(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 12 Maret 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
c. Gereja Roma Katolik menggunakan 2Tes 2:15 untuk mempertahankan ‘tradisi’ mereka.
2Tes 2:15 - “(15) Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”.
KJV: ‘Therefore, brethren, stand fast, and hold the traditions which ye have been taught, whether by word, or our epistle.’ [= Karena itu saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah pada TRADISI-TRADISI yang telah diajarkan kepada kamu, baik melalui ucapan, maupun surat kami.].
RSV: ‘So then, brethren, stand firm and hold to the traditions which you were taught by us, either by word of mouth or by letter.’ [= Jadi saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah pada TRADISI-TRADISI yang telah kami ajarkan kepadamu, atau oleh ucapan atau oleh surat.].
NIV: ‘So then, brothers, stand firm and hold to the teachings we passed on to you, whether by word of mouth or by letter.’ [= Jadi saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah pada AJARAN-AJARAN yang kami sampaikan kepadamu, apakah oleh ucapan atau oleh surat.].
NASB: ‘So then, brethren, stand firm and hold to the traditions which you were taught, whether by word of mouth or by letter from us.’ [= Jadi saudara-saudara, berdirilah teguh dan berpeganglah pada TRADISI-TRADISI yang diajarkan kepadamu, apakah oleh ucapan atau oleh surat dari kami.].
Calvin (tentang 2Tes 2:15): “‘Hold fast the institutions.’ ... in my opinion, he includes all doctrine under this term, as though he had said that they have ground on which they may stand firm, provided they persevere in sound doctrine, according as they had been instructed by him. I do not deny that the term παραδόσεις is fitly applied to the ordinances which are appointed by the Churches, with a view to the promoting of peace and the maintaining of order, and I admit that it is taken in this sense when human traditions are treated of, (Matthew 15:6.) Paul, however, will be found in the next chapter making use of the term tradition, as meaning the rule that he had laid down, and the very signification of the term is general. The context, however, as I have said, requires that it be taken here to mean the whole of that doctrine in which they had been instructed. For the matter treated of is the most important of all - that their faith may remain secure in the midst of a dreadful agitation of the Church.” [= ‘Berpegang teguhlah pada TRADISI-TRADISI ini.’ ... menurut pendapat saya, ia mencakup semua ajaran di bawah istilah ini, seolah-olah ia telah berkata bahwa mereka memiliki dasar di mana mereka dapat berdiri teguh, asalkan mereka bertekun pada ajaran yang sehat / benar, sesuai dengan pengajaran yang telah diberikan olehnya kepada mereka. Saya tidak menyangkal bahwa istilah παραδόσεις (paradoseis) secara tepat digunakan untuk ‘kebiasaan atau praktek yang diteguhkan oleh penggunaan yang lama’ yang ditetapkan oleh Gereja-gereja, dengan tujuan untuk mempromosikan damai dan menjaga ketertiban, dan saya mengakui bahwa istilah ini digunakan dalam arti ini ketika membicarakan tradisi manusia (Matius 15:6). Tetapi, dalam pasal berikutnya Paulus akan ditemukan menggunakan istilah ‘tradisi’, dengan makna aturan yang telah dia tetapkan, dan makna istilah itu sendiri bersifat umum. Tetapi, kontext, seperti yang telah saya katakan, menuntut agar istilah ini di sini diartikan sebagai seluruh ajaran / doktrin yang telah diajarkan kepada mereka. Karena yang dibahas adalah yang paling penting dari semua - yaitu agar iman mereka tetap aman / teguh di tengah-tengah pergolakan karena perdebatan yang mengerikan dalam Gereja.].
Mat 15:4-6 - “(4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.”.
Bdk. 2Tes 3:6 - “Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.”.
KJV/RSV/NASB/ASV/NKJV: “the tradition” [= tradisi].
NIV: “the teaching” [= pengajaran].
Calvin (tentang 2Tes 2:15): “Papists, however, act a foolish part in gathering from this that their traditions ought to be observed. They reason, indeed, in this manner - that if it was allowable for Paul to enjoin traditions, it was allowable also for other teachers; and that, if it was a pious thing to observe the former, the latter also ought not less to be observed. Granting them, however, that Paul speaks of precepts belonging to the external government of the Church, I say that they were, nevertheless, not contrived by him, but divinely communicated. For he declares elsewhere, (1 Corinthians 7:35,) that it was not his intention to ensnare consciences, as it was not lawful, either for himself, or for all the Apostles together. They act a still more ridiculous part in making it their aim to pass off, under this, the abominable sink of their own superstitions, as though they were the traditions of Paul. But farewell to these trifles, when we are in possession of Paul’s true meaning. And we may judge in part from this Epistle what traditions he here recommends, for he says - whether ‘by word,’ that is, discourse, or ‘by epistle.’ Now, what do these Epistles contain but pure doctrine, which overturns to the very foundation the whole of the Papacy, and every invention that is at variance with the simplicity of the Gospel?” [= Namun, orang-orang Katolik melakukan tindakan bodoh dengan menyimpulkan dari ini bahwa tradisi-tradisi mereka harus diikuti. Mereka berargumen dengan cara ini - bahwa jika diperbolehkan bagi Paulus untuk menetapkan tradisi-tradisi, maka juga diperbolehkan bagi pengajar-pengajar / guru-guru lain; dan jika hal itu merupakan tindakan yang saleh untuk mentaati / mengikuti yang terdahulu, maka yang belakangan juga seharusnya tidak kurang ditaati / diikuti. Meskipun menyetujui mereka bahwa Paulus berbicara tentang perintah-perintah yang merupakan milik pemerintahan external Gereja, saya katakan bahwa perintah-perintah tersebut, bagaimanapun, bukan dirancang olehnya, melainkan disampaikan secara ilahi. Karena dia menyatakan di tempat lain, (1Korintus 7:35), bahwa tidaklah menjadi maksudnya untuk menjerat hati nurani, karena itu tidak sah, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi semua Rasul secara bersama-sama. Mereka bertindak lebih konyol lagi dengan membuatnya sebagai tujuan mereka untuk mengaburkan, di bawah hal ini, tempat yang menjijikkan dari tahyul-tahyul mereka sendiri, seolah-olah itu adalah tradisi-tradisi Paulus. Namun, selamat tinggal untuk hal-hal remeh ini, ketika kita memiliki arti yang benar dari Paulus. Dan kita dapat menilai sebagian dari Surat ini tradisi-tradisi apa yang dia anjurkan di sini, karena dia mengatakan - baik ‘dengan ucapan,’ yaitu, pembicaraan, atau ‘dengan surat.’ Nah, apa yang terkandung dalam surat-surat ini selain ajaran / doktrin yang murni, yang meruntuhkan hingga ke dasarnya seluruh Kepausan, dan setiap penemuan yang bertentangan dengan kesederhanaan Injil?].
1Kor 7:35 - “Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.”.
Adam Clarke (tentang 2Tes 2:15): “‘Hold the traditions which ye have been taught.’ The word paradoseis, which we render ‘tradition,’ signifies anything delivered in the way of teaching; and here most obviously means the doctrines delivered by the apostle to the Thessalonians; whether in his preaching, private conversation, or by these letters; and particularly the first letter, as the apostle here states. Whatever these traditions were, as to their matter, they were a revelation from God; for they came by men who spake and acted under the inspiration of the Holy Spirit; and on this ground the passage here can never with any propriety be brought to support the unapostolical and anti-apostolical traditions of the Romish church; those being matters which are, confessedly, not taken from either Testament, nor were spoken either by a prophet or an apostle.” [= ‘Peganglah tradisi-tradisi yang telah diajarkan kepada kalian.’ Kata PARADOSEIS, yang kita terjemahkan sebagai ‘tradisi,’ berarti apapun yang disampaikan dalam pengajaran; dan di sini dengan sangat jelas berarti ajaran-ajaran / doktrin-doktrin yang disampaikan oleh sang rasul kepada jemaat Tesalonika; baik dalam khotbahnya, percakapan pribadi, atau melalui surat-surat ini; khususnya surat pertama, seperti yang dinyatakan oleh rasul di sini. Apapun tradisi-tradisi itu, berkenaan dengan substansi mereka, mereka merupakan suatu wahyu dari Allah; karena mereka datang dari orang-orang yang berbicara dan bertindak di bawah pengilhaman Roh Kudus; dan atas dasar ini, text / ayat ini tidak dapat dengan benar digunakan untuk mendukung tradisi-tradisi yang anti-rasuli dari Gereja Katolik Roma; karena hal-hal tersebut, diakui, tidak diambil dari salah satu Perjanjian (PL atau PB), dan tidak diucapkan oleh seorang nabi atau rasul.].
Jamieson, Fausset & Brown (tentang 2Tes 2:15): “‘Traditions.’ - instructions delivered, whether orally or in writing (2 Thess 3:6; 1 Cor 11:2, margin, ‘traditions’). The verb is used by Paul, 1 Cor 11:23; 15:3. From the three passages in which ‘tradition’ has a good sense, Rome has argued for her uninspired traditions, visually overriding, while held as of co-ordinate authority with, God’s Word. She forgets the ten passages (Matt 15:2-3,6; Mark 7:3,5,8-9,13; Gal 1:14; Col 2:8) stigmatizing man’s uninspired traditions. ... Tradition is the great corrupter of doctrine, ... Not even the apostles’ sayings were all inspired (e.g., Peter’s dissimulation, Gal 2:11-14), but only when they claimed to be so, as in their words afterward embodied in canonical writings. Oral inspiration was necessary then, until the canon of the written Word should be complete: they proved their inspiration by miracles in support of the new revelation. This revelation, moreover, accorded with the existing Old Testament - an additional test needed besides miracles (cf. Deut 13:1-6; Acts 17:11) When the canon was complete, the infallibility of the living men’s inspired sayings was transferred to the written Word, now the sole unerring guide, interpreted by the Holy Spirit. Nothing has come down to us by ancient and universal tradition except this, the all-sufficiency of Scripture for salvation.” [= ‘Tradisi-tradisi’ - instruksi-instruksi yang disampaikan, baik secara lisan maupun tertulis (2Tes 3:6; 1Kor 11:2, catatan kaki, ‘tradisi’). Kata kerja ini digunakan oleh Paulus dalam 1Kor 11:23; 15:3. Dari tiga text / ayat di mana ‘tradisi’ memiliki arti yang baik, Roma telah menggunakannya sebagai argumentasi untuk tradisi-tradisi mereka yang tidak diilhamkan, yang secara visual lebih penting dari yang lain, dianggap memiliki otoritas sejajar dengan Firman Allah. Mereka melupakan sepuluh text / ayat (Mat 15:2-3,6; Mark 7:3,5,8-9,13; Gal 1:14; Kol 2:8) yang menganggap tradisi manusia yang tidak diilhamkan sebagai sesuatu yang buruk. ... Tradisi adalah perusak besar dari doktrin, ... Bahkan perkataan rasul-rasul tidak semuanya diilhami (misalnya, kepura-puraan / kemunafikan Petrus, Gal 2:11-14), tetapi hanya ketika mereka mengklaim demikian, seperti dalam kata-kata mereka yang kemudian terwujud dalam tulisan-tulisan kanonik. Inspirasi lisan diperlukan pada saat itu, sampai kanon dari Firman tertulis lengkap: mereka membuktikan pengilhaman mereka dengan mujizat-mujizat sebagai dukungan bagi wahyu baru. Wahyu ini, selain itu, sesuai dengan Perjanjian Lama yang ada - sebuah uji tambahan yang diperlukan selain mujizat (lihat Ul 13:1-6; Kis 17:11). Ketika kanon selesai, ketidak-bisa-bersalahan dari perkataan yang diilhami dari orang hidup dipindahkan ke Firman tertulis, yang sekarang menjadi satu-satunya panduan / pembimbing yang tidak bisa salah, ditafsirkan oleh Roh Kudus. Tidak ada yang turun kepada kita melalui tradisi kuno dan universal kecuali hal ini, kecukupan Kitab Suci untuk keselamatan.].
2Tes 3:6 - “Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.”.
KJV/RSV/NASB/ASV/NKJV: “the tradition” [= tradisi].
NIV: “the teaching” [= pengajaran].
1Kor 11:2 - “Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.”.
NASB: “the traditions” [= tradisi-tradisi].
NIV: “the teachings” [= pengajaran-pengajaran].
1Kor 11:23 - “Sebab apa yang telah kuteruskan (PAREDOKA) kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti”.
1Kor 15:3 - “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan (PAREDOKA) kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,”.
Mat 15:2-3,6 - “(2) ‘Mengapa murid-muridMu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.’ (3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ‘Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? ... (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.”.
Mark 7:3,5,8-9,13 - “(3) Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; ... (5) Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepadaNya: ‘Mengapa murid-muridMu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?’ ... (8) Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.’ (9) Yesus berkata pula kepada mereka: ‘Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. ... (13) Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.’”.
Gal 1:14 - “Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.”.
Kol 2:8 - “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”.
KJV: “the tradition of men” [= tradisi manusia].
Gal 2:11-14 - “(11) Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. (12) Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. (13) Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’”.
Ul 13:1-5 - “(1) Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, (2) dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, (3) maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. (4) TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintahNya, suaraNya harus kamu dengarkan, kepadaNya harus kamu berbakti dan berpaut. (5) Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan - dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.”.
Kis 17:11 - “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”.
Jamieson, Fausset & Brown (tentang 2Tes 2:15): “Therefore, by tradition, we are constrained to cast off all tradition not in, or proveable by, Scripture. The fathers are valuable witnesses to historical facts, which give force to the intimations of Scripture - such as the Christian Lord’s day, the baptism of infants, and the genuineness of the canon. Tradition (in the sense human testimony) cannot establish a doctrine, but can authenticate a fact, such as those mentioned. Inspired tradition, in Paul’s sense, is not a supplementary oral tradition completing our written Word, but is the written Word now complete; then, the latter not being complete, the tradition was necessarily in part oral, in part written, and continued so until, the latter being complete before the death of John, the last apostle, the former was no longer needed.” [= Karena itu, oleh / dengan tradisi, kita terpaksa membuang semua tradisi yang tidak ada dalam Kitab Suci atau tidak bisa dibuktikan oleh Kitab Suci. Para bapa gereja adalah saksi berharga terhadap fakta sejarah, yang memberikan kekuatan pada petunjuk-petunjuk dari Kitab Suci - seperti hari Tuhan dari orang Kristen, pembaptisan bayi, dan keaslian dari kanon. Tradisi (dalam pengertian kesaksian manusia) tidak dapat menetapkan suatu doktrin, tetapi dapat mengesahkan suatu fakta, seperti yang disebutkan tadi. Tradisi yang diilhamkan, dalam arti yang diberikan oleh Paulus, bukanlah tradisi lisan tambahan yang melengkapi Firman tertulis kita, tetapi adalah Firman tertulis yang sekarang sudah lengkap; saat itu, pada waktu Kitab Suci belum lengkap, tradisi itu tentu saja sebagian lisan, sebagian tertulis, dan terus berlanjut seperti itu sampai, Kitab Suci sudah lengkap sebelum kematian Yohanes, rasul terakhir, maka yang terdahulu / tradisi tidak lagi diperlukan.].
Jamieson, Fausset & Brown (tentang 2Tes 2:15): “Scripture is the complete and sufficient rule in all that appertains to making ‘the man of God perfect, thoroughly furnished unto all good works’ (2 Tim 3:16-17). It is by leaving God-inspired for human traditions that Rome has become the parent of Antichrist. It is striking that, from this very chapter denouncing Antichrist, she should draw an argument for her ‘traditions,’ by which she fosters anti-Christianity. Because the apostles’ oral word was as trustworthy as their written word, it by no means follows that the oral word of those not apostles is as trustworthy as the written word of those who were apostles or inspired evangelists. No tradition of the apostles, except their written word, can be proved genuine on satisfactory evidence. We are no more bound to accept the fathers’ interpretations of Scripture, because we accept the Scripture canon on their testimony, than to accept the Jews’ interpretation of the Old Testament because we accept the Old Testament canon on their testimony.” [= Alkitab adalah peraturan yang lengkap dan cukup dalam semua hal yang berhubungan dengan menjadikan ‘manusia Allah sempurna, dibekali sepenuhnya untuk segala perbuatan baik’ (2Tim 3:16-17). Dengan menggantikan apa yang diilhamkan Allah dengan tradisi-tradisi manusia, Roma telah menjadi orang tua dari Anti-Kristus. Merupakan sesuatu yang menyolok, dari pasal ini yang mengecam Anti-Kristus (2Tes 2:1-12), Roma mengambil suatu argumen untuk ‘tradisi-tradisi’ mereka, dengan mana mereka membesarkan / memberi makan anti-kekristenan. Karena firman lisan rasul sama bisa dipercayanya dengan firman tertulis mereka, ini sama sekali tidak berarti bahwa kata-kata lisan dari mereka yang bukan rasul sama dapat dipercayanya dengan firman tertulis dari mereka yang adalah rasul atau penginjil-penginjil yang diilhami. Tidak ada tradisi dari rasul-rasul, kecuali firman tertulis mereka, yang dapat dibuktikan asli dengan bukti yang memuaskan. Kita tidak lebih terikat untuk menerima penafsiran para bapa gereja terhadap Alkitab, karena kita menerima kanon Alkitab berdasarkan kesaksian mereka, dari pada untuk menerima penafsiran orang-orang Yahudi tentang Perjanjian Lama karena kita menerima kanon Perjanjian Lama berdasarkan kesaksian mereka.].
2Tim 3:16-17 - “(16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”.
RSV/NASB: “All scripture is inspired by God” [= Seluruh Kitab Suci diilhamkan oleh Allah].
2Tes 2:15 memang terletak dalam kontext / pasal yang membicarakan sang Anti Kristus (2Tes 2:1-12).
2Tes 2:1-12 - “(1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, (2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. (5) Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu, ketika aku masih bersama-sama dengan kamu? (6) Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, (8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. (9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.”.
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali