Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Jumat, tanggal 9 April 2010, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

http://www.golgothaministry.org

 

 

Markus 16:1-20(1)

 

Mark 16:1-20 - “(1) Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. (2) Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. (3) Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?’ (4) Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. (5) Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut, (6) tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: ‘Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia. (7) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu.’ (8a) Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. (8b) Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-muridNya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu. (9) Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diriNya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. (10) Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. (11) Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. (12) Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. (13) Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. (14) Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitanNya. (15) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. (16) Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (17) Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, (18) mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.’ (19) Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. (20) Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”.

 

Ay 1: Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus..

 

1)            Setelah lewat hari Sabat.

 

a)      Ketaatan perempuan-perempuan itu terhadap larangan / peraturan Sabat.

Mereka membeli rempah-rempah itu setelah Sabat lewat (ay 1a). Ini disebabkan karena ketaatan mereka terhadap hukum hari Sabat, yang melarang untuk berjual beli pada hari tersebut.

 

Matthew Henry (tentang Luk 23:56): “busy as they were in this preparation, they rested on the sabbath day, and did none of this servile work thereon, not only according to the custom of their nation, but according to the commandments of their God” (= sekalipun mereka sibuk dalam melakukan persiapan ini, mereka beristirahat pada hari Sabat, dan tidak melakukan apapun berkenaan dengan pekerjaan pelayanan ini, bukan hanya sesuai dengan tradisi dari bangsa mereka, tetapi sesuai dengan perintah / hukum dari Allah mereka).

 

Bdk. Kel 34:21 - “Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga”.

 

Masa menabur dan menuai jelas merupakan masa paling sibuk. Tetapi Firman Tuhan tidak mengenal kompromi dan tetap memerintahkan untuk memelihara Sabat sebagai hari perhentian / istirahat pada saat seperti itu.

 

Kalau orang-orang Yahudi pada jaman itu, berdasarkan ajaran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terlalu extrim dengan larangan / peraturan Sabat, maka orang-orang Kristen jaman sekarang semuanya jatuh dalam extrim satunya, yaitu terlalu meremehkan peraturan / larangan Sabat. Perhatikan bagaimana perempuan-perempuan ini mentaati peraturan / larangan Sabat dengan tidak mau membeli / belanja pada hari Sabat. Bandingkan dengan dua text di bawah ini.

 

1.      Yer 17:21-27 - “(21) Beginilah firman TUHAN: Berawas-awaslah demi nyawamu! Janganlah mengangkut barang-barang pada hari Sabat dan membawanya melalui pintu-pintu gerbang Yerusalem! (22) Janganlah membawa barang-barang dari rumahmu ke luar pada hari Sabat dan janganlah lakukan sesuatu pekerjaan, tetapi kuduskanlah hari Sabat seperti yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu. (23) Namun mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memperhatikannya, melainkan mereka berkeras kepala, sehingga tidak mau mendengarkan dan tidak mau menerima tegoran. (24) Apabila kamu sungguh-sungguh mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan tidak membawa masuk barang-barang melalui pintu-pintu gerbang kota ini pada hari Sabat, tetapi menguduskan hari Sabat dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, (25) maka melalui pintu-pintu gerbang kota ini akan berarak masuk raja-raja dan pemuka-pemuka, yang akan duduk di atas takhta Daud, dengan mengendarai kereta dan kuda: mereka dan pemuka-pemuka mereka, orang-orang Yehuda dan penduduk Yerusalem. Dan kota ini akan didiami orang untuk selama-lamanya. (26) Orang akan datang dari kota-kota Yehuda dan dari tempat-tempat sekitar Yerusalem, dari tanah Benyamin dan dari Daerah Bukit, dari pegunungan dan dari tanah Negeb, dengan membawa korban bakaran, korban sembelihan, korban sajian dan kemenyan, membawa korban syukur ke dalam rumah TUHAN. (27) Tetapi apabila kamu tidak mendengarkan perintahKu untuk menguduskan hari Sabat dan untuk tidak masuk mengangkut barang-barang melalui pintu-pintu gerbang Yerusalem pada hari Sabat, maka di pintu-pintu gerbangnya Aku akan menyalakan api, yang akan memakan habis puri-puri Yerusalem, dan yang tidak akan terpadamkan.’”.

 

Yang dilarang oleh text ini sebetulnya bukan mengangkut barang, tetapi mengangkut barang dengan tujuan berjualan / berdagang. Jadi, text ini jelas menentang orang berjualan pada hari Sabat. Dan kalau menjual dilarang, maka membeli pasti juga tidak boleh.

 

2.      Neh 13:15-22 - “(15) Pada masa itu kulihat di Yehuda orang-orang mengirik memeras anggur pada hari Sabat, pula orang-orang yang membawa berkas-berkas gandum dan memuatnya di atas keledai, juga anggur, buah anggur dan buah ara dan pelbagai muatan yang mereka bawa ke Yerusalem pada hari Sabat. Aku memperingatkan mereka ketika mereka menjual bahan-bahan makanan. (16) Juga orang Tirus yang tinggal di situ membawa ikan dan pelbagai barang dagangan dan menjual itu kepada orang-orang Yehuda pada hari Sabat, bahkan di Yerusalem. (17) Lalu aku menyesali pemuka-pemuka orang Yehuda, kataku kepada mereka: ‘Kejahatan apa yang kamu lakukan ini dengan melanggar kekudusan hari Sabat? (18) Bukankah nenek moyangmu telah berbuat demikian, sehingga Allah kita mendatangkan seluruh malapetaka ini atas kita dan atas kota ini? Apakah kamu bermaksud memperbesar murka yang menimpa Israel dengan melanggar kekudusan hari Sabat?’ (19) Kalau sudah remang-remang di pintu-pintu gerbang Yerusalem menjelang hari Sabat, kusuruh tutup pintu-pintu dan kuperintahkan supaya jangan dibuka sampai lewat hari Sabat. Dan aku tempatkan beberapa orang dari anak buahku di pintu-pintu gerbang, supaya tidak ada muatan yang masuk pada hari Sabat. (20) Tetapi orang-orang yang berdagang dan berjualan rupa-rupa barang itu kemudian bermalam juga di luar tembok Yerusalem satu dua kali. (21) Lalu aku memperingatkan mereka, kataku: ‘Mengapa kamu bermalam di depan tembok? Kalau kamu berbuat itu sekali lagi akan kukenakan tanganku kepadamu.’ Sejak waktu itu mereka tidak datang lagi pada hari Sabat. (22) Juga kusuruh orang-orang Lewi mentahirkan dirinya dan datang menjaga pintu-pintu gerbang untuk menguduskan hari Sabat. Ya Allahku, ingatlah kepadaku juga karena hal itu dan sayangilah aku menurut kasih setiaMu yang besar!”.

 

Secara hurufiah, Nehemia hanya melarang berjualan, bukan membeli. Tetapi Matthew Henry mengecam baik yang berjualan maupun yang membeli (demikian juga dengan Albert Barnes dalam komentarnya tentang Yer 17:21). Dan memang, kalau orang dilarang berjualan, maka sudah jelas bahwa orang juga dilarang membeli, karena para pembeli ini memotivasi para penjual untuk terus berjualan pada hari Sabat.

Jadi, shopping / berbelanja pada hari Sabat / Minggu jelas merupakan suatu pelanggaran terhadap hukum keempat ini. Ini semua juga memotivasi pemilik toko untuk tetap buka pada hari Sabat / Minggu.

 

b)   Sabat itu adalah Sabat yang menjijikkan.

 

Matthew Henry: “Never were the sabbath services in the temple such an abomination to God, though they had been often so, as they were now, when the chief priests, who presided in them, had their hands full of blood, the blood of Christ” (= Tidak pernah ada kebaktian Sabat di Bait Allah yang begitu menjijikkan bagi Allah, sekalipun sering demikian, seperti kebaktian Sabat itu sekarang, pada waktu imam-imam kepala, yang memimpin dalam kebaktian Sabat itu, mempunyai tangan-tangan mereka yang dipenuhi dengan darah, darah Kristus).

 

Bdk. Yes 1:10-15 - “(10) Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! (11) ‘Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?’ firman TUHAN; ‘Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. (12) Apabila kamu datang untuk menghadap di hadiratKu, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait SuciKu? (13) Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagiKu. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. (14) Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagiKu, Aku telah payah menanggungnya. (15) Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.

 

2)         Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome.

Mat 28:1 - “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu”.

Luk 23:56-24:1,10 - “(23:56) Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat, (24:1) tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. ... (10) Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul”.

 

Matius hanya mengatakan tentang 2 Maria; Markus menambahkan Salome; dan Lukas mengatakan banyak perempuan. Ini semua bukan kontradiksi. Merupakan sesuatu yang umum bagi penulis-penulis Kitab Suci untuk tidak menceritakan semua, tetapi hanya sebagian, yang mereka soroti.

 

Calvin: So far as regards the narrative, Matthew says only that the two Marys came to see the sepulcher; Mark adds a third, Salome, and says that they bought spices to anoint the body; and from Luke we infer, that not two or three only, but many women came. But we know that it is customary with the sacred writers, when speaking of a great number, to name but a few of them. It may also be conjectured with probability, that Mary Magdalene, with another companion - whether she was sent before, or ran forward of her own accord arrived at the grave before the rest of the women (= ) - hal 339.

 

3)            membeli rempah-rempah.

 

a)   Kapan mereka membeli rempah-rempah?

Mark 16:1 - Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus”.

Untuk kata ‘membeli’ dalam Mark 16:1, KJV menterjemahkan dalam bentuk past perfect ‘had bought’ (= telah membeli). Tetapi RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV menterjemahkan ‘bought’, karena tense yang digunakan memang adalah aorist / past / lampau. Rupanya KJV mengubahnya menjadi bentuk past perfect untuk menyesuaikan dengan cerita versi Lukas di bawah ini.

Luk 23:55-24:1 - “(23:55) Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayatNya dibaringkan. (23:56) Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat, (24:1) tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.

 

Jamieson, Fausset & Brown mengatakan bahwa KJV mungkin bisa dibenarkan, karena dari cerita Lukas, mereka sudah menyediakan rempah-rempah dan minyak mur itu sebelum Sabat, atau setelah mereka menguburkan Yesus. Jadi, mungkin itu terjadi pada Jumat sore sebelum pk 6 sore. Dan setelah Sabat, pada minggu pagi mereka hanya membawa apa yang telah mereka siapkan sebelumnya itu ke kubur Yesus.

 

Calvin menganggap bahwa Markus tidak menceritakan cerita ini secara akurat dalam persoalan waktu. Tetapi apakah ini tak berarti menyalahkan Alkitab?

 

J. A. Alexander (hal 434) mengatakan bahwa Luk 23:56, tidak secara jelas menunjukkan kapan perempuan-perempuan itu membeli rempah-rempah itu. Bisa sebelum Sabat mulai, bisa juga sesudah Sabat selesai, dan kalau yang kedua ini yang benar, maka cerita Lukas menjadi sama dengan cerita Markus. Harus diingat bahwa Lukas memang sering menceritakan tanpa mempedulikan khronologis, misalnya dalam Luk 4:1-13, dimana ia membalik pencobaan kedua dan ketiga (bdk. Mat 4:1-11).

 

Bisa juga kita membedakan kata ‘membeli’ dalam Mark 16:1 dengan kata ‘menyediakan’ dalam Luk 23:56. Jadi, mungkin mereka sudah menyediakan sebelum Sabat (ini yang diceritakan oleh Lukas), tetapi setelah Sabat mereka membeli lagi apa yang mereka anggap masih kurang (ini yang diceritakan oleh Markus).

 

b)   Mereka mau mengeluarkan uang demi Yesus. Mereka ‘membeli’ rempah-rempah / minyak untuk mayat Yesus.

 

Lenski: “The spices were bought on Saturday after sunset, ... The a]rwmata that were bought by the women were liquids because they wanted to anoint the body with them. ... The essences bought for this purpose were quite costly as were the fine linen and the powdered spices [= Rempah-rempah itu dibeli pada Sabtu setelah matahari terbenam, ... AROMATA (= rempah-rempah) yang dibeli oleh perempuan-perempuan itu berupa cairan karena mereka mau mengurapi tubuh / mayat dengannya. ... Zat-zat yang dibeli untuk tujuan ini sama mahalnya dengan kain lenan halus dan bubuk rempah-rempah] - hal 737.

 

Pulpit Commentary dalam komentarnya tentang Lazarus dan orang kaya mengatakan: “The fine linen (byssus) was worth twice its weight in gold” (= Kain lenan halus harganya 2 x beratnya dalam emas) - hal 66.

 

Penerapan: mereka mau membeli rempah-rempah itu, sekalipun mahal, karena kasih mereka kepada Yesus. Bagaimana dengan saudara dalam urusan mengeluarkan uang bagi Tuhan / gereja?

 

Bdk. Luk 8:1-3 - “(1) Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas muridNya bersama-sama dengan Dia, (2) dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, (3) Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

 

c)   Mereka bermaksud untuk menyempurnakan apa yang telah dilakukan oleh Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus.

Sebetulnya Jum’at siang / sore Yusuf dan Nikodemus sudah melakukan pemberian mur, minyak gaharu, dan rempah-rempah (Yoh 19:39-40).

Sekarang pada Minggu pagi para perempuan ini mau melakukan hal itu lagi untuk menyempurnakan apa yang dilakukan dengan tergesa-gesa pada Jum’at siang / sore itu. Ketergesa-gesaan itu disebabkan karena saat itu Sabat hampir tiba.

 

Pulpit Commentary: “What had been done on the Friday evening had been done in haste, and yet sufficiently for the preservation of the sacred body, if that had been needful, from decay. The remaining work could be done more carefully and tenderly at the tomb” (= Apa yang telah dilakukan pada Jum’at sore telah dilakukan dengan terburu-buru, tetapi cukup untuk mengawetkan tubuh yang kudus itu, seandainya hal itu dibutuhkan, dari pembusukan. Pekerjaan yang tersisa bisa dilakukan dengan lebih teliti dan lembut di kubur) - hal 346.

 

Catatan: ia memberikan kata-kata ‘seandainya hal itu dibutuhkan’, karena sebetulnya hal itu memang tidak dibutuhkan. Mengapa? Karena Kitab Suci mengatakan bahwa tubuh Kristus tidak akan membusuk (Maz 16:10  Kis 2:27  Kis 13:35). Tetapi dalam ketiga ayat ini Kitab Suci Indonesia salah terjemahan. Kata ‘kebinasaan’ seharusnya adalah ‘pembusukan’; NIV/NASB menterjemahkan semuanya dengan kata ‘decay’ (= pembusukan).

 

Matthew Henry: “Nicodemus had bought a very large quantity of dry spices, myrrh and aloes, which served to dry the wounds, and dry up the blood, John 19:39. But these good women did not think that enough; they bought spices, perhaps of another kind, some perfumed oils, to anoint him. Note, The respect which others have showed to Christ’s name, should not hinder us from showing our respect to it” (= Nikodemus telah membeli jumlah yang sangat besar dari rempah-rempah kering, mur, dan gaharu, yang bermanfaat untuk mengeringkan luka, dan mengeringkan darah, Yoh 19:39. Tetapi perempuan-perempuan yang baik ini tidak menganggapnya cukup; mereka membeli rempah-rempah, mungkin dari jenis yang lain, sejumlah minyak wangi, untuk mengurapiNya. Perhatikan, Rasa hormat yang orang-orang lain telah tunjukkan kepada nama Kristus, tidak boleh menghalangi kita untuk menunjukkan rasa hormat kita kepadanya).

Penerapan: apakah saudara sering menahan persembahan, karena berpikir bahwa ada orang lain (apalagi yang lebih kaya) telah melakukannya?

 

d)   Ini merupakan tindakan kasih yang mereka lakukan kepada Yesus.

 

William L. Lane (NICNT): “Spices were not used for mummification, which was not a Jewish custom, but to offset the odors from decomposition. ... Since in the climate of Jerusalem deterioration would occur rapidly, the visit of the women with the intention of ministering to the corpse after two nights and a day must be viewed as an expression of intense devotion” (= Rempah-rempah tidak digunakan untuk pembuatan mumi, yang bukan merupakan kebiasaan Yahudi, tetapi untuk menutupi bau dari pembusukan. ... Karena dalam iklim dari Yerusalem, pembusukan akan terjadi dengan cepat, kunjungan dari para perempuan dengan maksud melayani mayat setelah 2 malam dan satu hari harus dipandang sebagai pernyataan bakti yang kuat / hebat) - hal 585.

 

Pulpit Commentary: “Love will find occasions and ways of expressing itself” (= Kasih akan mendapatkan kesempatan dan cara untuk menyatakan dirinya sendiri) - hal 349.

 

William Hendriksen: “while we may criticize their lack of sufficient faith - a lack which they shared with the male disciples - let us not overlook their exceptional love and loyalty. They were at Calvary when Jesus died, in Joseph’s garden when their Master was buried, and now very early in the morning, here they are once more, in order to anoint the body. Meanwhile, where were the eleven?” (= sementara kita bisa mengkritik kekurangan iman mereka - suatu kekurangan yang juga terdapat pada para murid laki-laki - marilah kita tidak mengabaikan kasih dan kesetiaan mereka yang luar biasa. Mereka ada di Kalvari pada saat Yesus mati, di taman / kebun Yusuf pada waktu Tuan mereka dikubur, dan sekarang pagi-pagi sekali, sekali lagi mereka ada di sini, untuk mengurapi tubuh Yesus. Sementara itu, dimana 11 rasul itu?) - hal 678.

 

Pulpit Commentary: “Last at the cross, first at the grave” (= Terakhir di salib, pertama di kubur).

 

e)            Tindakan mengurapi mayat berhubungan dengan pengharapan akan kebangkitan pada akhir jaman.

Maksud untuk melakukan pengurapan ini jelas merupakan sesuatu yang salah, karena ini menunjukkan bahwa mereka tidak beriman pada kata-kata Yesus yang menyatakan akan bangkit pada hari ke 3.

 

Calvin: “their design to anoint Christ, as if he were still dead, was not free from blame” (= rencana mereka untuk mengurapi Kristus, seakan-akan Ia masih tetap mati, tidak bebas dari kesalahan) - hal 339.

 

Calvin: But it may be asked, how could this zeal of the women, which was mixed with superstition, be acceptable to God? I have no doubt, that the custom of anointing the dead, which they had borrowed from the Fathers, was applied by them to its proper object, which was, to draw consolation, amidst the mourning of death, from the hope of life to come. I readily acknowledge that they sinned in not immediately raising their minds to that prediction which they had heard from the lips of their Master, when he foretold that he would rise again on the third day. But as they retain the general principle of the final resurrection, that defect is forgiven, which would vitiated, as the phrase is, the whole of the action. Thus God frequently accepts, with fatherly kindness, the works of the saints, which, without pardon, not only would not have pleased him, but would even have been justly rejected with shame and punishment. It is, therefore, an astonishing display of the goodness of Christ, that he kindly and generously presents himself alive to the women, who did him wrong in seeking him among the dead (= Tetapi bisa dipertanyakan, bagaimana mungkin semangat dari perempuan-perempuan ini, yang dicampur dengan takhyul, merupakan sesuatu yang bisa diterima bagi Allah? Saya tidak meragukan bahwa kebiasaan mengurapi orang mati, yang telah mereka dapatkan dari Bapa-bapa, diterapkan oleh mereka pada tujuan yang benar, yaitu untuk mendapatkan penghiburan di tengah-tengah perkabungan kematian, dari pengharapan akan kehidupan yang akan datang. Saya mengakui bahwa mereka berdosa dengan tidak segera mengangkat pikiran mereka pada ramalan yang telah mereka dengar dari bibir Tuan / Guru mereka, pada saat Ia meramalkan bahwa Ia akan bangkit kembali pada hari ke 3. Tetapi karena mereka memelihara prinsip umum tentang kebangkitan akhir, cacat itu diampuni, yang seharusnya meniadakan seluruh tindakan mereka. Demikianlah Allah sering menerima, dengan kebaikan seorang bapa, pekerjaan-pekerjaan orang-orang kudus, yang seandainya tanpa pengampunan, bukan hanya akan tidak menyenangkanNya, tetapi bahkan akan secara benar ditolak dengan rasa malu dan penghukuman. Karena itu, ini merupakan suatu pertunjukan yang mengherankan dari kebaikan Kristus, bahwa Ia dengan baik dan dengan murah hati menyatakan diriNya sendiri hidup kepada perempuan-perempuan itu, yang melakukan kesalahan terhadapNya dengan mencari Dia di antara orang mati) - hal 339-340.

Catatan: tetapi awas, ini bisa diextrimkan, misalnya orang yang ke gereja dengan motivasi tidak benar, tetap diterima oleh Allah, dan sebagainya.

 

Calvin: “the custom of anointing the dead, though it was common among many heathen nations, was applied to a lawful use by the Jews alone, to whom it had been handed down by the Fathers, to confirm them in the faith of the resurrection. For without having this in view, to embalm a dead body, which has no feeling, would be an idle and empty solace, as we know that the Egyptians bestowed great labour and anxiety on this point, without looking for any advantage. But by this sacred symbol, God represented to the Jews the image of life in death, to lead them to expect that out of putrefaction and dust they would one day acquire new vigour. Now as the resurrection of Christ, by its quickening vigour, penetrated every sepulchre, so as to breathe life into the dead, so it abolished those outward ceremonies (= kebiasaan untuk mengurapi orang mati, sekalipun itu merupakan sesuatu yang umum di antara banyak bangsa kafir, diterapkan pada penggunaan yang benar hanya oleh orang Yahudi, kepada siapa itu diturunkan oleh Bapa-bapa, untuk meneguhkan mereka dalam iman tentang kebangkitan. Karena tanpa memandang pada hal ini, membalsem mayat yang tak mempunyai perasaan merupakan sesuatu penghiburan yang sia-sia dan kosong, seperti kita tahu bahwa orang Mesir bekerja keras dalam hal ini, tanpa mencari manfaat apapun. Tetapi oleh simbol yang kudus / keramat ini, Allah melambangkan kepada orang-orang Yahudi gambaran dari kehidupan dalam kematian, untuk memimpin mereka untuk mengharapkan bahwa dari pembusukan dan debu suatu hari mereka akan mendapatkan tenaga / kekuatan yang baru. Sekarang karena kebangkitan Kristus, oleh tenaga menghidupkannya, menembus setiap kuburan, untuk menghembuskan kehidupan kepada orang mati, maka itu menghapuskan upacara lahiriah itu) - hal 341.

 

f)    Yesus sendiri sebetulnya tidak membutuhkan pengurapan terhadap mayatNya.

Calvin: “For himself, he needed not those aids, but they were owing to the ignorance of the women, who were not yet fully aware that he was free from corruption” (= Untuk diriNya sendiri, Ia tidak membutuhkan pertolongan itu, tetapi itu dilakukan karena ketidakmengertian para perempuan itu, yang belum sepenuhnya sadar bahwa Ia bebas dari pembusukan) - hal 341.

 

4)         untuk pergi ke kubur.

Jangan pakai ayat ini untuk mengijinkan orang Kristen ikut ambil bagian dalam Cing Bing!!! Tujuan kepergian mereka ke kubur, dan tujuan pengurapan terhadap tubuh / mayat Yesus yang mereka lakukan, seperti yang sudah dijelas kan oleh Calvin di atas, sama sekali berbeda dengan orang-orang yang merayakan Cing Bing.

 

5)         dan meminyaki Yesus.

Ini bukan minyak urapan! Lukas mengatakan ‘minyak mur’.

Luk 23:56 - “Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat”.

 

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘meminyaki’ dalam Mark 16:1 ini adalah ALEIPHO, dan karena itu terjemahan ‘anoint’ (= mengurapi) kurang tepat. Kata itu juga yang digunakan dalam:

·         Yak 5:14 - “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan”.

·         Mark 6:13 - “dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka”.

 

A. T. Robertson, dalam tafsirannya tentang Yak 5:14,  mengatakan bahwa kata ini diguna­kan kalau hal pemberian minyak itu dilakukan bukan dalam upacara agama. Kalau dalam upacara agama, diguna­kan kata Yunani CHRIO (= to anoint / mengurapi).

Tetapi anehnya semua Kitab Suci bahasa Inggris menterjemahkan ‘anoint’ (= mengurapi), baik dalam Mark 16:1 ini maupun dalam Yak 5:14 dan Mark 6:13.

 

A. T. Robertson (tentang Yak 5:14): “The use of olive oil was one of the best remedial agencies known to the ancients. They used it internally and externally. Some physicians prescribe it today. It is clear both in Mark 6:13 and here that medicinal value is attached to the use of the oil and emphasis is placed on the worth of prayer. There is nothing here of the pagan magic or of the later practice of ‘extreme unction’ (after the eighth century). It is by no means certain that aleifoo here and in Mark 6:13 means ‘anoint’ in a ceremonial fashion rather than ‘rub’ as it commonly does in medical treatises. Trench (New Testament Synonyms) says: ‘Aleifein is the mundane and profane, chriein the sacred and religious, word.’ At bottom in James we have God and medicine, God and the doctor, and that is precisely where we are today. The best physicians believe in God and want the help of prayer” [= ... Sama sekali tidak pasti bahwa ALEIFOO di sini dan dalam Mark 6:13 berarti ‘mengurapi’ dalam suatu cara upacara dan bukannya ‘menggosok’ seperti yang biasanya dilakukan dalam penanganan medis. Trench (New Testament Synonyms) berkata: ‘ALEIFEIN adalah kata yang biasa / keduniaan dan duniawi, CHRIEIN adalah kata yang keramat dan agamawi’.].

W. E. Vine: “ANOINT, ANOINTING. A. Verbs. 1. aleipho is a general term used for ‘an anointing’ of any kind, whether of physical refreshment after washing, e. g., in the Sept. of Ruth 3:3; 2Sam. 12:20; Dan. 10:3; Micah 6:15; in the NT, Matt. 6:17; Luke 7:38, 46; John 11:2; 12:3; or of the sick, Mark 6:13; Jas. 5:14; or a dead body, Mark 16:1. The material used was either oil, or ointment, as in Luke 7:38,46. In the Sept. it is also used of ‘anointing’ a pillar, Gen. 31:13, or captives, 2Chr. 28:15, or of daubing a wall with mortar, Ezek. 13:10-12,14-15; and, in the sacred sense, of ‘anointing’ priests, in Exod. 40:15 (twice), and Num. 3:3. 2. chrio is more limited in its use than No. 1; it is confined to ‘sacred and symbolical anointings’; of Christ as the ‘Anointed’ of God, Luke 4:18; Acts 4:27; 10:38, and Heb. 1:9, where it is used metaphorically in connection with ‘the oil of gladness.’ The title Christ signifies ‘The Anointed One,’ The word (Christos) is rendered ‘(His) Anointed’ in Acts 4:26, RV. Once it is said of believers, 2Cor. 1:21. Chrio is very frequent in the Sept., and is used of kings, 1Sam. 10:1, and priests, Ex. 28:41, and prophets, 1 Kings 19:16. Among the Greeks it was used in other senses than the ceremonial, but in the Scriptures it is not found in connection with secular matters [= ALEIPHO merupakan suatu istilah umum yang digunakan untuk ‘suatu pengurapan’ dari jenis apapun, apakah itu dari penyegaran fisik setelah cuci / mandi, misalnya dalam Septuaginta, dari Rut 3:3; 2Sam. 12:20; Dan. 10:3; Mikha 6:15; dalam PB, Mat. 6:17; Luk 7:38, 46; Yoh 11:2; 12:3; atau dari orang sakit, Mark 6:13; Yak. 5:14; atau orang mati, Mark 16:1. ... CHRIO lebih terbatas dalam penggunaannya dari pada no 1; itu dibatasi pada ‘pengurapan yang kudus / keramat dan bersifat simbolis’; ... Gelar Kristus berarti ‘orang yang diurapi’, ... Di antara orang-orang Yunani kata itu digunakan dalam arti-arti lain dari pada upacara, tetapi dalam Kitab Suci kata itu tidak ditemukan berhubungan dengan persoalan-persoalan sekuler] - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’.

Catatan: dalam kedua kutipan di atas ini, saya hanya menterjermahkan bagian yang saya garis-bawahi.

 

Barnes’ Notes: “‘Anoint him.’ Embalm him, or apply these spices to his body to keep it from putrefaction. This is proof that they did not suppose he would rise again; and the fact that they did not ‘expect’ he would rise, gives more strength to the evidence for his resurrection” (= ‘Mengurapi Dia’. Membalsem Dia, atau memberikan rempah-rempah ini kepada tubuhNya untuk menjagaNya dari pembusukan. Ini merupakan bukti bahwa mereka tidak menduga bahwa Ia akan bangkit kembali; dan fakta bahwa mereka tidak ‘mengharapkan’ Ia akan bangkit, memberikan kekuatan yang lebih besar pada bukti untuk kebangkitanNya).

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

Url/alamat website : http://golgothaministry.org atau                      

http://www.golgothaministry.org