Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

 

Minggu, tanggal 28 September 2008, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

 

Hagai 1:1-11

 

Hagai 1:1-11 - “(1) Pada tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang keenam, pada hari pertama bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, bunyinya: (2) ‘Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!’ (3) Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: (4) ‘Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? (5) Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! (6) Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! (7) Beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! (8) Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaanKu di situ, firman TUHAN. (9) Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumahKu yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. (10) Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, (11) dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.’.

 

 

I) Latar belakang kitab Hagai.

 

Peristiwa dalam kitab Hagai ini terjadi kira-kira tahun 520 SM. Sekitar 16 tahun sebelum peristiwa ini, raja Koresy memerintahkan orang-orang Yahudi untuk kembali ke negaranya (dari pembuangan Babilonia) dan membangun kembali Bait Allah (Ezra 1-2). 2 tahun setelah pulang dari Babilonia, orang-orang Yahudi sudah meletakkan fondasi Bait Allah (Ezra 3:8-13). Tetapi lalu muncul musuh-musuh (Ezra 4-5), sehingga pembangunan Bait Allah itu terhenti. Sekarang telah lewat 14 tahun, mereka tetap membiarkan Bait Allah itu begitu saja.

Catatan: Calvin menganggap peristiwa ini terjadi lebih telat lagi (lebih dari 16 tahun setelah pulang dari pembuangan)

 

II) Sikap / tindakan orang-orang Yahudi.

 

1)   Mereka tidak membangun Bait Allah, tetapi masing-masing membangun rumahnya sendiri.

Ay 2,4,9: (2) ‘Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!’ ... (4) ‘Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? ... (9) Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumahKu yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.

 

a)   Mereka tidak membangun Bait Allah karena menganggap ‘belum waktunya’ (ay 2).

Ini sebetulnya menunjukkan bahwa mereka tahu bahwa membangun Bait Allah itu penting, tetapi mereka mau menunda. Mungkin mereka beranggapan bahwa jaman dahulupun nenek moyang mereka tidak mempunyai Bait Allah maupun Kemah Suci, dan tetap bisa beribadah kepada Tuhan.

Penerapan: Kita juga bisa punya pikiran seperti itu: sudah beberapa bulan kita berbakti tanpa punya gedung gereja, dan kita toh tetap bisa beribadah kepada Tuhan. Lalu untuk apa membangun gedung gereja. Mengapa tidak begini terus saja?

 

b)         Mereka membangun rumah masing-masing (ay 4,9).

‘dipapani dengan baik’ (ay 4).

KJV: cieled (?). Saya tak tahu arti kata ini, dalam kamus Webster-pun kata ini tidak ada. Yg ada adalah ‘ceiled’ = diberi atap / langit-langit.

NIV/NASB/RSV/NKJV: paneled / panelled (= dipapani).

Ini sesuatu yang lux / mewah; bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

·         1Raja 7:1,3 - “(1) Salomo mendirikan istananya sampai tiga belas tahun lamanya, barulah selesai seluruh istananya itu. ... (3) Gedung itu ditutup dari atas dengan langit-langit kayu aras, di atas balok-balok melintang yang disangga oleh tiang-tiang itu, empat puluh lima jumlahnya, yakni lima belas sejajar.

·         Yer 22:11-16 - “(11) Sebab beginilah firman TUHAN mengenai Salum bin Yosia, raja Yehuda, yang telah menjadi raja menggantikan Yosia, ayahnya, dan yang telah meninggalkan tempat ini: ‘Ia tidak lagi akan kembali ke sini, (12) tetapi ia akan mati di tempat pembuangannya, dan tidak lagi akan melihat negeri ini.’ (13) Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya; (14) yang berkata: ‘Aku mau mendirikan istana yang besar lebar dan anjung yang lapang luas!’, lalu menetas dinding istana membuat jendela, memapani istana itu dengan kayu aras dan mencatnya merah. (15) Sangkamu rajakah engkau, jika engkau bertanding dalam hal pemakaian kayu aras? Tidakkah ayahmu makan minum juga dan beroleh kenikmatan? Tetapi ia melakukan keadilan dan kebenaran, (16) serta mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku? demikianlah firman TUHAN.

 

Kesimpulan: mereka mendahulukan diri mereka sendiri dari pada Tuhan. Mereka bukan hanya mendahulukan pembangunan rumah mereka karena mereka tidak mempunyai rumah, tetapi mereka membangunnya dengan mewah, sementara mereka menelantarkan pembangunan Rumah Tuhan!

 

Calvin: “Hence the prophet inquires, whether it was consistent that mortal men, who differ not from worms, should possess magnificent houses, and that God should be without his temple” (= Sebab itu nabi itu bertanya, apakah merupakan sesuatu yang konsisten kalau manusia yang bisa mati, yang tidak berbeda dengan cacing, mempunyai rumah-rumah yang megah, sedangkan Allah tidak mempunyai Rumah / Bait Allah).

 

Bdk. Luk 14:26 - “‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu.

Kata ‘membenci’ tentu tidak boleh diartikan betul-betul membenci. Artinya kita harus mengutamakan / mengasihi Tuhan lebih dari diri kita sendiri maupun keluarga kita. Tetapi kalau kita mementingkan pembangunan rumah kita sendiri dan menelantarkan pembangunan Rumah Tuhan, maka jelas bahwa kita tidak hidup sesuai dengan kata-kata Yesus dalam Luk 14:26 tersebut!

 

2)   Sikap orang-orang Yahudi ini sangat kontras dengan sikap:

 

a)      Daud.

2Sam 7:1-2 - “(1) Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, (2) berkatalah raja kepada nabi Natan: ‘Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.’.

 

Hal lain yang harus diperhatikan dari Daud adalah: pada waktu Tuhan akhirnya melarang dia untuk membangun Bait Allah dan mengatakan bahwa Salomolah yang harus membangunnya, maka Daud mati-matian berusaha menyediakan segala yang dibutuhkan untuk pembangunan Bait Allah itu oleh Salomo (1Taw 22:1-5,14-19  1Taw 28-29). Sekalipun ia tidak bisa memakai Bait Allah itu, ia mau berjerih payah untuk menyediakan semua kebutuhan pembangunannya. Jadi jelas bahwa Daud ingin membangun bukan karena egoisme, tetapi betul-betul karena cintanya kepada Tuhan.

Penerapan: Kalau saudara sudah cukup tua, saudara bisa berpikir: untuk apa membangun gereja, toh sebentar lagi saya mati dan saya tak bisa menikmatinya.

 

b)   Salomo, yang membangun Bait Allah dulu (1Raja 6), baru istananya (1Raja 7).

 

 

III) Sikap / tindakan Tuhan.

 

1)   Tuhan menyebut orang-orang Yahudi itu dengan istilah ‘bangsa ini’, bukan ‘bangsaKu’ (these / this people, bukan My people).

Ay 2: ‘Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!’.

Ini jelas menunjukkan ketidak-senangan Tuhan! Mengapa Tuhan tidak senang?

 

a)      Sekalipun gereja adalah orang-orangnya, tetapi rumahnya / tempat / gedungnya tetap penting. Itu adalah tempat dimana Allah menyatakan kemuliaanNya / dimuliakan.

Ay 8c: ‘maka Aku akan menyatakan kemuliaanKu di situ’.

RSV: I may appear in my glory (= Aku bisa menampakkan diri dalam kemuliaanKu)

NIV: be honored (= dihormati).

NASB: be glorified (= dimuliakan).

KJV: will be glorified (= akan dimuliakan).

 

b)         Mengabaikan rumah Tuhan = mengabaikan ibadah = mengabaikan Tuhan sendiri!

 

Kalau tidak dibangunnya Rumah Allah menyebabkan Tuhan tidak senang, sebaliknya kalau Rumah Allah dibangun, itu menyenangkan Tuhan.

Ay 8: Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaanKu di situ, firman TUHAN.

 

2)   Tuhan menghukum / menghajar orang-orang Yahudi itu (ay 6,9-11).

Ay 6,9-11: (6) Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! ... (9) Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumahKu yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. (10) Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, (11) dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.’.

 

a)         Tuhan menghajar / menghukum orang-orang Yahudi itu dengan 3 hal:

1.   ‘menabur banyak tetapi membawa pulang sedikit’ (ay 6a).

Ini menunjukkan bahwa sekalipun mereka bekerja keras (‘menabur banyak’), Tuhan tidak memberkati pekerjaan mereka (‘membawa pulang sedikit’).

2.   ‘makan tetapi tidak sampai kenyang, minum tetapi tidak sampai puas, berpakaian tetapi tidak menghangatkan badan’ (ay 6b).

Ini menunjukkan bahwa hasil yang mereka dapatkan tidak bisa memuaskan diri mereka.

3.   ‘upah mereka ditaruh dalam pundi-pundi berlobang’ (ay 6c).

Tuhan mengatur sehingga uang simpanan mereka habis terus. Misalnya: Tuhan memberi penyakit kepada mereka / anak-anak meraka, atau Tuhan membuat barang mereka rusak / hilang, dicuri orang dsb.

Kalau kita mengabaikan pembangunan Rumah Allah, tiga hukuman di atas ini bisa muncul salah satu, atau dua, atau semuanya dalam hidup kita!

Catatan: bisa juga tidak muncul yang manapun, yang berarti Tuhan tidak menghajar saudara. Kalau demikian, Ia memperlakukan saudara sebagai ‘bukan anakNya’!

 

b)   Mungkin hal-hal ini merupakan salah satu alasan mengapa mereka tidak membangun Bait Allah, tetapi dengan tidak membangun Bait Allah (yang justru adalah penyebab dari semua hukuman itu), maka hajaran ini justru menjadi makin hebat.

 

c)   Disamping itu Tuhan mengucapkan ay 9-11 untuk menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang mereka alami itu bukanlah kebetulan atau serangan setan, tetapi perbuatan Tuhan sendiri untuk menghukum / menghajar mereka.

Ay 9-11: (9) Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumahKu yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. (10) Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, (11) dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.’.

 

Perhatikan kata-kata ini:

1.   Aku menghembuskannya’ (ay 9a).

2.   ‘langit menahan embun, bumi menahan hasil’ (ay 10).

·         Embun sangat banyak di sana. Dan embun ini sangat dibutuhkan pada musim panas, untuk menggantikan hujan.

·         Tentu ayat ini tak berarti bahwa ‘langit’ dan ‘bumi’ itu sendiri yang menahan embun / hasil, tetapi ini semua pekerjaan Tuhan.

3.   Aku memanggil kekeringan’ (ay 11).

·         Tuhan mendatangkan kekeringan itu keatas negeri, gunung, gandum, anggur, minyak, hasil tanah, manusia, hewan, dan segala hasil usaha.

·         Kata ‘kekeringan’ dalam bahasa Ibraninya adalah CHOREB.

Sedangkan kata Ibrani yang diterjemahkan ‘reruntuhan’ (ay 4,9b - Inggris: waste) adalah CHAREB. Jadi di sini ada permainan kata: karena engkau membiarkan rumahKu menjadi CHAREB, maka Aku mendatangkan CHOREB bagimu!

Tetapi ada orang yang beranggapan bahwa kata CHOREB itu sebetulnya juga adalah CHAREB (ingat bahwa bahasa Ibrani sebetulnya tidak punya huruf hidup). Jadi, artinya: karena engkau membiarkan rumahKu sebagai reruntuhan, Aku juga akan mendatangkan reruntuhan bagimu.

 

Penerapan: Jangan terlalu cepat menganggap penderitaan sebagai serangan setan. Itu bisa merupakan hajaran Tuhan karena ketidak-taatan saudara.

 

3)   Tuhan menyuruh mereka memperhatikan atau merenungkan keadaan mereka (ay 5,7), karena tanpa ini mereka tidak akan sadar hukuman Tuhan.

Ay 5,7: (5) Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! ... (7) Beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu!.

 

4)   Tegur mereka / nyatakan dosa mereka.

Ay 2,4,9: (2) ‘Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!’ ... (4) ‘Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? ... (9) Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumahKu yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.

 

5)   Suruh mereka membangun Bait Allah.

Ay 8: Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaanKu di situ, firman TUHAN.

 

a)   Tuhan tidak mau mereka cuma sadar dosa, dan sadar bahwa penderitaan mereka merupakan hukuman Tuhan. Tuhan mau mereka melakukan sesuatu untuk memperbaiki hal yang salah dalam hidup mereka.

 

b)   “Not costly offerings were desired, but a willing mind” (= Bukan persembahan yang mahal yang diinginkan, tetapi pikiran yang rela).

 

c)   Ay 8 ini juga menunjukkan bahwa mereka harus mau kerja berat (‘naiklah ke gunung, bawalah kayu’).

Kalau urusan membangun gereja, harus menjadi seperti Marta, bukan seperti Maria! Bdk. Luk 10:38-42.

Catatan: tentu tak berarti kita tak perlu doa untuk itu!

 

IV) Halangan dalam membangun Rumah Allah.

 

1)   Halangan dari musuh (Ezra 4-5).

Pikirkan: Ro 8:31b: ‘Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?’.

Musuh ini tidak harus orang kafir, tetapi bisa orang kristen. Bukan hanya orang kristen KTP, tetapi juga orang Kristen yang sungguh-sungguh, tetapi tak mempunyai pengertian yang baik.

 

2)   Halangan dari diri sendiri.

 

a)         Tidak / kurang beriman.

 

1.   Takut tak mampu membangun.

Ingat: Tuhan akan menolong anak-anakNya yang melakukan kehendakNya.

Fil 4:13 - Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

 

2.   Takut kalau memberi, lalu hidupnya tidak cukup.

Ingat: Mat 6:33 - Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

 

b)         Kurang / tidak kasih kepada Tuhan. Ini bisa menyebabkan:

1.   Penghamburan uang yang tidak perlu.

2.   Medit / kikir / pelit.

3.   Egoisme. Bangun rumah sendiri dahulu, beli mobil, perhiasan, jalan-jalan ke luar negeri dahulu, dsb.

 

Kalau ini adalah problem saudara, pikirkanlah:

a.   Bahwa Yesus sudah rela mengalami penderitaan dan kematian bagi saudara!

b.   Bahwa saat ini Yesus sedang membangun rumah di surga bagi saudara.

Yoh 14:2-3 - “(2) Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada..

Bagaimana kalau Dia juga tidak mau membangun rumah saudara di surga, atau Dia membangunnya asal-asalan?

c.   Rumah yang saudara miliki di dunia itupun merupakan berkat / pemberian Tuhan.

Maz 127:1a - Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.

1Kor 4:7 - Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?.

Tidakkah sepantasnya kita mendahulukan Dia, dan berjuang untuk membangun rumah bagiNya?

 

c)      Rendah diri / minder. Merasa yang bisa diberikan cuma sedikit.

Ingat:

·         pemberian 5 roti dan 2 ikan (Yoh 6:9).

·         pemberian 2 peser dari janda miskin (Luk 21:1-4).

 

d)   Sombong, self-confidence (yakin pada diri sendiri), bersandar pada kekuatan sendiri. Ini menyebabkan tidak berdoa, dan tidak berdoa menyebabkan gagal.

Ingat: Yoh 15:5 - Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

 

e)   Perpecahan.

Pikirkan: Fil 2:1-3 - “(1) Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, (2) karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, (3) dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;.

 

Doakan dan usahakan kesatuan, saling mengasihi, dan kesehatian!

Ini hanya bisa terjadi kalau Tuhan dan FirmanNya ditinggikan di atas segala-galanya dalam gereja ini!

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali