Pemahaman Alkitab
(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 8 April 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
DOA(3)
Banyak orang berpendapat bahwa doa yang disertai puasa, lebih berkuasa / lebih dijawab oleh Tuhan. Tetapi menurut saya ini tidak benar dan tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang jelas! Memang, dalam Kitab Suci:
1) Ada orang yang berdoa sambil berpuasa dan doanya lalu dikabulkan (2Taw 20:3,4,14-17 Ezra 8:21-23).
2Taw 20:3,4,14-17 - “(3) Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. (4) Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN. ... (14) Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, (15) dan berseru: ‘Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. (16) Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel. (17) Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.’”.
Ezra 8:21-23 - “(21) Kemudian di sana, di tepi sungai Ahawa itu, aku memaklumkan puasa supaya kami merendahkan diri di hadapan Allah kami dan memohon kepadaNya jalan yang aman bagi kami, bagi anak-anak kami dan segala harta benda kami. (22) Karena aku malu meminta tentara dan orang-orang berkuda kepada raja untuk mengawal kami terhadap musuh di jalan; sebab kami telah berkata kepada raja, demikian: ‘Tangan Allah kami melindungi semua orang yang mencari Dia demi keselamatan mereka, tetapi kuasa murkaNya menimpa semua orang yang meninggalkan Dia.’ (23) Jadi berpuasalah kami dan memohonkan hal itu kepada Allah dan Allah mengabulkan permohonan kami.”.
2) Ada juga yang berdoa sambil berpuasa, tetapi doanya tetap ditolak oleh Tuhan (2Sam 12:16-18,21-23).
2Sam 12:16-18,21-23 - “(16) Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. (17) Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka. (18) Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: ‘Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!’ ... (21) Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: ‘Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!’ (22) Jawabnya: ‘Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. (23) Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.’”.
3) Banyak orang yang berdoa tanpa puasa, tetapi doanya dikabulkan oleh Tuhan (Luk 1:7,13 Kis 4:29-31).
Luk 1:7,13 - “(7) Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya. ... (13) Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: ‘Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.”.
Kis 4:29-31 - “(29) Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hambaMu keberanian untuk memberitakan firmanMu. (30) Ulurkanlah tanganMu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, HambaMu yang kudus.’ (31) Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”.
VII) Doa-doa yang salah.
1) Doa versi Dr. Paul Yonggi Cho.
Dalam bukunya yang berjudul ‘Dimensi ke empat’, dan juga dalam buku-bukunya yang lain, dan dalam khotbah-khotbahnya, Dr. Paul Yonggi Cho dari Korea mengajarkan suatu doa dimana kita harus membayangkan bahwa apa yang kita doakan itu betul-betul terjadi. Dan dari tindakan membayangkan ini akan muncul kekuatan dimensi ke 4 yang menyebabkan apa yang kita bayangkan itu lalu menjadi kenyataan.
Dr. Paul Yonggi Cho mengatakan bahwa dalam Kej 15:5-6 Abram / Abraham lalu memandang bintang-bintang di langit, dan pada waktu ia memandang bintang-bintang itu, maka ia membayangkan bahwa bintang-bintang itu berubah menjadi kepala-kepala bayi (entah dari mana ia mendapatkan ide tolol ini!).
Berdasarkan hal ini, Dr. Paul Yonggi Cho mengatakan bahwa supaya kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan atau doakan, maka kita harus membayangkannya. Inilah yang ia sebut dengan kekuatan dimensi ke 4!
Saya berpendapat bahwa ini adalah ajaran yang salah yang sama sekali tidak mempunyai dasar Kitab Suci, karena dalam ayat-ayat Kitab Sucinya Abram sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa bintang-bintang itu berubah menjadi kepala-kepala bayi! Baca sendiri ayatnya untuk melihat mana yang benar.
Kej 15:5-6 - “(5) Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firmanNya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (6) Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”.
2) Doa diiringi musik.
Pada zaman ini, praktek ini dilakukan di hampir semua gereja, padahal tidak ada dasar Kitab Sucinya. Tetapi lihat Neh 11:17 yang kelihatannya bisa dijadikan dasar untuk praktek yang populer ini.
Neh 11:17 - “Lalu Matanya bin Mikha bin Zabdi bin Asaf, pemimpin yang mengangkat nyanyian syukur dalam doa, dan Bakbukya, orang kedua di antara saudara-saudaranya, dan Abda bin Samua bin Galal bin Yedutun.”.
KJV/RSV/ASV: “to begin the thanksgiving in prayer” [= untuk memulai pengucapan syukur dalam doa].
NIV: “in thanksgiving and prayer” [= dalam pengucapan syukur dan doa].
NASB: “in beginning the thanksgiving at prayer” [= dalam memulai pengucapan syukur pada (?) doa].
NKJV: “who began the thanksgiving with prayer” [= yang memulai pengucapan syukur dengan doa].
YLT: “he giveth thanks in prayer” [= ia memberikan terima kasih dalam doa].
Catatan: tidak satupun dari terjemahan-terjemahan Alkitab bahasa Inggris yang saya gunakan itu mempunyai kata ‘nyanyian’! Jadi ayat ini dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia salah terjemahan!
Tetapi apa alasan untuk menyalahkan praktek ini?
a) Berdoa harus dilakukan dalam ketenangan (Mark 1:35) supaya memudahkan konsentrasi.
Mark 1:35 - “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”.
Musik yang dimainkan pada saat kita berdoa akan mengganggu konsentrasi kita.
Kalau saudara berkata bahwa saudara tidak terganggu konsentrasinya, maka saya ingin bertanya: apakah pada saat itu saudara mendengarkan musik itu? Kalau ya, berarti konsentrasi pasti terpecah; kalau tidak, lalu untuk apa musiknya dimainkan?
b) Pemain musiknya tidak bisa ikut berdoa, padahal bukankah ia seharusnya juga ikut berdoa?
3) Doa dan nyanyi bersama-sama.
Ada chairman yang memerintahkan supaya sebagian jemaat berdoa dan sebagian yang lain menyanyi. Kegilaan ini harus ditentang dengan alasan yang sama seperti no 2 di atas.
4) Doa dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Doa seperti ini, sekalipun kelihatannya indah, tetapi bertentangan dengan ajaran Yesus yang menyuruh kita berdoa dalam namaNya (dalam nama Yesus).
Yoh 14:13-14 - “(13) dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. (14) Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya.’”.
Yoh 16:24 - “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”.
5) Doa dalam acara TV, dimana tumpukan kertas permohonan doa, didoakan sambil ditumpangi tangan.
Kalau memang cara ini boleh dilakukan maka tidak dibutuhkan lagi ketekunan berdoa bagi siapapun. Dan kalau cara ini boleh dilakukan maka perlu dipertanyakan: untuk apa pemirsa TV disuruh untuk mengirimkan permohonan mereka melalui surat? Tidak bisakah permohonan itu hanya dalam hati, dan pengkhotbah TV lalu berdoa: ‘Ya Tuhan kabulkan semua permintaan mereka?’. Bukankah cara ini bisa menghemat uang perangko?
6) Doa dengan bahasa Roh.
1Kor 14:14-15a - “(14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15a) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku;”.
Saya percaya bahwa bahasa Roh itu ada, tetapi saya sama sekali tidak percaya pada doa dengan bahasa Roh! Ayat ini jelas melarang hal itu!
Alasan lain yang menyebabkan saya menentang doa dengan bahasa Roh adalah: bahasa Roh seharusnya berisi berita dari Allah untuk manusia, dan bukannya berita dari manusia kepada Allah. Dasar Kitab Sucinya:
a) Dalam Kis 2:4,11 dikatakan bahwa pada waktu rasul-rasul berbahasa Roh pada hari Pentakosta, mereka menceritakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah.
Kis 2:4,11 - “(4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. ... (11) baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.’”.
Jelas bahwa ini mencakup salib dan kebangkitan Yesus, dan semua ini jelas merupakan berita dari Allah untuk manusia.
b) 1Kor 14:5 - “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.”.
Dalam 1Kor 14:5 ini dikatakan bahwa nubuat lebih berharga dari bahasa Roh, tetapi lalu dilanjutkan dengan kata-kata ‘kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga jemaat dapat dibangun’.
Ini menunjukkan bahwa bahasa Roh yang ditafsirkan / diterjemahkan menjadi seperti nubuat (membangun jemaat). Jadi jelas bahwa isinya juga seperti nubuat, yaitu berita dari Allah untuk manusia.
c) 1Kor 14:6 - “Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?”.
Dalam 1Kor 14:6 ini dikatakan bahwa bahasa Roh seharusnya berisikan ‘penyataan Allah’ (Inggris: ‘God’s revelation’), ‘pengetahuan’, ‘nubuat’, ‘pengajaran’. Kalau tidak, itu tidak ada gunanya. Semua hal-hal itu jelas berisikan berita dari Allah untuk manusia.
d) 1Kor 14:13,27,28 menunjukkan bahwa bahasa Roh harus disertai penafsiran / penterjemahan.
1Kor 14:13,27-28 - “(13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. ... (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.”.
Keharusan adanya penterjemahan ini jelas menunjukkan bahwa bahasa Roh itu ditujukan kepada manusia, karena kalau ditujukan kepada Allah, apa gunanya penterjemahan?
e) Kis 10:46 - “sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.”.
Dalam Kis 10:46 istilah ‘memuliakan Allah’ tidak menunjukkan bahwa mereka memuji Tuhan, tetapi bisa diartikan seperti dalam Kis 2:11, dimana mereka menceritakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Ini lagi-lagi merupakan berita dari Allah bagi manusia.
Adam Clarke (tentang Kis 10:46): “‘And magnify God.’ They had got new hearts as well as new tongues; and, having believed with the heart unto righteousness, their tongues made confession unto salvation; and God was magnified for the mercy which he had imparted.” [= ‘Dan memuliakan Allah.’ Mereka telah menerima hati yang baru, maupun lidah / bahasa yang baru; dan setelah percaya dengan hati pada kebenaran, lidah mereka pun mengaku pada keselamatan; dan Allah dimuliakan atas belas kasihan yang telah Dia anugerahkan.].
f) 1Kor 14:2 - “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.”.
Kata-kata ‘hal-hal yang rahasia’ sering ditafsirkan sebagai hal-hal yang tidak dimengerti siapapun. Tetapi apakah memang demikian arti dari kata ‘rahasia’ itu?
Kata ‘rahasia’ ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan mystery; dan dalam bahasa Yunani digunakan kata Yunani MUSTERION. Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani MUSTERION itu hanya dipakai dalam ayat-ayat di bawah ini:
Mat 13:11 - “Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.”.
Mark 4:11 - “JawabNya: ‘Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,”.
Luk 8:10 - “Lalu Ia menjawab: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.”.
Ro 11:25 - “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.”.
Ro 16:25 - “Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, - menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya,”.
1Kor 2:7 - “Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.”.
1Kor 4:1 - “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.”.
1Kor 13:2 - “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.”.
1Kor 14:2 - “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.”.
1Kor 15:51 - “Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah,”.
Ef 1:9 - “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendakNya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaanNya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkanNya di dalam Kristus”.
Ef 3:3-5,9 - “(3) yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. (4) Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, (5) yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabiNya yang kudus, ... (9) dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu,”.
Ef 5:32 - “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”.
Ef 6:19 - “juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,”.
Kol 1:26-27 - “(26) yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudusNya. (27) Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”.
Kol 2:2 - “supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus,”.
Kol 4:3 - “Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.”.
2Tes 2:7 - “Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan,”.
1Tim 3:9,16 -
“(9)
melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.
... (16) Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah (kesalehan)
kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam
Roh; yang menampakkan diriNya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara
bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia,
diangkat dalam kemuliaan.’”.
Wah 1:20 - “Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kananKu dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.’”.
Wah 10:7 - “Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hambaNya, yaitu para nabi.’”.
Wah 17:5-7 - “(5) Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: ‘Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.’ (6) Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat heran. (7) Lalu kata malaikat itu kepadaku: ‘Mengapa engkau heran? Aku akan mengatakan kepadamu rahasia perempuan itu dan rahasia binatang yang memikulnya, binatang yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh itu.”.
Bacalah semua ayat-ayat itu dan periksalah apa arti dari kata ‘rahasia’ itu. Dengan 2Tes 2:7 sebagai perkecualian, jelas semua ayat-ayat yang lain menunjukkan bahwa ‘rahasia’ itu:
1. Bukanlah sesuatu yang tersembunyi yang tidak diketahui orang.
2. Adalah kebenaran Allah / Injil yang dulunya tersembunyi, tetapi yang sekarang sudah dinyatakan oleh Allah.
Jadi, jelaslah bahwa kata ‘rahasia’ dalam 1Kor 14:2 tidak berarti bahwa itu adalah bahasa malaikat yang tidak dimengerti oleh seorangpun, tetapi menunjuk pada kebenaran ilahi / Injil. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa bahasa Roh berisikan berita dari Allah untuk manusia.
Kesimpulan: kalau bahasa Roh harus berisi berita dari Allah untuk manusia, maka jelas bahwa berdoa dalam bahasa Roh adalah sesuatu yang mustahil, karena doa berisikan berita dari manusia kepada Allah.
7) Doa bersuara, dimana semua orang membuka suara sendiri-sendiri.
Doa seperti ini banyak terdapat dalam kalangan gereja-gereja Tionghoa, termasuk GRII. Konon kabarnya cara persekutuan doa seperti ini dibawa ke Indonesia oleh Andrew Gee, pendiri dari SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara), Malang.
Ada ayat yang seolah-olah mendukung praktek persekutuan doa seperti ini, yaitu Kis 4:24 - “Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: ‘Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.”.
Dalam Kis 4:24 ini dikatakan bahwa mereka ‘berseru bersama-sama’, dan ini dijadikan pembelaan dari cara persekutuan doa ini. Tetapi kalau kita mau berpikir secara logis, jelas merupakan sesuatu yang tidak masuk akal bahwa orang-orang ini bisa bersama-sama secara serempak mengucapkan doa yang seragam!
Lalu mengapa bisa terjadi peristiwa seperti dalam Kis 4:24 ini? Karena adanya salah terjemahan! Kesalahan terjemahan dalam ayat ini bukan hanya terjadi dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi juga pada RSV/NIV.
NIV/RSV: ‘they raised / lifted their voices together’ [= mereka menaikkan suara mereka bersama-sama].
Kata yang diterjemahkan ‘bersama-sama’ dalam bahasa Yunani adalah HOMOTHUMADON.
a) Kata ini digunakan dalam Kis 1:14 2:46 4:24 5:12 15:25 dan Ro 15:6 untuk menunjuk pada kesatuan / kesehatian orang percaya.
Kis 1:14 - “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.”.
Kis 2:46 - “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,”.
Kis 4:24 - “Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: ‘Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.”.
Kis 5:12 - “Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.”.
Kis 15:25 - “Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi,”.
Ro 15:6 - “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.”.
b) Kata ini juga digunakan dalam Kis 7:57 18:12 19:29 untuk menunjuk pada kesatuan orang kafir dalam menentang gereja.
Kis 7:57 - “Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.”.
Kis 18:12 - “Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan.”.
Kis 19:29 - “Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenian serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus.”.
c) Terjemahan seharusnya dari kata Yunani ini adalah ‘with one accord’ [= dengan suara bulat, seia sekata]. Ini terjemahan yang diambil oleh KJV, NKJV, ASV, dan NASB.
Dan ini tidak menunjukkan bahwa setiap orang membuka suara berdoa sendiri-sendiri. Tetapi menunjuk pada doa yang sesuai dengan tradisi Alkitab, dimana hanya satu orang memimpin doa dengan suara keras, dan yang lain mendengarkan, dan mengaminkan, sehingga doa satu orang itu menjadi doa dari mereka semua (bandingkan dengan komentar Calvin tentang 1Kor 14:16 di bawah).
Keberatan saya terhadap cara persekutuan doa seperti ini adalah sebagai berikut:
1. Ini sebetulnya bukan merupakan persekutuan doa, karena setiap orang berdoa sendiri-sendiri. Biarpun topiknya ditentukan, tetap setiap orang berdoa dengan kata-kata yang berbeda, dan bahkan bisa meminta hal-hal yang berbeda.
Misalnya semua diminta mendoakan si A, maka bisa saja orang yang satu mendoakan kesehatannya, orang yang lain mendoakan kerohaniannya. Kalaupun topiknya dipersempit, misalnya dengan meminta semua orang mendoakan kesehatan si A, bisa saja orang yang satu mendoakan dokter yang merawat si A, sedangkan orang lain mendoakan keuangan si A untuk membayar pengobatannya, dan sebagainya.
2. Tradisi Alkitab dalam melakukan persekutuan doa adalah hanya satu orang berdoa dengan suara keras sedangkan yang lain mengaminkan dalam hati.
1Kor 14:14-17 -
“(14) Sebab jika
aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku
tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan
rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan
memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal
budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur
dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat
mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang
engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat
baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.”.
1Kor 14:16 ini melarang orang memimpin doa pengucapan syukur dalam kebaktian dengan menggunakan bahasa roh, karena pendengar, yang tentu saja tidak mengerti doa itu, tidak bisa mengaminkan doa itu.
Dari ayat ini terlihat suatu prinsip dalam persekutuan doa, yaitu, hanya satu orang berdoa dengan suara keras, dan yang lain mendengarkan dan ikut mengaminkan (tindakan mengaminkan ini cukup dilakukan dalam hati, bukan dengan suara keras supaya tidak menganggu konsentrasi orang lain).
Supaya saudara tidak menganggap bahwa ini sekedar merupakan tafsiran saya, saya berikan tafsiran / komentar Calvin tentang 1Kor 14:16 ini, dimana ia berkata:
“He now comes to speak of public prayers also. ‘If he that frames or utters forth prayers in the name of the people is not understood by the assembly, how will the common people add an expression of their desires in the close, so as to take part in them? For there is no fellowship in prayer, unless when all with one mind unite in the same desires. The same remark applies to blessing, or giving thanks to God.’” [= Sekarang ia berbicara juga tentang doa-doa di depan umum. ‘Jika orang yang membentuk atau mengucapkan doa atas nama umat tidak dimengerti oleh jemaat, bagaimana orang-orang awam dapat menambahkan ungkapan keinginan mereka di akhir, sehingga mereka mengambil bagian di dalamnya? Sebab tidak ada persekutuan dalam doa, kecuali ketika semua orang bersatu dalam satu hati dengan keinginan yang sama. Hal yang sama berlaku untuk pujian atau ucapan syukur kepada Allah.’] - hal 448.
“Paul’s expression, however, intimates, that some one of the ministers uttered or pronounced prayers in a distinct voice, and that the whole assembly followed in their minds the words of that one person, until he had come to a close, and they all said Amen - to intimate, that the prayer offered up by that one person was that of all of them in common.” [= Ungkapan Paulus menunjukkan bahwa salah seorang pendeta menaikkan doa dengan suara yang jelas dan seluruh jemaat mengikuti dalam pikiran mereka kata-kata dari orang itu, sampai ia selesai, dan mereka semua berkata ‘Amin’ - untuk menunjukkan bahwa doa yang dinaikkan oleh satu orang itu adalah doa mereka semua.] - hal 448.
Bandingkan juga dengan ayat-ayat di bawah ini:
a. 1Taw 16:7-36.
Dalam ay 7 ditunjukkan bahwa beberapa orang memimpin nyanyian (dalam menyanyi bisa saja beberapa orang menyanyi bersama-sama, karena kata-katanya sama, tetapi dalam berdoa tidak!); nyanyian itu ada dalam ay 8-36a, lalu pada ay 36b jemaat mengucapkan ‘amin’.
b. Maz 106:1-48.
Sekalipun tidak disebutkan secara explicit, tetapi dari kata-kata dalam mazmur ini terlihat bahwa itu adalah suatu doa. Pada ay 48b (pada akhir dari doa itu) maka semua jemaat mengucapkan ‘amin’.
c. Ul 27:14-26.
Ini adalah pembacaan Firman Tuhan / ayat Kitab Suci. Beberapa orang membacakannya (ay 14), dan setiap ayat ditutup dengan ‘amin’ oleh seluruh jemaat.
3. Ada banyak orang yang tidak bisa berkonsentrasi dengan cara berdoa seperti ini, karena suasana yang ribut / kacau. Kalau saudara bisa berkonsentrasi dengan cara doa seperti ini, jangan menganggap semua orang pasti bisa seperti saudara.
Kalau ada orang yang berkata sebaliknya, yaitu bahwa dengan cara berdoa seperti tradisi Alkitab itu mereka justru tidak bisa berkonsentrasi, maka saya menjawab: kalau mereka tidak bisa berkonsentrasi dengan cara yang diberikan oleh Alkitab, maka pasti ada sesuatu yang salah dalam diri mereka!
Tetapi saya juga memberi catatan, bahwa kalau kita menggunakan tradisi Alkitab, maka kita harus memilih pemimpin doa yang baik, yang bisa berdoa dengan terarah, jelas, dan bersuara cukup keras untuk bisa didengar oleh semua orang yang hadir.
4. Kitab Suci melarang terjadinya kekacauan seperti ini dalam kebaktian.
1Kor 14:26-33,39-40 - “(26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. ... (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.
Ay 33,40 maksudnya melarang kekacauan dalam kebaktian. Dan kekacauan itu bisa berupa kekacauan karena penggunaan bahasa Roh yang salah (ay 27-28), ataupun penggunaan nubuat yang salah (ay 29-32).
Kalau berbahasa Roh bersama-sama, dan juga bernubuat bersama-sama, dianggap sebagai kekacauan, apa alasannya sehingga kalau setiap orang berdoa sambil membuka suara sendiri-sendiri tidak dianggap sebagai suatu kekacauan?
5. Saya sama sekali tidak bisa melihat manfaat dari cara doa seperti ini.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin