(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 13 Februari 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
5) Karena kota Roma adalah ibukota kekaisaran Romawi, maka bishop [= uskup] Roma makin lama makin kuat kedudukannya, dan pada tahun 445 M, Kaisar Valentinian memutuskan bahwa semua bishop harus tunduk pada bishop Roma. Ini mengarah pada timbulnya Paus dan munculnya Roma sebagai pusat Roma Katolik.
6) Penyelewengan yang menjadi-jadi pada abad 16, akhirnya menimbulkan Reformasi oleh Martin Luther (1517) dan lalu disusul oleh Zwingli, John Calvin, dan John Knox.
Reformasi ini bertujuan untuk memanggil orang-orang untuk ‘kembali pada Alkitab’ (back to the bible). Dari istilah / semboyan ‘kembali pada Alkitab’ ini sebetulnya sudah jelas bahwa para tokoh reformasi menganggap Roma Katolik sebagai kristen yang sudah menyimpang dari Alkitab. Kalau tidak menyimpang, mengapa harus kembali pada Alkitab?
Kesimpulan:
Kristen Protestan bukanlah agama / ajaran baru yang memberontak dari Roma Katolik, tetapi ajaran yang kembali kepada kekristenan yang lama / mula-mula, yang sudah ada sejak abad pertama!
Seperti yang dikatakan oleh Loraine Boettner:
“Roman Catholics often attempts to represent Protestantism as something comparatively new, as having originated with Martin Luther and John Calvin in the sixteenth century. ... Protestantism as it emerged in the 16th century was not the beginning of something new, but a return to Bible Christianity and to the simplicity of the Apostolic church from which the Roman Church had long since departed.” [= Orang Roma Katolik sering mencoba untuk menunjukkan / menggambarkan Protestanisme sebagai sesuatu yang baru, yang berasalmula dengan Martin Luther dan John Calvin pada abad ke 16. ... Protestanisme yang muncul pada abad ke 16 bukanlah permulaan dari sesuatu yang baru, tetapi pengembalian pada kekristenan Alkitab dan pada kesederhanaan gereja rasuli dari mana gereja Roma sudah sejak lama menyimpang.] - ‘Roman Catholicism’, hal 1.
Ia melanjutkan lagi:
“Protestantism, therefore, was not a new religion, but a return to the faith of the early church. It was Christianity cleaned up, with all the rubbish that had collected during the Middle Age thrown out.” [= Karena itu, protestanisme bukanlah suatu agama baru, tetapi suatu pengembalian pada iman dari gereja mula-mula. Itu adalah kekristenan yang dibersihkan, dengan dibuangnya semua sampah / kotoran yang terkumpul selama abad pertengahan.] - ‘Roman Catholicism’, hal 12.
Untuk lebih jelasnya, lihatlah gambar di bawah ini (hal 5).
![]()
Kristen Protestan


Reformasi
1517
penyimpangan2 sehingga
menimbulkan Roma Katolik
![]()
Kristen mula2
Sebelum kita membahas perbedaan dasar Roma Katolik dan Kristen Protestan, ada satu hal yang perlu diketahui.
Loraine Boettner berkata bahwa ajaran dan praktek Roma Katolik di negara-negara dimana Katolik adalah golongan minoritas berbeda dengan Roma Katolik aslinya, atau dengan Roma Katolik di negara-negara dimana Roma Katolik merupakan golongan mayoritas, karena di negara-negara dimana mereka merupakan golongan minoritas mereka mengadakan kompromi-kompromi untuk menyesuaikan diri. Kalau kita mau melihat Roma Katolik yang sesungguhnya, kita harus melihatnya pada abad pertengahan, atau melihatnya sekarang di negara-negara seperti Spanyol, Portugal, Italia, Perancis, Irlandia Selatan dan Amerika Latin, dimana mereka berkuasa dalam politik maupun gereja - ‘Roman Catholicism’, hal 3.
Dengan mengingat satu hal itu, sekarang mari kita melihat perbedaan dasar antara Roma Katolik dengan Kristen Protestan.
Secara teoritis, baik Roma Katolik maupun Kristen Protestan, mempercayai bahwa Alkitab adalah Firman Allah, tetapi:
1) Dalam Kristen Protestan:
a) Alkitab adalah untuk semua orang. Orang kristen harus memiliki dan membaca Alkitab dengan rajin dan tekun!
b) Hanya Alkitab (Sola Scriptura) yang merupakan dasar hidup, iman dan gereja.
2) Dalam Roma Katolik:
a) Alkitab bukan untuk orang awam (ini bertentangan dengan Maz 1:1-2 Kis 17:11).
Maz 1:1-2 - “(1) Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, (2) tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”.
Kis 17:11 - “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”.
Bahwa dalam Roma Katolik orang awam memang dilarang untuk membaca, bahkan untuk memiliki Alkitab, terlihat dari:
1. Keputusan Council of Valencia pada tahun 1229, yang berbunyi sebagai berikut: “We prohibit also the permitting of the laity to have the books of the Old and New Testament, unless any one should wish, from a feeling of devotion, to have a psalter or breviary for divine service, or the hours of the blessed Mary. But we strictly forbid them to have the above-mentioned books in the vulgar tongue.” [= Kami melarang juga pemberian ijin kepada orang awam untuk memiliki buku-buku Perjanjian Lama dan Baru, kecuali seseorang ingin, dari suatu perasaan untuk berbakti, untuk mempunyai kitab Mazmur atau buku doa Roma Katolik untuk kebaktian / pelayanan ilahi, atau saat-saat Maria yang terpuji. Tetapi kami dengan keras melarang mereka untuk memiliki buku-buku tersebut di atas dalam bahasa kasar.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 97.
Catatan: ‘Valencia’ itu salah, seharusnya adalah ‘Toulouse’.
Kata-kata Loraine Boettner ini dibantah oleh suatu web Katolik: https://catatankoas.blogspot.com/2009/05/konsili-valencia-1229-orang-katolik.html?m=1
Tetapi ini dibantah balik oleh suatu web Protestan: https://www.wayoflife.org/database/did_rome_forbic_vernacular_versions.html
Dari kata-kata Loraine Boettner di atas, jelas bahwa orang awam dilarang memiliki Alkitab. Yang boleh dimiliki hanyalah kitab Mazmur dan buku doa Roma Katolik, dan itupun tidak boleh dalam ‘vulgar tongue / bahasa kasar’, maksudnya buku-buku itu harus ada dalam bahasa Latin, yang jelas ada di luar jangkauan orang awam.
2. Penegasan larangan itu oleh Council of Trent dengan memberikan keputusan sebagai berikut:
“In as much as it is manifest, from experience, that if the Holy Bible, translated into the vulgar tongue, be indiscriminately allowed to everyone, the temerity of men will cause more evil than good to arise from it; it is, on this point, reffered to the judgment of the bishops, or inquisitors, who may, by the advice of the priest or confessor, permit the reading of the Bible translated into the vulgar tongue by Catholic authors, to those persons whose faith and piety, they apprehend, will be augmented, and not injured by it; and this permission they must have in writing.” [= Karena jelas / nyata, dari pengalaman, bahwa kalau Alkitab Kudus, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa kasar (bahasa biasa yang non Latin) diijinkan secara sembarangan kepada semua orang, kesembronoan manusia akan menyebabkan lebih banyak kejahatan dari pada kebaikan yang muncul dari padanya; maka pada titik ini diserahkan pada penghakiman dari uskup, atau pejabat Roma Katolik yang meneliti penyesatan, yang oleh nasehat dari imam / pastor atau confessor {= pastor yang diberi otoritas untuk menerima pengakuan dosa}, boleh mengijinkan pembacaan Alkitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa kasar / biasa oleh pengarang Katolik, kepada orang-orang yang iman dan kesalehannya, menurut mereka, akan bertambah, dan bukannya dirusak oleh pembacaan itu; dan ijin itu harus mereka miliki secara tertulis.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 97.
3. Kata-kata Liguori sebagai berikut:
“The Scriptures and books of Controversy may not be permitted in the vulgar tongue, as also they cannot be read without permission.” [= Kitab Suci dan buku-buku Pertentangan / Perdebatan tidak boleh diijinkan dalam bahasa kasar / biasa, sebagaimana mereka juga tidak boleh dibaca tanpa ijin.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 98.
Catatan: kalau mau tahu lebih banyak tentang orang bernama Liguori ini saudara bisa membaca web-web di bawah ini:
Dalam bahasa Indonesia:
https://id.wikipedia.org/wiki/Alfonsus_Maria_de_Liguori
Dalam bahasa Inggris:
https://en.wikipedia.org/wiki/Alphonsus_Liguori
4. Kata-kata Paus Clement XI (tahun 1713) dalam Bull Unigenitus, yang berbunyi:
“We strictly forbid them (the laity) to have the books of the Old and New Testament in the vulgar tongue.” [= Kami dengan keras melarang mereka (orang awam) untuk mempunyai buku-buku Perjanjian Lama dan Baru dalam bahasa kasar / biasa.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 98.
Tentang Bull Unigenitus tahun 1713 saudara bisa membacanya dalam web ini:
https://en.wikipedia.org/wiki/Unigenitus#Content
Tetapi, tanggal 11 Oktober 1992, Gereja Roma Katolik menerbitkan ‘Chatechism of the Catholic Church’, yang pada no 133, berbunyi sebagai berikut:
“The Church forcefully and specifically exhorts all the Christian faithful... to learn the surpassing knowledge of Jesus Christ, by frequent reading of the divine Scriptures. Ignorance of the Scriptures is ignorance of Christ.” [= Gereja dengan kuat dan khusus mendesak semua orang kristen yang setia... untuk mempelajari pengetahuan yang melampaui dari Yesus Kristus, dengan pembacaan yang sering dari Kitab Suci ilahi. Ketidaktahuan terhadap Kitab Suci adalah ketidaktahuan terhadap Kristus.].
Catatan: perubahan sikap Gereja Roma Katolik tentang pembacaan Alkitab oleh orang awam ini sebetulnya sudah ada pada konsili Vatikan II (1962-1965).
https://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Vatikan_II
Perubahan sikap terhadap Kitab Suci ini, adalah perubahan ke arah yang baik. Tetapi juga ada keanehan, karena itu berarti bahwa keputusan Council of Toulouse, Council of Trent, dan kata-kata Paus Clement XI di atas, adalah salah. Padahal Roma Katolik menganggap bahwa keputusan Sidang Gereja, dan juga kata-kata / keputusan Paus sebagai tradisi yang setingkat dengan Firman Tuhan (lihat point b di bawah ini).
b) Alkitab ditambahi dengan ‘tradisi’ (ini bertentangan dengan Ul 4:2 Ul 12:32 Amsal 30:6 Mat 5:19 Wah 22:18-19).
Ul 4:2 - “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.”.
Ul 12:32 - “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.”.
Amsal 30:6 - “Jangan menambahi firmanNya, supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta.”.
Mat 5:19 - “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”.
Wah 22:18-19 - “(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.
1. Yang disebut ‘tradisi’ dalam ajaran Roma Katolik:
a. 12 kitab-kitab Apocrypha.
Mula-mula ada 15 kitab Apocrypha yang ditambahkan kepada Alkitab oleh Gereja Roma Katolik, yaitu:
1. Kitab Esdras yang pertama.
2. Kitab Esdras yang kedua.
3. Tobit.
4. Yudit.
5. Tambahan-tambahan pada kitab Ester.
6. Kebijaksanaan Salomo.
7. Yesus bin Sirakh.
8. Barukh.
9. Surat dari nabi Yeremia.
10. Doa Azarya dan Lagu pujian ketiga pemuda.
11. Susana.
12. Bel dan naga.
13. Doa Manasye.
14. Kitab Makabe yang pertama.
15. Kitab Makabe yang kedua.
Catatan: Dalam Kitab Suci Roma Katolik bahasa Indonesia, no 10,11,12 dijadikan satu kitab, yaitu ‘Tambahan-tambahan pada kitab Daniel’.
Tetapi 3 dari kitab-kitab Apocrypha ini akhirnya ditolak oleh Council of Trent, yaitu no 1, no 2 dan no 13, dan karena itu akhirnya hanya 12 kitab Apocrypha yang dimasukkan ke dalam Alkitab mereka.
Loraine Boettner mengatakan bahwa:
a. Kitab Esdras yang kedua ditolak karena di dalamnya ada penolakan terhadap doa untuk orang mati (2Esdras 7:105) - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 80.
b. Sebetulnya ada lebih banyak lagi kitab-kitab Apocrypha yang lain, tetapi semua ini tidak pernah dimasukkan ke dalam Kitab Suci Roma Katolik. Mengapa? Loraine Boettner menjawab:
“The Council of Trent evidently selected only books that would help them in their controversy with the Reformers, and none of these gave promise of doing that.” [= Council of Trent dengan jelas menyeleksi hanya buku-buku yang akan membantu mereka dalam pertentangan dengan para Reformator, dan tidak ada satupun dari buku-buku itu menjanjikan mereka untuk melakukan hal itu.] - ‘Roman Catholicism’, hal 87.
Ke 12 kitab-kitab Apocrypha ini tebalnya lebih kurang dua per tiga Perjanjian Baru. Dahulu, semua kitab-kitab ini diletakkan di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan disebut dengan nama Deuterokanonika [= kanon yang kedua]. Tetapi pada tahun 1992, Roma Katolik mengeluarkan ‘The Catechism of the Catholic Church’ [= Katekisasi Gereja Katolik], dimana diputuskan bahwa kitab-kitab Deuterokanonika itu diselipkan ke sela-sela kitab-kitab Perjanjian Lama, dan dianggap sebagai Perjanjian Lama!
‘The Catechism of the Catholic Church’, nomer 120, berbunyi sebagai berikut:
“It was by the apostolic Tradition that the Church discerned which writings are to be included in the list of the sacred books. This complete list is called the canon of Scripture. It includes 46 books for the Old Testament (45 if we count Jeremiah and Lamentations as one) and 27 for the New. The Old Testament: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua, Judges, Ruth, 1 and 2 Samuel, 1 and 2 Kings, 1 and 2 Chronicles, Ezra and Nehemiah, Tobit, Judith, Esther, 1 and 2 Maccabees, Job, Psalms, Proverbs, Ecclesiastes, the Song of Songs, the Wisdom of Solomon, Sirach (Ecclesiasticus), Isaiah, Jeremiah, Lamentations, Baruch, Ezekiel, Daniel, Hosea, Joel, Amos, Obadiah, Jonah, Micah, Nahum, Habakkuk, Zephaniah, Haggai, Zachariah and Malachi.” [= Oleh Tradisi rasulilah Gereja membedakan tulisan-tulisan mana yang harus dimasukkan dalam daftar kitab-kitab kudus. Daftar lengkap ini disebut kanon Kitab Suci. Itu mencakup 46 kitab untuk Perjanjian Lama (45 jika kita menghitung Yeremia dan Ratapan sebagai 1 kitab) dan 27 kitab untuk Perjanjian Baru. Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-Raja, 1 dan 2 Tawarikh, Ezra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, 1 dan 2 Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.].
‘The Catechism of the Catholic Church’, nomer 138, berbunyi sebagai berikut:
“The Church accepts and venerates as inspired the 46 books of the Old Testament and the 27 books of the New.” [= Gereja menerima dan menghormati 46 kitab-kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai diilhamkan.].
Catatan: bandingkan dengan Perjanjian Lama yang kita akui yang hanya terdiri dari 39 kitab!
Sering ada yang mengatakan bahwa bukan orang Katolik yang menambahi Alkitab, tetapi orang Kristen Protestanlah yang mengurangi Alkitab. Tetapi tentang kanon Perjanjian Lama sebetulnya tidak ada persoalan, karena:
(1) Kitab Suci orang-orang Yahudi hanyalah Perjanjian Lama kita saat ini.
(2) Pada jaman Yesus hidup di dunia ini, kanon Perjanjian Lama itu sudah lengkap dan tertentu / pasti. Dan Yesus tidak mengubahnya sehingga dianggap sebagai menyetujuinya.
‘Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible’: “It is not possible to know for certain how the Old Testament came together in the collection of books we know now. But we do know which books made up the Old Testament in the period just before the birth of Jesus, and we can know which books Jesus and his apostles would have regarded as their ‘Bible’. ... It is clear that by the time of Jesus the Hebrew Scriptures usually consisted of the thirty-nine books we know today as the Old Testament.” [= Tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti bagaimana Perjanjian Lama bisa terkumpul bersama-sama dalam kumpulan kitab-kitab yang kita ketahui sekarang. Tetapi kami tahu kitab-kitab mana yang membentuk Perjanjian Lama pada jaman persis sebelum kelahiran Yesus, dan kami tahu kitab-kitab mana yang dianggap oleh Yesus dan rasul-rasulNya sebagai ‘Alkitab’ mereka. ... Adalah jelas bahwa pada jaman Yesus Kitab Suci Ibrani umumnya terdiri dari 39 kitab yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Lama.] - hal 66.
Halley’s Bible Handbook: “In Jesus’ day this book was called ‘The Scriptures,’ and was taught regularly and read publicly in synagogs. It was commonly regarded among the people as the ‘Word of God.’ Jesus himself repeatedly called it the ‘Word of God.’ ... These ‘Scriptures’ were composed of the 39 books which constitute our Old Testament, though under a different arrangement. ... when this group of books was completed, and set apart as the definitely recognized Word of God, is involved in obscurity. The Jews’ tradition was that it was done by Ezra.” [= Pada jaman Yesus, buku ini disebut ‘Kitab Suci’, dan diajarkan secara rutin / teratur dan dibacakan di depan umum di sinagog-sinagog. Pada umumnya itu dianggap di antara bangsa itu sebagai ‘Firman Allah’. ... ‘Kitab Suci’ ini terdiri dari 39 kitab yang membentuk Perjanjian Lama kita, sekalipun susunan / urut-urutannya berbeda. ... kapan kelompok kitab-kitab ini menjadi lengkap, dan dipisahkan sebagai Firman Allah yang diakui dengan pasti, tak diketahui dengan jelas. Tradisi Yahudi mengatakan bahwa hal itu dilakukan oleh Ezra.] - hal 405.
Halley’s Bible Handbook: “Josephus considered the Old Testament Canon as fixed from the days of Artaxerxes, time of Ezra. Here are his words: ‘We have but 22 books, containing the history of all time, books that are believed to be divine. Of these, 5 belong to Moses, containing his laws and the tradition of the origin of mankind down to the time of his death. From the death of Moses to the reign of Artaxerxes the prophets who succeeded Moses wrote the history of the events that occurred in their own time, in 13 books. The remaining 4 books comprise hymns to God and precepts for the conduct of human life. From the days of Artaxerxes to our own times every event had indeed been recorded; but these recent records have not been deemed worthy of equal credit with those which preceded them, on account of the failure of the exact succession of the prophets. There is practical proof of the spirit in which we treat our Scriptures; for, although so great an interval of time has now passed, not a soul has ventured to add or to remove or to alter a syllable, and it is the instinct of every Jew, from the day of his birth, to consider these Scriptures as the teaching of God, and to abide by them, and, if need be, cheerfully to lay down his life in their behalf.’” [= Josephus menganggap bahwa kanon Perjanjian Lama sudah tertentu sejak jaman Artahsasta, jaman dari Ezra. Inilah kata-katanya: ‘Kami mempunyai hanya 22 kitab, berisikan sejarah dari semua jaman, kitab-kitab yang dipercaya sebagai ilahi. Dari kitab-kitab ini, 5 adalah kitab-kitab Musa, berisikan hukum-hukumnya dan tradisi tentang asal usul dari umat manusia sampai pada saat kematiannya. Dari saat kematian Musa sampai pada pemerintahan Artahsasta, nabi-nabi yang menggantikan Musa menulis sejarah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada jaman mereka sendiri, dalam 13 kitab. 4 kitab sisanya terdiri dari nyanyian pujian bagi Allah dan ajaran-ajaran tentang tingkah laku manusia. Dari jaman Artahsasta sampai jaman kita sendiri, setiap peristiwa memang telah dicatat; tetapi catatan-catatan ini tidak dianggap layak untuk mendapat penghargaan yang setara dengan kitab-kitab yang mendahului mereka, karena tidak adanya rangkaian yang tepat dari nabi-nabi. Ini merupakan bukti praktis dari semangat dalam mana kami memperlakukan Kitab Suci kami; karena, sekalipun ada masa yang begitu lama yang telah berlalu, tidak ada orang yang telah berusaha untuk menambah atau menyingkirkan atau mengubah satu suku katapun, dan merupakan naluri dari setiap orang Yahudi sejak ia lahir, untuk menganggap Kitab Suci ini sebagai ajaran dari Allah, dan untuk mematuhinya, dan jika diperlukan, dengan sukacita meletakkan nyawanya demi mereka’.] - hal 405-406.
Catatan:
(a) Ini merupakan kutipan kata-kata Josephus dari ‘The Works of Josephus’, hal 609 (‘Against Apion’, I, 8).
(b) Mengapa Perjanjian Lama hanya 22 kitab? Penjelasannya bisa dilihat dalam kutipan di bawah ini.
Halley’s Bible Handbook: “The Hebrew Old Testament contains exactly the same books as our English Old Testament, but in different arrangement: ... By combining the 2 books each of Samuel, Kings and Chronicles into one, and Ezra and Nehemiah into one, and the Twelve Minor Prophets into one, these 24 books are the same as our 39. Josephus further reduces the number to 22, to make it correspond to the Hebrew alphabet by combining Ruth with Judges, and Lamentations with Jeremiah.” [= Perjanjian Lama bahasa Ibrani terdiri dari kitab-kitab yang persis sama seperti Perjanjian Lama bahasa Inggris kita, tetapi dalam susunan yang berbeda: ... Dengan menggabungkan 2 kitab dari Samuel, Raja-raja dan Tawarikh menjadi satu, dan menggabungkan Ezra dan Nehemia menjadi satu, dan 12 kitab nabi-nabi kecil menjadi satu, maka 24 kitab-kitab ini adalah sama dengan 39 kitab-kitab kita. Josephus selanjutnya mengurangi jumlah itu menjadi 22, untuk membuatnya sesuai dengan alfabet bahasa Ibrani, dengan menggabungkan kitab Rut dengan Hakim-hakim, dan Ratapan dengan Yeremia.] - hal 26.
Halley’s Bible Handbook: “This testimony is of no small value. Josephus was born A. D. 37 in Jerusalem, of priestly aristocracy. He received an extensive education in Jewish and Greek culture. He was governor of Galilee and military commander in the wars with Rome, and was present at the destruction of Jerusalem. These words of Josephus are unquestionable testimony to the belief of the Jewish nation of Jesus’ day as to what books comprised the Hebrew Scriptures, and that that collection of books had been completed and fixed for 400 years preceding his time.” [= Kesaksian ini tidak kecil nilainya. Josephus dilahirkan pada tahun 37 M. di Yerusalem, dari keluarga imam. Ia menerima pendidikan yang luas dalam kebudayaan Yahudi dan Yunani. Ia adalah gubernur dari Galilea dan komandan militer dalam perang dengan Roma, dan ia hadir pada penghancuran Yerusalem. Kata-kata dari Josephus merupakan kesaksian yang tidak diragukan tentang kepercayaan dari bangsa Yahudi dari jaman Yesus berkenaan dengan kitab-kitab mana yang termasuk dalam Kitab Suci Ibrani, dan bahwa kumpulan kitab-kitab itu telah lengkap dan tertentu selama 400 tahun sebelum jamannya.] - hal 406.
Bahkan Encyclopedia Britannica 2000 mengatakan bahwa Alkitab Yahudipun hanya mencakup Perjanjian Lama, dan tidak mencakup Deuterokanonika.
Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Bible’: “The Jewish Bible includes only the books known to Christians as the Old Testament.” [= Alkitab Yahudi mencakup hanya kitab-kitab yang dikenal oleh orang-orang Kristen sebagai Perjanjian Lama.].
Jadi jelas bahwa bukan Kristen Protestan yang mengurangi Alkitab, tetapi Katoliklah yang menambahi Alkitab.
Kristen Protestan menolak kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika ini dengan alasan:
(1) Dalam Perjanjian Baru, ada kira-kira 260 kutipan langsung dari Perjanjian Lama, dan juga ada kira-kira 370 penggunaan bagian-bagian Perjanjian Lama yang tidak merupakan kutipan langsung. Ini menunjukkan bahwa baik Yesus maupun rasul-rasul mengakui otoritas Perjanjian Lama sebagai Firman Allah, dan menggunakannya sebagai dasar hidup, iman dan ajaran mereka. Tetapi baik Yesus maupun rasul-rasul tidak pernah mengutip dari kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika tersebut sebagai dasar ajaran mereka, padahal kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika itu sudah ada / beredar pada jaman Tuhan Yesus hidup di dunia ini. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui kitab-kitab Apocrypha itu sebagai Firman Allah!
Halley’s Bible Handbook: “The Apocrypha. ... They were never quoted by Jesus, nor anywhere in the New Testament.” [= Kitab-kitab Apocrypha. ... Kitab-kitab ini tidak pernah dikutip oleh Yesus, atau dimanapun dalam Perjanjian Baru.] - hal 406.
Halley’s Bible Handbook: “In the New Testament there are about 300 quotations from these ‘Scriptures’; and no book outside these ‘Scriptures’ is thus quoted in the New Testament, with the single exception of the words of Enoch in the book of Jude. Many of these quotations are from the Septuagint version of the Old Testament, which was in common use in New Testament times; and even though the Septuagint contained the ‘Apocryphal’ books there is not one quotation from the Apocryphal books. This is evidence that neither Jesus nor the Apostles recognized the Apocryphal books as part of ‘The Scriptures.’” [= Dalam Perjanjian Baru ada kira-kira 300 kutipan dari ‘Kitab Suci’ ini; dan tidak ada kitab di luar ‘Kitab Suci’ ini yang dikutip dalam Perjanjian Baru, dengan satu perkecualian tentang kata-kata Henokh dalam kitab Yudas. Banyak dari kutipan-kutipan ini berasal dari versi Septuaginta dari Perjanjian Lama, yang biasa digunakan pada jaman Perjanjian Baru; dan sekalipun Septuaginta mencakup kitab-kitab Apokripa tetapi tidak ada satupun kutipan dari kitab-kitab Apokripa. Ini merupakan bukti bahwa baik Yesus maupun rasul-rasul tidak mengakui kitab-kitab Apokripa sebagai bagian dari ‘Kitab Suci’.] - hal 405.
Catatan: bagian yang saya garis bawahi itu tidak saya setujui, dan akan saya bahas di sini.
Yudas 14-15 - “(14) Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: ‘Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya, (15) hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan.’”.
Dan dalam kitab Henokh (ini tidak termasuk Apokripa!), ada satu ayat yaitu Henokh 1:9, yang berbunyi sebagai berikut:
Versi William Barclay: “And behold! He cometh with ten thousands of his holy ones to execute judgment upon all, and to destroy all the ungodly; and to convict all flesh of all the works of their ungodliness which they have ungodly committed, and of all the hard things which ungodly sinners have spoken against him” [= Dan lihatlah! Ia datang dengan sepuluh ribu orang-orang kudusNya untuk melakukan penghakiman terhadap semua orang, dan untuk menghancurkan orang jahat; dan untuk meyakinkan semua daging / orang tentang semua kejahatan yang mereka lakukan secara jahat, dan tentang semua kata-kata keras yang diucapkan oleh orang-orang berdosa yang jahat menentang Dia] - ‘Jude’, hal 196.
Henokh 1:9 Versi William Barclay ini boleh dikatakan identik dengan Yudas 14-15.
Versi Pulpit Commentary: “And behold, he comes with myriads of the holy, to pass judgment upon them, and will destroy the impious, and will call to account all flesh for everything the sinners and the impious have done and committed against him” [= Dan lihatlah, Ia datang dengan puluhan ribu orang kudus, untuk memberikan penghakiman terhadap mereka, dan akan menghancurkan orang jahat, dan akan meminta pertanggungjawaban semua orang untuk setiap hal yang orang berdosa dan jahat lakukan menentang Dia] - ‘Jude’, hal 12.
Henokh 1:9 versi Pulpit Commentary ini sedikit berbeda dengan Yudas 14-15, karena dalam Henokh 1:9 ini tidak ada tentang ‘kata-kata keras’ dari orang-orang jahat itu. Versi Barnes’ Notes sama dengan Pulpit Commentary.
Kutipan dalam Yudas 14-15 ini menyebabkan banyak pertanyaan dan problem. Haruskah kita menganggap Kitab Henokh itu sebagai Kitab Suci? Atau, haruskah kita membuang surat Yudas dari Kitab Suci, seperti yang dilakukan oleh Jerome? Saya berpendapat bahwa kita tidak boleh menganggap bahwa Kitab Henokh harus dimasukkan ke dalam Kitab Suci (Catatan: tidak adanya kata-kata ‘ada tertulis’ dalam Yudas 14 ini menunjukkan bahwa ia tidak sedang mengutip Kitab Suci), dan kita juga tidak boleh mengeluarkan surat Yudas dari Kitab Suci. Mengapa? Karena adanya kemiripan atau kesamaan antara Yudas 14-15 dan Henokh 1:9 mempunyai beberapa kemungkinan, yaitu:
(1) Yudas mengutip dari Kitab Henokh.
(2) Penulis kitab Henokh mengutip dari Yudas, sedangkan Yudas mengutip dari tradisi.
(3) Yudas maupun penulis kitab Henokh mengutip dari tradisi.
Tidak ada kemungkinan untuk membuktikan bahwa kemungkinan pertamalah yang benar, sehingga adanya kemiripan / kesamaan antara Yudas 14-15 dengan Henokh 1:9 ini tidak membuktikan bahwa Yudas mengutip dari Kitab Henokh.
Mengapa Yudas mengutip nubuat Henokh? Dalam Kitab Suci ada banyak ayat tentang kedatangan Kristus untuk menghakimi, seperti Ul 33:5 Daniel 7:10 Zakh 14:5b. Mengapa Ia mesti mengutip dari nubuat Henokh dan bukannya dari ayat-ayat Kitab Suci?
(a) Karena biasanya makin kuno suatu kutipan, makin ia dihormati. Karena itu Yudas memilih yang sekuno mungkin.
(b) Karena Tuhan menghendaki nubuat Henokh itu, yang tadinya hanya ada dalam tradisi, masuk ke dalam Kitab Suci.
Thomas Manton: “if he receives it by tradition, it is here made authentic and put into the canon.” [= jika ia menerimanya melalui tradisi, di sini itu dijadikan otentik / berotoritas dan dimasukkan ke dalam kanon.] - ‘Jude’, hal 289.
(2) Penulis kitab-kitab Apocrypha itu sendiri tidak menunjukkan dirinya sebagai penulis Firman Tuhan yang diberikan Allah kepada manusia.
Untuk itu bandingkan Wah 22:18-19 yang terletak pada akhir Kitab Suci / Perjanjian Baru dengan 2Makabe 15:37b-38 yang terletak pada akhir dari kitab-kitab Deuterokanonika:
Wah 22:18-19 berbunyi:
“(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.
Dari Wah 22:18-19 ini terlihat dengan jelas otoritas dari tulisan rasul Yohanes ini sebagai Firman Tuhan yang tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi.
Sekarang bandingkan dengan 2Makabe 15:37b-38 yang berbunyi:
“(37b) Maka aku sendiripun mau mengakhiri kisah ini. (38) Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku.”.
Ini sama sekali tidak menunjukkan orang yang menuliskan Firman Tuhan di bawah pengilhaman Roh Kudus! Perhatikan kata-kata ‘kukehendaki’ dan ‘hanya itulah yang mungkin bagiku.’. Bagaimana kita bisa mempercayai otoritas tulisan seperti ini, sedangkan penulisnya sendiripun tidak yakin akan kebenaran tulisannya!
(3) Dalam kitab-kitab Apocrypha itu ada kesalahan-kesalahan, seperti:
(a) Yudit 1:1,7,11 menyebut Nebukadnezar sebagai raja Asyur di Niniwe (bdk. juga dengan Yudit 1:16 2:1,4,14,21 4:1), sedangkan kita tahu bahwa sebetulnya Nebukadnezar adalah raja Babilonia (Daniel 4:4-6,30).
(b) Tobit 5:13 menceritakan tentang seorang malaikat yang bernama Rafael, yang berdusta dengan memperkenalkan dirinya sebagai ‘Azarya bin Ananias’, atau ‘Azarya anak laki-laki dari Ananias’.
Bagaimana mungkin kitab-kitab yang mengandung kesalahan seperti itu bisa disetingkatkan dengan Kitab Suci / Firman Tuhan?
(4) Dalam kitab-kitab Apocrypha ada doktrin ‘salvation by works’ [= keselamatan karena perbuatan baik] yang tidak alkitabiah. Contoh:
(a) Tobit 12:9 - “Memang sedekah melepaskan dari maut dan menghapus setiap dosa.”.
(b) Tobit 4:10 - “Memang sedekah melepaskan dari maut dan tidak membiarkan orang masuk ke dalam kegelapan.”.
(c) Tobit 14:10-11a - “(10) Nak, ingatlah kepada apa yang telah diperbuat Nadab kepada bapa pengasuhnya, yaitu Ahikar. Bukankah Ahikar hidup-hidup diturunkan ke bagian bawah bumi? Tetapi Allah telah membalas kelaliman Nadab ke atas kepalanya sendiri. Ahikar keluar menuju cahaya, sedangkan Nadab turun ke kegelapan kekal, oleh karena ia telah berusaha membunuh Ahikar. Karena melakukan kebajikan maka Ahikar luput dari jerat maut yang dipasang baginya oleh Nadab. Sedangkan Nadab jatuh ke dalam jerat maut yang juga membinasakannya. (11a) Makanya anak-anakku, camkanlah apa yang dihasilkan oleh sedekah dan apa yang dihasilkan oleh kelaliman.”.
(d) Sirakh 3:3a - “Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa,”.
Doktrin yang tidak alkitabiah ini jelas bertentangan dengan Gal 2:16,21 dan Ef 2:8-9.
Gal 2:16,21 - “(16) Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat. ... (21) Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”.
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.
b. Tulisan bapa-bapa gereja.
Padahal tulisan-tulisan bapa-bapa gereja ini sering bertentangan satu sama lain, dan bahkan sering terjadi bahwa seorang bapa gereja berubah pandangan sehingga ia lalu menuliskan sesuatu yang bertentangan dengan tulisannya yang sebelumnya.
c. Keputusan sidang-sidang gereja (council).
d. Keputusan-keputusan / kata-kata Paus.
Lucunya, ada Paus-paus yang menentang kitab-kitab Apocrypha, dan dengan demikian mereka bertentangan dengan Council of Trent yang memasukkan kitab-kitab itu ke dalam Alkitab.
Loraine Boettner mengutip kata-kata Dr. Harris yang dalam bukunya yang berjudul ‘Fundamental Protestant Doctrines’, I, hal 4, berkata:
“Pope Gregory the Great declared that First Maccabees, an Apocryphal book, is not canonical. Cardinal Zomenes, in his polygot Bible just before the Council of Trent, excluded the Apocrypha and his work was approved by pope Leo X. Could these popes have been mistaken or not? If they were correct, the decision of the Council of Trent was wrong. If they were wrong where is a pope’s infallibility as a teacher of doctrine?” [= Paus Gregory yang Agung menyatakan bahwa kitab Makabe yang pertama, suatu kitab Apocrypha, tidak termasuk kanon. Kardinal Zomenes, dalam Alkitab polygotnya persis sebelum Council of Trent, mengeluarkan / membuang Apocrypha dan pekerjaannya disetujui oleh Paus Leo X. Apakah Paus-paus ini bisa salah atau tidak? Jika mereka benar, keputusan Council of Trent salah. Jika mereka salah, dimana ketidakbersalahan Paus sebagai seorang pengajar doktrin?] - ‘Roman Catholicism’, hal 83.
2. Sikap Roma Katolik terhadap tradisi-tradisi mereka:
a. Pada tahun 1545, sidang gereja di Trent menyatakan bahwa tradisi mempunyai otoritas yang sama dengan Kitab Suci, tetapi harus ditafsirkan oleh gereja.
Ini menyebabkan ajaran mereka tidak bisa berubah. Jadi, kalaupun suatu waktu mereka menyadari bahwa ada keputusan sidang gereja atau keputusan Paus yang ternyata salah, mereka tidak bisa mengubahnya. Bagaimana mungkin menyatakan sesuatu, yang setingkat otoritasnya dengan Kitab Suci, sebagai sesuatu yang salah dan harus diralat? Tetapi kenyataannya, ‘Chatechism of the Catholic Church’, yang muncul pada tahun 1992, mengubah keputusan sidang gereja, seperti yang sudah kita lihat dalam persoalan membaca Kitab Suci.
b. Pada tahun 1546, sidang gereja di Trent memasukkan 12 kitab-kitab Apocrypha itu ke dalam Kitab Suci (karena itu maka disebut Deuterokanonika [= kanon yang kedua]. Dan ‘Chatechism of the Catholic Church’, yang muncul pada tahun 1992, pada no 120, bahkan memasukkan kitab-kitab Apocrypha ini ke dalam Perjanjian Lama, sehingga Perjanjian Lama mencakup 46 kitab.
c. Tradisi ini digunakan untuk mempertahankan ajaran-ajaran mereka yang tidak punya dasar Kitab Suci (misalnya: api penyucian, keperawanan yang abadi dari Maria, kesucian Maria, kenaikan Maria ke sorga dengan tubuh jasmaninya, dsb).
Dan ‘tradisi’ ini justru jauh lebih berperan sebagai dasar dari ajaran-ajaran Roma Katolik, bahkan sebagian besar ajaran / dogma Roma Katolik tidak didasarkan pada Kitab Suci, tetapi pada tradisi! Ini menyebabkan sekalipun Roma Katolik dan Kristen Protestan sama-sama menggunakan Kitab Suci, tetapi ajarannya bisa sangat berbeda / bertentangan.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali