(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 20 Februari 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
3. Apa kata Tuhan Yesus / Kitab Suci tentang tradisi?
a. Dalam Mat 15:3,6,9 Tuhan Yesus menyerang tradisi yang diutamakan lebih dari Firman Allah.
Mat 15:3,6,9 - “(3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ‘Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? ... (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. ... (9) Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.’”.
Catatan: Kata-kata ‘adat istiadat nenek moyangmu’ (ay 3) dan ‘adat istiadatmu’ (ay 6) diterjemahkan: ‘your tradition’ [= tradisimu] oleh KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV/YLT.
b. Dalam Mat 5:21-48 Tuhan Yesus menyerang dan membetulkan penafsiran ahli-ahli Taurat (yang sudah menjadi tradisi) tentang Perjanjian Lama.
Dalam Mat 5:21-48 ini ada 2 hal yang harus dibahas:
(1) Terjemahan yang salah dari Kitab Suci Indonesia.
Ay 21: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.”.
KJV/RSV/NIV/Lit: ‘it was said’ [= dikatakan].
Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ‘difirmankan’. Penggunaan kata ‘firman’ menunjukkan bahwa itu merupakan kata-kata Allah / Perjanjian Lama, dan ini salah.
Kalau Yesus mengutip Perjanjian Lama, maka istilah yang biasa digunakan adalah:
(a) ‘Ada tertulis’ (It is written / It has been written), seperti dalam Mat 4:4,7,10.
(b) ‘Tidakkah kamu baca’, seperti dalam Mat 12:3,5 Mat 19:4 Mat 22:31.
Sebetulnya terjemahannya adalah ‘it was said’ [= dikatakan], seperti dalam Kitab Suci bahasa Inggris, dan ini tidak menunjuk pada kata-kata Allah, tetapi pada kata-kata / ajaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Hal yang sama terjadi pada ay 27,31,33,38,43.
2) Dalam ay 21-48 Yesus memberikan exposisi / penafsiranNya tentang hukum Taurat, dan mengkontraskannya dengan penafsiran / ajaran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Perbedaan utama adalah bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi selalu memberikan penafsiran hurufiah, dan hanya memperhatikan tindakan lahiriah, sedangkan Yesus memberikan arti sebenarnya dan menekankan juga hati, pikiran, motivasi dan keinginan seseorang (seperti dalam ay 21-26, 27-28).
Tetapi ada juga bagian dimana ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu menggunakan tradisi mereka yang sama sekali tidak ada dalam Kitab Suci (seperti dalam ay 43), atau memberikan penerapan yang salah tentang Perjanjian Lama (seperti dalam ay 31,33,38).
c. Dalam Kol 2:8 Paulus memperingatkan untuk tidak menuruti ‘ajaran turun-temurun’ [KJV/NASB/ASV/NKJV: ‘the tradition of men’ {= tradisi manusia}; RSV/NIV: ‘human tradition’ {= tradisi manusia}] yang tidak sesuai dengan Kristus.
4. Orang Kristen Protestan dan tradisi.
Orang Kristen Protestan juga mempunyai dan menggunakan tradisi, seperti:
a. Cerita tentang kematian Petrus.
Cerita ini tidak ada dalam Kitab Suci tetapi banyak penulis menuliskannya (https://www.britannica.com/question/How-did-St-Peter-die).
Dikatakan bahwa suatu kali ada penganiayaan dan pembunuhan besar-besaran terhadap orang kristen di Yerusalem. Petrus lalu lari meninggalkan Yerusalem, tetapi ditengah perjalanan Yesus menampakkan diri kepadanya dan bertanya: ‘Mau kemana Petrus?’. Petrus menjawab: ‘Tuhan, semua orang kristen dibunuhi. Kalau aku tidak lari, aku juga akan dibunuh dan gereja akan kehilangan pemimpin’. Yesus lalu berkata: ‘Baiklah Petrus, larilah terus. Biarlah Aku yang pergi ke Yerusalem untuk disalibkan untuk keduakalinya’. Mendengar kata-kata Yesus ini Petrus menangis dan berkata: ‘Tidak Tuhan, sudah cukup Engkau disalibkan satu kali untuk aku, biarlah sekarang aku yang disalibkan untuk engkau!’. Dan ia lari kembali ke Yerusalem, sehingga akhirnya ia ditangkap. Pada waktu ia mau disalibkan, ia berkata: ‘Aku tidak layak mati seperti Tuhanku. Salibkan aku dengan kepala di bawah’. Dan akhirnya Petruspun mati syahid dengan disalibkan secara terbalik.
b. 12 Pengakuan Rasuli, Pengakuan Iman Nicea.
Tetapi dalam Kristen Protestan, tradisi-tradisi itu diletakkan di bawah Kitab Suci dan tradisi-tradisi itu tidak dianggap mutlak benar.
1) Keselamatan karena iman saja atau karena iman + perbuatan baik?
Dalam ajaran Roma Katolik seseorang selamat karena iman + perbuatan baik + gereja Roma Katolik.
Mereka memang menekankan perlunya iman. Tetapi bukan ‘hanya iman’, karena ‘perbuatan baik’ dan ‘gereja Roma Katolik’ punya andil dalam keselamatan seseorang. Ini terlihat dari:
a) Ajaran Roma Katolik tentang dosa.
Roma Katolik mempercayai adanya venial sin [= dosa ringan / remeh] dan mortal sin [= dosa besar / mematikan].
Yang pertama mereka anggap sebagai dosa kecil / remeh, yang tidak diakuipun tidak apa-apa.
Dalam ‘Catechism of the Catholic Church’ 1992, dikatakan (No 1458): “Without being strictly necessary, confession of everyday faults (venial sins) is nevertheless strongly recommended by the Church.” [= Tanpa mengatakan bahwa ini diharuskan secara ketat, bagaimanapun pengakuan dari kesalahan-kesalahan setiap hari (dosa-dosa remeh / ringan) dianjurkan secara kuat oleh Gereja.].
Yang kedua mereka anggap sebagai dosa yang hebat, yang bisa menjatuhkan seseorang dari kasih karunia Allah / keselamatan.
Dengan demikian, kalau seseorang mau selamat ia harus menghindari mortal sin ini, dan ini menunjukkan bahwa usaha / ketaatan / perbuatan baik manusia berperan dalam keselamatan seseorang.
Catatan: Berdasarkan ayat-ayat seperti Yoh 19:11 Luk 12:47-48 Ibr 10:28-29 maka terlihat dengan jelas akan adanya tingkat dosa.
Yoh 19:11 - “Yesus menjawab: ‘Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.’”.
Luk 12:47-48 - “(47) Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. (48) Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.’”.
Ibr 10:28-29 - “(28) Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. (29) Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?”.
Tetapi Kitab Suci tidak pernah mengajarkan adanya:
1. Dosa yang begitu remeh sehingga tidak perlu diakui. Semua dosa upahnya adalah maut (Ro 6:23)!
Ro 6:23 - “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”.
2. Dosa yang begitu besar / hebat sehingga menghancurkan keselamatan kita! Bdk. Yes 1:18 1Yoh 1:9 1Yoh 2:1-2.
Yes 1:18 - “Marilah, baiklah kita berperkara! - firman TUHAN - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”.
1Yoh 1:9 - “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”.
1Yoh 2:1-2 - “(1) Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. (2) Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.”.
Ingat bahwa dalam Kristen Protestan, kita diselamatkan karena iman kepada Yesus, bukan karena perbuatan baik kita (Ef 2:8-9).
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.
Kalau kita jatuh ke dalam dosa, maka kita perlu ingat bahwa darah Kristus yang dicurahkan di atas kayu salib itu mempunyai kuasa lebih dari cukup untuk mengampuni dosa yang bagaimanapun besarnya!
b) Ajaran Roma Katolik tentang baptisan.
Roma Katolik beranggapan bahwa baptisan betul-betul melahirbarukan dan menyelamatkan seseorang, tetapi baptisan itu harus dilakukan di gereja Roma Katolik (ajaran Roma Katolik yang asli tidak mengakui gereja lain sebagai gereja yang benar!).
Ini menunjukkan bahwa usaha manusia (untuk dibaptis) dan juga gereja Katoliknya sendiri (dimana baptisan itu harus dilakukan), mempunyai andil yang sangat vital / besar dalam keselamatan seseorang.
c) Kata-kata Council of Trent yang mengutuk orang yang mempercayai ‘pembenaran oleh iman saja’ (justification by faith alone).
Council of Trent, Chapter XVI, Canon IX: “If any one saith that by faith alone the impious is justified in such wise as to mean, that nothing else is required to co-operate in order to the obtaining of the grace of justification, and that it is not in any way necessary, that he be prepared and disposed by the movement of his own will: let him he anathema.” [= Jika seseorang berkata bahwa oleh iman saja orang jahat dibenarkan, dan mengartikan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dibutuhkan untuk bekerja sama supaya mendapatkan kasih karunia pembenaran, dan bahwa tidak dibutuhkan dalam hal apapun bahwa ia disiapkan dan diatur / dicondongkan oleh gerakan kehendaknya sendiri: terkutuklah dia.] - Louis Berkhof, ‘Systematic Theology’, hal 512.
Canon XXIV: “If any one saith, that the justice received is not preserved and also increased before God through good works; but that the said works are merely the fruits and signs of justification obtained, but not a cause of the increase thereof: let him he anathema.” [= Jika seseorang berkata bahwa pembenaran yang diterima itu tidak dipelihara dan juga ditingkatkan di hadapan Allah melalui perbuatan baik; tetapi bahwa perbuatan baik yang disebutkan tadi semata-mata merupakan buah dan tanda / bukti dari pembenaran yang didapatkan, tetapi bukan suatu penyebab dari peningkatan itu: terkutuklah dia.] - Louis Berkhof, ‘Systematic Theology’, hal 512.
Dalam ajaran Kristen Protestan (yang asli, bukan yang sudah menjadi Liberal), seseorang selamat hanya karena iman (SOLA FIDE / Only Faith [= hanya iman]. Perbuatan baik sedikitpun tidak berperan dalam keselamatan kita!
Untuk mengetahui yang mana yang benar, mari kita melihat pada Kitab Suci yang menunjukkan bahwa:
1. Penjahat yang bertobat / beriman pada saat terakhir hidupnya, tetap masuk surga sekalipun tidak pernah pergi ke gereja ataupun dibaptis, dan bahkan hampir tidak pernah berbuat baik dalam sepanjang hidupnya (Luk 23:43).
2. Ef 2:8,9 Gal 2:16 Ro 3:24,27-28 menunjukkan bahwa kita selamat / dibenarkan hanya karena iman.
3. Gal 3:2,14 menunjukkan bahwa kita menerima Roh Kudus karena iman.
4. Kis 15:1-21 menunjukkan bahwa kita bisa selamat karena iman saja, bukan karena sunat atau ketaatan pada hukum-hukum Musa.
5. Dalam Yoh 19:30 Yesus berkata ‘sudah selesai’. Ini menunjukkan bahwa keselamatan kita sudah Ia selesaikan, sehingga kita tidak perlu berusaha apa-apa lagi! Kita hanya menerima keselamatan itu dengan iman!
KESIMPULAN:
Kita selamat hanya karena iman kepada Yesus Kristus. Perbuatan baik hanya merupakan bukti iman, dan kalau perbuatan baik itu tidak ada maka iman itu sebetulnya mati / tidak ada (Yak 2:17,26), tetapi bagaimanapun juga, perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam keselamatan kita.
Illustrasi:
Orang sakit ® obat ® sembuh ® bisa berolah raga.
Orang berdosa ® iman ® selamat ® berbuat baik.
Keterangan:
Orang sakit bisa sembuh karena obat, bukan karena olah raga. Tetapi bukti bahwa ia sudah sembuh adalah bahwa ia bisa berolah raga kembali. Kalau seseorang mengaku sudah minum obat dan sudah sembuh tetapi tetap tidak bisa berolahraga, maka itu menunjukkan bahwa pengakuannya dusta. Jadi sebetulnya ia belum sembuh, dan juga belum minum obat.
Analoginya: orang berdosa bisa selamat karena iman kepada Yesus Kristus, bukan karena berbuat baik. Tetapi bukti bahwa ia sudah selamat adalah bahwa ia lalu berbuat baik. Kalau seseorang mengaku sudah beriman kepada Yesus dan sudah selamat tetapi ia sama sekali tidak mempunyai perbuatan baik / ketaatan kepada Tuhan, maka itu menunjukkan bahwa pengakuannya itu dusta. Jadi sebetulnya ia belum selamat dan belum percaya dengan sungguh-sungguh.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali