(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 23 Maret 2008, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(8: 7064-1331 / 6050-1331)
Kis 2:22-40 - “(22) Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. (23) Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. (24) Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. (25) Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. (26) Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, (27) sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan. (28) Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapanMu. (29) Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. (30) Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. (31) Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan. (32) Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. (33) Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkanNya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. (34) Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: (35) Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu. (36) Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.’ (37) Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’ (38) Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. (39) Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ (40) Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: ‘Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.’”.
Ay 22: “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu”.
KJV: ‘a man approved of God among you’ (= seorang yang diakui oleh Allah di antaramu).
NIV: ‘a man accredited by God to you’ (= seorang yang diakui oleh Allah bagimu).
RSV/NASB: ‘a man attested to you by God’ (= seorang yang disokong oleh Allah bagimu).
Dalam ay 23 Petrus menjelaskan mengapa seseorang yang ‘approved by God’ (= diakui oleh Allah) kok bisa dibiarkan mati disalib.
Ay 23: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.
Jadi, Allah membiarkan Yesus mati disalibkan karena itu memang sesuai dengan rencanaNya.
Dengan ay 23b, khususnya pada bagian ‘kamu salibkan dan kamu bunuh’, Petrus menyatakan bahwa sekalipun pembunuhan / penyaliban terhadap Yesus itu sesuai dengan rencana Allah, tetapi para pembunuhNya tetap berdosa. Dan sekalipun mereka melakukan pembunuhan dan penyaliban itu melalui tangan orang-orang Romawi, orang-orang Yahudi itu tetap berdosa. Adalah mungkin bahwa orang-orang yang tadinya berteriak-teriak ‘Salibkan Dia!’ ada di sana mendengarkan khotbah Petrus.
Albert Barnes mengatakan bahwa ini merupakan contoh yang menyolok dari kesetiaan / ketaatan dalam berkhotbah, karena Petrus berani menunjukkan kesalahan dari para pendengarnya. Ia menyamakan ini dengan nabi Natan yang berani berkata kepada Daud, ‘Engkaulah orang itu!’ (2Sam 12:7).
Albert arnes melanjutkan dengan mengatakan bahwa tidak ada khotbah yang bisa sukses, kalau pengkhotbahnya tidak dengan berani menunjukkan kesalahan dari para pendengarnya, dan juga dengan tanpa takut-takut menyatakan kehancuran dan bahaya yang ada di depan mereka.
1) Kebangkitan Yesus merupakan sesuatu yang mutlak harus terjadi.
Ay 24 Petrus mulai bicara tentang kebangkitan Yesus.
Ay 24: “Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu”.
Dari kata-kata ‘sengsara maut’ ini Barnes berkata bahwa kita tidak boleh menyimpulkan bahwa Yesus masih mengalami penderitaan apapun setelah kematianNya. Ayat ini hanya menunjukkan bahwa Ia tidak bisa ditahan oleh kubur / kematian.
Adam Clarke: “it was impossible for the Prince of Life to be left in the empire of death: his resurrection, therefore, was a necessary consequence of his own divine power” (= adalah tidak mungkin bagi Pangeran / Raja dari Kehidupan untuk ditinggalkan dalam kekaisaran dari kematian: karena itu, kebangkitanNya merupakan suatu konsekwensi yang harus ada dari kuasa ilahiNya sendiri).
Bdk. Ro 1:3-4 - “(3) tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, (4) dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”.
Barnes’ Notes: “Jesus was the ‘Prince of life’ (Acts 3:15); he had life in himself (John 1:4; 5:26); he had power to lay down his life and to take it again (John. 10:18); and it was indispensable that he should rise. He came, also, that through death he might destroy him that had the power of death that is, the devil (Heb. 2:14); and as it was his purpose to gain this victory, he could not be defeated in it by being confined to the grave” [= Yesus adalah ‘Pangeran Kehidupan’ (Kis 3:15); Ia mempunyai hidup dalam diriNya sendiri (Yoh 1:4; 5:26); Ia mempunyai kuasa untuk menyerahkan nyawaNya dan mengambilnya kembali (Yoh 10:18); dan sangat diperlukan bahwa Ia bangkit. Juga, Ia datang supaya melalui kematian Ia bisa menghancurkan dia yang mempunyai kuasa atas kematian yaitu Iblis (Ibr 2:14); dan karena merupakan tujuan / rencanaNya untuk mendapatkan kemenangan; Ia tidak bisa dikalahkan di dalam kematian itu dengan dibatasi dalam kubur].
Kis 3:15 - “Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi”.
KJV/NASB: ‘the Prince of life’ (= Pangeran kehidupan).
NIV/RSV: ‘the Author of life’ (= Pencipta kehidupan).
2) Kebangkitan Yesus dinubuatkan dalam Perjanjian Lama dan sesuai dengan Perjanjian Lama.
Dan dalam ay 25-28 (khususnya ay 27) Petrus menunjukkan bahwa itu sesuai dengan Perjanjian Lama.
Ay 25-28: “(25) Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. (26) Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, (27) sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan. (28) Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapanMu”.
Kis 2:27 - “sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan”.
Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.
NIV: ‘because you will not abandon me to the grave, nor will you let your Holy One see decay’ (= sebab Engkau tidak meninggalkan / membiarkan aku di kuburan, atau membiarkan Orang KudusMu mengalami pembusukan).
Kis 2:31 - “Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan”.
Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.
NIV: ‘Seeing what was ahead, he spoke of the resurrection of the Christ, that he was not abandoned to the grave, nor did his body see decay’ (= Melihat apa yang ada di depan, ia berbicara tentang kebangkitan Mesias, bahwa Ia tidak ditinggalkan dalam kuburan, dan tubuhNya tidak mengalami pembusukan).
Kedua ayat di atas ini (Kis 2:17,31) dikutip dari Maz 16:10.
Maz 16:10 - “sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan”.
Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.
NIV: ‘because you will not abandon me to the grave, nor will you let your Holy One see decay’ (= karena Engkau tidak akan meninggalkan aku pada / di kuburan, ataupun akan membiarkan Orang KudusMu melihat pembusukan).
NASB: ‘For Thou wilt not abandon my soul to Sheol; Neither wilt Thou allow Thy Holy One to undergo decay’ (= Karena Engkau tidak akan meninggalkan jiwaku pada / di Sheol; juga Engkau tidak akan mengijinkan Orang KudusMu untuk mengalami pembusukan).
Dalam ketiga ayat di atas ini kata yang diterjemahkan ‘dunia orang mati’ adalah SHEOL / HADES, dan dalam ketiganya saya berpendapat bahwa arti yang benar dari kata itu adalah ‘kuburan’ seperti dalam terjemahan NIV, bukan ‘hell’ (= neraka) seperti dalam terjemahan KJV.
Dalam Maz 16:10, kata Ibrani yang diterjemahkan ‘decay’ (= ‘pembusukan’) adalah SHAKHAT. Kata ini juga bisa berarti ‘kubur’. Tetapi perhatikan komentar Calvin di bawah ini.
Calvin: “shachat doth signify the grave, as sheol, ... the grave is called shachat because it doth corrupt man’s body with rottenness, ... Therefore, the place is not so much expressed by this word, as the condition of rotting” (= SHACHAT memang berarti ‘kubur’, seperti SHEOL, ... kubur disebut SHACHAT karena kubur itu merusak tubuh manusia dengan pembusukan, ... Karena itu, kata itu tidak terlalu menyatakan tempatnya tetapi lebih menyatakan kondisi pembusukannya).
Berkenaan dengan tubuh Kristus yang tidak mengalami pembusukan, perhatikan kata-kata Matthew Henry di bawah ini.
Matthew Henry: “Christ was God’s Holy One, sanctified and set apart to his service in the work of redemption; he must die, for he must be consecrated by his own blood; but he must not see corruption, for his death was to be unto God of a sweet smelling savour. This was typified by the law concerning the sacrifice, that no part of the flesh of the sacrifice which was to be eaten should be kept till the third day, for fear it should see corruption and begin to putrefy, Lev. 7:15-18” (= Kristus adalah Yang Kudus dari Allah, dikuduskan dan dipisahkan untuk pelayananNya dalam pekerjaan penebusan; Ia harus mati, karena Ia harus ditahbiskan oleh darahNya sendiri; tetapi Ia tidak boleh mengalami pembusukan, karena kematianNya bagi Allah harus merupakan bau-bauan yang harum. Ini digambarkan sebagai type oleh hukum Taurat berkenaan dengan korban, bahwa tidak ada bagian dari daging korban yang harus dimakan boleh ditinggalkan sampai hari yang ketiga, karena takut bahwa daging itu akan mengalami kerusakan dan mulai membusuk, Im 7:15-18).
Im 7:15-18 - “(15) Dan daging korban syukur yang menjadi korban keselamatannya itu haruslah dimakan pada hari dipersembahkannya itu. Sedikitpun dari padanya janganlah ditinggalkan sampai pagi. (16) Jikalau korban sembelihan yang dipersembahkan itu merupakan korban nazar atau korban sukarela, haruslah itu dimakan pada hari mempersembahkannya dan yang selebihnya boleh juga dimakan pada keesokan harinya. (17) Tetapi apa yang masih tinggal dari daging korban sembelihan itu sampai hari yang ketiga, haruslah dibakar habis dengan api. (18) Karena jikalau pada hari yang ketiga masih dimakan dari daging korban keselamatan itu, maka TUHAN tidak berkenan akan orang yang mempersembahkannya dan korban itu dianggap batal baginya, bahkan menjadi sesuatu yang jijik, dan orang yang memakannya harus menanggung kesalahannya sendiri”.
Ay 29-31 ditambahkan oleh Petrus untuk menunjukkan bahwa Maz 16:10 itu jelas tidak berlaku untuk Daud sendiri, tetapi untuk Yesus.
Ay 29-31: “(29) Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. (30) Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. (31) Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan”.
3) Rasul-rasul adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus.
Ay 32: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi”.
Petrus menyatakan bahwa mereka (rasul-rasul dsb) adalah saksi-saksi kebangkitan Kristus.
4) Yesus naik ke surga dan duduk di sebalah kanan Allah.
Dalam ay 33-35 Petrus menyatakan bahwa setelah Yesus dibangkitkan oleh Allah, Ia lalu naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah. Ia lalu lagi-lagi mengutip kata-kata Daud, yang jelas tak berlaku untuk Daud sendiri, tetapi berlaku untuk Kristus.
Ay 33-35: “(33) Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkanNya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. (34) Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: (35) Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuh-musuhMu menjadi tumpuan kakiMu”.
Ay 33: ‘oleh tangan kanan Allah’.
KJV: ‘by the right hand of God’ (= oleh tangan kanan Allah).
Barnes’ Notes: “The right hand among the Hebrews was often used to denote ‘power’; and the expression here means, not that he was exalted to the right hand of God, but by his power. He was raised from the dead by his power, and borne to heaven, triumphant over all his enemies” (= Tangan kanan di antara orang-orang Ibrani sering digunakan untuk menunjuk pada ‘kuasa’; dan ungkapan itu di sini berarti, bukan bahwa Ia ditinggikan ke sebelah kanan Allah, tetapi oleh kuasaNya. Ia dibangkitkan dari orang mati oleh kuasaNya, dan diangkat ke surga, menang atas semua musuh-musuhNya).
Juga Matthew Henry, Clarke, Jamieson, Fausset & Brown mempunyai pandangan seperti Barnes.
Tetapi terjemahan dari yang lain berbeda. Bukan diartikan bahwa Kristus ditinggikan oleh tangan kanan Allah, tetapi bahwa Kristus ditinggikan di sebelah kanan Allah.
NIV: ‘Exalted to the right hand of God’ (= Ditinggikan ke sebelah kanan Allah).
NASB: ‘Therefore having been exalted to the right hand of God’ (= Karena itu setelah ditinggikan ke sebelah kanan Allah).
RSV: ‘Being therefore exalted at the right hand of God’ (= karena itu setelah ditinggikan ke sebelah kanan Allah).
A. T. Robertson: “‘By the right hand of God.’ (tee dexia tou Theou). This translation makes it the instrumental case. The margin has it ‘at’ instead of ‘by,’ that is the locative case. And it will make sense in the true dative case, ‘to the right hand of God.’ These three cases came to have the same form in Greek” [= ‘Oleh tangan kanan Allah’. (tee dexia tou Theou). Terjemahan ini membuatnya menjadi kasus instrumental. Catatan tepi menuliskan ‘pada’ dan bukannya ‘oleh’, yang merupakan kasus locative. Dan itu akan memberikan arti yang masuk akal dalam kasus dative yang benar, ‘ke sebelah kanan Allah’. Ketiga kasus ini mempunyai bentuk yang sama dalam bahasa Yunani].
1) Mereka tertusuk dalam hati mereka.
Kis 2:37 - “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’”.
KJV: ‘they were pricked in their heart’ (= mereka tertusuk dalam hati mereka).
RSV: ‘they were cut to the heart’ (= mereka teriris sampai hati mereka).
Ini berbeda dengan kasus ‘tertusuk’ dalam Kis 5:33 dan Kis 7:54.
Kis 5:33 - “Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka dan mereka bermaksud membunuh rasul-rasul itu”.
A. T. Robertson (tentang Kis 5:33): “Here it is rage that cuts into their hearts, not conviction of sin as in Acts 2:37. Only here and Acts 7:54 (after Stephen’s speech) in the New Testament” [= Di sini kemarahanlah yang mengiris ke dalam hati mereka, bukan kesadaran / keyakinan akan dosa seperti dalam Kis 2:37. Kata ini hanya ada di sini dan dalam Kis 7:54 (setelah khotbah Stefanus) dalam Perjanjian Baru].
Kis 7:54 - “Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi”.
Vincent (tentang Kis 5:33): “‘They were cut to the heart.’ (dieprionto). Only here and Acts 7:54. The verb means, originally, ‘to saw asunder.’ A strong figure for exasperation” [= ‘Mereka teriris sampai hati mereka’ (DIEPRIONTO). Hanya di sini dan dalam Kis 7:54. kata kerjanya sesungguhnya berarti ‘menggergaji sampai putus’. Suatu bentuk yang kuat untuk kemarahan yang sangat hebat].
Vincent (tentang Kis 7:54): “‘They were cut.’ See the note at Acts 5:33. In both instances, of anger. A different word is used to express remorse, Acts 2:37” (= ‘Mereka teriris’. Lihat catatan pada Kis 5:33. Dalam kedua kasus, tentang kemarahan. Suatu kata yang berbeda digunakan untuk menyatakan penyesalan yang dalam, Kis 2:37).
Calvin: “‘They were pricked in heart.’ Luke doth now declare the fruit of the sermon, to the end we may know that the power of the Holy Ghost was not only showed forth in the diversity of tongues, but also in their hearts which heard. And he noteth a double fruit; first, that they were touched with the feeling of sorrow; and, secondly, that they were obedient to Peter’s counsel. This is the beginning of repentance, this is the entrance unto godliness, to be sorry for our sins, and to be wounded with the feeling of our miseries. For so long as men are careless, they cannot take such heed unto doctrine as they ought. ... But there must be added unto this pricking in heart readiness to obey. ... We see many oftentimes pricked, who, notwithstanding, do fret and murmur, or else forwardly strive and struggle, and so, consequently, go furiously mad. Yea, this is the cause why they go mad, because they feel such prickings against their will. Those men, therefore, are profitably pricked alone who are willingly sorrowful, and do also seek some remedy at God’s hands” (= ‘Mereka tertusuk dalam hati’. Sekarang Lukas menyatakan buah dari khotbah itu, dengan tujuan supaya kita mengetahui bahwa kuasa Roh Kudus tidak hanya ditunjukkan dalam bahasa yang berbeda-beda / bahasa roh, tetapi juga dalam hati mereka yang mendengarkan. Dan ia mencatat buah ganda; pertama, bahwa mereka disentuh dengan perasaan sedih; dan kedua, bahwa mereka taat pada nasehat Petrus. Ini merupakan permulaan pertobatan, ini merupakan jalan masuk kepada kesalehan, menyesali dosa-dosa kita, dan terluka dengan perasaan tentang kesengsaraan kita. Karena selama manusia tak peduli, mereka tidak bisa memperhatikan ajaran seperti seharusnya. .. Tetapi pada tertusuknya hati ini harus ditambahkan kesediaan untuk taat. ... Kita sering melihat banyak orang tertusuk, tetapi yang sekalipun demikian mengomel dan menggerutu, atau berjuang dan bergumul dengan lancang, dan dengan demikian, sebagai akibatnya menjadi sangat marah. Ya, inilah penyebabnya mengapa mereka menjadi marah, karena mereka merasa bahwa tusukan itu menentang kemauan mereka. Karena itu, orang-orang yang mendapatkan manfaat dari tusukan itu hanyalah mereka yang dengan sukarela menjadi sedih, dan juga mencari obat pada tangan Allah).
Penerapan:
Kalau seseorang mendengar Injil / Firman Tuhan, yang menunjukkan dosa-dosa saudara, ada beberapa kemungkinan reaksi:
· ia tidak merasa apa-apa dalam hati saudara, karena ia bersikap cuek terhadap Injil / Firman Tuhan itu. Ini tentu tak mungkin menjadi suatu pertobatan.
· ia tertusuk dalam hatinya, dalam arti ia menjadi marah karena penyedaran dosa-dosanya itu. Ini lagi-lagi tentu tak memungkinkan terjadinya suatu pertobatan.
· ia tertusuk dalam hatinya, dalam arti ia menjadi sedih atas dosa-dosanya, dan ia ingin tahu apa yang Allah kehendaki untuk dia lakukan. Ini sangat memungkinkan suatu pertobatan.
2) Mereka harus bertobat dan menyerahkan diri untuk dibaptis.
Ay 38: “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”.
a) Pertobatan.
Pertobatan berarti ‘perubahan pada pikiran’ (conversion of the mind). Orang yang hanya berubah secara lahiriah (misalnya dulu tidak ke gereja, sekarang ke gereja), tetapi hati / pikirannya tidak berubah, tidak bisa dikatakan bertobat.
Pertobatan bisa diartikan 2 hal:
1. Datang kepada Kristus, dan percaya / menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pertobatan yang ini hanya bisa terjadi satu kali saja dalam hidup seseorang.
2. Pertobatan dari dosa-dosa setelah kita percaya. Ini harus terjadi terus menerus / berulang-ulang dalam sepanjang hidup orang kristen.
Pertobatan yang dimaksud oleh Petrus adalah pertobatan dalam arti pertama, yaitu datang / percaya kepada Kristus. Ini bisa terlihat dari kata bahasa Yunani yang digunakan oleh Petrus. Ia menggunakan kata Yunani METANOESATE yang ada dalam bentuk aorist imperative (= kata perintah bentuk aorist / lampau).
Dalam bahasa Yunani ada 2 jenis kata perintah:
a. Aorist imperative (= kata perintah bentuk aorist / lampau).
Ini digunakan kalau orang yang memerintah itu menghendaki supaya perintahnya dilakukan hanya 1 x saja.
b. Present imperative (= kata perintah bentuk present).
Ini digunakan kalau orang yang memerintah itu menghendaki supaya perintahnya dilakukan terus-menerus.
Andaikata Petrus menggunakan present imperative (= kata perintah bentuk present), maka itu berarti bahwa perintahnya itu harus dilakukan terus menerus (bdk. Ef 5:18 yang menggunakan present imperative). Tetapi karena Petrus menggunakan aorist imperative, maka perintah ini hanya perlu dilakukan satu kali saja. Jadi jelas bahwa ini menunjuk pada pertobatan dalam arti pertama, yang memang hanya bisa dilakukan satu kali saja, bukan pada pertobatan dalam arti kedua yang harus dilakukan terus menerus / berulang-ulang.
Jadi maksud Petrus adalah: dahulu kamu membenci Yesus dan bahkan menyalibkanNya / membunuhNya (ay 23,36); sekarang kamu harus mempunyai pemikiran / sikap yang berbeda terhadap Yesus. Datanglah kepadaNya, dan percayalah kepadaNya. Inilah pertobatan yang dimaksud oleh Petrus!
Saudara mungkin tak pernah membenci Yesus seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi ini, tetapi saudara mungkin bersikap acuh tak acuh terhadap Yesus. Itu tak terlalu berbeda, dan kalau saudara mempertahankan sikap itu saudara akan masuk ke neraka. Saudara harus bertobat dari sikap itu, lalu datang dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!
b) Baptisan.
Ini tidak boleh dianggap sebagai penyebab keselamatan, tetapi sebagai hasil / bukti dari iman / keselamatan.
Kristen mempercayai keselamatan karena iman saja (Ef 2:8-9). Jadi, semua ketaatan, termasuk penyerahan diri untuk dibaptis, tidak boleh diartikan sebagai penyebab keselamatan, tetapi hasil / bukti dari iman / keselamatan.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali