Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 3 Juni 2025, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

FONDASI KRISTEN ii(16)

 

12 PENGAKUAN IMAN RASULI(8)

 

2) Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai sifat-sifat Allah seperti:

 

a) Kekal.

Ibr 9:14 - “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”.

 

b) Mahaada.

Maz 139:7-10 - “(7) Ke mana aku dapat pergi menjauhi rohMu, ke mana aku dapat lari dari hadapanMu? (8) Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. (9) Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, (10) juga di sana tanganMu akan menuntun aku, dan tangan kananMu memegang aku.”.

 

c)  Mahatahu.

1Kor 2:10-11 - “(10) Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. (11) Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.”.

 

Yes 40:13 - “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepadaNya sebagai penasihat?”.

 

1Kor 2:10-11 yang mengatakan bahwa Roh Kudus itu menyelidiki segala sesuatu, dan tahu apa yang ada dalam diri Allah, jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus itu mahatahu! Dan Yes 40:13 yang menunjukkan bahwa tak ada yang bisa memberi petunjuk kepada Roh Kudus atau menjadi penasihatNya, pasti juga demikian.

 

d) Mahakuasa.

Mat 12:28 - “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.”.

 

e) Suci.

Ini terlihat dari sebutan ‘kudus’, dan juga terlihat dari Ef 4:30 dan Yes 63:10 yang menunjukkan bahwa dosa kita mendukakan Roh Kudus.

 

Ef 4:30 - “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”.

 

Yes 63:10 - “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh KudusNya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka.”.

 

3) Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Roh Kudus melakukan pekerjaan-pekerjaan ilahi seperti:

 

a) Penciptaan.

Kej 1:2 - “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”.

 

Di atas sudah saya katakan bahwa Roh Kudus tidak mungkin hanya sekedar melayang-layang sebagai penonton, tetapi Ia ikut serta dalam pekerjaan penciptaan.

 

Ayub 33:4 - Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.”.

 

b) Melahirbarukan.

Yoh 3:5-6 - “(5) Jawab Yesus: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. (6) Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.”.

 

Tit 3:5 - “pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat (belas kasihan) Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,”.

 

c)  Membangkitkan Yesus.

Ro 8:11 - “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh RohNya, yang diam di dalam kamu.”. Cek dengan Bible Works 8.

 

============================================

 

Pertanyaan: Dalam Ro 8:11 dari mana ada kata ‘Dia’ / ‘Him’, padahal dalam bahasa Yunaninya tidak ada?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaanmu sangat baik dan tajam. Memang dalam Roma 8:11, beberapa terjemahan Inggris dan Indonesia menambahkan kata ganti ‘Dia’ atau ‘Him’ (merujuk kepada Kristus), padahal dalam teks Yunani asli, kata itu tidak eksplisit disebut. Mari kita analisis secara cermat.

 

Teks Yunani Roma 8:11

 

Berikut teks Yunani dari bagian penting ayat ini:

εἰ δὲ τὸ πνεῦμα τοῦ ἐγείραντος Ἰησοῦν ἐκ νεκρῶν οἰκεῖ ἐν ὑμῖν, ὁ ἐγείρας Χριστὸν ἐκ νεκρῶν ζωοποιήσει καὶ τὰ θνητὰ σώματα ὑμῶν

(ei de to pneuma tou egeirantos Iēsoun ek nekrōn oikei en hymin, ho egeiras Christon ek nekrōn zōopoiēsei kai ta thnēta sōmata hymōn)

 

Terjemahan harfiah:

 

“Jika Roh dari Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati diam di dalam kamu, maka Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana...”

 

Perhatikan:

1)  “ho egeiras Christon ek nekrōn” = “Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati”.

2)  Tidak disebut siapa “Dia” itu secara eksplisit dengan kata ganti (autos), tapi disebut melalui partisip “ho egeiras” (yang membangkitkan).

 

Jadi:

“Dia” = Allah Bapa, yang disebut secara tidak langsung sebagai “yang membangkitkan Kristus dari kematian”.

 

Mengapa Terjemahan Menambahkan ‘Dia’ / ‘Him’?

 

Karena bahasa Indonesia dan Inggris membutuhkan subjek eksplisit, sedangkan Yunani bisa menyampaikan subjek melalui bentuk kata kerja atau partisip.

 

Dalam ayat ini:

a)  Kata ‘ho egeiras’ = bentuk participle aorist aktif maskulin tunggal → berarti: ‘Dia yang telah membangkitkan’.

b)  Terjemahan ‘Dia’ atau ‘He’ hanya menerjemahkan fungsi subjek dari participle itu, bukan menambahkan makna baru.

 

Penjelasan dari Ahli Tafsir Reformed

 

Douglas Moo (NIV Application Commentary):

 

“The subject is ‘He who raised Christ’ - clearly referring to God the Father. Though the pronoun ‘He’ is not explicitly stated in Greek, it is inherent in the participial construction.”

 

Terjemahan:

 

“Subjeknya adalah ‘Dia yang membangkitkan Kristus’ - jelas menunjuk kepada Allah Bapa. Meskipun kata ganti ‘Dia’ tidak disebut secara eksplisit dalam bahasa Yunani, kata itu tersirat dalam bentuk participle-nya.”

 

Kesimpulan Singkat

1.  Dalam Roma 8:11, memang tidak ada kata Yunani eksplisit untuk ‘Dia’ atau ‘Him’, tetapi subjek Allah Bapa tersirat dalam partisip ‘yang membangkitkan’.

2.  Karena itu, penerjemahan ‘Dia’ atau ‘He’ bukan penambahan makna, tapi penyesuaian tata bahasa agar bisa dimengerti dalam bahasa penerima, seperti Indonesia atau Inggris.

 

============================================

 

John Murray (tentang Ro 8:11): He that ‘raised up Jesus from the dead’ is without question the Father [= Ia yang ‘membangkitkan Yesus dari antara orang mati’ tak diragukan adalah sang Bapa] - ‘The Epistle to the Romans’ (NICNT), hal 291.

 

Catatan: kata ‘Roh’ memang tidak mungkin merupakan subyek dari kata ‘membangkitkan’ karena kata ‘Roh’ berjenis kelamin netral (neuter), sedangkan kata ‘membangkitkan’ berjenis kelamin laki-laki (masculine). Cek dengan Bible Works 8.

 

Tetapi bagaimana dengan kata-kata bagian akhir dari ayat itu?

 

John Murray (tentang Ro 8:11): The text followed by the version expressly indicates that the Holy Spirit will be active in the resurrection - ‘through his Spirit that dwelleth in you’. Though the Father is the specific agent in the resurrection of believers as in that of Christ, this does not exclude the agency of the Holy Spirit. The persons of the Godhead are co-active in the acts of redemption and will be also in the consummating act. If we follow this textual variant, there is the further implication that the Holy Spirit was also active in the resurrection of Christ from the dead. The Father’s raising up of Christ is represented in this text as the guarantee that believers will be raised up, too. There is also the suggestion that the pattern provided by the resurrection of Christ is followed in the resurrection of believers (cf. Eph. 1:17ff.). Hence if the Holy Spirit is active in the resurrection of believers, it would follow that he was also active in the resurrection of Christ. For the latter supplies the basis and the pattern for the former. [= Text yang diikuti oleh versi ini secara explicit menunjukkan bahwa Roh Kudus akan aktif dalam kebangkitan - ‘melalui RohNya yang tinggal / diam di dalam kamu’. Sekalipun Bapa adalah agen spesifik dalam kebangkitan orang-orang percaya seperti dalam kebangkitan Kristus, ini tidak mengeluarkan keagenan dari Roh Kudus. Pribadi-pribadi dari Allah bersama-sama aktif dalam tindakan-tindakan penebusan dan juga demikian dalam tindakan yang menyelesaikan / terakhir. Jika kita mengikuti perbedaan text ini, di sana ada petunjuk implicit yang lebih jauh bahwa Roh Kudus juga aktif dalam kebangkitan Kristus dari orang mati. Pembangkitan Kristus oleh Bapa digambarkan dalam text ini sebagai jaminan bahwa orang-orang percaya akan dibangkitkan juga. Disana juga ada suatu petunjuk bahwa pola yang disediakan oleh kebangkitan Kristus diikuti dalam kebangkitan orang-orang percaya (bdk. Ef 1:17-dst). Jadi, jika Roh Kudus aktif dalam kebangkitan orang-orang percaya, akibatnya Ia juga aktif dalam kebangkitan Kristus. Karena yang belakangan menyuplai dasar dan pola dari yang lebih dulu.] - ‘The Epistle to the Romans’ (NICNT), hal 292.

 

4) Nama Roh Kudus ditempatkan dalam posisi yang sejajar dengan nama Bapa dan Anak, seperti dalam Mat 28:19 dan 2Kor 13:13.

 

Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”.

 

2Kor 13:13 - “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”.

 

Memang kalau ada 3 nama diletakkan dalam satu ayat / text, itu tidak harus membuktikan bahwa ketiganya setingkat. Tetapi dalam kasus-kasus tertentu, 3 nama yang diletakkan berjajar bisa menunjukkan bahwa mereka setingkat.

 

Misalnya kalau dikatakan ada konperensi tingkat tinggi 3 negara, maka kalau negara yang satu mengirimkan kepala negara, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian. Kalau negara yang satu mengirim menteri luar negeri, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian.

 

Dan perlu diperhatikan bahwa dalam Mat 28:19 nama Bapa, Anak dan Roh Kudus disejajarkan bukan dalam sembarang peristiwa, tetapi dalam formula baptisan, yang merupakan sesuatu yang sakral. Adalah aneh, bahkan tidak masuk akal, kalau Yesus memerintahkan supaya seseorang dibaptis dalam nama Bapa (yang adalah Allah), Anak (yang juga adalah Allah), dan Roh Kudus (yang bukan Allah, bahkan bukan pribadi).

 

Demikian juga dalam 2Kor 13:13 Paulus menyejajarkan Yesus, Allah (Bapa) dan Roh Kudus, bukan dalam peristiwa sembarangan, tetapi pada saat ia memberi berkat kepada gereja Korintus, yang lagi-lagi merupakan sesuatu yang sakral.

 

Karena itu, text-text ini bisa dijadikan dasar bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu setingkat. Dan ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Allah sendiri! Karena itu bisa disimpulkan bahwa dalam 2 ayat tersebut, penyejajaran Bapa, Anak dan Roh Kudus menunjukkan bahwa 3 pribadi itu setingkat! Dan ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Allah sendiri!

 

5) Ada satu tambahan lagi yang membuktikan baik Roh Kudus sebagai Pribadi, maupun Roh Kudus sebagai Allah.

 

Yoh 14:16 - Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,.

 

Bdk. 1Yoh 2:1 - Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil..

 

a) Kata ‘Penolong’ dalam Yoh 14:16 dan kata ‘pengantara’ dalam 1Yoh 2:1 dalam bahasa Yunaninya adalah sama, yaitu PARAKLETOS, yang bisa diartikan penolong, penghibur, pengacara / pembela hukum.

 

b) Kata ‘yang lain’ dalam Yoh 14:16 secara implicit menunjukkan bahwa sudah ada seorang PARAKLETOS, dan itu pasti adalah Yesus (1Yoh 2:1).

 

c)  Waktu Yesus naik ke surga, Bapa memberikan kita (orang-orang percaya) PARAKLETOS ‘yang lain’.

 

Pada waktu Yesus masih bersama murid-muridNya, Ialah yang menolong murid-muridNya menghadapi serangan setan, Ia yang selalu memberi nasehat kepada murid-muridNya, Ia juga yang menguatkan mereka pada saat sedih, putus asa, dsb. Setelah Yesus meninggalkan murid-muridNya, Roh Kudus akan datang menggantikan Yesus melakukan hal-hal itu.

 

d) Tetapi perlu diingat bahwa ini tidak berarti bahwa Kristus lalu berhenti menjadi PARAKLETOS.

 

William Hendriksen: “... one Helper is leaving, but he leaves with the purpose of sending another. Moreover, the first Helper, though physically absent, will remain a Helper. He will be their Helper in heaven. The other will be their Helper on earth. The first pleads their case with God. The second pleads God’s case with them.” [= ... satu Penolong pergi, tetapi Ia pergi dengan tujuan untuk mengirimkan yang lain. Lebih lagi, Penolong yang pertama, sekalipun tidak hadir secara fisik, akan tetap menjadi Penolong. Ia akan menjadi Penolong mereka di surga. Yang lain akan menjadi Penolong mereka di bumi. Yang pertama membela / memohonkan kasus mereka terhadap Allah. Yang kedua membela / memohonkan kasus Allah terhadap mereka.] - hal 277.

 

e) Pembahasan tentang arti kata ‘another / yang lain’.

 

Ada 2 kata bahasa Yunani yang berarti ‘yang lain’ (= another), yaitu ALLOS dan HETEROS. Tetapi kedua kata ini ada bedanya.

 

W. E. Vine dalam bukunya yang berjudul ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’ mengatakan sebagai berikut: “ALLOS ... denotes another of the same sort; HETEROS ... denotes another of a different sort.” [= ALLOS ... menunjuk pada yang lain dari jenis yang sama; HETEROS ... menunjuk pada yang lain dari jenis yang berbeda.] - hal 52.

 

Illustrasi: Di sini ada 1 gelas Aqua. Kalau saya menginginkan 1 gelas Aqua lagi, yang sama dengan yang ada di sini, maka saya akan menggunakan kata ALLOS. Tetapi kalau saya menghendaki minuman yang lain, misalnya Coca Cola, maka saya harus menggunakan kata HETEROS, bukan ALLOS.

 

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘yang lain’ dalam Yoh 14:16 bukanlah HETEROS, tetapi ALLOS. Andaikata yang digunakan adalah HETER­OS, maka itu akan menunjukkan adanya perbedaan sifat antara Yesus dan Roh Kudus, sehingga bisa saja Yesusnya sabar sedangkan Roh Kudusnya tidak, atau Yesus adalah Allah dan seorang yang berpriba­di, sedangkan Roh Kudus bukan. Tetapi karena kata Yunani yang digunakan adalah ALLOS, ini menunjukkan bahwa Roh Kudus, sekalipun adalah PARAKLETOS yang lain dari pada Yesus, tetapi mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Yesus.

 

Karena itu dalam komentarnya tentang ayat ini William Hendriksen mengatakan tentang Roh Kudus sebagai berikut: “The passage clearly indicates that the Holy Spirit is not merely a power but a person, just like the Father and the Son. He is another Helper, not a different Helper. The word another indicates one like myself, who will take my place, do my work. Hence, if Jesus is a person, the Holy Spirit must also be a per­son.” [= Bagian ini menunjukkan secara jelas bahwa Roh Kudus bukanlah semata-mata ‘suatu kuasa’ tetapi ‘seorang pribadi’, persis seperti Bapa dan Anak. Ia adalah Penolong yang lain, bukan Penolong yang berbeda. Kata ‘yang lain’ menunjukkan seseorang seperti Aku sendiri, yang akan mengambil tempatKu, melakukan pekerjaanKu. Jadi, jika Yesus adalah seorang pribadi, Roh Kudus harus juga adalah seorang priba­di.] - hal 275.

 

William Hendriksen melanjutkan dengan berkata: “For the same reason, if Jesus is divine, the Spirit, too, must be divine.” [= Dengan alasan yang sama, jika Yesus bersifat ilahi / adalah Allah, Roh juga harus bersifat ilahi / adalah Allah.] - hal 275.

 

C) Hari turunnya Roh Kudus disebut hari Pentakosta.

 

Ini terjadi 50 hari setelah Paskah / Kebangkitan Yesus, atau 10 hari setelah hari Kenaikan Yesus ke surga.

 

D) Hal-hal / istilah-istilah yang berhubungan dengan Roh Kudus.

 

Dengan munculnya gerakan Pentakosta, dan apalagi Kharismatik, maka zaman sekarang ada banyak istilah populer yang berhubungan dengan Roh Kudus. Dan kita perlu mengerti tentang hal-hal ini supaya tidak terseret ke dalam kesalahan oleh istilah-istilah populer itu.

 

================================================

 

Pertanyaan: Dari mana muncul sebutan Pantekosta itu? Bukankah seharusnya Pentakosta?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaan ini sangat baik, dan memang membingungkan banyak orang karena dalam bahasa Indonesia sering muncul dua bentuk: Pantekosta dan Pentakosta. Mari kita bahas asal-usulnya dan mengapa bentuk ‘Pantekosta’ muncul dan digunakan di Indonesia:

 

Asal Kata Asli

Kata Pentakosta berasal dari bahasa Yunani: πεντηκοστή (pentēkostē) = ‘yang kelima puluh’

Kata ini merujuk pada hari ke-50 sesudah Paskah / Easter, yaitu Hari Raya Pentakosta, ketika Roh Kudus dicurahkan kepada para murid (Kisah Para Rasul 2). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Pentecost.

 

Mana yang Benar? Pentakosta atau Pantekosta?

 

1)      Pentakosta:

Secara etimologis, transliterasi yang benar dan umum dari bahasa Yunani adalah Pentakosta, karena bentuk aslinya mengandung ‘n’ bukan ‘n-t’.

 

2)      Pantekosta:

Namun di Indonesia, bentuk yang lebih lazim digunakan secara resmi dan historis adalah Pantekosta, khususnya dalam denominasi yang dikenal sebagai ‘Gereja Pantekosta’, misalnya:

a)  Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI)

b)  Gereja Pantekosta Serikat Indonesia (GPSI)

 

Bentuk ini tidak mengikuti transliterasi Yunani langsung, melainkan kemungkinan berasal dari pengaruh pelafalan Belanda atau Portugis, dua bahasa yang punya sejarah panjang di Indonesia. Dalam bahasa Portugis dan Belanda:

1.  Pentecostes (Portugis)

2.  Pinksteren (Belanda) – namun tidak terlalu mirip
Namun bisa jadi dalam pelafalan Belanda atau terjemahan tua ke bahasa Indonesia, ejaan ‘e’ dan ‘a’ sering tertukar, dan akhiran ‘-kosta’ diucapkan lebih dekat ke ‘kosta’ daripada ‘kesta’.

 

Penggunaan dalam Alkitab Terjemahan Indonesia

Dalam Alkitab LAI (TB dan BIS), kata yang digunakan adalah: Pentakosta (misalnya Kisah Para Rasul 2:1)

 

Jadi dalam konteks teks Alkitab, Pentakosta adalah bentuk yang benar dan resmi.


Kesimpulan

Bentuk

Asal

Penggunaan

Pentakosta

Asli dari Yunani πεντηκοστή

Alkitab dan akademik

Pantekosta

Adaptasi lokal/historis

Nama gereja dan tradisi Indonesia

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: mengapa kamu mengatakan bentuk aslinya mengandung ‘n’ bukan ‘n-t’, dan juga akhiran ‘-kosta’ diucapkan lebih dekat ke ‘kosta’ daripada ‘kesta’. Padahal kedua bentuk menggunakan ‘n-t’ dan tidak ada yang menggunakan ‘kesta’?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Terima kasih! Anda benar sekali menyoroti dua kekeliruan dalam penjelasan saya sebelumnya, dan saya akan luruskan sekarang:

 

1)      Soal ‘n’ dan ‘n-t’ dalam kata Pentakosta

Saya menulis: “bentuk aslinya mengandung ‘n’ bukan ‘n-t’”

Pernyataan ini keliru dan membingungkan. Sebenarnya:

Dalam bahasa Yunani: πεντηκοστή (pentēkostē) Pelafalannya: pen-tay-kos-TAY
Jadi memang
mengandung konsonan ‘n’ diikuti ‘t’ (n-t), dan itu juga terbawa ke transliterasi Latin: Pentecoste (Latin), dan Pentecost (Inggris).

Dalam bahasa Indonesia, transliterasinya tetap mempertahankan konsonan ‘n-t’, baik dalam Pentakosta maupun Pantekosta.

 

Jadi seharusnya saya tidak mengatakan bahwa bentuk asli ‘tidak mengandung n-t’ - justru semua bentuknya mengandung ‘n-t’.

 

2)      Soal ‘kosta’ vs ‘kesta’

Saya menulis: “akhiran ‘-kosta’ diucapkan lebih dekat ke ‘kosta’ daripada ‘kesta’”

Ini juga tidak tepat secara fonetik maupun faktual, karena:

a)  Tidak ada varian ‘Pentakesta’ atau ‘Pentekesta’ yang dikenal dalam bahasa manapun.

b)  Dalam bahasa Yunani πεντηκοστή mengandung unsur κοστή = kostē.

c)  Jadi pelafalan internasionalnya, dari Yunani hingga Latin dan Eropa modern, memang mendekati ‘kosta’ - bukan ‘kesta’.

 

Dengan kata lain, baik ‘Pentakosta’ maupun ‘Pantekosta’ memang memakai ‘kosta’ dan bukan ‘kesta’. Maka membandingkan keduanya dalam hal itu tidak relevan.

 

Koreksi Ringkas

1.  Kedua bentuk, Pentakosta dan Pantekosta, sama-sama memakai ‘n-t’ dan ‘-kosta’.

2.  Perbedaan mereka hanya pada vokal pertama:

a.  Pentakosta: sesuai Yunani-Latin-Inggris

b.  Pantekosta: bentuk historis/denominasi lokal Indonesia

 

Penjelasan Revisi

Jadi seharusnya penjelasan saya sebelumnya diringkas begini:

Kata Pentakosta berasal dari Yunani pentēkostē, artinya ‘yang kelima puluh’. Bentuk ini dipakai dalam Alkitab Terjemahan Baru. Sementara itu, di Indonesia berkembang bentuk ejaan alternatif ‘Pantekosta’ - kemungkinan karena pengaruh ejaan historis atau fonetik lokal dan dipakai dalam nama-nama gereja seperti GPdI. Jadi ‘Pentakosta’ lebih akurat secara etimologis dan Alkitabiah, tetapi ‘Pantekosta’ hidup dalam tradisi gereja-gereja di Indonesia.

 

Terima kasih banyak atas ketelitian Anda - koreksi ini sangat penting dan memang seharusnya dijelaskan lebih hati-hati.

 ================================================

 

1) Baptisan Roh Kudus.

Dalam pengertian orang-orang Kharismatik pada umumnya:

a) Baptisan Roh Kudus tidak terjadi pada saat yang bersamaan dengan saat percaya. Jadi bisa ada gap (= selang waktu) antara saat percaya dan saat menerima baptisan Roh Kudus.

b) Setiap orang kristen harus mencari baptisan Roh Kudus.

c)  Baptisan Roh Kudus ditandai dengan bahasa roh.

d) Roh Kudus adalah pelaku dari baptisan ini (Roh Kudus yang membaptis kita).

Tetapi ini semua salah.

 

Pengertian yang benar tentang baptisan Roh Kudus:

 

a) Ini sama dengan penerimaan Roh Kudus.

 

Kis 1:5 - “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.’”.

 

Janji dalam Kis 1:5 ini digenapi dalam Kis 2:1-4.

 

Kis 2:1-4 - “(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; (3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”.

 

Jadi jelas bahwa dibaptis dengan Roh Kudus sama dengan menerima Roh Kudus. Hal ini juga bisa terlihat dari text Kitab Suci di bawah ini.

 

Kis 11:15-16 - “(15) Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita. (16) Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.”.

 

Dalam Kis 11:15 Petrus menceritakan penerimaan Roh Kudus oleh Kornelius dan orang-orang lain yang bersamanya pada saat itu. Dan dalam Kis 11:16 Petrus mengatakan bahwa hal itu membuat ia teringat akan janji Tuhan Yesus tentang baptisan Roh Kudus. Jadi jelas bahwa dibaptis dengan Roh Kudus adalah sama dengan diberi Roh Kudus / menerima Roh Kudus.

 

b) Baptisan Roh Kudus ini hanya terjadi 1 x saja dan itu terjadi pada saat seseorang percaya kepada Kristus.

 

Yoh 7:38-39 - “(38) Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.’ (39) Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”.

 

Ef 1:13 - “Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu.”.

 

Kata-kata ‘dimeteraikan dengan Roh Kudus’ sama artinya dengan ‘diberi Roh Kudus’. Dan Ef 1:13 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘ketika kamu percaya’!

 

============================================

 

Pertanyaan: mengapa dalam Ef 1:13 digunakan istilah ‘dimeteraikan dengan Roh Kudus’? Dan apa artinya?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Istilah ‘dimeteraikan dengan Roh Kudus’ dalam Ef 1:13 berasal dari bahasa Yunani:

ἐσφραγίσθητε τῷ Πνεύματι τῆς ἐπαγγελίας τῷ Ἁγίῳ

esphragisthēte tō Pneumati tēs epangelias tō Hagiō
= ‘kamu dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan’

 

1)  Makna Kata ‘Dimeteraikan’ (ἐσφραγίσθητε / esphragisthēte)

Kata kerja ini berasal dari kata dasar σφραγίζω (sphragizō) yang berarti:

a)  Menyegel,

b)  Memberi tanda milik,

c)  Memberi jaminan.

 

Pada zaman kuno, segel (meterai) dipakai:

1.  Sebagai tanda kepemilikan (misalnya segel pada dokumen atau milik pribadi),

2.  Sebagai jaminan otoritas (misalnya raja menyegel perintah),

3.  Sebagai perlindungan terhadap gangguan (misalnya segel pada makam atau benda suci),

4.  Sebagai pengesahan bahwa sesuatu sah dan asli.

 

2)      Kapan Pemeteraian Ini Terjadi?

Ef 1:13 berkata: “Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu.”

 

Artinya, pemeteraian terjadi pada saat seseorang percaya kepada Injil. Ini menunjukkan bahwa semua orang percaya menerima Roh Kudus sebagai segel pada saat mereka lahir baru dan percaya (band. Roma 8:9; 1 Kor 12:13).

 

3)      Apa Artinya ‘Dimeteraikan dengan Roh Kudus’?

Dalam konteks teologis dan pemakaian Paulus, artinya:

 

a)  Tanda kepemilikan Allah

Roh Kudus adalah tanda bahwa kita milik Allah. Sama seperti sebuah segel di masa itu menunjukkan siapa pemiliknya, demikian pula Roh Kudus menunjukkan bahwa kita milik Kristus (2Tim 2:19: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’).

 

b) Jaminan keselamatan

Meterai juga adalah jaminan bahwa apa yang telah dijanjikan Allah pasti akan digenapi, yaitu keselamatan penuh. Efesus 1:14 menyebut Roh Kudus sebagai ‘jaminan bagian kita’ (ἀρραβὼν τῆς κληρονομίας ἡμῶν / arrabōn) - semacam uang muka atau garansi bahwa kita akan menerima warisan surgawi sepenuhnya kelak.

 

c)  Pengesahan dari Allah

Dengan Roh Kudus, kita dinyatakan sah sebagai anak-anak Allah (Roma 8:15-16: “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah”).

 

d) Perlindungan dan pemeliharaan

Seperti segel menjaga isi dokumen agar tidak dirusak, demikian juga Roh Kudus menjaga dan memelihara iman kita hingga hari penebusan (Ef 4:30: “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan”).

 

Kesimpulan

“Dimeteraikan dengan Roh Kudus” dalam Ef 1:13 berarti bahwa orang percaya yang telah mendengar dan percaya kepada Injil menerima Roh Kudus sebagai tanda milik Allah, jaminan keselamatan, pengesahan sebagai anak Allah, dan perlindungan sampai hari keselamatan tiba.

 

Istilah ini menggambarkan keamanan rohani dan kepastian warisan kekal bagi semua orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.

 

============================================

 

Karena itu, orang yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Yesus tidak perlu lagi mencari baptisan Roh Kudus. Ia sudah menerima baptisan Roh Kudus.

 

Perlu saudara perhatikan bahwa dalam Kitab Suci tidak pernah diperintahkan supaya kita mencari baptisan Roh Kudus. Yang ada hanyalah perintah untuk percaya kepada Yesus, seperti dalam Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”. Mengapa? Karena orang yang sudah percaya kepada Yesus pasti sudah menerima Roh Kudus.

 

c)  Sekalipun memang ada orang yang berbahasa Roh pada waktu mengalami baptisan Roh Kudus, seperti dalam Kis 2:1-4, tetapi tidak selalu demikian.

 

Kis 2:38,39,41 - “(38) Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. (39) Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ ... (41) Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.”.

 

Perhatikan bahwa dalam Kis 2:38 Petrus memberikan Firman Tuhan yang menjanjikan bahwa orang-orang yang percaya akan menerima ‘karunia Roh Kudus’. Maksudnya bukan ‘karunia dari Roh Kudus’, tetapi ‘karunia berupa Roh Kudus’. Dan Kis 2:41 menunjukkan bahwa orang-orang itu (3000 orang) percaya kepada Yesus. Jadi, mereka semua pasti menerima Roh Kudus tersebut. Tetapi apakah mereka berbahasa Roh? Sama sekali tidak!

 

d) Pelaku baptisan Roh Kudus adalah Yesus.

 

Mat 3:11 - “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia (Yesus) akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”. Bdk. Mark 1:8  Luk 3:16.

 

Yoh 1:33 - “Dan akupun tidak mengenalNya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu (= Yesus) yang akan membaptis dengan Roh Kudus.”.

 

Jadi, yang membaptis orang percaya dengan Roh Kudus adalah Yesus!

 

2) Kepenuhan Roh Kudus.

 

a) Dalam kalangan Kharismatik, ‘baptisan Roh Kudus’ sering dicampur-adukkan / disamakan dengan ‘kepenuhan Roh Kudus’, padahal dua hal itu berbeda. Kalau baptisan Roh Kudus terjadi hanya 1 x saja, maka kepenuhan Roh Kudus bisa terjadi berulang-ulang. Misalnya: Petrus berulangkali dikatakan mengalami kepenuhan Roh Kudus.

 

Kis 2:4 - “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”.

 

Kata ‘mereka’ di sini pasti mencakup Petrus, karena ia adalah salah seorang rasul yang ada di sana pada saat itu (bdk. Kis 2:14).

 

Kis 4:8 - “Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: ‘Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,”.

 

Kis 4:31 - “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”.

 

Kata ‘mereka’ di sini juga mencakup Petrus; ini terlihat dari kontext (Kis 4:23).

 

b) Firman Tuhan memerintahkan supaya kita dipenuhi terus menerus dengan Roh Kudus.

 

Ef 5:18 - “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,”.

 

Kata-kata ‘hendaklah kamu penuh dengan Roh’ merupakan suatu perintah. Dalam bahasa Yunani ada 2 macam kata perintah (sebenarnya ada 3, tetapi bentuk ke 3, yaitu Perfect imperative, sangat jarang digunakan dalam Alkitab):

 

1.  Aorist imperative (= kata perintah bentuk lampau).

Ini digunakan bila orang yang memerintah itu menginginkan perintahnya dilakukan satu kali saja. Contoh: kata ‘percayalah’ dalam Kis 16:31, kata ‘bertobatlah’ dan ‘hendaklah kamu memberi dirimu dibaptis’ dalam Kis 2:38.

 

2.  Present Imperative (= kata perintah bentuk present).

Ini digunakan bila orang yang memerintah itu menginginkan perintahnya dilakukan terus menerus. Contohnya adalah perintah untuk dipenuhi oleh Roh Kudus dalam Ef 5:18 ini.

 

Jadi, Ef 5:18 ini memerintahkan setiap orang Kristen untuk mengusahakan supaya terus menerus dipenuhi Roh Kudus.

 

Makin kita mengisi diri dengan Firman Tuhan dan makin kita taat pada Firman Tuhan, maka makin kita dipenuhi dengan Roh Kudus.

 

Ini bisa terlihat kalau kita membandingkan Kol 3:16-17 dan Ef 5:18-20.

 

Ef 5:18-20 - “(18) Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, (19) dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. (20) Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita”.

 

Kol 3:16-17 - “(16) Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. (17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”.

 

Kalau diperhatikan dan dibandingkan dengan seksama akan terlihat bahwa kedua bagian ini sebetulnya paralel. Bedanya hanyalah Ef 5:18 menyuruh kita untuk dipenuhi dengan Roh Kudus, sedangkan Kol 3:16 menyuruh supaya kita dipenuhi dengan perkataan / firman Kristus.

 

Karena itu harus disimpulkan bahwa kedua hal ini, yaitu ‘dipenuhi Roh’ dan ‘dipenuhi firman’ adalah hal yang paralel. Jadi kalau kita dipenuhi firman, kita juga akan dipenuhi Roh. Dan kalau kita ingin dipenuhi Roh, kita harus berusaha supaya dipenuhi firman. Caranya? Dengan banyak belajar Firman Tuhan, dan mentaatinya!

 

3) Buah Roh Kudus.

 

a) Gal 5:22-23 - “(22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”.

 

Dalam Gal 5:22-23 ini dikatakan bahwa buah Roh Kudus ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Ini semua menunjukkan pengudusan dalam diri orang percaya.

 

Sama seperti ‘buah’ membesar dan matang secara bertahap, maka buah Roh Kudus juga membesar dan matang secara bertahap. Jadi, tidak ada kemungkinan bisa terjadi pengudusan secara mendadak, misalnya dengan menengking semua roh jahat dalam diri seseorang.

 

Pengudusan merupakan proses yang tidak akan selesai seumur hidup, dan karena itu harus terus menerus kita usahakan.

 

b) Buah Roh Kudus ini harus ada pada diri orang yang percaya, dan merupakan bukti iman seseorang.

 

Buah Roh Kudus menunjuk pada pengudusan, dan pengudusan tidak berbeda dengan perbuatan baik dalam kehidupan kita. Dan ini merupakan bukti iman kita.

 

Yak 2:17,26 - “(17) Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. ... (26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”.

 

4) Karunia-karunia Roh Kudus (1Kor 12:4-11,27-31).

 

1Kor 12:4-11,27-31 - “(4) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. (5) Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. (6) Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. (7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. ... (27) Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. (28) Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (29) Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? (31) Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.”.

 

Setiap orang percaya pasti mempunyai karunia tertentu yang menyebabkan ia bisa melayani Tuhan, dan setiap orang kristen harus melayani sesuai dengan karunia yang ada padanya.

 

Ro 12:6-8 - “(6) Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. (7) Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; (8) jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”.

 

Setiap orang mempunyai karunia-karunia yang berbeda, sehingga setiap orang mempunyai fungsi yang berbeda. Dengan bekerja sama, maka orang-orang kristen bisa saling melengkapi dalam memuliakan Tuhan.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin