Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 30 April 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

 

vs

 

Kristen Protestan (8c)

 

MARIA(3)

 

c)   Sekalipun Maria memang  pasti menderita waktu melihat Anaknya menderita di atas kayu salib, tetapi Kitab Suci tidak pernah berkata bahwa dengan penderitaannya itu, Maria juga menjadi penebus dosa.

Bahwa Maria, yang adalah manusia biasa dan berdosa, bisa menjadi Penebus dosa, merupakan ajaran yang bertentangan dengan Maz 49:8-9. Karena terjemahan Kitab Suci Indonesia dalam hal ini adalah salah, maka saya memberikan juga terjemahan dari NIV.

 

Maz 49:8-9 - (8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, (9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya -.

 

Maz 49:8-9 (NIV - Ps 49:7-8):

“(7) No man can redeem the life of another, or give to God a ransom for him; (8) the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” [= (7) Tidak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain, atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; (8) tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa mencukupi].

 

Kalau saudara berbicara dengan orang Roma Katolik tentang peng­geseran kedudukan Yesus oleh Maria, cerita di bawah ini mungkin bisa berguna bagi saudara (Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 143-144).

 

Seorang ex pastor dari Montreal, Kanada, yang menjadi seorang Pendeta Presbyterian, dalam bukunya yang berjudul ‘Fifty Years in the Church of Rome’ [= Limapuluh tahun dalam gereja Roma (Katolik)], hal 262, menceritakan percakapannya dengan uskupnya sebagai berikut:

 

“My lord, who has saved you and me upon the cross?”

He answered, “Jesus Christ.”

“And who paid your debt and mine by shedding His blood; was it Mary or Jesus?”

He said, “Jesus Christ.”

“Now, my lord, when Jesus and Mary were on earth, who loved the sinner more; was it Mary or Jesus?”

Again he answered that it was Jesus.

“Did any sinner come to Mary on earth to be saved?”

“No.”

“Do you remember that any sinner has gone to Jesus to be saved?”

“Yes, many.”

“Have they been rebuked?”

“Never.”

“Do you remember that Jesus ever said to poor sinners, ‘Come to Mary and she will save you’?”

“No,” he said.

“Do you remember that Jesus has said to poor sinners, ‘Come to me’?”

“Yes, He has said it.”

“Has He ever retracted those words?”

“No.”

“And who was, then, the more powerful to save sinners?” I asked.

“O, it was Jesus!”

“Now, my lord, since Jesus and Mary are in heaven, can you show me in the Scriptures that Jesus has lost anything of His desire and power to save sinners, or that He has delegated this power to Mary?”

And the bishop answered, “No.”

“Then, my lord,” I asked, “why do we not go to Him, and to Him alone? Why do we invite poor sinners to come to Mary, when, by your own confession she is nothing compared with Jesus, in power, in mercy, in love, and in compassion for the sinner?”

To that the bishop could give no answer.

 

Terjemahannya adalah sebagai berikut:

 

“Tuanku, siapa yang telah menyelamatkan kamu dan aku di salib?”

Ia menjawab: “Yesus Kristus”.

“Dan siapa yang telah membayar hutangmu dan hutangku dengan mencurahkan darahNya; Maria atau Yesus?”

Ia berkata: “Yesus Kristus”.

“Sekarang, tuanku, ketika Yesus dan Maria ada di bumi, siapa yang lebih mencintai orang berdosa; Maria atau Yesus?”

Lagi-lagi ia menjawab bahwa itu adalah Yesus.

“Pernahkah ada orang berdosa yang datang kepada Maria di bumi untuk diselamatkan?”

“Tidak”.

“Apakah engkau ingat bahwa ada orang berdosa yang telah pergi kepada Yesus untuk diselamatkan?”

“Ya, banyak”.

“Apakah mereka dimarahi?”

“Tidak pernah”.

“Apakah engkau ingat bahwa Yesus pernah berkata kepada orang- orang berdosa yang malang, ‘Datanglah kepada Maria and ia akan menyelamatkanmu’?”

“Tidak”, katanya.

“Apakah engkau ingat bahwa Yesus pernah berkata kepada orang- orang berdosa yang malang, ‘Datanglah kepadaKu’?”

“Ya, Ia telah mengatakan itu”.

“Apakah Ia pernah menarik kembali kata-kata ini?”

“Tidak”.

“Dan siapa yang pada saat itu lebih berkuasa untuk menyelamatkan orang berdosa?”, aku bertanya.

“O, itu adalah Yesus!”.

“Sekarang, tuanku, karena Yesus dan Maria ada di surga, bisakah engkau menunjukkan kepadaku dalam Kitab Suci bahwa Yesus telah kehilangan sedikitpun dari keinginan dan kuasaNya untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, atau bahwa Ia telah menyerahkan kuasa ini kepada Maria?”

Dan uskup itu menjawab, “Tidak”.

“Kalau demikian, tuanku”, aku bertanya, “mengapa kita tidak pergi kepada Dia, dan hanya kepada Dia saja? Mengapa kita mengundang orang-orang berdosa yang malang untuk datang kepada Maria, sedangkan menurut pengakuanmu sendiri ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Yesus, dalam kuasa, dalam belas kasihan, dalam kasih, dan dalam perasaan kasihan untuk orang berdosa?”

Terhadap pertanyaan ini uskup itu tidak bisa memberi jawaban.

 

Ada orang-orang Katolik yang merasa bahwa dirinya tidak mempunyai sikap / kepercayaan terhadap Maria seperti yang saya katakan dalam 7 nomer di atas ini. Tetapi kalau demikian, maka sebetulnya mereka bukan Katolik. Dan mengingat bahwa Gereja Katolik memang mengajarkan hal-hal tersebut di atas, dan mereka tidak mempercayainya, mengapa gerangan mereka tidak meninggalkan saja Gereja Katolik yang tidak mereka percayai ajarannya tersebut?

 

C) Maria dianggap sebagai perawan yang abadi.

 

Orang Roma Katolik bukan hanya mengakui bahwa Maria adalah seo­rang perawan pada waktu mengandung dan melahirkan Kristus, tetapi juga bahwa keperawanan Maria bersifat abadi. Dengan kata lain, setelah kelahiran Yesuspun Yusuf, suami Maria, tetap tidak pernah berhubungan sex dengan Maria.

 

Loraine Boettner berkata:

“Says one Roman Catholic writer concerning the Virgin Mary: ’It cannot with decency be imagined that the most holy vessel which was once consecrated to be a receptacle of the Deity should be afterwards desecrated and profaned by human usage.’” [= Kata seorang penulis Roma Katolik tentang Perawan Maria: ‘Tidak bisa dibayangkan dengan sopan bahwa tempat yang paling kudus / suci yang sekali pernah dikuduskan menjadi suatu wadah dari Allah lalu setelah itu dinajiskan / dinodai dan dicemarkan oleh penggunaan manusia’.] - ‘Roman Catholicism’, hal 158.

 

Encyclopedia Britannica: “A corollary that has been deduced from the doctrine of Mary’s virginity in the conception of Jesus is the doctrine of her perpetual virginity, not only in conception but in the birth of the child (i.e., she was exempt from the pain of childbirth) and throughout her life. This doctrine is found in the writings of the Church Fathers and was accepted by the Council of Chalcedon (451). It is part of the teaching of the Orthodox and Roman Catholic churches. Protestantism has generally accepted the Virgin Birth but not the notion of perpetual virginity.” [= Sebuah deduksi yang berasal dari doktrin keperawanan Maria dalam konsepsi Yesus adalah doktrin keperawanan abadinya, tidak hanya dalam konsepsi tetapi juga dalam kelahiran dari Anak itu (yaitu, dia terhindar dari rasa sakit bersalin) dan sepanjang hidupnya. Doktrin ini ditemukan dalam tulisan Para Bapa Gereja dan diterima oleh Sidang Gereja Chalcedon (451). Ini merupakan bagian dari ajaran gereja-gereja Orthodox dan Roma Katolik. Protestantisme umumnya menerima Kelahiran dari Perawan tetapi tidak menerima gagasan tentang keperawanan abadi.].

 

Bdk. KGK no 499.

 

(https://www.stignatiuspj.org/wp-content/uploads/2021/09/katekismus-gereja-katolik.pdf)

 

Bahwa Sidang Gereja Chalcedon tahun 451 memang menetapkan Maria sebagai perawan abadi, bisa dilihat dari: https://christiancourier.com/articles/the-alleged-perpetual-virginity-of-mary

 

Pandangan Kristen:

 

a)   Calvin percaya keperawanan abadi dari Maria.

 

Calvin (tentang Mat 13:55): “‘Is not this the carpenter’s son?’ It was, we are aware, by the wonderful purpose of God, that Christ remained in private life till he was thirty years of age. Most improperly and unjustly, therefore, were the inhabitants of Nazareth offended on this account; for they ought rather to have received him with reverence, as one who had suddenly come down from heaven. They see God working in Christ, and intentionally turn away their eyes from this sight, to behold Joseph, and Mary, and all his relatives; thus interposing a veil to shut out the clearest light. The word ‘brothers,’ we have formerly mentioned, is employed, agreeably to the Hebrew idiom, to denote any relatives whatever; and, accordingly, Helvidius displayed excessive ignorance in concluding that Mary must have had many sons, because Christ’s ‘brothers’ are sometimes mentioned.” [= ‘Bukankah Ia ini anak tukang kayu?’ Kami menyadari, oleh rencana ajaib / luar biasa Allah, bahwa Kristus tetap menjalani kehidupan pribadi sampai Ia berusia tiga puluh tahun. Karena itu, secara sangat tidak pantas dan tidak adil penduduk Nazaret tersinggung atas hal ini; karena seharusnya mereka memperlakukanNya dengan hormat / takut, sebagai seseorang yang tiba-tiba turun dari surga. Mereka melihat Allah bekerja dalam Kristus, namun dengan sengaja memalingkan mata dari pemandangan ini, untuk melihat Yusuf, dan Maria, dan semua kerabatNya; dengan demikian menempatkan sebuah tabir untuk menutupi cahaya yang paling jelas. Kata ‘saudara-saudara’, kami telah sebutkan sebelumnya, digunakan, sesuai dengan ungkapan bahasa Ibrani, untuk menunjukkan hubungan keluarga apapun; dan karena itu, Helvedius menunjukkan ketidak-tahuan / kebodohan yang berlebihan dalam menyimpulkan bahwa Maria pasti telah mempunyai banyak putra-putra, karena saudara-saudara Kristus kadang-kadang disebutkan.].

 

Calvin (tentang Mat 1:25): “‘And knew her not.’ This passage afforded the pretext for great disturbances, which were introduced into the Church, at a former period, by Helvidius. The inference he drew from it was, that Mary remained a virgin no longer than till her first birth, and that afterwards she had other children by her husband. Jerome, on the other hand, earnestly and copiously defended Mary’s perpetual virginity. Let us rest satisfied with this, that no just and well-grounded inference can be drawn from these words of the Evangelist, as to what took place after the birth of Christ. He is called first-born; but it is for the sole purpose of informing us that he was born of a virgin. It is said that Joseph knew her not till she had brought forth her first-born son: but this is limited to that very time. What took place afterwards, the historian does not inform us. Such is well known to have been the practice of the inspired writers. Certainly, no man will ever raise a question on this subject, except from curiosity; and no man will obstinately keep up the argument, except from an extreme fondness for disputation.” [= ‘Tetapi tidak bersetubuh dengan dia’. Text ini menyediakan alasan untuk gangguan / keributan yang besar, yang dimasukkan ke dalam Gereja, pada masa yang lebih awal, oleh Helvidius. Kesimpulan yang ia dapatkan darinya adalah bahwa Maria tetap tinggal sebagai perawan tidak lebih dari pada sampai ia melahirkan anak pertama, dan bahwa setelah itu ia mempunyai anak-anak lain dengan suaminya. Jerome, di sisi lain, dengan sungguh-sungguh dan dengan berlimpah-limpah mempertahankan keperawanan abadi dari Maria. Hendaklah kita puas dengan ini, bahwa bahwa tidak ada kesimpulan yang benar dan mempunyai dasar yang baik yang bisa ditarik dari kata-kata dari sang Penginjil ini, berkenaan dengan apa yang terjadi setelah kelahiran Kristus. Ia disebut anak sulung; tetapi itu adalah hanya untuk tujuan memberi informasi kepada kita bahwa Ia dilahirkan oleh seorang perawan. Dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan putra sulungnya: tetapi ini dibatasi pada saat itu saja. Apa yang terjadi setelahnya, sang sejarawan tidak memberi kita informasi. Demikianlah itu merupakan kebiasaan yang dikenal baik dari penulis-penulis yang diilhami. Pastilah tidak ada orang yang akan mempertanyakan tentang pokok ini, kecuali karena keingin-tahuan; dan tidak ada orang yang akan mempertahankan argumentasi itu dengan keras kepala, kecuali dari suatu kesenangan yang extrim untuk pertengkaran.].

 

Catatan: saya tidak setuju dengan Calvin!!!

 

b)   Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berbicara tentang saudara-saudara Yesus.

 

1.   Perjanjian Lama, dalam Maz 69:9 menubuatkan tentang Mesias / Yesus dengan kata-kata sebagai berikut: “Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku;”.

 

Catatan:

 

Bahwa Maz 69:9 memang merupakan nubuat tentang Mesias / Yesus, terlihat dari:

 

a.   Maz 69:10 - “sebab cinta untuk rumahMu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.”.

 

Bdk. Yoh 2:17 - Maka teringatlah murid-muridNya, bahwa ada tertulis: ‘Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku.’.

 

b.   Maz 69:22 - “Bahkan, mereka memberi aku makan racun (empedu), dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.”.

 

Catatan: Kata ‘racun’ dalam Maz 69:22 versi Kitab Suci Indonesia merupakan penterjemahan yang salah. Seharusnya adalah seperti NIV: ‘gall’ [= empedu]. Jadi nubuat ini tergenapi dalam Mat 27:34.

 

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

 

Mat 27:34 - Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya..

 

Mark 15:23 - Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepadaNya, tetapi Ia menolaknya..

 

Mat 27:48 - Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum..

 

Mark 15:36 - Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: ‘Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.’.

 

Yoh 19:28-30a - (28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci -:Aku haus! (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’.

 

Jadi Maz 69:22a digenapi dalam Mat 27:34 / Mark 15:23, dan Maz 69:22b digenapi dalam Mat 27:48 / Mark 15:36 / Yoh 19:29-30.

 

2.   Perjanjian Baru juga berkata bahwa Yesus mempunyai saudara-saudara (Mat 13:54-56  Yoh 7:2-10  Kis 1:14). Dan Luk 2:7 menyebut Yesus sebagai ‘anak sulung.

 

Mat 13:54-56 - (54) Setibanya di tempat asalNya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: Dari mana diperolehNya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? (55) Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? (56) Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehNya semuanya itu?.

 

Yoh 7:2-10 - (2) Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. (3) Maka kata saudara-saudara Yesus kepadaNya: ‘Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-muridMu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. (4) Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diriMu kepada dunia.’ (5) Sebab saudara-saudaraNya sendiripun tidak percaya kepadaNya. (6) Maka jawab Yesus kepada mereka: ‘WaktuKu belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu. (7) Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat. (8) Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktuKu belum genap.’ (9) Demikianlah kataNya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea. (10) Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam..

 

Kis 1:14 - Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus..

 

Catatan: dalam 3 text di atas ini semua kata ‘saudara’ diterjemahkan dari kata Yunani ADELPHOS, yang artinya memang adalah ‘saudara’.

 

Luk 2:6-7 - (6) Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, (7) dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan..

 

Adam Clarke (tentang Mat 13:55): “‘Is not his mother called Mary, and his brethren, James, and Joses, and Simon, and Judas?’ This insulting question seems to intimate that our Lord’s family was a very obscure one; and that they were of small repute among their neighbours, except for their piety. It is possible that brethren and sisters may mean here near relations, as the words are used among the Hebrews in this latitude of meaning; but I confess it does not appear to me likely. Why should the children of another family be brought in here to share a reproach which it is evident was designed for Joseph the carpenter, Mary his wife, Jesus their son, and their other children? Prejudice apart, would not any person of plain common sense suppose, from this account, that these were the children of Joseph and Mary, and the brothers and sisters of our Lord, according to the flesh? It seems odd that this should be doubted; but, through an unaccountable prejudice, Papists and Protestants are determined to maintain as a doctrine, that on which the Scriptures are totally silent, namely the perpetual virginity of the mother of our Lord.” [= ‘Bukankah ibuNya bernama Maria, dan saudara-saudaraNya, Yakobus, dan Yoses, dan Simon, dan Yudas?’ Pertanyaan yang menghina ini kelihatannya menunjukkan bahwa keluarga Tuhan kita adalah keluarga yang sangat tidak menonjol; dan bahwa mereka mempunyai reputasi yang rendah di antara tetangga mereka, kecuali untuk kesalehan mereka. Adalah mungkin bahwa ‘saudara-saudara’ dan ‘saudari-saudari’ bisa berarti di sini keluarga dekat, seperti kata-kata itu biasanya digunakan di antara orang-orang Ibrani dalam ruang lingkup arti ini; tetapi saya akui bagi saya itu kecil kemungkinannya. Mengapa anak-anak dari keluarga yang lain dibawa masuk ke sini untuk ambil bagian dalam suatu celaan yang jelas dirancang untuk Yusuf si tukang kayu, Maria istrinya, Yesus anaknya, dan anak-anak mereka yang lain? Terpisah dari prasangka, tidakkah orang manapun dengan akal sehat yang sederhana, menganggap dari cerita ini, bahwa ini adalah anak-anak dari Yusuf dan Maria, dan saudara-saudara dan saudari-saudari dari Tuhan kita, menurut daging? Kelihatannya aneh bahwa ini diragukan; tetapi, melalui suatu prasangka yang tidak bisa dijelaskan, orang-orang Katolik dan Protestan berketetapan untuk mempertahankan sebagai suatu doktrin, yang tentangnya Kitab Suci sama sekali diam, yaitu keperawanan abadi dari ibu Tuhan kita.].

 

Gereja Roma Katolik menafsirkan kata ‘saudara’ sebagai ‘saudara sepupu’.

 

Loraine Boettner: The Roman Catholic Church attempts to explain these away as cousins, and therefore not children of Joseph and Mary at all. [= Gereja Roma Katolik berusaha menjelaskan hal ini sebagai ‘saudara sepupu’, dan oleh karena itu bukan anak-anak Yusuf dan Maria sama sekali.] - ‘Roman Catholicism’, hal 157.

 

Kata ‘saudara’ dalam ayat-ayat ini tidak bisa diartikan ‘sauda­ra sepupu’ seperti yang ditafsirkan oleh gereja Roma Katolik, karena:

 

a.   Dalam bahasa Yunani, ‘saudara sepupu’ mempunyai istilahnya  sendiri, yaitu yang digunakan dalam Kol 4:10.

 

Kol 4:10 - Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan (Yunani: ANEPSIOS) Barnabas - tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu-.

 

Catatan: kata ‘kemenakan’ dalam Kol 4:10 versi Kitab Suci Indonesia adalah penterjemahan yang salah, karena seharusnya adalah ‘saudara sepupu’. Dan KJV/YLT sama salahnya dengan LAI.

KJV: “sister’s son” [= anak saudara perempuan / kemenakan].

YLT: “nephew” [= kemenakan].

RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘cousin’ [= saudara sepupu].

 

Kata Yunani untuk ‘saudara’ adalah ADELPHOS, sedangkan untuk ‘saudara sepupu’ adalah ANEPSIOS.

 

b.   Tidak cocok dengan nubuat tentang Mesias / Yesus dalam Maz 69:9 di atas karena disana saudara-saudara Yesus itu disamakan dengan ‘anak-anak ibuku’.

 

Maz 69:9 - “Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku;”.

 

Tetapi Katekismus Gereja Katolik no 500 memberikan penafsiran yang berbeda, yang lebih tidak masuk akal lagi, yaitu bahwa yang disebut ‘saudara-saudara Yesus’ adalah anak-anak laki-laki dari ‘Maria yang lain’ (Mat 28:1).

 

Mat 28:1 - Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu..

 

Tafsiran ini betul-betul tidak masuk akal kalau dibandingkan dengan Mat 13:55-56.

 

Mat 13:55-56 - (55) Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? (56) Dan bukankah saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperolehNya semuanya itu?’.

 

‘Maria yang lain’ dalam Mat 28:1 itu adalah ‘Maria istri Klopas (Yoh 19:25), dan ia tidak ada hubungan keluarga apapun dengan Maria ibu Yesus. Lalu mengapa dalam text ini ‘anak-anak dari Maria yang lain’ itu digabungkan dengan keluarga Yesus???

 

Yoh 19:25 - Dan dekat salib Yesus berdiri ibuNya dan saudara ibuNya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena..

 

c)   Dalam Mat 1:24-25 dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir.

 

Mat 1:24-25 - (24) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, (25) tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus..

 

Sekarang pikirkan sendiri bagaimana saudara menggunakan kata ‘sampai’. Kalau misalnya dikatakan bahwa kita libur sampai tanggal 1 Januari, maka bukankah itu berarti bahwa setelah itu kita tidak lagi libur? Jadi, kalau dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir, ini berarti bahwa sesudah kelahiran Yesus mereka hidup sebagai suami istri biasa / bersetubuh.

 

d)   Dalam 1Kor 7:5 Allah justru melarang suami istri untuk melaku­kan ‘puasa sex’ terlalu lama.

 

1Kor 7:3-5 - “(3) Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. (4) Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. (5) Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak..

 

Karena itu tidak mungkin Allah lalu melarang Yusuf dan Maria melakukan puasa sex abadi!

 

e)   Tidak ada perlunya / gunanya mempertahankan keperawanan Maria setelah Yesus lahir. Kristus memang harus lahir dari seorang perawan untuk menggenapi Yes 7:14 dan supaya Yesus bisa lahir tanpa dosa. Tetapi setelah Yesus lahir, keperawanan Maria itu tidak lagi perlu dipertahankan.

 

f)    Doktrin tentang keperawanan abadi dari Maria lagi-lagi merupakan ajaran yang sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci! Kata-kata dari penulis Roma Katolik yang dikutip oleh Loraine Boettner di atas, hanya muncul dari logika orang yang sentimentil, dan bukan saja tidak punya dasar Kitab Suci sama sekali, tetapi bahkan bertentangan dengan Kitab Suci.

 

D) Immaculate Conception / Lahir dan hidup tanpa dosa.

 

Doktrin ini dikeluarkan oleh Paus Pius IX tanggal 8 Desember 1854, dan artinya adalah:

1.   Maria dikandung dan lahir tanpa dosa asal.

2.   Maria juga tidak berbuat dosa dalam sepanjang hidupnya.

3.   Maria bahkan dianggap sebagai ‘tidak bisa berbuat dosa’ (NON POSSE PECCARE [= not possible to sin / tidak mungkin berbuat dosa].

 

Bdk. KGK no 490,491,492,493.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali