Eksposisi Kitab Maleakhi

 

oleh: Pdt. Budi Asali Mdiv

 

MALEAKHI 1:6-14

 

 

Kalau pada Mal 1:1-5 kita melihat Maleakhi menghibur Israel dengan menun-jukkan kasih Allah kepada mereka, maka di sini mulai Mal 1:6 dan seterusnya kita bisa melihat bahwa Maleakhi memberi­kan teguran-teguran yang keras.

 

Penerapan:

Ini menunjukkan bahwa hamba Tuhan tidak boleh memanja­kan jemaat dengan hanya memberitakan hal-hal yang enak saja. Hanya memberitakan hal-hal yang enak / menyenangkan telinga saja adalah ciri nabi palsu - bdk. 2Taw 18:5,10-12  Yer 8:11  Yer 23:16-17  2Tim 4:2-4. Tuhan memang mahakasih, tetapi juga mahasuci, sehingga Ia sangat membenci dosa. Dan Tuhan yang mahakasih itu juga mahaadil, sehingga Ia pasti akan menghukum semua orang berdosa yang tidak bertobat. Supaya jemaat sadar akan kesucian dan keadilan Allah, maka hamba Tuhan wajib memberitakan teguran Allah.

I) Teguran kepada para imam.

 

Dari kata-kata ‘hai para imam’ dalam Mal 1:6 dan Mal 2:1 terli­hat dengan jelas  bahwa Mal 1:6-2:9 adalah teguran yang dituju­kan kepada imam-imam.

Dari sini ada beberapa hal yang bisa kita pelajari:

 

1)   Ini menunjukkan bejadnya kerohanian pada saat itu.

Kalau imamnya saja bejad, bagaimana dengan rakyatnya / je­maatnya? Apalagi dari Perjanjian Lama jelas terlihat bahwa kerohanian bangsa Israel sangat tergantung kepada pemimpin­nya. Kalau pemimpinnya seorang yang rohani, maka mereka juga ikut menjadi rohani, sebaliknya kalau pemimpinnya brengsek, maka merekapun ikut menjadi brengsek.

Sekalipun dalam jaman Perjanjian Baru setiap orang percaya diberi Roh Kudus yang memimpin dia, tetapi pengaruh pemimpin rohani / pendeta tetap sangat besar terhadap kehidupan jemaat secara rohani, karena dialah yang mengajarkan Firman Tuhan kepada jemaat, dan mau tidak mau pengalaman rohaninya akan mempengaruhi pengajarannya. Ada orang yang berkata bahwa seorang pendeta tidak bisa membawa jemaatnya ke tingkat rohani yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Jadi, kalau pendetanya brengsek secara rohani, maka jemaatnya pasti juga akan menjadi brengsek. Karena itu, jangan berpendapat bahwa pergi ke gereja yang pendetanya sesat itu tidak apa-apa, toh kita berbakti kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Memang kita berbakti kepada Tuhan, tetapi kita juga memerlukan pertumbuhan rohani yang baik untuk bisa tetap mengikut Tuhan dengan setia, dan ini tidak bisa saudara dapatkan kalau pendeta saudara adalah orang yang dangkal rohaninya.

 

2)   Maleakhi berani menegur imam.

Imam adalah ‘utusan TUHAN’ dan pengajar Firman Tuhan karena  bangsa Israel belajar kepada imam.

Mal 2:7 - “Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam.

Tetapi Maleakhi tetap tidak takut menegur mereka. Maleakhi yakin akan otoritas yang diberikan Tuhan kepadanya, dan ia juga yakin akan kesalahan dari imam-imam itu. Karena itulah ia berani menegur imam.

 

Penerapan: Kalau saudara melihat ada ‘orang gede’ berbuat salah, baik dia itu gede dalam hal rohani (majelis, pendeta), maupun dalam hal duniawi (boss, pejabat), beranikah saudara menegur dia?

 

3)   Maleakhi mereformasi dari atas.

Kalau imam-imam bisa dibereskan kerohaniannya, maka dengan sendirinya rakyat juga akan beres.

 

Penerapan: Kalau saudara mau mereformasi gereja saudara, penekanan harus dilakukan untuk membereskan orang-orang yang ada  di ‘atas’ seperti Pendeta, majelis, guru sekolah minggu, pengurus komisi, dsb. Pikirkan, apa yang bisa saudara lakukan untuk mereformasi mereka? Mengajak berdiskusi? Membelikan buku rohani?

II) Dosa para imam.

 

1)   Persembahan yang salah.

Kata ‘roti’ dalam ay 7 mungkin mewakili semua persembahan yang bisa dimakan. Disini dikatakan ‘roti cemar’, yang jelas menunjukkan persembahan yang salah.

Demikian juga dalam ay 8 disebutkan persembahan yang salah yang lain, yaitu binatang buta, timpang, sakit, dan dalam ay 13 disebutkan binatang yang dirampas, timpang, sakit.

Istilah ‘binatang yang dirampas’ dalam ay 13 diterjemahkan secara bervariasi.

RSV: what has been taken by violence (= yang diambil dengan kekerasan).

NASB: what was taken by robery (= yang diambil dengan meram­pok).

NIV: injured (= terluka).

KJV: that which was torn (= yang dicabik-cabik).

Para penafsir berpendapat bahwa istilah ini menunjuk pada domba / kambing yang dirampas kembali oleh gembalanya dari binatang buas yang menerkamnya. Daripada dibuang, binatang yang sudah dicabik-cabik ini lalu dipersembahkan kepada Tuhan.

Kel 22:31 - “Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagiKu: daging ternak yang diterkam di padang oleh binatang buas, janganlah kamu makan, tetapi haruslah kamu lemparkan kepada anjing.’”.

Jadi, dalam Kel 22:31 ini dikatakan bahwa ‘binatang yang dirampas’ itu tidak boleh dimakan, tetapi harus diberikan kepada anjing. Tetapi ternyata mereka memberikannya kepada Tuhan!

Selanjutnya, dalam ay 14 disebutkan tentang orang yang bernazar akan memberikan binatang jantan, tetapi lalu mem­berikan binatang cacat.

Mengapa persembahan seperti ini salah?

 

a)   Karena Hukum Taurat melarang hal itu (Kel 12:5 Im 1:3,10 Im 22:18-25  Ul 15:21).

Semua ayat-ayat ini menunjukkan bahwa binatang yang diper­sembahkan kepada Tuhan harus selalu tidak bercacat / bercela. Ini bukan hanya karena mereka dituntut untuk mempersembahkan se-suatu yang bagus kepada Tuhan, tetapi juga karena binatang korban ini merupakan TYPE dari Kris­tus yang suci (1Pet 1:19).

 

b)         Gubernur saja akan menolak persembahan seperti itu (ay 8).

 

·        Kata ‘bupati’ dalam ay 8 seharusnya adalah ‘gubernur’.

 

·        Pada waktu mau memberikan sesuatu kepada Tuhan, baik itu berupa persembahan kita maupun pelayanan kita, kita memang harus mere­nungkan:

*        Kalau persembahan yang akan kita berikan kepada Tuhan itu kita berikan kepada manusia, apakah manusia itu mau menerimanya?

*        Kalau pelayanan yang akan kita lakukan bagi Tuhan itu kita lakukan bagi manusia, apakah manusia itu mau menerimanya?

Kalau manusia biasa saja menolak persembahan / pelayanan kita (karena menganggap sebagai penghinaan), bagaimana kita bisa memberikannya kepada Tuhan?

 

c)         Tuhan itu mahabesar (ay 11,14b).

Dalam ay 11 ada kata-kata ‘dipersembahkan korban bagi namaKu’. Kata ‘korban’ dalam ay 11 ini merupakan terjemahan yang salah. Terjemahan yang benar adalah ‘incense’ (= kemenyan / dupa). ‘Kemenyan’ dan ‘korban sajian yang tahir’ (ay 11) menggambarkan ibadah kepada Tuhan.

Pada saat itu di luar bangsa Israel, tidak ada bangsa yang menyembah Allah karena mereka semua menyembah berhala. Karena itu banyak penafsir menganggap bahwa ay 11,14 yang menunjukkan bahwa nama TUHAN itu populer di antara semua bangsa, sebagai sesuatu yang aneh. Ini menyebabkan mereka lalu menterjemahkan ay 11,14b ke dalam bentuk future tense (= bentuk akan datang). Dengan demikian kata-kata ini menjadi suatu nubuat. Nanti, bangsa-bangsa asing akan menyembah Tuhan.

Bagaimanapun juga, semua ini menunjukkan kebesaran Allah. Tetapi bangsa Israel memberikan persembahan binatang cacat kepada Tuhan yang mahabesar ini! Ini adalah suatu penghi­naan (ay 6)!

Hal yang selalu membuat seseorang tak menghormati Tuhan adalah tidak adanya kesadaran akan kebesaran Allah. Orang yang selalu menyadari kebesaran Allah pasti akan selalu menghormatiNya.

 

Penerapan:

Kalau saudara berdoa sebaiknya jangan selalu menyebut Tuhan dengan sebutan ‘Bapa’. Awas, saya tidak memaksudkan bahwa saudara tidak boleh menggunakan sebutan ‘Bapa’, tetapi saya memaksudkan untuk tidak selalu menyebut ‘Bapa’. Mengapa? Karena sebutan ‘Bapa’ hanya mengingatkan kita akan kasihNya kepada kita, dekatnya Dia dengan kita, dan pemeliharaanNya terhadap diri kita. Tetapi sebutan ‘Bapa’ ini tidak mengingatkan kita akan kebesaranNya. Sebaliknya, kalau kita menggunakan sebutan ‘Allah’ atau ‘Tuhan’ atau ‘Tuhan semesta alam’ atau ‘Allah yang mahakuasa’, maka sebutan-sebutan ini mengingatkan kita akan kebesaran Allah, se­hingga bisa menyebabkan kita menghormati Dia.

Kalau saudara melihat pada Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus, maka saudara bisa melihat bahwa kalimat perta­ma bukan hanya berbunyi ‘Bapa kami’, tetapi ‘Bapa kami yang di surga’ (Mat 6:9). Ini tujuannya supaya kita ingat bahwa sekalipun Ia memang adalah Bapa kita yang mengasihi kita, tetapi Ia juga adalah Allah yang bertahta di surga. Dengan demikian kita bisa mengingat kebesaran Tuhan dan menghormatiNya.

 

2)   Membiarkan rakyat memberikan persembahan yang salah.

Jadi, sebetulnya bukan imam-imam yang memberikan persembahan binatang yang cacat itu. Rakyat yang memberikan, tetapi imam-imam menerima persembahan yang salah itu. Seharusnya, imam-imam me-nolak persembahan seperti  itu. Ay 10 yang berbunyi: ‘Sekiranya ada di antara kamu yang menutup pintu ...’ jelas menunjukkan bahwa Tuhan sebetulnya menghen­daki imam-imam itu menolak persembahan yang salah itu. Tetapi imam-imam itu tak menolaknya tapi sebaliknya menerima persembahan binatang cacat itu. Karena itulah mereka berdosa!

Ini harus menjadi pelajaran bagi semua gereja Tuhan, untuk tidak dengan rakus menerima seadanya persembahan yang diberikan kepada gereja.

 

Misalnya:

·        beberapa waktu yang lalu ada gereja yang mau menerima persembahan dari SDSB! Ini betul-betul memalukan Tuhan!

·        banyak gereja mengecam orang yang merokok, tetapi anehnya kalau mencari sumbangan, mereka pergi ke pabrik rokok.

·        bagaimana kalau ada orang yang mempersembahkan hasil dosanya ke gereja sebagai ‘penebus dosa’, padahal orangnya sendiri tidak bertobat dari dosanya? Gereja yang mau menerima persembahan semacam ini, melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh para imam pada jaman Ma­leakhi!

·        bagaimana kalau ada orang kaya yang mau mempersembahkan jumlah besar, dengan syarat nama terangnya diumumkan sebagai pemberi persembahan tersebut? Mengumumkan nama terang dari orang yang memberi persembahan, memang merupakan praktek dari banyak gereja. Tetapi ini adalah praktek yang salah karena berten-tangan dengan Mat 6:2-4 (saya percaya bahwa ayat ini berlaku bukan hanya dalam persoalan memberi sedekah, tetapi juga dalam memberi persembahan. Alasannya, karena kontexnya, yaitu seluruh Mat 6:1-18, penekanannya adalah untuk tidak melakukan suatu tindakan yang baik sebagai suatu pameran supaya dilihat orang).

 

Ini juga harus menjadi pelajaran bagi setiap hamba Tuhan yang membiarkan begitu saja seadanya dosa dalam gereja. Hamba Tuhan wajib menegur jemaat yang berbuat dosa, dan bukannya membiarkannya begitu saja.

Pada jaman ini, sekalipun jemaat tidak lagi mempersembahkan binatang kepada Tuhan, tetap ada hal-hal tidak hormat yang bisa dilakukan oleh jemaat seperti:

¨      Memberikan persembahan Rp 25,- atau Rp 50,- dsb. Memang Tuhan menghargai dan mau menerima persembahan sedikit yang diberikan oleh orang miskin yang memang hanya bisa memberi sedikit (bdk. Luk 21:1-4). Tetapi ada banyak orang memberi sedikit, bukan karena mereka tidak punya uang, tetapi karena mereka kikir atau karena mereka tidak menghargai / menghormati Tuhan. Ini jelas adalah  dosa / penghinaan bagi Tuhan.

¨      Datang terlambat atau pulang terlalu pagi dalam kebaktian. Juga segala sikap-sikap yang tidak hormat dalam kebaktian, seperti: tidak ikut menyanyi tanpa alasan, mengantuk, melamun, berbicara satu dengan yang lain dsb.

¨      Membiarkan anak-anak kecil berlari-lari dan membuat keributan dalam kebaktian. Ini bukan sabar / kasih, tetapi tidak bisa / tidak berani mendisiplin!

¨      Menyebut nama Tuhan dengan sia-sia / sembarangan (bdk. Kel 20:7).

 

Adalah tugas dari semua hamba Tuhan dan majelis untuk menegur jema-at yang melakukan hal-hal tsb. Kalau hamba Tuhan membiarkan sikap / tindakan tak hormat itu, maka mereka melakukan kesalahan yang sama dengan imam-imam yang membiar­kan persembahan binatang cacat!

 

3)   Menganggap pelayanan sebagai beban yang berat.

Ay 13: ‘alangkah susah payahnya’.

NIV: what a burden! (= alangkah beratnya / betul-betul suatu beban!)

Ini menunjukkan bahwa mereka tidak melayani dengan sukacita, tetapi dengan hati yang berat. Apakah saudara juga seperti itu? Kalau ya, sadarilah bahwa Yesus sudah terlebih dahulu melayani saudara dengan cara mati disalib secara sukarela. Maukah sekarang saudara membalas kasih dan kebaikan Tuhan dengan melakukan pelayanan bagi Tuhan dengan sukacita?

 

4)   Memandang hina meja Tuhan (ay 12,13).

 

a)   Ay 12 menunjukkan dengan jelas bahwa mereka menghina meja Tuhan yang kudus!

 

b)   Dalam ay 13 ada kata-kata ‘dan kamu menyusahkan Aku’. Ini lagi-lagi salah terjemahan.

NIV: you sniff at it contemptuously.

Agak sukar untuk menterjemahkan bagian ini. Kata sniff berarti menyedot udara melalui hidung dengan cukup keras sehingga bisa didengar orang. Ini mereka lakukan dengan sikap menghina / merendahkan. Dan penghinaan ini mereka tujukan pada meja Tuhan dalam ay 12.

 

Penerapan:

·        apakah saudara sering memandang rendah pelayanan? Mungkin dengan melakukannya secara asal-asalan / tidak dengan sungguh-sungguh? Mungkin dengan menganggapnya tidak penting / tidak berguna? Jangan beranggapan bahwa pelayanan yang penting hanyalah pelayanan pendeta. Pelayanan saudara sebagai pemimpin liturgi / chairman, atau sebagai anggota komisi, atau sebagai organis, atau sebagai apapun juga yang lain, juga sangat penting! Kalau saudara menjadi chairman, dan saudara melakukannya dengan asal-asalan, dan saudara terus-menerus memilih lagu-lagu yang itu-itu saja, itu akan membuat puji-pujian dalam kebaktian menjadi suatu acara yang membosankan! Dan kalau ini terjadi, ini jelas akan mempengaruhi acara pemberitaan Firman Tuhannya! Karena itu, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan dengan sebaik mungkin!

·        jangan menghina / merendahkan apa yang kudus di hadapan Tuhan. Ada banyak orang yang bersikap seperti anjing dan babi yang tidak tahu menghargai barang yang kudus (bdk. Mat 7:6). Misalnya sikap tidak hormat terhadap Firman Tuhan, Baptisan, Perjamuan Kudus, dsb. Maukah saudara bertobat dari sikap-sikap semacam itu? Dan maukah saudara menasehati / menegur orang yang mempunyai sikap seperti itu?

III) Akibat dosa-dosa itu.

 

1)   Tuhan tidak berkenan kepada mereka (ay 10).

Ay 10: ‘Aku tidak suka kepada kamu’.

NIV: I am not pleased with you (= Aku tidak berkenan kepa­damu).

Sekalipun mulut mereka menyebut Tuhan / Bapa,  tapi tindakan mereka tidak hormat, bahkan menghina Tuhan, sehingga Tuhan tidak berkenan kepada mereka. Bahkan dalam ay 14 Tuhan menyebut mereka dengan menggunakan kata yang sangat keras yaitu ‘terkutuk’.

 

Penerapan:

·        Kalau saudara tidak bertobat dari sikap / tindakan yang tidak hormat kepada Tuhan, maka Tuhan juga tidak berkenan kepada saudara!

·        Bukan hanya sikap / tindakan tidak hormat, tetapi semua dosa membuat Tuhan tidak berkenan kepada kita. Karena itu buanglah semua dosa, tanpa kompromi!

 

2)   Tuhan tidak mau menerima persembahan mereka (ay 10).

Tuhan memang tidak pernah mau menerima persembahan dari orang yang hidupnya tidak berkenan kepada Tuhan  (Kej 4:3-5  Yes 1:11-15  Hos 6:6  Amos 5:21-24  Mat 5:23-24). Gereja / Pendeta / Majelis memang tidak bisa melihat kehidupan saudara, sehingga gereja / Pendeta / Majelis tetap menerima persembahan saudara. Tetapi Allah menolak persembah-an saudara yang hidupnya tidak berkenan kepada Dia, artinya Dia tidak akan senang dengan persembahan itu, dan tidak akan memberkati saudara karena persembahan yang saudara berikan itu.

Bandingkan ajaran Maleakhi tentang hal ini dengan ajaran dari banyak gereja jaman sekarang yang hanya menekankan persembahan / perpu-luhan, tanpa mempedulikan apakah hidup dari orang yang memberikan persembahan / persepuluhan itu berkenan kepada Tuhan atau tidak!

 

3)   Imam-imam tidak bisa berfungsi dalam pelayanannya (ay 9).

Kalau ay 9 diterjemahkan secara hurufiah ke dalam bahasa Inggris, maka terjemahannya adalah sebagai berikut:

“And now, intreat God’s face that he may favour us! By your hand has this been done. Will he on your account lift up the face?” (= Dan sekarang, mintalah dengan sangat pada wajah Allah agar Ia berkenan kepada kita. Oleh tanganmulah hal ini telah terjadi. Apakah demi engkau Ia mau mengangkat wajah?).

Kata-kata ‘by your hand has this been done’ (= oleh tangan­mulah hal ini telah terjadi) dalam ay 9b ini ditafsirkan 2 macam:

 

a)         Ini menunjuk pada persembahan binatang cacat.

NIV mengambil penafsiran ini, sehingga menterjemahkan: ‘with such offerings from your hands’ (= dengan persembahan seperti itu dari tanganmu).

 

b)   Ini menunjuk kepada tugas / fungsi / pelayanan imam-imam yaitu memperdamaikan manusia dengan Allah atau menjadi pengantara antara Allah dan manusia.

 

Saya lebih setuju dengan penafsiran yang kedua, karena penafsiran ini lebih cocok dengan seluruh kalimat ay 10 tersebut. Dan kalau ini benar, maka ay 9 ini bukanlah suatu seruan untuk bertobat, melainkan suatu ejekan. Dengan kata lain, Maleakhi berkata kepada para imam: ‘Bukankah tugasmu adalah mendamaikan Allah dengan manusia? Sekarang dengan adanya sikap tidak hormat kepada Allah dalam dirimu, coba­lah lakukan tugasmu itu! Kamu tidak mungkin bisa melakukan tugasmu itu!’. Jelaslah bahwa ay 9 ini menunjukkan bahwa imam-imam itu tidak bisa berfungsi lagi. Adanya dosa dalam diri mereka menyebabkan mereka tidak bisa melayani Tuhan.

 

Penerapan:

Jangan berharap pelayanan saudara bisa sukses, kalau saudara tidak betul-betul berusaha menyucikan diri!

Penutup:

 

Kita sudah melihat akibat dari sikap / tindakan tidak hormat kepada Allah. Karena itu, mulai saat ini ingatlah selalu untuk bersikap / bertindak hormat kepada Allah baik dalam hidup pribadi maupun dalam berbakti di gereja! Maukah saudara?

 

 

 

 

 -AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com