Pemahaman
Alkitab
(Jl. Dinoyo
19b, lantai 3)
Jumat, tanggal
7 Agustus 2009, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
Ay 2: “tetapi
yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan
malam”.
1) Ay 2 ini berhubungan
dengan ay 1.
Ay 1 melarang untuk
bergaul dengan orang fasik / jahat, dan ay 2 menunjukkan keharusan untuk
merenungkan Firman Tuhan. Kedua hal ini harus dilakukan bersama-sama dalam
kehidupan kita. Dari kedua ayat ini, Calvin memberikan komentar di bawah ini.
Calvin: “he teaches us how impossible it is for any one to
apply his mind to meditation upon God’s laws who has not first withdrawn and
separated himself from the society of the ungodly”
(= ia mengajar kita betapa tidak mungkin bagi seseorang untuk menggunakan
pikirannya untuk merenungkan hukum Taurat Allah jika ia tidak lebih dulu menarik
dan memisahkan dirinya dari perkumpulan orang fasik).
Calvin: “as corruption has always prevailed in the world, to
such a degree, that the general character of men’s lives is nothing else but a
continual departure from the law of God, the Psalmist, before asserting the
blessedness of the students of the divine law, admonishes them to beware of
being carried away by the ungodliness of the multitude around them”
(= karena kejahatan telah selalu menang dalam dunia, sampai pada tingkat
tertentu, sehingga karakter umum dari kehidupan manusia tidak lain dari pada
meninggalkan hukum Taurat Allah secara terus menerus, sang Pemazmur, sebelum
menegaskan keberkatan dari murid-murid dari hukum ilahi, menasihati mereka untuk
berhati-hati supaya tidak diseret oleh kejahatan dari orang banyak di sekitar
mereka).
2)
“tetapi
yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan
malam”.
a)
Yang
dimaksud dengan istilah ‘Taurat Tuhan’.
Calvin: “When David here speaks of the
law, it ought not to be understood as if the other parts of Scripture should
be excluded, but rather, since the whole of Scripture is nothing else than an
exposition of the law, under it as the head is comprehended the whole body. The
prophet, therefore, in commending the law, includes all the rest of the inspired
writings” (= Pada waktu Daud di sini berbicara
tentang hukum Taurat, itu tak boleh dimengerti seakan-akan bagian-bagian lain
dari Kitab Suci dikeluarkan, tetapi sebaliknya, karena seluruh Kitab Suci tidak
lain dari pada suatu exposisi dari hukum Taurat, di bawahnya sebagai kepala
dimengerti seluruh tubuh. Karena itu, sang nabi, dalam memuji hukum Taurat,
mencakup seluruh sisa dari tulisan-tulisan yang diilhamkan).
Barnes’
Notes: “The
Hebrew word towrah,
properly means instruction, precept; and then, an injunction, command, law, in
the usual sense of the word. It was applied particularly to the Pentateuch, or
law of Moses (compare the notes at Luke 24:44), as containing the first written
and recorded laws of God; and then the word came, in a more general sense, to be
applied to all the books of the Old Testament, as being an exposition and
application of the law. Here the word undoubtedly refers to the written
revelation of the will of God as far as it was then made known. On the same
principle, however, the declaration here made would apply to any part of a
divine revelation” [= Kata Ibrani TOWRAH, yang secara tepat berarti
instruksi, ajaran / perintah; dan lalu suatu perintah, hukum, dalam arti biasa
dari kata itu. Itu diterapkan khususnya pada 5 kitab Musa, atau hukum Taurat
Musa (bandingkan catatan tentang Luk 24:44), sebagai berisikan hukum-hukum Allah
yang pertama-tama dituliskan dan dicatat; dan lalu kata itu diterapkan dalam
arti yang lebih umum pada semua kitab-kitab dari Perjanjian Lama, sebagai suatu
exposisi dan penerapan dari hukum Taurat. Di sini kata itu tidak diragukan
menunjuk pada wahyu yang tertulis dari kehendak Allah sejauh yang pada saat itu
dinyatakan. Tetapi pada prinsip yang sama, pernyataan yang dibuat di sini bisa
diterapkan pada bagian manapun dari wahyu ilahi].
b)
“tetapi
yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN”.
Barnes’
Notes: “the
sentiment is, that a truly pious man finds his highest delight in the revealed
truths of God. This is often referred to as characteristic of true piety.
Compare Ps 19:10; 119:97,99” (= pemikirannya adalah, bahwa seorang manusia
yang sungguh-sungguh saleh mendapatkan kesukaannya yang tertinggi dalam
kebenaran yang dinyatakan dari Allah. Ini sering ditunjuk sebagai sifat dari
kesalehan yang sungguh-sungguh. Bandingkan dengan Maz 19:10; 119:97,99).
Maz
19:9-11 - “(10) Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya;
hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, (11) lebih indah dari pada emas,
bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari
pada madu tetesan dari sarang lebah”.
Maz
119:97,99 - “(97) Betapa kucintai TauratMu! Aku merenungkannya sepanjang
hari. ... (99) Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab
peringatan-peringatanMu kurenungkan”.
Bdk. Kis 17:11 - “Orang-orang
Yahudi di kota itu lebih baik hatinya (mulia)
dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu
dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk
mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian”.
Calvin: “From his characterising the godly as delighting in
the law of the Lord, we may learn that forced or servile obedience is not at all
acceptable to God, and that those only are worthy students of the law who come
to it with a cheerful mind, and are so delighted with its instructions, as to
account nothing more desirable or delicious than to make progress therein”
(= Dari pemberian ciri terhadap orang-orang saleh sebagai menyukai / menyenangi
hukum Taurat Tuhan, kita bisa belajar bahwa ketaatan yang dipaksakan atau
bersifat perhambaan sama sekali tidak bisa diterima oleh Allah, dan bahwa yang
layak menjadi murid-murid dari hukum Taurat hanyalah mereka yang datang
kepadanya dengan pikiran yang gembira, dan yang begitu senang dengan
instruksi-instruksinya, sehingga menganggap tidak ada lain yang lebih diinginkan
atau nikmat dari pada membuat kemajuan di dalamnya).
Matthew
Henry: “We may judge of our
spiritual state by asking, ‘What is the law of God to us? What account do we
make of it? What place has it in us?’” (= Kita bisa menghakimi / menilai
keadaan rohani kita dengan bertanya: ‘Apakah hukum Taurat Allah itu bagi kita?
Laporan / cerita apa yang kita buat tentangnya? Tempat apa yang dipunyainya
dalam diri kita?’).
c)
“dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam”.
1.
Perbedaan ‘mempelajari’ dan ‘merenungkan’.
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “Study
is the work of the brain, meditation of the heart” (= Mempelajari
merupakan pekerjaan dari otak, merenungkan dari hati).
2.
Pentingnya ‘merenungkan firman’.
Spurgeon
mengutip Joseph Caryl: “It may be, at once reading or looking, we see little or nothing; ...
So you may look lightly upon a Scripture and see nothing; meditate often upon
it, and there you shall see a light, like the light of the sun” (= Adalah
memungkinkan, pada sekali pembacaan atau melihat, kita melihat sedikit atau
tidak ada sama sekali; ... Demikianlah engkau bisa melihat secara enteng pada
Kitab Suci dan tidak melihat apa-apa; seringlah merenungkannya, dan di sana
engkau akan melihat terang, seperti terang dari matahari) - hal 6.
3.
‘Merenungkan firman’ merupakan sesuatu yang harus dilakukan dengan
tekun.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“in
verse 2, ‘meditate’ is the imperfect tense and speaks of constant practice.
‘He keeps meditating.’” (= dalam ayat 2, ‘merenungkan’ ada dalam
tensa imperfect dan berbicara tentang praktek yang terus menerus. ‘Ia terus
merenungkan’).
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “He
meditates it in the ‘day’ of prosperity, and does not forget to do so in the
‘night’ of adversity” (= Ia merenungkannya dalam ‘siang’ dari
kemakmuran / keberhasilan, dan tidak lupa melakukannya dalam ‘malam’ dari
kesengsaraan).
Catatan:
saya tidak yakin bahwa kata ‘siang’ dan ‘malam’
dalam ay 2 ini boleh dialegorikan seperti itu. Menurut saya, kedua kata itu
berarti hurufiah, dan arti yang diberikan oleh Albert Barnes di bawah, lebih
benar. Tetapi biarpun dihasilkan oleh metode penafsiran yang salah, apa yang
diajarkan oleh penafsir di atas ini benar dan bagus, dan karena itu saya berikan
di sini. Kita harus mau membaca, belajar dan merenungkan Firman Tuhan bukan
hanya kalau keadaan baik-baik dan menyenangkan, tetapi juga pada waktu keadaan
menjadi buruk!
Barnes’
Notes: “he
takes time to do it - designedly setting apart suitable portions of each day,
that, withdrawn from the cares of life, he may refresh his spirit by
contemplating divine truth, or may become better acquainted with God, and with
his duty to him, and may bring to bear upon his own soul more directly the
truths pertaining to eternal realities” (= ia mengambil waktu untuk
melakukan hal ini - dengan terencana memisahkan suatu bagian yang pantas / cocok
dari setiap hari, sehingga, ditarik dari perhatian-perhatian dari kehidupan, ia
bisa disegarkan rohnya oleh perenungan kebenaran ilahi, atau bisa menjadi lebih
mengenal Allah, dan kewajibannya kepadaNya, dan bisa membawa kepada jiwanya
sendiri dengan lebih langsung kebenaran-kebenaran yang berkenaan dengan
realita-realita kekal).
Penerapan:
banyak orang terbalik, di tengah-tengah kebaktian justru memikirkan uang /
pekerjaan.
4.
Digabungkan dengan ay 3, maka ay 2 ini menjanjikan sesuatu untuk
orang-orang yang selalu berusaha untuk maju dalam pengertian firman.
Calvin: “it shall be always well with God’s devout
servants, whose constant endeavor it is to make progress in the study of his law”
(= keadaan akan selalu baik bagi pelayan-pelayan Allah yang saleh / taat, yang
usaha tetapnya adalah untuk membuat kemajuan dalam pelajaran tentang hukum
Taurat).
5.
Hal-hal tertentu yang harus direnungkan dari firman.
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “There
are things in the law of God which we should principally meditate upon. His
attributes, His promises of remission, sanctification, remuneration. Meditate
upon the love of Christ; upon sin; upon the vanity of the creature; upon the
excellency of grace; upon the state of your souls; upon your experiences”
(= Ada hal-hal dalam hukum Taurat Allah yang terutama harus kita renungkan.
Sifat-sifatNya, janji-janjiNya tentang pengampunan, pengudusan, pemberian upah.
Renungkan kasih Kristus, dosa, kesia-siaan dari makhluk ciptaan, keunggulan dari
kasih karunia; keadaan dari jiwamu, pengalaman-pengalamanmu).
d) Komentar
tentang seluruh ay 2.
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “Ver.
2. Teacheth him by the contrary what he must do. 1. Take delight and pleasure in
God’s Word; because we do hardly profit by those things which we take no
pleasure in; 2. Use all the means whereby we may be builded up in knowledge; for
so generally do I take these words, ‘meditate day and night.’” (= Ay
2. Sebaliknya mengajar dia apa yang harus ia lakukan. 1. Punyailah kesenangan
dalam Firman Allah; karena kita hampir tidak mendapat keuntungan oleh hal-hal
dalam mana kita tidak mempunyai kesenangan; 2. Gunakan semua cara dengan mana
kita bisa dibangun dalam pengetahuan; karena demikianlah biasanya saya mengerti
kata-kata ini ‘renungkanlah siang dan malam’).
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“Delighting
in the Word and meditating on the Word must go together
(119:15-16,23-24,47-48,77-78), for whatever we enjoy, we think about and pursue.
... As God’s people, we should prefer God’s Word to food (119:103; Job
23:12; Jer 15:17; Matt 4:4; 1 Peter 2:2), sleep (119:55,62,147-148,164), wealth
(119:14,72,127,162), and friends (119:23,51,95,119). The
way we treat the Bible is the way we treat Jesus Christ, for the Bible is His
Word to us” [= Menyenangi Firman dan merenungkan Firman harus
berjalan bersama-sama (119:15-16,23-24,47-48,77-78), karena apapun yang kita
nikmati, kita pikirkan dan kita kejar. ... Sebagai umat Allah, kita harus lebih
memilih Firman Allah dari pada makanan (119:103; Ayub 23:12; Yer 15:17; Mat 4:4;
1 Pet 2:2), tidur (119:55,62,147-148,164), kesehatan (119:14,72,127,162), dan
teman-teman (119:23,51,95,119). Cara
kita memperlakukan Alkitab adalah cara kita memperlakukan Yesus Kristus, karena
Alkitab adalah FirmanNya kepada kita].
Ay 3: “Ia
seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada
musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”.
1)
Pohon yang ditanam di tepi aliran air.
Pulpit
Commentary: “THE SECRET OF A GODLY LIFE. Source and sustenance. ‘Planted,’ not
self-sown, not dropped into its place by chance - planted by God’s own hand
(James 1:18). ‘By the waters,’ drawing life and freshness from an unfailing
source” (= Rahasia dari kehidupan
yang saleh. Sumber dan makanan. ‘Ditanam’, bukan ditaburkan / tumbuh
sendiri, tidak jatuh ke tempatnya karena kebetulan - ditanam oleh tangan Allah
sendiri (Yak 1:18). ‘Di tepi aliran air’, menarik kehidupan dan kesegaran
dari sumber yang tidak akan gagal).
Yak
1:18 - “Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh
firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di
antara semua ciptaanNya”.
KJV:
‘Of his own will begat he us with the word of truth,
that we should be a kind of firstfruits of his creatures’
(= Dari kehendakNya sendiri Ia memperanakkan / melahirkan kita dengan
firman kebenaran, supaya kita menjadi jenis buah sulung dari
makhluk-makhlukNya).
Bdk.
Mat 15:12-14 - “(12) Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya:
‘Engkau tahu bahwa perkataanMu itu telah menjadi batu sandungan bagi
orang-orang Farisi?’ (13) Jawab Yesus: ‘Setiap tanaman yang tidak ditanam
oleh BapaKu yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. (14) Biarkanlah
mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun
orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.’”.
2)
Akar dan buah.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“The
most important part of a tree is the hidden root system that draws up water and
nourishment, and the most important part of the believer’s life is the
‘spiritual root system’ that draws on the hidden resources we have in Christ
(Eph 3:17; Col 2:7). ... To meditate on the Word (v. 2) is one source of
spiritual energy” [= Bagian yang terpenting dari sebuah pohon adalah akar
yang tersembunyi yang mengambil air dan makanan, dan bagian terpenting dari
kehidupan orang percaya adalah ‘sistim akar rohani’ yang mengambil dari
sumber-sumber tersembunyi yang kita punyai dalam Kristus (Ef 3:17; Kol 2:7). ...
Merenungkan Firman (ay 2) adalah satu sumber tenaga rohani].
Ef
3:17 - “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar
serta berdasar di dalam kasih”.
Kol
2:7 - “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia,
hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan
hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“‘Fruit’
speaks of many different blessings: winning people to Christ (Rom 1:13), godly
character (Rom 6:22; Gal 5:22-23), money given to the Lord’s work (Rom 15:28),
service and good works (Col 1:10), and praise to the Lord (Heb 13:15)” [=
‘Buah’ berbicara tentang banyak berkat yang berbeda-beda: memenangkan
orang-orang kepada Kristus (Ro 1:13), karakter yang saleh (Ro 6:22; Gal
5:22-23), uang yang diberikan pada pekerjaan Tuhan (Ro 15:28), pelayanan dan
perbuatan-perbuatan baik (Kol 1:10), dan pujian kepada Tuhan (Ibr 13:15)].
Ro
1:13 - “Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah
sering berniat untuk datang kepadamu - tetapi hingga kini selalu aku terhalang -
agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah
bangsa bukan Yahudi yang lain”.
Ro
6:22 - “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah
kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan
dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal”.
Gal 5:22-23
- “(22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”.
Ro 15:28
- “Apabila aku sudah menunaikan tugas itu dan sudah menyerahkan hasil
usaha bangsa-bangsa lain itu kepada mereka, aku akan berangkat ke Spanyol
melalui kota kamu”.
Dalam
ayat ini, dalam Kitab Suci Indonesia tak ada kata ‘buah’,
tetapi seharusnya ada. Bandingkan bagian yang saya garis-bawahi itu dengan
terjemahan NIV di bawah ini.
NIV:
‘have made sure that they have received
this fruit’ (= telah memastikan bahwa mereka telah menerima buah ini).
Kol
1:10 - “sehingga hidupmu layak di hadapanNya serta berkenan kepadaNya dalam
segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan
bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah”.
Ibr 13:15
- “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban
syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya”.
Lagi-lagi
dalam Ibr 13:15 versi Kitab Suci Indonesia tak ada kata ‘buah’. Bandingkan
bagian yang saya garis-bawahi itu dengan terjemahan dari Kitab Suci - Kitab Suci
bahasa Inggris di bawah ini.
KJV:
‘the fruit of our lips’ (= buah dari bibir kita).
RSV/NIV/NASB:
‘the fruit of lips’ (= buah dari bibir).
3)
Kontras antara pohon yang diairi dengan baik dan yang tidak.
Calvin: “There is in the words an implied contrast between
the vigor of a tree planted in a situation well watered, and the decayed
appearance of one which, although it may flourish beautifully for a time, yet
soon withers on account of the barrenness of the soil in which it is placed”
(= Dalam kata-kata ini terkesan ada suatu kontras antara kekuatan / kesegaran
dari sebuah pohon yang ditanam dalam suatu keadaan yang diairi dengan baik, dan
penampilan yang membusuk dari pohon yang, sekalipun tumbuh dengan subur secara
indah untuk sementara waktu, tetapi segera layu karena kegersangan tanah dalam
mana ia ditempatkan).
Bdk.
Maz 37:35-36 - “(35)
Aku melihat seorang fasik yang gagah sombong, yang tumbuh mekar seperti pohon
aras Libanon; (36) ketika aku lewat, lenyaplah ia, aku mencarinya, tetapi tidak
ditemui”.
Calvin: “He obviously meant nothing more than that the
children of God constantly flourish, and are always watered with the secret
influences of divine grace, so that whatever may befall them is conducive to
their salvation; while, on the other hand, the ungodly are carried away by the
sudden tempest, or consumed by the scorching heat. And when he says, ‘he
bringeth forth his fruit in season,’ he
expresses the full maturity of the fruit produced, whereas, although the ungodly
may present the appearance of precocious fruitfulness, yet they produce nothing
that comes to perfection”
(= Jelas bahwa ia memaksudkan tidak lebih dari bahwa anak-anak Allah terus
menerus tumbuh dengan subur, dan selalu diairi dengan pengaruh-pengaruh rahasia
dari kasih karunia ilahi, sehingga apapun yang menimpa mereka mendatangkan /
menghasilkan keselamatan; sementara, pada sisi lain, orang-orang jahat
dipengaruhi / dibawa oleh badai yang tiba-tiba, atau dihabiskan oleh panas yang
membakar. Dan pada waktu ia berkata, ‘ia mengeluarkan buahnya pada
musimnya’, ia menyatakan kematangan penuh dari buah yang dihasilkan,
sedangkan, sekalipun orang-orang jahat bisa menyajikan penampilan dari
keberbuahan yang dewasa sebelum waktunya, tetapi mereka tidak menghasilkan
apapun yang sampai pada kesempurnaan).
4)
Arti dari ‘berkat’.
Barnes’
Notes: “The
word ‘whatsoever’ here is to be taken in a general sense, and the proper
laws of interpretation do not require that we should explain it as universally
true. It is conceivable that a righteous man - a man profoundly and sincerely
fearing God - may sometimes form plans that will not be wise; it is conceivable
that he may lose his wealth, or that he may be involved in the calamities that
come upon a people in times of commercial distress, in seasons of war, of
famine, and pestilence; it is conceivable that he may be made to suffer loss by
the fraud and dishonesty of other men; but still as a general and as a most
important truth, a life of piety will be followed by prosperity, and will
constantly impart happiness” (= Kata ‘apapun’ di sini diambil dalam
arti umum, dan hukum penafsiran yang benar tidak mengharuskan bahwa kita
menjelaskannya sebagai benar secara universal. Bisa dimengerti bahwa seorang
yang benar - seseorang yang dengan mendalam dan dengan sungguh-sungguh takut
kepada Allah - kadang-kadang bisa membuat rencana yang tidak bijaksana; bisa
dimengerti bahwa ia bisa kehilangan kekayaannya, atau bahwa ia bisa terlibat
dalam bencana yang menimpa suatu bangsa pada masa kesukaran perdagangan, dalam
masa perang, kelaparan, dan wabah; bisa dimengerti bahwa ia bisa menderita
kerugian oleh penipuan dan ketidak-jujuran dari orang-orang lain, tetapi akan
merupakan suatu kebenaran umum dan terpenting bahwa suatu kehidupan yang saleh
akan disusul oleh keberhasilan / kemakmuran, dan akan terus menerus memberikan
kebahagiaan).
Saya
tidak mengerti bagaimana mungkin Albert Barnes menerapkan ‘berkat / buah’
ini dalam hal jasmani / sekuler. Ini betul-betul bodoh! Bandingkan dengan
komentar Matthew Henry dan Martin Luther di bawah ini.
Matthew
Henry: “prosperity shall
attend him wherever he goes, soul-prosperity” (= kemakmuran /
keberhasilan akan menyertai dia kemanapun ia pergi, kemakmuran / keberhasilan
jiwa).
Spurgeon
mengutip Martin Luther: “And with regard to this ‘prospering,’ take heed that thou
understandeth not a carnal prosperity. This propsperity is hidden prosperity,
and lies entirely secret in spirit; and therefore if thou hast not this
prosperity that is by faith, thou shouldst rather judge thy prosperity to be the
greatest adversity. For as the devil bitterly hates this leaf and the word of
God, so does he also those who teach and hear it, and he persecutes such, aided
by all the power of the world. Therefore thou hearest of a miracle the greatest
of all miracles, when thou hearest that all things prosper which a blessed man
doeth” (= Dan berkenaan dengan ‘keberhasilan / kemakmuran’ ini,
perhatikanlah bahwa engkau tidak mengertinya sebagai suatu keberhasilan /
kemakmuran yang bersifat daging. Keberhasilan / kemakmuran ini merupakan
keberhasilan / kemakmuran yang tersembunyi, dan sepenuhnya terletak tersembunyi
dalam roh; dan karena itu jika engkau tidak mempunyai keberhasilan / kemakmuran
ini, yaitu oleh iman, engkau seharusnya menilai keberhasilan / kemakmuranmu
sebagai kesengsaraan / kemalangan yang terbesar. Karena sebagaimana Iblis
membenci daun ini dan firman Allah, demikian juga ia membenci mereka yang
mengajar dan mendengarnya, dan ia menganiaya orang-orang seperti itu, dibantu
oleh semua kuasa dunia. Karena itu, engkau mendengar ‘suatu mujijat yang
terbesar dari semua mujijat’, pada waktu engkau mendengar bahwa segala sesuatu
yang dilakukan oleh orang yang diberkati berhasil) - hal 7-8.
5)
Tujuan orang Kristen menerima berkat.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“God
blesses us that we might be a blessing to others (Gen 12:2). If the blessing
stays with us, then the gifts become more important than the Giver, and this is
idolatry. We are to become channels of God’s blessing to others. It’s a joy
to receive a blessing but an even greater joy to be a blessing. ‘It is more
blessed to give than to receive’ (Acts 20:35)” [= Allah memberkati kita
supaya kita bisa menjadi berkat bagi orang-orang lain (Kej 12:2). Jika berkat
itu tinggal pada kita, maka karunia-karunia itu menjadi lebih penting dari si
Pemberinya, dan ini merupakan penyembahan berhala. Kita harus menjadi
saluran-saluran berkat Allah kepada orang-orang lain. Merupakan suatu sukacita
untuk menerima suatu berkat, tetapi suatu sukacita yang bahkan lebih besar untuk
menjadi berkat. ‘Adalah lebih diberkati untuk memberi dari pada untuk
menerima’ (Kis 20:35)].
Kej 12:2
- “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati
engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat”.
Kis 20:35b
- “Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari
pada menerima.’”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali