Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Selasa, tgl 1 Oktober 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

 

vs

 

Kristen Protestan (12e)

 

Martin Luther(5)

 

9) Philip Melanchthon.

 

David Schaff: “Before we proceed with the development of the Reformation, we must make the acquaintance of Melanchthon, who had accompanied Luther to the Leipzig disputation as a spectator, suggesting to him and Carlstadt occasional arguments, and hereafter stood by him as his faithful colleague and friend.” [= Sebelum kita melanjutkan dengan perkembangan Reformasi, kita harus berkenalan dengan Melanchthon, yang telah menemani Luther ke perdebatan Leipzig sebagai penonton, memberi saran kepada Luther dan Carlstadt sesekali argumen, dan setelah itu tetap mendampinginya sebagai kolega dan sahabat yang setia.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 182.

 

David Schaff: “On the twenty-fifth day of August, 1518, ten months after the publication of Luther’s Theses, when he most needed a learned helper in his work, and two years before the papal excommunication, a modest but highly gifted youth arrived in Wittenberg, as professor of philosophy and Greek literature, who was predestinated to become the second leader of the Lutheran Reformation, and the ‘Teacher of Germany.’” [= Pada tanggal dua puluh lima Agustus 1518, sepuluh bulan setelah publikasi Tesis Luther, ketika ia sangat membutuhkan seorang pembantu yang terpelajar dalam pekerjaannya, dan dua tahun sebelum exkomunikasi paus, seorang pemuda sederhana namun sangat berbakat tiba di Wittenberg sebagai profesor filsafat dan sastra Yunani, yang telah dipredestinasikan untuk menjadi pemimpin kedua Reformasi Lutheran, dan ‘Guru Jerman.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 185.

 

David Schaff: “Philip Melanchthon, or Melanthon, was born of honest and pious parents, at Bretten in the Palatinate, Feb. 16, 1497, fourteen years after Luther, twelve years before Calvin. In his theology, as in age, he stood a mediator between the two.” [= Philip Melanchthon, atau Melanthon, lahir dari orang tua yang jujur dan saleh, di Bretten di Palatinate, pada 16 Februari 1497, empat belas tahun setelah Luther, dua belas tahun sebelum Calvin. Dalam theologianya, sebagaimana dalam usianya, ia berdiri sebagai seorang pengantara antara keduanya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 185-186.

 

David Schaff: “He was one of those rare scholars who mature early, and yet continue their productive labors in undiminished vigor to old age. He mastered all the branches of knowledge, especially classical philology, and graduated as Master of Arts in Tuebingen, Jan. 25, 1514, when only seventeen years of age. He wrote and spoke Greek and Latin better than his native German, and composed poetry in those languages.” [= Dia adalah salah satu dari sarjana-sarjana langka yang dewasa lebih awal (pada usia muda), namun tetap melanjutkan kerja produktif mereka dengan semangat yang tak berkurang hingga usia tua. Dia menguasai semua cabang ilmu pengetahuan, terutama filologi klasik, dan lulus sebagai Master of Arts di Tübingen pada 25 Januari 1514, saat usianya baru tujuh belas tahun. Dia menulis dan berbicara dalam bahasa Yunani dan Latin lebih baik dari pada bahasa Jermannya sendiri, dan juga menulis puisi dalam kedua bahasa tersebut.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 186.

Catatan: Philology = the branch of knowledge that deals with the structure, historical development, and relationships of a language or languages. [= Cabang pengetahuan yang mempelajari struktur, perkembangan sejarah, dan hubungan dari suatu bahasa atau beberapa bahasa.] - https://www.google.com/search?client=firefox-b-d&q=philology+meaning

 

David Schaff: “Melanchthon embraced theology in his encyclopaedic studies, without having the priesthood in view, but was rather repelled by the dry scholasticism which then prevailed in Tuebingen. He quietly and naturally grew into his theological position, without violent changes and struggles like those of Luther. His experience was that of John rather than of Paul. He had received a pious training at home; he delighted in public worship, the lives of saints, and especially in the careful study of the Bible, which accompanied him even on his walks. His eyes were opened to the abuses in the Church, and the need of reform. His classical tastes and his intimacy with Reuchlin, the noble champion of Hebrew learning against monkish ignorance and obscurantism, predisposed him in favor of the evangelical movement which had broken out at Wittenberg a few months before he left Tuebingen.” [= Melanchthon menerima theologia dalam studi ensiklopedianya tanpa memiliki pandangan untuk menjadi imam, bahkan lebih tertarik menjauhkan diri dari skolastisisme kering yang kala itu mendominasi di Tübingen. Secara tenang dan alami, ia tumbuh ke dalam posisi theologisnya tanpa mengalami perubahan besar dan pergulatan seperti yang dialami oleh Luther. Pengalamannya lebih mirip dengan pengalaman Yohanes dari pada pengalaman Paulus. Ia menerima pendidikan yang saleh di rumah; ia menyenangi ibadah publik, kehidupan para santo, dan terutama dalam pembelajaran Alkitab yang teliti, yang selalu menyertainya bahkan saat berjalan-jalan. Matanya terbuka terhadap penyimpangan / penyalah-gunaan dalam Gereja dan perlunya reformasi. Kecintaannya pada karya klasik dan kedekatannya dengan Reuchlin, pembela mulia dari pembelajaran Ibrani melawan kebodohan dan sikap tertutup para biarawan, membuatnya cenderung mendukung gerakan injili yang telah muncul di Wittenberg beberapa bulan sebelum ia meninggalkan Tübingen.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 187.

Catatan: kalau mau tahu tentang Reuchlin lihat web ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Johann_Reuchlin

 

David Schaff: “His fame spread so rapidly that he received calls from the universities of Ingolstadt, Leipzig, and Wittenberg. He concluded to go to Wittenberg as professor of Greek, at the modest salary of one hundred guilders. This salary was doubled in 1526, but Luther and the Elector had difficulty to induce him to accept.” [= Ketenarannya menyebar dengan begitu cepat sehingga ia menerima panggilan dari universitas Ingolstadt, Leipzig, dan Wittenberg. Ia memutuskan untuk pergi ke Wittenberg sebagai profesor bahasa Yunani dengan gaji sederhana sebesar seratus gulden. Gaji ini digandakan pada tahun 1526, namun Luther dan Sang Elector mengalami kesulitan membujuknya untuk menerima kenaikan tersebut.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 188.

 

David Schaff: “Reuchlin had strongly recommended him to the Elector Frederick. ‘I know no man among the Germans,’ he wrote, ‘who is superior to Master Philip Schwarzerd (= Philip Melanchthon) except Erasmus Roterodamus, who is a Hollander, and surpasses us all in Latin.’ He applied to his nephew (= Philip Melanchthon), in prophetic anticipation, the promise of God to Abraham, Gen. 12:1-3. So far the aged scholar did great service to the cause of the Reformation. But when it threatened to end in a split of the Church, Reuchlin withdrew, like Erasmus and Staupitz. He was afraid of being called a heretic. He moved from Stuttgart to Ingolstadt in 1519, and lived for a while in the house of Dr. Eck. He even tried to draw Melanchthon from Wittenberg to Ingolstadt, but in vain; [= Reuchlin sangat merekomendasikannya kepada Elector Frederick. ‘Saya tidak mengenal seorangpun di antara orang Jerman,’ tulisnya, ‘yang lebih unggul dari Master Philip Schwarzerd (= Philip Melanchthon) kecuali Erasmus Roterodamus, yang adalah seorang Belanda, dan melampaui kita semua dalam bahasa Latin.’ Ia menerapkan kepada keponakannya (= Philip Melanchthon), dengan antisipasi yang bersifat nubuat, janji Allah kepada Abraham dalam Kej 12:1-3. Sejauh ini, sarjana tua itu memberikan kontribusi besar bagi perjuangan Reformasi. Namun, ketika Reformasi terancam berakhir dengan perpecahan Gereja, Reuchlin mundur, seperti halnya Erasmus dan Staupitz. Ia takut disebut sebagai bidat. Pada tahun 1519, ia pindah dari Stuttgart ke Ingolstadt dan tinggal sebentar di rumah Dr. Eck. Ia bahkan mencoba menarik Melanchthon dari Wittenberg ke Ingolstadt, namun usahanya sia-sia.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 188.

 

David Schaff: “Although yet a youth of twenty-one years of age, Melanchthon at once gained the esteem and admiration of his colleagues and hearers in Wittenberg. He was small of stature, unprepossessing in his outward appearance, diffident and timid. But his high and noble forehead, his fine blue eyes, full of fire, the intellectual expression of his countenance, the courtesy and modesty of his behavior, revealed the beauty and strength of his inner man. His learning was undoubted, his moral and religious character above suspicion.” [= Meskipun masih seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun, Melanchthon segera mendapatkan penghargaan dan kekaguman dari rekan-rekan serta pendengarnya di Wittenberg. Ia bertubuh kecil, dengan penampilan luar yang kurang menarik, pemalu dan takut-takut. Namun, dahinya yang tinggi dan mulia, matanya yang biru dan penuh semangat, ekspresi intelektual di wajahnya, serta kesopanan dan kerendahan hatinya, mengungkapkan keindahan dan kekuatan batin dirinya. Pengetahuannya tidak diragukan lagi, dan karakter moral serta agamanya mengatasi kecurigaan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 189.

 

David Schaff: “He desired to lead the youth to the sources of knowledge, and by a careful study of the languages to furnish the key for the proper understanding of the Scriptures, that they might become living members of Christ, and enjoy the fruits of His heavenly wisdom. He studied and taught theology, not merely for the enrichment of the mind, but also and chiefly for the promotion of virtue and piety.” [= Ia berkeinginan untuk memimpin kaum muda menuju sumber-sumber pengetahuan, dan melalui pembelajaran bahasa yang teliti memberikan kunci untuk pemahaman yang tepat tentang Kitab Suci, agar mereka dapat menjadi anggota hidup dari Kristus dan menikmati buah-buah hikmat surgawiNya. Ia mempelajari dan mengajarkan theologia bukan hanya untuk memperkaya pikiran, tetapi juga dan terutama untuk memajukan kebajikan dan kesalehan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 189.

 

David Schaff: “He at first devoted himself to philological pursuits, and did more than any of his contemporaries to revive the study of Greek for the promotion of biblical learning and the cause of the Reformation. He called the ancient languages the swaddling-clothes of the Christ-child: Luther compared them to the sheath of the sword of the Spirit. Melanchthon was master of the ancient languages; Luther, master of the German. The former, by his co-operation, secured accuracy to the German Bible; the latter, idiomatic force and poetic beauty.” [= Pada awalnya, Melanchthon mengabdikan dirinya pada kegiatan filologi dan melakukan lebih banyak upaya dibandingkan rekan-rekan sejamannya untuk menghidupkan kembali pembelajaran bahasa Yunani demi memajukan pembelajaran Alkitab dan mendukung Reformasi. Ia menyebut bahasa-bahasa kuno sebagai ‘kain lampin bagi bayi Kristus’; sementara Luther membandingkannya dengan sarung pedang Roh. Melanchthon adalah Master dari bahasa-bahasa kuno, sedangkan Luther adalah Master dari bahasa Jerman. Yang pertama, melalui kerjasamanya, memastikan ketepatan dalam Alkitab Jerman; yang kedua, memberikan kekuatan idiomatik dan keindahan puitis.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 189-190.

 

David Schaff: “In the year 1519 Melanchthon graduated as Bachelor of Divinity; the degree of Doctor he modestly declined. From that time on, he was a member of the theological faculty, and delivered also theological lectures, especially on exegesis. He taught two or three hours every day a variety of topics, including ethics, logic, Greek and Hebrew grammar; he explained Homer, Plato, Plutarch, Titus, Matthew, Romans, the Psalms. In the latter period of his life he devoted himself exclusively to sacred learning. He was never ordained, and never ascended the pulpit; but for the benefit of foreign students who were ignorant of German, he delivered every Sunday in his lecture-room a Latin sermon on the Gospels. He became at once, and continued to be, the most popular teacher at Wittenberg. He drew up the statutes of the University, which are regarded as a model. By his advice and example the higher education in Germany was regulated.” [= Pada tahun 1519, Melanchthon lulus sebagai Sarjana Theologia; gelar Doktor ia tolak dengan sopan / rendah hati. Sejak saat itu, ia menjadi anggota fakultas theologia dan juga memberikan kuliah theologia, terutama tentang exegesis. Setiap hari, ia mengajar selama dua atau tiga jam berbagai topik, termasuk etika, logika, gramatika bahasa Yunani dan Ibrani; ia menjelaskan karya-karya Homer, Plato, Plutarch, Titus, Matius, Roma, dan Mazmur. Pada periode akhir hidupnya, ia mengabdikan dirinya sepenuhnya pada ilmu-ilmu kudus. Ia tidak pernah ditahbiskan, dan tidak pernah naik ke mimbar; namun demi para mahasiswa asing yang tidak mengerti bahasa Jerman, setiap hari Minggu ia menyampaikan khotbah dalam bahasa Latin di ruang kuliahnya tentang Injil-injil. Ia segera menjadi, dan terus-menerus menjadi, pengajar paling populer di Wittenberg. Ia menyiapkan hukum / ketetapan dari Universitas, yang dianggap sebagai suatu model. Melalui nasihat dan contohnya, pendidikan tinggi di Jerman diatur dengan baik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 190.

 

David Schaff: “His fame attracted students from all parts of Christendom, including princes, counts, and barons. His lecture-room was crowded to overflowing, and he heard occasionally as many as eleven languages at his frugal but hospitable table. He received calls to Tuebingen, Nuernberg, and Heidelberg, and was also invited to Denmark, France, and England; but he preferred remaining in Wittenberg till his death.” [= Ketenarannya menarik mahasiswa dari seluruh penjuru dunia Kristen, termasuk pangeran, bangsawan, dan baron. Ruang kuliahnya dipenuhi hingga meluap, dan di meja makannya yang sederhana namun ramah, ia sesekali mendengar sebanyak sebelas bahasa yang berbeda. Ia menerima tawaran dari Tübingen, Nürnberg, dan Heidelberg, serta undangan ke Denmark, Prancis, dan Inggris; namun ia lebih memilih untuk tetap tinggal di Wittenberg hingga akhir hayatnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 190.

 

10)Martin Luther and Philip Melanchthon.

 

David Schaff: “In great creative epochs of the Church, God associates congenial leaders for mutual help and comfort. In the Reformation of the sixteenth century, we find Luther and Melanchthon in Germany, Zwingli and Oecolampadius, Farel and Viret, Calvin and Beza in Switzerland, Craniner, Latimer, and Ridley in England, Knox and Melville in Scotland, working together with different gifts, but in the same spirit and for the same end. The Methodist revival of the eighteenth century was carried on by the co-operation of the two Wesleys and Whitefield; and the Anglo-Catholic movement of the nineteenth, by the association of Pusey, Newman, and Keble.” [= Dalam masa-masa besar penciptaan dalam Gereja, Allah menggabungkan pemimpin-pemimpin yang serasi untuk saling membantu dan menghibur. Dalam Reformasi abad keenam belas, kita melihat Luther dan Melanchthon di Jerman, Zwingli dan Oecolampadius, Farel dan Viret, Calvin dan Beza di Swiss, Cranmer, Latimer, dan Ridley di Inggris, Knox dan Melville di Skotlandia, bekerja sama dengan karunia-karunia yang berbeda, tetapi dalam semangat yang sama dan untuk tujuan yang sama. Kebangkitan Metodis pada abad kedelapan belas dilakukan melalui kerjasama dua Wesleys dan Whitefield; dan gerakan Anglo-Katolik abad kesembilan belas oleh persekutuan Pusey, Newman, dan Keble.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 191-192.

 

David Schaff: “Immediately after his arrival at the Saxon University, on the Elbe, Melanchthon entered into an intimate relation with Luther, and became his most useful and influential co-laborer. He looked up to his elder colleague with the veneration of a son, and was carried away and controlled (sometimes against his better judgment) by the fiery genius of the Protestant Elijah; while Luther regarded him as his superior in learning, and was not ashamed to sit humbly at his feet. He attended his exegetical lectures, and published them, without the author’s wish and knowledge, for the benefit of the Church. Melanchthon declared in April, 1520, that ‘he would rather die than be separated from Luther;’ and in November of the same year, ‘Martin’s welfare is dearer to me than my own life.’ Luther was captivated by Melanchthon’s first lecture; he admired his scholarship, loved his character, and wrote most enthusiastically about him in confidential letters to Spalatin, Reuchlin, Lange, Scheurl, and others, lauding him as a prodigy of learning and piety.” [= Segera setelah kedatangannya di Universitas Saxon, di tepi Sungai Elbe, Melanchthon menjalin hubungan erat dengan Luther dan menjadi rekan kerja yang paling berguna dan berpengaruh. Ia memandang rekan seniornya dengan penghormatan seperti seorang anak kepada ayah, dan sering kali terbawa dan dikendalikan (terkadang bertentangan dengan penilaian yang lebih baik dari dirinya sendiri) oleh Orang jenius yang berkobar-kobar dari sosok ‘Elia Protestan’ ini; sementara Luther menganggap Melanchthon lebih unggul darinya dalam hal ilmu pengetahuan, dan dengan rendah hati tidak malu untuk duduk di kakinya sebagai murid. Ia menghadiri kuliah exegesis Melanchthon dan menerbitkannya, tanpa sepengetahuan dan keinginan sang pengajar, demi kepentingan Gereja. Pada April 1520, Melanchthon menyatakan bahwa ‘ia lebih memilih mati dari pada dipisahkan dari Luther;’ dan pada November di tahun yang sama, ‘kesejahteraan Martin lebih berharga bagiku dari pada hidupku sendiri.’ Luther terpikat oleh kuliah pertama Melanchthon; ia mengagumi kecendekiaannya, mencintai karakternya, dan menulis dengan sangat antusias tentangnya dalam surat-surat pribadi kepada Spalatin, Reuchlin, Lange, Scheurl, dan lainnya, memuji Melanchthon sebagai seseorang dengan talenta / kemampuan yang luar biasa dari pembelajaran dan kesalehan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 192.

 

David Schaff: “The friendship of these two great and good men is one of the most delightful chapters in the religious drama of the sixteenth century. It rested on mutual personal esteem and hearty German affection, but especially on the consciousness of a providential mission intrusted to their united labors. Although somewhat disturbed, at a later period, by slight doctrinal differences and occasional ill-humor, it lasted to the end; and as they worked together for the same cause, so they now rest under the same roof in the castle church at Wittenberg, at whose doors Luther had nailed the war-cry of the Reformation.” [= Persahabatan antara dua tokoh besar dan baik hati ini adalah salah satu bab paling menyenangkan dalam drama religius abad keenam belas. Persahabatan tersebut didasarkan pada rasa saling menghormati secara pribadi dan kasih sayang khas Jerman yang tulus, tetapi yang terpenting adalah kesadaran akan misi providensia yang dipercayakan kepada mereka untuk bekerja bersama. Meskipun sempat terganggu pada masa belakangan oleh perbedaan doktrinal yang kecil dan suasana hati yang kadang kurang baik, persahabatan ini bertahan hingga akhir; dan karena mereka bekerja bersama untuk tujuan yang sama, kini mereka beristirahat di bawah atap yang sama di gereja kastil di Wittenberg, di pintu-pintu mana Luther pernah memakukan seruan perang Reformasi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 192-193.

 

David Schaff: “Melanchthon descended from South Germany, Luther from North Germany; the one from the well-to-do middle classes of citizens and artisans, the other from the rough but sturdy peasantry. Melanchthon had a quiet, literary preparation for his work: Luther experienced much hardship and severe moral conflicts. The former passed to his Protestant conviction through the door of classical studies, the latter through the door of monastic asceticism; the one was fore-ordained to a professor’s chair, the other to the leadership of an army of conquest.” [= Melanchthon berasal dari Jerman Selatan, sementara Luther dari Jerman Utara; yang satu berasal dari kelas menengah yang makmur, terdiri dari warga dan pengrajin, sedangkan yang lainnya berasal dari kalangan petani yang keras namun kuat. Melanchthon memiliki persiapan yang tenang dan akademis untuk pekerjaannya: sementara Luther mengalami banyak kesukaran dan konflik moral yang berat. Melanchthon mencapai keyakinan Protestannya melalui pintu pembelajaran klasik, sedangkan Luther melalui pintu pertapaan biara; yang satu dipredestinasikan pada kursi profesor, yang lain untuk memimpin pasukan penaklukan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 193.

 

David Schaff: “Luther best understood and expressed the difference of temper and character; and it is one of his noble traits, that he did not allow it to interfere with the esteem and admiration for his younger friend and colleague. ‘I prefer the books of Master Philippus to my own,’ he wrote in 1529. ‘I am rough, boisterous, stormy, and altogether warlike. I am born to fight against innumerable monsters and devils. I must remove stumps and stones, cut away thistles and thorns, and clear the wild forests; but Master Philippus comes along softly and gently, sowing and watering with joy, according to the gifts which God has abundantly bestowed upon him.’” [= Luther sangat memahami dan mengungkapkan perbedaan watak dan karakter mereka; salah satu sifat mulianya adalah bahwa ia tidak membiarkan perbedaan ini mengganggu rasa hormat dan kekagumannya terhadap teman sekaligus rekan mudanya. ‘Aku lebih suka buku-buku Master Philippus daripada bukuku sendiri,’ tulisnya pada tahun 1529. ‘Aku kasar, ribut, penuh badai, dan sepenuhnya bersifat perang. Aku dilahirkan untuk melawan monster dan iblis yang tak terhitung jumlahnya. Aku harus menyingkirkan tunggul dan batu, menebang onak dan duri, dan membersihkan hutan belantara; tetapi Master Philippus datang dengan lembut dan tenang, menabur dan menyirami dengan sukacita, sesuai dengan karunia yang telah Allah berikan secara berlimpah-limpah kepadanya.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 193.

 

David Schaff: “Luther was incomparably the stronger man of the two, and differed from Melanchthon as the wild mountain torrent differs from the quiet stream of the meadow, or as the rushing tempest from the gentle breeze, or, to use a scriptural illustration, as the fiery Paul from the contemplative John. Luther was a man of war, Melanchthon a man of peace. Luther’s writings smell of powder; his words are battles; he overwhelms his opponents with a roaring cannonade of argument, eloquence, passion, and abuse. Melanchthon excels in moderation and amiability, and often exercised a happy restraint upon the unmeasured violence of his colleague.” [= Luther jauh lebih kuat dibandingkan Melanchthon, dan perbedaan mereka seperti aliran deras pegunungan yang liar dibandingkan dengan aliran tenang di padang rumput, atau seperti badai yang mengamuk dibandingkan dengan angin sepoi-sepoi yang lembut, atau, menggunakan ilustrasi Kitab Suci, Luther seperti Paulus yang berapi-api, sedangkan Melanchthon seperti Yohanes yang penuh pertimbangan. Luther adalah seorang pria perang, sementara Melanchthon adalah pria damai. Tulisan-tulisan Luther penuh dengan aroma bubuk mesiu; kata-katanya adalah pertempuran; ia menghancurkan lawan-lawannya dengan dentuman meriam argumen, kefasihan, gairah, dan cacian. Melanchthon unggul dalam moderasi dan keramahan, sering kali memberikan pengekangan yang bijaksana terhadap kekerasan yang tidak terkendali dari rekannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 194.

 

David Schaff: “Luther was a creative genius, and pioneer of new paths; Melanchthon, a profound scholar of untiring industry. The one was emphatically the man for the people, abounding in strong and clear sense, popular eloquence, natural wit, genial humor, intrepid courage, and straightforward honesty. The other was a quiet, considerate, systematic thinker; a man of order, method, and taste, and gained the literary circles for the cause of the Reformation. He is the principal founder of a Protestant theology, and the author of the Augsburg Confession, the chief symbol of the Lutheran Church. He very properly represented the evangelical cause in all the theological conferences with the Roman-Catholic party at Augsburg, Speier, Worms, Frankfort, Ratisbon, where Luther’s presence would only have increased the heat of controversy, and widened the breach. Luther was unyielding and uncompromising against Romanism and Zwinglianism: Melanchthon was always ready for compromise and peace, as far as his honest convictions would allow, and sincerely labored to restore the broken unity of the Church. He was even willing, as his qualified subscription to the Articles of Smalcald shows, to admit a certain supremacy of the Pope (jure humano), provided he would tolerate the free preaching of the gospel. But Popery and evangelical freedom will never agree.” [= Luther adalah seorang jenius kreatif dan pelopor jalur-jalur baru; sedangkan Melanchthon adalah sarjana mendalam dengan ketekunan yang tak kenal lelah. Luther dengan tegas adalah sosok untuk rakyat, penuh dengan akal sehat yang kuat dan jelas, kefasihan yang populer, kecerdasan alami, humor yang ramah, keberanian tanpa rasa takut, dan kejujuran yang apa adanya. Sementara itu, Melanchthon adalah pemikir yang tenang, bijaksana, dan sistematis; seorang yang teratur, metode, dan kemampuan menilai, yang memenangkan kalangan sastra bagi perjuangan Reformasi. Ia adalah pendiri utama theologia Protestan dan penulis Pengakuan Augsburg, simbol utama Gereja Lutheran. Melanchthon secara tepat mewakili perjuangan Injili dalam semua konferensi theologis dengan pihak Katolik Roma di Augsburg, Speyer, Worms, Frankfurt, dan Regensburg, di mana kehadiran Luther hanya akan meningkatkan intensitas perdebatan dan memperlebar jurang perpecahan. Luther tidak kenal kompromi terhadap Romanisme dan Zwinglianisme, sementara Melanchthon selalu siap berkompromi dan mencari perdamaian sejauh keyakinan jujurnya mengizinkan, dan dengan tulus berusaha memulihkan persatuan Gereja yang terpecah. Melanchthon bahkan bersedia, seperti yang ditunjukkan dalam persetujuan terbatasnya pada Artikel Smalcald, untuk mengakui supremasi tertentu dari Paus (jure humano), asalkan Paus bersedia mentoleransi pemberitaan Injil yang bebas. Namun, Kepausan dan kebebasan Injili tidak akan pernah bisa setuju / bersatu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 194-195.

 

David Schaff: “Luther was the boldest, the most heroic and commanding; Melanchthon, the most gentle, pious, and conscientious, of the Reformers. Melanchthon had a sensitive and irritable temperament, though under good control, and lacked courage; he felt, more keenly and painfully than any other, the tremendous responsibility of the great religious movement in which he was engaged. He would have made any personal sacrifice if he could have removed the confusion and divisions attendant upon it. On several occasions he showed, no doubt, too much timidity and weakness; but his concessions to the enemy, and his disposition to compromise for the sake of peace and unity, proceeded always from pure and conscientious motives.” [= Luther adalah yang paling berani, paling heroik, dan paling mendominasi di antara para Reformator; sedangkan Melanchthon adalah yang paling lembut, saleh, dan dibimbing oleh hati nurani. Melanchthon memiliki temperamen yang sensitif dan mudah terganggu, meskipun berada di bawah kendali yang baik, dan kurang memiliki keberanian; ia merasakan, lebih tajam dan menyakitkan dari pada yang lain, tanggung jawab luar biasa dari gerakan keagamaan besar dalam mana ia terlibat. Ia akan rela melakukan pengorbanan pribadi apapun jika bisa menghilangkan kebingungan dan perpecahan yang menyertai gerakan itu. Pada beberapa kesempatan, ia memang menunjukkan terlalu banyak rasa takut dan kelemahan, namun penyerahannya kepada musuh, serta kecenderungannya untuk berkompromi demi kedamaian dan persatuan, selalu didorong oleh motif yang murni dan berhati nurani.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 195.

Catatan: ‘concession’ =yielding without necessarily agreeing’ [= menyerah tanpa secara perlu menyetujui] - https://www.thefreedictionary.com/concede

 

David Schaff: “The two Wittenberg Reformers were brought together by the hand of Providence, to supply and complete each other, and by their united talents and energies to carry forward the German Reformation, which would have assumed a very different character if it had been exclusively left in the hands of either of them.” [= Dua Reformator Wittenberg ini dipertemukan oleh tangan / kuasa Providensia untuk saling melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain, serta melalui bakat dan energi mereka yang bersatu, memajukan Reformasi Jerman, yang akan memiliki karakter yang sangat berbeda jika diserahkan sepenuhnya ke tangan salah satu dari mereka saja.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 195.

 

David Schaff: “Without Luther the Reformation would never have taken hold of the common people: without Melanchthon it would never have succeeded among the scholars of Germany. Without Luther, Melanchthon would have become a second Erasmus, though with a profounder interest in religion; and the Reformation would have resulted in a liberal theological school, instead of giving birth to a Church. However much the humble and unostentatious labors and merits of Melanchthon are overshadowed by the more striking and brilliant deeds of the heroic Luther, they were, in their own way, quite as useful and indispensable. The ‘still small voice’ often made friends to Protestantism where the earthquake and thunder-storm produced only terror and convulsion.” [= Tanpa Luther, Reformasi tidak akan pernah mengakar di kalangan rakyat biasa; tanpa Melanchthon, Reformasi tidak akan berhasil di antara para sarjana Jerman. Tanpa Luther, Melanchthon akan menjadi Erasmus kedua, meskipun dengan minat yang lebih mendalam dalam agama, dan Reformasi hanya akan menghasilkan suatu sekolah theologia liberal, bukan melahirkan sebuah Gereja. Meskipun kerja keras yang rendah hati dan tanpa pamrih dari Melanchthon sering kali digelapkan / dikaburkan oleh tindakan-tindakan heroik Luther yang lebih menyolok dan brilian, kontribusi Melanchthon, dengan caranya sendiri, sama bermanfaat dan tidak tergantikan. Suara yang lembut sering kali memenangkan hati bagi Protestantisme di tempat gempa dan badai hanya menimbulkan ketakutan dan kekacauan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 195-196.

 

David Schaff: “Luther is greatest as a Reformer, Melanchthon as a Christian scholar. He represents in a rare degree the harmony of humanistic culture with biblical theology and piety. In this respect he surpassed all his contemporaries, even Erasmus and Reuchlin. He is, moreover, the connecting link between contending churches, and a forerunner of Christian union and catholicity which will ultimately heal the divisions and strifes of Christendom. To him applies the beatitude: ‘Blessed are the peacemakers; for they shall be called the children of God.’” [= Luther adalah yang terbesar sebagai seorang Reformator, sementara Melanchthon sebagai seorang sarjana Kristen. Melanchthon mewakili, dalam tingkat yang jarang, harmoni antara budaya humanistik dengan theologia Alkitabiah dan kesalehan. Dalam hal ini, ia melampaui semua orang-orang sezamannya, bahkan Erasmus dan Reuchlin. Selain itu, ia menjadi penghubung antara gereja-gereja yang berselisih, dan seorang pelopor persatuan dan keuniversalan Kristen yang pada akhirnya akan menyembuhkan perpecahan dan pertikaian di dalam dunia Kristen. Kepadanya berlaku ucapan bahagia: ‘Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 196.

 

David Schaff: “The friendship of Luther and Melanchthon drew into its charming circle also some other worthy and remarkable residents of Wittenberg, - Lucas Cranach the painter, who lent his art to the service of the Reformation; Justus Jonas, who came to Wittenberg in 1521 as professor and provost of the castle church, translated several writings of Luther and Melanchthon into German, and accompanied the former to Worms (1521), and on his last journey to Eisleben (1546); and Johann Bugenhagen, called Doctor Pomeranus, who moved from Pomerania to Wittenberg in 1521 as professor and preacher, and lent the Reformers most effective aid in translating the Bible, and organized the Reformation in several cities of North Germany and in Denmark.” [= Persahabatan antara Luther dan Melanchthon juga menarik ke dalam lingkaran mereka yang memikat beberapa penduduk Wittenberg lainnya yang berharga dan luar biasa - Lucas Cranach, seorang pelukis yang memberikan seni rupanya untuk melayani Reformasi; Justus Jonas, yang datang ke Wittenberg pada tahun 1521 sebagai profesor dan pejabat tertinggi dari gereja kastil, menerjemahkan beberapa tulisan Luther dan Melanchthon ke dalam bahasa Jerman, serta menemani Luther ke Worms (1521), dan dalam perjalanan terakhirnya ke Eisleben (1546); dan Johann Bugenhagen, yang dijuluki Doktor Pomeranus, yang pindah dari Pomerania ke Wittenberg pada tahun 1521 sebagai profesor dan pengkhotbah. Ia memberikan bantuan efektif kepada para Reformator dalam menerjemahkan Alkitab, serta mengorganisir Reformasi di beberapa kota di Jerman Utara dan di Denmark.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 196.

 

Philip Melanchthon’s Theology.

 

David Schaff: “§ 64. Melanchthon’s Theology. ... Melanchthon finished his ‘Theological Common-Places’ or Ground-Thoughts (Loci Communes or Loci Theologici), in April, 1521, and sent the proof-sheets to Luther on the Wartburg. They appeared for the first time before the Close of that year. This book marks an epoch in the history of theology. It grew out of exegetical lectures on the Epistle to the Romans, the Magna Charta of the evangelical system. It is an exposition of the leading doctrines of sin and grace, repentance and salvation. It is clear, fresh, thoroughly biblical, and practical. Its main object is to show that man cannot be saved by works of the law or by his own merits, but only by the free grace of God in Christ as revealed in the gospel. It presents the living soul of divinity, in striking contrast to the dry bones of degenerate scholasticism with its endless theses, antitheses, definitions, divisions, and subdivisions.” [= § 64. Theologia Melanchthon. Melanchthon menyelesaikan bukunya yang berjudul ‘Tempat-Tempat Umum Theologia’ atau ‘Pemikiran Dasar’ (Loci Communes atau Loci Theologici) pada bulan April 1521, dan mengirimkan bukti cetaknya kepada Luther di Wartburg. Buku ini pertama kali diterbitkan sebelum akhir tahun tersebut. Karya ini menandai suatu era baru dalam sejarah theologia. Buku ini muncul dari pelajaran-pelajaran exegesis tentang Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, yang dianggap sebagai Magna Charta dari sistim injili. Buku ini merupakan suatu exposisi tentang ajaran-ajaran utama mengenai dosa dan kasih karunia, pertobatan, dan keselamatan. Buku itu jelas, segar, sepenuhnya Alkitabiah, dan praktis. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan bahwa manusia tidak dapat diselamatkan oleh ketaatan terhadap hukum Taurat atau oleh jasanya sendiri, melainkan hanya oleh kasih karunia Allah yang dalam Kristus sebagaimana dinyatakan dalam Injil. Buku ini mempersembahkan inti dari kekristenan yang hidup / jiwa yang hidup dari keilahian, dengan kontras yang menyolok dengan tulang-tulang kering dari skolastik yang telah merosot / menjadi rusak, dengan tesis, antitesis, definisi, pembagian, dan subdivisi yang tak ada habisnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 368-369.

Catatan: tentang Magna Charta lihat di link ini: https://id.wikipedia.org/wiki/Magna_Carta

 

David Schaff: “1. He denied at first, with Luther and Augustin, all freedom of the human will in spiritual things. He even held the Stoic doctrine of the necessary occurrence of all actions, bad as well as good, including the adultery of David and the treason of Judas as well as the conversion of Paul. But on closer examination, and partly under the influence of Erasmus, he abandoned this stoic fatalism as a dangerous error, inconsistent with Christianity and morality. He taught instead a co-operation of the divine and human will in the work of conversion; thus anticipating Arminianism, and approaching the older semi-Pelagianism, but giving the initiative to divine grace. ‘God,’ he said in 1535, ‘is not the cause of sin, and does not will sin; but the will of the Devil and the will of man are the causes of sin.’ Human nature is radically, but not absolutely and hopelessly, corrupt; it can not without the aid of the Holy Spirit produce spiritual affections such as the fear and love of God, and true obedience; but it can accept or reject divine grace. God precedes, calls, moves, supports us; but we must follow, and not resist. Three causes concur in the conversion, - the word of God, the Holy Spirit, and the will of man. Melanchthon quotes from the Greek Fathers who lay great stress on human freedom, and he accepts Chrysostom’s sentence: ‘God draws the willing.’ He intimated this synergistic view in the eighteenth article of the altered Augsburg Confession, and in the German edition of the Apology of the Confession. But he continued to deny the meritoriousness of good works; and in the colloquy of Worms, 1557, he declined to condemn the doctrine of the slavery of the human will, because Luther had adhered to it to the end. He was willing to tolerate it as a theological opinion, although he himself had rejected it.” [= 1. Pada awalnya, ia, bersama Luther dan Agustinus, menyangkal kebebasan kehendak manusia dalam hal-hal rohani. Bahkan, ia mendukung doktrin Stoik tentang keharusan terjadinya semua tindakan, baik yang buruk maupun yang baik, termasuk perzinahan Daud dan pengkhianatan Yudas, maupun pertobatan Paulus. Namun, setelah pemeriksaan lebih mendalam, dan sebagian di bawah pengaruh Erasmus, ia meninggalkan fatalisme Stoik ini sebagai kesalahan berbahaya yang tidak sesuai dengan Kekristenan dan moralitas. Sebagai gantinya, ia mengajarkan suatu kerjasama antara kehendak ilahi dan kehendak manusia dalam pekerjaan pertobatan; dengan demikian, ia mendahului / mengantisipasi Arminianisme, dan mendekati semi-Pelagianisme yang lebih tua, tetapi tetap memberikan inisiatif kepada kasih karunia ilahi. Pada tahun 1535, ia berkata, ‘Allah bukanlah penyebab dosa, dan tidak menghendaki dosa; tetapi kehendak Iblis dan kehendak manusia adalah penyebab dosa.’ Ia berpendapat bahwa hakekat manusia pada dasarnya rusak, tetapi tidak secara mutlak dan tanpa harapan; hakekat manusia itu tidak bisa, tanpa bantuan Roh Kudus, menghasilkan perasaan-perasaan rohani seperti kasih dan takut kepada Allah serta ketaatan yang sejati; namun manusia dapat menerima atau menolak kasih karunia ilahi. Allah mendahului, memanggil, menggerakkan, dan mendukung kita; tetapi kita harus mengikuti dan tidak menolak. Ada tiga sebab yang bersamaan dalam pertobatan: firman Allah, Roh Kudus, dan kehendak manusia. Melanchthon mengutip dari para Bapa Yunani yang sangat menekankan kebebasan manusia, dan ia menerima pernyataan Chrysostom: ‘Allah menarik mereka yang bersedia.’ Ia mengisyaratkan pandangan sinergis ini dalam artikel kedelapan belas dari Pengakuan Augsburg yang telah diubah, dan dalam edisi Jerman dari ‘Apology of the Confession’. Namun, ia terus menyangkal adanya jasa dari pekerjaan baik; dan dalam pembicaraan formil di Worms tahun 1557, ia menolak untuk mengutuk doktrin perbudakan kehendak manusia, karena Luther tetap berpegang teguh pada pandangan itu hingga akhir hayatnya. Ia bersedia menoleransi pandangan ini sebagai opini theologis, meskipun ia sendiri telah menolaknya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 371-372.

 

Apakah pada masa tuanya Philip Melanchthon menjadi sesat?

 

ChatGPT:

 

Pada masa tuanya, Philip Melanchthon tidak dianggap secara resmi sebagai sesat oleh Gereja Protestan atau oleh teman-teman reformisnya, meskipun beberapa pandangannya yang moderat dan upayanya untuk mencari kompromi dengan Gereja Katolik Roma telah menimbulkan kritik dan perdebatan. Melanchthon adalah seorang teolog penting dalam Reformasi, terutama sebagai kolaborator dekat Martin Luther, dan memiliki kontribusi besar dalam pengembangan doktrin Protestan, termasuk perumusan Augsburg Confession pada 1530.

Namun, seiring berjalannya waktu, Melanchthon menunjukkan kecenderungan yang lebih moderat daripada Luther dalam beberapa isu teologis dan eklesiastikal. Dia berusaha mencari jalan tengah antara Lutheranisme dan Katolik, serta dengan kelompok Protestan lainnya, seperti kaum Zwinglian dan Calvinis. Upayanya untuk mencapai rekonsiliasi, terutama dalam isu Interim Augsburg (1548), di mana ia menyarankan kompromi dengan otoritas Katolik, membuatnya mendapat kritik dari kalangan Lutheran yang lebih keras. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai ‘semi-Katolik’ atau ‘pengkhianat’ karena sikapnya yang dianggap terlalu kompromistis.

Namun, meskipun dia dianggap terlalu lunak oleh beberapa kalangan, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Melanchthon secara teologis menjadi sesat dalam pengertian resmi. Ia tetap setia pada prinsip-prinsip dasar Reformasi, meskipun pendekatannya lebih irenik (damai) dan terbuka terhadap negosiasi dengan kelompok lain.

 

 

Mengapa gereja Lutheran mengikuti pandangan Philip Melanchthon dan bukannya pandangan Martin Luther?

 

ChatGPT:

 

Gereja Lutheran di beberapa wilayah mengikuti pandangan Philip Melanchthon, meskipun Martin Luther memiliki pengaruh besar dalam Reformasi. Hal ini terjadi karena beberapa alasan historis, teologis, dan politik. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pandangan Melanchthon diadopsi oleh sebagian gereja Lutheran:

1. Melanchthon sebagai Penerus Luther

Setelah kematian Martin Luther pada tahun 1546, Philip Melanchthon menjadi tokoh utama di kalangan reformis Lutheran. Melanchthon memiliki reputasi sebagai cendekiawan dan teolog yang sangat dihormati, serta memiliki kemampuan diplomasi dan fleksibilitas yang lebih besar dibanding Luther. Ia memimpin Reformasi di Jerman pada saat-saat genting setelah Luther meninggal, yang membuat pengaruhnya semakin besar.

2. Pendekatan Moderat dan Irenik (damai)

Melanchthon dikenal karena pendekatannya yang lebih moderat dan damai, terutama dalam upayanya untuk menjembatani perbedaan antara Lutheran, Calvinis, dan Gereja Katolik. Dia berusaha mencari kompromi untuk menjaga persatuan Kristen, seperti yang terlihat dalam Augsburg Interim (1548) dan Leipzig Interim (1548-1549), di mana Melanchthon mencoba untuk mencapai kesepakatan dengan Kekaisaran Romawi Suci. Walaupun banyak Lutherans yang menolak kompromi ini, pandangan moderat Melanchthon dianggap oleh beberapa gereja sebagai jalan yang lebih pragmatis dalam menghadapi tekanan politik dan agama saat itu.

3. Formulasi Teologis yang Lebih Sistematis

Sementara Luther terkenal karena gaya teologinya yang sering bersifat provokatif dan emosional, Melanchthon lebih dikenal dengan pendekatan teologis yang sistematis dan logis. Karya-karya teologi Melanchthon, seperti Loci Communes (1521), membantu membentuk kerangka dasar dari teologi Lutheran. Pandangannya, yang lebih terstruktur, membuatnya lebih mudah diterima oleh teolog dan gereja-gereja yang membutuhkan sistem teologi yang dapat diterapkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari dan dalam tata gereja.

4. Pengaruh dalam Pendidikan dan Universitas

Melanchthon memiliki peran besar dalam pembentukan sistem pendidikan Protestan, terutama di Jerman. Sebagai reformator yang fokus pada pendidikan, dia mendirikan dan mengembangkan banyak sekolah dan universitas yang mendidik generasi baru pendeta dan intelektual Lutheran. Pengaruhnya di dunia akademik memastikan bahwa pemikirannya tentang teologi, etika, dan gereja dipelajari dan diterapkan secara luas di gereja-gereja Lutheran.

5. Fleksibilitas dalam Interpretasi Sakramen

Luther sangat teguh pada beberapa aspek teologi, terutama dalam masalah Ekaristi (Perjamuan Kudus), di mana dia mempertahankan real presence Kristus dalam roti dan anggur, yang sering bertentangan dengan pandangan reformator lainnya, seperti Zwingli. Melanchthon, meskipun tidak menolak posisi Luther sepenuhnya, cenderung lebih fleksibel dalam menafsirkan isu-isu ini dan lebih terbuka terhadap dialog dengan pandangan reformis lainnya. Fleksibilitas ini membuat ajaran Melanchthon lebih mudah diterima oleh kelompok Lutheran yang ingin menghindari perpecahan internal atau konflik dengan denominasi lain.

6. Reaksi Terhadap Ketegasan Luther yang Kadang Kontroversial

Luther, meskipun dihormati, sering kali keras dan tegas dalam pandangannya, terutama terhadap perbedaan teologi dengan kelompok lain seperti kaum Calvinis, Zwinglian, dan Katolik. Sikap konfrontatif Luther kadang membuat hubungan antar-denominasi sulit. Sebaliknya, Melanchthon lebih diplomatis dan hati-hati, serta bersedia terlibat dalam dialog dengan berbagai kelompok. Pandangan ini memungkinkan gereja Lutheran untuk beradaptasi dengan situasi politik dan sosial yang berubah, dan untuk membangun hubungan dengan kelompok Kristen lainnya.

7. Confessio Augustana dan Pengaruh Melanchthon

Confessio Augustana (Pengakuan Iman Augsburg) tahun 1530, yang dirumuskan oleh Melanchthon, menjadi dokumen kunci dalam identitas Gereja Lutheran. Meskipun Confessio Augustana disetujui oleh Luther, penulis utamanya adalah Melanchthon, dan teks ini mencerminkan pandangan moderat Melanchthon yang dapat diterima oleh banyak gereja Lutheran di Eropa. Confessio Augustana tetap menjadi dasar teologis gereja Lutheran hingga hari ini.

Kesimpulan

Meskipun pandangan Luther sangat dihormati, pandangan Melanchthon yang lebih moderat, diplomatis, dan sistematis menawarkan jalan yang lebih mudah diterima oleh gereja-gereja Lutheran dalam konteks politik dan agama yang kompleks di Eropa pada abad ke-16. Fleksibilitas teologi Melanchthon serta pengaruhnya dalam pendidikan, universitas, dan sistem gereja membantu memperkuat pandangannya dalam gereja Lutheran.

 

11)Ulrich von Hutten and Martin Luther.

 

David Schaff: “While Luther acquired in Melanchthon, the head of the Christian and theological wing of the humanists, a permanent and invaluable ally, he received also temporary aid and comfort from the pagan and political wing of the humanists, and its ablest leader, Ulrich von Hutten. ... He vigorously attacked the abuses and corruptions of the Church, in Latin and German pamphlets, in poetry and prose, with all the weapons of learning, common-sense, wit, and satire. He was, next to Luther, the boldest and most effective polemical writer of that period, and was called the German Demosthenes on account of his philippics against Rome. His Latin is better than Luther’s, but his German far inferior. In wit and power of ridicule he resembles Lucian; at times he reminds one of Voltaire and Heine. He had a burning love of German liberty and independence. This was his chief motive for attacking Rome. He laid the axe at the root of the tree of tyranny. ... He republished in 1518 the tract of Laurentius Valla on the Donation of Constantine, with an embarrassing dedication to Pope Leo X., and exposed on German soil that gigantic fraud on which the temporal power of the papacy over all Christian Europe was made to rest. But his chief and most violent manifesto against Rome is a dialogue which he published under the name ‘Vadiscus, or the Roman Trinity,’ in April, 1520, a few months before Luther’s ‘Address to the German Nobility’ (July) and his ‘Babylonian Captivity’ (October). He here groups his experiences in Rome under several triads of what abounds in Rome, of what is lacking in Rome, of what is forbidden in Rome, of what one brings home from Rome, etc. ... Hutten calls the Roman court a sink of iniquity, and says that for centuries no genuine successor of Peter had sat on his chair in Rome, but successors and imitators of Simon Magus, Nero, Domitian, and Heliogabalus. As a remedy for these evils, he advises, not indeed the abolition of the papacy, but the withdrawal of all financial support from Germany, a reduction of the clerical force, and the permission of clerical marriage; by these means, luxury and immorality would at least be checked. ... He knew little of, and cared less for, doctrinal differences. His policy was to fight the big Pope of Rome with the little Pope of Germany, and to make the German emperor, princes, and nobles, his allies in shaking off the degrading yoke of foreign tyranny. Possibly Albrecht may have indulged in the dream of becoming the primate of an independent Catholic Church of Germany. Unfortunately, Hutten lacked moral purity, depth, and weight. He was Frank, brave, and bold, but full of conceit, a restless adventurer, and wild stormer; able to destroy, but unable to build up. ... After the Leipzig disputation, he offered to Luther (first through Melanchthon) the aid of his pen and sword, and, in the name of his noble friend the Knight Franz von Sickingen, a safe retreat at Ebernburg near Kreuznach, where Martin Bucer, Johann Oecolampadius, and other fugitives from convents, and sympathizers with reform, found a hospitable home. He sent him his books with notes, that he might republish them. But Luther was cautious. He availed himself of the literary and political sympathy, but only as far as his theological and religious position allowed. He respected Reuchlin, Erasmus, Crotus, Mutian, Pirkheimer, Hutten, and the other humanists, for their learning and opposition to monkery and priestcraft; be fully shared the patriotic indignation against Romish tyranny: but he missed in them moral earnestness, religious depth, and that enthusiasm for the pure gospel which was his controlling passion. He aimed at reformation, they at illumination. ... He deprecated, moreover, the resort to physical force in a spiritual warfare, and relied on the power of the Word of God, which had founded the Church, and which must reform the Church. His letters to Hutten are lost, but he wrote to Spalatin (Jan. 16, 1521): ‘You see what Hutten wants. I would not have the gospel defended by violence and murder. In this sense I wrote to him. By the Word the world was conquered; by the Word the Church was preserved; by the Word she will be restored. Antichrist, as he began without violence, will be crushed without violence, by the Word.’ Hutten was impatient. He urged matters to a crisis. Sickingen attacked the Archbishop and Elector of Trier (Treves) to force the Reformation into his territory; but he was defeated, and died of his wounds in the hands of his enemies, May 7, 1522. Within one month all his castles were captured and mostly burnt by the allied princes; two of his sons were banished, a third was made prisoner. Luther saw in this disaster a judgment of God, and was confirmed in his aversion to the use of force. Hutten fled, a poor and sick exile, from Germany to Basel, and hoped to find a hospitable reception by Erasmus, his former friend and admirer; but he was coldly refused by the cautious scholar, and took bitter revenge in an unsparing attack on his character. He then went to Zuerich, and was kindly and generously treated by Zwingli, who provided him with books and money, and sent him first to the hot bath of Pfeffers, and then to a quiet retreat on the island of Ufnau in the Lake of Zuerich, under medical care. But he soon died there, of the incurable disease of his youth, in August, 1523, in the Prime of life (thirty-five years and four months of age), leaving nothing but his pen and sword, and the lesson: ‘Not by might, nor by power, but by my Spirit, saith the Lord of hosts’ (Zech. 4:6). With Hutten and Sickingen the hope of a political reconstruction of Germany through means of the Reformation and physical force was destroyed. What the knights failed to accomplish, the peasants could still less secure by the general revolt two years later. But notwithstanding these checks, the Reformation was bound to succeed with spiritual weapons.” [= Pada awalnya, Luther memperoleh sekutu yang tak ternilai dalam diri Melanchthon, yang memimpin sayap Kristen dan theologis kaum humanis. Namun, ia juga mendapat bantuan sementara dari sayap pagan dan politik kaum humanis, dipimpin oleh Ulrich von Hutten. Hutten dengan gigih menyerang penyalahgunaan dan korupsi dalam Gereja, baik dalam pamflet berbahasa Latin maupun Jerman, dalam bentuk puisi dan prosa, menggunakan semua senjata ilmu pengetahuan, akal sehat, kecerdasan, dan satire (ejekan / sarkasme). Setelah Luther, Hutten adalah penulis polemik paling berani dan efektif pada masanya, dan dijuluki Demosthenes Jerman karena serangan-serangannya terhadap Roma. Meskipun bahasa Latin Hutten lebih baik dari pada Luther, bahasa Jermannya jauh lebih lemah. Dalam kecerdasan dan kemampuan mengejek, ia menyerupai Lucian; kadang-kadang ia mengingatkan kita pada Voltaire dan Heine. Hutten memiliki cinta yang membara terhadap kebebasan dan kemerdekaan Jerman. Ini adalah alasan utamanya dalam menyerang Roma. Ia mengarahkan serangannya pada akar tirani ... Ia menerbitkan kembali risalah Laurentius Valla tentang Donasi Konstantinus pada tahun 1518, dengan dedikasi yang mempermalukan / membingungkan kepada Paus Leo X, dan mengekspos di tanah Jerman penipuan besar yang menjadi dasar kekuasaan temporal kepausan atas seluruh Eropa Kristen. Tetapi pernyataan umumnya yang utama dan yang paling keras terhadap Roma adalah sebuah dialog yang ia terbitkan pada April 1520, beberapa bulan sebelum Luther menerbitkan ‘Panggilan kepada Bangsawan Jerman’ (Juli) dan ‘Penawanan Babel’ (Oktober). Dalam dialog ini, Hutten mengelompokkan pengalamannya di Roma dalam beberapa triad yang menggambarkan apa yang melimpah di Roma, apa yang kurang di Roma, apa yang dilarang di Roma, dan apa yang dibawa pulang dari Roma, dll. ... Ia menyebut pengadilan Roma sebagai ‘suatu tempat dari kejahatan’ dan mengatakan bahwa selama berabad-abad tidak ada penerus sejati Petrus yang duduk di kursi Roma, melainkan penerus dan peniru Simon Magus, Nero, Domitian, dan Heliogabalus. Sebagai solusi atas kejahatan-kejahatan ini, Hutten tidak menyarankan penghapusan kepausan, melainkan menghentikan semua dukungan finansial dari Jerman, mengurangi kekuatan / kuasa klerus, dan mengizinkan pernikahan para imam; dengan cara ini, setidaknya kemewahan dan amoralitas dapat dikendalikan. ... Namun, Hutten tidak tahu banyak dan lebih-lebih tidak tertarik pada perbedaan doktrinal. Kebijakannya adalah melawan Paus besar dari Roma dengan Paus kecil dari Jerman, serta menjadikan kaisar, pangeran, dan bangsawan Jerman sebagai sekutunya untuk melepaskan diri dari kuk penindasan asing yang merendahkan. Mungkin Albrecht pernah bermimpi menjadi pemimpin utama Gereja Katolik Jerman yang independen. Sayangnya, Hutten kurang memiliki kemurnian moral, kedalaman, dan kekuatan. Ia adalah sosok yang jujur, berani, dan penuh semangat, tetapi juga penuh kesombongan, petualang yang gelisah, dan pencetus badai yang liar; mampu menghancurkan, tetapi tidak mampu membangun. ... Setelah debat di Leipzig, dia menawarkan kepada Luther (pertama melalui Melanchthon) bantuan pena dan pedangnya, dan, atas nama temannya yang terhormat, Ksatria Franz von Sickingen, perlindungan yang aman di Ebernburg dekat Kreuznach, di mana Martin Bucer, Johann Oecolampadius, dan pelarian lainnya dari biara serta para pendukung reformasi, menemukan tempat tinggal yang ramah. Dia mengirimkan buku-bukunya beserta catatan agar Luther bisa menerbitkannya kembali. Namun, Luther berhati-hati. Dia memanfaatkan dukungan literatur dan politik hanya sejauh posisi theologis dan religiusnya mengizinkan. Dia menghormati Reuchlin, Erasmus, Crotus, Mutian, Pirkheimer, Hutten, dan kaum humanis lainnya karena pengetahuan mereka serta perlawanan terhadap kebiaraan dan kekuasaan para imam; dia sepenuhnya berbagi kemarahan patriotik terhadap tirani Roma; tetapi dia merasa mereka kurang memiliki kesungguhan moral, kedalaman religius, dan antusiasme terhadap Injil yang murni, yang merupakan hasrat utamanya. Tujuannya adalah reformasi, sementara mereka hanya menginginkan pencerahan. ... Selain itu, dia menentang penggunaan kekuatan fisik dalam peperangan rohani, dan lebih mengandalkan kekuatan Firman Allah, yang telah mendirikan Gereja dan yang harus mereformasi Gereja. Surat-suratnya kepada Hutten hilang, tetapi dia menulis kepada Spalatin (16 Januari 1521): ‘Kamu lihat apa yang diinginkan Hutten. Aku tidak ingin Injil dibela dengan kekerasan dan pembunuhan. Dalam pengertian ini aku menulis kepadanya. Dunia ditaklukkan oleh Firman; Gereja dipelihara oleh Firman; dan dengan Firman, Gereja akan dipulihkan. Antikristus, seperti saat ia memulai tanpa kekerasan, akan dihancurkan tanpa kekerasan, oleh Firman.’ Hutten tidak sabar. Dia mendorong situasi hingga mencapai krisis. Sickingen menyerang Uskup Agung dan Elektor Trier (Treves) untuk memaksakan Reformasi ke wilayahnya; tetapi dia dikalahkan dan meninggal karena luka-lukanya di tangan musuhnya pada 7 Mei 1522. Dalam waktu satu bulan, semua kastilnya ditaklukkan dan sebagian besar dibakar oleh para pangeran sekutu; dua putranya diasingkan, dan seorang lagi ditangkap. Luther melihat bencana ini sebagai penghakiman dari Allah dan semakin teguh dalam penolakannya terhadap penggunaan kekerasan. Hutten melarikan diri sebagai seorang pengasingan yang miskin dan sakit dari Jerman ke Basel, dan berharap mendapatkan sambutan ramah dari Erasmus, mantan teman dan pengagumnya; tetapi dia ditolak dengan dingin oleh sarjana yang berhati-hati itu, dan kemudian membalasnya dengan penuh kepahitan melalui serangan tajam terhadap karakter Erasmus. Dia kemudian pergi ke Zürich dan diperlakukan dengan baik serta penuh kemurahan hati oleh Zwingli, yang memberinya buku dan uang, serta mengirimnya terlebih dahulu ke pemandian air panas di Pfeffers, lalu ke tempat peristirahatan yang tenang di pulau Ufnau di Danau Zürich, di bawah perawatan medis. Namun, dia segera meninggal di sana, akibat penyakit yang tidak dapat disembuhkan sejak masa mudanya, pada bulan Agustus 1523, di puncak kehidupannya (usia tiga puluh lima tahun dan empat bulan), meninggalkan hanya pena dan pedangnya, serta sebuah pelajaran: ‘Bukan dengan kekuatan, bukan dengan kuasa, melainkan dengan RohKu, firman Tuhan semesta alam’ (Zakh 4:6). Dengan kematian Hutten dan Sickingen, harapan untuk membangun kembali Jerman secara politik melalui Reformasi dan kekuatan fisik pun hancur. Apa yang gagal dicapai oleh para ksatria, para petani bahkan lebih tidak mampu mencapainya melalui pemberontakan besar dua tahun kemudian. Namun, terlepas dari kegagalan ini, Reformasi tetap ditakdirkan untuk berhasil dengan senjata rohani.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 197-202.

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin