab Roma oleh John Murray (NICNT).
o
Dalam Kej 18:19, kata YADA
ini diterjemahkan ‘memilih’ oleh Kitab Suci Indonesia.
"Sebab
Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan
kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN,
dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada
Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya".
RSV, NIV, NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia! ASV /
KJV / NKJV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi kalimatnya jadi aneh.
Kej 18:19 (KJV): ‘For
I know him, that he will command his children and his household after
him, and they shall keep the way of the LORD, to do justice and judgment; that
the LORD may bring upon Abraham that which he hath spoken of him’
(= Karena Aku mengetahui / mengenalnya, bahwa ia akan memerintahkan
anak-anaknya dan seisi rumahnya / keturunannya, dan mereka akan hidup menurut
jalan TUHAN, melakukan keadilan dan penghakiman; supaya TUHAN memenuhi kepada
Abraham apa yang dikatakanNya kepadanya).
o
Dalam Amos 3:2, kata YADA
diterjemahkan ‘kenal’ oleh Kitab Suci Indonesia.
"Hanya
kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan
menghukum kamu karena segala kesalahanmu".
KJV/ASV/RSV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi NIV/NASB menterjemahkan ‘choose’
(= memilih).
Tentang kata
YADA dalam Amos 3:2 ini B. B. Warfield berkata:
"what
is thrown prominently forward is clearly the elective love which has singled
Israel out for special care" (= apa
yang ditonjolkan ke depan secara menyolok jelas adalah kasih yang memilih yang
telah memilih / mengkhususkan Israel untuk perhatian istimewa)
- ‘Biblical and Theological Studies’, hal 288.
Loraine Boettner: "The word ‘know’
is sometimes used in a sense other than that of having merely an intellectual
perception of the thing mentioned. It occasionally means that the persons so
‘known’ are the special and peculiar objects of God’s favor, as when it
was said of the Jews, ‘You only have I known of all the families of the
earth,’ Amos 3:2." [= Kata
‘tahu’ kadang-kadang digunakan bukan dalam arti seke-dar pengetahuan
intelektual tentang hal yang disebutkan. Kadang-kadang kata ini berarti bahwa
orang yang ‘diketahui’ merupakan obyek istimewa dan khusus dari kemurahan /
kebaikan hati Allah, seperti pada waktu dikatakan tentang orang-orang Yahudi:
‘Hanya kamu yang Kukenal / Kuketahui dari segala kaum di muka bumi’
(Amos 3:2)] - ‘The
Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.
o
Kel 2:25 - diterjemahkan
‘memperhatikan’.
o
Maz 1:6 - diterjemahkan
‘mengenal’.
o
Maz 101:4 - diterjemahkan
‘tahu’.
o
Nahum 1:7 - diterjemahkan
‘mengenal’.
Dalam semua ayat-ayat di atas ini kata YADA tidak mungkin diartikan
sebagai sekedar tahu secara intelektual.
· dalam
Perjanjian Baru.
Kata ‘know’
(= tahu) dalam bahasa Yunani adalah GINOSKO, dan digunakan dalam ayat-ayat
di bawah ini:
o
Mat 7:23 - "Pada
waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat
kejahatan!".
o
Yoh 10:14,27 - "Akulah
gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal
Aku. ... Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan
mereka mengikut Aku".
o
1Kor 8:3 - "Tetapi
orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah".
o
Gal 4:9 - "Tetapi
sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal
Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan
miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?".
o
2Tim 2:19a - "Tetapi
dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal
siapa kepunyaanNya’".
Dalam semua ayat-ayat ini kata GINOSKO itu tidak mungkin diartikan
sekedar ‘mengetahui secara intelektual’.
b. Pembahasan kata ‘foreknow’
(= mengetahui lebih dulu) / ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih
dulu).
Ayat-ayat yang mengandung kata-kata foreknowledge, foreknew,
dsb:
· Kis
2:23a - "Dia yang diserahkan Allah
menurut maksud dan rencanaNya".
NASB: ‘this Man, delivered
up by the predetermined plan and foreknowledge of God’
(= Orang ini, diserahkan oleh rencana yang ditentukan lebih dulu dan pengetahuan
lebih dulu dari Allah).
Jelas bahwa ‘foreknowledge’
(= pengetahuan lebih dulu)
di sini tidak sekedar berarti pengetahuan intelektual, karena Allah menyerahkan
Anak Manusia untuk mewujudkan ‘foreknowledge’ itu. Karena itu tidak
heran Kitab Suci Indonesia menterjemahkan seperti itu.
· Ro
11:2a - "Allah tidak menolak umatNya yang
dipilihNya".
NASB: ‘God has not
rejected His people whom He foreknew’
(= Allah tidak menolak umatNya yang diketahuiNya lebih dulu).
Ini lagi-lagi menunjukkan secara jelas bahwa ‘foreknew’
tidak bisa diartikan ‘mengetahui lebih dulu secara intelektual’.
Loraine Boettner
menghubungkan Ro 8:29 dengan Ro 11:2a ini dengan berkata:
"Those
in Romans 8:29 are foreknown in the sense that they are foreappointed to be the
special objects of His favor. This is shown more plainly in Rom. 11:2-5, where
we read, ‘God did not cast off His people whom He foreknew’"
(= Mereka dalam Ro 8:29 diketahui lebih dulu dalam arti bahwa mereka ditetapkan
lebih dulu untuk menjadi obyek khusus kemurahan hatiNya. Ini ditunjukkan lebih
jelas dalam Ro 11:2-5, dimana kita membaca: ‘Allah tidak menolak / membuang
umatNya yang dipilihNya / diketahuiNya lebih dulu’) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.
· 1Pet
1:2a - "yaitu orang-orang yang dipilih,
sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita".
NASB: ‘who are chosen
according to the foreknowledge of God the Father’
(= yang dipilih sesuai dengan pengetahuan lebih dulu dari Allah Bapa).
· 1Pet
1:20 - "Ia telah dipilih sebelum
dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman
akhir".
NASB: ‘For He was
foreknown before the foundation of the world, but has appeared in these last
times for the sake of you’ (= Karena Ia diketahui
lebih dulu sebelum penciptaan dunia, tetapi menampakkan diri pada jaman
akhir karena kamu).
Melihat ayat-ayat di atas ini, saya berpendapat bahwa bukan tanpa
alasan Kitab Suci Indonesia tidak pernah mau menterjemahkan ‘tahu lebih
dulu’ atau ‘pengetahuan lebih dulu’, tetapi menterjemahkan dengan kata
‘pilih’ atau ‘rencana’. Karena itu, sekalipun Ro 8:29 versi Kitab Suci
Indonesia itu memang bukan terjemahan yang hurufiah, tetapi saya berpendapat
bahwa Kitab Suci Indonesia memberikan arti yang benar!
c) Hubungan yang benar tentang kemahatahuan Allah dan penetapan
Allah.
Penafsiran Arminian mengatakan bahwa Allah menetapkan karena Ia
telah lebih dulu mengetahui bahwa hal itu akan terjadi, dan saya telah
menunjukkan kesalahan pandangan ini. Sekarang saya ingin menunjukkan bahwa
pandangan Reformed adalah sebaliknya, yaitu: Allah menetapkan, dan karena itu Ia
mengetahui.
Loraine Boettner: "Foreordination in
general cannot rest on foreknow-ledge; for only that which is certain can be
foreknown, and only that which is predetermined can be certain"
(= Secara umum, penentuan lebih dulu tidak bisa didasarkan pada pengetahuan
lebih dulu; karena hanya apa yang tertentu yang bisa diketahui lebih dulu, dan
hanya apa yang ditentukan lebih dulu yang bisa tertentu)
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 99.
William G. T. Shedd: "The Divine decree is
the necessary condition of the Divine foreknowledge. If God does not first
decide what shall come to pass, he cannot know what will come to pass. An event
must be made certain, before it can be known as a certain event. ... So long as
anything remains undecreed, it is contingent and fortuitous. It may or may not
happen. In this state of things, there cannot be knowledge of any kind"
(= Ketetapan ilahi adalah syarat yang perlu dari pengetahuan lebih dulu dari
Allah. Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak
bisa mengetahui apa yang akan terjadi. Suatu peristiwa / kejadian harus
dipastikan, sebelum peristiwa itu bisa diketahui sebagai peristiwa yang
tertentu. ... Selama sesuatu tidak ditetapkan, maka sesuatu itu bersifat
tergantung / mungkin dan kebetulan. Itu bisa terjadi atau tidak terjadi. Dalam
keadaan demikian, tidak bisa ada pengetahuan apapun tentang hal itu)
- ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 396-397.
B. B. Warfield: "... God foreknows
only because He has pre-determined, and it is therefore also that He brings it
to pass; His foreknowledge, in other words, is at bottom a knowledge of His own
will" (= ... Alah mengetahui lebih
dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia
menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada
hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 281.
John Owen: "Out of this large
and boundless territory of things possible, God by his decree freely determineth
what shall come to pass, and makes them future which before were but possible.
After this decree, as they commonly speak, followeth, or together with it, as
others more exactly, taketh place, that prescience of God which they call
‘visionis,’ ‘of vision,’ whereby he infallibly seeth all things in their
proper causes, and how and when they shall some to pass"
(= Dari daerah yang besar dan tak terbatas dari hal-hal yang mungkin terjadi
ini, Allah dengan ketetapanNya secara bebas menentukan apa yang akan terjadi,
dan membuat mereka yang tadinya ‘mungkin terjadi’ menjadi ‘akan datang’.
Setelah ketetapan ini, seperti yang pada umumnya mereka katakan, berikutnya,
atau bersama-sama dengan ketetapan itu, seperti orang lain katakan dengan lebih
tepat, terjadilah ‘pengetahuan yang lebih dulu’ dari Allah yang mereka sebut
VISIONIS, ‘dari penglihatan’, dengan mana Ia, secara tidak mungkin salah,
melihat segala sesuatu dalam penyebabnya yang tepat, dan bagaimana dan kapan
mereka akan terjadi) - ‘The
Works of John Owen’, vol 10, hal 23.
3) Allah tidak terbatas oleh waktu, atau Allah ada di atas waktu.
Satu hal lagi yang menunjukkan bahwa Rencana / ketetapan Allah itu
mencakup segala sesuatu, adalah bahwa Allah tidak terbatas oleh waktu, atau ada
di atas waktu.
Loraine Boettner: "Much of the
difficulty in regard to the doctrine of Predestination is due to the finite
character of our mind, which can grasp only a few details at a time, and which
understands only a part of the relations between these. We are creatures of
time, and often fail to take into consideration the fact that God is not limited
as we are. That which appears to us as ‘past,’ ‘present,’ and
‘future,’ is all ‘present’ to His mind. It is as eternal ‘now.’ He
is ‘the high and lofty One that inhabits eternity.’ Is. 57:15. ‘A thousand
years in thy sight are but as yesterday when it is past, And as a watch in the
night,’ Ps. 90:4. Hence the events which we see coming to pass in time are
only the events which He appointed and set before Him from eternity. Time is a
property of the finite creation and is objective to God. He is above it and sees
it, but is not conditioned by it. He is also independent of space, which is
another property of the finite creation. Just as He sees at one glance a road
leading from New York to San Francisco, while we see only a small portion of it
as we pass over it, so He sees all events in history, past, present, and future
at one glance. When we realize that the complete process of history is before
Him as an eternal ‘now,’ and that He is the Creator of all finite existence,
the doctrine of Predestination at least becomes an easier doctrine"
(= Banyak kesukaran berkenaan dengan doktrin Predestinasi disebabkan oleh sifat
terbatas dari pikiran kita, yang hanya bisa menjangkau beberapa detail pada satu
saat, dan yang mengerti hanya sebagian dari hubungan antara detail-detail itu.
Kita adalah makhluk waktu, dan seringkali melupakan fakta bahwa Allah tidak
terbatas seperti kita. Apa yang kelihatan bagi kita sebagai ‘lampau’,
‘sekarang’, dan ‘akan datang’, semuanya adalah ‘sekarang’ bagi
pikiranNya. Itu adalah ‘sekarang’ yang kekal. Ia adalah ‘Yang tinggi dan
mulia yang mendiami kekekalan’ Yes 57:15. ‘Seribu hari dalam pandanganMu
adalah seperti kemarin, pada waktu itu berlalu, dan seperti suatu giliran jaga
pada malam hari’ Maz 90:4. Karena itu peristiwa-peristiwa yang kita lihat
terjadi dalam waktu hanyalah merupakan peristiwa-peristiwa yang telah Ia
tetapkan dan tentukan di hadapanNya dari kekekalan. Waktu adalah milik / sifat
dari ciptaan yang terbatas dan terpisah dari Allah. Ia ada diatasnya dan
melihatnya, tetapi tidak dikuasai / diatur olehnya. Ia juga tidak tergantung
pada tempat, yang merupakan milik / sifat yang lain dari ciptaan yang terbatas.
Sama seperti ia melihat dalam sekali pandang jalanan dari New York ke San
Francisco, sementara kita melihat hanya sebagian kecil darinya pada waktu kita
melewatinya, demikian pula Ia melihat semua peristiwa-peristiwa dalam sejarah,
lampau, sekarang, dan yang akan datang dalam satu kali pandang. Pada waktu kita
menyadari bahwa proses lengkap dari sejarah ada di depanNya sebagai
‘sekarang’ yang kekal, dan bahwa Ia adalah Pencipta dari semua keberadaan
yang terbatas, doktrin Predestinasi sedikitnya menjadi doktrin yang lebih mudah)
- ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44-45.
Catatan:
Yes 57:15 dan Maz 90:4 di atas dikutip dan diterjemahkan dari KJV.
William G. T.
Shedd: "For
the Divine mind, there is, in reality, no future event, because all events are
simultaneous, owing to that peculiarity in the cognition of an eternal being
whereby there is no succession in it. All events thus being present to him are
of course all of them certain events"
(= Untuk pikiran ilahi, dalam kenyataannya tidak ada kejadian / peristiwa yang
akan datang, karena semua peristiwa / kejadian adalah serempak, berdasarkan
kekhasan dalam pemikiran / pengertian dari makhluk kekal untuk mana tidak ada
urut-urutan di dalamnya. Semua peristiwa ‘bersifat present /
sekarang’ bagiNya dan karenanya tentu saja semuanya merupakan peristiwa yang
pasti) - ‘Shedd’s
Dogmatic Theology’, vol I, hal 402.
B) ‘Providence’ juga berhubungan dengan segala sesuatu.
‘Providence’ adalah pelaksanaan Rencana Allah, dan karena Rencana Allah
berhubungan dengan segala sesuatu, maka ‘Providence’ juga berhubungan
dengan segala sesuatu.
Hal-hal alamiah yang kelihatannya terjadi dengan sendirinya (secara
otomatis, diatur oleh hukum alam), ternyata juga diatur / diperintah / dikontrol
oleh Allah setiap saat.
Contoh:
·
matahari / putaran bumi (Yos
10:13 - matahari / putaran bumi dihentikan oleh Tuhan; Yes 38:8 - matahari
bahkan digerakkan ke arah sebaliknya / bumi diputar ke arah sebaliknya oleh
Tuhan. Tetapi untuk Yes 38:8 ini ada yang menafsirkan bahwa hanya bayangannya
saja yang mundur).
·
kelihatannya tumbuh-tumbuhan
hidup karena sinar matahari, tetapi Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan pada hari
ke 3 dan matahari pada hari ke 4, dan ini menunjukkan bahwa tumbuh-tumbuhan itu
mendapatkan kehidupan dari Allah, bukan dari matahari. Memang setelah matahari
ada, Tuhan lalu berkenan menggunakan matahari untuk memberikan hal yang vital
bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan, tetapi semuanya tetap di bawah kontrol dari
Tuhan.
·
orang mendapat anak. Ini
bukan merupakan hal yang alamiah, tetapi ini adalah pekerjaan Tuhan.
Maz 127:3 - "Sesungguhnya,
anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah
suatu upah".
Hana (Ibu Samuel) tidak bisa mempunyai anak, karena ‘TUHAN
telah menutup kandungannya’
(1Sam 1:5), dan waktu akhirnya bisa mempunyai anak, itu karena ‘TUHAN
ingat kepadanya’ (1Sam
1:19-20).
·
semua makhluk / binatang
dapat makan dari Tuhan.
Maz 104:27-28 - "Semuanya
menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. Apabila Engkau
memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka
kenyang oleh kebaikan".
Maz 136:25a - "Dia yang
memberikan roti kepada segala makhluk".
·
kesehatan bukan dari makanan
tetapi dari Allah.
Daniel 1:8-15 menunjukkan bahwa sekalipun Daniel, Sadrakh, Mesakh
dan Abednego makanannya kurang bergizi dibanding orang-orang yang lain tetapi
Allah membuat mereka lebih sehat. Memang pada umumnya orang yang makanannya
lebih bergizi akan lebih sehat dari pada orang yang kekurangan gizi, tetapi
semua itu tetap ada di bawah pengaturan Allah, dan Allah bisa keluar dari hukum
itu kapanpun Dia mau.
Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa ‘Providence’
berhubungan dengan segala sesuatu:
·
Kel 12:36 - "Dan
TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi
permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu".
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan yang membuat orang Mesir bermurah
hati kepada orang Israel.
·
2Sam 17:14 - "Lalu
berkatalah Absalom dan setiap orang Israel: ‘Nasihat Husai, orang Arki itu,
lebih baik dari pada nasihat Ahitofel.’ Sebab TUHAN telah memutuskan, bahwa
nasihat Ahitofel yang baik itu digagalkan, dengan maksud supaya TUHAN
mendatangkan celaka kepada Absalom".
Tuhan yang bekerja sehingga nasehat Ahitofel ditolak dan ini
menyebabkan kekalahan Absalom.
·
Ezra 1:1 - "Pada
tahun pertama zaman Koresy, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresy,
raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga
disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman
ini:".
Tuhan menggerakkan hati raja Koresy sehingga ia memerintahkan orang
Yahudi pulang kembali ke Kanaan (untuk ini baca Ezra 1 itu sampai dengan ayat
4).
·
Maz 75:7-8 - "Sebab
bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya
peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan
ditinggikanNya yang lain".
Ayat ini menunjukkan bahwa peninggian maupun perendahan seseorang
merupakan pekerjaan Allah.
·
Maz 135:6-7 - "TUHAN
melakukan apa yang dikehendakiNya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap
samudera raya; Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti
hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaanNya".
Ayat ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi di bumi, di laut /
samudera raya, baik kabut, kilat, angin, hujan, dsb merupakan pekerjaan Allah.
·
Amsal 16:1,9 - "Manusia
dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada
TUHAN. ... Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang
menentukan arah langkahnya".
Ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun manusia bisa memikirkan mana
jalan yang terbaik, tetapi baik kata-kata maupun arah langkahnya ditentukan oleh
Tuhan (bdk. Amsal 20:24a - "Langkah
orang ditentukan oleh TUHAN").
·
Amsal 16:33 - "Undi
dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN".
Jatuhnya undian kelihatannya terjadi secara kebetulan, tetapi ayat
ini mengatakan bahwa itu juga datang dari Tuhan / diatur oleh Tuhan.
·
Amsal 19:21 - "Banyaklah
rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana".
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia bisa merencanakan, tetapi
keputusan Tuhanlah yang terlaksana.
·
Amsal 21:1 - "Hati
raja seperti batang air dalam tangan TUHAN, dialirkannya ke mana Ia
ingini".
Hati raja diarahkan oleh Tuhan sesuai kehendakNya. Sebetulnya tentu
saja bukan hati raja saja yang diarahkan oleh Tuhan, tetapi juga hati / pikiran
semua manusia. Karena itu, kalau tadi dalam Amsal 16:1,9 dan Amsal 19:21
dikatakan bahwa manusia bisa memikirkan / menimbang jalannya, maka semua itu
tetap ada dalam penentuan dan kontrol dari Allah!
·
Amsal 21:31 - "Kuda
diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan
TUHAN".
Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan dalam perang bukan tergantung
persiapan / kekuatan pasukan, tetapi tergantung Tuhan.
·
Amsal 22:2 (NIV) - ‘Rich
and poor have this in common: The LORD is the Maker of them all’ (= orang kaya
dan miskin mempunyai persamaan dalam hal ini: Tuhan adalah pembuat mereka
semua).
Ini sesuai dengan Maz 75:7-8 di atas, dan menunjukkan bahwa orang
bisa jadi kaya / miskin karena pekerjaan Tuhan.
·
Pengkhotbah 7:14 - "Pada
hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang
inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat
menemukan sesuatu mengenai masa depannya".
Ayat ini menunjukkan bahwa hari mujur maupun hari malang juga
dijadikan oleh Allah.
·
Yes 45:6b-7 - "Akulah
TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap,
yang menjadikan nasib mujur dan men-ciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang
membuat semuanya ini".
Ayat ini menunjukkan bahwa baik nasib mujur maupun nasib malang
diciptakan Tuhan.
·
Rat 3:37-38 - "Siapa
berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? Bukankah
dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?".
Ayat ini menunjukkan bahwa dari mulut Tuhan keluar apa yang buruk
dan yang baik. Dengan kata lain, apa yang buruk ataupun yang baik bisa terjadi
hanya karena Tuhan memerintahkan / mengatur supaya hal itu terjadi.
·
Amos 3:6 - "Adakah
sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi
malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?".
Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhanlah yang mengerjakan semua
malapetaka.
·
Yak 4:13-16 - keberhasilan
dalam usaha kita tergantung pada kehendak Tuhan.
C) Semua
ini berhubungan dengan kedaulatan yang mutlak dari Allah.
Bahwa Rencana Allah dan Providence of God berhubungan dengan
segala sesuatu menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat secara
mutlak!
Kata ‘berdaulat’ dalam bahasa Inggris adalah ‘sovereign’,
yang berasal dari bahasa Latin superanus (super = above, over). Dan dalam
Kamus Webster diberikan definisi sebagai berikut tentang kata ‘sovereign’:
a)
above or superior to all others; chief;
greatest; supreme (= Di atas atau lebih
tinggi dari semua yang lain; pemimpin / kepala; terbesar; tertinggi).
b)
supreme in power, rank, or authority
(= tertinggi dalam kuasa, tingkat, atau otoritas).
c)
of or holding the position of a ruler;
royal; reigning (= mempunyai atau memegang
posisi sebagai pemerintah; raja; bertahta).
d)
independent of all others
(= tidak tergantung pada semua yang lain).
Karena itu kalau kita percaya bahwa Allah itu berdaulat, maka kita
juga harus percaya bahwa Ia menetapkan segala sesuatu, dan bahwa Ia melaksanakan
ketetapanNya itu tanpa tergantung pada siapapun dan apapun di luar diriNya! Jelas
adalah omong kosong kalau seseorang berbicara tentang kedaulatan Allah /
mengakui kedaulatan Allah, tetapi tidak mempercayai bahwa Rencana Allah dan Providence
of God itu mencakup segala sesuatu dalam arti kata yang mutlak!
Louis Berkhof: "Reformed Theology
stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined
from all eternity whatsoever will come to pass, and works His sovereign will in
His entire creation, both natural and spiritual, according to His predetermined
plan. It is in full agreement with Paul when he says that God ‘worketh all
things after the counsel of His will’ (Eph 1:11)"
[= Theologia Reformed menekankan kedaulatan Allah atas dasar mana Ia secara
berdaulat telah menentukan dari sejak kekekalan apapun yang akan terjadi, dan
mengerjakan kehendakNya yang berdaulat dalam seluruh ciptaan-Nya, baik yang
bersifat jasmani maupun rohani, menurut rencanaNya yang sudah ditentukan
sebelumnya. Ini sesuai dengan Paulus pada waktu ia berkata bahwa Allah
‘mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya’ (Ef 1:11)]
- ‘Systematic Theology’, hal 100.
Charles Hodge: "And as God is
absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from
within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to
be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out
of Himself" (= Dan karena Allah itu
berdaulat dan tak tergantung secara mutlak, semua rencanaNya harus ditentukan
dari dalam atau menurut keputusan kehendakNya sendiri. Mereka tidak bisa
diang-gap sebagai kebetulan atau tergantung pada tindakan-tindakan dari
makhluk-makhluk ciptaanNya, atau pada apapun di luar diriNya sendiri) -
‘Systematic Theology’, vol II, hal 320.
William G. T. Shedd: "Whatever undecreed
must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose
and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as
in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God
over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an
independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all
its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words
to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of
Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the
wicked for the day of evil’" (=
Apapun yang tidak ditetapkan pasti ada karena kebetulan. Jika dosa tidak terjadi
karena rencana dan ijin ilahi, maka itu terjadi karena kebetulan. Dan jika dosa
terjadi karena kebetulan, keilahian, seperti dalam teologi kafir kuno, dibatasi
dan dirintangi olehnya. Ia bukanlah ‘Allah atas segala sesuatu’. Dualisme
dimasukkan ke dalam teori alam semesta. Kejahatan merupakan suatu elemen hakiki
yang tak tergantung dan tak terkontrol. Allah memerintah hanya sebagian. Dosa
dengan semua akibatnya ada di luar kekuasaanNya. Dualisme seperti ini dikecam
Allah sebagai salah, dalam kata-kata Yesaya kepada Koresy, ‘Aku membuat damai
dan menciptakan malapetaka / kejahatan’; dan dalam kata-kata dari Amsal 16:4,
‘Tuhan telah membuat segala sesuatu untuk diriNya sendiri; ya, bahkan orang
jahat untuk hari malapetaka’) - ‘Calvinism:
Pure & Mixed’, hal
36.
Catatan:
kata-kata Yesaya kepada Koresy itu diambil dari Yes 45:7 versi KJV. Demikian
juga Amsal 16:4 diambil dan diterjemahkan dari KJV.
R. C. Sproul: "That God in some
sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his
sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his permission.
If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow
something, then is a sense he is foreordaining it. ... To say that God
foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over
his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign
permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God
refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever
caused it to happen would have more authority and power than God himself. If
there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply
not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. ... Without
sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must
embrace atheism" (= Bahwa Allah dalam
arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus
ada dari kedaulatanNya. ... segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi
karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk
mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti
tertentu Ia menentukannya. ... Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu
yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas
segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang
berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah
menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang
menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari
Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah,
maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu
bukanlah Allah. ... Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah.
Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme)
- ‘Chosen By God’, hal 26-27.
Bagian terakhir kata-kata R. C. Sproul ini memang patut
diperhatikan / dicamkan. Allah haruslah berdaulat, dan Allah yang tidak
berdaulat, bukanlah Allah.
John Murray: "to say that God is
sovereign is but to affirm that God is one and that God is God"
(= mengatakan bahwa Allah itu berdaulat adalah sama dengan menegaskan bahwa
Allah itu satu / esa dan bahwa Allah adalah Allah)
- ‘Collected Writings of John Murray’, vol IV, hal 191.
Karena itulah
maka menolak penetapan dan pengaturan ilahi atas segala sesuatu, adalah sama
dengan menjadi atheis!
D) Rencana
Allah dan pelaksanaannya (Providence of God) tidak terlepas dari
sifat-sifat Allah, seperti kasih, bijaksana, dan suci.
Loraine Boettner: "Although
the sovereignty of God is universal and absolute, it is not the sovereignty of
blind power. It is coupled with infinite wisdom, holiness and love. And this
doctrine, when properly understood, is a most comforting and reassuring one. Who
would not prefer to have his affairs in the hands of a God of infinite power,
wisdom, holiness and love, rather than to have them left to fate, or chance, or
irrevocable natural law, or to short-sighted and perverted self? Those who
reject God’s sovereignty should consider what alternatives they have
left" (= Sekalipun kedaulatan Allah
itu bersifat universal dan mutlak, tetapi itu bukanlah kedaulatan dari kuasa
yang buta. Itu digabungkan dengan kebijaksanaan, kekudusan dan kasih yang tidak
terbatas. Dan doktrin ini, jika dimengerti dengan tepat, adalah doktrin yang
paling menghibur dan menenteramkan. Siapa yang tidak lebih menghendaki
perkaranya ada dalam tangan Allah yang mempunyai kuasa, kebijaksanaan, kekudusan
dan kasih yang tidak terbatas, dari pada menyerahkannya pada nasib / takdir,
atau kebetulan, atau hukum alam yang tidak bisa dibatalkan, atau pada diri
sendiri yang cupet dan sesat? Mereka yang menolak kedaulatan Allah harus
mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang ada) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 32.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali