Eksposisi Injil Matius

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


MATIUS 26:31-35

Ay 31-32:

1)   Ay 31: ‘tergoncang imanmu’.

RSV/NIV/NASB: ‘fall away’ (= meninggalkan / menjadi lemah).

KJV: ‘be offended’ (= sakit hati / terganggu).

NKJV: ‘be made to stumble’ (= tersandung).

Kata Yunani yang dipakai adalah SKANDALISTHESESTHE, yang berasal dari kata dasar SKANDALIZO yang artinya: ‘menyebabkan seseorang berdosa’ atau ‘menyebabkan seseorang berhenti beriman’.  Kalau kata ini ada dalam bentuk pasif (seperti dalam ay 31 ini), maka bisa berarti: berhenti percaya / jatuh ke dalam dosa.  Kalau kata ini dalam bentuk pasif dan diikuti dengan kata Yunani EN (seperti dalam ay 31 ini), artinya: menolak / meninggalkan / ragu-ragu.

Dalam Mat 11:6 kata Yunani SKANDALISTHEI, yang juga berasal dari kata dasar SKANDALIZO, diterjemahkan ‘kecewa dan menolak’ [NASB: ‘stumbling’ (= tersandung); NIV: ‘fall away’ (= meninggalkan / menjadi lemah)].

Dalam 1Kor 1:23 kata Yunaninya SKANDALON (ini adalah kata bendanya) diterjemahkan ‘batu sandungan’.

Semua ini menunjukkan bahwa Yesus, apalagi Yesus yang tersalib, memang adalah batu sandungan (bdk. Yes 52:14  53:2-3  1Pet 2:6-8).

Penerapan:

Dalam hidup kristen ini kita mengikut Kristus, dan karena itu ada banyak batu sandungan. Misalnya:

·        kita hidup beriman dan taat kepada Tuhan, tetapi hidup kita justru penuh dengan penderitaan dan kegagalan. Sedangkan ada banyak orang yang hidup brengsek, tetapi hidupnya justru enak dan berhasil.

·        gereja yang betul-betul memberitakan Injil dan firman Tuhan justru sukar maju, tetapi gereja yang mengajarkan ajaran sesat seperti Theologia Kemakmuran justru ‘sukses’.

Hal-hal seperti ini gampang sekali menjadi batu sandungan bagi kita maupun orang lain, karena hal ini bisa menyebabkan orang menjadi lemah imannya, kecewa, dan meninggalkan Tuhan.

Pengetahuan / pengertian saudara bahwa Yesus memang adalah suatu batu sandungan, seharusnya membuat saudara tetap setia dan tetap mengikut Kristus dengan benar, dan tidak membiarkan diri saudara tersandung oleh hal-hal seperti itu!

2)   Ay 31: ‘kamu semua akan tergoncang imanmu ... Sebab ada tertulis ..’.

Mereka semua akan tersandung karena adanya nubuat adalam Firman Tuhan tentang hal itu! Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa dosa mereka sudah ditentukan sehingga pasti akan terjadi.

Bandingkan juga dengan kata-kata Yesus dalam ay 34, yang bukan hanya menentukan terjadinya dosa Petrus, tetapi juga jumlah dosanya (3 x) dan saat terjadinya (yaitu sebelum ayam berkokok 2 x - bdk. Mark 14:30).

3)   Ay 31b [bdk. Zakh 13:7 (bacalah!)].

a)   Ay 31: ‘Aku akan membunuh gembala’.

Yesus agak mengubah kata-kata dari Zakh 13:7. Dalam Zakh 13:7 tidak dikatakan secara explicit bahwa Allah / Yahweh yang membunuh gembala itu. Tetapi dalam ay 31b itu Yesus berkata bahwa Allahlah yang akan membunuh gembala (= Yesus) itu. Ini cocok dengan ayat-ayat seperti Yes 53:10a  Kis 2:23  Kis 4:27-28  Ro 8:32. Sekalipun yang membunuh Yesus sebetulnya adalah orang-orang Romawi, tokoh-tokoh Yahudi dsb, tetapi karena Allahlah yang menetapkan hal itu, dan Ia juga yang mengatur sehingga hal itu terjadi, maka dikatakan bahwa Allah yang membunuh Yesus!

b)   Kematian gembala akan menyebabkan domba-domba tercerai berai.

Zakharia menggunakan kejadian yang sering terjadi dalam hidup sehari-hari sebagai suatu nubuat. Nubuat ini menunjuk pada kema­tian Yesus yang menyebabkan murid-muridNya tercerai berai.

c)   Ada hiburan dalam kata-kata ini:

·        Sekalipun murid-murid akan tercerai berai, tetapi mereka adalah domba! Dan karena mereka adalah domba, mereka tidak mungkin binasa (bdk. Yoh 10:27-30).

·        Zakh 13:7c berbunyi: ‘Aku akan mengenakan tanganKu terhadap yang lemah’. Apa artinya kata-kata ini?

NIV/NASB: ‘I will turn my hand against the little ones’ (= Aku akan membalikkan tanganKu terhadap / menentang domba-domba yang kecil).

Mungkin sekali bahwa adanya kata ‘against’ (= terhadap / menen­tang) dalam terjemahan bahasa Inggris ini menyebabkan ada penaf­sir-penafsir yang menafsirkan bagian ini seakan-akan Tuhan tetap melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi domba-domba itu.

Tetapi Calvin menafsirkan bagian ini sesuai dengan arti yang diberikan oleh terjemahan dari Living Bible yang berbunyi: ‘but I will come back and comfort and care for the lambs’ (= tetapi Aku akan kembali dan menghibur dan menjaga / memelihara domba-domba yang kecil).

Kalau arti ini benar, maka jelas ini merupakan penghiburan. Jadi Zakh 13:7 itu mengatakan bahwa Allah akan membunuh gembala sehingga domba-domba akan tercerai berai, tetapi Ia akan kembali kepada domba-domba itu dan menghibur / memelihara mereka.

4)   Ay 32 boleh dikatakan menjadi penggenapan dari Zakh 13:7c karena kalau ay 31 menunjukkan Yesus akan mati dan murid-murid akan tercerai berai, maka ay 32 ini mengatakan bahwa:

·        Yesus akan bangkit kembali.

·        Yesus akan mengumpulkan mereka kembali di Galilea.

Kata ‘mendahului’ dalam ay 32 ini sebetulnya berarti ‘to go before’ (= berjalan di depan), yang merupakan tindakan penggembalaan (bdk. Yoh 10:4).

Catatan: saat itu kalau seorang menggembalakan domba, ia tidak berjalan di belakang, tetapi di depan domba-dombanya.

Kata-kata Yesus dalam ay 32 ini tergenapi dalam Mat 28:7,10,16-17 dan Mark 16:7.

5)   Ay 31-32 ini menunjukkan bahwa keadaan akan menjadi ‘gelap’ bagi murid-murid, tetapi setelah itu akan kembali menjadi ‘terang’.

Penerapan:

Dalam hidup kita sebagai orang kristen ada saat dimana Allah itu seakan-akan menentang kita, sehingga segala sesuatu kelihatannya kacau dan gelap. Tetapi ingat bahwa itu tidak akan berlang­sung selama-lamanya! Pasti akan ada waktunya dimana Allah itu akan ‘kembali’ kepada kita, dan menghibur / memelihara kita, sehingga semua kembali menjadi ‘terang’!

Karena itu, kalau saat ini saudara sedang mengalami saat-saat yang gelap, bersabarlah dan tetaplah setia dan percaya kepada Dia!

6)   Ay 31-32 ini menunjukkan bahwa sekalipun Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan meninggalkan Dia, tetapi Ia tidak mengecam mereka. Sebaliknya Ia menghibur mereka!

William Barclay mengatakan:

“It is the greatness of Jesus that he knew men at their worst and still loved them” (= Ini merupakan kebesaran Yesus bahwa Ia tahu hal-hal yang terjelek tentang manusia dan tetap mengasihi mereka).

“Jesus has nothing but sympathy for the man who in his weakness is driven to sin” (= Yesus tidak mempunyai apa-apa selain simpati untuk orang yang di dalam kelemahannya jatuh ke dalam dosa).

Memang ada beda antara dosa yang dilakukan oleh Yudas dan dosa yang dilakukan oleh murid-murid yang lain. Yudas sengaja merencanakan dosa itu, sedangkan murid-murid sebetulnya sama sekali tidak ingin melakukan dosa itu (ay 33,35). Tetapi kelemahan mereka menyebabkan mereka akhirnya jatuh ke dalam dosa itu. Karena itu Yesus bersikap berbeda terhadap Yudas dan terhadap murid-murid yang lain.

Penerapan:

Kalau saudara jatuh ke dalam dosa karena kelemahan saudara, apapun juga adanya dosa itu, janganlah mempercayai bisikan setan yang mengatakan bahwa Tuhan benci kepada saudara, meninggalkan saudara dsb! Tuhan tetap mengasihi dan bersimpati kepada saudara! Ia tahu bahwa kita ini adalah debu (Maz 103:14).

7)   Dalam bagian paralelnya dalam Injil Lukas, ada Luk 22:31-32 yang tidak ada dalam Injil Matius. Karena itu mari kita bahas secara sing­kat Luk 22:31-32 ini:

a)   ‘Iblis menuntut’.

RSV/NASB: ‘demanded’ (= menuntut).

KJV: ‘desired’ (= menginginkan).

NIV/NKJV: ‘asked’ (= meminta).

Lit: ‘begged earnestly’ (= mengemis / meminta dengan sungguh-sungguh).

Ini menunjukkan bahwa:

·        setan ‘berdoa’ dengan sungguh-sungguh supaya diijinkan menyerang dan menghancurkan kita. Bagaimana kalau saudara berdoa? Juga bersung­guh-sungguh dan tekun? Atau saudara kalah dibanding dengan setan dalam hal berdoa?

·        setan selalu dibatasi oleh Tuhan! Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali dengan ijin Tuhan! Dan Tuhan hanya mengijinkan apa yang membawa kebaikan bagi kita (Ro 8:28). Karena itu, bagaimanapun hebatnya serangan setan yang saudara alami, tetaplah tenang dan percaya bahwa Tuhan mengatur semua itu untuk kebaikan saudara!

b)   ‘menampi kamu seperti gandum’.

·        kata ‘kamu’ dalam bahasa Yunaninya menggunakan bentuk jamak. Jadi, sekalipun kata-kata itu kelihatannya hanya ditujukan kepada Simon Petrus, tetapi jelas ini merupakan peringatan untuk mereka semua.

·        ‘menampi seperti gandum’.

Calvin menganggap bahwa setan mau ‘mengocok’ mereka dengan menggunakan kematian Yesus.

Saya berpendapat bahwa kata-kata ini berhubungan dengan tradisi menampi gandum pada saat itu. Gandum yang sudah ditumbuk (sekam dan gandum sudah terlepas), lalu diletakkan di tempat yang banyak anginnya, lalu dihambur-hamburkan ke atas. Angin akan meniup sekam (yang lebih ringan) sehingga jatuh ke tempat yang agak jauh. Tetapi gandumnya (yang lebih berat) tetap akan jatuh ke bawah. Dengan cara itu gandum terpisah dari sekamnya.

Jelas bahwa 11 murid itu adalah ‘gandum’, bukan ‘sekam’. Tetapi setan ingin menyerang mereka sedemikian rupa sehingga sekalipun mereka adalah gandum, tetapi mereka tetap terbang / tertiup ke tempat sekam. Dengan kata lain, setan berusaha supaya mereka murtad.

c)   Yesus berdoa untuk Petrus.

·        Tentu Yesus tidak hanya berdoa untuk Petrus saja, tetapi juga untuk murid-murid yang lain, bahkan untuk semua orang yang akan menjadi percaya (bdk. Yoh 17:9-21). Ia memang adalah Juru-syafaat kita!

·        Bagian ini menunjukkan penting doa syafaat (= doa untuk orang lain). Andaikata Yesus tidak mendoakan Petrus dan murid-murid yang lain, mungkin sekali keinginan setan untuk membuat mereka murtad akan terlaksana.

Sekalipun Yesus adalah Juru-syafaat kita, tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu menaikkan doa syafaat (bdk. 1Tim 2:1)! Berapa banyaknya / seringnya saudara menaikkan doa syafaat? Ingat bahwa 1Tim 2:1 itu merupakan perintah, sehingga kalau saudara tidak mau menaikkan doa syafaat, saudara hidup dalam dosa (bdk. 1Sam 12:23).

Ay 33-35:

1)   Ay 33,35:

a)   Kata-kata Petrus disini betul-betul menunjukkan kesombongan yang hebat, karena ia menganggap / menilai dirinya sendiri lebih hebat dari murid-murid yang lain.

·        Kalau saudara adalah orang yang sombong, baca dan renungkan ayat- ayat ini: Amsal 16:18  18:12  26:12  29:23  1Kor 10:12  1Pet 5:5  2Taw 26:16  32:25.

·        Kata-kata Petrus ini, dimana ia membandingkan dirinya dengan murid-murid yang lain dan menganggap dirinya sendiri lebih hebat dari murid-murid yang lain, menyebabkan terjadinya pertanyaan Yesus (setelah kebangkitan) yang berbunyi: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini?” (Yoh 21:15).

Yang Yesus maksudkan dengan pertanyaan itu, bukanlah ‘Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari engkau mengasihi mereka ini?’, tetapi ‘Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini menga­sihi Aku?’. Jadi, di sini Yesus ingin melihat apakah Petrus masih berani menganggap dirinya lebih hebat dari murid-murid yang lain atau tidak. Dan ternyata bahwa pada saat itu Petrus sudah berubah / berto­bat! Tetapi ini bisa terjadi karena kejatuhannya yang hebat pada saat ia menyangkal Yesus 3 x (ay 69-75).

Sebelum saudara dipaksa menjadi rendah hati oleh suatu kejatuhan, bertobatlah dari kesombongan saudara!

b)   Kata-kata Petrus ini menunjukkan self-confidence (= keyakinan pada diri sendiri).

·        Ia bahkan lebih percaya kepada dirinya sendiri dari pada pada kata-kata Yesus / nubuat firman Tuhan dalam ay 31,34!

Penerapan:

Apakah saudara sendiri tidak pernah mempercayai diri saudara sendiri lebih dari pada Firman Tuhan? Kalau Tuhan memperingati saudara untuk berjaga-jaga / berhati-hati menghadapi pencobaan dsb, tetapi saudara meremehkan semua itu, dan menganggap diri saudara toh kuat menghadapi semua pencobaan itu, bukankah itu berarti saudara lebih percaya pada diri saudara sendiri dari pada kepada Firman Tuhan? Sebetulnya setiap kali kita meremehkan peringatan dari Tuhan, kita sudah jatuh dalam dosa yang sama seperti yang dilakukan Petrus di sini!

·        Keyakinan pada diri sendiri menyebabkan ia tidak berdoa (bdk. ay 40), dan ini justru menyebabkan ia jatuh ke dalam dosa!

Karena itu, berhentilah untuk percaya kepada diri saudara sendiri dan belajarlah untuk bersandar dan percaya kepada Tuhan! (bdk. Yoh 15:5  Fil 4:13).

c)   Ada beberapa kutipan sehubungan dengan kata-kata Petrus dalam ay 33,35 ini:

Adam Clarke: “The presumptuous person imagines he can do every­thing, and can do nothing; thinks he can excell all, and excells in nothing; promises everything, and performs nothing” (= Orang yang sombong mengira ia bisa melakukan segala sesuatu, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa; mengira ia bisa mengungguli semua orang, tetapi tidak unggul dalam hal apapun; menjanjikan segala sesuatu, tetapi tidak melakukan apapun).

Pikirkan / renungkan: apakah saudara termasuk orang seperti ini?

Augustine: “He thought he was able, because he felt that he wished” (= Ia mengira ia bisa, karena ia merasa bahwa ia mau / ingin).

Adalah sesuatu yang baik kalau kita bisa mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu yang baik. Tetapi kita harus sadar bahwa kita juga membutuhkan kekuatan untuk melakukan hal yang baik itu, dan kekuatan itu harus kita minta dari Tuhan! (bdk. Fil 2:12-13  Roma 7:18-19).

Pulpit Commentary: “It is easy to talk boldly and carelessly of death at a distance” (= Adalah mudah untuk berbicara dengan berani dan sembarangan tentang kematian, kalau kematian itu masih jauh).

Karena itu janganlah terlalu gegabah untuk berkata bahwa saudara berani mati syahid untuk Tuhan. Saudara mungkin akan punya pikiran yang sangat berbeda pada saat kematian syahid itu betul-betul ada di depan mata saudara!

Pulpit Commentary:

“Beware of Peter's word

Nor confidently say

I never will deny thee, Lord,

But, ‘Grant I never may’

Man’s wisdom is to seek

His strength in God alone

And e’en an angel would be weak

Who trusted in his own”

[= Hati-hatilah dengan kata-kata Petrus

Janganlah berkata dengan penuh keyakinan

Aku tidak akan pernah menyangkal Engkau, Tuhan,

Tapi, ‘Berilah aku (kekuatan) supaya aku tak akan pernah (menyangkal Engkau)’

Hikmat manusia adalah mencari

Kekuatannya di dalam Allah saja

Dan seorang malaikat sekalipun akan menjadi lemah

Kalau ia percaya kepada dirinya sendiri].

d)   Petrus memang sering mengeluarkan kata-kata / melakukan tindakan berdasarkan impulse (= dorongan hati yang muncul secara tiba-tiba).

Misalnya: Mark 9:5-6  Mat 16:22  Mat 26:51.

Di sini ia menilai dirinya sendiri dan memberikan janji kepada Tuhan, juga berdasarkan impulse. Padahal seharusnya, untuk bisa menilai diri sendiri dan juga untuk mau memberikan janji kepada Tuhan, kita harus memikirkan dan merenungkan lebih dulu!

Penerapan:

·        seringkah saudara menggunakan waktu untuk memikirkan / merenungkan diri saudara sendiri sehingga saudara mengenal diri saudara sendiri dengan benar?

·        apakah saudara sering memberikan janji hanya berdasarkan impulse? Kalau ya, maka saudara pasti termasuk orang yang sangat sering tidak menepati janji!

e)   Kesombongan dan keyakinan Petrus pada dirinya sendiri, ternyata diikuti oleh murid-murid yang lain (ay 35b). Mereka semua sombong dan percaya kepada diri sendiri. Akhirnya mereka semua jatuh (ay 56), dan orang yang paling sombong dan yang paling percaya diri sendiri, adalah orang yang paling dalam jatuhnya (ay 69-75)!

2)   Ay 34 (bdk. Luk 22:34):

a)   Ada orang-orang yang menganggap nubuat ini tidak mungkin terjadi, karena ayam adalah binatang haram bagi orang Yahudi, sehingga mereka jelas tidak memelihara ayam. Tetapi perlu diingat, bahwa orang Romawi tidak menganggap ayam sebagai binatang haram, dan mereka memelihara ayam.

b)   Nubuat ini penting, karena nanti kokok ayam itulah yang mengingat­kan Petrus pada nubuat ini, dan menyadarkannya bahwa ia sudah menyangkal Yesus (ay 74-75).

3)   Kata-kata Petrus dan murid-murid yang lain itu tidak dijawab oleh Yesus. Memang tidak ada gunanya berdebat dengan orang-orang yang tegar tengkuk!

Ada saat-saat dimana kita harus meniru tindakan Yesus ini. Kalau saudara berdebat dengan orang-orang yang melakukan debat kusir, atau yang berdebat tanpa dasar, maka sebaiknya saudara menghentikan perdebatan itu!


-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com