Pemahaman Alkitab
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Rabu, tanggal 1 Februari 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Mazmur 2:1-12(3)
Maz 2:1-12 - “(1) Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? (2) Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya: (3) ‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!’ (4) Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. (5) Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murkaNya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarahNya: (6) ‘Akulah yang telah melantik rajaKu di Sion, gunungKu yang kudus!’ (7) Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. (8) Mintalah kepadaKu, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. (9) Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.’ (10) Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! (11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, (12) supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung padaNya!”.
2) Allah menyatakan diri sebagai yang melantik RajaNya di Sion.
Ay 6: “‘Akulah
yang telah melantik rajaKu di Sion, gunungKu yang kudus!’”.
Bible Knowledge Commentary: “Zion, referred to 40 times in the Book of Psalms, was originally a Canaanite city conquered by David (2 Sam 5:7). Later Zion referred to the temple area and then to the entire city of Jerusalem (cf. comments on Lam 1:4 Zech 8:3). Holy hill is a synonym for the temple mount (cf. Ps 3:4; 15:1; 24:3; 78:54; Dan 9:16,20; Obad 16; Zeph 3:11)” [= Sion, ditunjuk 40 kali dalam kitab Mazmur, mula-mula adalah suatu kota Kanaan yang dikalahkan oleh Daud (2Sam 5:7). Belakangan Sion menunjuk pada daerah Bait Allah dan lalu pada seluruh kota Yerusalem (bdk. komentar tentang Rat 1:4 Zakh 8:3). Gunung yang kudus merupakan sinonim untuk gunung Bait Allah (bdk. Maz 3:5; 15:1; 24:3; 78:54; Dan 9:16,20; Obaja 16; Zef 3:11)].
Spurgeon: “Even now he reigns in Zion, and our glad lips sound forth the praises of the Prince of Peace. Greater conflicts may here be foretold, but we may be confident that victory will be given to our Lord and King” (= Bahkan sekarang Ia bertakhta di Sion, dan bibir-bibir gembira kita mengeluarkan puji-pujian tentang Pangeran / Raja Damai. Konflik-konflik yang lebih besar mungkin diramalkan di sini, tetapi kita bisa yakin bahwa kemenangan akan diberikan kepada Tuhan dan Raja kita).
Spurgeon: “Notice the firmness of the divine purpose with respect unto this matter. ‘Yet have I set’ him ‘King;’ i.e., whatever be the plots of hell and earth to the contrary, he reigns by his Father’s ordination” (= Perhatikan keteguhan dari rencana ilahi berkenaan dengan persoalan ini. ‘Tetapi Aku telah melantik’nya sebagai ‘Raja’, yaitu, apapun komplotan-komplotan dari neraka dan bumi yang menentangnya, Ia bertakhta oleh penentuan BapaNya).
Spurgeon: “There is a twofold kingdom of God committed to Jesus Christ; first, a spiritual kingdom, by which he rules in the hearts of his people, and so is King of saints; and, secondly, a providential kingdom, by which he rules the affairs of this world, and so he is King of nations” (= Ada kerajaan Allah rangkap dua yang diberikan kepada Yesus Kristus; pertama, suatu kerajaan rohani, dengan mana Ia memerintah dalam hati dari umatNya, dan dengan demikian Ia adalah Raja dari orang-orang kudus; dan kedua, suatu kerajaan yang bersifat providensia, dengan mana Ia memerintah urusan-urusan dari dunia ini, dan dengan demikian Ia adalah Raja dari bangsa-bangsa).
Spurgeon: “At the moment when their power is at its height, and their fury most violent, then shall his Word go forth against them. And what is it that he says? - it is a very galling sentence - ‘Yet,’ says he, despite your malice, despite your tumultuous gatherings, despite the wisdom of your counsels, despite the craft of your lawgivers, ‘yet have I set my king upon my holy hill of Zion’. Is not that a grand exclamation! He has already done that which the enemy seeks to prevent. While they are proposing, he has disposed the matter. Jehovah’s will is done, and man’s will frets and raves in vain. God’s Anointed is appointed, and shall not be disappointed” (= Pada saat kekuasaan mereka ada pada puncaknya, dan kemarahan mereka paling hebat / sengit, maka firmanNya keluar terhadap mereka. Dan apa itu yang Ia katakan? - itu adalah suatu kalimat yang sangat menyakitkan hati - ‘Tetapi’, kataNya, sekalipun ada kejahatanmu, sekalipun ada perkumpulan-perkumpulan yang rusuh, sekalipun ada hikmat dari rencana-rencanamu, sekalipun ada tipu daya dari pemberi-pemberi hukummu, ‘tetapi Aku telah menetapkan RajaKu di bukit SionKu yang kudus’. Bukankah itu merupakan suatu seruan yang agung / hebat! Ia telah melakukan yang musuh usahakan untuk mencegah. Sementara mereka bermaksud, Ia telah menentukan persoalannya. Kehendak Yehovah terjadi, dan kehendak manusia akan marah-marah dan mengoceh dengan sia-sia. Yang diurapi Allah ditetapkan, dan tidak akan digagalkan).
Ay 7: “Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”.
Ini adalah kata-kata Daud / Mesias tentang kata-kata Tuhan kepadanya.
Calvin: “‘I will declare, etc.’ David, to take away all pretense of ignorance from his enemies, assumes the office of a preacher in order to publish the decree of God; or at least he protests that he did not come to the throne without a sure and clear proof of his calling; as if he had said, I did not, without consideration, publicly go forward to usurp the kingdom, but I brought with me the command of God, without which, I would have acted presumptuously, in advancing myself to such an honorable station. But this was more truly fulfilled in Christ, and doubtless, David, under the influence of the spirit of prophecy, had a special reference to him” (= ‘Aku mau menyatakan, dst’. Daud, untuk membuang semua pengakuan / kepura-puraan tentang ketidak-tahuan dari musuh-musuhnya, mengambil jabatan seorang pengkhotbah untuk mempublikasikan ketetapan Allah; atau setidaknya ia memprotes bahwa ia tidak datang pada takhta tanpa suatu bukti yang pasti dan jelas dari panggilannya; seakan-akan ia telah berkata, aku tidak, tanpa pertimbangan, di depan umum maju untuk merebut kerajaan, tetapi aku membawa bersamaku perintah Allah, tanpa mana, aku akan sudah bertindak dengan lancang, dalam memajukan diriku sendiri pada posisi terhormat seperti itu. Tetapi ini secara lebih benar digenapi dalam Kristus, dan tak diragukan bahwa Daud, di bawah pengaruh dari roh nubuatan, mempunyai suatu referensi khusus kepada Dia).
Calvin: “here God, by the singularly high title with which he honors David, exalts him not only above all mortal men, but even above the angels. This the apostle (Hebrews 1:5) wisely and diligently considers when he tells us this language was never used with respect to any of the angels. David, individually considered, was inferior to the angels, but in so far as he represented the person of Christ, he is with very good reason preferred far above them” [= di sini Allah, dengan gelar yang luar biasa tinggi dengan mana Ia menghormati Daud, meninggikan dia bukan hanya di atas semua manusia yang fana, tetapi bahkan di atas malaikat-malaikat. Ini sang rasul (Ibr 1:5) mempertimbangkan dengan bijaksana dan dengan teliti pada waktu ia memberitahu kita bahwa bahasa / kata-kata ini tidak pernah digunakan berkenaan dengan malaikat manapun. Daud, dipertimbangkan secara individual, lebih rendah dari malaikat-malaikat, tetapi sejauh ia menggambarkan pribadi Kristus, ia dengan alasan yang sangat baik dilebihkan jauh di atas mereka].
Ibr 1:5a - “Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?’”.
1) Ayat ini menunjuk kepada ‘the eternal generation of the Son’??
a) Doktrin ‘the eternal generation of the Son’.
Doktrin ini diciptakan untuk menjelaskan hubungan Bapa dengan Anak, dengan memperhatikan / menjaga dua hal, yaitu ketidak-bisa-berubahan Allah dan kekekalan Anak.
Definisi doktrin ini: ‘The eternal generation of the Son’ merupakan suatu tindakan kekal dari Bapa, dimana Bapa secara kekal / terus menerus memperanakkan Anak.
Philip Schaff: “The Son, as man, is produced; as God, he is unproduced or uncreated; he is begotten from eternity of the unbegotten Father” (= Anak, sebagai manusia, dihasilkan / diciptakan; sebagai Allah, Ia tidak dihasilkan atau tidak diciptakan; Ia diperanakkan dari kekekalan dari Bapa yang tidak diperanakkan) - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 658.
Itu bukanlah suatu tindakan yang terjadi hanya pada satu saat di masa lampau, tetapi merupakan suatu tindakan yang, sekalipun sudah selesai dilakukan, tetapi tetap dilakukan terus-menerus, dari minus tak terhingga sampai plus tak terhingga. Tidak ada saat di mana Bapa tidak melakukan tindakan itu.
Definisi ini penting, karena kalau dikatakan bahwa Bapa memperanakkan Anak pada satu saat di masa yang lampau, maka:
1. Ada perubahan dalam diri Allah (dari 1 pribadi menjadi 2 pribadi).
2. Bapa lebih kekal dari Anak / Yesus.
Herman Bavinck: “It is not to be regarded as having been completed once for all in the past, but it is an act eternal and immutable, eternally finished, yet continuing forevermore. As it is natural for the sun to give light and for the fountain to pour forth water, so it is natural for the Father to generate the Son” (= Ini tidak boleh dianggap sebagai sudah terjadi sekali untuk selama-lamanya di masa yang lalu, tetapi ini merupakan suatu tindakan yang kekal dan tidak berubah, diselesaikan secara kekal, tetapi terus berlangsung selama-lamanya. Sebagaimana merupakan sesuatu yang alamiah bagi matahari untuk memberikan sinarnya dan bagi suatu sumber untuk mengeluarkan air, demikian juga adalah sesuatu yang alamiah bagi Bapa untuk memperanakkan Anak) - ‘The Doctrine of God’, hal 309.
Illustrasi / analogi yang dipakai oleh Bavinck di sini adalah sangat penting. Tindakan Bapa memperanakkan Anak merupakan suatu tindakan yang sudah selesai, tetapi terus berlangsung secara kekal.
Analoginya adalah matahari yang memancarkan sinarnya. Matahari itu sudah selesai memancarkan sinarnya, tetapi hal itu tetap berlangsung terus menerus, dan tidak ada saat dimana matahari tidak memancarkan sinarnya.
Sekarang cobalah membayangkan hal itu. Dari minus tak terhingga sampai ke plus tak terhingga matahari terus menerus memancarkan sinarnya. Coba bayangkan hal ini, dan ikuti matahari dan sinarnya itu mulai minus tak terhingga sampai ke plus tak terhingga. Apakah ada perubahan? Sama sekali tidak, bukan? Semua tetap sama selama-lamanya. Lalu, apakah matahari lebih kekal dari sinarnya? Kalau saudara berkata bahwa matahari ada lebih dulu dari sinarnya, maka ingat bahwa matahari tanpa sinar tidak bisa disebut sebagai matahari, dan ingat juga bahwa dalam ilustrasi ini matahari itu terus mengeluarkan sinarnya dari minus tak terhingga sampai plus tak terhingga. Jadi jelas bahwa matahari sama usianya dengan sinarnya.
Kalau hal ini kita jadikan ilustrasi tentang Bapa yang memperanakkan Anak, maka kita tidak bisa melihat adanya perubahan dalam diri Allah, dan kita juga tidak bisa mengatakan bahwa Bapa itu lebih kekal dari pada Anak.
Philip Schaff: “In human generation, ... the father is older than the son; but in the divine generation, which takes place not in time, but is eternal, there can be no such thing as priority or posteriority of one or the other hypostasis” (= Dalam kelahiran manusia, ... bapanya lebih tua dari anaknya; tetapi dalam kelahiran ilahi, yang terjadi bukan dalam waktu, tetapi merupakan sesuatu yang kekal, tidak ada ‘sebelum’ atau ‘sesudah’ dari satu pribadi atau pribadi yang lain) - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 659.
W. G. T. Shedd mengutip kata-kata yang indah dari Turretin:
“The Father does not generate the Son either as previously existing, for in this case there would be no need of generation; nor as not yet existing, for in this case the Son would not be eternal; but as coexisting, because he is from eternity in the Godhead” (= Bapa tidak memperanakkan Anak seakan-akan Anak itu sudah ada sebelumnya, karena dalam hal ini tidak dibutuhkan tindakan memperanakkan itu; juga tidak seakan-akan Anak itu belum ada, karena dalam hal ini Anak itu tidak kekal; tetapi sebagai ada bersama-sama, karena Ia ada di dalam Allah sejak kekekalan) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 293-294.
Dari penjelasan-penjelasan ini terlihat bahwa sekalipun Yesus memang betul-betul diperanakkan oleh Bapa, Ia tetap sama kekalnya dengan Bapa, dan itu membuktikan bahwa Ia memang adalah Allah sendiri!
Jadi, dengan penjelasan dan ilustrasi ini kita bisa menjawab dan mematahkan argumentasi yang cuma berdasarkan logika semata-mata yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa: “Para penganut Tritunggal mengatakan bahwa karena Allah itu kekal, maka Anak Allah juga kekal. Namun bagaimana seseorang bisa menjadi anak dan pada waktu yang sama umurnya setua ayahnya?” - ‘Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?’, hal 15.
b) Dasar Kitab Suci dari doktrin ini.
1. Sebutan ‘Bapa’ dan ‘Anak’ dalam Kitab Suci menunjukkan bahwa Bapa memang memperanakkan Anak (tetapi bukan seperti seorang bapak memperanakkan anaknya!). Kalau memang tidak ada tindakan memperanakkan, mengapa tidak disebut saja suami - istri, atau dua saudara kembar, atau paman - keponakan, dan sebagainya.
2. Sebutan ‘Anak Tunggal’ [dalam bahasa Inggris ‘The Only Begotten’ (= ‘satu-satunya yang diperanakkan’)] bagi Yesus (Yoh 1:14 3:16), dan juga sebutan ‘sulung’ [dalam bahasa Inggrisnya firstborn (= yang dilahirkan pertama)] bagi Yesus (Kol 1:15 Ro 8:29 Ibr 1:6), menunjukkan bahwa Ia memang diperanakkan.
3. Yoh 5:26 dan Yoh 6:57 mengatakan bahwa Bapa memberikan Anak untuk mempunyai hidup dalam diriNya sendiri.
Yoh 5:26 - “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diriNya sendiri, demikian juga diberikanNya Anak mempunyai hidup dalam diriNya sendiri”.
Yoh 6:57 - “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku”.
4. Yoh 1:18 - “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”.
Perhatikan istilah ‘Anak Tunggal Allah’ yang saya garis bawahi itu.
Dalam istilah / bagian ini terdapat textual problem (= problem text, dimana ada perbedaan antara manuscript yang satu dengan manuscript yang lain). Ada 4 golongan manuscript:
· the only begotten (= satu-satunya yang diperanakkan).
· the only begotten Son (= satu-satunya Anak yang diperanakkan).
· the only begotten Son of God (= satu-satunya Anak Allah yang diperanakkan).
· only begotten God (= satu-satunya Allah yang diperanakkan).
Catatan: untuk yang ke 4 ini ada yang mengatakan bahwa ada definite article / kata sandang tertentu (‘the only begotten God’), tetapi kebanyakan mengatakan bahwa di sini tidak digunakan definite article / kata sandang tertentu (‘only begotten God’).
Kebanyakan penafsir menganggap bahwa manuscript yang keempatlah yang benar, dengan alasan:
a. Ini didukung oleh manuscript yang paling kuno.
Makin kuno suatu manuscript, makin dekat manuscript itu dengan autograph / naskah aslinya, sehingga makin dipercaya. Makin baru suatu manuscript, makin jauh manuscript itu dari naskah aslinya sehingga makin tidak dipercaya.
Catatan: autograph adalah naskah asli, yang ditulis langsung oleh para penulis Kitab Suci, dan ini saja yang dianggap sebagai infallible dan inerrant (sama sekali tidak ada salahnya). Tetapi autograph ini sudah tidak ada lagi / musnah. Yang ada hanyalah salinan-salinan atau manuscript-manuscript, yang sudah mengandung kesalahan.
b. Ini merupakan ‘bacaan yang lebih sukar’ (‘more difficult reading’).
Memang kalau ada perbedaan manuscript, biasanya bacaan yang lebih sukar / ‘lebih tidak masuk akal’ yang diterima, berdasarkan suatu anggapan bahwa penyalin manuscript itu lebih mungkin untuk mengubah dari ‘yang tidak masuk akal’ menjadi ‘yang masuk akal’, dari pada mengubah dari ‘yang masuk akal’ menjadi ‘yang tidak masuk akal’. Dengan kata lain, penyalin manuscript itu mungkin sekali mempermudah bacaan, tetapi tidak mungkin mempersukar bacaan.
Dalam peristiwa ini, kalau yang benar adalah yang no 1, maka tidak mungkin ada penyalin yang mengubahnya menjadi no 2 atau no 3, dan lebih-lebih tidak mungkin ada penyalin yang mengubah menjadi yang no 4, yang ‘begitu tidak masuk akal’. Demikian juga kalau yang benar adalah no 2 atau no 3. Sebaliknya, kalau no 4 yang benar, mungkin sekali penyalin menganggap bacaan itu tidak masuk akal, dan ia menganggapnya sebagai pasti salah, sehingga ia mengubahnya menjadi no 1 atau no 2 atau no 3.
NASB: ‘the only begotten God’ (= satu-satunya Allah yang diperanakkan).
Saksi-Saksi Yehuwa juga menterjemahkan berdasarkan manuscript golongan 4 ini.
Yoh 1:18 (NWT): ‘the only begotten god’ (= satu-satunya allah yang diperanakkan).
Yoh 1:18 (TDB): “satu-satunya allah yang diperanakkan”.
Jadi, sekalipun terjemahan dari NWT / TDB ini berbeda dengan terjemahan kita, tetapi sebetulnya terjemahan NWT / TDB ini berasal dari manuscript yang paling benar, sama seperti terjemahan dari NASB. Tetapi mereka salah dalam satu hal, yaitu bahwa mereka menggunakan kata ‘god’ / ‘allah’ dan bukannya ‘God’ / ‘Allah’.
Saksi-Saksi Yehuwa tetap tidak mengakui keilahian Yesus berdasarkan ayat yang begitu jelas ini, dan menganggap bahwa Yesus disebut demikian “karena keunikan kedudukannya sehubungan dengan Yehuwa” - ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 431.
Ini merupakan penafsiran yang sama sekali tidak masuk akal. Mengapa kalau kedudukanNya unik, lalu harus disebut sebagai ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’? Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keunikan!
Saya sendiri beranggapan bahwa pada waktu Yesus disebut dengan istilah ‘only begotten God’ (= satu-satunya Allah yang diperanakkan), maka:
· Secara implicit ini menunjukkan bahwa ada kejamakan dalam diri Allah (karena ada Allah yang diperanakkan, dan ada yang tidak) sehingga juga bisa digunakan sebagai dasar dari Allah Tritunggal.
· Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Bapa dan Roh Kudus adalah Allah, tetapi Mereka tidak pernah diperanakkan; Yesus adalah Allah, dan Ia diperanakkan. Jadi Ia adalah satu-satunya Allah yang diperanakkan.
A. H. Strong: “In John 1:18, monogenhj qeoj - ‘the only begotten God’ - must be regarded as the correct reading, and as a plain ascription of absolute Deity to Christ” [= Dalam Yoh 1:18, monogenhj qeoj (MONOGENES THEOS) - ‘satu-satunya Allah yang diperanakkan’ - harus dianggap sebagai bacaan yang benar, dan merupakan suatu pernyataan yang jelas yang memberikan keilahian yang mutlak kepada Kristus] - ‘Systematic Theology’, hal 306.
· Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul diperanakkan oleh Bapa. Karena itu ayat ini juga menjadi dasar dari doktrin the eternal generation of the Son, yang mengajarkan bahwa Anak diperanakkan secara kekal oleh Bapa.
c) Maz 2:7 ini sama sekali tidak menunjuk pada doktrin ini.
Spurgeon: “The dispute concerning the eternal filiation of our Lord betrays more of presumptuous curiosity than of reverent faith. It is an attempt to explain where it is far better to adore. We could give rival expositions of this verse, but we forbear. The controversy is one of the most unprofitable which ever engaged the pens of theologians” (= Perselisihan berkenaan dengan diperanakkannya Tuhan kita secara kekal memperlihatkan lebih banyak keingin-tahuan dari pada iman yang hormat. Itu merupakan suatu usaha untuk menjelaskan pada saat adalah jauh lebih baik untuk memuja. Kami bisa memberikan exposisi tandingan tentang ayat ini, tetapi kami menahan diri. Kontroversi ini adalah salah satu yang paling tidak berguna yang pernah melibatkan / menarik pena-pena dari ahli-ahli theologia).
Catatan: menurut saya Spurgeon bodoh dalam hal ini. Di atas saya sudah menjelaskan kegunaan dari doktrin ini. Tetapi Maz 2:7 ini memang bukan dasar dari doktrin ‘The Eternal Generation of The Son’. Tetapi memang banyak penafsir yang menganggap Maz 2:7 ini sebagai dasar dari doktrin ini.
Adam Clarke: “It is well known that the words, ‘Thou art my Son; this day have I begotten thee,’ have been produced by many as a proof of the eternal generation of the Son of God” (= Merupakan sesuatu yang terkenal bahwa kata-kata ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini’, telah diberikan oleh banyak orang sebagai suatu bukti dari ‘the eternal generation of the Son of God’).
Calvin: “This passage, I am aware, has been explained by many as referring to the eternal generation of Christ; and from the words ‘this day,’ they have reasoned ingeniously as if they denoted an eternal act without any relation to time. But Paul, who is a more faithful and a better qualified interpreter of this prophecy, in Acts 13:33, calls our attention to the manifestation of the heavenly glory of Christ of which I have spoken. This expression, ‘to be begotten,’ does not therefore imply that he then began to be the Son of God, but that his being so was then made manifest to the world” (= Text ini, saya sadari, telah dijelaskan oleh banyak orang sebagai menunjuk pada ‘the eternal generation’ dari Kristus; dan dari kata-kata ‘hari ini’ mereka telah berargumentasi dengan naif seakan-akan kata-kata itu menunjukkan suatu tindakan kekal tanpa hubungan apapun dengan waktu. Tetapi Paulus, yang adalah seorang penafsir yang lebih setia dan lebih memenuhi syarat tentang nubuat ini, dalam Kis 13:33, meminta perhatian kita pada pernyataan dari kemuliaan surgawi dari Kristus tentang mana saya telah berbicara. Karena itu, ungkapan ‘diperanakkan’ ini tidak menunjukkan secara implicit bahwa pada saat itu Ia mulai menjadi Anak Allah, tetapi bahwa keberadaanNya yang seperti itu pada saat itu dinyatakan kepada dunia).
Pdt. Stephen Tong termasuk salah satu orang yang menggunakan Maz 2:7 sebagai dasar dari doktrin ‘The Eternal Generation of the Son’ ini. Tetapi Calvin secara sangat jelas menentang bahwa Maz 2:7 bisa menunjuk pada doktrin ini. Ia mempunyai 2 alasan yang sangat kuat:
1. Kata-kata ‘hari ini’ tidak mungkin bisa menunjuk pada suatu tindakan kekal.
Ini diperkuat oleh komentar Adam Clarke di bawah ini.
Adam Clarke: “The word hayowm, ‘TODAY,’ is in no part of the sacred writings used to express eternity, or anything in reference to it; nor can it have any such signification. ‘Today’ is an absolute designation of the present, and equally excludes time past and time future; and never can, by any figure, or allowable latitude of construction, be applied to express eternity” (= Kata hayowm, ‘hari ini’, tidak ada di bagian manapun dari tulisan-tulisan kudus digunakan untuk menyatakan kekekalan, atau apapun berkenaan dengannya; juga itu tidak bisa mempunyai arti seperti itu. ‘Hari ini’ merupakan suatu petunjuk mutlak tentang saat sekarang, dan secara sama membuang waktu yang lalu dan waktu yang akan datang; dan tidak pernah bisa, dengan gambaran apapun, atau kebebasan konstruksi yang diijinkan, diterapkan untuk menyatakan kekekalan).
2. Ayat ini dikutip oleh Paulus dalam Kis 13:33, dan digunakan untuk menunjuk pada kebangkitan Kristus, dan sama sekali tidak untuk menunjuk pada doktrin ini.
Lagi-lagi argumentasi Calvin ini didukung oleh Adam Clarke dalam komentarnya di bawah ini.
Adam Clarke: “We have Paul’s authority for applying to the resurrection of our Lord these words, ‘Thou art my Son; this day have I begotten thee;’ - see Acts 13:33; see also Heb 5:6; - and the man must indeed be a bold interpreter of the Scriptures who would give a different gloss to that of the apostle” (= Kami / kita mempunyai otoritas dari Paulus untuk menerapkan pada kebangkitan dari Tuhan kita kata-kata ini, ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini’; - lihat Kis 13:33; lihat juga Ibr 5:6; - dan orang itu haruslah seorang penafsir Kitab Suci yang ‘berani’ yang memberikan keterangan / penafsiran yang berbeda dengan penafsiran dari sang rasul).
Catatan: Ibr 5:6 itu seharusnya adalah Ibr 5:5.
Kis 13:30-33 - “(30) Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. (31) Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi saksiNya bagi umat ini. (32) Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, (33) telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: AnakKu Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini”.
Ibr 5:5 - “Demikian pula Kristus tidak memuliakan diriNya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepadaNya: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini’,”.
Pengutipan Maz 2:7 dalam Ibr 5:5 berkenaan dengan keimaman Kristus menunjukkan bahwa ‘memperanakkan’ juga mencakup menyatakan / menunjukkan Kristus sebagai imam besar (Calvin tentang Ibr 5:5).
d) Maz 2:7 ini menyatakan Yesus sebagai Anak Allah, dan menunjuk pada kebangkitanNya.
Calvin: “We must, at the same time, however, bear in mind what Paul teaches, (Romans 1:4) that he was declared to be the Son of God with power when he rose again from the dead, and therefore what is here said has a principal allusion to the day of his resurrection” [= Tetapi pada saat yang sama kita harus mencamkan dalam pikiran kita bahwa Paulus mengajar, (Ro 1:4) bahwa Ia dinyatakan sebagai Anak Allah dengan kuasa pada waktu Ia bangkit kembali dari orang mati, dan karena itu apa yang dikatakan di sini mempunyai suatu hubungan utama dengan hari kebangkitanNya].
Ro 1:3-4 - “(3) tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, (4) dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”.
Adam Clarke: “The word ylidtiykaa, ‘I have begotten,’ is here taken in the sense of manifesting, exhibiting, or declaring; and to this sense of it Paul (Rom 1:3-4) evidently alludes when speaking of ‘Jesus Christ, who was made of the seed of David according to the flesh, ...; and declared (exhibited or determined) to be the Son of God with power, according to the Spirit of holiness.’” [= Kata ylidtiykaa, ‘Aku telah memperanakkan’, di sini diambil dalam arti memanifestasikan, menunjukkan / memamerkan, atau menyatakan; dan pada arti ini Paulus (Ro 1:3-4) secara jelas menunjuk pada waktu berbicara tentang ‘Yesus Kristus, yang dibuat dari benih Daud menurut daging, ...; dan menyatakan (menunjukkan / memamerkan atau menentukan) sebagai Anak Allah dengan kuasa, menurut Roh kekudusan’.].
Catatan: kata Ibrani YELIDTIYKA seharusnya berarti ‘I have begotten you’ (= Aku telah memperanakkanmu’).
Adam Clarke: “I need not tell the learned reader that the Hebrew verb yaalad, to beget, is frequently used in reference to inanimate things, to signify their production, or the exhibition of the things produced” (= Saya tidak perlu memberitahu pembaca bahwa kata kerja Ibrani YAALAD, ‘memperanakkan’, sering digunakan berkenaan dengan benda-benda mati, untuk menunjukkan hasil / produksi mereka, atau pertunjukan / pameran dari hal-hal / benda-benda yang diproduksi).
Catatan: saya tidak tahu apakah kata-kata Clarke ini benar, karena dalam kamus saya tidak bisa mendapatkan arti seperti ini.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali