(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 9 Januari 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
1Kor 14:1-40 - “(1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. (6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? (7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! (10) Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. (18) Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. (19) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. (20) Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu! (21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’ (22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. (23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’ (26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. (34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.
Ay 13-17: “(13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.”.
1) Ay 13: “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.”.
Kata-kata ‘karena itu’ pada awal dari ay 13, menunjuk pada ay 12c di atas.
Jadi maksud dari ay 13 adalah: karena kamu harus berlimpah-limpah dalam hal pendidikan gereja (ay 12c), sedangkan bahasa Roh yang tidak dimengerti tidak ada gunanya (bdk. ay 6-9), maka orang yang berbahasa Roh harus meminta karunia untuk menafsirkannya / menterjemahkannya (ay 13).
Catatan: Karunia penafsiran / penterjemahan bahasa Roh adalah satu-satunya karunia yang bisa diminta dalam doa; itupun hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai karunia bahasa Roh. Ini disebabkan karena 2 karunia ini (karunia berbahasa Roh dan karunia menterjemahkan bahasa Roh) memang harus berpasangan (bdk. 12:10b,30b).
Editor dari Calvin’s Commentary: “... every language is intelligible to some nation or other; ... The very use of the term ‘interpret’ and ‘interpretation’, as applied to this subject, also proves that he could only have intelligent language in view: it being a contradiction in terms to speak of interpreting that which has no meaning.” [= ... setiap bahasa dapat dimengerti oleh satu bangsa atau bangsa yang lain;... Penggunaan istilah ‘menafsirkan’ dan ‘tafsiran’, yang diterapkan pada subjek ini, juga membuktikan bahwa dia hanya mempertimbangkan bahasa yang memiliki arti / bisa dimengerti: karena berbicara tentang menafsirkan sesuatu yang tidak memiliki makna merupakan sesuatu yang bertentangan dengan logika.] - hal 440-441 (footnote).
2) Ay 14: “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.”.
a) Terjemahan ay 14 ini kurang tepat. Bandingkan dengan terjemahan di bawah ini.
NIV/NASB: ‘For if I pray in a tongue, my spirit prays, but my mind is unfruitful’ [= Karena jika aku berdoa dalam bahasa Roh, rohku berdoa, tetapi pikiranku tidak berbuah].
b) Kata ‘jika’ pada awal ay 14 menunjukkan bahwa ini adalah suatu pengandaian. Jadi ay 14 ini tidak berarti bahwa Paulus betul-betul pernah berdoa dalam bahasa Roh.
Bahkan dari ay 15a terlihat bahwa Paulus tidak senang dengan suatu doa dimana pikiran tidak terlibat, dan ini menunjukkan bahwa ia tidak mau dan tidak pernah berdoa dalam bahasa Roh.
Calvin: “Paul here, for the sake of illustration, makes a supposition, that had no reality, ... Let us therefore keep it in view, that things that are connected with each other are here disjoined for the sake of illustration - not on the ground that it either can, or usually does, so happen. ... Let us take notice, that Paul reckons it a great fault if the mind is not occupied in prayer. And no wonder; for what else do we in prayer, but pour out our thoughts and desires before God? Farther, as prayer is the spiritual worship of God, what is more at variance with the nature of it, than that it should proceed merely from the lips, and not from the inmost soul?” [= Paulus di sini, untuk memperjelas, membuat suatu anggapan yang tidak memiliki realita, ... Karena itu, mari kita terus mengingat / memperhatikan, bahwa hal-hal yang berhubungan satu sama lain di sini dipisahkan untuk tujuan penjelasan - bukan karena hal itu bisa, atau biasanya terjadi demikian. ... Mari kita perhatikan, bahwa Paulus menganggapnya sebagai kesalahan besar jika pikiran tidak sibuk dalam doa. Dan tidak heran; karena dalam doa, apa yang kita lakukan selain mencurahkan pikiran dan keinginan kita di hadapan Allah? Selanjutnya, karena doa adalah ibadah rohani kepada Allah, apa yang lebih bertentangan dengan sifatnya dari pada doa yang hanya berasal dari bibir, bukan dari jiwa / hati yang terdalam?] - hal 446.
Editor dari Calvin’s Commentary: “It must be observed, however, that the Apostle is here only supposing a case, such as that which frequently presented itself in the Church at Corinth; not that he would have it to be believed that it ever occurred in his own experiences. On the contrary, he avers that, whenever he engaged either in prayer or praise, it was in a way that was intelligible, and consequently profitable both to himself and others,” [= Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa sang Rasul di sini hanya mengasumsikan suatu kasus, seperti yang sering terjadi dalam Gereja di Korintus; bukan bahwa ia ingin orang percaya bahwa itu pernah terjadi dalam pengalaman pribadinya. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa setiap kali ia terlibat dalam doa atau pujian, itu dilakukan dengan cara yang bisa dimengerti, dan oleh karena itu bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain,] - hal 445 (footnote).
c) Ada bermacam-macam penafsiran / arti yang diberikan oleh para penafsir tentang kata ‘my spirit’ / ‘rohku’:
1. Itu menunjuk pada ‘Roh Kudus’.
Keberatan: dalam Kitab Suci, Roh Kudus tidak pernah disebut ‘rohku’.
2. Kata ‘roh’ bisa diterjemahkan ‘nafas’.
Jadi bagian ini menjadi ‘nafasku berdoa’. Maksudnya, pada saat ia berdoa, maka hanya nafas dan organ yang berhubungan dengan suaralah yang bekerja (sedangkan otaknya tidak).
3. Itu menunjuk pada ‘karunia rohani yang diberikan kepadaku’ (Calvin, hal 445).
Charles Hodge: “‘my spirit’ means ... the Holy Spirit as a manifestation; it is the way in which the Spirit manifests himself in me. In other words, it is my spiritual gift.” [= ‘rohku’ memiliki arti ... Roh Kudus sebagai manifestasi; ini adalah cara di mana Roh tersebut memanisfestasikan diri dalam diri saya. Dengan kata lain, ini adalah karunia rohani saya.] - ‘I & II Corinthians’, hal 288.
Hodge (hal 288-289) juga mendukung pandangannya ini dengan menunjuk pada ay 32 dimana kata ‘roh-roh nabi-nabi’ juga menunjuk pada Roh Kudus yang bermanifestasi dalam diri nabi tersebut (Catatan: kata-kata ‘karunia nabi’ dalam ay 32 salah terjemahan; seharusnya adalah ‘roh-roh nabi-nabi’).
Ay 32: “Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi.”.
KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: “spirits” [= roh-roh].
4. Itu menunjuk pada ‘perasaan dan kehendak’, yang dikontraskan dengan pikiran / pengertian.
d) Kata-kata ‘my mind is unfruitful / pikiranku tidak berbuah’ juga ditafsirkan secara beraneka ragam:
1. Otakku tidak mengerti apa yang aku doakan.
2. Otakku tidak bekerja / tidak berdoa (seperti Kitab Suci Indonesia).
3. Doa itu tidak berbuah dalam diri orang yang mendengar.
Charles Hodge: “It may mean, My understanding is not profited, gains no fruit; that is, I do not understand what I say. Though the words in themselves may have this meaning, this interpretation contradicts all those passages which teach that the speaker with tongues did understand himself. The words, therefore, must be understood to mean, ‘my understanding produces no fruit,’ i.e. it does not benefit others. ... Paul had, from the beginning, been urging his readers to have regard to the edification of the church, and he here says, that if he prayed in an unknown tongue, though he acted under the guidance of the Spirit, his prayer could not profit others. This interpretation is confirmed by vs. 16,17, as remarked above, where the same idea is expressed by saying, the unlearned could not say ‘Amen’ to such prayer. By ‘his understanding being unfruitful’ is therefore meant, that others did not understand what he said.” [= Ini bisa berarti, ‘Pemahaman saya tidak bermanfaat, tidak menghasilkan buah; dengan kata lain, saya tidak mengerti apa yang saya katakan.’ Meskipun kata-kata itu dalam dirinya sendiri mungkin memiliki makna ini, penafsiran ini bertentangan dengan semua ayat yang mengajarkan bahwa orang yang berbicara dengan bahasa roh benar-benar memahami dirinya sendiri. Oleh karena itu, kata-kata tersebut harus dipahami sebagai berarti, ‘pengertian saya tidak menghasilkan buah,’ artinya tidak memberikan manfaat kepada orang lain. ... Paulus sejak awal telah mendesak pembacanya untuk memperhatikan pembangunan / pendidikan gereja, dan di sini ia mengatakan bahwa jika ia berdoa dalam bahasa yang tidak dikenal, meskipun ia bertindak di bawah bimbingan Roh, doanya tidak dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Penafsiran ini diperkuat oleh ayat 16,17, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, di mana gagasan yang sama diungkapkan dengan mengatakan bahwa yang tidak terpelajar tidak bisa mengucapkan ‘Amin’ terhadap doa semacam itu. Karena itu, dengan ‘pemahaman yang tidak menghasilkan buah’ di sini berarti bahwa orang lain tidak mengerti apa yang dia katakan.] - ‘I & II Corinthians’, hal 287-288.
Catatan:
a. Saya tidak setuju dengan kata-kata Hodge yang saya beri warna hijau.
b. Kata ‘the unlearned’ [= yang tidak terpelajar] yang saya beri warna merah berasal dari terjemahan KJV.
Ay 16: “Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?”.
KJV/ASV/YLT: “the unlearned” [= orang yang tidak terpelajar].
RSV: “an outsider” [= orang luar].
NIV: “those who do not understand” [= mereka yang tidak mengerti].
NASB: “the ungifted” [= orang yang tidak berkarunia].
NKJV: “the uninformed” [= Orang yang tidak mempunyai informasi].
Cek dengan Bible Works 8.
e) Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa ay 14 ini adalah ayat yang sangat sukar. Tetapi sebetulnya penekanan dari ay 14 ini jelas yaitu: doa bahasa Roh adalah doa tanpa menggunakan otak, dan itu adalah salah!
Charles Hodge: “Though the general meaning of this verse is thus plain, it is the most difficult verse in the whole chapter.” [= Meskipun arti umum dari ayat ini jelas, ini adalah ayat yang paling sukar dalam seluruh pasal itu.] - ‘I & II Corinthians’, hal 287.
3) Ay 15:
“Jadi, apakah yang
harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa
juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi (dan memuji) dengan rohku,
tetapi aku akan menyanyi (dan memuji) juga dengan akal budiku.”.
a) Pembetulan terjemahan.
Ayat ini terjemahannya kurang tepat dalam 2 hal:
1. 2 x kata-kata ‘dan memuji’ yang saya letakkan dalam tanda kurung, sebetulnya tidak ada.
2. 2 x kata ‘rohku’ sebetulnya adalah ‘roh’.
NASB / Lit: ‘I shall pray with the spirit and I shall pray with the mind also; I shall sing with the spirit and I shall sing with the mind also’ [= Aku akan berdoa dengan roh dan aku akan berdoa dengan pikiran; aku akan menyanyi dengan roh dan aku akan menyanyi dengan pikiran juga].
Jadi, kalau dalam ay 14 memang dikatakan ‘my spirit / rohku’, maka pada ay 15 hanya dikatakan ‘the spirit / roh’ [kata ‘my’ {= ku} tidak ada].
b) ‘aku akan menyanyi’.
Charles Hodge: “‘I will sing.’ The word (ψαλλειν - PSALLEIN) means ‘to touch;’ then ‘to touch the cords’ of a stringed instrument, i.e. to play upon it; then to sing or chant in harmony with such instrument; and then to sing or chant. This last is its New Testament meaning. It appears from this as well as from other passages, that singing was from the beginning a part of Christian worship.” [= ‘Saya akan menyanyi.’ Kata (ψαλλειν - PSALLEIN) berarti ‘menyentuh’; kemudian ‘menyentuh tali / senar’ dari alat musik berdawai, yaitu memainkannya; kemudian menyanyi dalam keharmonisan dengan alat musik tersebut; dan kemudian menyanyi. Ini adalah maknanya dalam Perjanjian Baru. Terlihat dari ini, seperti juga dari ayat-ayat lainnya, bahwa menyanyi telah menjadi bagian dari ibadah Kristen sejak awal.] - ‘I & II Corinthians’, hal 290.
Catatan: Yesus hanya pernah sekali dikatakan menyanyikan lagu pujian dengan murid-muridNya, yaitu dalam Mat 26:30 / Mark 14:26.
Mat 26:30 - “Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-muridNya ke Bukit Zaitun.”.
Mark 14:26 - “Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.”.
c) Ada 2 penafsiran tentang kata ‘the spirit / roh’ dalam ay 15 ini:
1. Ini menunjuk kepada ‘rohku’ (ini seperti terjemahan Kitab Suci Indonesia maupun NIV).
2. Ini menunjuk kepada ‘Roh Kudus’.
Jadi, artinya: pada waktu Paulus berdoa dipimpin oleh Roh Kudus sekalipun, tetap saja ia memakai otaknya dalam berdoa.
d) Ayat ini jelas sekali menunjukkan perlunya penggunaan otak, baik dalam berdoa maupun dalam menyanyi! Otak harus betul-betul mengikuti kata-kata dalam doa / nyanyian yang dinaikkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi pada waktu orang berdoa atau menyanyi dalam bahasa Roh, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
Penerapan: Jaman sekarang kita bisa melihat dengan jelas bahwa ada banyak pemimpin liturgi, orang yang melakukan sharing, pemimpin doa, dan bahkan pengkhotbah yang sama sekali tidak menggunakan otak. Dari cara bicaranya dan apa yang mereka katakan, terlihat dengan jelas bahwa mereka hanya menuruti perasaannya dan mereka membuang pikirannya. Ini jelas tidak sesuai dengan ajaran Paulus di sini!
4) Ay 16-17: “(16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.”.
a) Ay 16a: ‘mengucap syukur’ [NIV: praise {= memuji}; NASB: bless {= memberkati}].
Ay 16b: ‘pengucapan syukur’ [NIV: thanksgiving {= pengucapan syukur}; NASB: giving of thanks {= mengucap syukur}].
Memang istilah ‘mengucap syukur’ dan ‘memuji / memberkati’ sering bisa dibolak-balik (interchangeable).
b) Ay 16-17 ini menunjukkan alasan mengapa orang memuji Tuhan / bersyukur kepada Tuhan dengan bahasa Roh itu adalah salah.
Catatan: pada saat itu orang itu berfungsi sebagai pemimpin doa dalam gereja.
Alasan 1:
1. Tradisi saat itu dalam melakukan persekutuan doa adalah: satu orang saja yang berdoa dengan suara yang keras, sedangkan jemaat mendengar dan mengikuti doa itu dalam hati / pikiran, lalu pada akhirnya mengaminkan doa itu.
Calvin: “there is no fellowship in prayer, unless when all with one mind unite in the same desires.” [= tidak ada persekutuan dalam doa, kecuali pada waktu semua dengan satu pikiran bersatu dalam keinginan-keinginan yang sama.] - hal 448
Calvin: “Paul’s expression, however, intimates (and presupposes), that some one of the ministers uttered or pronounced prayers in a distinct voice, and that the whole assembly followed in their minds the words of that one person, until he had come to a close, and they all said ‘Amen’ - to intimate, that the prayer offered up by that one person was that of all of them in common.” [= ungkapan Paulus menunjukkan (dan mensyaratkan) bahwa salah seorang pendeta menaikkan doa dengan suara yang jelas dan seluruh jemaat mengikuti dalam pikiran mereka kata-kata dari orang itu, sampai ia selesai, dan mereka semua berkata ‘Amin’ - untuk menunjukkan bahwa doa yang dinaikkan oleh satu orang itu adalah doa mereka semua.] - hal 448.
Hal ini juga terlihat dari:
a. 1Taw 16:7-36.
1Taw 16:7-36 - “(7) Kemudian pada hari itu juga, maka Daud untuk pertama kali menyuruh Asaf dan saudara-saudara sepuaknya menyanyikan syukur bagi TUHAN: (8) Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah namaNya, perkenalkanlah perbuatanNya di antara bangsa-bangsa! (9) Bernyanyilah bagiNya, bermazmurlah bagiNya, percakapkanlah segala perbuatanNya yang ajaib! (10) Bermegahlah di dalam namaNya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! (11) Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu! (12) Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukanNya, mujizat-mujizatNya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkanNya, (13) hai anak cucu Israel, hambaNya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihanNya! (14) Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukumanNya. (15) Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjianNya, akan firman yang diperintahkanNya kepada seribu angkatan, (16) yang diikatNya dengan Abraham, dan akan sumpahNya kepada Ishak, (17) diadakanNya bagi Yakub menjadi ketetapan, bagi Israel menjadi perjanjian kekal, (18) firmanNya: ‘Kepadamu akan Kuberi tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu.’ (19) Ketika jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana, (20) dan mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dan dari kerajaan yang satu ke suku bangsa yang lain, (21) Ia tidak membiarkan siapapun memeras mereka; dihukumNya raja-raja oleh karena mereka: (22) ‘Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabiKu!’ (23) Bernyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi, kabarkanlah keselamatan yang dari padaNya dari hari ke hari. (24) Ceritakanlah kemuliaanNya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa. (25) Sebab besar TUHAN dan terpuji sangat, dan lebih dahsyat Ia dari pada segala allah. (26) Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit. (27) Keagungan dan semarak ada di hadapanNya, kekuatan dan sukacita ada di tempatNya. (28) Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! (29) Berilah kepada TUHAN kemuliaan namaNya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan. (30) Gemetarlah di hadapanNya hai segenap bumi; sungguh tegak dunia, tidak bergoyang. (31) Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: ‘TUHAN itu Raja!’ (32) Biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, (33) maka pohon-pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. (34) Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya. (35) Dan katakanlah: ‘Selamatkanlah kami, ya TUHAN Allah, Penyelamat kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada namaMu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepadaMu.’ (36) Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: ‘Amin! Pujilah TUHAN!’”.
Dalam ay 7 ditunjukkan bahwa beberapa orang memimpin nyanyian (dalam menyanyi bisa saja beberapa orang menyanyi bersama-sama, tetapi dalam berdoa tidak!); nyanyian itu ada dalam ay 8-36a, lalu pada ay 36b jemaat mengucapkan ‘amin’.
b. Maz 106:1-48.
Maz 106:1-48 - “(1) Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya. (2) Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan TUHAN, memperdengarkan segala pujian kepadaNya? (3) Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu! (4) Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umatMu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari padaMu, (5) supaya aku melihat kebaikan pada orang-orang pilihanMu, supaya aku bersukacita dalam sukacita umatMu, dan supaya aku bermegah bersama-sama milikMu sendiri. (6) Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, telah berbuat fasik. (7) Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatanMu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setiaMu, tetapi mereka memberontak terhadap Yang Mahatinggi di tepi Laut Teberau. (8) Namun diselamatkanNya mereka oleh karena namaNya, untuk memperkenalkan keperkasaanNya. (9) DihardikNya Laut Teberau, sehingga kering, dibawaNya mereka berjalan melalui samudera raya seperti melalui padang gurun. (10) Demikian diselamatkanNya mereka dari tangan pembenci, ditebusNya mereka dari tangan musuh; (11) air menutupi para lawan mereka, seorangpun dari pada mereka tiada tinggal. (12) Ketika itu percayalah mereka kepada segala firmanNya, mereka menyanyikan puji-pujian kepadaNya. (13) Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatanNya, dan tidak menantikan nasihatNya; (14) mereka dirangsang nafsu di padang gurun, dan mencobai Allah di padang belantara. (15) DiberikanNya kepada mereka apa yang mereka minta, dan didatangkanNya penyakit paru-paru di antara mereka. (16) Mereka cemburu kepada Musa di perkemahan, dan kepada Harun, orang kudus TUHAN. (17) Bumi terbuka dan menelan Datan, menutupi kumpulan Abiram. (18) Api menyala di kalangan mereka, nyala api menghanguskan orang-orang fasik itu. (19) Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; (20) mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput. (21) Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir: (22) perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau. (23) Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihanNya, tidak mengetengahi di hadapanNya, untuk menyurutkan amarahNya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka. (24) Mereka menolak negeri yang indah itu, tidak percaya kepada firmanNya. (25) Mereka menggerutu di kemahnya dan tidak mendengarkan suara TUHAN. (26) Lalu Ia mengangkat tanganNya terhadap mereka untuk meruntuhkan mereka di padang gurun, (27) dan untuk mencerai-beraikan anak cucu mereka ke antara bangsa-bangsa, dan menyerakkan mereka ke pelbagai negeri. (28) Mereka berpaut pada Baal Peor, dan memakan korban-korban sembelihan bagi orang mati. (29) Mereka menyakiti hatiNya dengan perbuatan mereka, maka timbullah tulah di antara mereka. (30) Tetapi Pinehas berdiri dan menjalankan hukum, maka berhentilah tulah itu. (31) Hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai jasa turun-temurun, untuk selama-lamanya. (32) Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka; (33) sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan kata-katanya. (34) Mereka tidak memunahkan bangsa-bangsa, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada mereka, (35) tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa, dan belajar cara-cara mereka bekerja. (36) Mereka beribadah kepada berhala-berhala mereka, yang menjadi perangkap bagi mereka. (37) Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, (38) dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah. (39) Mereka menajiskan diri dengan apa yang mereka lakukan, dan berzinah dalam perbuatan-perbuatan mereka. (40) Maka menyalalah murka TUHAN terhadap umatNya, dan Ia jijik kepada milikNya sendiri. (41) DiserahkanNyalah mereka ke tangan bangsa-bangsa, sehingga orang-orang yang membenci mereka berkuasa atas mereka. (42) Mereka diimpit oleh musuhnya, sehingga takluk ke bawah kuasanya. (43) Banyak kali dilepaskanNya mereka, tetapi mereka bersikap memberontak dengan rencana-rencana mereka, tenggelam dalam kesalahan mereka. (44) Namun Ia menilik kesusahan mereka, ketika Ia mendengar teriak mereka. (45) Ia ingat akan perjanjianNya karena mereka, dan menyesal sesuai dengan kasih setiaNya yang besar. (46) DiberiNya mereka mendapat rahmat dari pihak semua orang yang menawan mereka. (47) Selamatkanlah kami, ya TUHAN, Allah kami, dan kumpulkanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada namaMu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepadaMu. (48) Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, dan biarlah seluruh umat mengatakan: ‘Amin!’ Haleluya!”.
Sekalipun tidak disebutkan, tetapi dari kata-kata dalam mazmur ini terlihat bahwa itu adalah suatu doa. Pada ay 48b (pada akhir dari doa itu) maka semua jemaat mengucapkan ‘amin’.
c. Ul 27:14-26.
Ul 27:14-26 - “(14) Maka haruslah orang-orang Lewi mulai bicara dan mengatakan kepada seluruh orang Israel dengan suara nyaring: (15) Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi TUHAN, buatan tangan seorang tukang, dan yang mendirikannya dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah menjawab: Amin! (16) Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (17) Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (18) Terkutuklah orang yang membawa seorang buta ke jalan yang sesat. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (19) Terkutuklah orang yang memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (20) Terkutuklah orang yang tidur dengan isteri ayahnya, sebab ia telah menyingkapkan punca kain ayahnya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (21) Terkutuklah orang yang tidur dengan binatang apapun. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (22) Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak ayah atau anak ibunya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (23) Terkutuklah orang yang tidur dengan mertuanya perempuan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (24) Terkutuklah orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! (25) Terkutuklah orang yang menerima suap untuk membunuh seseorang yang tidak bersalah. Dan seluruh bangsa itu harus berkata: Amin! (26) Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!’”.
Ini adalah pembacaan Firman Tuhan / ayat Kitab Suci. Beberapa orang membacakannya (ay 14), dan setiap ayat ditutup dengan ‘amin’ oleh seluruh jemaat.
Penerapan:
(1) Ini menunjukkan bahwa ‘doa bersuara’ (‘persekutuan’ doa dimana semua orang berdoa sendiri-sendiri dengan suara keras) adalah sesuatu yang bukan merupakan ajaran Kitab Suci!
Waktu Yesus berdoa ia berdoa pada sangat pagi, dan Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa.
Mark 1:35 - “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”.
TujuanNya jelas supaya bisa lebih berkonsentrasi. Tetapi orang-orang yang melakukan ‘doa bersuara’ (juga yang berdoa diiringi alat musik) justru membuat keributan pada saat doa, yang sangat menyukarkan orang untuk berkonsentrasi dalam doa!
(2) Dalam memilih orang yang berdoa, kita harus memilih orang yang mempunyai suara cukup keras, dan juga orang yang bisa berdoa dengan terarah (bukan yang doanya mbulet / ruwet tidak karuan), supaya doanya bisa diikuti dan diaminkan oleh semua jemaat.
2. Dengan tradisi seperti ini, maka kalau pemimpin doa menaikkan doa dengan menggunakan bahasa Roh, maka jemaat jelas tidak bisa mengaminkan, karena mereka tidak mengerti apa yang didoakan.
Charles Hodge: “the very thing here prohibited is praying in public in a language which the people do not understand.” [= hal yang dilarang di sini adalah berdoa di depan umum dalam suatu bahasa yang tidak dimengerti oleh orang-orang (yang hadir).] - ‘I & II Corinthians’, hal 291.
Penerapan:
a. Jangan menyuruh misionaris / orang asing yang tidak bisa menggunakan bahasa setempat untuk memimpin doa dalam gereja! Ini menyebabkan jemaat tidak bisa mengikuti doanya.
b. Penggunaan doa dalam bahasa Latin dalam gereja Katolik juga merupakan sesuatu yang salah. Demikian juga penggunaan macam-macam bahasa seperti Arab, Ibrani, Yunani, dan Aram, dalam Gereja Orthodox Syria (versi Bambang Noorsena). Demonstrasi penggunaan macam-macam bahasa tanpa penterjemahan dalam kebaktian, jelas merupakan sesuatu yang bertentangan dengan text ini.
c. Gereja-gereja yang khotbahnya diterjemahkan (Tionghoa-Indonesia atau Jawa-Indonesia dsb) seringkali tidak menterjemahkan doanya, sehingga doa dalam kebaktian dinaikkan dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh banyak jemaat. Ini jelas juga salah.
Alasan 2:
Ay 17 menunjukkan bahwa sekalipun pengucapan syukur dari orang yang berdoa itu sangat baik, tetapi itu tidak membangun jemaat, karena mereka tidak mengerti.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali