Pemahaman Alkitab
(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 1 Juli 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Dalam Perjanjian Lama ada 2 sakramen:
1) Sunat (Kej 17:9-14).
Kej 17:9-14 - “(9) Lagi firman Allah kepada Abraham: ‘Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjianKu, engkau dan keturunanmu turun-temurun. (10) Inilah perjanjianKu, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (11) haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (12) Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. (13) Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjianKu itu menjadi perjanjian yang kekal. (14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjianKu.’”.
==================================================
Pertanyaan: mengapa sunat disebut sebagai perjanjian yang kekal, padahal dalam zaman Perjanjian Baru itu digantikan oleh Baptisan?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan Anda sangat bagus dan menyentuh isu penting dalam teologi perjanjian, khususnya hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita akan menjawabnya dalam beberapa langkah sistematis.
1) Sunat Disebut sebagai Perjanjian Kekal
Dalam Kejadian 17:10–14, Allah memberikan sunat kepada Abraham sebagai tanda perjanjian, dan dalam ayat 13 dinyatakan: “… maka sunat itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu... dan perjanjianKu itu akan menjadi perjanjian yang kekal.” (Kej 17:13)
2) Makna “Kekal” dalam Alkitab
Dalam bahasa Ibrani, kata “kekal” adalah עוֹלָם (ʿolam), yang sering berarti:
a) Selama masa yang ditentukan Allah,
b) Atau selama perjanjian itu berlaku dalam sistem perjanjian tertentu,
c) Tidak selalu berarti “selama-lamanya tanpa akhir”.
Contoh:
1. Im 16:34 menyebut Hari Pendamaian sebagai “ketetapan kekal”.
2. Im 3:17 menyebut larangan makan lemak sebagai “ketetapan kekal”.
Namun semua itu tidak berlaku secara harfiah sampai kekekalan, sebab ditetapkan dalam konteks perjanjian Musa. Maka, “kekal” artinya selama masa perjanjian itu berlaku, kecuali jika Tuhan sendiri menggantinya dengan penggenapan yang lebih tinggi.
3) Sunat sebagai Bayangan atau Tipe
Dalam Perjanjian Baru, sunat dianggap sebagai bayangan (shadow) atau lambang yang digenapi dalam Kristus:
a) Kol 2:11–12: “Di dalam Dia kamu telah disunat... bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia... karena kamu telah dikuburkan bersama dengan Dia dalam baptisan...”
b) Sunat tubuh digantikan oleh sunat rohani - yaitu baptisan, yang menandai perjanjian baru dan perubahan hati.
4) Perjanjian Baru sebagai Penggenapan, Bukan Pembatalan
a) Ibrani 8:13 menyatakan bahwa dengan menyebut “perjanjian yang baru”, yang lama menjadi usang.
b) Tapi ini bukan pembatalan sewenang-wenang, melainkan penggenapan. Seperti bayangan yang hilang ketika realitas datang, sunat digenapi dalam baptisan.
5) Kesimpulan Teologis
a) Sunat disebut ‘perjanjian kekal’ karena berlaku selama zaman perjanjian Abraham dan Musa, dan itu adalah penetapan serius dari Allah.
b) Namun dalam rencana penebusan progresif, sunat adalah simbol yang sementara, yang menunjuk kepada karya Kristus dan penerimaan orang percaya ke dalam perjanjian melalui iman (Roma 4:11).
c) Maka, baptisan bukan pengabaian terhadap sunat, tetapi penggenapan dan transformasi rohaninya dalam terang Injil.
----------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan: apakah orang-orang Yahudi sampai sekarang masih disunat pada hari ke 8?
Jawaban ChatGPT:
Ya, orang-orang Yahudi ortodoks hingga saat ini masih menyunatkan bayi laki-laki mereka pada hari ke-8 setelah kelahiran, sesuai dengan perintah Allah kepada Abraham dalam Kejadian 17:12:
“Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun…”
Tradisi ini disebut ‘Brit Milah’ (ברית מילה), artinya ‘Perjanjian Sunat’, dan memiliki makna religius yang sangat kuat.
Secara tradisional:
a) Hari ke-8 dipilih karena itu perintah langsung dari Tuhan (Kej 17:12; Im 12:3).
b) Dari sisi medis modern, diketahui bahwa vitamin K dan faktor pembekuan darah (prothrombin) mencapai tingkat optimal pada bayi sekitar hari ke-8. Ini dianggap sebagai bentuk pemeliharaan Allah yang bijak, bahkan secara biologis.
a) Dilakukan oleh seorang mohel (pemotong sunat Yahudi yang terlatih).
b) Diiringi dengan doa dan ritual.
c) Sering kali dilaksanakan dalam suasana perayaan di hadapan keluarga dan komunitas.
a) Di kalangan Yahudi Reformis atau Liberal, praktik ini tidak selalu diikuti dengan ketat.
b) Ada yang menundanya atau bahkan tidak melakukannya sama sekali, melihatnya sebagai simbol budaya, bukan perintah mutlak.
Ya, mayoritas orang Yahudi ortodoks masih dengan sangat ketat menyunat anak laki-laki mereka pada hari ke-8 sebagai ketaatan pada perjanjian Abraham. Di luar kelompok ortodoks, praktik ini bervariasi tergantung keyakinan masing-masing kelompok Yahudi.
----------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan: bagaimana dengan Yahudi Kristen? Apakah juga mempraktekkan sunat?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan Anda sangat penting karena menyentuh isu identitas, hukum Taurat, dan iman dalam Kristus. Jawaban singkatnya:
Secara umum, Yahudi Kristen (Messianic Jews) tidak menganggap sunat sebagai keharusan rohani, tetapi sebagian tetap melakukannya sebagai identitas budaya.
Berikut penjelasan lebih lengkap:
1) Siapa itu Yahudi Kristen (Messianic Jews)?
Mereka adalah orang-orang Yahudi yang percaya bahwa Yesus (Yeshua) adalah Mesias yang dijanjikan, namun tetap menjaga unsur-unsur budaya dan tradisi Yahudi.
2) Apakah mereka mempraktekkan sunat?
a) Sebagian
besar tidak menganggap sunat sebagai keharusan keselamatan.
Mereka mengikuti ajaran Perjanjian Baru, seperti:
1. Gal 5:6 - ‘Sebab di dalam Kristus Yesus tidak ada artinya bersunat atau tidak bersunat, tetapi hanya iman yang bekerja oleh kasih.’
2. Kisah 15 - Keputusan konsili Yerusalem: orang non-Yahudi tidak harus disunat untuk menjadi bagian dari umat Allah.
b) Namun banyak Yahudi Kristen tetap menyunatkan anak-anak mereka.
1. Bukan karena hukum Taurat, melainkan sebagai bagian dari warisan budaya Yahudi, sama seperti mereka tetap merayakan Paskah Yahudi, mengenakan tzitzit, atau makan makanan kosher.
2. Bagi mereka, sunat adalah tanda etnis Yahudi, bukan sarana keselamatan.
3) Apakah Yahudi Kristen boleh sunat menurut Alkitab?
Boleh, selama tidak dianggap sebagai syarat keselamatan. Rasul Paulus sendiri:
a) Menyuruh Timotius disunat (Kis 16:3) karena ibunya Yahudi - demi misi, bukan demi keselamatan.
b) Tapi menolak keras sunat sebagai keharusan rohani (Gal 2:3-5; Gal 5:2-4).
4) Kesimpulan
a) Yahudi Kristen tidak melihat sunat sebagai syarat keselamatan.
b) Tetapi banyak yang tetap melakukannya sebagai ekspresi budaya Yahudi.
c) Yang penting adalah motivasinya: jika dilakukan sebagai identitas etnis, itu sah. Tapi jika dijadikan syarat dibenarkan di hadapan Allah, itu menolak Injil.
----------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan: apakah tzitzit itu?
Jawaban ChatGPT:
Tzitzit (צִיצִית) adalah rumbai-rumbai benang yang dipasang pada keempat ujung pakaian orang Israel, sebagai tanda peringatan akan hukum Tuhan.
Tzitzit diperintahkan langsung oleh Allah dalam: Bil 15:38-39:
“Katakanlah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka supaya mereka membuat rumbai-rumbai (tzitzit) pada punca pakaian mereka turun-temurun dan supaya mereka meletakkan tali yang berwarna ungu kebiruan pada rumbai di punca itu. Maka rumbai itu akan menjadi bagimu tanda pengingat, supaya kamu melihatnya dan mengingat segala perintah TUHAN serta melakukannya...”
a) Simbol ketaatan kepada hukum Tuhan.
b) Pengingat visual agar umat tidak mengikuti keinginan hati dan mata mereka (Bil 15:39).
c) Sejenis ‘pengingat suci’ yang menolong umat hidup kudus di tengah dunia.
a) Tzitzit biasanya berupa empat jumbai benang, diikat dan dijalin dengan pola tertentu.
b) Dihubungkan dengan pakaian khusus yang disebut tallit (selendang doa) atau tallit katan (pakaian dalam dengan empat ujung).
c) Benang berwarna biru (tekhelet) dulunya berasal dari pewarna khusus (murex), tapi sempat hilang dan kini diproduksi kembali oleh beberapa kelompok.
Yesus sendiri, sebagai orang Yahudi yang taat, mengenakan tzitzit.
Ini menunjukkan bahwa Yesus menghormati hukum Musa yang masih berlaku saat itu.
a) Tidak wajib, karena kita tidak lagi di bawah hukum Musa dalam bentuk seremonial (Kol 2:16-17).
b) Tetapi maknanya tetap relevan secara rohani: kita dipanggil untuk hidup kudus, taat kepada firman, dan mengingat perintah Tuhan.
c) Jika ada orang Kristen berlatar belakang Yahudi yang tetap memakai tzitzit sebagai bagian budaya, itu boleh, selama tidak dianggap sebagai syarat keselamatan atau kesalehan yang lebih tinggi.
==================================================
2) Perjamuan Paskah (Kel 12:1-28,43-51).
Catatan: yang dimaksud dengan ‘Paskah’ di sini bukanlah hari Kebangkitan Yesus (Inggris: ‘Easter’), tetapi hari keluarnya Israel dari Mesir (Inggris: ‘Passover’).
Kel 12:1-28,43-51 - “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: (2) ‘Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. (3) Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. (4) Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. (5) Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. (6) Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. (7) Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. (8) Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit. (9) Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya. (10) Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api. (11) Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN. (12) Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN. (13) Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. (14) Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. (15) Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel. (16) Kamu adakanlah pertemuan yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apapun; hanya apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan. (17) Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya. (18) Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu petang. (19) Tujuh hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jemaah Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli. (20) Sesuatu apapun yang beragi tidak boleh kamu makan; kamu makanlah roti yang tidak beragi di segala tempat kediamanmu.’ (21) Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: ‘Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah. (22) Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi. (23) Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi. (24) Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu. (25) Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankanNya, maka kamu harus pelihara ibadah ini. (26) Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? (27) maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.’ Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. (28) Pergilah orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka. ... (43) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: ‘Inilah ketetapan mengenai Paskah: Tidak seorangpun dari bangsa asing boleh memakannya. (44) Seorang budak belian barulah boleh memakannya, setelah engkau menyunat dia. (45) Orang pendatang dan orang upahan tidak boleh memakannya. (46) Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan (bdk. Yoh 19:32-36). (47) Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya. (48) Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorangpun yang tidak bersunat boleh memakannya. (49) Satu hukum saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing yang menetap di tengah-tengah kamu.’ (50) Seluruh orang Israel berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka. (51) Dan tepat pada hari itu juga TUHAN membawa orang Israel keluar dari tanah Mesir, menurut pasukan mereka.”.
----------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan: mengapa orang-orang Yahudi makan Paskah dengan postur / posisi tubuh yang berbeda dengan pada waktu mereka makan Paskah pertama, dalam Kel 12:11?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan Anda sangat baik dan menyentuh aspek historis-liturgis yang penting. Dalam Keluaran 12:11, saat Paskah pertama (malam sebelum Eksodus), orang Israel diperintahkan makan dengan sikap bersiaga:
"Beginilah kamu harus memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN." (Kel 12:11)
1) Makna Sikap Paskah Pertama: Siap untuk Keluar
Pada malam Paskah pertama, orang Israel makan dengan postur berdiri atau siap berjalan (pinggang berikat, kasut dipakai, tongkat di tangan), sebagai simbol kesiapan untuk segera keluar dari Mesir. Ini adalah makanan dalam konteks eksodus darurat, bukan pesta perayaan. Maka posturnya tegang, siap tempur, penuh ketegangan.
2) Perubahan Setelah Eksodus: Dari Ketegangan ke Perayaan
Setelah mereka bebas dan menetap, Paskah menjadi peringatan tahunan yang penuh syukur. Dalam konteks ini, sikap tubuh mereka berubah dari siaga menjadi bersandar saat makan, khususnya pada masa Yesus dan setelahnya, yang mencerminkan:
a) Kebebasan dan kemerdekaan (tidak perlu bersiap lari)
b) Kenikmatan dan perayaan atas pembebasan yang sudah terjadi
c) Dalam tradisi Yahudi, bersandar saat makan adalah postur khas orang merdeka (orang merdeka makan dengan santai, sedangkan budak makan cepat-cepat)
3) Tradisi Rabinik
Dalam Haggadah Yahudi (teks liturgis untuk malam Paskah), bersandar ke kiri saat minum dan makan roti tidak beragi adalah praktik yang dianjurkan, sebagai lambang kemerdekaan. Mishnah (Pesachim 10:1) menegaskan bahwa Paskah sekarang harus dimakan dengan cara bersandar sebagai ekspresi orang merdeka.
4) Penerapan dalam Perjamuan Terakhir
Pada zaman Yesus, kebiasaan makan dalam perjamuan formal (termasuk Paskah) adalah duduk bersandar atau berbaring (dalam gaya Roma atau Timur Tengah kuno). Maka Yesus dan murid-murid-Nya makan Perjamuan Terakhir sambil bersandar (misalnya Yohanes 13:23).
Kesimpulan:
Perbedaan postur makan Paskah disebabkan oleh perubahan konteks:
|
Paskah Pertama (Kel 12:11) |
Paskah Setelah Eksodus |
|
Postur siap berjalan |
Postur bersandar |
|
Makna: keadaan darurat |
Makna: kemerdekaan |
|
Simbol: keluar dari perbudakan |
Simbol: telah dimerdekakan |
Perubahan ini mencerminkan transisi dari perbudakan ke kemerdekaan, dan teologi Paskah itu sendiri: dari penderitaan menuju perayaan pembebasan.
----------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan: Mengapa cara duduk itu terutama dilakukan pada zaman Yesus? Pada waktu masuk ke Kanaan, mereka sudah jadi bangsa merdeka, bukan? Dan pada zaman Yesus mereka justru dijajah oleh Romawi, bukan?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan yang sangat baik dan dalam. Kamu menanyakan mengapa orang Yahudi makan Perjamuan Paskah dengan cara berbaring bersandar (reclining at table) pada zaman Yesus, padahal mereka saat itu dijajah oleh Romawi - sementara pada zaman Musa mereka justru makan dengan berdiri dan siap siaga, karena masih menjadi budak di Mesir. Mengapa cara makan yang mencerminkan kemerdekaan itu justru dilakukan pada zaman penjajahan?
Berikut ini penjelasan historis-teologisnya:
1) Makna Teologis dari Posisi Duduk / Bersandar
Cara makan berbaring bersandar pada zaman Yesus bukan ditentukan oleh kondisi politik saat itu (merdeka atau dijajah), melainkan oleh makna teologis dan tradisi simbolis:
a) Dalam budaya Yahudi dan Romawi, posisi berbaring bersandar saat makan adalah tanda status sosial sebagai orang merdeka dan terhormat.
b) Oleh karena itu, orang Yahudi mengadopsi posisi itu saat makan Paskah untuk menyimbolkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah dimerdekakan oleh Allah, bukan lagi budak di Mesir — terlepas dari apakah secara politik mereka merdeka atau tidak.
Dengan kata lain: mereka menekankan identitas rohani mereka sebagai umat Allah yang telah ditebus, bukan status politik mereka saat ini.
2) Perintah dalam Keluaran 12:11 Bersifat Konteks Awal
Dalam Keluaran 12:11, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk makan Paskah dengan berdiri, memakai baju lengkap, sepatu, dan tongkat di tangan — karena mereka akan segera pergi keluar dari Mesir. Jadi itu adalah: cara makan yang mencerminkan kesiapsiagaan darurat, karena malam itu mereka akan dibebaskan.
Namun, setelah mereka keluar dari Mesir, cara itu tidak dipertahankan untuk selamanya. Justru seiring waktu, tradisi makan Paskah berubah menjadi cara yang lebih menunjukkan perayaan kemerdekaan — bukan kesiapsiagaan untuk keluar dari Mesir.
3) Perubahan Tradisi dalam Sejarah Yahudi
Setelah Israel menetap di Tanah Perjanjian, ritual Paskah bertransformasi dari tindakan darurat menjadi peringatan tahunan atas pembebasan. Maka:
a) Mereka makan dengan tenang dan khidmat, bukan dengan terburu-buru.
b) Dalam era intertestamental dan khususnya zaman Yesus, posisi berbaring bersandar (reclining) saat perjamuan menjadi hal umum dalam perjamuan formal, termasuk dalam Perjamuan Paskah.
4) Mereka Dijajah, tetapi Tetap Merdeka dalam Identitas Iman
Meskipun dijajah oleh Romawi pada zaman Yesus, bangsa Yahudi tetap memegang keyakinan bahwa mereka adalah umat Allah yang telah dimerdekakan dari Mesir, dan kemerdekaan rohani itu tidak dibatalkan oleh penjajahan politik.
Itu sebabnya dalam Perjamuan Paskah, mereka tetap makan dengan cara berbaring - sebagai pernyataan iman dan identitas rohani bahwa: “Kami adalah orang-orang merdeka, karena Tuhan telah membebaskan kami dari Mesir.”
Kesimpulan
Jadi, posisi berbaring saat makan Paskah di zaman Yesus adalah simbol kemerdekaan rohani, bukan kondisi politik saat itu. Ini menegaskan bahwa:
Identitas umat Allah tidak ditentukan oleh keadaan politik, tetapi oleh karya penyelamatan Allah dalam sejarah.
----------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan: apakah Perjamuan Paskah dalam Perjanjian Lama digantikan dengan Perjamuan Kudus dalam Perjanjian Baru? Kalau ya, dimana ayat yang menunjukkan hal itu?
Jawaban ChatGPT:
Ya, Perjamuan Paskah dalam Perjanjian Lama digantikan dan digenapi oleh Perjamuan Kudus dalam Perjanjian Baru. Penggantian ini tidak terjadi dengan perintah eksplisit seperti ‘Paskah kini digantikan oleh Perjamuan Kudus’, tetapi terjadi melalui tindakan dan pengajaran Yesus sendiri, yang menjadikan Perjamuan Kudus sebagai peringatan akan penebusan baru dalam diriNya, menggantikan Paskah sebagai peringatan akan penebusan dari Mesir.
Berikut penjelasannya secara bertahap:
1) Paskah = Perjamuan Peringatan Penebusan dari Mesir
a) Kel 12:1–28: Paskah ditetapkan sebagai peringatan pembebasan Israel dari perbudakan Mesir.
b) Domba Paskah disembelih, darahnya dipakai pada ambang pintu, dan dagingnya dimakan dalam semalam (Kel 12:8–10).
c) Paskah menjadi ritual tahunan sebagai peringatan akan penebusan oleh darah.
2) Yesus Mengadakan Perjamuan Terakhir pada Paskah
a) Mat 26:17–30, Mark 14:12–26, Luk 22:7–20: Yesus merayakan Paskah bersama murid-muridNya pada malam sebelum Ia disalibkan.
b) Dalam momen itulah, Yesus mengganti fokus Paskah:
‘Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu...’
‘Inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.’ (Mat 26:26–28)
3) Yesus Menetapkan Perjanjian Baru dalam Perjamuan Kudus
a) Dalam Lukas 22:20, Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu.”
b) Ini menggemakan Yeremia 31:31-34, janji tentang perjanjian baru yang akan datang.
Yer 31:31-34 - “(31) Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, (32) bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjianKu itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. (33) Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. (34) Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.’”.
4) Makna Teologis: Dari Bayangan ke Realitas
a) 1Kor 5:7-8: “Sebab Anak Domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta…”
Paulus melihat Kristus sebagai penggenapan dari domba Paskah.
b) Ibr 10:1: “Karena hukum Taurat hanya merupakan bayangan dari hal-hal yang baik yang akan datang, bukan hakekat dari hal-hal itu sendiri...”
Jadi Paskah dalam PL adalah bayangan, sementara Perjamuan Kudus adalah realitas yang digenapi dalam Kristus.
5) Kesimpulan
a) Ya, Perjamuan Kudus menggantikan Perjamuan Paskah sebagai tanda perjanjian penebusan.
b) Ayat-ayat utama yang menunjukkan penggantian ini:
1. Lukas 22:20 - Penetapan Perjanjian Baru dalam darahNya.
2. 1Kor 5:7–8 - Kristus sebagai Anak Domba Paskah.
3. 1Kor 11:23–26 - Perjamuan Kudus sebagai peringatan akan kematian Kristus.
c) Paskah menunjuk ke depan (bayangan), Perjamuan Kudus menunjuk ke belakang (penggenapan), dan juga ke depan lagi (kedatangan Kristus, 1Kor 11:26).
----------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan: aku tak bisa melihat bahwa perubahan Perjamuan Paskah menjadi Perjamuan Kudus berhubungan dengan Yer 31:31-34. Khususnya ay 33-34, apa hubungannya dengan Perjamuan Kudus?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan Anda sangat tajam dan tepat sasaran. Banyak orang mengutip Yer 31:31–34 sebagai nubuatan tentang ‘Perjanjian Baru’, tetapi memang tidak semua bagian dari ayat itu tampak langsung berkaitan dengan Perjamuan Kudus secara eksplisit. Mari kita bahas secara lebih sistematis, dengan tetap menghormati ketelitian Anda.
(31) Akan datang waktunya… Aku akan mengadakan perjanjian baru… (33) “Aku akan menaruh hukumKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka…” (34) “...mereka semua akan mengenal Aku… sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.”
Mungkin secara sekilas ayat ini tidak terlihat membahas Perjamuan Kudus. Tapi dalam konteks teologi perjanjian dan tindakan Yesus dalam Perjamuan Terakhir, hubungan itu menjadi sangat jelas. Berikut penjabarannya:
Dalam Luk 22:20, Yesus berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu, yang ditumpahkan bagi kamu.”
Kalimat ini langsung menunjuk pada Yer 31:31 - “Aku akan mengadakan perjanjian baru”. Maka Yesus sendiri menjadikan Yeremia 31 sebagai dasar teologis dari Perjamuan Kudus.
Jadi, Yesus menafsir Yer 31 sebagai digenapi melalui darahNya, dan menetapkan Perjamuan Kudus sebagai tanda perjanjian baru itu.
Lihat struktur ini:
|
Yeremia 31 |
Digenapi melalui Kristus dan Perjamuan Kudus |
|
“Perjanjian Baru” (ay 31) |
“Cawan ini adalah perjanjian baru…” (Luk 22:20) |
|
“Aku akan mengampuni…” (ay 34) |
“...darahKu... ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mat 26:28) |
|
“Hukum di hati” (ay 33) |
Roh Kudus yang diberikan kepada orang percaya membentuk kehidupan batin (bdk. 2Kor 3:3) |
|
“Mereka semua akan mengenal Aku” (ay 34) |
Dalam Perjamuan Kudus, kita bersekutu dengan Kristus (1Kor 10:16) dan mengenal Dia melalui Injil |
2Kor 3:3 - “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”.
1Kor 10:16 - “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?”.
3) Konteks: Dari hukum eksternal ke relasi internal
Yer 31 menubuatkan bahwa relasi dengan Allah tidak lagi bersifat eksternal-seremonial seperti dalam Taurat, tetapi internal dan rohani, ditulis di hati.
Perjamuan Kudus adalah simbol dari relasi batiniah yang baru ini, bukan hanya ritual luar seperti Paskah dalam PL. Ia menunjuk kepada pengampunan, persekutuan dengan Kristus, dan transformasi hati oleh kasih karunia.
4) Kesimpulan
a) Yeremia 31:31-34 tidak berbicara langsung tentang Perjamuan Kudus, tetapi tentang perjanjian baru yang bersifat rohani, internal, dan penuh pengampunan.
b) Yesus menghubungkan Yer 31 dengan Perjamuan Kudus dalam Luk 22:20.
c) Maka, Perjamuan Kudus adalah tanda perjanjian baru itu - sama seperti Paskah adalah tanda perjanjian lama.
d) Dengan demikian, Perjamuan Kudus menggantikan Paskah sebagai tanda umat Allah telah ditebus - bukan dari Mesir, tetapi dari dosa.
==================================================
Dalam Perjanjian Baru juga ada 2 sakramen:
1) Baptisan (Mat 28:19), yang menggantikan Sunat (Kol 2:11-12).
Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”.
Kol 2:11-12 - “(11) Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, (12) karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.”.
==================================================
Pertanyaan: sunat hanya dilakukan kepada laki-laki, sedangkan baptisan dilakukan terhadap laki-laki maupun perempuan. Jadi, bagaimana sunat bisa menggantikan baptisan?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan Anda sangat bagus dan sering menjadi bahan perdebatan dalam diskusi tentang baptisan bayi dan kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Memang benar bahwa sunat hanya dilakukan kepada laki-laki, sedangkan baptisan dilakukan kepada laki-laki maupun perempuan (Kisah 8:12; Galatia 3:28). Maka muncul pertanyaan: bagaimana mungkin sunat menjadi “pengganti” atau paralel dari baptisan, jika subjeknya berbeda?
a) Sunat dalam Perjanjian Lama adalah tanda perjanjian antara Allah dan umat-Nya (Kejadian 17:7–14).
b) Baptisan dalam Perjanjian Baru juga adalah tanda perjanjian, tanda masuknya seseorang ke dalam umat Allah yang sejati (Kolose 2:11–12; Kisah 2:38–39).
Maka meskipun wujudnya berbeda, fungsi teologisnya sama: menjadi tanda eksternal dari hubungan perjanjian dengan Allah.
a) Dalam Perjanjian Baru, perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal tanda perjanjian dihapuskan (Galatia 3:27–28).
b) Maka, baptisan bukan hanya menggantikan sunat, tetapi menggenapi dan melampauinya — ia berlaku untuk semua, laki-laki dan perempuan, karena dalam Kristus semua menjadi satu.
Paulus menulis: “Dalam Dia kamu telah disunat... bukan dengan sunat yang dilakukan oleh tangan manusia, tetapi dengan sunat Kristus... karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan...”
Ayat ini menunjukkan hubungan langsung antara sunat rohani dan baptisan - dan Paulus menyebutnya sebagai sunat rohani dalam Kristus.
Maka, teolog Reformed menyimpulkan bahwa baptisan menggantikan sunat sebagai tanda perjanjian, bukan dalam bentuk lahiriahnya, tapi dalam makna teologis dan rohaninya.
Dalam Kisah 2:38–39, setelah Petrus menyuruh orang bertobat dan dibaptis, ia berkata: “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu...”
Frasa ini menggemakan Kej 17:7:“Aku akan mengadakan perjanjianKu... antara Aku dan engkau serta keturunanmu...”
Artinya, struktur perjanjian tetap sama, hanya tandanya yang berubah.
Sunat tidak identik secara fisik dengan baptisan, karena sunat hanya untuk laki-laki, sedangkan baptisan untuk semua. Tetapi dalam rencana keselamatan Allah, fungsi dan makna teologis dari sunat sebagai tanda perjanjian diteruskan dan digenapi dalam baptisan. Maka, meskipun subjeknya lebih luas, baptisan adalah pengganti yang sah dan lebih sempurna dari sunat dalam konteks perjanjian baru.
==================================================
2) Perjamuan Kudus (Mat 26:26-28 1Kor 11:23-26), yang menggantikan Perjamuan Paskah.
Mat 26:26-28 - “(26) Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-muridNya dan berkata: ‘Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu.’ (27) Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: ‘Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. (28) Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”.
1Kor 11:23-26 - “(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ (26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”.
1) Baptisan adalah perintah Tuhan.
Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”.
a) Baptisan memang tidak menyelamatkan kita. Ini terlihat dari banyak kasus, misalnya:
1. Yudas Iskariot jelas sudah dibaptis, tetapi ia tidak selamat, karena ia tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus.
2. Simon tukang sihir juga menyatakan percaya dan dibaptis (Kis 8:13), tetapi dari kata-kata Petrus kepadanya dalam Kis 8:20-23 terlihat bahwa ia belum diselamatkan.
Kis 8:13,20-23 - “(13) Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi. ... (20) Tetapi Petrus berkata kepadanya: ‘Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. (21) Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. (22) Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; (23) sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.’”.
b) Sekalipun baptisan tidak menyelamatkan, tetapi orang yang percaya harus dibaptis, karena ini adalah perintah Tuhan, dan karenanya harus ditaati.
Ketaatan kita pada perintah ini sekaligus menunjukkan bahwa kita berani mengakui Kristus di depan orang atau berani mengakui diri kita sebagai pengikut Kristus.
Bdk. Mat 10:32-33 - “(32) Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. (33) Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga.’”.
Peristiwa dimana Musa hampir dibunuh oleh Tuhan karena lalai menyunatkan anaknya (Kel 4:24-26), menunjukkan bahwa Allah tidak menganggap ringan dosa dari orang yang melalaikan sakramen.
Kel 4:24-26 - “(24) Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. (25) Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: ‘Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.’ (26) Lalu TUHAN membiarkan Musa. ‘Pengantin darah,’ kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu.”.
c) Kalau seseorang percaya kepada Yesus dan tidak sempat dibaptis, maka ia tetap selamat.
Ini terlihat dengan jelas dalam diri penjahat yang bertobat di kayu salib, yang jelas belum dibaptis, tetapi beriman kepada Yesus sehingga dijamin keselamatannya oleh Yesus.
Luk 23:39-43 - “(39) Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: ‘Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!’ (40) Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? (41) Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.’ (42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’ (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
Karena itu, bagi orang yang belum percaya yang sedang sekarat, jauh lebih penting mendengar Injil supaya ia bisa percaya kepada Kristus, dari pada cepat-cepat dibaptis tanpa percaya sungguh-sungguh. Jadi, pada saat saudara menjumpai orang seperti itu, yang terpenting bukan mengusahakan supaya orang itu dibaptis, tetapi supaya orang itu percaya kepada Yesus. Dan ini hanya bisa dilakukan dengan memberitakan Injil kepadanya.
2) Formula baptisan.
Yang dimaksud dengan ‘formula baptisan’ adalah kata-kata yang diucapkan oleh pendeta pada waktu membaptis.
Dalam Kitab Suci formula baptisan ini hanya ada di satu tempat yaitu Mat 28:19 - ‘dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus’.
Karena itu pada waktu pendeta membaptis, ia berkata: ‘Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amin’.
Tetapi sekarang perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
a) Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”.
b) Kis 8:16 - “Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.”.
c) Kis 10:48 - “Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.”.
d) Kis 19:5 - “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.”.
Ada banyak orang yang berdasarkan kata-kata ‘dibaptis dalam nama Tuhan Yesus / Yesus Kristus’ dalam ayat-ayat tersebut di atas, lalu mengubah / memodifikasi formula baptisan, sehingga pada waktu membaptis mereka mengucapkan kata-kata: ‘Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Amin’.
Ini salah karena:
a) Kis 2:38 Kis 8:16 Kis 10:48 Kis 19:5 itu bukanlah formula baptisan.
Betul-betul tidak masuk akal, kalau Yesus sudah memberikan formula baptisan dalam Mat 28:19, lalu rasul-rasul berani mengubahnya.
Kata-kata ‘dibaptis dalam nama Tuhan Yesus / Yesus Kristus’ mempunyai beberapa kemungkinan penafsiran, yaitu:
1. Sekedar berarti ‘dibaptis dengan baptisan Kristen’.
2. Dibaptis sesuai dengan ajaran Yesus.
3. Dibaptis berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yesus.
4. Dibaptis dengan otoritas Tuhan Yesus.
5. Supaya pada waktu orang itu dibaptis ia melihat kepada Kristus, dan menyadari bahwa tanpa jasa penebusan Kristus baptisan itu sia-sia.
6. Dibaptis sehingga masuk ke dalam tubuh Kristus (gereja).
Yang jelas, kata-kata itu bukanlah formula baptisan!
b) ‘Bapa, Anak dan Roh Kudus’ tidak sama dengan ‘Tuhan Yesus Kristus’! Jadi, formula baptisan yang baru itu salah secara theologis!
W. G. T. Shedd (tentang Ro 6:3): “Baptism in the name of Christ alone (involving an alteration of the baptismal formula given in Mat. 28:19) is not valid, according to the decision of the Church, in the controversy between Cyprian and Stephen: the latter of whom contended that baptism might be administered in the name of Jesus Christ simply. It would have been equally irregular to baptize in the name of the Father alone, or of the Holy Spirit alone.” [= Baptisan dalam nama Kristus saja (menyangkut suatu perubahan dari formula baptisan yang diberikan dalam Mat 28:19) tidak sah, sesuai dengan keputusan Gereja, dalam kontroversi antara Cyprian dan Stephen: yang belakangan dari dua orang itu berjuang / berdebat bahwa baptisan bisa / boleh dilakukan hanya dalam nama Yesus Kristus. Juga merupakan hal yang secara sama bertentangan dengan hukum untuk membaptis dalam nama dari Bapa saja, atau dari Roh Kudus saja.] - ‘Commentary on Romans’ (Libronix).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin