Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tanggal 4 Juli 2023, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Kharismatik 7a

 

AKIBAT KEHARUSAN BERBAHASA ROH(1)

 

Banyak orang kristen yang beranggapan bahwa doktrin Kharismatik yang mengharuskan orang kristen berbahasa Roh bukanlah ajaran yang terlalu berbahaya. Tetapi perlu diingat bahwa doktrin ini menimbulkan akibat-akibat negatif seperti:

 

I)       Banyak orang kristen yang meragukan imannya.

 

Karena dikatakan bahwa orang kristen harus bisa berbahasa Roh, maka orang kristen yang tidak bisa berbahasa Roh, dan yang tidak punya pengertian Firman Tuhan yang terlalu baik, lalu menjadi ragu-ragu terhadap iman mereka sendiri. Mereka lalu bertanya-tanya: ‘Benarkah saya sudah percaya kepada Yesus? Apakah saya sudah mempunyai Roh Kudus? Kalau ya, mengapa saya tidak bisa berbahasa Roh? Apa yang salah dengan iman / kekristenan saya?’.

 

Kalau saudara adalah orang kristen yang meragukan iman / kekristenan saudara, maka pikirkan / renungkan 2 hal di bawah ini:

 

1)   Kalau saudara meragukan iman / kekristenan saudara karena:

a)   Saudara ragu-ragu tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

b)   Saudara ragu-ragu tentang penebusan / penghapusan seluruh dosa saudara.

c)   Saudara tidak cinta / rindu Firman Tuhan.

d)   Saudara tidak mengalami perubahan hidup ke arah yang positif.

Maka harus saya katakan bahwa keraguan saudara tentang iman / kekristenan saudara itu memang sah! Mungkin sekali saudara memang bukan orang kristen yang sejati dan belum diselamatkan. Bertobatlah dan percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, maka saudara akan diselamatkan!

 

2)   Tetapi kalau saudara meragukan iman / kekristenan saudara, hanya karena saudara tidak bisa berbahasa Roh, maka itu bukanlah keraguan yang sah. Saudara sudah ditipu oleh setan melalui ajaran Kharismatik jaman ini!

 

II)      Banyak orang kristen ‘mencari’ bahasa Roh.

 

Mereka ‘mencari’ / berusaha mendapatkan bahasa Roh dengan bermacam-macam cara seperti berdoa / meminta kepada Tuhan, belajar berbahasa Roh, dsb. Disamping itu juga ada ‘hamba-hamba Tuhan’ yang mengajarkan cara-cara untuk bisa berbahasa Roh (kursus bahasa Roh) dan bahkan ada banyak gereja-gereja yang punya hari pertemuan khusus untuk orang-orang yang ingin mendapatkan bahasa Roh.

 

Sekarang, yang perlu kita pertanyakan adalah: bisakah / bolehkah orang kristen mencari / berusaha mendapatkan suatu karunia tertentu?

 

Orang-orang Kharismatik pasti menjawab dengan jawaban: Ya! Dasar Kitab Suci yang biasanya mereka pakai untuk jawaban ini adalah 1Kor 12:31  1Kor 14:1,12,13,39 yang seolah-olah menunjukkan bahwa kita memang bisa berusaha (bahkan ‘harus berusaha’) mendapatkan karunia-karunia tertentu yang tadinya tidak kita miliki.

 

1Kor 12:31 - Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi..

 

1Kor 14:1,12,13,39 - (1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. ... (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. ... (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh..

 

Tanggapan saya:

 

1)   Kitab Suci jelas berkata bahwa pemberian karunia-karunia dilakukan oleh Allah / Roh Kudus sesuai dengan kehendakNya (bukan sesuai kehendak kita / orang kristen!).

 

Dasar Kitab Sucinya adalah:

 

a)         1Kor 12:7-11.

 

1Kor 12:7-11 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya..

 

Perhatikan khususnya kata-kata ‘seperti yang dikehendakiNya’, dimana kata ‘Nya’ menunjuk kepada Roh Kudus’. Ini jelas menunjukkan bahwa pemberian karunia tergantung kehendak Roh Kudus, bukan kehendak kita / orang kristen.

 

b)         Ibr 2:4.

 

1.   Ibr 2:4 dalam terjemahan bahasa Indonesia hanya menyebutkan ‘Roh Kudus’, tetapi KJV/RSV/NIV/NASB semua menyebutkan ‘gifts of the Holy Ghost / Spirit’ [= karunia-karunia Roh Kudus].

 

Ibr 2:4 - Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikanNya menurut kehendakNya..

KJV: “gifts of the Holy Ghost” [= karunia-karunia Roh Kudus].

RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: “gifts of the Holy Spirit” [= karunia-karunia Roh Kudus].

 

2.   Ayat ini juga diakhiri dengan kata-kata ‘menurut kehendakNya’, dan ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pembagian karunia-karunia Roh Kudus itu terjadi sesuai dengan kehendak Roh Kudus, bukan sesuai kehendak / keinginan orang kristen.

 

Jadi, jelas bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa pemberian karunia-karunia itu dilakukan sesuai kehendak Allah [the sovereign will of God {= kehendak yang berdau­lat dari Allah}].

Jadi, kalau kita sudah mempunyai suatu karunia tertentu, maka jelas bahwa merupakan kehendak Allah bahwa kita mempunyai karunia itu, dan bukan merupakan kehendak Allah bahwa kita mempunyai karunia yang lain.

Karena itu, kalau kita diberi suatu karunia dan kita lalu berdoa untuk meminta karunia yang lain, maka itu jelas merupakan doa yang tidak akan dikabulkan oleh Tuhan karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan (1Yoh 5:14).

 

1Yoh 5:14 - Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya..

 

2)   Setiap orang kristen adalah anggota-anggota tubuh Kristus (1Kor 12:12,13,27).

 

1Kor 12:12,13,27 - “(12) Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. (13) Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. ... (27) Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya..

 

Jelas bahwa tiap anggota tubuh mempunyai kemampuan dan fungsinya sendiri-sendiri dan tidak mungkin satu anggota tubuh menginginkan kemam­puan dari anggota tubuh yang lain.

Misalnya: jari ingin melihat, atau telinga ingin berbicara. Ini pasti tidak mungkin!

 

3)   Penjelasan tentang 1Kor 12:31 (bdk. 1Kor 14:1,12,39).

 

a)   Peter Masters dan John C. Whitcomb dalam buku ‘The Charismatic Phenomenon’ berkata bahwa:

 

1.   Ayat ini tidak ditujukan kepada pribadi-pribadi dalam gereja tetapi kepada gereja secara keseluruhan / kolektif.

Tafsiran ini memang sangat beralasan, karena kata perintah yang digunakan dalam bahasa Yunaninya adalah kata perintah bentuk jamak. Cek dalam Bible Works 8.

 

Jadi, yang dimaksud oleh Paulus bukanlah supaya setiap orang kristen mencari karunia yang terutama, tetapi supaya gereja secara keseluruhan mencari karunia-karunia yang terutama. Karena dalam 1Kor 14 Paulus lalu mengatakan bahwa karunia bernubuat adalah karunia yang terutama, maka gereja secara keseluruhan harus mencari karunia ini. Jadi misalnya pada waktu gereja mencari pendeta, gereja harus mencari orang yang memang mempunyai karunia berkhotbah / mengajarkan Firman Tuhan.

 

Catatan: Ini seperti perintah untuk bersaksi sampai ke ujung bumi dalam Kis 1:8. Ini bukan perintah untuk setiap individu Kristen, seakan-akan setiap orang Kristen harus keliling dunia untuk memberitakan Injil! Ini adalah perintah yang diberikan kepada Gereja yang Kudus dan Am secara kolektif.

 

Dalam Kis 1:8 tidak ada kata perintah, tetapi dalam Mat 28:19 lagi-lagi digunakan kata perintah bentuk jamak (‘jadikanlah murid’).

 

Jadi bisa saja ada orang kristen yang terpanggil untuk memberitakan Injil kepada bangsanya sendiri / kotanya sendiri, tetapi ada juga yang terpanggil untuk menjadi missionaris untuk pergi memberitakan Injil ke pelosok-pelosok dunia.

 

2.   Kata Yunani yang diterjemahkan ‘berusahalah untuk memperoleh’  dalam 1Kor 12:31 adalah ZELOUTE (Kata ZELOUTE ini juga digunakan dalam  1Kor 14:1,39).

Sekarang perlu dipertanyakan: betulkah ZELOUTE berarti ‘berusahalah untuk mempero­leh’? Kata ZELOUTE sebetulnya berarti ‘to be zealous for something’ [= bersemangat untuk sesuatu].

‘Bersemangat untuk sesuatu’ tentu tidak sama dengan ‘berusahalah untuk memperoleh’!

Kalau kita dikatakan harus bersemangat untuk suatu karunia Roh Kudus tertentu, tentu itu tidak bisa diartikan bahwa kita disuruh berusaha untuk memperoleh karunia itu!

 

b)   John Calvin (ingat bahwa ia hidup pada abad 16, jauh sebelum ada gerakan Kharismatik) mengatakan bahwa:

1.   ZELOUTE artinya adalah ‘seek after’ [= carilah], tetapi juga bisa diterjemahkan ‘value highly’ [= hargailah / nilailah tinggi].

2.   Orang-orang Korintus menginginkan karunia-karunia untuk pameran seperti karunia bahasa Roh. Melalui ayat ini Paulus ingin membetulkan keinginan mereka. Paulus ingin mereka lebih menghargai karunia bernubuat, bukan karunia bahasa Roh.

3.   Calvin juga beranggapan bahwa ayat ini ditujukan untuk gereja, bukan untuk pribadi.

 

Kesimpulan:

1Kor 12:31 menunjukkan bahwa Paulus menginginkan supaya gereja lebih menghargai karunia-karunia yang terutama yaitu ‘karunia bernubuat’ (bdk. 1Kor 14:1,12,39). Ayat ini jelas tidak menyuruh orang kris­ten mencari / mengusahakan suatu karunia tertentu!

 

4)   Andaikatapun kata ZELOUTE diterjemahkan ‘berusahalah untuk mempero­leh’, tetap saja dari sini kita tidak akan mendapatkan doktrin bahwa orang kristen harus mencari karunia bahasa Roh. Karena apa? Dalam 1Kor 12:31 dikatakan ‘berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan bahasa Roh jelas bukan karunia yang paling utama! Mengapa?

 

a)   Karena baik dalam daftar karunia dalam 1Kor 12:8-10 maupun dalam 1Kor 12:28-30, bahasa Roh dan penafsiran bahasa Roh selalu diletakkan di tempat yang terakhir!

 

b)   Bacalah seluruh 1Kor 14 dan saudara akan melihat dengan jelas bahwa Paulus / Firman Tuhan mengajarkan bahwa karunia bernubuat jauh lebih penting / berguna dari karunia bahasa Roh. Dan 1Kor 14:1,39 menyebutkan secara explicit bahwa yang harus dicari adalah karunia bernubuat, bukan karunia bahasa Roh!

 

5)   Lalu mengapa dalam 1Kor 14:13 seseorang yang mempunyai karunia bahasa Roh diharuskan meminta karunia penafsiran bahasa Roh?

Ini suatu perkecualian. Mengapa dikecualikan? Rupa-rupanya karena karunia bahasa Roh dan karunia penafsiran bahasa Roh adalah dua karunia yang berpasangan. Karena itu seringkali disebutkan secara berurutan (1Kor 12:10,30) dan dikatakan bahwa karunia bahasa Roh tidak ada gunanya, kalau tidak disertai karunia penafsiran bahasa Roh (1Kor 14:5-9,26-28), dan jelas bahwa karunia penafsiran bahasa Roh juga tidak ada gunanya kalau tidak disertai karunia bahasa Roh. Karena itulah maka orang yang mempunyai karunia bahasa Roh disuruh meminta karunia penafsiran bahasa Roh.

Dalam perkecualian ini sajalah kita bisa meminta suatu karunia, tetapi tidak bisa dalam hal-hal yang lain.

 

III)Timbul bahasa roh yang palsu.

 

Gereja (dan persekutuan) Pentakosta dan Kharismatik jaman sekarang dipenuhi dengan ‘bahasa roh’. Dalam setiap pertemuan ibadah / persekutuan, bahkan tiap hari secara pribadi, berjuta-juta orang Kharismatik di seluruh dunia ‘berbahasa roh’. Perlu saudara perhatikan bahwa ini adalah suatu keadaan yang bahkan dalam Kitab Sucipun tidak pernah terjadi!

 

Dalam Kitab Suci peristiwa bahasa Roh hanya terjadi pada Kis 2:1-13  Kis 10:44-46  Kis 19:1-6. Lalu ada beberapa bagian lain yang membi­carakan bahasa Roh yaitu dalam Mark 16:17  1Kor 12-14.

 

Mengapa dalam Kitab Suci sendiri begitu sedikit, sedangkan jaman sekarang begitu sering / banyak orang berbahasa roh? Jelas bahwa sekarang ada banyak bahasa roh yang palsu, bahkan mayoritas (hampir semua) dari bahasa roh jaman sekarang ini adalah bahasa roh yang palsu!

 

Sekarang saya akan membahas bahasa roh yang palsu:

 

A)  Bahasa roh yang dipelajari / diusahakan.

 

1)         Ada seorang penulis Kharismatik yang berkata:

“Experience seems to prove that the majority of those who reach out simply to God, do receive the gift of speaking in another language. Psychologi­cally the only explanation that satisfies me is the fact that this is a potential capacity, dormant in most people, awakened in the Christian by the Holy Spirit and filled with meaning.” [= Pengalaman kelihatannya membuktikan bahwa mayoritas dari mereka yang hanya mengulurkan tangannya kepada Allah, menerima karunia untuk berbicara dalam bahasa yang lain. Secara psikologis satu-satunya penjelasan yang memuaskan saya adalah fakta bahwa ini merupakan kapasitas yang potensial, tidur dalam kebanyakan orang, dibangunkan dalam diri orang kristen oleh Roh Kudus dan diisi dengan arti.] - dikutip oleh Victor Budgen dalam bukunya yang berjudul ‘The Charismatics and the Word of God’, hal 66.

 

2)   Dalam terjadinya bahasa roh, Roh Kudus tidak berbicara; manusialah yang berbicara.

“The Holy Spirit gives utterance, but man does the speaking.” [= Roh Kudus memberikan ucapan, tetapi manusialah yang mengucapkannya.] - dari Buku ‘Roh Kudus’, SOM GBI Bethany, hal 25.

 

Dasar Kitab Suci yang mereka pakai:

a)   Kis 2:4 - mereka mulai berkata-kata’.

b)   Kis 19:6 - mereka berkata-kata’.

 

Dari dua ajaran tersebut diatas, lalu timbullah teori-teori untuk belajar bahasa Roh!

 

Teori 1:

 

a)   Berhentilah berbicara dalam bahasa saudara sendiri, bahkan jangan mengucapkan sepatah katapun yang saudara kenal.

b)   Jangan takut menerima bahasa Roh yang palsu.

c)   Berbicaralah dengan penuh keyakinan, dengan iman bahwa Tuhan akan membentuk kata-kata itu menjadi bahasa Roh.

d)   Jangan pikirkan apa yang kau katakan.

e)   Kata-kata pertama akan terasa aneh, tetapi kalau diteruskan, maka bibir / lidah akan bergerak dengan bebas dan Roh Kudus akan mulai membentuk bahasa Roh yang indah.

 

Contoh:

 

1.         Assemblies of God handbook:

“Help the candidate see that the Gift is already given and that all that he has to do is receive it. Lead him to realize that anyone who is saved through baptism is prepared to receive a Baptism of the Spirit. Tell him that when hands are laid on him he is to receive the Holy Spirit: tell the candidate to move on his vocal cords, but that he must co-operate with the experience as well: tell him to throw away all fear that this experience may be false: tell him to open his mouth wide and breathe as deeply as possible at the same time telling himself that he is receiving the Spirit now.” [= Tolonglah calon itu untuk melihat bahwa Karunia itu telah diberikan dan apa yang harus ia lakukan hanyalah menerimanya. Bimbinglah ia untuk menyadari bahwa setiap orang yang telah diselamatkan melalui baptisan telah siap untuk menerima Baptisan Roh Kudus. Katakanlah kepadanya bahwa pada waktu tangan diletakkan di atasnya ia akan menerima Roh Kudus: suruhlah calon itu untuk menggerakkan pita suaranya, tetapi ia juga harus bekerja sama dengan pengalaman itu: suruhlah ia untuk membuang semua rasa takut bahwa pengalaman itu bisa palsu: suruhlah ia membuka mulutnya lebar-lebar dan bernafas sedalam mungkin dan pada saat yang sama memberitahu dirinya sendiri bahwa sekarang ia sedang menerima Roh.] - dikutip oleh Victor Budgen dalam bukunya yang berjudul ‘The Charismatics and the Word of God’, hal 65.

 

2.         Anglican Charismatic:

“Open your mouth and show that you believe the Lord has baptized you in the Spirit by beginning to speak. Don’t speak English, or any other language you know, for God can’t guide you to speak in tongues if you are speaking in a language known to you.” [= Bukalah mulutmu dan tunjukkanlah bahwa kamu percaya bahwa Tuhan telah membaptis kamu dalam Roh dengan mulai berbicara. Jangan berbicara dalam bahasa Inggris, atau bahasa apapun yang kamu kenal, karena Allah tidak dapat membimbing kamu untuk berbicara dalam bahasa Roh jika kamu sedang berbicara dalam bahasa yang kamu kenal.] - dikutip oleh Victor Budgen dalam bukunya yang berjudul ‘The Charismatics and the Word of God’, hal 65.

 

Victor Budgen lalu menambahkan:

“The same writer says that on these occasions people may experience ‘involuntary tremblings, stammering lips, or chattering teeth’. He reassures them that it is all part of the package and may simply indicate that they have resisted him with their lips hitherto.” [= Penulis yang sama mengatakan bahwa pada peristiwa-peristiwa ini orang bisa mengalami ‘gemetar yang tidak disengaja, bibir yang menggagap, atau gigi yang gemeletuk’. Ia menenteramkan hati mereka dengan mengatakan bahwa itu merupakan bagian dari paket dan mungkin hanya menunjukkan bahwa sampai saat itu mereka telah menahan / menolak Dia dengan bibir mereka.] - hal 65.

 

3.   Dalam buku yang berjudul ‘Prison to Praise’, yang ditulis oleh Merlin R. Carothers, hal 33-34, ada cerita sebagai berikut (langsung saya berikan terjemahan bebas):

 

Ada orang yang ditumpangi tangan dan didoakan untuk bisa menerima baptisan Roh Kudus. Tetapi tidak terjadi apa-apa, dan orang itu tidak merasa apa-apa.

Lalu si penumpang tangan mulai berdoa dengan bahasa roh, tetapi orang itu tetap tidak melihat, mendengar atau merasa apa-apa.

Lalu si penumpang tangan bertanya: ‘Apakah dalam hatimu ada kata-kata yang tidak kaumengerti?’.

Orang itu menjawab: ‘Ya’.

Penumpang tangan bertanya lagi: ‘Kalau kata-kata itu kauucapkan, apakah kamu merasa dirimu tolol?’.

Orang itu menjawab: ‘Ya’.

‘Maukah kamu menjadi tolol atau dianggap tolol demi Kristus?’.

Lalu orang itu mengucapkan kata-kata itu dan ia berbahasa roh.

 

Teori 2:

 

Teori ini lebih ‘sederhana’ dari teori 1 di atas. Caranya hanyalah dengan mengucapkan kata-kata yang sama secara cepat dan terus-menerus dalam waktu yang cukup lama (15 - 30 menit atau bahkan lebih).

Contoh kata-kata yang bisa digunakan:

a)   La-la-la-la-la...

b)   Glory-glory-glory-glory...

c)   Haleluya-haleluya-haleluya...

d)   Praise Him-praise Him-praise Him...

 

Perlu saudara perhatikan bahwa teori 2 ini jelas bertentangan dengan teori 1, karena dalam teori 2 ini mereka mengucapkan kata-kata yang mereka mengerti seperti Haleluya, Praise Him, dsb, padahal dalam teori 1 mereka tidak boleh mengucapkan kata yang mereka kenal.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Kalau bahasa Roh dianggap sebagai ‘potential capacity, dormant in most people’ [= kapasitas yang potensial, tidur dalam kebanyakan orang], maka:

a)   Itu bertentangan dengan 1Kor 12:10-11 yang jelas menunjukkan bahwa bahasa Roh tidak diberikan kepada semua orang.

b)   Itu berarti bahwa bahasa Roh itu dari manusia, bukan dari Allah.

 

2)   Dalam Kitab Suci tidak pernah ada orang yang berbahasa Roh karena kehendak / usahanya sendiri! Di antara orang-orang yang berbahasa Roh dalam Kis 2:1-13, Kis 10:44-48 maupun Kis 19:1-7, tidak ada satupun yang mengusahakan bahasa Roh itu dengan cara seperti teori 1 maupun teori 2.

 

Juga, sebetulnya bahasa Roh hampir sama dengan nubuat; perbedaannya hanyalah nubuat dilakukan dalam bahasa biasa, sedangkan bahasa Roh dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari.

Sedangkan tentang nubuat, dikatakan dalam 2Pet 1:21 - “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”.

 

Saya yakin bahwa prinsip tentang nubuat ini berlaku juga untuk bahasa Roh. Jadi, bahasa Rohpun tidak mungkin dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi harus oleh dorongan Roh Kudus.

 

Bahasa roh yang dipelajari / diusahakan baik dengan mengunakan teori 1 atau teori 2 itu, jelas adalah bahasa roh ciptaan manusia karena diusahakan oleh manusia dan dilakukan karena kehendak manusia! Bahkan mungkin juga bahwa bahasa roh itu memang datang bukan dari manusia itu sendiri tetapi dari roh jahat!

 

Terhadap serangan seperti ini, orang Kharismatik mengatakan bahwa kalau mereka memulai dengan bunyi-bunyi seperti itu, itu tidak berarti bahasa Roh itu adalah ciptaan manusia. Mereka mengeluarkan bunyi-bunyi itu sebagai tindakan iman, dan Roh Kudus akan menghargai tindakan iman itu dengan memberikan bahasa Roh yang sebenarnya.

 

Tetapi perlu diingat bahwa dalam selu­ruh Kitab Suci tidak ada dasar secuilpun untuk mendukung ajaran seperti ini! Coba cari sendiri, dalam Kitab Suci bagian mana ada orang belajar bahasa Roh dengan cara seperti ini (berbicara sebagai tindakan iman)? Bagaimana mungkin itu disebut sebagai tindakan iman, padahal tidak ada dasar Kitab Suci / Firman Tuhannya? Bukankah sesuatu hanya bisa disebut sebagai ‘tindakan iman’ kalau itu dilakukan berdasarkan Firman Tuhan?

 

Dan kalau seorang kristen ingin mentaati 1Kor 14:1,39, apakah ia harus melakukan ‘tindakan iman’ dengan berkhotbah?

 

3)   Dalam Kitab Suci memang dikatakan bahwa manusianyalah yang berbicara dalam bahasa Roh. Tetapi tidak pernah dikatakan bahwa manusianya yang harus bicara dulu, baru nanti bahasa Rohnya menyusul!

 

4)   Mereka mengatakan ‘jangan pikirkan apa yang kau katakan’. Ini lagi-lagi merupakan suatu contoh yang menunjukkan bahwa ajaran Kharismatik sering membuang pikiran! Tetapi Kitab Suci / Firman Tuhan tidak pernah mengajar kita untuk membuang ratio / pikiran. Memang Firman Tuhan berkata bahwa kita tidak boleh bersandar pada ratio / pikiran (Amsal 3:5), tetapi Firman Tuhan tidak pernah mengajar kita untuk tidak menggunakan pikiran! Pikiran yang dipenuhi Firman Tuhan dan dipimpin oleh Roh Kudus adalah sesua­tu yang mutlak perlu supaya kita bisa membedakan antara yang benar dan yang palsu!

 

5)   Ajaran yang mengatakan untuk tidak boleh takut akan menerima bahasa Roh yang palsu, jelas adalah ajaran yang berbahaya! Kitab Suci / Firman Tuhan menyuruh kita untuk menguji segala sesuatu (1Yoh 4:1  1Tes 5:21).

 

1Yoh 4:1 - Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia..

 

1Tes 5:21 - Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik..

 

Bagaimana mungkin mereka bisa mengatakan bahwa calon itu tidak perlu takut untuk menerima bahasa Roh yang palsu?

 

Kenneth Hagin (seorang tokoh Kharismatik) dalam bukunya yang berjudul ‘Tujuh Langkah untuk Menerima Roh Kudus’, bahkan mengatakan “Tidak ada bahayanya apabila kita menerima sesuatu yang keliru atau palsu!” (hal 7).

 

Ini betul-betul adalah ajaran yang tolol! Kalau yang palsu itu memang tidak berbahaya, apa gunanya setan memberikan yang palsu?

 

Pada akhir jaman ini dimana sesuai dengan nubuat Tuhan Yesus ada banyak nabi palsu, ajaran palsu / sesat, mujizat palsu, dsb (Mat 24:23-24), maka jelaslah bahwa kita harus berhati-hati terhadap semua kepalsuan, khususnya yang bersifat rohani (hamba Tuhan, gereja, ajaran, mujizat, bahasa Roh, nubuat, penglihatan, dsb).

 

6)   Ada karunia-karunia yang tidak bersifat mujizat, seperti karunia mengajar, menyanyi, berkhotbah, dsb. Orang yang tidak mempunyai karunia ini tetap tidak akan bisa melakukannya dengan baik sekalipun ia belajar. Tetapi orang yang mempunyai karunia itu tetap harus belajar untuk mengasah karunia itu sehingga menjadi makin baik / ditingkatkan.

 

Tetapi juga ada karunia-karunia yang bersifat mujizat seperti bahasa roh, bernubuat, menyembuhkan orang sakit, dsb. Yang ini tidak pernah bisa dipelajari / diusahakan / diasah / ditingkatkan dsb.

 

7)   Teori 1 mengatakan bahwa orang yang ingin mendapatkan bahasa Roh itu harus berbicara dengan penuh keyakinan. Jadi, mereka harus mengucapkan apa saja yang ada dalam hatinya (kata-kata yang tidak dimengerti!).

 

Kenneth Hagin dalam bukunya ‘Tujuh Langkah untuk Menerima Roh Kudus’ mengatakan bahwa calon penerima Roh Kudus itu harus “membuka mulutnya dengan lebar dan bebas, serta mengambil nafas sedalam-dalamnya”. Juga supaya orang itu lalu “dengan gamblang untuk berucap apa saja yang paling mudah baginya” (hal 8).

 

Untuk mendukung teorinya ini Kenneth Hagin lalu menggunakan Yoh 7:37. Ia berkata: “Yesus berkata: ‘Marilah datang kepadaku dan minumlah’. Yang dimaksud oleh Yesus disini adalah Roh Kudus. Apabila seseorang mau minum air, maka iapun membuka mulutnya dan mengambil napas dalam-dalam. Anda tidak mungkin minum air dengan keadaan mulut tertutup, maka demikian pula anda tidak mungkin menerima Roh Kudus dengan keadaan mulut anda tertutup.” (hal 9).

 

Ini betul-betul adalah ajaran tolol yang menggelikan! Mengapa?

 

a)   Karena dalam Kitab Suci tidak pernah ada orang menerima Roh Kudus dengan mulut terbuka dan sebagainya!

 

b)   Yoh 7:37 jelas tidak bisa diartikan secara hurufiah begitu! Kalau Yoh 7:37 boleh diartikan begitu, maka:

 

1.   Berdasarkan Yoh 6:53 (‘makan daging Anak Manusia’) maka orang yang mau percaya Yesus harus mengunyah (memamah biak seperti sapi?).

 

2.   Berdasarkan Mat 16:24 (‘memikul salib’), semua orang kristen / orang yang mengikut Yesus harus berjalan dengan membungkuk!

 

3.   Berdasarkan Gal 5:24 (‘menyalibkan daging’), maka semua orang kristen harus betul-betul menyalibkan dirinya.

 

4.   Berdasarkan Wah 3:20 (‘membukakakan pintu’) orang yang mau menerima Yesus harus membuka pintu rumahnya (atau bajunya, supaya Yesus bisa masuk ke dalam hatinya?).

 

Ini jelas adalah hal-hal yang hanya bisa dipercaya oleh orang yang tidak waras!

 

8)   Mereka berbahasa Roh dengan mengeluarkan bunyi yang sama terus- menerus!

 

a)   Malaikatpun tidak mungkin hanya menggunakan 1 atau 2 bunyi untuk memaksudkan banyak hal.

 

b)   Tidak ada grammar [= tata bahasa] maupun vocabulary [= perbenda­haraan kata] yang berbeda dalam bahasa Roh itu, karena mereka hanya mengucapkan kata yang sama terus-menerus.

 

Seseorang memberikan komentar tentang bahasa Roh mereka “The total absence of language characteristics.” [= Tidak ada ciri-ciri bahasa sama sekali.].

 

Terhadap serangan ini orang Kharismatik menjawab: itu seperti telegram, yang menge­luarkan bunyi yang sama, tetapi bunyi yang sama itu nantinya menghasilkan kata-kata yang berbeda.

 

Tetapi tidak ada dasar Kitab Suci sedikitpun tentang jawaban / penjelasan itu, dan karenanya penjelasan itu tidak bisa diterima! Kalau kita boleh mengajar hanya berdasarkan suatu illustrasi, maka kita bisa mengajar ajaran segila apapun!

 

9)   Hal lain yang perlu disoroti dan dianggap aneh adalah fakta bahwa para pembicara bahasa roh itu pada umumnya menggunakan bunyi-bunyi / suara-suara yang sama.

 

John F. MacArthur, Jr.: “It is striking that many of the different tongue speakers use the same terms and sounds. They all generally speak the same way.” [= Adalah sesuatu yang menyolok bahwa banyak dari orang-orang yang berbahasa Roh itu menggunakan istilah-istilah dan bunyi-bunyi yang sama. Pada umumnya mereka semua berbicara dengan cara yang sama.] - ‘The Charismatics’, hal 176.

 

Ini menunjukkan bahwa bahasa Roh mereka adalah hasil dari ‘kursus bahasa Roh’.

 

10)      John F. MacArthur, Jr. memberikan suatu kutipan yang menarik sebagai berikut:

“Rise upon your feet, speak or make some sound and continue to make sounds of some kind and the Lord will make a tongue or lan­guage of it.” [= Berdirilah, dan ucapkanlah atau buatlah bunyi dan teruslah membuat bunyi-bunyi tertentu dan Tuhan akan membuatnya menjadi bahasa Roh.] - ‘The Charismatics’, hal 178.

 

Ini adalah cara yang sama dengan cara yang banyak dipakai oleh orang-orang Kharismatik untuk mengajarkan bahasa Roh. Sesuatu yang sangat menarik adalah bahwa John F. MacArthur, Jr. mengatakan bahwa kata-kata ini diucapkan oleh Joseph Smith yang adalah pendiri gereja Mormon!

 

Bagaimana mungkin ajaran Kharismatik jaman ini bisa sama dengan ajaran dari pendiri gereja Mormon, yang jelas-jelas adalah gereja yang sesat?

 

B)  Bahasa Roh yang timbul karena effek psikologis.

 

John F. MacArthur, Jr. dalam bukunya ‘The Charismatics’ (hal 177) mengatakan bahwa beberapa kasus bahasa roh bisa dijelaskan secara psikologis. Orang yang berbahasa roh itu masuk dalam ‘motor automatism’, yang secara klinis digambarkan sebagai suatu pemutusan radi­kal di dalam dirinya dari hal-hal di sekelilingnya. Motor automatism itu menghasilkan pemutusan dari hampir semua otot-otot dari kontrol otak.

 

Ia juga berkata bahwa orang-orang yang menerima bahasa roh jenis ini serupa dengan orang-orang yang menonton musik Rock. Dalam kegembiraan dan emosi yang meluap-luap, ditengah-tengah musik / lagu yang keras, mereka menyerahkan kontrol dari pita suara dan sebagian besar otot-otot mereka. Mereka jatuh ke tanah, meloncat-loncat, dsb.

 

Karena itu tidak heran bahwa dalam persekutuan / kebaktian Kharisma­tik, musik selalu begitu keras dan emosi selalu diusahakan untuk dibangkitkan! Dalam gereja-gereja Protestan, dimana hal-hal ini tidak ada, juga tidak ada bahasa roh.

 

C)  Bahasa roh dari setan.

 

1)   Perlu kita sadari bahwa setan selalu berusaha memalsu hal-hal yang dari Tuhan, seperti: Mesias palsu, nabi palsu, rasul palsu, malaikat palsu, pelayan palsu, Injil palsu, mujizat / tanda palsu, nubuat palsu, pengusiran setan yang palsu, dsb (Mat 24:4,5,11,23,24  Mat 7:21-23  2Kor 11:13-15  Gal 1:6-7  Kel 7:10-12,20-22  Kel 8:5-7,17-18).

 

Jelas bahwa dalam hal bahasa Roh, setan juga berusaha memalsu. Berbeda dengan bahasa roh buatan manusia, atau bahasa roh yang timbul karena effek psikologis, maka bahasa roh dari setan ini betul-betul terlihat sebagai mujizat.

 

Beberapa waktu yang lalu di sebuah surat kabar diberitakan bahwa pegawai-pegawai suatu pabrik rokok tertentu tahu-tahu berbicara dalam bahasa asing yang sama sekali tidak mereka ketahui sebelumnya, padahal para pegawai itu sama sekali bukan orang kristen. Bisa dipastikan bahwa ini adalah bahasa roh dari setan.

 

Adanya bahasa roh dari setan ini juga terbukti dari adanya bahasa roh dalam banyak agama-agama lain diluar kristen, bahkan dalam aliran- aliran setan seperti Voodoo dan Spiritist.

 

2)   Kalau seseorang meminta sesuatu secara paksa (mendesak Tuhan), maka bukan tidak mungkin kalau setanlah yang lalu datang dan mengabulkan permintaannya.

 

Dr Kurt Koch, seorang ahli Occultisme, dalam bukunya yang berjudul ‘Occult ABC’, hal 32, mengutip suatu cerita dari buku yang ditulis oleh seorang yang bernama Vim Malgo sebagai berikut:

 

“A lady who belonged to the Roman Catholic charismatic movement prayed for a long time for the baptism of the Spirit. Nothing obvious happened. She did not speak in tongues. Finally she cried out to the Lord in desperation, ‘I have now been asking You so long, and You have not given me my request. If You do not give me the baptism of the Spirit, I will speak to Your mother about it’. At that very moment she began to speak in tongues. Vim Malgo adds: ‘Here again we cannot speak of a baptism of the Spirit, but rather of baptism with spirits.’” [= Seorang perempuan dari kalangan Roma Katolik Kharismatik berdoa untuk waktu yang lama untuk mendapatkan baptisan Roh Kudus. Tidak ada hal yang jelas yang terjadi. Ia tidak berbicara dalam bahasa Roh. Akhirnya ia berteriak kepada Tuhan dengan putus asa: ‘Aku telah begitu lama meminta baptisan Roh, dan Engkau belum mengabulkan permintaanku. Jika Engkau tidak memberiku baptisan Roh, aku akan berbicara dengan ibumu (Maria) tentang hal ini’. Pada saat itu juga ia mulai berbicara dalam bahasa roh. Vim Malgo menambahkan: ‘Di sini lagi-lagi kita tidak bisa berbicara tentang baptisan Roh, tetapi tentang baptisan roh-roh’.].

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali