Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tanggal 6 Juni 2023, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Kharismatik 6a

 

HARUSKAH KITA BERBAHASA ROH? (1)

 

 

Menghadapi pertanyaan ‘Haruskah orang kristen berbahasa Roh?’, mayoritas orang Kharismatik akan menjawab: ‘Ya, orang kristen harus berbahasa Roh!’.

 

Lihat 2 kutipan di bawah ini!

 

“Berbicara dalam Bahasa Roh hendaknya merupakan semacam arus air yang tidak boleh menjadi kering, karena ia akan memperkaya kehidupan rohani seseorang secara pribadi.” (Buku ‘Tujuh Langkah untuk Menerima Roh Kudus’ karangan Kenneth E. Hagin, hal 13) .

 

“Bahasa lidah itu harus seperti aliran sungai yang tak pernah kering, karena dengannya akan memperkaya kehidupan kerohanian dan kekristenan kita.” (Buku ‘The Holy Spirit / Roh Kudus’ terbitan School of Ministry GBI Bethany, hal 27).

 

Alasan-alasan yang dikemukakan:

 

1)   Bahasa Roh adalah bukti baptisan Roh / kepenuhan Roh (Kis 2:4  Kis 10:46). Bahkan ada penulis Kharismatik yang mengatakan bahwa bukti dari baptisan Roh / kepenuhan Roh bukanlah buah Roh, tetapi bahasa Roh.

 

Untuk ini lihat kutipan di bawah ini:

 

“Ada beberapa orang yang mengajarkan bahwa ‘buah Roh’ itulah bukti seseorang telah atau belum menerima Roh Kudus. Sebenarnya, pengujian tentang ‘buah Roh’ ini harus ditolak karena bertentangan dengan Alkitab dengan alasan: buah Roh bukanlah pengujian yang diterapkan oleh para rasul itu sendiri. Kis 10:45-46; Kis 8:14-20;  Kis 19:6. Apakah yang menyakinkan Petrus, Paulus dan rasul-rasul yang lain itu bahwa bangsa-bangsa lain juga dapat mengalami keselamatan melalui iman kepada Yesus? Satu hal hanya satu alasan: yaitu kenyataan bahwa mereka mendengar orang-orang itu berka­ta-kata dalam bahasa roh. Dalam seluruh pertanggungjawaban itu, tidak pernah ada anjuran sedikitpun, baik dari Petrus atau rasul yang lain, untuk mencari bukti atau tanda lain dalam kehidupan mereka selain kenyataan bahwa mereka berkata-kata dalam bahasa roh. Di sana tidak ada pertanyaan tentang buah Roh. Dalam hal ini para rasul betul-betul logis. Bukan karena buah Roh tidak penting, tetapi karena buah Roh itu berdasarkan sifatnya sungguh-sungguh berbeda dari karunia. Karunia diterima sebagai suatu tindakan iman; sedangkan buah Roh dihasilkan melalui proses yang perlahan-lahan dan setahap demi setahap, dimana di dalamnya termasuk menanam, memelihara, dan mengusahakannya. Baptisan Roh Kudus adalah karunia (suatu pengalaman tersendiri) yang diterima dengan iman. Bukti seseorang telah menerima karunia ini, ialah bahwa ia berkata-kata dalam bahasa roh. Sedangkan salah satu tujuan penting karunia ini diberikan ialah agar memungkinkan seseorang menghasilkan buah roh yang lebih baik daripada yang pernah dapat dihasilkannya. Tidak salah untuk memberikan tekanan pada pentingnya buah roh. Yang salah adalah bila kita mengacaukan antara karunia dan buah roh, mengacaukan bukti penerimaan karunia dengan tujuan karunia itu diberikan.” (Buku ‘The Holy Spirit / Roh Kudus’ terbitan School of Ministry GBI Bethany, hal 31).

 

Jawaban saya:

 

a)   Bahasa Roh yang asli, karena itu merupakan suatu karunia, hanya bisa dimiliki oleh orang kristen yang sejati (demikian juga dengan semua karunia yang lain). Karena itu, dalam Kis 10, pada waktu Petrus melihat orang-orang itu berbahasa Roh, ia yakin bahwa orang-orang itu sudah mengalami baptisan Roh / menerima Roh Kudus. Tetapi persoalannya, kalau Petrus bisa membedakan asli tidaknya bahasa Roh itu, kita tidak bisa atau sukar sekali untuk membedakannya! Karena itu bahasa Roh sukar dijadikan ukuran apakah seseorang itu sudah menerima Roh Kudus atau tidak.

 

b)   Kis 2:4 dan Kis 10:46 adalah bagian Kitab Suci yang bersifat descriptive (menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu). Bagian semacam ini tidak bisa dijadikan rumus!

Bahwa Yesus berpuasa 40 hari / malam, tidak berarti bahwa orang kristen harus juga melakukan hal itu.

Bahwa Yesus hanya mempunyai 12 murid, tidak berarti bahwa seorang pendeta hanya boleh mempunyai 12 jemaat.

Bahwa Petrus bisa berjalan di atas air, tidak berarti bahwa orang kristen sekarang harus bisa berjalan di atas air.

Mengapa? Karena semua ini adalah bagian Kitab Suci yang bersifat descriptive [= menggambarkan]. Ini tidak boleh dijadikan rumus / norma dalam hidup kita!

 

Dalam Luk 1:67 dikatakan bahwa Zakharia penuh Roh Kudus dan ia lalu bernubuat.

 

Luk 1:67 - Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:.

 

Juga dalam Kis 19:6 dikatakan ada orang-orang yang menerima Roh Kudus dan mereka lalu berbahasa Roh dan bernubuat.

 

Kis 19:6 - Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat..

 

Apakah semua ini juga mau dijadikan rumus, dan kita lalu percaya bahwa orang yang mempunyai Roh Kudus harus bernubuat? Tentu saja tidak, karena bagian-bagian ini juga merupakan bagian Kitab Suci yang bersifat descriptive!

 

Dalam Kitab Suci juga ada peristiwa-peristiwa lain di mana orang per­caya kepada Kristus (jelas mereka menerima baptisan Roh Kudus - bdk. Kis 2:38), tetapi tidak mengalami bahasa Roh (Kis 2:41  Kis 8:36-38  Kis 16:14-15,31-33). Stefanus yang penuh Roh Kudus (Kis 6:3,5  Kis 7:55) juga tidak pernah dikatakan berbahasa Roh.

 

Kis 2:38,41 - “(38) Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. ... (41) Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa..

 

Kis 8:36-38 - “(36) Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ‘Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?’ (37) [Sahut Filipus: ‘Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.’ Jawabnya: ‘Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.’] (38) Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia..

 

Kis 16:14-15 - “(14) Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ‘Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya..

 

Kis 16:31-33 - (31) Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ (32) Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. (33) Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis..

 

Kis 6:3,5 - “(3) Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, ... (5) Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia..

 

Kis 7:55 - Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah..

 

c)   Kitab Suci jelas mengatakan bahwa ‘buah’ adalah bukti pertobatan yang sejati!

 

Mat 3:7-10 - “(7) Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ‘Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? (8) Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. (9) Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! (10) Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api..

 

Mat 7:15-20 - (15) ‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka..

 

Tugas Roh Kudus memang memimpin kita ke dalam kebenaran.

 

Yoh 16:13 - Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang..

 

Juga jelas bahwa buah Roh Kudus (Gal 5:22,23) adalah hasil pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita. Tidak adanya buah Roh menunjukkan secara jelas bahwa seseorang belum bertobat / menerima Roh Kudus! Pandangan ini sejalan dengan kata-kata Yakobus yang berbunyi ‘iman tanpa perbuatan adalah mati / kosong’ (Yak 2:17,26), dan juga dengan ajaran Tuhan Yesus tentang pokok anggur dan rantingnya (Yoh 15:1-8 - perhatikan bahwa ranting yang tidak berbuah, yang akhirnya dipotong dan dibakar itu, jelas menggambarkan orang kristen KTP yang tidak mengeluarkan buah Roh Kudus). Juga dalam perumpamaan tentang seorang penabur yang menabur di 4 golongan tanah, hanya tanah golongan 4 yang berbuah, dan hanya itu yang menunjuk kepada orang kristen yang sejati!

 

Ada banyak orang Kharismatik yang mengaku telah dibaptis Roh Kudus / penuh Roh Kudus karena telah berbahasa Roh. Tetapi kehidupan mereka tidak berbeda sedikitpun dari orang kafir. Bahkan sering mereka mempunyai kepercayaan yang jelas tidak injili / tidak alkitabiah, seperti:

 

1.         Tidak yakin masuk ke surga karena masih banyak dosanya.

 

2.         Yakin masuk surga karena sudah dibaptis.

 

3.         Orang Katolik Kharismatik yang masih ‘memegang’ Marianya.

 

4.         dsb.

 

Orang-orang seperti itu, sekalipun sudah berbahasa roh, jelas belum sungguh-sungguh bertobat (dengan demikian jelas juga bahwa bahasa roh mereka pasti palsu). Kalau mereka betul-betul bertobat, buah Roh pasti ada!

 

2)   Bahasa Roh membangun iman orang yang berbicara di dalam bahasa Roh itu (1Kor 14:4  Yudas 20).

 

1Kor 14:4 - Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat..

 

Yudas 20 - Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus..

 

Jawaban saya:

 

a)   Yudas 20 tidak berbicara tentang Bahasa Roh! Demikian juga dengan Ro 8:26 dan Ef 6:18!

 

Ro 8:26 - Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan..

 

Ef 6:18 - dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,.

 

‘Berdoa di dalam Roh’ berarti ‘doa yang dipimpin oleh Roh Kudus’. Ini adalah doa dengan bahasa biasa / sehari-hari, bukan doa dengan bahasa Roh!

 

Perlu saudara ketahui bahwa istilah ‘bahasa Roh’ dalam Kitab Suci selalu ditunjukkan dengan menggunakan kata bahasa Yunani GLOSSA, dan kata ini tidak muncul baik dalam Yudas 20 maupun Ro 8:26 dan Ef 6:18! Cek dengan Bible Works 8!

Karena itu adalah sangat tidak beralasan untuk mengatakan bahwa istilah ‘berdoa di dalam Roh’ dalam Yudas 20 dan Ef 6:18 menunjuk pada ‘doa dalam bahasa Roh’.

 

b)   Bahasa Roh adalah salah satu karunia-karunia Roh Kudus (1Kor 12:7- 11,27-30). Tujuan karunia-karunia itu adalah untuk membangun jemaat / gereja (1Kor 12:7  1Kor 14:5,12,17,26  Ef 4:11-12  1Pet 4:10).

 

1Kor 12:7-11,27-30 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. ... (27) Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (28) Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (29) Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?.

 

1Kor 14:5,12,17,26 - “(5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. ... (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. ... (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. ... (26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun..

 

Ef 4:11-12 - “(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,.

 

1Pet 4:10 - Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah..

 

Tuhan tidak pernah memberikan karunia yang berguna untuk membangun diri kita sendiri. Semua karunia diberikan untuk membangun gereja / tubuh Kristus dan bukannya diri sendiri!

 

Illustrasi: Dalam tubuh tidak ada anggota tubuh yang mempunyai kegunaan / fungsi hanya untuk dirinya sendiri. Semua anggota berfungsi untuk seluruh tubuh atau untuk anggota tubuh yang lain!

 

Lalu apa arti 1Kor 14:4?

 

1Kor 14:4 - Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat..

 

Ini adalah sindiran / bahasa sinis. Surat Korintus memang banyak mengandung sindiran / bahasa sinis.

 

1Kor 4:8,10 - “(8) Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu. ... (10) Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina..

 

2Kor 10:1,2 - “(1) Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah. (2) Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi..

 

2Kor 11:1,5 - “(1) Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu. Memang kamu sabar terhadap aku! ... (5) Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu..

 

2Kor 12:12-13 - “(12) Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa. (13) Sebab dalam hal manakah kamu dikebelakangkan dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain, selain dari pada dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi suatu beban kepada kamu? Maafkanlah ketidakadilanku ini!.

 

Jadi, adalah sangat beralasan untuk mengatakan bahwa 1Kor 14:4 juga suatu sindiran / bahasa sinis! Mungkin maksud Paulus dengan 1Kor 14:4 adalah untuk menunjukkan ketidak-bergunaan bahasa Roh, dan sekaligus untuk menyerang / menyindir keegoisan orang Korintus. Tetapi ia sama sekali tidak memaksudkan bahwa bahasa Roh akan membangun diri sendiri!

 

c)   Yang membangun iman bukanlah bahasa Roh, tetapi Firman Tuhan, karena Firman Tuhan adalah makanan rohani!

 

Kis 20:32 - Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karuniaNya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskanNya..

 

1Kor 3:1-2 - “(1) Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. (2) Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya..

 

Ibr 5:12-14 - “(12) Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (13) Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (14) Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat..

 

1Pet 2:2-3 - “(2) Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, (3) jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan..

 

3)         Bahasa Roh menyucikan diri kita.

 

Lihat kutipan di bawah ini:

“Kalau orang yang menerima Roh Kudus masih belum berubah sifat­nya, pasti pada hari itu mereka tidak berdoa dalam bahasa roh dan tidak melakukan persekutuan yang mantap dengan Allah. Saya tahu betul hal ini berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri.

Akan tetapi apabila seseorang mau membuang  waktu cukup untuk melakukan persekutuan dengan Allah, berbicara dalam bahasa roh, maka ia akan memperoleh kesadaran yang dalam tentang kehadiran dan bermukimnya Tuhan di dalam dirinya, sehingga tidak mungkin lagi ia berkata-kata atau berbuat sesuatu yang tidak pantas.” (Buku ‘Tujuh Langkah Untuk Menerima Roh Kudus’ karangan Kenneth  E. Hagin, hal 19).

 

Penyucian diri itu terjadi dalam hal-hal seperti:

 

a)   Membuang egoisme. Kalau seseorang berdoa biasa, maka ia akan berdoa untuk kepentingan dirinya. Ini doa yang egois! Tetapi, kalau seseorang berdoa dengan bahasa Roh, Roh Kuduslah yang memberikan kata-katanya, sehingga ia bebas dari egoisme.

 

b)   Menguasai lidah. Lihat 2 buah kutipan di bawah ini:

 

1.   “Dalam Yakobus 3:8 dikatakan: ‘Tetapi tidak seorangpun berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak ter­kuasai, dan penuh dengan racun yang mematikan’. Tetapi apabila kita berbicara bahasa roh, maka kita akan mengekang lidah kita menurut kuasa Roh Kudus untuk berbicara dalam bahasa roh. Hal ini merupakan langkah panjang menuju pengekangan penuh bagi anggota-anggota tubuh kita untuk berserah kepada Tuhan. Sebab apabila anda bisa mengendalikan lidah maka anda pun dapat mengendalikan setiap anggota tubuh anda yang lain.” (Buku ‘Tujuh Langkah untuk Menerima Roh Kudus’ karangan Kenneth E. Hagin, hal 31).

 

2.   “Berbahasa lidah akan membuat atau membawa lidah senantiasa ada dalam kontrol Roh......

Kita melihat kehidupan murid Yesus sendiri yang bernama Petrus. Sebelum ia penuh dengan Roh Kudus walaupun ia adalah seorang murid tetapi ia tidak dapat menjinakkan dan menguasai lidahnya (ia berjanji mau mati untuk Yesus mau masuk penjara demi Yesus, tetapi pada akhirnya dia mengkhianati Yesus). Lidah Petrus penuh dusta dan kutuk; tetapi setelah ia penuh dengan Roh Kudus, maka Petrus berubah, dengan ucapan lidahnya sekali berkotbah dapat mempertobatkan 3000 orang sekaligus (Kis 2:41). Dengan perkataan lidahnya dia bangkitkan orang lumpuh (Kis 3:6); Lidah seseorang yang penuh dengan urapan Roh kudus akan menjadi lidah yang terjinakkan lagi lidah yang penuh dengan kuasa Allah.” (Buku ‘Holy Spirit / Roh Kudus’ terbitan School of Ministry GBI Bethany, hal 29).

 

c)   Dalam hal-hal lain. bahasa Roh mengingatkan kita bahwa Roh Kudus berada di dalam kita, dan ini menyebabkan kita menahan diri dari dosa. Lihat kutipan di bawah ini:

“Dengan berbahasa lidah kita akan senantiasa diingatkan bahwa Roh Kudus di dalam kita. Dan ini akan mempengaruhi seluruh roda kehidupan kita sehari-hari ke arah kehidupan yang serba positif (kalau engkau berbahasa lidah, kau akan sadar adanya Roh Kudus di dalammu, maka Dia akan menjadi rem akan perbuatan jahat najis, dosa yang akan kau kerjakan). Tak mungkin seseorang sung­guh-sungguh mengasihi Tuhan akan mendukakan Roh Kudus. Tak mungkin seorang percaya berbahasa lidah sambil berzina, mencuri, marah, dll. Bahasa lidah akan senantiasa mengingatkan kita bahwa ada Roh Kudus di dalam kita.” (Buku ‘Holy Spirit / Roh Kudus’ terbitan School of Ministry GBI Bethany, hal 27,28).

 

Jawaban saya:

 

a)   Kita toh tidak mungkin berbicara / berdoa dengan bahasa Roh 24 jam / hari. Lalu bagaimana dengan egoisme dan penggunaan lidah yang salah pada saat kita tidak berbahasa Roh?

 

b)   Kitab Suci tidak pernah mengajar bahwa bahasa Roh itu bisa menyuci­kan kita. Bahasa Roh adalah suatu karunia! Tujuannya untuk pelayanan, bukan untuk menyucikan diri!

 

1Kor 12:7 - “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”.

KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV/YLT: ‘manifestation’ [= manifestasi].

 

Adam Clarke (tentang 1Kor 12:7): This is variably understood by the fathers; some of them rendering phaneroosis by illumination, others demonstration, and others operation. The apostle’s meaning seems to be this: Whatever gifts God has bestowed, or in what various ways soever the Spirit of God may have manifested himself, it is all for the common benefit of the church. God has given no gift to any man for his own private advantage, or exclusive profit. He has it for the benefit of others as well as for his own salvation.” [= Ini dapat dipahami dengan berbagai cara oleh para bapa; beberapa di antaranya mengartikan PHANEROOSIS sebagai pencerahan, yang lain mengartikan sebagai demonstrasi, dan yang lainnya mengartikan sebagai operasi. Makna yang dimaksud oleh rasul ini sepertinya adalah: Apapun karunia yang Allah berikan, atau dalam berbagai cara Roh Allah menyatakan dirinya, semuanya itu untuk kepentingan bersama dari gereja. Allah tidak memberikan karunia kepada seseorang untuk keuntungan pribadi atau keuntungan eksklusif. Ia memberikannya untuk keuntungan orang lain serta untuk keselamatan pribadinya sendiri.].

 

Charles Hodge (tentang 1Kor 12:7): “‘The manifestation of the Spirit is given.’ That is, the Spirit who lives in all believers, as the body of Christ, manifests himself in one way in one person, and in another way in another person. The illustration that the apostle introduces later is derived from the human body. As the principle of life manifests itself in one organ as the faculty of vision, and in another as the faculty of hearing, so the Holy Spirit manifests himself variously in the different members of the church - in one as the gift of teaching, in another as the gift of healing. This is one of those pregnant truths compressed in a single sentence that are developed in manifold forms in different parts of the Word of God. This whole chapter is the exposition and the application of this truth. ‘For the common good.’ That is, for edification. This is the common object of all these gifts. They are not intended exclusively or mainly for the recipients’ benefit, much less for their gratification; but for the good of the church, just as the power of vision is not for the benefit of the eye, but for the whole person. When God’s gifts, natural or supernatural, are perverted as means of self-exaltation or aggrandizement, it is a sin against their giver as well as against those for whose benefit they were intended. [= ‘Manifestasi Roh diberikan.’ Yaitu, Roh yang hidup di dalam semua orang percaya, sebagai tubuh Kristus, menyatakan diriNya dengan cara yang berbeda di satu orang dengan orang lainnya. Ilustrasi yang diperkenalkan rasul belakangan berasal dari tubuh manusia. Seperti prinsip kehidupan yang menampakkan dirinya di satu organ sebagai kemampuan penglihatan, dan di organ lain sebagai kemampuan pendengaran, demikian pula Roh Kudus menyatakan diriNya dengan berbagai cara dalam anggota-anggota yang berbeda dalam gereja - dalam satu orang sebagai karunia mengajar, dalam orang lain sebagai karunia penyembuhan. Ini adalah salah satu kebenaran yang kaya makna yang dikompres dalam satu kalimat dan dikembangkan dalam berbagai bentuk dalam bagian-bagian berbeda dari Firman Allah. Seluruh bab ini adalah exposisi dan penerapan dari kebenaran ini. ‘Untuk kebaikan bersama.’ Yaitu, untuk pembangunan / kemajuan. Ini adalah tujuan umum dari semua karunia ini. Mereka tidak dimaksudkan secara eksklusif atau terutama untuk keuntungan penerima, apalagi untuk kepuasan mereka; tetapi untuk kebaikan gereja, sama seperti kemampuan melihat bukan untuk keuntungan mata, tetapi untuk kebaikan seluruh tubuh. Ketika karunia-karunia Allah, baik alamiah maupun supranatural, disalahgunakan sebagai sarana pengagungan diri atau pembesaran diri, itu adalah dosa terhadap Pemberi mereka maupun terhadap mereka untuk kebaikan / manfaat siapa karunia-karunia itu dimaksudkan.].

 

c)   Kitab Suci berkata bahwa Firman Tuhanlah yang dipakai oleh Roh Kudus untuk menyucikan kita (Yer 23:29  Maz 119:9  Yoh 15:3  Ef 6:17).

 

Yer 23:29 - Bukankah firmanKu seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?.

 

Mat 119:9 - Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firmanMu..

 

Yoh 15:3 - Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu..

 

Ef 6:17 - dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,.

 

d)   Mengingat bahwa Roh Kudus ada di dalam diri kita memang penting untuk usaha menyucikan diri (bdk. 1Kor 3:16  1Kor 6:19-20).

 

1Kor 3:16 - Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?.

 

1Kor 6:19-20 - “(19) Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (20) Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!.

 

Tetapi, kita bisa mengingat bahwa Roh Kudus ada di dalam diri kita tanpa menggunakan bahasa Roh!

 

e)   Doa dengan bahasa Roh memang tidak egois. Tetapi doa dengan bahasa Roh pada hakekatnya tidak meminta apa-apa. Kata-kata dalam doa itu tidak berasal dari diri kita sendiri dan tidak kita mengerti! Jadi, kita sendiri tidak meminta apa-apa. Padahal Yesus memerintahkan kita untuk meminta kepadaNya (Mat 7:7  Yoh 16:24).

 

Mat 7:7 - ‘Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu..

 

Yoh 16:24 - Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu..

 

Kalau kita tidak meminta apa-apa, kita justru berdosa!

 

f)    Doa biasa (tanpa menggunakan bahasa Roh) tidak harus merupakan doa yang egois. Kalimat pertama yang Yesus ucapkan di atas kayu salib (‘Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’ - Luk 23:34) jelas merupakan suatu doa biasa, tetapi sama sekali tidak kelihatan egoisme dalam doa ini!

 

4)   Kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa. Dalam doa dengan bahasa Roh, Roh Kudus menolong kita untuk berdoa (Ro 8:26  1Kor 14:14 diterjemahkan ‘rohku, dengan bantuan Roh Kudus dalam diriku, berdoa....’).

 

Orang-orang Kharismatik tertentu juga mengatakan bahwa:

 

a)   Dengan menggunakan doa bahasa Roh, kita bisa berdoa untuk kebutuhan yang tidak kita sadari.

 

b)   Roh Kudus bukan hanya mengajar kita berdoa, tetapi bahkan juga mengajari posisi doa yang benar! Baca kutipan di bawah ini:

“Sementara berdoa dalam bahasa roh itu saya meletakkan satu kepalan tanganku atas yang lainnya; lalu terasa seperti ada suatu tarikan yang kuat sekali yang hendak menyeret tanganku ke samping. Dengan sekuat tenaga yang ada padaku saya berusaha menge­palkan tanganku, akan tetapi secara bergantian tangan saya itu ditarik lagi ke sebelah samping yang lainnya. Hal yang sama terjadi 3x berturut-turut. Lalu Roh Tuhan berbicara kepada saya: ‘Orang yang cara berdoanya keliru akan membuat semua hal meleset dari tempat seharusnya’. Sebab kita tidak tahu bagaima­na seharusnya berdoa.” (Buku ‘Tujuh Langkah untuk Menerima Roh Kudus’ karangan Kenneth E. Hagin, hal 22).

 

c)   Karena doa Bahasa Roh adalah doa yang dipimpin oleh Roh Kudus, maka orang yang mentertawakan orang yang sedang berdoa dengan bahasa Roh sama dengan mentertawakan Roh Kudus!

 

Jawaban saya:

 

a)   Ro 8:26 tidak mempersoalkan doa dengan bahasa Roh! Kata bahasa Yunani GLOSSA yang selalu muncul kalau Kitab Suci memaksudkan ‘bahasa Roh’ ternyata tidak muncul dalam Ro 8:26 ini. Jadi ayat ini tidak berbicara tentang ‘doa dalam bahasa Roh’ tetapi berbicara tentang doa biasa! Dalam doa biasapun kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus!

 

b)   Pada waktu mau menafsirkan 1Kor 14:14 kita harus membaca seluruh kontexnya lebih dulu! Bacalah 1Kor 14:13-17, bahkan lebih baik lagi, bacalah seluruh 1Kor 14!! Saudara akan melihat bahwa 1Kor 14 menekankan bahwa nubuat lebih penting / berguna daripada bahasa Roh! 1Kor 14:13-17 justru menekankan pentingnya penggunaan akal / otak dalam memuji / bersyukur / berdoa! Jadi, jelas bahwa ayat ini tidak mungkin mendukung penggunaan bahasa Roh dalam doa!

 

1Kor 14:13-17 - “(13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya..

 

Catatan: bagian yang saya coret itu seharusnya tidak ada.

 

c)   Kitab Suci tidak pernah menuntut posisi doa tertentu!! Tidak mungkin Roh Kudus lalu menuntut apa yang tidak dituntut oleh Kitab Suci, atau menyalahkan apa yang tidak disalahkan oleh Kitab Suci. Saya yakin bahwa pengalaman Kenneth Hagin yang ia ceritakan di atas, sekedar merupakan isapan jempolnya, atau diberikan oleh setan!

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali