(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 21 Agustus 2022, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
kejatuhan Iblis?(1)
LUKAS 10:1-24 (12)
Luk 10:13-24 - “(13) ‘Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. (14) Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (15) Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! (16) Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.’ (17) Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: ‘Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi namaMu.’ (18) Lalu kata Yesus kepada mereka: ‘Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. (19) Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. (20) Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.’ (21) Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. (22) Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.’ (23) Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-muridNya tersendiri dan berkata: ‘Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. (24) Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.’”.
2) Tanggapan Yesus terhadap kegembiraan 70 murid itu (ay 18-20).
a) Ay 18: “Lalu kata Yesus kepada mereka: ‘Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.”.
Ada 2 penafsiran tentang arti ayat ini:
J. C. Ryle: “‘I beheld Satan as lightning fall, &c.’ There are two meanings assigned by commentators to these remarkable words. Some think that our Lord is speaking of the effect produced on Satan’s kingdom by the preaching of the seventy disciples: - ‘I saw in spirit, or with my mind’s eye, Satan’s power declining, and himself rapidly losing his dominion over men in consequence of your ministry.’ This is the view held by many modern commentators, but it does not seem satisfactory. The strong language used by our Lord will hardly admit of being explained and fined down by such an interpretation as this. Others think that our Lord is speaking of what He had witnessed when Satan and his angels fell from heaven, and were cast down into hell, because they kept not their first estate. ‘There was a time when I saw Satan, great and mighty as he was, fall suddenly from his high position, and become a lost spirit.’ This last interpretation appears to me far the more satisfactory of the two, and is that which is held by Cyprian, Ambrose, Chrysostom, Jerome, Gregory, Bede, Theophylact, Bernard, Erasmus, Pellican, Doddridge, Gill, and Alford.” [= ‘Aku melihat Iblis seperti kilat jatuh, dst’. Ada dua arti yang diberikan oleh para penafsir pada kata-kata yang luar biasa / patut diperhatikan ini. Sebagian orang berpikir bahwa Tuhan kita sedang berbicara tentang hasil yang dihasilkan terhadap kerajaan Iblis oleh pemberitaan dari 70 murid: - ‘Aku melihat dalam roh, atau dengan mata pikiranKu, kuasa Iblis menurun, dan dia sendiri secara cepat kehilangan kekuasaannya atas manusia sebagai akibat dari pelayananmu’. Ini adalah pandangan yang dipegang oleh banyak penafsir modern, tetapi itu kelihatannya tidak memuaskan / tidak bisa diterima. Bahasa / kata-kata yang kuat yang digunakan oleh Tuhan kita tidak menerima / mengijinkan untuk dijelaskan dan diperhalus oleh penafsiran seperti ini. Orang-orang lain berpikir bahwa Tuhan kita sedang berbicara tentang apa yang telah Ia saksikan pada waktu Iblis dan malaikat-malaikatnya jatuh dari surga, dan dibuang ke dalam neraka, karena mereka tidak menjaga posisi / kedudukan awal mereka. Di sana ada suatu saat pada waktu Aku melihat Iblis, yang besar dan kuat, jatuh secara mendadak dari posisi / kedudukannya yang tinggi, dan menjadi suatu roh yang terhilang’. Penafsiran terakhir ini kelihatan bagi saya jauh lebih memuaskan dari dua penafsiran ini, dan itu dipegang oleh Cyprian, Ambrose, Chrysostom, Jerome, Gregory, Bede, Theophylact, Bernard, Erasmus, Pellican, Doddridge, Gill, dan Alford.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke, Vol I’ (Libronix).
J. C. Ryle: “The application of our Lord’s words, assuming that He refers to Satan’s original fall, is differently explained. Theophylact, Heinsius, and Gill, consider that our Lord’s meaning was: ‘Marvel not that the devils are subject unto you, for I beheld their prince fall, and it is no wonder that his servants now fell before you.’ Cyprian, Jerome, Gregory, Bede, Erasmus, and Pellican, consider that our Lord’s intention was to warn the disciples against vain glory; ‘Be not puffed up because the devils are subject to you. Remember that Satan fell through pride, as I myself saw.’ I believe this last view to be the true one, and I think it is confirmed by St. Paul’s warning to Timothy, when he bids him not make a novice a Bishop, lest, ‘being lifted up with pride, he fall into the condemnation of the devil.’ (1 Tim. 3:6.)” [= Penerapan dari kata-kata Tuhan kita, dengan anggapan bahwa Ia merujuk pada kejatuhan pertama dari Iblis, dijelaskan secara berbeda. Theophylact, Heinsius, dan Gill, menganggap bahwa maksud Tuhan kita adalah: ‘Jangan heran bahwa setan-setan tunduk kepadamu, karena Aku melihat pangeran mereka jatuh, dan karena itu tidak heran bahwa pelayan-pelayannya sekarang jatuh di hadapanmu’. Cyprian, Jerome, Gregory, Bede, Erasmus, dan Pellican, menganggap bahwa maksud Tuhan kita adalah untuk memperingatkan murid-murid terhadap kemuliaan yang sia-sia; ‘Jangan sombong karena setan-setan tunduk kepadamu. Ingatlah bahwa Iblis jatuh melalui kesombongan, seperti yang Aku sendiri lihat’. Saya percaya pandangan terakhir ini adalah pandangan yang benar, dan saya berpikir itu diteguhkan oleh peringatan Santo Paulus kepada Timotius, pada waktu ia memintanya untuk tidak menjadikan seorang baru sebagai Uskup, supaya jangan ‘ditinggikan oleh kesombongan, ia jatuh dalam penghukuman setan’. (1Tim 3:6).] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke, Vol I’ (Libronix).
1Tim 3:6 - “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.”.
William Barclay: “When the Seventy returned they were radiant with the triumphs which they had achieved in the name of Jesus. Jesus said to them, ‘I saw Satan fall like lightning from heaven.’ That is a difficult phrase to understand. It can have two meanings. (1) It may mean, ‘I saw the forces of darkness and evil defeated; the citadel of Satan is stormed and the kingdom of God is on the way.’ It may mean that Jesus knew that the death-blow to Satan and all his powers had been struck, however long his final conquest might be delayed. (2) Equally well it may be a warning against pride. The legend was that it was for a pride which rebelled against God that Satan was cast out of heaven where once he had been the chief of the angels. It may be that Jesus was saying to the Seventy, ‘You have had your triumphs; keep yourselves from pride, for once the chief of all the angels fell to pride and was cast from heaven.’” [= Pada waktu 70 murid itu kembali mereka bersinar / menunjukkan sukacita dengan kemenangan-kemenangan yang telah mereka capai dalam nama Yesus. Yesus berkata kepada mereka, ‘Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari surga / langit’. Itu adalah suatu ungkapan yang sukar untuk dimengerti. Itu bisa mempunyai dua arti. (1) Itu bisa berarti, ‘Aku (telah) melihat kuasa-kuasa dari kegelapan dan kejahatan dikalahkan; benteng dari Iblis diserang dan kerajaan Allah ada dalam perjalanan’. Itu bisa berarti bahwa Yesus (telah) mengetahui bahwa pukulan mematikan kepada Iblis dan semua kuasa-kuasanya telah diberikan, betapapun lamanya penundukan terakhir bisa ditunda. (2) Secara sama baiknya itu bisa merupakan suatu peringatan terhadap kesombongan. Dongengnya adalah bahwa karena suatu kesombongan yang memberontak terhadap Allah maka Iblis dilemparkan keluar dari surga dimana ia pernah menjadi kepala dari malaikat-malaikat. Bisa saja bahwa Yesus sedang mengatakan kepada 70 murid itu, ‘Kamu telah mendapatkan kemenangan-kemenanganmu; jagalah dirimu dari kesombongan, karena kepala dari semua malaikat pernah jatuh pada kesombongan dan dilemparkan dari surga’.].
William Barclay: “Certainly Jesus went on to warn his disciples against pride and overconfidence.” [= Jelas / pasti Yesus melanjutkan untuk memperingati murid-muridNya terhadap kesombongan dan keyakinan yang berlebihan.].
Leon Morris (Tyndale): “It is not easy to see the meaning of the words, ‘I saw Satan fall like lightning from heaven.’ ... Probably in the mission of the seventy Jesus saw the defeat of Satan (his verb means ‘I was watching’, imperfect tense), a defeat as sudden and unexpected (to the forces of evil) as a flash of lightning. To the casual observer all that had happened was that a few mendicant preachers had spoken in a few small towns and healed a few sick folk. But in that gospel triumph Satan had suffered a notable defeat. Another view takes the words to refer to Satan’s fall which Jesus saw in pre-incarnation times. On this view the disciples are being warned not be proud as a result of their successful mission: they should remember that even Satan fell. But the former view is to be preferred.” [= Tidak mudah untuk melihat arti dari kata-kata, ‘Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari surga / langit’. ... Mungkin dalam missi dari 70 murid Yesus melihat kekalahan Iblis (kata kerjaNya berarti ‘Aku dulu sedang melihat / menonton’, imperfect tense), suatu kekalahan yang sama mendadak dan tak terduganya (bagi kekuatan-kekuatan dari kejahatan) seperti suatu kilatan dari petir / kilat. Bagi pengamat yang dangkal semua yang telah terjadi hanyalah bahwa beberapa pengkhotbah yang tergantung pada sedekah telah berbicara dalam beberapa kota-kota kecil dan menyembuhkan beberapa orang sakit. Tetapi dalam kemenangan injil itu Iblis telah menderita suatu kekalahan yang layak diperhatikan. Pandangan yang lain mengartikan bahwa kata-kata itu menunjuk pada kejatuhan Iblis yang Yesus lihat pada jaman sebelum inkarnasi. Pada pandangan ini murid-murid sedang diperingatkan untuk tidak sombong sebagai hasil dari missi mereka yang penuh kesuksesan: mereka harus mengingat bahwa bahkan Iblis jatuh. Tetapi pandangan yang terdahulu harus lebih dipilih.].
Catatan: jadi Leon Morris juga memberikan pandangan yang di atas diberikan oleh Barclay (tentang peringatan terhadap kesombongan), tetapi Leon Morris menolak pandangan itu.
Lenski: “When this occurred is not stated. Two periods deserve our attention: one, when Satan lost his first estate and was cast out of heaven; the other when he met his decisive defeat at the hands of Jesus at the time of the temptation in the wilderness. The latter is the better in every way. It is hard to conceive that Jesus is speaking of something that he beheld in his pre-existent state in heaven; he would hardly say regarding that, ‘I was beholding.’ He speaks as one who himself caused that fatal fall, who struck the blow that hurled the prince of evil down, as one who thus stood as victor and in triumph beheld him fall. Moreover, Jesus mentions this fall as the cause that the demons must now leave their victims when they are commanded by the disciples ‘in Jesus’ name’; this points decidedly to Jesus as being the cause of Satan’s fall.” [= Kapan ini terjadi tidak dinyatakan. Dua periode / masa layak mendapatkan perhatian kita: pertama, pada waktu Iblis kehilangan keadaannya yang mula-mula dan dilemparkan dari surga; yang lain pada waktu ia mengalami kekalahannya yang menentukan / meyakinkan pada tangan dari Yesus pada waktu pencobaan di padang gurun. Yang belakangan adalah lebih baik dalam setiap aspek. Adalah sukar untuk memikirkan bahwa Yesus sedang berbicara tentang sesuatu yang Ia lihat dalam keadaan pra-existensiNya di surga (sebelum inkarnasi); Ia pasti tidak mungkin berkata berkenaan dengan hal itu, ‘Aku dulu sedang melihat’. Ia berbicara sebagai seseorang yang diriNya sendiri menyebabkan kejatuhan yang fatal itu, yang melontarkan pukulan yang melemparkan pangeran kejahatan ke bawah, sebagai seseorang yang karena itu berdiri sebagai pemenang dan dalam kemenangan melihat ia jatuh. Selanjutnya / lebih lagi, Yesus menyebutkan kejatuhan ini sebagai penyebab sehingga setan-setan sekarang harus meninggalkan korban-korban mereka pada waktu mereka diperintah oleh murid-murid ‘dalam nama Yesus’; ini menunjuk secara meyakinkan kepada Yesus sebagai penyebab dari kejatuhan Iblis.].
IVP Bible Background Commentary: “Although the texts often cited today as describing Satan’s fall (Isa 14; Ezek 28:1) refer contextually only to kings who thought they were gods, much of Jewish tradition believed that angels had fallen (based especially on Gen 6:1-3). But the context and the imperfect tense of the Greek verb (‘I was watching’) may suggest that something altogether different is in view here: the self-proclaimed ruler of this age (Luke 4:6) retreating from his position before Jesus’ representatives. (One might compare, e.g., the Jewish tradition that the guardian angel of Egypt fell into the sea when God smote the Egyptians for Israel; the image of falling from heaven is usually not literal, e.g., Lam 2:1.)” [= Sekalipun text-text yang sering dikutip pada jaman sekarang sebagai menggambarkan kejatuhan Iblis (Yes 14; Yeh 28:1) secara kontextual hanya menunjuk kepada raja-raja yang berpikir / mengira bahwa mereka adalah allah-allah / dewa-dewa, banyak dari tradisi Yahudi percaya bahwa malaikat-malaikat telah jatuh (didasarkan secara khusus pada Kej 6:1-3). Tetapi kontext dan tensa imperfect dari kata kerja bahasa Yunani (‘Aku dulu sedang melihat / menonton’) bisa mengusulkan bahwa sesuatu yang sama sekali berbeda sedang dipertimbangkan di sini: penguasa yang memproklamirkan diri sendiri dari jaman ini (Luk 4:6) mundur dari posisinya di hadapan wakil-wakil Yesus. (Seseorang bisa membandingkan, misalnya tradisi Yahudi bahwa malaikat penjaga dari Mesir jatuh ke dalam laut pada waktu Allah memukul orang-orang Mesir bagi Israel; gambaran tentang jatuh dari surga / langit biasanya tidak bersifat hurufiah, misalnya, Rat 2:1).].
Kej 6:1-3 - “(1) Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, (2) maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. (3) Berfirmanlah TUHAN: ‘RohKu tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.’”.
Luk 4:6 - “Kata Iblis kepadaNya: ‘Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepadaMu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.”.
Rat 2:1 - “Ah, betapa Tuhan menyelubungi puteri Sion dengan awan dalam murkaNya! Keagungan Israel dilemparkanNya dari langit ke bumi. Tak diingatNya akan tumpuan kakiNya tatkala Ia murka.”.
William Hendriksen: “Of this passage there have been several interpretations: a. Jesus meant, ‘I saw Satan’s original fall, his expulsion from heaven.’ b. He meant, ‘In my victory over the devil during the wilderness temptation I saw his fall.’ The trouble with both of these interpretations is that they are not contextual. The right view is undoubtedly that expressed by Godet ... in these words: ‘(Jesus meant) While you were expelling the subordinates (the demons) I was seeing the master (Satan) fall.’ While in the present passage Jesus speaks about Satan’s sudden (note ‘like lightning’) fall - sudden and startling because the disciples had not expected this victory; perhaps even because the devil himself had not anticipated it - elsewhere the Master refers to the prince of evil’s ejection (his being cast out, John 12:31, 32), and this in connection with Christ’s own activity of drawing ‘all men’ to himself. To this falling and being cast out should be added one more symbolic expression, that of binding ‘the strong man,’ Beelzebul (Matt. 12:27, 29). In the interpretation of Rev. 20:1–3 we should certainly give these passages their due. A good exegetical rule is always to allow Scripture to interpret Scripture!” [= Tentang text ini disana ada beberapa penafsiran: a. Yesus memaksudkan, ‘Aku melihat kejatuhan mula-mula Iblis, pengusirannya dari surga’. b. Ia memaksudkan, ‘Dalam kemenanganKu atas Iblis selama pencobaan di padang gurun Aku melihat kejatuhannya’. Masalah dengan kedua penafsiran ini adalah bahwa mereka tidak kontextual. Pandangan yang benar yang tak diragukan adalah yang dinyatakan oleh Godet ... dalam kata-kata ini: ‘(Yesus memaksudkan) Sementara kamu sedang mengusir bawahan-bawahannya (setan-setan) Aku sedang melihat tuannya (Iblis) jatuh’. Sementara dalam text saat ini Yesus berbicara tentang kejatuhan yang mendadak dari Iblis (perhatikan ‘seperti kilat’) - mendadak dan mengejutkan karena murid-murid tidak mengharapkan kemenangan ini; mungkin bahkan karena Iblis sendiri tidak mengantisipasinya / mengharapkannya - di tempat lain sang Guru / Tuan menunjuk pada pengeluaran dari pangeran kejahatan (pengusirannya, Yoh 12:31,32), dan ini dalam hubungan dengan aktivitas Kristus sendiri yang menarik ‘semua orang’ kepada diriNya sendiri. Pada kejatuhan dan pelemparan keluar ini harus ditambahkan satu ungkapan simbolis lagi, yaitu tentang pengikatan ‘orang yang kuat’, Beelzebul (Mat 12:27,29). Dalam penafsiran dari Wah 20:1-3 kita pasti harus memberikan text-text ini apa yang layak mereka dapatkan. Suatu peraturan exegesis yang baik adalah selalu mengijinkan Kitab Suci untuk menafsirkan Kitab Suci!].
Yoh 12:31-32 - “(31) Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; (32) dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.’”.
Mat 12:27-29 - “(27) Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa siapakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. (28) Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. (29) Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah dapat ia merampok rumah itu.”.
Wah 20:1-3 - “(1) Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; (2) ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, (3) lalu melemparkannya ke dalam jurang maut, dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya.”.
Catatan: Tidak ada dari ketiga text di atas ini yang menunjuk pada kejatuhan awal dari Iblis.
Saya tidak ingat dalam video mana Erastus Sabdono pernah menggunakan ayat ini untuk menunjuk pada kejatuhan awal Iblis. Tetapi dia pasti pernah mengatakan itu. Dan terus terang, dulu saya sendiri berpikir seperti itu. Tetapi sekarang setelah mempelajari lebih dalam tentang ayat ini, saya berpendapat bahwa ayat ini tidak ada hubungannya dengan kejatuhan awal dari Iblis.
Hal pertama yang harus kita perhatikan kalau mau menafsirkan ayat ini, adalah kontextnya.
Kontextnya adalah pengutusan 70 murid oleh Yesus (Luk 10:1-16), dan kembalinya mereka dari pengutusan itu. Mereka kembali dengan gembira karena setan-setan tunduk kepada mereka, demi nama Yesus (ay 17)!
Luk 10:17-20 - “(17) Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: ‘Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi namaMu.’ (18) Lalu kata Yesus kepada mereka: ‘Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. (19) Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. (20) Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.’”.
Juga dari kontext, rasanya ay 19 itu tidak cocok kalau ay 18nya diartikan menunjuk pada kejatuhan awal dari Iblis.
Hal kedua yang harus kita perhatikan adalah kata ‘melihat’ yang saya cetak dengan huruf besar itu, yang dalam bahasa Yunaninya ada dalam Imperfect tense.
Karena ini digunakan oleh beberapa penafsir, maka di sini saya memberikan sedikit penjelasan lebih dulu berkenaan dengan hal ini.
Imperfect tense dalam bahasa Yunani.
Gresham Machen: “In Present time there is no special form of the verb in Greek to indicate continued action - there is no distinction in Greek between ‘I loose’ and ‘I am loosing’. But in the past time the distinction is made even more sharply than in English. The tense which in the indicative is used as the simple past tense is called the aorist. ... The tense which denotes continued action in past time is called the imperfect.” [= Dalam masa present tidak ada bentuk khusus dari kata kerja dalam bahasa Yunani untuk menunjukkan tindakan yang terus menerus - disana tak ada pembedaan dalam bahasa Yunani antara ‘I loose’ dan ‘I am loosing’. Tetapi dalam masa lampau pembedaan itu dibuat dengan lebih tajam dari pada dalam bahasa Inggris. Tense dalam mana bentuk indikatif digunakan sebagai past tense biasa disebut aorist. ... Tense yang menunjukkan tindakan yang terus berlangsung pada masa lampau disebut ‘the Imperfect’.] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 65.
Bandingkan Yoh 1:1 yang menggunakan imperfect tense, dan Yoh 1:14 yang menggunakan aorist tense. Lihat di Bible Works 8.
KJV/RSV/NIV/ASV menterjemahkan kata ‘melihat’ itu dalam past tense biasa (beheld / saw). NASB menterjemahkan secara lebih tepat, yaitu ‘was watching’. Juga YLT menterjemahkan ‘was beholding’.
Seandainya dalam bahasa Yunaninya digunakan aorist tense (past tense), maka adalah mungkin kalau Yesus memaksudkan kejatuhan awal dari Iblis. Tetapi karena yang digunakan adalah imperfect tense, maka tidak mungkin kejatuhan awal Iblis yang dimaksudkan oleh Yesus, karena kejatuhan awal itu hanya terjadi dalam sesaat!
Jadi, kata-kata Yesus dalam ay 18 ini berhubungan dengan pelayanan 70 murid ini, yang membuat kerajaan Iblis berantakan!
Ini seharusnya mendorong semua orang Kristen untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, sesuai panggilan Tuhan baginya.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali