Eksposisi Injil Matius

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


MATIUS 26:17-25

Ay 17-20:

1)   Penjelasan hal-hal tertentu:

a)   Dalam ay 19 dikatakan ‘murid-murid’ yang melaksanakan tugas untuk mempersiapkan Paskah.  Dalam Mark 14:13 dikatakan lebih jelas yaitu ‘dua murid’.  Dan dalam Luk 22:8 dikatakan lebih jelas lagi yaitu ‘Petrus dan Yohanes’.

b)   Dalam ay 18 dikatakan bahwa mereka harus menemui ‘si Anu’.

NIV / NASB: 'a certain man' (= orang tertentu).

Dalam Mark 14:13 dan Luk 22:10 diceritakan lebih jelas tentang orang yang harus ditemui itu, yaitu seorang (laki-laki) yang memba­wa kendi berisi air. Pada saat itu mengambil air adalah tugas orang perempuan. Jadi, pasti tak ada orang laki-laki lain yang membawa kendi berisi air. Karena itu mereka pasti tak akan salah orang.

c)   Dalam ay 18 dikatakan bahwa Yesus berkata: ‘Pergilah ke kota’ (bdk. Mark 14:16a). Yang dimaksud tentu adalah kota Yerusalem. Tetapi bukankah mereka sudah masuk kota Yerusalem? Bagaimana sekarang Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes untuk pergi ke Yerusalem lagi?

Perlu diingat bahwa pada masa hari raya Yerusalem penuh sesak, sehingga sukar untuk mendapatkan tempat bermalam di sana. Mungkin karena itu Yesus dan murid-muridNya bermalam di Bukit Zaitun (bdk. Luk 21:37  Luk 22:39), yang terletak di sebelah timur Yerusalem.

2)   Ay 18: ‘waktuKu hampir tiba’ (bdk. Yoh 7:6,8,30  8:20  12:23  13:1  17:1).

Semua ini menunjukkan bahwa dalam Rencana Allah, Allah bukan hanya menentukan peristiwanya, tetapi juga menentukan waktu / saat terjadinya peristiwa itu!

Penerapan:

·        jangan menguatirkan kematian, baik kematian saudara maupun orang yang saudara cintai. Kalau belum saatnya, itu tidak akan terjadi, dan sebaliknya, kalau sudah saatnya, itu toh tidak akan bisa dihindari! (bdk. Mat 6:27  2Sam 7:12a  Maz 39:6a).

Catatan: Ini tidak berarti bahwa saudara boleh sengaja mencari bahaya, tidak menjaga kesehatan, apalagi bunuh diri!

·        kalau saudara sudah lama berdoa untuk suatu hal tertentu dan sampai sekarang saudara belum menerimanya, tetaplah tekun dalam berdoa (bdk. Luk 18:1-8  Gal 6:9)! Kalau sudah sampai waktunya, Tuhan akan mem berikan apa yang saudara minta (kecuali saudara meminta sesuatu yang tidak sesuai kehendak Tuhan!)

3)   Ay 20: sebelum / pada saat makan ini terjadi 2 peristiwa yang tidak ditulis dalam Injil Matius, yaitu:

a)   Luk 22:24-30.

·        memang dalam Injil Lukas bagian ini ditempatkan sesudah Perjamuan Kudus yang pertama. Tetapi dalam menceritakan bagian ini, Lukas sangat tidak chronologis / tidak sesuai dengan urut-urutan waktu.

·        dalam cerita ini dikatakan bahwa murid-murid bertengkar tentang siapa yang dianggap terbesar di antara mereka. Pada saat seperti ini, dimana Yesus sebentar lagi akan menderita dan mati, mereka masih bisa bertengkar / berebut untuk menjadi yang terbesar! Ini menunjukkan betapa berbahayanya ambisi itu, dan betapa kita harus sangat berhati-hati terhadap ambisi duniawi dalam bentuk apapun!

Penerapan:

Ambisi ini bisa muncul dalam bertopengkan kerohanian! Misalnya kalau kita ingin top dalam pelayanan / keaktifan di gereja, atau kalau kita belajar firman Tuhan supaya menjadi yang paling hebat dalam pengetahuan Kitab Suci! Kalau hal-hal ini ada dalam diri saudara, bertobatlah!

b)   Yoh 13:1-20.

·        Karena murid-murid berebut untuk menjadi yang terbesar, maka Yesus justru mau menjadi pelayan yang membasuh kaki mereka. Dengan tindakan ini Yesus memberikan teladan untuk menjadi rendah hati dan mau melakukan pelayanan yang paling hina!

·        Peristiwa ini juga menunjukkan kasih Yesus yang luar biasa kepada Yudas, karena sekalipun Yesus tahu Yudas sedang mengkhianatiNya, tetapi Ia mau membasuh kaki Yudas!

4)   Perbedaan saat makan Paskah antara Yesus dan murid-muridNya di satu pihak, dan orang-orang lain di lain pihak.

Yesus makan paskah                Yesus mulai disalib           

                              |                                               |

|                                               |                       Yesus mati

|                                               |                       |

|                                               |                       |    A                 B

------------|----------------|---------------|----------------|---------------|----------------|------------

18.00               24.00               06.00               12.00               18.00               24.00

Kamis----><--------------------------Jum’at----------------------------->

Yesus dan murid-muridNya makan Paskah pada hari Kamis malam (bagi orang Yahudi ini sudah termasuk hari Jum’at, karena pergantian hari bagi mereka adalah pk 18.00! - lihat gambar di atas!).

Tetapi dari Yoh 18:28 dan Yoh 19:14, terlihat bahwa pada saat Yesus diadili (hari Jum’at), orang-orang Yahudi yang lain belum makan Paskah. Karena itu jelas bahwa Yesus memang makan Paskah sebelum orang-orang yang lain. Tetapi berapa banyak perbedaan waktunya? Ada 2 pandangan:

a)   Ada orang-orang yang berpendapat bahwa orang-orang lain makan Paskah pada titik A (lihat gambar di atas). Ini berarti bahwa sekalipun Yesus dan murid-muridNya makan Paskah lebih dulu dari orang-orang lain, tetapi Yesus tetap makan Paskah pada hari yang sama dengan mereka, yaitu hari Jum’at.

b)   Kebanyakan penafsir menganggap bahwa orang-orang lain makan Paskah pada titik B, yang sudah termasuk hari Sabtu (lihat gambar di atas). Itu berarti bahwa Yesus dan murid-muridNya makan Paskah 1 hari lebih dahulu dibandingkan dengan orang-orang yang lain.

Apa alasan Yesus untuk makan Paskah 1 hari lebih dulu dari orang-orang yang lain? Perlu diingat bahwa hari untuk makan Paskah ditentukan oleh Tuhan sendiri (bdk. Kel 12:2-6  Im 23:5  Bil 9:4-5), dan karena itu tidak boleh diubah semaunya sendiri. Lalu mengapa Yesus mengubahnya menjadi 1 hari lebih dulu?

Ada orang yang memberikan alasan: karena Yesus tahu bahwa sebentar lagi Ia akan ditangkap, dan besoknya Ia sudah akan mati.

Tetapi Calvin mengatakan bahwa adalah tradisi orang Yahudi, kalau suatu hari raya terjadi pada hari Jum’at, maka supaya mereka tidak libur 2 hari berturut-turut (ingat bahwa hari Sabtu adalah hari Sabat / hari libur), maka mereka mengundurkan perayaan hari raya itu 1 hari, dan mereka menggabungkan hari raya itu dengan hari Sabat. Jadi mungkin sekali bahwa pada saat itu Paskah seharusnya terjadi pada hari Jum’at, tetapi orang-orang Yahudi mengundurkannya 1 hari dan merayakannya pada hari Sabat / Sabtu. Tetapi Kristus tidak mau menuruti tradisi yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, dan karena itu, Ia tetap merayakan Paskah pada hari Jum’at.

Dari sini kita bisa belajar bahwa Kristus berusaha mentaati Firman Tuhan / hukum Taurat sampai yang sekecil-kecilnya (bdk. Mat 5:17-19).

Penerapan:

Bagaimana dengan ketaatan saudara pada Firman Tuhan? Apakah saudara hanya mau mentaati hukum yang besar-besar seperti jangan membunuh, jangan berzinah dsb? Bagaimana dengan hukum dan peraturan yang kecil-kecil seperti:

·        jangan berdusta.

·        jangan menyebut nama Tuhan Allah dengan sia-sia / sembarangan.

·        keharusan menggunakan 1 roti dalam Perjamuan Kudus (1Kor 10:17).

Maukah saudara memperhatikan dan mentaati semua hukum / peraturan baik yang besar maupun yang kecil?

5)   Posisi duduk Yesus dan murid-muridNya.

Ay 20: ‘Yesus duduk makan’. Terjemahan ini kurang tepat!

NIV/NASB: ‘Jesus / He was reclining at the table’ (= Yesus / Ia sedang berbaring / bersandar pada meja).

Catatan: kata-kata ‘at the table’ (= pada meja), seharusnya tidak ada dalam bahasa Yunaninya (karena itu, dalam NASB kata-kata itu ditulis dengan cetakan miring).

Mari kita bandingkan dengan 2 bagian Kitab Suci yang lain:

a)   Yoh 13:23,25,28 (bdk. Yoh 21:20).

·        Yoh 13:23 (NASB): ‘There was reclining on Jesus’ breast one of His disciples, whom Jesus loved’ (= disana bersandar pada dada Yesus, seorang dari murid-muridNya, yang dikasihi oleh Yesus).

·        Yoh 13:25 (NASB): ‘He, leaning back thus on Jesus’ breast, said to Him ...’ (= Ia, kembali bersandar demikian pada dada Yesus, berkata kepadaNya ...).

·        Yoh 13:28 (NASB): ‘Now, no one of those reclining at the table knew for what purpose He had said this to him’ (= tidak seorang­pun dari mereka yang bersandar pada meja tahu apa maksud Yesus mengata-kan ini kepadanya).

b)   Luk 7:36,37,38 (Catatan: ini memang bukan makan Paskah, tetapi mungkin sekali mereka duduk dengan cara yang sama seperti pada waktu makan Paskah).

·        Luk 7:36 (NASB): ‘He entered the Pharisee’s house and reclined at the table ...’ (= Ia masuk ke rumah orang Farisi itu dan bersan­dar pada meja).

·        Luk 7:37 (NASB): ‘... and when she learned that He was reclining at the table in the Pharisee's house ...’ (= ... dan ketika ia tahu bahwa Yesus sedang bersandar pada meja dalam rumah orang Farisi ...).

·        Luk 7:38 (NASB): ‘and standing behind Him at His feet, weeping, she began to wet His feet with her tears, ...’ (= dan berdiri di belakangNya pada kakiNya, sambil menangis ia mulai membasahi kakiNya dengan air matanya ...).

Dari istilah ‘recline’ yang berarti ‘berbaring / bersandar’, dan juga dari cerita dalam Yoh 13:23-28 dan Luk 7:36-38, terlihat dengan jelas bahwa posisi mereka pada waktu duduk makan, tidaklah sama seperti kalau kita duduk makan! Kalau posisi duduk mereka sama seperti kita, maka:

¨      bagaimana Yohanes bisa bersandar pada dada Yesus?

¨      bagaimana perempuan itu bisa berdiri di belakang Yesus, tetapi toh dikatakan pada / dekat kaki Yesus, dan bisa membasahi kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya?

Dari semua ini, dan juga dari tradisi Yahudi, maka seorang penafsir mengatakan bahwa posisi duduk mereka pada saat makan Paskah adalah sebagai berikut:

·        mereka duduk pada semacam dipan, yang tidak mempunyai sandaran.

·        di depan dipan itu ada meja.

·        posisi badan mereka miring ke kiri, dengan siku kiri terletak di meja dan tangan kiri menahan kepala. Kedua kaki ada di sebelah kanan dan diletakkan di atas dipan; kedua lutut ditekuk dan kedua telapak kaki menghadap ke belakang. Ini menyebabkan perempuan yang berdiri di belakang Yesus itu bisa berada dekat kaki Yesus dan bisa membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya!

·        badan dan wajah agak menghadap ke sebelah kanan.

Karena itulah Yohanes bisa bersandar pada dada Yesus! Tetapi ini tidak berarti bahwa punggung Yohanes menempel pada dada Yesus terus menerus! Harus ada jarak antara dada Yesus dengan punggung / kepala Yohanes yang ada di sebelah kanannya, supaya tangan kanan Yesus bebas untuk mengambil makanan dan memasukkan makanan itu kemulut-Nya. Sekalipun demikian, dengan hanya sedikit mencondongkan kepala ke kiri, Yohanes bisa menempelkan kepalanya pada dada Yesus.

Sekarang perlu dipertanyakan, mengapa mereka duduk dengan posisi seperti itu?

¨      Pada Paskah I, terlihat dari Kel 12:11 bahwa mereka harus makan dengan berdiri. Ini disebabkan karena pada saat itu mereka terbu­ru-buru, karena sebentar lagi mereka akan diusir oleh Firaun / orang Mesir.

¨      Pada Paskah-paskah yang berikutnya (untuk memperingati Paskah I itu), mereka tidak sedang terburu-buru untuk meninggalkan Mesir dan mereka bukan lagi budak seperti pada waktu mereka ada di Mesir. Karena itu, mereka sengaja makan Paskah dengan posisi duduk santai, bahkan dengan posisi duduk yang paling menyulitkan untuk berdiri! Posisi duduk seperti ini memang disengaja untuk melam­bangkan bahwa mereka tidak terburu-buru, dan juga bahwa mereka bukan lagi budak!

¨      Posisi duduk santai seperti ini merupakan tradisi mereka, dan ini diharuskan hanya pada saat makan Paskah. Kalau bukan makan Paskah, posisi duduk bebas (boleh duduk biasa, boleh juga seperti pada saat makan Paskah).

Selanjutnya, dari Yoh 13:23-26 terlihat jelas bahwa Yohanes duduk persis di sebelah kanan Yesus. Dan mungkin sekali bahwa Yudas Is­kariot duduk persis di sebelah kiri Yesus. Alasannya:

·        Yesus bisa memberikan roti kepada Yudas (Yoh 13:26-27).

·        kata-kata Yesus dalam Mat 26:25b (yang berarti: ya!), jelas hanya didengar oleh Yudas, dan tidak oleh murid-murid yang lain.

Bahwa dalam Perjamuan Paskah itu Yudas bisa duduk persis di sebelah kiri Yesus, menunjukkan 2 hal:

¨      Betapa munafiknya Yudas! Ia mengkhianati Yesus, tetapi masih bisa pura-pura begitu cinta kepada Yesus, sehingga ia duduk persis di sebelah Yesus!

¨      Betapa besar kasih Yesus kepada Yudas! Yesus tahu Yudas mengkhia­natiNya, tetapi Ia tetap mau duduk persis di sebelah Yudas, bahkan dengan posisi kepalaNya yang begitu dekat dengan dada Yudas, dimana terdapat hati yang begitu busuk, yang dipenuhi dengan rencana jahat untuk mengkhianati Guru dan Tuhannya sendiri! Yesus betul-betul mempraktekkan ajaran ‘kasihilah musuhmu’ yang Ia sendiri ajarkan!

Ay 21-25:

1)   Yudas mengkhianati Yesus tanpa setahu murid-murid yang lain. Tetapi ay 21-25 menunjukkan bahwa ia tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Yesus! Ini menunjukkan kemahatahuan dan sekaligus keilahian Yesus!

Penerapan:

·        apakah saudara percaya bahwa Yesus betul-betul adalah Allah sendiri?

·        seringkah saudara merasa ‘aman’ dalam melakukan suatu dosa, karena tidak ada orang yang mengetahui hal itu? Ingat bahwa sekalipun tidak ada manusia yang tahu, tetapi Tuhan tahu!

Sekalipun Yesus tahu bahwa Yudas akan / sedang mengkhianatiNya, tetapi Yesus tetap mengasihi Yudas. Ini terlihat dari:

¨      maunya Ia membasuh kaki Yudas.

¨      maunya Ia duduk persis di sebelah Yudas.

¨      maunya Ia memperingati Yudas supaya bertobat (bagian ini jelas merupakan peringatan bagi Yudas).

Penerapan:

Kalau saudara sudah melakukan dosa yang hebat, atau kalau saudara sedang merencanakan dosa tertentu, atau kalau saudara mundur dari Tuhan, maka sadarilah bahwa Tuhan tetap mencintai saudara, dan Ia menginginkan supaya saudara bertobat! Jangan sia-siakan kasihNya yang besar itu!

2)   Kata-kata ‘seorang di antara kamu’ (ay 21) menunjukkan adanya pengkhianatan oleh orang dalam (bdk. Kis 20:30  2Tim 1:15  4:9-16  1Yoh 2:18-19  3Yoh 9-10).

Ini menunjukkan bahwa sekalipun saudara adalah orang kristen, saudara tetap harus berhati-hati terhadap dosa ini!

Pengkhianatan oleh orang dalam ini:

a)   Dari sudut Tuhan Yesus, ini harus terjadi supaya Ia bisa menjadi Imam Besar yang merasakan pencobaan / penderitaan yang kita alami (bdk. Ibr 2:17-18  4:15). Dengan demikian, kalau kita dikhianati, Ia bisa lebih bersimpati / mengerti, dan juga bisa menolong kita!

Penerapan:

Kalau saudara dikhianati, datanglah kepada Yesus!  Ia juga pernah dikhianati, dan karena itu Ia mengerti akan ‘sakit’ yang saudara rasakan dan Ia bisa menolong saudara!

b)   Dari sudut setan, ini ia lakukan karena ini merupakan hal yang sangat menyakitkan (bdk. ay 22: ‘hati yang sangat sedih’), dan mudah sekali meruntuhkan iman orang yang lain.

Penerapan:

Kalau kita sudah tahu bahwa tujuan setan adalah untuk meruntuhkan iman kita, maka pada saat kita dikhianati (oleh teman, teman bisnis, pacar, suami / istri, anak, saudara kandung, saudara seiman di gereja dsb), maka janganlah saudara mewujudkan keinginan setan itu dengan menjadi patah semangat / mundur dari Tuhan. Sebaliknya, saudara justru harus berusaha untuk lebih dekat dengan Tuhan, lebih mengasihi Tuhan, dan terus berjuang untuk Tuhan!

3)   Ini adalah hari raya roti tak beragi (bdk. ay 17), dimana mereka membuang semua ragi dari rumah mereka (Kel 12:15  13:6-7).

Ragi, yang merupakan simbol dari dosa (bdk. 1Kor 5:6-8), dibuang jauh-jauh. Tetapi dosanya sendiri tetap disimpan oleh Yudas! Jadi jelas bahwa ia melakukan upacara agama itu dengan baik, tetapi ia membuang maknanya secara total!

Dalam melakukan upacara agama, kita memang harus mengikuti perintah Tuhan dengan teliti. Tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa maknanya juga ada dalam hidup kita!

Misalnya:

·        kalau saudara mau dibaptis, maka jelas harus menggunakan baptisan air, dan bukan dengan bendera seperti yang dilakukan oleh segolongan orang kristen tertentu. Tetapi kalau saudara hanya melakukan upacaranya dengan benar, padahal hati saudara tak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, maka saudara tidak berbeda dengan Yudas!

·        dalam Perjamuan Kudus, kita makan roti yang dipecah-pecahkan, yang menggambarkan tubuh Kristus yang dihancurkan bagi kita. Juga kita minum anggur yang menggambarkan darah Kristus yang dicurahkan bagi kita. Kalau kita melakukan semua itu dengan benar, tetapi tanpa percaya akan pengorbanan Kristus bagi dosa-dosa kita, maka sebetulnya kita tidak berbeda dengan Yudas!

·        kalau melakukan Perjamuan Kudus, kita seharusnya menggunakan satu roti (1Kor 10:17) yang menggambarkan kesatuan tubuh Kristus. Kalau kita melakukan upacara agama itu dengan benar, tetapi kita bersikap acuh tak acuh, bahkan jengkel, benci, sombong, iri hati terhadap saudara seiman kita, maka kita sedang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Yudas!

4)   Ay 21-22 paralel dengan Luk 22:21-23, tetapi Lukas menulis bagian ini seca-ra tidak chronologis / tak sesuai dengan urut-urutan waktu, karena ia menem-patkan bagian ini setelah Perjamuan Kudus.

5)   Ada 2 penafsiran tentang arti kata-kata murid-murid dalam ay 22:

a)   Mereka ragu-ragu terhadap iman dan kesetiaan mereka masing-masing.

b)   Mereka masing-masing yakin bahwa bukan mereka yang akan mengkhia­nati Yesus. Jadi kata-kata itu sebetulnya lebih merupakan suatu penegasan dari pada suatu pertanyaan.

Kalau dilihat dari keyakinan para murid itu pada diri mereka sendiri selama ini, bahkan juga setelah ini (bdk. ay 31-35), maka sukar diba­yangkan bahwa mereka ragu-ragu akan iman dan kesetiaan mereka. Karena itu saya lebih condong pada pandangan yang kedua ini.

6)   Ay 23:

a)   ‘Mencelupkan tangannya ke dalam pinggan’.

Pinggan ini berisi semacam sop sayur pahit (bdk. Kel 12:8).

‘Mencelupkan tangan ke dalam pinggan’ tentu tidak berarti bahwa mereka makan sop sayur pahit itu langsung dengan menggunakan tangan. Mere-ka makan sayur pahit ini dengan menggunakan roti mereka sebagai sendok (bdk. Mark 14:20 - ‘mencelupkan roti’).

Perlu saudara ingat bahwa roti yang mereka gunakan tidak sama dengan roti kita sekarang ini. Roti mereka berbentuk bundar dan tipis dengan lubang di tengah-tengahnya, dan roti itu keras (tidak lembek seperti roti kita). Karena itu bisa dipakai untuk menyendok sayur pahit itu, dan juga bisa ‘dipecah-pecahkan’ (ay 26).

b)   Ada bermacam-macam penafsiran tentang kata-kata Yesus dalam ay 23 ini:

·        Pada saat itu Yudas, bersama-sama dengan Yesus, sedang mencelup­kan tangannya ke dalam pinggan.

Penafsiran ini didasarkan atas terjemahan dari KJV yang ber­bunyi: ‘he that dippeth his hand with Me ...’. Perhatikan bahwa KJV menterjemahkan kata ‘mencelupkan’ ke dalam present tense!

Kalau memang penafsiran ini benar, maka itu berarti Yesus sebe­tulnya memberikan petunjuk pada murid-murid yang lain bahwa Yudaslah pengkhianatnya.

Keberatan terhadap pandangan pertama ini: kata yang diterjemah­kan ‘he that dippeth’ (= ia yang mencelupkan), dalam bahasa Yunaninya ada dalam bentuk aorist participle.

Suatu participle diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘kata kerja + ing’ (misalnya: going, walking, saying, dsb). Dan aorist menunjuk pada masa lampau.  Karena itu, kata itu bisa diterjemahkan ‘the one that having dipped’ atau ‘the one who has been dipping’ (= orang yang selama ini telah mencelupkan). Ini jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak memaksudkan orang yang pada saat itu sedang mencelupkan tangannya bersama dengan dia, tetapi orang yang dari tadi mencelupkan tangannya ke dalam pinggan itu.

Catatan: Sekalipun Mat 26:23 menggunakan aorist participle, tetapi ayat paralelnya, yaitu Mark 14:20 menggunakan present parti­ciple, sehingga RSV menterjemahkan Mark 14:20 itu dengan ‘one who is dipping bread into the dish with Me’ (= orang yang sedang mencelupkan roti ke dalam masakan dengan Aku).

·        Mereka semua makan menggunakan beberapa pinggan (kalau kita mengingat akan cara duduk mereka, dan bahwa jumlah mereka ada 13 orang, maka ini adalah sesuatu yang sangat masuk akal), dan Yesus dan Yudas makan dengan menggunakan satu pinggan (ingat bahwa Yesus duduk persis di sebelah kanan Yudas)!

Pandangan ini didasarkan atas Mark 14:20 yang berbunyi: ‘... dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku’.

Kalau pandangan ini benar, maka dengan kata-kata itu Yesus memberikan petunjuk kepada murid-murid lain, bahwa Yudaslah pengkhianatnya.

Keberatan: kata ‘satu’ itu sangat diragukan keasliannya, karena tidak didukung oleh manuscript-manuscript yang kuno. Karena itu dalam terjemahan-terjemahan KJV, RSV, NIV, NASB, kata ini tidak ada!

·        Yesus bukan memaksudkan orang yang sedang mencelupkan tangannya, tetapi orang yang telah mencelupkan tangannya, ke dalam pinggan bersama-sama dengan Dia.

Dasar dari pandangan ini adalah penggunaan aorist participle dalam bahasa Yunaninya (lihat keberatan terhadap pandangan pertama di atas). Karena penggunaan aorist participle ini, maka kata ‘mencelupkan’ itu harus menunjuk pada waktu lampau.

NIV: ‘the one who has dipped his hand’ (= orang yang telah mencelupkan tangannya).

NASB: ‘he who dipped his hand’ (= ia yang tadi mencelupkan tangannya).

Kalau pandangan ini benar, maka itu berarti bahwa berbeda dengan pandangan pertama dan kedua di atas, di sini Yesus tidak memberi­tahu kepada murid-muridNya siapa yang akan mengkhianati Dia, karena mereka semua telah mencelupkan tangannya ke dalam ping­gan. Jadi arti kata-kata ini adalah ‘salah seorang dari kamu akan mengkhianati Aku’, sama seperti kata-kataNya dalam ay 21.

Keberatan: dalam ayat paralel dari Mat 26:23 ini, yaitu dalam Mark 14:20, kata-kata yang diterjemahkan ‘dia yang mencelupkan’ dalam bahasa Yunani menggunakan bentuk present participle se­hingga diterjemahkan seperti ini oleh Kitab Suci bahasa Inggris:

NIV: ‘one who dips bread into the bowl with me’.

NASB: ‘one who dips with Me in the bowl’.

KJV: ‘that dippeth with me in the dish’.

RSV: ‘one who is dipping bred into the dish with me’.

Harus diakui bahwa penggunaan aorist participle dalam Mat 26:23 dan present participle dalam Mark 14:20 adalah sesuatu yang memusingkan. Tetapi mungkin keduanya bisa digabungkan, dan berarti ‘orang yang dari tadi sampai sekarang mencelupkan tangannya dengan Aku ke dalam pinggan’.

Dari ketiga pandangan di atas, saya paling condong pada pandangan ketiga.

c)   Apakah nubuat dalam Yoh 13:18 / Maz 41:10 sudah digenapi pada ay 23 ini? Mungkin ya, tetapi mungkin juga bahwa nubuat itu baru digenapi sesaat lagi, yaitu dalam Yoh 13:26-27 (lihat no 8a di bawah).

7)   Ay 24:

a)   Di sini dikatakan ‘Anak Manusia memang akan pergi‘.

Pada saat menunjuk pada kelahiran Yesus sebagai manusia di dunia, Kitab Suci menggunakan kata ‘datang’ (bdk. Mat 9:13  Luk 19:10 Yoh 1:9,11  Yoh 10:10  1Tim 1:15). Sekarang pada waktu menggambarkan kematian Yesus, Kitab Suci menggunakan istilah ‘pergi’.

Ini menunjukkan keaktifan, kerelaan, kesengajaan Yesus baik pada waktu lahir, maupun pada waktu mati!

b)   Kata-kata ‘yang ada tertulis tentang Dia’ menunjuk pada banyak nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama yang menubuatkan kesengsaraan dan kematian Mesias / Yesus, seperti Maz 22  Yes 53  Daniel 9:26a  Maz 41:10 dsb.

Ini menunjukkan bahwa dosa pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas memang sudah ditentukan oleh Allah!

Ajaran Reformed / Calvinisme yang sejati memang mengajarkan bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu dalam arti kata yang mutlak, termasuk dosa, di dalam rencanaNya. Dan semua yang Ia tentukan, pasti akan terjadi!

Untuk menunjukkan bahwa ini bukan ajaran Hyper-Calvinisme (seperti yang dituduhkan / difitnahkan oleh beberapa orang), tetapi betul-betul ajaran Calvinisme yang murni, disini saya memberikan bebera­pa kutipan kata-kata John Calvin sendiri!

Calvin: “But Christ declares that all this takes place only by the will of God; and he proves this decree by the testimony of the Scripture, because God formerly revealed, by the mouth of his prophet, what he had determined” (= Tetapi Kristus menyatakan bahwa semua ini terjadi hanya oleh kehendak Allah; dan Ia membuk­tikan ketetapan ini dengan menggunakan kesaksian Kitab Suci, karena Allah menyatakan, melalui mulut nabiNya, apa yang sudah Ia tentukan lebih dahulu).

Selanjutnya Calvin juga berkata:

“... let us always place before our minds the providence of God, which Judas himself, and all the wicked men - though it is contrary to their wish, and though they have another end in view - are compelled to obey” [= marilah kita selalu mengingat Providence of God, terhadap mana Yudas sendiri, dan semua orang-orang jahat (sekalipun hal itu bertentangan dengan harapan mereka, dan sekalipun mereka mempunyai tujuan yang lain), terpaksa untuk taat].

Calvin juga menyatakan ketidaksetujuannya dengan orang-orang yang beranggapan bahwa Allah bukan menentukan dosa, tetapi hanya menge­tahui lebih dulu bahwa dosa akan terjadi. Ini terlihat dari kutipan di bawah ini:

“I am aware of the manner in which some commentators endeavour to avoid this rock. They acknowledge that what had been written was accomplished through the agency of Judas, because God testified by predictions what He foreknew. By way of softening the doctrine, which appears to them to be somewhat harsh, they substi­tute the foreknowledge of God in place of the decree, as if God merely beheld from a distance future events, and did not arrange them according to his pleasure.  But very differently does the Spirit settle this question;  for not only does he assign as the reason why Christ was delivered up, that it was so written, but also that it was so determined. For where Matthew and Mark quote Scripture, Luke leads us direct to the heavenly decree, saying, according to what was determined” (= Saya tahu tentang cara yang digunakan oleh beberapa penafsir untuk menghindari batu karang ini. Mereka mengakui bahwa apa yang telah tertulis terlaksana melalui Yudas sebagai agen / perantara, karena Allah memberi kesak­sian melalui ramalan apa yang telah Ia ketahui. Mereka melunakkan doktrin ini, yang bagi mereka kelihatannya agak keras, dengan cara menggantikan ‘ketetapan Allah’ dengan ‘pengetahuan lebih dulu dari Allah’, seakan-akan Allah hanya melihat dari jauh hal-hal yang akan terjadi, dan tidak mengaturnya sesuai kehendak / kesenanganNya. Tetapi Roh menjawab / membereskan per-tanyaan / persoalan ini dengan cara yang sangat berbeda; karena Ia memberikan alasan mengapa Kristus diserahkan, yaitu bukan hanya karena hal itu sudah tertu­lis, tetapi juga karena hal itu sudah ditetapkan. Karena dimana Matius dan Markus mengutip Kitab Suci, Lukas meng-arahkan kita langsung pada ketetapan surgawi, karena ia berkata: ‘seperti yang telah ditetapkan’).

Keterangan tentang kutipan di atas: Mat 26:23 dan Mark 14:21 memang mengatakan ‘sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia’. Tetapi ayat paralelnya dalam Lukas mengatakan ‘seperti yang telah ditetapkan‘ (Luk 22:22).

Setelah kutipan di atas, Calvin memberikan argumentasi tambahan untuk menunjukkan bahwa Kitab Suci memang mengajarkan bahwa dosa juga ditentukan oleh Allah. Untuk itu Calvin mengutip Kis 2:23 dan Kis 4:27-28!

c)   ‘Akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu, sekiranya ia tidak dilahirkan’.

·        Ini menunjukkan bahwa sekalipun dosa telah ditentukan oleh Allah, tetapi orang yang berbuat dosa tetap harus bertanggung jawab dan akan dihukum!

Calvin: “Hence we perceive that though men can do nothing but what God has appointed, still this does not free them from condemnation, when they are led by a wicked desire to sin. For though God directs them, by an unseen bridle, to an end which is unknown to them, nothing is farther from their intention than to obey his decrees” (= Jadi, kami mengerti bahwa sekalipun manu­sia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali apa yang telah Allah tentukan, tetapi hal ini tidak membebaskan mereka dari kutukan / hukuman, pada saat mereka dipimpin oleh keinginan yang jahat untuk berbuat dosa. Karena sekalipun Allah mengarahkan mereka, dengan menggunakan kekang yang tak terlihat, menuju suatu tujuan yang tidak mereka ketahui, tetapi tujuan mereka sama sekali bukan untuk mentaati ketetapan Allah).

“Those two principles, no doubt, appear to human reason to be inconsistent with each other, that God regulates the affairs of men by his Providence in such a manner, that nothing is done but by his will and command, and yet he damns the reprobate, by whom he has  carried into execution what he intended. But we see how Christ, in this passage, reconciles both, by pronouncing a curse on Judas, though what he contrived against God had been appoint­ed by God; not that Judas’ act of betraying ought strictly to be called the work of God, but because God turned the treachery of Judas so as to accomplish His own purpose” (= Tak perlu diragu­kan lagi bahwa dalam akal/pikiran manusia dua prinsip ini keli­hatannya bertentangan satu dengan yang lain, yaitu bahwa Allah mengatur peristiwa / hal tentang manusia dengan menggunakan Provi­denceNya sedemikian rupa, sehingga tak ada yang terjadi kecuali oleh kehendak dan perintahNya, tetapi sekalipun demikian Ia mengutuk / menghukum orang-orang yang ditentukan untuk binasa, melalui siapa Ia telah melaksanakan apa yang Ia inginkan. Tetapi kita melihat bahwa dalam bagian ini Kristus mendamaikan keduanya dengan menyatakan suatu kutuk pada Yudas, sekalipun apa yang ia lakukan terhadap Allah telah ditentukan oleh Allah; bukan berarti bahwa tindakan pengkhianatan Yudas bisa disebut sebagai pekerjaan Allah, tetapi karena Allah membalik pengkhianatan Yudas sedemikian rupa untuk mencapai tujuanNya sendiri).

·        Ini tidak berarti bahwa Rencana Allah itu tidak baik atau kurang baik! Perhatikan kata-kata ‘adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan’.

Jadi, bagi Yudas, adalah lebih baik kalau ia tidak dilahirkan / tidak pernah ada! Ini menunjukkan bahwa Ro 8:28 tidak berlaku untuk orang-orang yang bukan pilihan, dan karena itu jangan menggunakan ayat ini untuk menghibur orang yang belum percaya!

Tetapi bagi Allah dan orang-orang pilihan, jelas lebih baik kalau Yudas lahir, karena tanpa Yudas, Penebusan oleh Kristus tidak akan terjadi. Karena itulah maka Allah menentukan / meren­canakan kela-hiran maupun pengkhianatan Yudas, dan melaksanakan rencana itu!

Bandingkan ini dengan Amsal 16:4 yang mengatakan bahwa orang jahatpun diciptakan oleh Allah untuk tujuan tertentu!

·        Kata-kata ini jelas merupakan peringatan, bahkan ancaman, bagi Yudas! Yudas adalah orang yang menerima banyak hal-hal istimewa yang tidak diterima / dialami oleh orang lain, seperti: bertemu dan ikut Yesus secara langsung, mendengar ajaranNya secara langsung, melihat mujijat-mujijatNya secara langsung, melihat kesucianNya secara langsung dsb. Semua ini seharusnya membuat ia percaya kepada Yesus. Tetapi Yudas bukan saja tidak percaya, tetapi ia bahkan mengkhianati dan menjual Yesus! Kalau kita membandingkan semua ini dengan Luk 12:47-48, maka terlihat dengan jelas bahwa Yudas akan ‘menerima banyak pukulan’.

·        Kata-kata ini sebetulnya juga berlaku bagi semua orang yang tidak percaya kepada Kristus! Sekalipun tidak semua mereka akan mengalami hukuman seberat hukuman Yudas, tetapi bagaimanapun juga mereka tetap akan masuk ke neraka, yang adalah tempat yang sangat mengerikan, sehingga bagi siapapun yang masuk ke sana, adalah lebih baik kalau ia tidak pernah dilahirkan!

Karena itu, kalau sampai saat ini saudara belum percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, cepatlah bertobat dan datang kepadaNya!

Dan kalau saudara mempunyai keluarga / teman yang belum percaya, renungkan: apakah saudara ingin mereka mengalami nasib begitu mengerikan sehingga lebih baik bagi mereka kalau mereka tidak pernah dilahirkan?  Kalau saudara tidak ingin hal itu terjadi, banyaklah berdoa untuk pertobatan mereka, dan beritakanlah Injil kepada mereka!

8)   Rupa-rupanya peristiwa yang terjadi dalam Yoh 13:23-27a, terjadi di antara ay 24 dan ay 25.

Jadi, karena dalam ay 23 Yesus tetap belum menunjukkan siapa yang akan mengkhianati Dia, maka Petrus menyuruh Yohanes, yang duduk di sebelah Yesus (Yoh 13:23), untuk menanyakan hal itu kepada Yesus (Yoh 13:24).

a)   Mengapa dalam menjawab pertanyaan Yohanes dalam Yoh 13:25 Yesus tidak langsung saja menjawab ‘Yudas’? Mengapa Ia harus menunjukkan hal itu dengan memberikan roti kepada Yudas dsb (Yoh 13:26)? Mungkin supaya Yoh 13:18 / Maz 41:10 (perhatikan kata ‘rotiKu‘) terge­napi!

b)   Dalam Yoh 13:27a dikatakan bahwa Yudas kerasukan Iblis. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sini:

·        Ini tidak berarti bahwa Iblis betul-betul masuk ke dalam diri Yudas. Dengan kata lain, Yudas tidak betul-betul kerasukan.

Jadi, ini berbeda dengan kasus kerasukan seperti dalam Mat 12:22  Mat 17:14-20  Mark 5:1-20 dsb.

Calvin menganggap bahwa istilah ‘kerasukan’ di sini hanya menunjukkan bahwa Yudas dikuasai oleh Iblis.

Saya berpendapat bahwa kata-kata Calvin sangat beralasan, karena orang yang kerasukan setan selalu menunjukkan tanda-tanda ter­tentu, seperti mengamuk, menjadi kuat, sakit dsb. Sedangkan dalam kasus Yudas, hal-hal itu tidak terjadi.

·        Dalam Yoh 13:2 dikatakan bahwa Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas. Yudas mentaati bisikan Iblis ini, dan akibat­nya sekarang ia kerasukan / dikuasai oleh Iblis!

Memang Allah sering menghukum orang yang melakukan suatu dosa, dengan jalan menyerahkan orang itu ke dalam dosa-dosa lain (bdk. Ro 1:24,26,28).

Karena itu, kalau saudara tidak mau hal itu terjadi pada diri saudara, maka janganlah turuti bisikan Iblis, apapun juga yang ia bisik­kan! Dan saudara bisa mengenali suatu bisikan Iblis, dengan membandingkannya dengan Firman Tuhan. Semua keinginan dalam hati / pikiran saudara, dan juga semua ajakan dari orang lain, yang berten­tangan dengan Firman Tuhan, pasti merupakan bisikan Iblis! Misalnya: keinginan untuk membolos dari kebaktian, ajakan ke­luarga untuk piknik sehingga tidak memungkinkan ke gereja, keinginan untuk mengutamakan hobby lebih dari Tuhan, dsb.

·        Dalam Luk 22:3 (yang pasti terjadi sebelum Yoh 13:27a) telah dikatakan bahwa Iblis masuk ke dalam Yudas. Mengapa sekarang, dalam Yoh 13:27a dikatakan lagi bahwa Yudas kerasukan Iblis?

*        Saya berpendapat bahwa hal ini menguatkan pandangan Calvin yang mengatakan bahwa Yudas tidak betul-betul kerasukan Iblis, tetapi hanya dikuasai Iblis.

*        Lalu, kalau Luk 22:3 sudah mengatakan bahwa ia dikuasai Iblis, mengapa Yoh 13:27a mengatakan lagi bahwa ia dikuasai Iblis?

Calvin menjawab pertanyaan ini sebagai berikut: Dalam Kitab Suci sering dikatakan ada orang yang percaya kepada Tuhan, padahal sebelum itu ia sudah pernah percaya. Misalnya: murid-murid sudah percaya dalam Yoh 1:35-51. Tetapi lalu dalam Yoh 2:11 dan Yoh 2:22 mereka lagi-lagi dikatakan percaya. Ini jelas menunjukkan pertumbuhan iman mereka. Analoginya, kalau tadi sudah dikatakan dikuasai Iblis, lalu sekarang dikatakan dikuasai Iblis lagi, itu berarti bahwa Yudas makin dikuasai Iblis!

9)   Ay 25:

a)   Ada perbedaan antara pertanyaan Yudas dan murid-murid yang lain: pertanyaan Yudas menggunakan kata ‘Rabi’ (= Guru), tidak mengguna­kan ‘Tuhan’ seperti pertanyaan murid-murid yang lain dalam ay 22.

b)   Jawaban Yesus (ay 25b):

·        kata-kata ini berarti ‘ya’.

NIV: ‘Yes, it is you’ (= ya, itu adalah kamu).

Bandingkan juga dengan Mat 26:63-64!

·        kata-kata ini tidak diucapkan dengan keras, tetapi dibisikkan sehingga hanya didengar oleh Yudas (jangan lupa bahwa Yudas duduk persis di sebelah kiri Yesus).

10) Setelah ay 25, rupa-rupanya terjadilah Yoh 13:27b-30, dimana Yudas keluar meninggalkan Yesus dan murid-murid yang lain. Jadi, Perja­muan Kudus dalam Mat 26:26-28 tidak diikuti oleh Yudas. Memang kalau kita melihat Luk 22:21 maka kelihatannya Yudas ikut dalam Perjamuan Kudus. Tetapi perlu diingat bahwa dalam Luk 22 ada banyak hal yang ditulis secara tidak chronologis (tak sesuai urut-urutan waktu).


-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com