Khotbah Natal

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


 


natal 2001

Galatia 4:4-5

I) Natal terjadi pada saat yang tepat.

Ay 4: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat”.

Kata-kata ‘Tetapi setelah genap waktunya’ menunjukkan bahwa kedatangan Kristus pada Natal terjadi sesuai dengan saat yang ditetapkan oleh Allah, dan karena Allah pasti merencanakan yang terbaik, maka kita harus percaya bahwa itu adalah saat yang paling tepat.

Memang orang bisa mempertanyakan: ‘Mengapa Kristus tidak datang sebelumnya? Dengan Ia datang pada sekitar 4000 tahun setelah Adam, banyak orang harus masuk neraka!’.

Calvin: “Let no man presume to be dissatisfied with the secret purpose of God, and raise a dispute why Christ did not appear sooner” (= Jangan ada orang yang berani untuk tidak puas dengan rencana rahasia dari Allah, dan memperdebatkan mengapa Kristus tidak muncul lebih cepat) - hal 118.

William Hendriksen (hal 158) dan banyak penafsir lain berusaha memberikan alasan mengapa Kristus datang pada saat itu, atau mengapa saat itu merupakan saat yang terbaik. Alasan-alasan yang dikemukakan adalah:

Tetapi Hendriksen secara benar mengakhiri kata-katanya dengan mengatakan bahwa hanya Allahlah yang mengetahui mengapa Kristus harus datang pada saat itu.

II) Apa yang terjadi pada Natal.

1)   ‘Allah mengutus AnakNya’ (ay 4).

a)   Kata ‘mengutus’.

Hendriksen (hal 158) mengatakan bahwa kata ‘mengutus’, yang dalam bahasa Yunaninya adalah EXAPESTEILEN [EX (from / out of / dari) + APOSTELLO (I send / aku mengutus)], arti sebetulnya adalah ‘sent out of / from’ (= dikirim dari).

Pulpit Commentary mengatakan (hal 182) bahwa kata depan EX itu menunjukkan kedekatan antara sang Pengutus dan sang Utusan.

b)   Ini menunjukkan kekekalan dan keilahian dari Anak, dan juga menunjukkan bahwa Anak dan Bapa adalah 2 pribadi yang berbeda (distinct).

Calvin: “The Son, who was sent, must have existed before he was sent; and this proves his eternal Godhead” (= Anak, yang diutus, harus sudah ada sebelum Ia diutus; dan ini membuktikan kekekalan keilahianNya) - hal 118.

Pulpit Commentary: “‘God sent forth his Son.’ These words imply the pre-existence as well as the Divine nature of Christ. The Son existed as a Divine Person with God before he came to be made of a woman. He was the eternal Son of God, as God the Father is the eternal Father. They are two distinct Persons, else the one could not send the other” (= ‘Allah mengutus AnakNya’. Kata-kata ini secara tidak langsung menunjukkan keberadaan sebelumnya maupun hakekat ilahi dari Kristus. Anak ada sebagai Pribadi Ilahi dengan Allah sebelum Ia datang untuk dibuat dari seorang perempuan. Ia adalah Anak yang kekal dari Allah, seperti Allah Bapa adalah Bapa yang kekal. Mereka adalah 2 Pribadi yang berbeda, kalau tidak maka yang satu tidak bisa mengutus yang lain) - hal 211.

C. H. Spurgeon: “He existed before he was born into this world; for God ‘sent’ his Son. He was already in being or he could not have been ‘sent.’ And while he is one with the Father, yet he must be distinct from the Father, and have a personality separate from that of the Father, otherwise it could not be said that God sent his Son” (= Ia ada sebelum Ia dilahirkan ke dalam dunia ini; karena Allah ‘mengutus’ AnakNya. Ia sudah ada, karena kalau tidak maka Ia tidak bisa diutus. Dan sekalipun Ia adalah satu dengan Bapa, tetapi Ia harus berbeda dari Bapa, dan mempunyai kepribadian yang terpisah dari kepribadian Bapa, karena kalau tidak maka tidak bisa dikatakan bahwa Allah mengutus AnakNya) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 99.

c)   Ini menunjukkan bahwa Allahlah yang mencari manusia, dan bukan sebaliknya.

C. H. Spurgeon: “Observe, concerning the first advent, that the Lord was moving in it towards man. ... We moved not towards the Lord, but the Lord towards us. I do not find that the world in repentance sought after its Maker. No; but the offended God himself in infinite compassion broke the silence and came forth to bless his enemies. See how spontaneous is the grace of God. All good things begin with him” (= Perhatikan, mengenai kedatangan pertama, bahwa Tuhan bergerak di dalamnya ke arah manusia. ... Kita tidak bergerak ke arah Tuhan, tetapi Tuhan ke arah kita. Saya tidak mendapatkan bahwa dunia mencari Penciptanya dalam pertobatan. Tidak; tetapi Allah yang disakiti, Ia sendiri, dalam belas kasihan yang tak terbatas, memecahkan kesunyian dan datang untuk memberkati musuh-musuhNya. Lihatlah betapa spontannya kasih karunia Allah. Semua hal-hal yang baik mulai dengan Dia) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 98.

Bdk. Luk 19:10 - “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’”.

2)   ‘lahir dari seorang perempuan’ (ay 4).

KJV: ‘made of a woman’ (= dibuat dari perempuan).

RSV: ‘born of woman’ (= dilahirkan dari perempuan).

NIV/NASB: ‘born of a woman’ (= dilahirkan dari seorang perempuan).

a)   Kata ‘dibuat’ dalam KJV menunjukkan keberadaan sebelumnya, dan juga menunjukkan adanya hakekat lain, yang sudah ada sebelum Yesus menjadi manusia.

Pulpit Commentary: “The difference in sense is appreciable and important: ‘made’ implies a previous state of existence, which ‘born’ does not” (= Perbedaan artinya cukup besar dan penting: ‘dibuat’ secara tidak langsung menunjukkan suatu keberadaan sebelumnya, sedangkan ‘dilahirkan’ tidak demikian) - hal 183.

Pulpit Commentary: “‘Made of a woman.’ This language implies the possession of a higher nature; for if the Son possessed no other than mere humanity, where would have been the necessity of saying that he was ‘made of a woman’?” (= ‘Dibuat dari seorang perempuan’. Bahasa ini secara tidak langsung menunjukkan suatu hakekat yang leih tinggi; karena jika Anak tidak memiliki hakekat lain selain semata-mata manusia, apa perlunya mengatakan bahwa Ia ‘dibuat dari seorang perempuan’?) - hal 211.

b)   Perbedaan kelahiran Yesus dibandingkan dengan anak yang lain.

William Hendriksen: “We say that Jesus was born in Bethlehem, and that is correct. But in some respects his birth was not like that of any other child. Other children do not exist in any real sense before they are conceived in the womb. It is by means of conception and birth that they come into existence. But God’s Son existed already from eternity with the Father (John 1:1; 8:58; 17:5; Rom. 8:3; 2Cor. 8:9; Phil. 2:6; Col. 1:15; Heb. 1:3). He existed and exists forevermore - as to his deity” [= Kita mengatakan bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, dan itu benar. Tetapi dalam hal tertentu kelahiranNya tidaklah seperti anak yang lain. Anak-anak lain dalam arti yang sebenarnya tidak ada sebelum mereka dikandung dalam kandungan. Adalah melalui kandungan dan kelahiran mereka menjadi ada. Tetapi Anak Allah sudah ada dari kekekalan dengan Bapa (Yoh 1:1; 8:58; 17:5; Ro 8:3; 2Kor 8:9; Fil 2:6; Kol 1:15; Ibr 1:3). Ia ada selama-lamanya - berkenaan dengan ke-allah-annya] - hal 158.

c)   Setelah inkarnasi, Yesus memiliki 2 hakekat, ilahi dan manusia, selama-lamanya.

William Hendriksen: “the fact that he was now sent forth must mean that he now assumed the human nature (John 1:14), which was wondrously prepared in the womb of Mary by the Holy Spirit (Luke 1:35). Thus he now became, and would forever remain, the possessor of two natures, the divine and the human, united indissolubly in the one divine person” [= fakta bahwa Ia sekarang diutus harus berarti bahwa sekarang Ia mengambil hakekat manusia (Yoh 1:14), yang dipersiapkan secara ajaib / menakjubkan dalam kandungan Maria oleh Roh Kudus (Luk 1:35). Karena itu sekarang Ia menjadi, dan akan tetap seperti itu selama-lamanya, pemilik dari dua hakekat, ilahi dan manusiawi, bersatu secara tak terpisahkan dalam satu pribadi ilahi] - hal 158.

d)   Perlunya kedua hakekat itu dalam penyelamatan / penebusan kita.

William Hendriksen: “in order to save us Jesus Christ had to be in one person both divine and human, divine in order to give his sacrifice infinite value, ... and human because since it was man who sinned it is also man who must bear the penalty for sin and render his life to God in perfect obedience (Rom. 5:18; 1Cor. 15:21; Heb. 2:14-17)” [= untuk menyelamatkan kita Yesus Kristus haruslah ilahi dan manusia dalam satu pribadi, ilahi untuk memberikan pengorbananNya nilai yang tak terbatas, ... dan manusia karena manusia yang berdosa sehingga manusia juga yang harus memikul hukuman untuk dosa dan memberikan hidupnya kepada Allah dalam ketaatan yang sempurna (Ro 5:18; 1Kor 15:21; Ibr 2:14-17)] - hal 159.

Ro 5:18 - “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup”.

1Kor 15:21 - “Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia”.

Ibr 2:14-17 - “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.

3)   ‘Takluk kepada hukum Taurat’ (ay 4).

Terjemahan hurufiahnya adalah ‘becoming under law’ (= menjadi di bawah hukum Taurat).

Seorang penafsir dari Pulpit Commentary (hal 183) menganggap bahwa ‘hukum Taurat’ di sini menunjuk pada ‘ceremonial law’ (= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan), tetapi penafsir lain dari Pulpit Commentary (hal 233) tidak setuju dengan hal itu, dan mengatakan bahwa ‘hukum Taurat’ di sini mencakup seluruh hukum Taurat. Saya lebih setuju dengan pandangan yang terakhir ini. Spurgeon (hal 100), dan Calvin (lihat kutipan di atas) jelas berpendapat bahwa ‘hukum Taurat’ di sini juga mencakup ‘moral law’ (= hukum moral).

C. H. Spurgeon: “The Son of God has come under the law. He was the Law-maker and the Law-giver, and he is both the Judge of the law and the Executioner of the law, and yet he himself came under the law” (= Anak Allah telah datang di bawah hukum Taurat. Ia adalah Pembuat hukum Taurat dan Pemberi hukum Taurat, dan Ia adalah Hakim dari hukum Taurat maupun Algojo dari hukum Taurat, tetapi Ia sendiri datang di bawah hukum Taurat) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 100.

II) Tujuan Natal.

1)   Untuk menebus kita, yang ada di bawah hukum Taurat.

Ay 5: “Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak”.

KJV: ‘To redeem them that were under the law, that we might receive the adoption of sons’ (= Untuk menebus mereka yang ada di bawah hukum Taurat, supaya kita bisa menerima pengadopsian sebagai anak).

Tujuan utama dari Natal adalah Jum’at Agung. Tujuan utama Yesus menjadi manusia adalah supaya Ia bisa mati menebus dosa-dosa manusia.

Melalui penebusan yang Kristus lakukan, kita dibebaskan dari hukum Taurat dan diterima sebagai anak.

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan hal ini:

a)   Pembebasan dari hukum Taurat dan penerimaan sebagai anak tidak terjadi secara otomatis, tetapi melalui iman kepada Kristus.

Gal 3:26 - “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus”.

Ingat bahwa kita tidak diterima sebagai anak karena kita dibaptis, pergi ke gereja, membuang dosa, melakukan perbuatan baik, dan sebagainya. Kita diterima sebagai anak karena kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Sudahkah saudara percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat?

b)   Pembebasan dari hukum Taurat tidak berarti bahwa kita tidak perlu lagi mentaati hukum Taurat. Kita tetap harus mentaati hukum Taurat, tetapi bukan sebagai suatu jalan keselamatan.

Alan Cole (Tyndale): “We are redeemed from the law itself, seen as a system of attempted self-justification” (= Kita ditebus dari hukum Taurat itu sendiri, yang dilihat sebagai suatu sistim yang mengusahakan pembenaran diri sendiri) - hal 116.

Calvin: “Christ the Son of God, who might have claimed to be exempt from every kind of subjection, became subject to the law. Why? He did so in our room, that he might obtain freedom for us” (= Kristus Anak Allah, yang bisa / boleh mengclaim / menuntut untuk bebas dari setiap jenis ketundukan, menjadi tunduk kepada hukum Taurat. Mengapa? Ia melakukan itu di tempat kita, supaya Ia mendapatkan kebebasan bagi kita) - hal 118-119.

Calvin: “the exemption from the law which Christ has procured for us does not imply that we no longer owe any obedience to the doctrine of the law, and may do whatever we please; for the law is the everlasting rule of a good and holy life” (= pembebasan dari hukum Taurat yang didapatkan oleh Kristus bagi kita tidak berarti bahwa kita tidak lagi berhutang ketaatan kepada ajaran dari hukum Taurat, dan boleh melakukan apapun yang kita senangi; karena hukum Taurat merupakan peraturan kekal untuk suatu kehidupan yang baik dan kudus) - hal 119.

C. H. Spurgeon: “Christ came, we are told next, to redeem those who were under the law; that is to say, the birth of Jesus, and his coming under the law, and his fulfilling the law, have set all believers free from it as a yoke of bondage. None of us wish to be free from the law as a rule of life; we delight in the commands of God, which are holy, and just, and good. We wish that we could keep every precept of the law, without a single omission or transgressions. Our dearest desire is for perfect holiness; but we do not look in that direction for our justification before God” (= Kita diberi tahu selanjutnya bahwa Kristus datang untuk menebus mereka yang berada di bawah hukum Taurat; artinya, kelahiran Yesus, dan kedatanganNya di bawah hukum Taurat, dan penggenapanNya terhadap hukum Taurat, telah membebaskan semua orang percaya dari hukum Taurat sebagai kuk perhambaan. Tidak ada dari kita yang ingin untuk bebas dari hukum Taurat sebagai peraturan kehidupan; kita menyenangi perintah-perintah Allah, yang adalah kudus, dan benar / adil, dan baik. Kita ingin untuk bisa mentaati setiap ajaran / perintah dari hukum Taurat, tanpa satupun penghapusan atau pelanggaran. Kita sangat menginginkan kekudusan yang sempurna; tetapi kita tidak melihat ke arah itu untuk pembenaran kita di hadapan Allah) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 102.

2)   Kalau kita sudah diselamatkan, bisakah kita terhilang / binasa?

C. H. Spurgeon: “I have heard children of God say sometimes, ‘Well, but don’t you think if we fall into sin we shall cease to be in God’s love, and so shall perish?’ This is to cast a slur upon the unchangeable love of God. I see that you make a mistake, and think a child is a servant. Now, if you have a servant, and he misbehaves himself, you say, ‘I give you notice to quit. There is your wage; you must find another master.’ Can you do that to your son? Can you do that to your daughter? ‘I never thought such a thing,’ say you. Your child is yours for life. Your boy behaved very badly to you: why did you not give him his wages and start him? You answer, that he does nor serve you for wages, and that he is your son, and cannot be otherwise. Just so. Then always know the difference between a servant and a son, and the difference between the covenant of works and the covenant of grace” (= Saya mendengar anak-anak Allah kadang-kadang berkata: ‘Ya, tetapi tidakkah engkau berpendapat bahwa jika kita jatuh ke dalam dosa, kita akan berhenti ada dalam kasih Allah, dan dengan demikian akan binasa?’ Ini berarti menghina / menodai kasih yang tidak berubah dari Allah. Saya melihat bahwa engkau melakukan suatu kesalahan, dan menganggap seorang anak sebagai seorang pelayan. Jika engkau mempunyai seorang pelayan, dan ia berbuat jahat / berlaku tidak pantas, engkau berkata: ‘Aku memecatmu. Inilah upahmu; engkau harus mencari tuan / majikan yang lain’. Bisakah engkau melakukan itu terhadap anak laki-lakimu? Bisakah engkau melakukan itu terhadap anak perempuanmu? ‘Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu’, katamu. Anakmu adalah milikmu untuk seumur hidupmu. Anakmu berkelakuan sangat buruk terhadapmu: mengapa engkau tidak memberikan upahnya kepadanya dan mengusirnya? Engkau menjawab, bahwa ia tidak melayanimu untuk upah, dan bahwa ia adalah anakmu, dan tidak bisa menjadi sesuatu yang lain. Benar demikian. Maka selalulah mengetahui perbedaan antara seorang pelayan dan seorang anak, dan perbedaan antara perjanjian perbuatan baik dan perjanjian kasih karunia) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 103.

Orang Arminian sering beranggapan bahwa ajaran mereka lebih menyebabkan orang untuk taat, sedangkan ajaran Calvinisme mereka anggap menyebabkan orang berani berbuat dosa. Untuk ini perhatikan komentar Spurgeon di bawah ini.

C. H. Spurgeon: “I know how a base heart can make mischief out of this; but I cannot help it; the truth is the truth. Will a child rebel because he will always be a child? Far from it; it is this which makes him feel love in return. The true child of God is kept from sin by other and better forces than a slavish fear of being turned out of doors by his Father. If you are under the covenant of works, then, mind you, if you do not fulfil all righteousness you will perish: if you are under that covenant, unless you are perfect you are lost; one sin will destroy you, one sinful thought will ruin you. If you have not been perfect in your obedience, you must take your wages and be gone. If God deals with you according to your works, there will be nothing for you but, ‘Cast out this bondwoman and her son.’ But if you are God’s child, that is a different matter; you will still be his child even when he corrects you for your disobedience” (= Saya tahu bahwa suatu hati yang hina bisa membuat kejahatan dari hal ini; tetapi aku tidak bisa berbuat lain; kebenaran adalah kebenaran. Apakah seorang anak memberontak karena ia tahu bahwa ia akan selalu merupakan seorang anak? Jauh dari itu; justru hal itulah yang membuatnya merasa dikasihi. Seorang anak yang sejati dari Allah dijaga / dicegah dari dosa oleh kekuatan-kekuatan lain dan lebih baik dari pada rasa takut seorang budak tentang pengusiran oleh Bapanya. Jika engkau ada di bawah perjanjian perbuatan baik, maka ingatlah bahwa jika engkau tidak menggenapi seluruh kebenaran, engkau akan binasa: jika engkau ada di bawah perjanjian itu, kecuali engkau sempurna, engkau akan terhilang; satu dosa akan membinasakan engkau, satu pikiran berdosa akan menghancurkan engkau. Jika engkau tidak sempurna dalam ketaatanmu, engkau harus mengambil upahmu dan pergi. Jika Allah memperlakukanmu sesuai dengan perbuatan baikmu, maka tidak akan ada apapun untukmu kecuali kata-kata ‘Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya’. Tetapi jika engkau adalah anak Allah, maka itu merupakan persoalan yang lain; engkau akan tetap merupakan anakNya bahkan pada saat Ia mengkoreksimu untuk ketidak-taatanmu) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 103-104.

Catatan: kutipan diambil dari kata-kata Sara dalam Kej 21:10, yang disetujui oleh Allah (Kej 21:12).

C. H. Spurgeon: “Love is a master force, and he that feels its power will hate all evil. The more salvation is seen to be all of grace, the deeper and more mighty is our love, and the more does it work towards that which is pure and holy” (= Kasih adalah kekuatan utama, dan ia yang merasakan kuasanya akan membenci semua kejahatan. Makin keselamatan terlihat seluruhnya dari kasih karunia, makin hal itu bekerja ke arah apa yang murni dan kudus) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 104.

C. H. Spurgeon: “Do not say, ‘The Lord will cast me away unless I do this and that.’ Such talk is of the bondswoman and her son; but it is very unseemly in the mouth of a true-born heir of heaven. Get it out of your mouth. If you are a son you disgrace your Father when you think that he will repudiate his own; you forget your spiritual heirship and liberty when you dread a change in Jehovah’s love. It is all very well for a mere babe to talk in that ignorant fashion, and I don’t wonder that many professors know no better, for many ministers are only half-evangelical; but you that have become men in Christ, and know that he has redeemed you from the law, ought not to go back to such bondage” [= Jangan berkata: ‘Tuhan akan membuang aku kecuali aku melakukan ini dan itu’. Kata-kata seperti itu adalah kata-kata dari hamba perempuan dan anaknya; tetapi sangat tidak cocok dalam mulut dari pewaris surga yang betul-betul dilahirkan (kembali). Buanglah kata-kata itu dari mulutmu. Jika engkau adalah anak, engkau memalukan Bapamu pada saat engkau berpikir bahwa Ia akan menolak untuk mengakui milikNya; engkau melupakan ke-pewaris-an dan kebebasan rohanimu pada waktu engkau takut terhadap suatu perubahan dalam kasih Yehovah. Boleh saja seorang bayi berbicara dengan cara yang bodoh itu, dan aku tidak heran bahwa banyak profesor yang tidak lebih tahu, karena banyak pendeta hanya setengah injili; tetapi engkau yang telah menjadi orang-orang dalam Kristus, dan tahu bahwa Ia telah menebusmu dari hukum Taurat, tidak seharusnya kembali pada perhambaan seperti itu] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 104.

C. H. Spurgeon: “My God is my Father, ... I am not afraid of him, but I delight in him, for nothing can separate me from him” (= Allahku adalah Bapaku, ... Aku tidak takut kepadaNya, tetapi senang kepadaNya, karena tidak ada yang bisa memisahkan aku dari Dia) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol I, hal 104.

Penutup.

Keselamatan memang tidak bisa hilang. Tetapi sudahkan saudara diselamatkan? Kalau belum, datanglah kepada Kristus dan terimalah Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!

 

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com