Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Jumat, tanggal 30 April 2010, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

http://www.golgothaministry.org

 

 

Markus 16:1-20(3)

 

Mark 16:1-8a - “(1) Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. (2) Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. (3) Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?’ (4) Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. (5) Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut, (6) tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: ‘Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. (7) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu.’ (8a) Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut”.

 

c)   Ayat ini memberikan bukti tentang kebangkitan Yesus yaitu kubur yang kosong.

 

1.   Ay 5-6 kelihatannya menunjukkan bahwa mereka masuk ke kubur ke tempat dimana mayat Yesus diletakkan, dan melihat kubur yang kosong.

Pulpit Commentary: “This seem to imply that the women actually entered the inner chamber, and saw the very place where the Lord lay. Who does not see here how irrefragable is the evidence of his resurrection?” (= Ini kelihatannya menunjukkan bahwa para perempuan itu betul-betul masuk ke bagian dalam, dan melihat tempat dimana Tuhan berbaring. Siapa yang tidak melihat di sini betapa tak terbantahnya bukti kebangkitanNya?) - hal 347.

Catatan: sebetulnya kata-kata bagian akhir dari kata-kata Pulpit Commentary ini kurang tepat. Sekedar kubur kosong tak membuktikan apa-apa. Ini akan saya jelaskan pada point 3. di bawah.

 

2.      Fakta tentang kubur yang kosong ini justru dikuatkan oleh cerita dusta dalam Mat 28:11-15, karena kalau tak ada kubur kosong, justru tak akan muncul cerita seperti itu.

Mat 28:11-15 - “(11) Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. (12) Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu (13) dan berkata: ‘Kamu harus mengatakan, bahwa murid-muridNya datang malam-malam dan mencuriNya ketika kamu sedang tidur. (14) Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.’ (15) Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini”.

 

Cerita ini jelas merupakan cerita dusta, karena kalau para tentara / penjaga itu sedang tidur, bagaimana mereka tahu kalau murid-murid Yesus yang mencuri mayat Yesus. Tetapi dusta ini tidak akan dibutuhkan oleh para tokoh Yahudi seandainya mayat Yesus tidak lenyap / kubur itu tidak kosong.

 

William L. Lane (NICNT): “The story of the theft of the body ... simply confirms that the tomb was in fact empty” (= Cerita tentang pencurian mayat ... hanya meneguhkan bahwa kubur itu dalam faktanya kosong) - hal 588.

 

Jewish New Testament Commentary: “An atheistic lawyer named Frank Morison investigated Yeshua’s resurrection, intending to write a book disproving it. Instead, the evidence convinced him that it had happened. After coming to faith in God and his Messiah he wrote ‘Who Moved The Stone?’ (London: Faber & Faber, 1958), proving that Yeshua’s resurrection actually took place” [= Seorang pengacara atheis bernama Frank Morison menyelidiki kebangkitan Yesus, bermaksud untuk menulis sebuah buku untuk membantahnya. Sebaliknya, buktinya meyakinkan dia bahwa hal itu memang telah terjadi. Setelah datang pada iman kepada Allah dan Mesias / KristusNya, ia menulis ‘Siapa yang memindahkan batu?’ (London: Faber & Faber, 1958), membuktikan bahwa kebangkitan Yesus betul-betul telah terjadi].

 

3.      Fakta tentang kubur yang kosong itu sebenarnya tidak membuktikan apa-apa, seandainya tidak ada Firman Tuhan yang menjelaskan fakta itu.

 

Pulpit Commentary: “In this passage there is no direct narrative of the Savior’s resurrection. The evangelist probably tells what, and only what, he had heard from credible and well-known witnesses. There were no such witnesses to the act of the Lord’s emergence from the tomb. But the Marys and Salome had stated what they had seen and heard. They declared that, although they went early to the sepulcher, they found it both open and empty. They related their interview with the young man, the angel, who informed them that Jesus had risen” (= Dalam text ini tidak ada cerita langsung tentang kebangkitan sang Juruselamat. Sang penginjil mungkin menceritakan apa, dan hanya apa, yang telah ia dengar dari saksi-saksi yang dapat dipercaya dan dikenal dengan baik. Tidak ada saksi berkenaan dengan tindakan Tuhan yang muncul / keluar dari kubur. Tetapi Maria-Maria itu dan Salome telah menyatakan apa yang telah mereka lihat dan dengar. Mereka menyatakan bahwa, sekalipun mereka pergi pagi-pagi ke kubur, mereka mendapatinya terbuka dan kosong. Mereka menghubungkan pembicaraan mereka dengan orang muda, sang malaikat, yang memberi informasi kepada mereka bahwa Yesus telah bangkit) - hal 349.

 

William L. Lane (NICNT): “The action of God is not always self-evident. For this reason it is invariably accompanied by the word of revelation, interpreting the significance of an event ... The emptiness of the tomb possessed no factual value in itself. It simply raised the question, What happened to the body? God, therefore, sent his messenger to disclose the fact of the resurrection. The announcement of the angel is the crystallization point for faith” (= Tindakan Allah tidak selalu jelas dari dirinya sendiri. Untuk alasan ini tindakan Allah ini selalu disertai dengan firman yang diwahyukan, yang menafsirkan arti dari suatu peristiwa. ... Kekosongan dari kubur sebetulnya tidak mempunyai nilai dalam dirinya sendiri. Itu hanya menimbulkan pertanyaan: Apa yang terjadi dengan tubuh / mayat itu? Karena itu, Allah mengutus utusanNya untuk menyingkapkan fakta tentang kebangkitan) - hal 587.

 

William L. Lane (NICNT): “In the Gospel of Mark, however, the certainty of the resurrection rests solely upon the word of revelation. The empty tomb possessed no evidential value apart from this norm of interpretation (= Bagaimanapun dalam Injil Markus kepastian tentang kebangkitan bersandar semata-mata pada firman yang diwahyukan. Kubur yang kosong itu tidak mempunyai nilai yang jelas terpisah dari norma penafsiran ini) - hal 588-589.

 

Sebetulnya bukan hanya Firman Tuhan yang diberitakan malaikat yang menyebabkan para perempuan itu percaya, tetapi juga nubuat / Firman Tuhan yang telah mereka dengar dari Yesus sebelumnya.

Luk 24:5-8 - “(5) Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? (6) Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakanNya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, (7) yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.’ (8) Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.

 

Calvin (tentang Luk 24:8): “‘And they remembered his words;’ by which we are taught that, though they had made little proficiency in the doctrine of Christ, still it was not lost, but was choked up, until in due time it yielded fruit (= ‘Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu’; dengan mana kita diajar bahwa, sekalipun mereka telah membuat sedikit keahlian / kemajuan dalam doktrin / ajaran Kristus, tetap hal itu tidak hilang, tetapi tercekik, sampai pada waktunya ajaran itu mengeluarkan buah).

 

Bdk. Luk 24:12 - “Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi”.

Petrus melihat kubur yang kosong, tetapi ‘ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi’. Jelas bahwa kubur kosong itu sendiri, terpisah dari Firman Tuhan, baik yang mereka dengar sebelum, atau sesudah saat itu, tak membuktikan apa-apa.

 

Tetapi bagaimana mengharmoniskan Luk 24:12 ini dengan Yoh 20:3-9 - “(3) Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. (4) Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. (5) Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. (6) Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, (7) sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. (8) Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (9) Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati”.

 

Mungkin harus diartikan bahwa hanya Yohanes yang membandingkan fakta tentang kubur kosong itu dengan apa yang sebelumnya telah ia dengar dari Yesus bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. Ini menyebabkan ia percaya. Tetapi kata-kata ini tidak berlaku untuk Petrus, mungkin karena ia tidak membandingkan kubur kosong itu dengan Firman Tuhan yang sudah pernah ia dengar dari Yesus.

 

Ini juga berlaku untuk kelahiran, kematian, kenaikan Yesus ke surga. Kalau cuma ada peristiwanya tanpa penjelasan Firman Tuhan, maka kita tidak akan mengerti apa gunanya semua itu. Ini semua makin menunjukkan pentingnya Firman Tuhan. Karena itu rajinlah belajar Firman Tuhan.

 

4.      Kitab Suci tidak pernah menceritakan adanya siapapun yang melihat saat Yesus yang mati itu bangkit.

Pulpit Commentary: “In this passage there is no direct narrative of the Saviour’s resurrection. ... There were no such witnesses to the act of the Lord’s emergence from the tomb (= dalam text ini tidak ada cerita langsung tentang kebangkitan Sang Juruselamat. ...  Di sana tidak ada saksi terhadap tindakan Tuhan yang muncul / keluar dari kubur) - hal 349.

 

Calvin: “though he manifested his resurrection in a different manner from what the sense of our flesh would have desired, still the method of which he approved ought to be regarded by us also as the best. He went out of the grave without a witness, that the emptiness of the place might be the earliest indication (= sekalipun Ia menyatakan kebangkitanNya dengan cara yang berbeda dari apa yang diinginkan oleh daging kita, tetap metode / cara yang Ia restui / setujui harus kita anggap juga sebagai yang terbaik. Ia keluar dari kubur tanpa saksi, supaya kekosongan tempat itu bisa menjadi petunjuk yang paling awal) - hal 338.

 

Bdk. Yes 55:8-9 - “(8) Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. (9) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu”.

 

5.      Pada kelahiran Yesus (Luk 2:9-14), kebangkitan Yesus (Mark 16:5-7), dan kenaikan Yesus ke surga (Kis 1:10-11), ada malaikat yang memberikan penjelasan / Firman Tuhan tentang peristiwa itu. Tetapi mengapa pada saat kematian Yesus, tidak ada malaikat yang muncul untuk memberitakan Firman Tuhan untuk menjelaskan peristiwa itu? Mungkin untuk menunjukkan bahwa Allah tidak membutuhkan mujijat (malaikat) untuk memberitakan Firman Tuhan untuk menjelaskan suatu peristiwa. Banyak bagian Kitab Suci / Firman Tuhan yang menjelaskan tentang makna / tujuan kematian Yesus, dan itu cukup. Kita hanya diberi Firman Tuhan dalam hal itu, dan kita harus puas dengan itu!

Ini lagi-lagi menekankan pentingnya kita belajar Firman Tuhan!

 

6.      Kata ‘bangkit’ dalam ay 6 dalam bahasa Yunani ada dalam bentuk aorist pasif (lampau, pasif). Karena itu seharusnya diterjemahkan ‘He was risen’ (= Ia telah dibangkitkan).

Memang dalam banyak ayat Kitab Suci dikatakan bahwa Yesus dibangkitkan (oleh Bapa), tetapi perlu diingat bahwa Yesus adalah Allah dan manusia. Sebagai manusia Ia dibangkitkan, tetapi sebagai Allah, Ia bangkit sendiri / membangkitkan diriNya sendiri. Dan ini didukung oleh beberapa ayat di bawah ini:

a.   Yoh 10:17-18 - “(17) Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. (18) Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.’”.

b.   Yoh 2:19-22 - “(19) Jawab Yesus kepada mereka: ‘Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.’ (20) Lalu kata orang Yahudi kepadaNya: ‘Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?’ (21) Tetapi yang dimaksudkanNya dengan Bait Allah ialah tubuhNya sendiri. (22) Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-muridNya bahwa hal itu telah dikatakanNya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus”.

 

7.            Kebangkitan Yesus merupakan sesuatu yang mutlak penting.

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Jesus Christ was ‘delivered for our offenses, and was raised again for our justification’ (Rom 4:25). A dead Saviour cannot save anybody. The resurrection of Jesus Christ from the dead is as much a part of the Gospel message as His sacrificial death on the cross (1 Cor 15:1-8). In fact, in the Book of Acts, the church gave witness primarily to the Resurrection (Acts 1:22; 4:2,33). The Resurrection proves that Jesus Christ is what He claimed to be, the very Son of God (Rom 1:4)” [= Yesus Kristus ‘telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita’ (Ro 4:25). Seorang Juruselamat yang mati tidak bisa menyelamatkan siapapun juga. Kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati sama-sama merupakan bagian dari berita Injil seperti kematianNya yang bersifat pengorbanan di kayu salib (1Kor 15:1-8). Dalam faktanya, dalam kitab Kisah Rasul, gereja memberi kesaksian terutama pada Kebangkitan (Kis 1:22; 4:2,33). Kebangkitan membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah apa yang Ia claim, Anak Allah (Ro 1:4)].

Kis 1:22 - “yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitanNya.’”.

Kis 4:2,33 - “(2) Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. ... (33) Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah”.

 

Bagian yang saya garis-bawahi dari kutipan di atas perlu dijelaskan. Memang kalau dilihat dari khotbah / penginjilan yang dilakukan oleh Petrus maupun Paulus (bdk. Kis 2:14-36  Kis 13:16-41), sekalipun mereka memberitakan baik kematian maupun kebangkitan Yesus, tetapi lebih banyak waktu mereka berikan pada kebangkitanNya. Petrus hanya berbicara singkat tentang kematian Kristus (hanya 1 ayat, yaitu Kis 2:23), tetapi nanti ia berbicara banyak tentang kebangkitan Yesus (Kis 2:24-32). Paulus hanya menggunakan 3 ayat untuk membicarakan kematian Yesus (Kis 13:27-29), tetapi lalu menggunakan banyak ayat untuk berbicara tentang kebangkitan Kristus (Kis 13:30-37). Ini menunjukkan bahwa mereka lebih menekankan kebangkitanNya dalam pemberitaan Injil yang mereka lakukan.

 

Hal ini berbeda dengan penginjilan jaman sekarang yang lebih menekankan salib / kematian Kristus dari pada kebangkitanNya, karena memang sebetulnya inti dari Injil adalah salib / kematian Kristus, bukan kebangkitanNya.

 

John Stott: “although Christ’s saving career is one, it is principally by His death that men may be saved. We read in 1 Cor. 15:3ff. ... that ‘Christ died for our sins’, not that ‘Christ rose for our sins’. ... His resurrection did not in itself accomplish our salvation, but rather gave public evidence of its accomplishment by Christ’s death, with which the Father was well pleased. ... That is why ‘we preach Christ crucified’ is the heart of the gospel. ... the emphasis in the New Testament kerygma is on the Saviour’s atoning death for the sins of the world” (= Sekalipun karir keselamatan Kristus adalah satu, secara terutama adalah melalui kematianNya manusia bisa diselamatkan. Kita membaca dalam 1Kor 15:3-dst. ... bahwa ‘Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita’, bukan bahwa ‘Kristus telah bangkit karena dosa-dosa kita’. ... KebangkitanNya sendiri tidak mengerjakan keselamatan kita, tetapi memberikan bukti tentang penyelesaian / pengerjaannya oleh kematian Kristus, dengan mana Bapa diperkenan. ... Itu sebabnya kata-kata ‘kami memberitakan Kristus yang disalibkan’ merupakan hati / inti dari injil. ... penekanan dalam ajaran Perjanjian Baru adalah pada kematian yang menebus dari sang Juruselamat untuk dosa-dosa dunia) - ‘The Preacher’s Portrait’, hal 40,41.

1Kor 15:3-4 - “(3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, (4) bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”.

1Kor 1:23 - “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

1Kor 2:2 - “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.

 

Lalu bagaimana? Yang mana yang benar? John Stott mengatakan bahwa penginjilan dalam Kisah Rasul lebih menekankan kebangkitan karena pada umumnya penginjilan itu dilakukan kepada orang Yahudi. Mereka membutuhkan pengertian bahwa Yesus itu adalah Mesias yang mereka nanti-nantikan, dan ini tidak akan tercapai kalau kematian Yesus yang ditekankan, karena Mesias yang kalah tidak akan mereka akui sebagai Mesias. Karena itu yang ditekankan adalah kebangkitan Yesus, yang menunjukkan kemenanganNya. Tentu saja ini berbeda dengan penginjilan jaman sekarang, apalagi kalau yang diinjili bukan orang Yahudi.

 

8.      Kepercayaan terhadap kebangkitan Kristus juga merupakan sesuatu yang mutlak penting.

Ro 10:9 - “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan”.

 

Lenski: “One of the decisive tests of the Christian faith is belief in these facts which declare that Jesus rose from the dead. All who alter these facts and in some way or other deny his resurrection can no longer claim the Christian name, for Christianity stands and falls with the resurrection of the Savior” (= Salah satu dari ujian-ujian yang menentukan tentang iman Kristen adalah kepercayaan terhadap fakta-fakta ini yang menyatakan bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati. Semua yang mengubah fakta-fakta ini dan dengan satu atau lain cara menyangkal kebangkitanNya, tidak bisa lagi mengclaim sebutan / nama Kristen, karena kekristenan berdiri atau jatuh / runtuh bersama-sama dengan kebangkitan sang Juruselamat) - hal 736.

 

Bandingkan dengan tulisan Ioanes Rahmat tentang ‘kubur Yesus di Talpiot’. Nabi palsu itu tak berhak menyandang nama ‘orang Kristen’, apalagi ‘pendeta’!

 

3)   Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: (ay 7a).

 

Calvin: He began with the women, and not only presented himself to be seen by them, but even gave them a commission to announce the gospel to the apostles, so as to become their instructors. This was intended, first, to chastise the indifference of the apostles, who were like persons half-dead with fear, while the women ran with alacrity to the sepulcher, and likewise obtained no ordinary reward. For though their design to anoint Christ, as if he were still dead, was not free from blame, still he forgave their weakness, and bestowed on them distinguished honor, by taking away from men the apostolic office, and committing it to them for a short time (= Ia mulai dengan perempuan-perempuan itu, dan bukan hanya menyatakan diriNya untuk dilihat oleh mereka, tetapi bahkan memberikan mereka suatu otoritas untuk mengumumkan injil kepada rasul-rasul, sehingga menjadi instruktur-instruktur mereka. Ini pertama-tama dimaksudkan, untuk menghajar ketidak-pedulian dari rasul-rasul, yang seperti orang-orang yang setengah mati dengan rasa takut, sementara para perempuan lari dengan sigap ke kuburan, dan juga mendapatkan pahala / upah yang luar biasa. Karena sekalipun rancangan mereka untuk mengurapi Kristus, seakan-akan Ia tetap mati, tidak bebas dari kesalahan, Ia tetap mengampuni kelemahan mereka, dan memberikan kepada mereka kehormatan yang khusus, dengan mengambil dari para pria jabatan / tugas rasuli, dan memberikannya kepada mereka untuk jangka waktu yang pendek) - hal 338-339.

 

Para perempuan itu mendapatkan suatu hak / keuntungan / kehormatan, untuk menjadi orang-orang pertama yang mendapatkan pengetahuan tentang kebangkitan Yesus melalui pemberitaan malaikat, tetapi sekarang, mereka mendapatkan kewajiban untuk menyampaikan berita itu kepada orang-orang lain!

Penerapan: kalau di gereja ini saudara mendapatkan hak / keuntungan untuk menerima banyak Firman Tuhan, maka sadarilah bahwa saudara juga mendapatkan kewajiban untuk menyampaikannya kepada orang-orang lain!

 

Calvin: In this manner also he exhibited an instance of what Paul tells us, that he chooses those things which are foolish and weak in the world to abase the loftiness of the flesh. And never shall we be duly prepared to learn this article of our faith in any other manner than by laying aside all pride, and submitting to receive the testimony of the women (= Dengan cara ini juga Ia menunjukkan suatu contoh tentang apa yang Paulus katakan kepada kita, bahwa Ia memilih hal-hal itu yang bodoh dan lemah dalam dunia untuk merendahkan / mempermalukan keangkuhan daging. Dan kita tidak akan pernah siap dengan seharusnya untuk mempelajari bagian dari iman kita ini dengan cara lain manapun dari pada dengan menyingkirkan semua kesombongan, dan tunduk untuk menerima kesaksian dari para perempuan itu) - hal 339.

 

1Kor 1:27-29 - “(27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, (28) dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, (29) supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah”.

 

Kata-kata ‘katakanlah kepada murid-muridNya dan kepada Petrus’ tidak boleh diartikan bahwa Petrus bukan lagi murid. Maksudnya ‘kepada murid-murid, termasuk Petrus’. Jadi, kata-kata ini justru menekankan supaya pemberitaan kebangkitan Kristus itu diberitakan secara khusus kepada Petrus. Mengapa ia ditekankan?

 

Calvin: they are expressly enjoined to carry this message to Peter; not because he was at that time higher in rank than the others, but because his crime, which was so disgraceful, needed peculiar consolation to assure him that Christ had not cast him off, though he had basely and wickedly fallen (= mereka secara explicit diperintahkan untuk membawa pesan ini kepada Petrus; bukan karena ia adalah pada saat itu lebih tinggi kedudukannya dari pada yang lain, tetapi karena kejahatannya, yang begitu memalukan, membutuhkan penghiburan khusus untuk meyakinkan dia bahwa Kristus tidak membuangnya, sekalipun ia telah jatuh secara hina dan jahat).

 

Barnes’ Notes: “‘Tell his disciples and Peter.’ It is remarkable that Peter is singled out for special notice. It was proof of the kindness and mercy of the Lord Jesus. Peter, just before the death of Jesus, had denied him. He had brought dishonor on his profession of attachment to him. It would have been right if the Lord Jesus had from that moment cast him off and noticed him no more. But he loved him still. Having loved him once, he loved unto the end, John 13:1. As a proof that he forgave him and still loved him, he sent him this ‘special’ message - the assurance that though he had denied him, and had done much to aggravate his sufferings, yet he had risen, and was still his Lord and Redeemer. We are not to infer, because the angel said, ‘Tell his disciples and Peter,’ that Peter was not still a disciple. The meaning is, ‘Tell his disciples, and especially Peter,’ sending to him a particular message. Peter was still a disciple. Before his fall, Jesus had prayed for him that his faith should not fail (Luke 22:32); and as the prayer of Jesus was ‘always’ heard (John 11:42), so it follows that Peter still retained faith sufficient to be a disciple, though he was suffered to fall into sin” [= ‘Katakanlah kepada murid-muridNya dan kepada Petrus’. Merupakan sesuatu yang luar biasa bahwa Petrus dikhususkan untuk pemberitahuan khusus. Itu merupakan bukti dari kebaikan dan belas kasihan dari Tuhan Yesus. Petrus, persis sebelum kematian Yesus, telah menyangkalNya. Ia telah membawa aib pada pengakuan cintanya kepadaNya. Merupakan sesuatu yang benar seandainya sejak saat itu Tuhan Yesus membuang dia dan tidak memperhatikannya lagi. Tetapi Ia tetap mengasihinya. Setelah sekali mengasihinya, Ia mengasihi sampai akhir, Yoh 13:1. Sebagai suatu bukti bahwa Ia mengampuninya dan tetap mengasihinya, Ia mengirimkan kepadanya pesan ‘khusus’ ini - keyakinan bahwa sekalipun ia telah menyangkalNya, dan telah melakukan banyak hal yang memperberat penderitaanNya, tetapi Ia telah bangkit, dan tetap adalah Tuhan dan Penebusnya. Kita tidak boleh menyimpulkan, karena sang malaikat berkata, ‘katakanlah kepada murid-muridNya dan kepada Petrus’, maka Petrus bukan lagi seorang murid. Artinya adalah, ‘katakanlah kepada murid-muridNya, dan khususnya kepada Petrus’, dan dengan itu mengirimkan kepadanya suatu pesan yang khusus. Petrus tetap adalah seorang murid. Sebelum kejatuhannya, Yesus telah berdoa baginya supaya imannya tidak gugur (Luk 22:32); dan karena doa Yesus selalu didengar (Yoh 11:42), maka sebagai akibatnya Petrus tetap mempertahankan iman cukup untuk menjadi seorang murid, sekalipun ia dibiarkan untuk jatuh ke dalam dosa].

Yoh 13:1 - “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Bagian yang saya garis-bawahi terjemahannya kurang tepat.

KJV: having loved his own which were in the world, he loved them unto the end (= setelah mengasihi milikNya yang ada dalam dunia, Ia mengasihi mereka sampai akhir).

Luk 22:32 - “tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.’”.

Yoh 11:42 - “Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.’”.

 

Penerapan: kalau saudara betul-betul adalah anak Tuhan, dan suatu kali saudara jatuh ke dalam dosa yang sangat besar dan memalukan, bagian ini bisa merupakan suatu penghiburan dan jaminan bahwa Kristus tidak membuang saudara, tetapi tetap mengasihi saudara sebagai anak. Selain bagian ini, ada juga text-text Kitab Suci yang bisa mempunyai fungsi yang sama bagi orang Kristen yang jatuh, seperti:

·         Mat 12:20 - “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskanNya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang”.

·         Luk 15:17-24 - “(17) Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. (18) Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, (19) aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. (20) Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (21) Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. (22) Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. (23) Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. (24) Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria”.

·         Maz 103:8-14 - “(8) TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. (9) Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. (10) Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, (11) tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya atas orang-orang yang takut akan Dia; (12) sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita. (13) Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (14) Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

·         1Yoh 1:9 - “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.

·         Ibr 4:15 - “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”.

 

4)   “Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu.’” (ay 7b).

 

William Barclay: “Jesus is not a figure in a book but a living presence. It is not enough to study the story of Jesus like the life of any other great historical figure. We may begin that way but we must end by meeting him. ... Jesus is not someone to discuss so much as someone to meet. ... The Christian life is not the life of a man who knows about Jesus, but the life of a man who knows Jesus” (= Yesus bukanlah seorang tokoh dalam sebuah buku tetapi sebuah kehadiran yang hidup. Tidak cukup untuk mempelajari cerita Yesus seperti kehidupan tokoh sejarah besar yang lain. Kita mungkin memulainya dengan cara itu tetapi kita harus mengakhirinya dengan menemuiNya. ... Yesus lebih merupakan seseorang untuk ditemui dari pada dibicarakan / didiskusikan. ... Kehidupan kristen bukanlah kehidupan seorang manusia yang tahu tentang Yesus, tetapi kehidupan seseorang yang mengenal Yesus) - hal 368-369.

 

Sudahkah saudara bertemu secara rohani dengan Yesus? Apakah selama ini saudara hanya tahu tentang Yesus atau betul-betul mengenal Yesus? Saudara bertemu Yesus secara rohani dan betul-betul mengenal Dia, kalau saudara datang dan percaya kepadaNya. Maukah saudara datang dan percaya kepadaNya sekarang juga?

 

Ay 8a:(8a) Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut..

 

Bdk. Mat 28:8-9 - “(8) Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. (9) Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: ‘Salam bagimu.’ Mereka mendekatiNya dan memeluk kakiNya serta menyembahNya”.

 

Dari perbandingan text Matius dan Markus ini ada 2 hal yang kelihatannya bertentangan.

 

1)         Takut, atau takut dan sukacita?

 

Kalau Markus mengatakan bahwa ‘gentar dan dahsyat menimpa mereka’ dan ‘karena takut’, sedangkan Matius mengatakan ‘dengan takut dan sukacita yang besar’, ini lagi-lagi bukan merupakan kontradiksi. Matius hanya menambahkan perasaan sukacita yang tidak diceritakan oleh Markus. Jelas perasaan mereka bercampur aduk (A. T. Robertson). Dengan kata lain, Markus hanya menceritakan sebagian perasaan mereka, tetapi Matius menceritakan dengan lebih lengkap tentang perasaan mereka.

 

Mengapa dalam sukacita mereka masih ada rasa takut? Calvin mengatakan bahwa berita kebangkitan dari malaikat membuat mereka menjadi sukacita, dan seandainya iman mereka kuat, maka mereka tidak akan takut sama sekali. Bahwa mereka masih takut menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya bersandar pada kesaksian dari malaikat. itu. Dan karena itu, Kristus lalu menunjukkan belas kasihanNya, dengan menemui mereka pada waktu mereka masih ragu-ragu, untuk membuang semua keraguan yang tersisa. 

 

2)            Memberitahukan berita kebangkitan Yesus (Matius) atau tidak (Markus)?

Markus mengatakan Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut’ tetapi Matius mengatakan ‘berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.

Ini sebetulnya juga bukan kontradiksi. Kalau kita gabungkan kedua text ini artinya adalah bahwa mereka tidak memberitahukan hal itu kepada siapapun kecuali kepada murid-murid.

 

Matthew Henry: “being ordered to tell the disciples, because they were to tell it to all the world, they would not tell it to any one else, they showed not any thing of it to any man that they met by the way, for they were afraid, afraid it was too good news to be true. Note, Our disquieting fears often hinder us from doing that service to Christ and to the souls of men, which if faith and the joy of faith were strong, we might do” [= Karena diperintahkan untuk memberitahu murid-murid, karena mereka (murid-murid itu) akan memberitakannya ke seluruh dunia, mereka tidak memberitakannya kepada siapapun juga yang lain, mereka tidak menunjukkan apapun tentangnya kepada orang manapun yang mereka temui di jalan, karena mereka takut, takut bahwa berita itu terlalu bagus untuk dipercaya. Perhatikan, rasa takut yang membuat kita tidak tenang sering menghalangi kita untuk melakukan pelayanan kepada Kristus dan kepada jiwa-jiwa manusia, yang jika iman dan sukacita dari iman itu kuat, bisa kita lakukan].

 

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org