Eksposisi Injil Matius

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


Matius 17:22-27

Mat 17:22-23:

1)   Bdk. Mark 9:30b. Hal itu hanya diajarkan kepada murid-murid. Orang-orang lain belum percaya bahwa Yesus adalah Mesias, sehingga tentu tidak mungkin diajar bahwa Mesias harus menderita dan bahkan mati. Lagi-lagi jelas bahwa Yesus tidam mengajarkan sebarang ajaran kepada sebarang orang. Ia menyesuaikan tingkat ajaranNya dengan tingkat kerohanian dan kebutuhan pendengarNya. Ini harus kita teladani.

Catatan: menyesuaikan ajaran tidak berarti mengubah / mengkompromikan kepercayaan kita seperti yang dilakukan oleh Bambang Noorsena. Untuk menyesuaikan dengan orang-orang Islam, ia lalu membuang kepercayaan ajaran tentang keilahian Kristus dan tentang Allah Tritunggal. Ini salah! Dalam menyesuaikan ajaran, kita harus tetap memberikan ajaran yang benar!

2)   Pemberitaan tentang hal ini diulang-ulang oleh Yesus:

Rasanya pemberitaan / ajaran itu tidak bisa diterima oleh murid-murid sehingga rasanya Yesus mengajar dengan sia-sia. Tetapi kalau kita melihat Luk 24:6-8 maka kita bisa melihat bahwa setelah Yesus bangkit, malaikat mengingatkan murid-murid tentang kata-kata Yesus itu, dan mereka ingat akan kata-kata Yesus tersebut. Andaikata Yesus tidak mengulang-ulang ajaran tersebut, mungkin sekali mereka tidak akan bisa mengingatnya! Tetapi karena Yesus mengulang-ulang ajaran tersebut, mereka ingat dan pastilah itu sangat menguatkan iman mereka pada saat itu. Jadi, apa yang Yesus lakukan, yang kelihatannya sia-sia pada saat itu, ternyata akhirnya ada hasilnya.

Penerapan:

Bertekunlah dalam memberitakan Injil / memberitakan Firman Tuhan, sekalipun rasanya tidak ada hasilnya.

3)   Ay 22: ‘diserahkan’.

Dalam bahasa Yunani: PARADIDOSTHAI (berasal dari kata Yunani PARADIDOMI).

Ada 2 penafsiran tentang bagian ini:

a)   Kata Yunani ini digunakan dalam Mat 26:15,16,21,23-25,46,48 untuk menunjuk pada pengkhianatan Yudas Iskariot. Karena itu:

NIV menterjemahkan: ‘The Son of Man is going to be betrayed into the hands of men’.

KJV menterjemahkan: ‘The Son of Man shall be betrayed into the hands of men’.

Orang-orang yang menerima penafsiran ini menganggap bahwa pemberitaan kedua (dalam Mat 17:22-23) ini lebih lengkap dari pada pemberitaan pertama (dalam Mat 16:21), karena dalam pemberitaan kedua ini, disebutkan tentang pengkhianatan Yudas Iskariot.

b)   Kata Yunani ini bisa sekedar berarti: ‘handed over’ / ‘delivered’ (= diserahkan).

RSV/NASB: ‘is going to be delivered’ (= akan diserahkan).

Jadi ini tidak mesti menunjuk pada pengkhianatan Yudas Iskariot, tetapi menunjuk pada:

·        tindakan musuh-musuh Yesus sehingga Yesus dibunuh.

·        tindakan Bapa dalam menyerahkan Yesus.

4)   Bdk. Mark 9:32  Luk 9:45.

Ada 3 hal yang bisa kita lihat dari ayat-ayat tersebut:

a)   Mereka tidak mengerti.

Mereka tidak mengerti bagaimana Yesus bisa adalah Mesias, tetapi harus mati. Bdk. Yes 55:8-9. Ini sering menyebabkan kita tidak mengerti Tuhan dan tindakan Tuhan, misalnya pada saat doa kita tidak dijawab, adanya kekacauan dan Tuhan diam saja, gereja yang benar hancur sedangkan gereja yang brengsek justru berkembang pesat. Tetapi dalam ketidak-mengertian itu sebetulnya kita harus tetap percaya bahwa Tuhan pasti melakukan yang terbaik.

b)   Artinya tersembunyi dari mereka.

Dalam Mat 11:25-27 dan Mat 16:16-17 terlihat bahwa seseorang bisa mengerti karena Tuhan menyatakan kepadanya. Dalam Mark 9:32 dan Luk 9:45 terlihat bahwa kalau Tuhan tidak menyatakan maka manusia tidak bisa mengerti. Jelas bahwa pengertian tergantung kepada Tuhan. Karena itu sebelum saudara membaca / mendengar Firman Tuhan saudara harus dengan sungguh-sungguh berdoa supaya Tuhan memberi pengertian / terang sehingga saudara bisa mengerti. Bagaimanapun seringnya saudara menaikkan doa itu, janganlah saudara berdoa hanya sebagai rutinitas belaka!

c)   Mereka tidak mengerti, tetapi mereka takut / segan untuk bertanya. Ini merupakan sesuatu yang salah dan bodoh! Tetapi, berapa banyak dari saudara yang juga segan / takut bertanya tentang hal-hal yang tidak saudara mengerti?

5)   Ay 23b: murid-murid menjadi sedih. Mengapa?

a)   Karena mereka tidak mengerti kata-kata Yesus itu.

Kalau mereka mengerti bahwa tanpa kematian Yesus mereka tidak mungkin diampuni / diselamatkan, maka sikap mereka akan lain. Jelas bahwa pengertian Firman Tuhan yang lengkap dan benar merupakan sesuatu yang penting dan akan sangat mempengaruhi kehidupan kita.

b)   Karena mereka tidak memperhatikan kata ‘bangkit’ dalam kata-kata Yesus itu.

Mereka mungkin hanya mendengar bahwa Yesus harus menderita dan mati, dan mereka tidak mendengar lebih jauh. Andaikata mereka mendengar bahwa setelah mati, Ia akan bangkit, mungkin mereka tidak akan sedih. Jelas bahwa mendengar dan membaca Firman Tuhan dengan teliti merupakan sesuatu yang sangat penting!

c)   Karena mereka cinta kepada Yesus!

‘Tolol tetapi cinta Tuhan’ jauh lebih baik dari pada ‘pandai tetapi tidak cinta Tuhan’, atau ‘pandai, tetapi sudah kehilangan cinta semula kepada Tuhan’.

Renungkan: saudara termasuk golongan yang mana? Apakah saudara mencintai Tuhan?

Mat 17:24-27:

Ay 24:

 

·        ‘pemungut bea Bait Allah’. NIV: ‘the collectors of the two-drachma tax’’ (= ).

·        tentang bea ini lihat dalam Kel 30:11-16 (1/2 syikal = 2 dirham).

·        guna dari bea ini adalah untuk korban binatang dalam Bait Allah, untuk anggur, tepung, minyak, kemenyan yang dugunakan dalam Bait Allah, dan juga untuk pakaian imam / imam besar yang bertugas dalam Bait Allah.

Ay 25-26:

1)   Petrus menjawab: Memang membayar!

Ada 2 kemungkinan:

a)   Petrus menjawab demikian karena ia cukup kenal Yesus dan ia tahu Yesus pasti membayar.

b)   Petrus menjawab demikian karena ia takut. Apalagi Yesus baru mengucapkan ay 22-23 tentang penderitaan / kematianNya. Jadi, Petrus mengucapkan kata-kata ini untuk ‘melindungi’ Yesus!

Penerapan:

Jangan ‘melindungi’ Tuhan dengan kata-kata yang ngawur!

2)   Yesus mendahului Petrus dengan pertanyaan.

Ini menunjukkan kemaha-tahuan Yesus dan membuktikan bahwa Yesus adalah Allah!

3)   Ay 25: ‘dari rakyatnya atau dari orang asing’.

Kata ‘rakyat’ seharusnya adalah ‘anak-anak / sons’.

Yang dimaksud dengan ‘anak-anak / sons’:

Ay 27:

1)   Yesus tidak mau menjadi batu sandungan, sehingga sekalipun seharusnya Ia tidak perlu membayar, tetapi Ia toh mau membayar!

Ada beberapa hal yang bisa kita bahas di sini:

a)   Yesus mau membuang haknya demi orang lain (bdk. 1Kor 9:4-18).

Ini mengajar kita untuk tidak mempertahankan hak, kalau ternyata dengan mempertahankan hak itu kita bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain.

b)   Ay 27 ini harus ditekankan secara seimbang dengan Mat 15:12-14 dimana Yesus tidak peduli kalau Ia menjadi batu sandungan.

Jadi, orang kristen memang harus berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan, tetapi pada saat yang sama harus kita ingat, bahwa dalam sikon tertentu, kita harus berani menjadi batu sandungan!

Seseorang mengatakan:

“A Christian should not hesitate to give offence, but he should avoid giving needless offence” (= ).

Ada saat-saat dimana kita hanya bisa tidak menjadi batu sandungan, kalau kita berkompromi dengan dosa. Dalam hal ini kita harus berani menjadi batu sandungan.

c)   Ini merupakan penjelasan lebih jauh dari point b) di atas.

Di sini Yesus bisa memilih 2 tindakan yang sama-sama tidak salah (yaitu membayar bea atau tidak membayar bea), tetapi tindakan yang kedua bisa menjadi batu sandungan, sedangkan tindakan yang pertama tidak. Maka Ia harus memilih tindakan yang tidak menyandungi orang lain (bdk. 1Kor 8:8-13).

Tetapi seringkali kita harus memilih antara:

·        tindakan yang benar, tetapi menyandungi orang.

·        tindakan yang salah, tetapi tidak menyandungi orang.

Dalam hal ini, kita tidak boleh berkompromi dengan dosa. Tidak peduli tindakan itu menyandungi orang, kita harus memilih tindakan yang benar tersebut.

Contoh: ada seseorang yang diceraikan istrinya, dan istrinya lalu menikah lagi. Tetapi suami kedua lalu meninggalkan istri ini, dan lalu istri ini ingin rujuk dengan suami pertamanya. Mereka mempunyai 6 anak yang mendukung dan bahkan sangat menginginkan rujuknya papa mamanya. Tetapi Ul 24:1-4 jelas melarang rujuk yang seperti itu, dan sebagai pendeta saya harus menolak untuk menikahkan ulang pasangan yang sudah bercerai ini. Mungkin sekali saya menjadi batu sandungan bagi keluarga ini, tetapi dalam hal ini saya harus berani menjadi batu sandungan!

Contoh lain: saudara diajak oleh keluarga saudara yang non kristen untuk pergi ke luar kota pada hari Sabtu - Minggu, yang akan menyebabkan saudara tidak mungkin pergi ke gereja pada hari Minggunya. Dengan demikian saudara diperhadapkan pada pemilihan 2 tindakan:

·        saudara pergi dengan mereka. Ini jelas merupakan suatu dosa karena saudara tidak pergi ke gereja, tetapi saudara tidak menyandungi keluarga saudara (tidak membuat mereka marah kepada gereja kekristenan / Yesus dsb).

·        saudara tidak mau pergi dengan keluarga saudara tersebut dan saudara memilih untuk pergi ke gereja. Ini tindakan yang benar, tetapi ini bisa menyandungi keluarga saudara tersebut (membuat mereka benci pada kekristenan dsb).

Dalam hal ini, apapun resikonya, saudara harus berani menjadi batu sandungan bagi mereka! Saudara harus memilih tindakan yang benar, sekalipun itu bisa menyandungi mereka. Kalau mereka tersandung, itu salah mereka sendiri!

d)   Apakah dengan membayar bea tersebut Yesus tidak menyumbang kepada setan, mengingat Yudaisme saat itu banyak yang salah dan bahkan sesat? Untuk menjawab pertanyaan itu perhatikan hal-hal ini:

·        Ajaran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memang banyak salahnya dan menjurus pada kesesatan. Tetapi ingat bahwa bea itu gunanya bukan untuk mendukung pengajaran  yang sesat dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Gunanya bea itu adalah untuk kelancaran dari hal-hal yang dikerjakan dalam Bait Allah (korban binatang, minyak, tepung, kemenyan, pakaian imam, dsb). Hal-hal itu memang diperintahkan oleh Allah dalam Kitab Suci / Perjanjian Lama, sehingga semua itu sesuai dengan kehendak Allah.

·        jaman sekarang ada banyak gereja, dengan bermacam-macam merk dan aliran, sehingga kalau kita melihat ada gereja-gereja yang brengsek, kita bisa tidak memberi persembahan ke gereja itu, tetapi memberikannya ke gereja yang benar. Tetapi pada jaman itu Bait Allah adalah ‘satu-satunya gereja’, sehingga mau tidak mau persembahan / pajak harus diberikan ke sana!

2)   Yesus menyuruh Petrus memancing ikan, dan ikan itu ada uangnya, dan sebagainya.

Ada beberapa penafsiran tentang bagian ini:

a)   Bagian ini tidak bersifat hurufiah.

William Barclay mengatakan bahwa bagian ini berarti: Yesus menyuruh Petrus untuk kembali pada pekerjaan lamanya, yaitu memancing ikan, lalu menjual ikan itu supaya mendapat uang untuk membayar bea!

Alasannya:

·        orang Timur sering mendramatisir pada waktu bercerita.

·        betapapun miskinnya mereka, mereka tidak membutuhkan mujijat hanya untuk mendepatkan uang 4 dirham (kira-kira itu sama dengan upah kerja 4 hari dari buruh kasar).

·        dalam Mat 4:3-4 Yesus tidak mau menggunakan keilahianNya / kemaha-kuasaanNya untuk diriNya sendiri.

b)   Bagian ini bersifat hurufiah.

Di sini ada 2 macam penafsiran lagi:

·        Ini adalah mujijat. Yesus mencipta ikan dan uang itu, atau Yesus mencipta uang dalam ikan tersebut.

Keberatan: dalam Mat 4:3-4 Yesus tidak mau menggunakan kemaha-kuasaanNya untuk diriNya sendiri.

·        Ini bukan mujijat, tetapi hanya soal kemaha-tahuan Yesus. Bahwa bisa ada uang dalam perut seekor ikan, bukanlah merupakan sesuatu yang terlalu aneh, karena ikan-ikan tertentu senang menelan barang-barang apapun yang berkilauan, sehingga bisa saja ada orang yang uangnya jatuh ke air dan lalu ditelan oleh seekor ikan. (Catatan: ‘mata uang 4 dirham’ dalam ay 27 itu adalah 1 keping mata uang yang bernilai 4 dirham). Demikian juga kalau Petrus memancing ikan, lalu mendapatkan ikan itu, itu bukan sesuatu yang aneh. Jadi semua ini bukan mujijat, tetapi hanya menunjukkan kemaha-tahuan Yesus!

Pulpit Commentary: “Though supernatural element is clearly present, the precisely miraculous element is absent” (= Sekalipun elemen supranatural jelas ada, tetapi elemen mujijat yang tepat tidak ada).

Saya condong pada penafsiran ini.

3)   Sekalipun tidak diceritakan, tetapi jelas Petrus mentaati perintah tersebut.

Ini menunjukkan iman yang hebat! Cobalah renungkan: andaikata saudara yang mendapat perintah yang begitu tidak masuk akal, maukah saudara mentaatinya?

Dalam hidup kita, Tuhan sering menyuruh kita untuk melakukan hal-hal yang bagi kita merupakan suatu yang tidak masuk akal. Tetapi kalau itu betul-betul perintah Tuhan, Ia sendiri akan bekerja sehingga yang mustahil itu bisa terjadi. Beranikah / maukah saudara taat pada perintah Tuhan yang rasanya tidak masuk akal? Iman memandang kepada Tuhan yang maha kuasa, dan bukan pada kemustahilan / ke-tidak-masuk-akal-an perintahNya!

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com