Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Rabu, tanggal 22 Februari 2012, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[email protected]

 

Mazmur 2:1-12(6)

 

Maz 2:1-12 - “(1) Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? (2) Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya: (3) ‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!’ (4) Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. (5) Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murkaNya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarahNya: (6) ‘Akulah yang telah melantik rajaKu di Sion, gunungKu yang kudus!’ (7) Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. (8) Mintalah kepadaKu, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. (9) Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.’ (10) Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! (11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, (12) supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung padaNya!”.

 

2.   and you be destroyed in your way (= dan engkau dibinasakan di / dalam jalanmu) - NIV.

KJV: ‘and ye perish from the way’ (= dan engkau binasa dari jalan).

Baik kata ‘in’ (= di / dalam) dalam NIV, maupun kata ‘from’ (= dari) dalam KJV, sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya. Memang harus disuplai suatu kata depan, dan KJV menyuplai dengan kata ‘from’, sedangkan RSV/NIV/NASB menyuplai dengan ‘in’.

 

Pulpit Commentary: “‘Perish from the way.’ What way? The way of salvation - of God; of truth; of holiness; of peace; of life (Acts 16:17; Matt 22:16; 2 Peter 2:2,21; Isa 35:8; Luke 1:79; Matt 7:14; Prov 15:24) [= ‘Binasa dari jalan’. Jalan apa? Jalan keselamatan - dari Allah; dari kebenaran; dari kekudusan; dari damai; dari kehidupan (Kis 16:17; Mat 22:16; 2Pet 2:2,21; Yes 35:8; Luk 1:79; Mat 7:14; Amsal 15:24)].

Kis 16:17 - “Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: ‘Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.’”.

Mat 22:16 - “Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepadaNya: ‘Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka”.

2Pet 2:2,21 - “(2) Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. ... (21) Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka”.

Yes 35:8 - “Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya”.

Luk 1:79 - “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.’”.

Mat 7:13-14 - “(13) Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; (14) karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.’”.

Amsal 15:24 - Jalan kehidupan orang berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang mati di bawah”.

 

Calvin: Some explain the phrases, ‘to perish from the way,’ as meaning, a perverse way, or wicked manner of living. Others resolve it thus, lest your way perish, according to that saying of the first psalm, the way of the ungodly shall perish. But I am rather inclined to attach to the words a different meaning, and to view them as a denunciation against the ungodly, by which they are warned that the wrath of God will cut them off when they think themselves to be only in the middle of their race. We know how the despisers of God are accustomed to flatter themselves in prosperity, and run to great excess in riot. The prophet, therefore, with great propriety, threatens that when they shall say, Peace and safety, reckoning themselves at a great distance from their end, they shall be cut off by a sudden destruction, (1 Thessalonians 5:3) [= Beberapa orang menjelaskan ungkapan ‘binasa dari jalan’ sebagai berarti suatu jalan yang menyimpang / jahat, atau cara hidup yang jahat. Orang-orang lain menjelaskannya demikian, supaya jangan jalanmu binasa, sesuai dengan perkataan dari Mazmur pertama itu, jalan dari orang-orang jahat akan binasa. Tetapi saya lebih condong untuk melekatkan pada kata-kata itu suatu arti yang berbeda, dan untuk memandang kata-kata itu sebagai suatu pengutukan terhadap orang-orang jahat, dengan mana mereka diperingatkan bahwa murka Allah akan memotong mereka pada waktu mereka berpikir bahwa diri mereka ada hanya di tengah-tengah perlombaan mereka. Kita tahu bagaimana penghina-penghina Allah terbiasa untuk memuji diri mereka sendiri dalam kemakmuran, dan berlari sampai sangat berlebihan dalam keributan. Karena itu, sang nabi, dengan kepatutan yang besar, mengancam bahwa pada waktu mereka berkata, ‘Damai dan aman’, dan menganggap diri mereka sendiri berada pada jarak yang jauh dari akhir mereka, mereka akan dipotong oleh suatu penghancuran yang mendadak, (1Tes 5:3)].

1Tes 5:3 - “Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman - maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin - mereka pasti tidak akan luput”.

 

Bdk. Mat 24:37-39 - “(37) ‘Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. (38) Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, (39) dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia”.

 

Bdk. Maz 9:18 - “Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati, ya, segala bangsa yang melupakan Allah”.

KJV: ‘The wicked shall be turned into hell, and all the nations that forget God’ (= Orang-orang jahat akan dibelokkan ke dalam neraka, dan semua bangsa-bangsa yang melupakan Allah).

Catatan:

a.   Kata ‘dunia orang mati’ dalam bahasa Ibrani adalah SHEOL, yang bisa berarti ‘keadaan kematian’, ‘kuburan’, atau ‘neraka’. NIV memilih ‘kuburan’ tetapi menurut saya itu salah, karena kalau demikian, ancaman ayat ini hilang. Saya setuju dengan terjemahan KJV ‘hell’ (= neraka).

b.   Kata ‘kembali’ dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia diterjemahkan dari kata bahasa Ibrani SHUB, yang bisa berarti ‘turn’ (= berbelok), atau ‘return’ (= kembali). Saya tak setuju dengan penterjemahan ‘kembali’ karena itu menunjukkan bahwa seakan-akan orang itu berasal dari sana, dan lalu kembali ke sana.

Jadi, ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang jahat / bangsa yang melupakan Allah, bahwa dalam jalan mereka yang kelihatan lurus dan aman, tahu-tahu mereka dibelokkan dan masuk ke dalam neraka.

 

3.         “karena murkaNya bisa menyala / dibangkitkan dalam sekejap.

KJV: ‘when his wrath is kindled but a little (= pada waktu murkaNya dinyalakan / dibangkitkan sedikit saja).

RSV: ‘for his wrath is quickly kindled’ (= karena murkaNya dinyalakan / dibangkitkan dengan cepat).

NIV: ‘for his wrath can flare up in a moment (= karena murkaNya bisa menyala dalam sekejap).

NASB: ‘For His wrath may soon be kindled’ (= Karena murkaNya bisa segera dinyalakan / dibangkitkan).

 

Keil & Delitzsch: “It is questionable whether ‎KIMAT ‎means ‘for a little’ in the sense of ‘brevi’ or ‘facile.’ The usus loquendi and position of the words favour the latter (Hupf.). ... Therefore it is to be rendered: for His wrath might kindle easily, or might kindle suddenly” [= Bisa dipertanyakan apakah KIMAT berarti ‘untuk sedikit’ dalam arti ‘singkat’ atau ‘mudah’. USUS LOQUENDI dan posisi dari kata-kata lebih memilih yang belakangan (Hupf.) ... Karena itu, itu harus diterjemahkan: ‘karena murkaNya bisa menyala dengan mudah’, atau ‘bisa menyala dengan tiba-tiba’].

Catatan: saya kira USUS LOQUENDI adalah kata-kata bahasa Latin dan saya tak tahu apa artinya.

 

Calvin: “Some interpreters, I know, explain the Hebrew word f[mk, Camoat, which we have rendered, ‘in a moment,’ in a different way, namely, that as soon as God’s wrath is kindled in even a small degree, it will be all over with the reprobate. But it is more suitable to apply it to time, and to view it as a warning to the proud not to harden themselves in their stupidity and indifference, nor flatter themselves from the patience of God, with the hope of escaping unpunished (= Saya tahu bahwa beberapa penafsir menjelaskan kata Ibrani f[mk, KIMAT, yang telah kami terjemahkan ‘dalam sekejap’, dengan cara yang berbeda, yaitu, bahwa segera setelah murka Allah dinyalakan / dibangkitkan bahkan dalam tingkat yang kecil, maka tamatlah semua orang-orang bejat / yang ditentukan binasa. Tetapi adalah lebih cocok untuk menerapkannya pada waktu, dan untuk memandangnya sebagai suatu peringatan terhadap orang-orang sombong untuk tidak mengeraskan diri mereka sendiri dalam ketololan dan sikap acuh tak acuh mereka, ataupun menyenangkan diri mereka sendiri dari kesabaran Allah, dengan pengharapan untuk lolos tanpa dihukum).

Catatan:

·         saya tak tahu mengapa dituliskan CAMOAT; seharusnya adalah KIMAT.

·         jelas bahwa Calvin tak setuju dengan terjemahan KJV.

 

Calvin: “What follows immediately after is a warning to those who despise Christ, that their pride shall not go unpunished, as if he had said, As Christ is not despised without indignity being done to the Father, who hath adorned him with his own glory, so the Father himself will not allow such an invasion of his sacred rights to pass unpunished. And to teach them to beware of vainly deceiving themselves with the hope of a lengthened delay, and from their present ease indulging themselves in vain pleasures, they are plainly told that his wrath will be kindled in a moment. For we see, when God for a time connives at the wicked, and bears with them, how they abuse this forbearance, by growing more presumptuous, because they do not think of his judgments otherwise, than according to sight and feeling (= Apa yang segera mengikutinya adalah suatu peringatan bagi mereka yang meremehkan Kristus, bahwa kesombongan mereka tidak akan berjalan tanpa dihukum, seakan-akan Ia telah berkata, Karena Kristus tidak diremehkan tanpa penghinaan dilakukan kepada Bapa, yang telah menghiasiNya dengan kemuliaanNya sendiri, demikian juga Bapa sendiri tidak akan mengijinkan pelanggaran terhadap hak-hakNya yang keramat / kudus untuk lewat tanpa dihukum. Dan untuk mengajar mereka untuk berhati-hati tentang menipu diri mereka sendiri dengan sia-sia dengan pengharapan tentang suatu penundaan yang diperpanjang, dan dari ketenteraman mereka sekarang dengan memuaskan diri mereka sendiri dalam kesenangan-kesenangan yang sia-sia, mereka dengan jelas diberitahu bahwa murkaNya akan dinyalakan / dibangkitkan dalam sekejap. Karena kita melihat, pada waktu Allah untuk suatu waktu pura-pura tidak melihat kepada orang-orang jahat, dan bersabar terhadap mereka, bagaimana mereka menyalah-gunakan kesabaran ini, dengan bertumbuh makin sombong / lancang, karena mereka tidak berpikir lain tentang penghakimanNya, dari pada sesuai yang dengan penglihatan dan perasaan).

 

Bdk. Pkh 8:11 - “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat”.

 

Matthew Henry (tentang Pkh 8:11): the patience of God is shamefully abused by many who, instead of being led by it to repentance, are confirmed by it in their impenitence (= kesabaran Allah disalah-gunakan secara memalukan oleh banyak orang yang bukannya dibimbing olehnya pada pertobatan, tetapi diteguhkan olehnya dalam tidak bertobatnya mereka).

 

Adam Clarke (tentang Pkh 8:11): Because God does not immediately punish every delinquency, men think he disregards evil acts; and therefore they are emboldened to sin on. So this longsuffering of God, which leadeth to repentance, is abused so as to lead to further crimes!” (= Karena Allah tidak segara menghukum setiap kejahatan, orang-orang berpikir bahwa Ia mengabaikan tindakan-tindakan jahat; dan karena itu mereka diberanikan untuk terus berbuat dosa. Jadi kepanjang-sabaran Allah, yang membimbing pada pertobatan, disalah-gunakan sehingga membimbing pada kejahatan-kejahatan yang lebih jauh!).

 

Matthew Henry (tentang Pkh 8:11): Vengeance comes slowly, but it comes surely, and wrath is in the mean time treasured up against the day of wrath (= Pembalasan datang dengan lambat, tetapi itu datang dengan pasti, dan sementara itu murka menumpuk menuju hari kemurkaan / dalam persiapan untuk hari kemurkaan).

 

Bdk. Ro 2:4-5 - “(4) Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (5) Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan”.

 

4)   Blessed are all who take refuge in him” (= Diberkatilah semua orang yang berlindung kepadaNya).

 

Calvin: “The pronoun ‘him’ may be referred as well to God as to Christ, but, in my judgment, it agrees better with the whole scope of the psalm to understand it of Christ, whom the Psalmist before enjoined kings and judges of the earth to kiss” (= Kata ganti orang ‘Nya’ bisa menunjuk kepada Allah maupun kepada Kristus, tetapi dalam penilaian saya, itu cocok dengan lebih baik dengan seluruh daerah dari mazmur ini untuk mengertinya tentang Kristus, yang sang Pemazmur sebelumnya memerintahkan raja-raja dan hakim-hakim bumi / dunia untuk mencium).

 

Calvin: “The concluding sentence of the psalm qualifies what was formerly said concerning the severity of Christ; for his iron rod and the fiery wrath of God would strike terror into all men without distinction, unless this comfort had been added. Having, therefore discoursed concerning the terrible judgment which hangs over the unbelieving, he now encourages God’s faithful and devout servants to entertain good hope, by setting forth the sweetness of his grace” (= Kalimat penutup dari mazmur ini memodifikasi apa yang sebelumnya dikatakan berkenaan dengan kekerasan dari Kristus; karena tongkat / gada besiNya dan murka Allah yang berapi-api akan mendatangkan rasa takut dalam setiap orang tanpa pembedaan kecuali penghiburan ini telah ditambahkan. Karena itu, setelah bercakap-cakap berkenaan dengan penghakiman yang menakutkan yang menggantung di atas orang-orang yang tidak percaya, sekarang ia mendorong pelayan-pelayan yang setia dan saleh dari Allah untuk mempunyai pengharapan yang baik, dengan menyatakan kemanisan dari kasih karuniaNya).

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali