(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tanggal 22 Agustus 2023, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Ciri-ciri kesembuhan biasa:
1) Kesembuhan itu tidak terjadi seketika, tetapi melalui suatu proses.
2) Adanya penggunaan hal-hal yang secara medis memang bisa memberikan kesembuhan seperti: dokter, obat, diet, makanan bergizi, istirahat, olah raga, perubahan cara hidup, berhenti merokok, dsb.
Perlu diketahui bahwa berbeda dengan pandangan / ajaran banyak orang Pentakosta / Kharismatik yang mengatakan bahwa dokter / obat itu dilarang dan bertentangan dengan iman, Kitab Suci tidak menentang penggunaan dokter / obat. Ini terlihat dari:
a) Yak 5:14 - “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.”.
Ini adalah kebiasaan Yahudi pada saat itu dan dilakukan oleh murid-murid Yesus pada saat itu dalam Mark 6:13 - “dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”.
Ada beberapa pandangan tentang arti ‘pengolesan minyak’ di sini:
1. Roma Katolik.
Ini dijadikan dasar dari sakramen perminyakan, yang diberikan oleh pastor kepada orang yang mau mati dan tujuannya adalah untuk mempersiapkan orang menghadapi kematian.
Pandangan ini jelas tidak cocok dengan text ini karena Yakobus memerintahkan hal itu dengan tujuan supaya orang itu sembuh, bukan untuk mempersiapkan orang itu menghadapi kematian.
2. Calvin.
Ini adalah sakramen sementara. Minyak menunjuk pada karunia kesembuhan dan karena karunia kesembuhan dianggap sudah lenyap, maka Calvin berpendapat bahwa sakramen sementara itu juga harus dibuang.
Kelemahan pandangan ini:
a. Tidak ada dasar untuk menganggap ini sebagai sakramen, karena tidak diperintahkan langsung oleh Kristus.
b. Kata bahasa Yunani yang digunakan di sini adalah ALEIPHO, yang berarti ‘mengoles dengan minyak / meminyaki’.
A. T. Robertson (hal 65) mengatakan bahwa kata ini digunakan kalau hal pemberian minyak itu dilakukan bukan dalam upacara agama.
Kalau dalam upacara agama, digunakan kata Yunani KHRIO [= to anoint / mengurapi].
Dari kata ini didapatkan kata KHRISTOS [= Kristus / yang diurapi].
Jadi, pemberian minyak ini tidak mungkin dianggap sebagai sakramen. Hal yang sama terjadi dalam Mark 6:13 - “dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.”.
Catatan: baik untuk Yak 5:14 maupun Mark 6:13 boleh dikatakan semua Kitab Suci bahasa Inggris menterjemahkan ‘anoint’. Sekalipun kata ini biasanya diterjemahkan ‘mengurapi’ (secara agamawi), tetapi tidak harus demikian. Webster’s New World Dictionary memberikan arti lain yaitu ‘to pour or rub oil’ [= mencurahkan atau menggosokkan minyak].
Bagaimanapun, baik dalam Yak 5:14 maupun dalam Mark 6:13, saya lebih memilih terjemahan Kitab Suci Indonesia (‘mengoles’) dari pada Kitab Suci bahasa Inggris!
c. Pengolesan dengan minyak ini berhubungan dengan karunia kesembuhan.
Matthew Henry: “In the times of miraculous healing, the sick were to be anointed with oil in the name of the Lord. Expositors generally confine this anointing with oil to such as had the power of working miracles; and, when miracles ceased, this institution ceased also. In Mark’s gospel we read of the apostle’s anointing with oil many that were sick, and healing them, Mark 6:13. And we have accounts of this being practiced in the church two hundred years after Christ; but then the gift of healing also accompanied it, and, when the miraculous gift ceased, this rite was laid aside.” [= Pada jaman penyembuhan secara mujijat, orang sakit harus diurapi / diolesi dengan minyak dalam nama Tuhan. Para penafsir pada umumnya membatasi pengurapan / pengolesan dengan minyak ini kepada orang-orang yang mempunyai kuasa untuk melakukan mujijat-mujijat; dan, pada waktu mujijat-mujijat berhenti, kebiasaan / praktek / hukum ini juga berhenti. Dalam injil Markus kita membaca tentang pengurapan / pengolesan dengan minyak yang dilakukan oleh rasul terhadap banyak orang sakit, dan menyembuhkan mereka, Mark 6:13. Dan kami mempunyai laporan / cerita tentang praktek ini yang dilakukan dalam gereja 200 tahun setelah Kristus; tetapi pada saat itu karunia kesembuhan juga menyertainya, dan pada waktu karunia yang bersifat mujijat itu berhenti, upacara ini disingkirkan.].
Keberatan:
Apa dasarnya untuk mengatakan bahwa karunia kesembuhan / bersifat mujijat sudah berhenti?
1Kor 13:8-10 - “(8) Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. (9) Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. (10) Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.”.
Saya berpendapat bahwa saat yang dibicarakan dalam ay 8,10 ini adalah akhir jaman / kedatangan Kristus yang keduakalinya / saat kita masuk surga. Jadi, bahasa Roh, nubuat, dan semua karunia yang bersifat mujijat, akan terus ada sampai saat itu.
d. Minyak adalah obat (bdk. Yes 1:6 dan Luk 10:34).
Yes 1:6 - “Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat: bengkak dan bilur dan luka baru, tidak dipijit dan tidak dibalut dan tidak ditaruh minyak.”.
Luk 10:34 - “Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.”.
A. T. Robertson: “The use of olive oil was one of the best remedial agencies known to the ancients. They used it internally and externally. Some physicians prescribe it today. It is clear both in Mark 6:13 and here that medicinal value is attached to the use of the oil and emphasis is placed on the worth of prayer. There is nothing here of the pagan magic or of the later practice of ‘extreme unction’ (after the eighth century). It is by no means certain that aleifoo here and in Mark 6:13 means ‘anoint’ in a ceremonial fashion rather than ‘rub’ as it commonly does in medical treatises. Trench (New Testament Synonyms) says: ‘Aleifein is the mundane and profane, chriein the sacred and religious, word.’ At bottom in James we have God and medicine, God and the doctor, and that is precisely where we are today. The best physicians believe in God and want the help of prayer.” [= Penggunaan minyak zaitun adalah salah satu cara / alat pengobatan terbaik yang dikenal bagi orang-orang kuno. Mereka menggunakannya baik dari dalam / diminum maupun dari luar / digosokkan. Sebagian dokter menuliskan resep untuk itu pada jaman sekarang. Adalah jelas dari baik dalam Mark 6:13 dan di sini (Yak 5:14) bahwa nilai pengobatan dilekatkan pada penggunaan minyak dan penekanan diletakkan pada nilai dari doa. Tidak ada apapun di sini tentang magic dari orang kafir atau tentang praktek belakangan dari sakramen perminyakan (setelah abad 8). Adalah sama sekali tidak pasti bahwa ALEIFOO di sini dan dalam Mark 6:13 berarti ‘mengurapi’ dalam suatu cara / mode yang bersifat upacara dan bukannya ‘menggosok’ seperti yang biasanya dilakukan dalam penanganan medis. Trench (Sinonim Perjanjian Baru) mengatakan ‘ALEIFEN adalah kata yang bersifat biasa dan duniawi, CHRIEIN adalah kata yang bersifat kudus dan agamawi’. Pada hakekatnya dalam Yakobus kita mendapati Allah dan obat, Allah dan dokter, dan itu adalah persis dimana kita ada pada jaman ini. Dokter-dokter yang terbaik percaya kepada Allah dan membutuhkan pertolongan dari doa.].
Adam Clarke: “Oil was and is frequently used in the east as a means of cure in very dangerous diseases; and in Egypt it is often used in the cure of the plague. Even in Europe it has been tried with great success in the cure of dropsy. And pure olive oil is excellent for recent wounds and bruises; and I have seen it tried in this way with the best effects. ... it was the custom of the Jews to apply it as a means of healing, and that St. James refers to this custom, is not only evident from the case of the wounded man ministered to by the good Samaritan, Luke 10:34, but from the practice of the Jewish rabbins. ... here I am satisfied that it has no other meaning than as natural means of restoring health; and that St. James desires them to use natural means while looking to God for an especial blessing.” [= Baik dulu maupun sekarang minyak sering digunakan di Timur sebagai cara penyembuhan dalam penyakit-penyakit yang sangat berbahaya; dan di Mesir minyak sering digunakan dalam penyembuhan dari wabah / penyakit pes. Bahkan di Eropah minyak telah dicoba dengan sukses yang besar dalam penyembuhan dari penyakit dropsy. Dan minyak zaitun murni sangat bagus untuk luka dan memar yang baru terjadi; dan saya telah melihat bahwa minyak dicoba dengan cara ini dengan hasil yang terbaik. ... merupakan kebiasaan dari orang-orang Yahudi untuk menggunakan minyak sebagai cara penyembuhan, dan bahwa Santo Yakobus menunjuk pada kebiasaan ini, bukan hanya jelas dari kasus dari orang terluka yang dilayani oleh orang Samaria yang baik, Lukas 10:34, tetapi juga dari praktek dari rabi-rabi Yahudi. ... di sini saya tidak ragu-ragu bahwa minyak tidak mempunyai arti lain dari pada sebagai cara alamiah untuk memulihkan kesehatan; dan bahwa Santo Yakobus ingin supaya mereka menggunakan cara-cara alamiah sementara memandang kepada Allah untuk suatu berkat yang khusus.] - hal 827.
Catatan:
(1) ‘Dropsy’ adalah suatu penyakit yang menimbulkan pengumpulan cairan serum yang abnormal dalam rongga-rongga atau jaringan tubuh - Webster’s New World Dictionary.
(2) Sekalipun dikatakan bahwa minyak berfungsi sebagai obat, tetapi jelas bukan dalam arti seperti minyak urapan yang digunakan oleh Yesaya Pariaji!
(3) Sekalipun kata-kata dalam ay 14 berbunyi ‘mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan’, itu tidak berarti bahwa ini merupakan upacara agamawi.
Barnes’ Notes: “‘In the name of the Lord.’ By the authority or direction of the Lord; or as an act in accordance with his will, and that will meet with his approbation. When we do anything that tends to promote virtue, to alleviate misery, to instruct ignorance, to save life, or to prepare others for heaven, it is right to feel that we are doing it in the name of the Lord. Compare, for such uses of the phrase ‘in the name of the Lord,’ and ‘in my name,’ Matt 10:22; 18:5,20; 19:29; 24:9; Mark 9:41; 13:13; Luke 21:12,17; Rev 2:3; Col 3:17. There is no reason to think that the phrase is used here to denote any peculiar religious rite or ‘sacrament.’ It was to be done in the name of the Lord, as any other good deed is.” [= ‘Dalam nama Tuhan’. Oleh otoritas atau pengarahan dari Tuhan; atau sebagai suatu tindakan sesuai dengan kehendakNya, dan itu akan mendapatkan penerimaanNya. Pada waktu kita melakukan apapun yang cenderung untuk memajukan kebaikan, mengurangi kesengsaraan, mengajar ketidak-tahuan / kebodohan, menyelamatkan kehidupan / nyawa, atau mempersiapkan orang-orang lain untuk surga, adalah benar untuk merasa bahwa kita sedang melakukannya dalam nama Tuhan. Bandingkan, untuk penggunaan-penggunaan seperti itu dari ungkapan-ungkapan ‘dalam nama Tuhan’, dan ‘dalam namaKu’, Mat 10:22; 18:5,20; 19:29; 24:9; Mark 9:41; 13:13; Luk 21:12,17; Wah 2:3; Kol 3:17. Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa ungkapan yang digunakan di sini menunjukkan upacara agamawi khusus apapun, atau ‘sakramen’. Itu harus dilakukan dalam nama Tuhan, seperti perbuatan-perbuatan baik lainnya juga demikian.].
Kalau minyak memang berfungsi sebagai obat, lalu untuk apa orang yang sakit disuruh memanggil penatua? Pertama, mereka disuruh memanggil penatua, bukan tabib, mungkin karena pada umumnya orang Kristen abad-abad awal sangat miskin. Jadi, obatnya adalah bantuan dari penatua / gereja. Kedua, selain memberi obat untuk si sakit, penatua juga berdoa untuknya (ay 14).
Kalau pandangan bahwa minyak adalah obat ini yang diambil, maka jelas bahwa praktek pengolesan dengan minyak sudah tidak perlu lagi dilakukan pada jaman ini. Penatua bisa memberi obat yang lain. Dan tentu saja kalau orangnya tidak miskin, tidak perlu penatua yang memberi obat. Jadi, dalam menafsirkan bagian ini, kontextualisasi sangat dibutuhkan!
Satu hal yang harus dipikirkan adalah: mengapa mereka yang sakit itu tidak disuruh memanggil seorang ‘penyembuh’???
b) Mat 9:12 - “Yesus mendengarnya dan berkata: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”.
Dari sini terlihat dengan jelas bahwa Yesus sendiri tidak menentang penggunaan tabib / dokter untuk orang sakit.
c) 1Tim 5:23 - “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.”.
Ini merupakan nasehat dari rasul Paulus kepada Timotius yang sakit. Aneh sekali bahwa Paulus yang jelas mempunyai karunia kesembuhan itu, ternyata tidak menyembuhkan Timotius secara mujizat, tetapi menyuruhnya menggunakan anggur sebagai obat!
d) Lukas adalah tabib (Kol 4:14).
Kol 4:14 - “Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.”.
Kalau orang kristen tidak boleh menggunakan dokter / obat, maka jelas bahwa dokter / tabib dan penjual obat semuanya harus bertobat. Tetapi sekalipun Lukas adalah seorang tabib, ia tidak pernah dikecam atau disuruh bertobat.
Kalaupun hal-hal yang secara medis bisa memberikan kesembuhan tersebut di atas digabungkan dengan doa, sehingga lalu terjadi kesembuhan yang luar biasa cepatnya, itu tetap merupakan kesembuhan biasa!
Kalau dikatakan bahwa ini adalah kesembuhan biasa, itu tidak berarti bahwa itu tidak datang dari Tuhan! Kesembuhan ini tetap datang dari Tuhan, tetapi Tuhan menggunakan hal-hal tertentu untuk menyembuhkan. Jadi, Tuhan menyembuhkan secara tidak langsung.
Setiap kali kita sakit, selain kita harus berdoa, kita juga harus menggunakan hal-hal tersebut di atas untuk mendapatkan kesembuhan biasa ini!
Ada banyak penyakit yang ditimbulkan / diperparah / dikambuhkan oleh hal-hal yang bersifat psikologis seperti takut, kuatir, marah, sedih, benci / dendam, stress, dsb.
Dalam Amsal 17:22 dikatakan bahwa ‘hati yang gembira adalah obat yang manjur’. Ini tentu tidak berlaku untuk semua penyakit! Misalnya bagaimanapun orang yang menderita patah tulang bergembira, ia tidak akan disembuhkan oleh kegembiraannya itu! Jadi, ayat ini hanya berlaku untuk penyakit-penyakit yang memang disebabkan oleh hal-hal yang bersifat psikologis.
Di dalam suatu kebaktian kesembuhan, selalu diadakan pembangkitan emosi menggunakan musik yang keras, nyanyian yang diulang-ulang, kata-kata chairman / pengkotbah yang menggerakkan emosi, bahasa lidah, self-suggestion tentang ‘iman’ (penyugestian diri sendiri bahwa dirinya akan sembuh / sudah sembuh), dsb.
Hal-hal ini memang bisa menyebabkan terjadinya kesembuhan secara psikologis terhadap penyakit-penyakit yang memang disebabkan oleh hal-hal psikologis itu! Tetapi, begitu emosi turun (kembali seperti semula), penyakitnya akan kembali / kambuh lagi. Karena itu, ini pada hakekatnya bukan suatu kesembuhan. Ini hanya kesembuhan semu saja!
A) Ada yang menggunakan benda-benda:
1) Benda milik si penyembuh, seperti:
a) Jubah Yesus (Mat 9:20-22 Mat 14:34-36).
Mat 9:20-22 -
“(20)
Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas
tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan
menjamah jumbai jubahNya. (21) Karena katanya dalam hatinya: ‘Asal kujamah saja
jubahNya, aku akan sembuh.’ (22) Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta
berkata: ‘Teguhkanlah hatimu, hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan
engkau.’ Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.”.
b) Sapu tangan / kain Paulus (Kis 19:12).
Kis 19:12 - “bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat.”.
Ayat-ayat Kitab Suci ini dipakai sebagai dasar oleh sebagian orang Kharismatik untuk melakukan hal yang serupa!
Contoh:
1. Penginjil Televisi dari Amerika Serikat, Oral Roberts, pernah membagikan 6 juta kantong plastik berisi air kepada semua pengikutnya di seluruh Amerika, dan lalu dalam siaran TV ia mengajak mereka bersama-sama untuk memecahkan kantong plastik itu pada bagian tubuh yang sakit untuk menyembuhkannya.
2. John F. MacArthur, Jr. menceritakan dalam bukunya bahwa ia pernah menerima ‘miracle prayer cloth’ [= kain doa mujizat], dan bersama dengan kain doa mujizat itu ada suatu pesan yang berbunyi:
“Take this special miracle prayer cloth and put it under your pillow and sleep on it tonight. Or you may want to place it on your body or on a loved one. Use it as a release point wherever you hurt. First thing in the morning send it back to me in the green envelope. Do not keep this prayer cloth; return it to me. I’ll take it, pray over it all night. Miracle power will flow like a river. God has something better for you, a special miracle to meet your needs.” [= Ambillah kain doa mujizat yang spesial ini dan letakkanlah di bawah bantalmu dan tidurlah di atasnya malam ini. Atau engkau dapat meletakkannya pada tubuhmu atau pada orang yang engkau cintai. Gunakanlah untuk mengurangi rasa sakit dimanapun engkau merasa sakit. Hal pertama yang harus engkau lakukan pada esok pagi adalah mengirimkannya kembali kepada saya di dalam amplop hijau. Janganlah menahan / menyimpan kain doa ini; kembalikanlah kepada saya. Saya akan mengambilnya, mendoakannya sepanjang malam. Kuasa mujizat akan mengalir seperti sungai. Allah mempunyai sesuatu yang lebih baik untuk engkau, suatu mujizat spesial yang sesuai untuk kebutuhan-kebutuhanmu.] - ‘The Charismatics’, p 130.
Ingat, bahwa sekalipun dalam Kitab Suci pernah terjadi kesembuhan melalui benda seperti jubah Yesus atau sapu tangan Paulus, tetapi Kitab Suci tidak pernah memerintahkan siapapun juga untuk melakukan hal itu!
Hal yang harus diperhatikan adalah: Kitab Suci tidak pernah menyuruh / mengijinkan untuk menggunakan benda apapun sebagai jimat. Ini perlu diwaspadai karena adanya gereja di Indonesia yang memberikan sapu tangan yang sudah didoakan untuk disimpan oleh jemaatnya (mirip dengan cerita John F. MacArthur, Jr. di atas). Ini sudah termasuk jimat, dan tentu saja tidak alkitabiah!
2) Benda-benda yang secara medis tidak bisa menyembuhkan.
Contoh: Dalam Yoh 9:6-7 Yesus menggunakan ludahnya yang diaduk dengan tanah untuk menyembuhkan orang buta. Secara medis, ini bukan saja mustahil untuk menyembuhkan orang buta, tetapi bahkan orang melekpun akan menjadi buta kalau diberi ‘obat’ seperti itu!
Ini berbeda dengan penggunaan obat dalam kesembuhan biasa, karena obat memang bisa memberi kesembuhan (secara medis).
B) Ada yang menggunakan perintah ‘Dalam nama Yesus....’.
Contoh: Kis 3:6 Kis 9:34 dsb.
Kis 3:6 - “Tetapi Petrus berkata: ‘Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!’”.
Kis 9:34 - “Kata Petrus kepadanya: ‘Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!’ Seketika itu juga bangunlah orang itu.”.
Orang-orang anti Kharismatik menganggap ini sebagai karunia kesembuhan dan mereka beranggapan bahwa hal ini tidak ada lagi jaman ini.
Dasar anggapan ini:
1) Itu adalah karunia untuk membuktikan kenabian / kerasulan dan juga membuktikan bahwa mereka betul-betul menyampaikan Firman Tuhan (Kel 19:9 2Raja 5:8 Maz 74:9 Mat 9:6 Yoh 3:2 Yoh 6:14 Kis 4:16 Kis 14:3 2Kor 12:12 Ibr 2:3-4).
Kel 19:9 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu.’ Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN.”.
2Raja 5:8 - “Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: ‘Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel.’”.
Maz 74:9 - “Tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada lagi nabi, dan tidak ada di antara kami yang mengetahui berapa lama lagi.”.
Mat 9:6 - “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa’ - lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu - : ‘Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!’”.
Yoh 3:2 - “Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: ‘Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.’”.
Yoh 6:14 - “Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakanNya, mereka berkata: ‘Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.’”.
Kis 14:3 - “Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karuniaNya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.”.
2Kor 12:12 - “Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa.”.
Ibr 2:3-4 - “(3) bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan (4) Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikanNya menurut kehendakNya.”.
Karena itulah mereka beranggapan bahwa hal itu tidak ada lagi pada saat ini.
Tanggapan saya:
a) Tidak ada satupun ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa karunia kesembuhan sudah tidak ada lagi.
b) Ayat-ayat seperti Kis 14:3 2Kor 12:12 Ibr 2:3,4 tidak berkata bahwa itu adalah satu-satunya tujuan pemberian karunia itu.
John Stott mengatakan: “And the major purpose of miracles was to authenticate each fresh stage of revelation.” [= Dan tujuan utama dari mujizat adalah untuk membuktikan / mengesahkan setiap tahap wahyu yang baru.] - ‘Baptism and Fullness’, hal 97.
Ini jelas menunjukkan bahwa ada tujuan sekunder dari mujizat.
Dan Thomas R. Edgar mengatakan:
“It is also clear that miracles were performed primarily to confirm the gospel and only secondarily for the benefit of the recepients.” [= Juga jelas bahwa mujizat dilakukan pertama-tama untuk meneguhkan Injil dan hanya secara sekunder untuk keuntungan si penerima mujizat.] - ‘Miraculous Gifts’, hal 99.
Jadi, bisa saja bahwa pada jaman ini karunia itu diberikan dengan tujuan yang lain.
c) Kalau dulu Allah memberikan karunia itu dengan tujuan membuktikan kerasulan / kenabian, itu tidak berarti bahwa sekarang Allah tidak bisa memberikan dengan tujuan yang lain.
Yesus sering menyembuhkan karena belas kasihan (Mat 14:14 Mark 1:41-42 Luk 7:13-14); juga Ia pernah menyembuhkan karena itu adalah perbuatan baik (Mat 12:9-13).
Mat 14:14 - “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.”.
Mat 12:9-13 - “(9) Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka. (10) Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepadaNya: ‘Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?’ Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. (11) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: ‘Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? (12) Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat.’ (13) Lalu kata Yesus kepada orang itu: ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain.”.
Jadi, tidak mungkinkah pada jaman ini Allah memberikan karunia kesembuhan dengan tujuan yang seperti itu?
d) Dalam 1Kor 12:9,30 tidak kelihatan bahwa karunia ini hanya untuk rasul saja, karena kata ‘seorang’ / ‘yang lain’ dalam 1Kor 12:9 tidak mesti menunjuk kepada seorang rasul. Jadi jelas bahwa karunia ini tidak dimonopoli oleh rasul-rasul saja!
1Kor 12:9 - “Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.”.
e) Misionaris-misionaris yang melayani di daerah-daerah dimana kekristenan sama sekali tidak dikenal, bisa saja diberi karunia kesembuhan oleh Tuhan untuk membuktikan bahwa mereka memang utusan Tuhan.
2) Dalam Yak 5:14-16, Tuhan sudah memberitahu apa yang Ia kehendaki untuk kita lakukan pada waktu kita sakit. Kita harus memanggil tua-tua, yang akan berdoa dan memberi obat (minyak). Mengapa Tuhan tidak menyuruh kita untuk pergi kepada orang yang mempunyai karunia kesembuhan? Karena karunia kesembuhan sudah tidak ada lagi.
Tanggapan saya:
Ini hanya cara yang umum. Ini tidak berarti bahwa tidak ada cara yang khusus, dan ini tidak berarti bahwa karunia kesembuhan sudah tidak ada lagi.
3) Dalam Kitab Suci, yang melakukan kesembuhan hanyalah rasul-rasul dan orang-orang di sekitarnya / orang dalam kalangan rasul, seperti Barnabas (Kis 14:3), Stefanus (Kis 6:8), dan Filipus (Kis 8:6-7).
Kis 14:3 - “Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karuniaNya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.”.
Kis 6:8 - “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.”.
Kis 8:6-7 - “(6) Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. (7) Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.”.
Tanggapan saya:
a) Tidak diceritakan tidak berarti tidak ada (bdk. Luk 9:49).
‘Argument from silence’ [= argumentasi dari ke-diam-an] tidak mempunyai kekuatan!
b) 1Kor 12:9,30 menunjukkan bahwa karunia itu tidak hanya untuk rasul-rasul (kata ‘seorang’ / ‘yang lain’ tidak berarti rasul).
Kesimpulan:
Saya beranggapan bahwa karunia kesembuhan masih tetap ada. Tetapi perlu juga diingat bahwa sama seperti bahasa Roh, jaman sekarang ada banyak karunia kesembuhan, yang sekalipun menggunakan nama Yesus, tetapi merupakan karunia kesembuhan yang palsu (bdk. Mat 7:22-23).
C) Ada yang menggunakan doa (bdk. Kis 28:8).
Kis 28:8 - “Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya; ia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuhkan dia.”.
Orang-orang anti Kharismatik membedakan kesembuhan mujizat yang terjadi karena doa dengan kesembuhan mujizat yang terjadi karena karunia kesembuhan.
Kesembuhan mujizat yang terjadi karena karunia kesembuhan, itu seperti dalam Kis 3:6, dimana si penyembuh langsung memerintahkan dalam nama Yesus supaya orang yang sakit itu sembuh. Ini dianggap tidak ada lagi.
Kis 3:6 - “Tetapi Petrus berkata: ‘Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!’”.
Sedangkan kalau kesembuhan mujizat yang terjadi karena doa, itu seperti dalam Kis 28:8, dan ini dianggap masih ada sampai jaman sekarang.
Jadi, orang-orang anti Kharismatikpun percaya bahwa kesembuhan mujizat yang terjadi melalui doa masih ada sampai jaman sekarang, dan karena itu hal ini tidak menjadi bahan perdebatan.
1) Kesembuhan itu harus terjadi secara langsung / seketika.
Ada yang menganggap Mark 8:22-25 sebagai dasar untuk percaya akan adanya kesembuhan ilahi yang terjadi secara bertahap (melalui suatu proses).
Mark 8:22-25 - “(22) Kemudian tibalah Yesus dan murid-muridNya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepadaNya, supaya Ia menjamah dia. (23) Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tanganNya atasnya, dan bertanya: ‘Sudahkah kaulihat sesuatu?’ (24) Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: ‘Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.’ (25) Yesus meletakkan lagi tanganNya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.”.
Tetapi saya berpendapat bahwa sekalipun dalam Mark 8:22-25 itu terjadi 2 tahap kesembuhan, tetapi selang waktunya hanyalah beberapa detik, sehingga sebetulnya tetap merupakan kesembuhan seketika (bukan proses). Karena itu saya tetap beranggapan bahwa kesembuhan ilahi harus terjadi secara langsung.
Jaman ini sering terdengar ada orang yang katanya mengalami kesembuhan ilahi tetapi sembuhnya berangsur-angsur. Saya berpendapat bahwa itu bukan kesembuhan ilahi. Dalam Kitab Suci kesembuhan ilahi selalu terjadi langsung.
2) Kesembuhan itu harus bersifat total (penyakitnya sembuh total).
Dalam Kitab Suci semua kesembuhan ilahi terjadi seperti itu. Tidak ada orang lumpuh, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa berjalan tetapi pincang! Tidak ada orang buta, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa melihat tetapi harus menggunakan kaca mata minus 15! Tidak ada orang tuli, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa mendengar tetapi harus menggunakan hearing aids [= alat bantu untuk mendengar]!
Tetapi lihatlah ‘kesembuhan-kesembuhan ilahi’ jaman sekarang ini! Bukan main banyaknya orang yang sembuh setengah-setengah tetapi mengaku telah mengalami kesembuhan ilahi! Ini jelas bukan kesembuhan ilahi!
3) Penyakitnya tidak boleh kambuh.
Ada 3 hal yang bisa dipakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa orang yang mengalami kesembuhan ilahi bisa kambuh lagi penyakitnya:
a) Dalam Kitab Suci orang-orang yang dibangkitkan dari kematian, akhirnya akan mati lagi.
Tetapi ini tidak bisa diterima karena kematian berbeda dengan penyakit.
b) Orang yang disembuhkan dari kerasukan setan, bisa kerasukan lagi (Mat 12:43-45).
Mat 12:43-45 - “(43) ‘Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. (44) Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur. (45) Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.’”.
Ini juga tidak bisa diterima karena kerasukan setan tidak bisa disamakan dengan penyakit.
c) Dalam Yoh 5:14 Yesus berkata kepada orang lumpuh yang telah Ia sembuhkan: ‘Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk’. Ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa penyakit seseorang yang mengalami kesembuhan ilahi bisa kambuh kalau ia berbuat dosa.
Inipun tidak bisa diterima karena ‘lebih buruk’ tidak berarti penyakit yang sama akan kembali. Artinya: ia akan mengalami hukuman Tuhan yang lebih berat.
Dalam Kitab Suci tidak pernah ada orang yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu kambuh lagi penyakitnya! Bahkan 9 orang kusta yang tidak tahu terima kasih dalam Luk 17:11-19 juga tidak kambuh penyakitnya.
Luk 17:11-19 - “(11) Dalam perjalananNya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. (12) Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh (13) dan berteriak: ‘Yesus, Guru, kasihanilah kami!’ (14) Lalu Ia memandang mereka dan berkata: ‘Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.’ Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. (15) Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, (16) lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadaNya. Orang itu adalah seorang Samaria. (17) Lalu Yesus berkata: ‘Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? (18) Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?’ (19) Lalu Ia berkata kepada orang itu: ‘Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.’”.
Tetapi jaman sekarang, sering sekali ada orang yang katanya mengalami kesembuhan ilahi, tetapi lalu kambuh kembali penyakitnya. Ini omong kosong! Ini pasti bukan kesembuhan ilahi, tetapi kesembuhan psikologis!
4) Tidak digunakan dokter / obat.
Semua kesembuhan ilahi dalam Kitab Suci tidak menggunakan obat / dokter.
Dalam suatu kesembuhan ilahi, tidak harus terjadi pertobatan dari orang yang disembuhkan itu. Itu memang bisa terjadi, tetapi tidak selalu terjadi.
Misalnya dalam Luk 17:11-19, kesembilan orang kusta yang tidak tahu berterima kasih itu jelas sekali tidak bertobat! Tetapi mereka toh mengalami kesembuhan ilahi!
1) Dasar Kitab Suci akan adanya kesembuhan dari setan: Mat 7:22-23 Mat 24:24 2Tes 2:9-12 Wah 13:13-14 Wah 16:13-14.
Mat 7:22-23 - “(22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!’”.
Mat 24:24 - “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.”.
2Tes 2:9-12 - “(9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.”.
Wah 13:13-14 - “(13) Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua orang. (14) Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu.”.
Wah 16:13-14 - “(13) Dan aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. (14) Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa.”.
Semua ayat-ayat ini menyebabkan kita harus berhati-hati pada saat suatu ‘kesembuhan’ / ‘mujizat’ terjadi. Karena Kitab Suci sudah menubuatkan bahwa pada akhir jaman ini akan ada banyak kesembuhan / mujizat yang palsu yang berasal dari setan.
2) Karena setan adalah seorang yang hebat sekali dalam menipu / memalsu, maka bisa saja keempat ciri kesembuhan ilahi di atas terpenuhi semua, tetapi itu toh merupakan kesembuhan dari setan!
3) Harus diakui bahwa memang sangat sukar untuk bisa membedakan antara kesembuhan ilahi dengan kesembuhan dari setan. Tetapi kadang-kadang bisa terlihat bahwa kesembuhan itu dari setan kalau:
a) Ada penggunaan hal-hal yang berbau mistik / perdukunan.
Misalnya:
1. Harus berdoa pada hari / jam tertentu, supaya bisa sembuh.
2. Harus berdoa / tidur dengan telanjang.
3. Menggunakan air dan kembang tertentu.
4. Disuruh menyimpan jimat / benda-benda tertentu (bahkan salib / kitab Suci / kertas bertuliskan ayat tertentu dari Kitab Suci!).
5. Adanya penggunaan mantera.
6. Dsb.
Sekalipun hal-hal di atas ini digabungkan dengan:
a. Doa / kata-kata ‘dalam nama Yesus’.
b. Doa Bapa kami.
c. Penggunaan ayat-ayat Kitab Suci.
d. Tanda salib, dsb.
itu tetap dari setan.
Karena itu janganlah membiarkan diri saudara dikelabui hanya dengan penggunaan nama Yesus, doa Bapa Kami, pengutipan ayat Kitab Suci dsb!
b) Kalau terjadi hal-hal yang tidak Alkitabiah seperti ‘nggeblak’ dsb.
Pada kasus pengusiran setan, orang memang bisa pingsan / dibanting-banting dsb, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi pada kasus kesembuhan!
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali