Pemahaman Alkitab

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Selasa, tgl 4 Februari 2025, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

FONDASI KRISTEN ii(2)

 

ALKITAB(2)

 

Contoh:

 

1.   Yes 7:14 - “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda (perawan) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”.

 

Ada banyak ramalan murahan, yang memang kemungkinan untuk terjadi cukup besar. Misalnya kalau sekarang sedang musim hujan dan seseorang meramal nanti malam akan hujan. Atau seseorang yang meramal bahwa saudara akan mendapat problem dalam bulan ini. Ini banyak cocoknya, karena siapa yang bisa tidak mengalami problem dalam 1 bulan penuh?

 

Tetapi nubuat dalam Yes 7:14 ini sama sekali bukan ramalan murahan. Yesaya menubuatkan bahwa seorang perempuan muda (seharusnya ‘perawan’) akan mengandung dan sebagainya. Ini nubuat yang betul-betul tidak masuk akal, tetapi toh terjadi dengan tepat!

 

Bdk. Mat 1:20-23 - “(20) Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ‘Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. (21) Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.’ (22) Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: (23) ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita.”.

 

Dan hebatnya nubuat ini diberikan sekitar 700 tahun sebelum kelahiran Kristus!

 

2.   Mikha 5:1 - “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.”.

 

Nabi Mikha menubuatkan tempat / kota kelahiran dari Kristus, juga pada sekitar 700 tahun sebelum kelahiran Kristus!

 

Bdk. Mat 2:5-6 - “(5) Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: (6) Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel.’”.

 

3.   Yes 53:3-7,9 - “(3) Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. (4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. (7) Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. ... (9) Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.”.

 

Bdk. Maz 22:2,8,9,16,17,19 - “(2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. ... (8) Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: (9) ‘Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?’ ... (16) kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. (17) Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. ... (19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”.

 

Dalam text dari Yes 53 dan Maz 22, penderitaan dan kematian Kristus dinubuatkan secara cukup terperinci, dan semua terjadi dengan tepat!

 

4.   Mat 24:2 - “Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.’”.

 

Nubuat dari Yesus ini juga tidak masuk akal. Kalaupun ada gempa bumi dengan kekuatan 10 pada skala Richter, mungkinkah Bait Allah itu akan hancur sedemikian rupa sehingga tidak ada satu batu yang melekat pada batu yang lain? Rasanya tidak mungkin bukan? Tetapi ada orang yang mengatakan bahwa nubuat ini terjadi dengan tepat pada saat orang-orang Romawi menyerbu Yerusalem dan membakar Bait Allah. Lapisan emasnya meleleh dan masuk ke celah-celah batu, dan untuk mendapatkannya orang-orang lalu membelah batu-batu itu sehingga betul-betul tidak ada satu batu melekat pada batu yang lain!

 

Bandingkan dengan jawaban dari Chat GPT tentang hal ini.

 

Memang dalam Kitab Suci ada nubuat / ramalan yang belum terjadi, seperti nubuat tentang kedatangan Kristus untuk keduakalinya. Tetapi tidak ada satupun nubuat yang meleset.

 

Bandingkan 2 kelompok ayat di bawah ini:

 

1.   Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa hanya Allah yang bisa menubuatkan / meramalkan apa yang akan terjadi:

a.   Yes 41:26-27 - “(26) Siapakah yang memberitahukannya dari mulanya, sehingga kami mengetahuinya, dan dari dahulu, sehingga kami mengatakan: ‘Benarlah dia?’ Sungguh, tidak ada orang yang memberitahukannya, tidak ada orang yang mengabarkannya, tidak ada orang yang mendengar sepatah katapun dari padamu. (27) Sebagai yang pertama Aku memberitahukannya kepada Sion, dan Aku memberikan orang yang membawa kabar baik kepada Yerusalem.”.

b.   Yes 42:9 - “Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.’”.

c.   Yes 43:12 - “Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman TUHAN, ‘dan Akulah Allah.”.

d.   Yes 45:21 - “Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari padaKu! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”.

e.   Yes 46:9-10 - “(9) Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, (10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan,”.

f.    Yes 48:5 - “maka Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya.”.

 

2.   Ayat-ayat dimana Allah menantang dewa-dewa / allah-allah lain / berhala-berhala dan nabi-nabi palsu mereka untuk menubuatkan / meramalkan apa yang akan terjadi:

a.   Yes 41:22-23 - “(22) Biarlah mereka maju dan memberitahukan kepada kami apa yang akan terjadi! Nubuat yang dahulu, beritahukanlah apa artinya, supaya kami memperhatikannya, atau hal-hal yang akan datang, kabarkanlah kepada kami, supaya kami mengetahui kesudahannya! (23) Beritahukanlah hal-hal yang akan datang kemudian, supaya kami mengetahui, bahwa kamu ini sungguh allah; bertindak sajalah, biar secara baik ataupun secara buruk, supaya kami bersama-sama tercengang melihatnya!”.

b.   Yes 43:9 - “Biarlah berhimpun bersama-sama segala bangsa-bangsa, dan biarlah berkumpul suku-suku bangsa! Siapakah di antara mereka yang dapat memberitahukan hal-hal ini, yang dapat mengabarkan kepada kita hal-hal yang dahulu? Biarlah mereka membawa saksi-saksinya, supaya mereka nyata benar; biarlah orang mendengarnya dan berkata: ‘Benar demikian!’”.

c.   Yes 44:7 - “Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepadaKu! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami!”.

d.   Yes 45:21 - “Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari padaKu! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”.

e.   Yes 47:13-15 - “(13) Engkau telah payah karena banyaknya nasihat! Biarlah tampil dan menyelamatkan engkau orang-orang yang meneliti segala penjuru langit, yang menilik bintang-bintang dan yang pada setiap bulan baru memberitahukan apa yang akan terjadi atasmu! (14) Sesungguhnya, mereka sebagai jerami yang dibakar api; mereka tidak dapat melepaskan nyawanya dari kuasa nyala api; api itu bukan bara api untuk memanaskan diri, bukan api untuk berdiang! (15) Demikianlah faedahnya bagimu dari tukang-tukang jampi itu, yang telah kaurepotkan dari sejak kecilmu; masing-masing mereka terhuyung-huyung ke segala jurusan, tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau.”.

f.    Yes 48:14 - “Berhimpunlah kamu sekalian dan dengarlah! Siapakah di antara mereka memberitahukan semuanya ini? Dia yang dikasihi TUHAN akan melaksanakan kehendak TUHAN terhadap Babel dan menunjukkan kekuatan tangan TUHAN kepada orang Kasdim.”.

 

Jelas bahwa hanya Tuhan yang bisa menubuatkan masa depan, berhala tidak bisa. Dan memang, Kitab Suci agama lain mana yang mempunyai nubuat-nubuat seperti dalam Kitab Suci kita? Kitab Suci agama lain dipenuhi dengan ajaran, sejarah, dsb, tetapi tidak ada nubuat! Nubuat-nubuat yang digenapi secara sempurna dalam Kitab Suci kita ini, merupakan keunggulan Kitab Suci kita, dan membuktikan bahwa Kitab Suci kita memang adalah Firman Allah.

 

4)   Alkitab tahu bahwa bumi ini bulat, dan tidak disangga oleh tiang-tiang, jauh sebelum manusia mengetahuinya (Yes 40:22  Ayub 26:7).

 

Yes 40:22a - “Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi ...”.

 

Ayub 26:7 - “Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan.”.

 

Dulu manusia beranggapan bahwa bumi ini datar seperti meja. Manusia baru mengetahui bahwa bumi ini bulat pada abad 15, tepatnya pada tahun 1492 (Columbus). Lihat ChatGPT tentang hal ini.

 

Tetapi hal itu ternyata sudah tertulis dalam Kitab Yesaya (abad 7 S.M., atau lebih dari 2000 tahun sebelum Columbus!), dan bahkan dalam kitab Ayub yang lebih kuno lagi sudah dikatakan bahwa bumi tidak digantung atau disangga tiang-tiang (sekelilingnya kosong)!

 

Dari mana penulis-penulis Alkitab itu mengetahui hal itu? Pada saat itu tidak ada seorang manusiapun yang tahu tentang hal itu. Jelas bahwa mereka mengetahui hal itu dari Allah!

 

5)   Alkitab tetap terpelihara sampai sekarang padahal:

 

a)   Alkitab adalah salah satu buku yang paling kuno. Kitab Kejadian sudah berusia 3500 tahun!

 

b)   Banyak orang menyerang Alkitab untuk menghancurkannya.

Ada serangan yang bersifat fisik, yang menghancurkan manuscript-manuscript / naskah-naskah Alkitab, dan ada serangan yang berupa ajaran-ajaran sesat, yang menyerang ajaran-ajaran Alkitab, supaya manusia tidak mempercayainya. Tetapi ternyata, Alkitab tidak bisa musnah, sebaliknya makin populer!

 

Misalnya:

 

Seorang bernama Tom Paine menulis buku yang berjudul ‘The Age of Reason’ yang menyerang Alkitab, dan ia meramalkan bahwa bukunya akan laris di seluruh dunia sedangkan Alkitab hanya akan dijumpai di museum. Tetapi kenyataannya, sekarang Alkitab bisa dijumpai dimana-mana dan buku ‘The Age of Reason’ itu yang hanya bisa dijumpai di museum.

 

Mirip dengan itu, seorang yang bernama Voltaire mengatakan: 100 tahun setelah kematianku, Alkitab hanya akan ada di museum. Tetapi ternyata 100 tahun setelah kematiannya, tempat dimana ia mengucapkan kata-kata itu jatuh ke tangan ‘Geneva Bible Society’, dan ruangan itu diisi penuh dengan Alkitab dari lantai sampai langit-langitnya.

 

Tetap terpeliharanya dan makin tersebarnya Alkitab, sekalipun diserang selama ribuan tahun, menunjukkan secara jelas bahwa Allah melindungi buku karanganNya itu!

 

7)         Alkitab bisa ‘berbicara’ kepada kita!

 

Kesaksian:

 

a)   Pada waktu saya dipanggil Tuhan, keluarga saya mengatai saya sebagai gila, karena meninggalkan I.T.S. tingkat V untuk menjadi hamba Tuhan. Ternyata pada saat teduh bersama dengan keluarga, ayat yang diambil oleh buku saat teduhnya adalah dari Kis 26:24 - “Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggung-jawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’”, dan lalu renungannya berkata: ‘Orang kristen sering dianggap gila oleh dunia, tetapi sebetulnya bukan orang kristen yang gila, tetapi dunialah yang gila’. Saya betul-betul terharu melihat bagaimana Tuhan berbicara membela saya melalui Alkitab / firmanNya!

 

b)   Yes 40:27-31  Yes 41:8-10 berbicara kepada saya pada waktu Sekolah Theologia di Amerika.

 

Pada saat itu saya baru di Amerika belum sampai 1 bulan, dan problem saya bukan main banyaknya. Satu teman saya menghibur saya dengan membacakan kedua text ini.

 

Yes 40:27-31 - “(27) Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: ‘Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?’ (28) Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertianNya. (29) Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. (30) Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, (31) tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”.

 

Yes 41:8-10 - “(8) Tetapi engkau, hai Israel, hambaKu, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; (9) engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: ‘Engkau hambaKu, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau’; (10) janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan.”.

 

Pada waktu teman saya itu membacakan ayat-ayat Kitab Suci ini, saya betul-betul merasa seolah-olah Tuhan ada di depan saya dan berbicara kepada saya. Kata-kata dari Alkitab itu sangat mengena, dan khususnya Yes 41:9a itu sangat cocok karena saya adalah orang Indonesia yang saat itu berada di Amerika. Dan selama 3 tahun saya sekolah di Amerika, berulang kali pada saat dalam penderitaan, saya membaca ulang text ini dan berulang kali juga Tuhan menghibur dan menguatkan saya. Ia memang berbicara menggunakan Alkitab yang adalah FirmanNya!

 

III) Konsekwensi dari Alkitab sebagai Firman Allah.

 

A)  Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah.

 

Satu hal yang perlu ditekankan adalah: kalau kita memang percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah, kita juga harus percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya Firman Allah. Memang semua agama mempunyai Kitab Sucinya sendiri-sendiri, dan setiap agama mengakui Kitab Sucinya sebagai Firman Allah. Tetapi, karena Kitab Suci dari agama yang satu bukan hanya berbeda tetapi bahkan bertentangan dengan Kitab Suci dari agama yang lain, maka tidak mungkin semua Kitab Suci - Kitab Suci itu adalah Firman Allah. Allah itu esa, dan Ia tidak berbi­cara dengan lidah yang bercabang. Karena itu, hanya ada satu Kitab Suci saja yang betul-betul adalah Firman Allah. Kalau kita mengakui Alkitab kita sebagai Firman Allah, maka kita tidak boleh mengakui Kitab Suci agama lain juga sebagai Firman Allah. Ini adalah sesuatu yang logis, bukan sikap fanatik yang picik / extrim!

 

B)  Alkitab tidak ada salahnya (infallible & inerrant).

 

1)   Yang ‘inerrant’ (= tidak ada salahnya), adalah Kitab Suci asli (autograph), yang sudah tidak ada lagi.

 

a)   Manuscript-manuscript / naskah-naskah hasil salinan sudah tidak lagi inerrant, apalagi Kitab Suci yang sudah diterjemahkan dari bahasa asli ke bahasa lain.

Karena itu kita tidak perlu bingung pada waktu ada orang yang membuktikan bahwa ada kontradiksi / kesalahan dalam Alkitab. Mengapa? Karena autograph sudah tidak ada lagi, sehingga tidak ada orang yang bisa membuktikan bahwa autographnya yang salah atau mengandung kontradiksi. Kalau salinan / copy mengandung kontradiksi / kesalahan, kita dengan mudah bisa berkata bahwa dalam hal itu telah terjadi kesalahan penyalinan.

 

b)   Ada orang kristen / hamba Tuhan yang mempercayai bahwa Alkitab kita yang sekarang inipun tidak ada salahnya. Ini adalah pandangan yang mungkin sekali tulus dan bermotivasi benar (untuk membela Tuhan / Firman Tuhan / kekristenan), tetapi bagaimanapun juga ini jelas merupakan pandangan yang salah dan bodoh! Hal ini bisa dibuktikan dari adanya:

1.   Perbedaan-perbedaan antara manuscript yang satu dan manuscript yang lain.

2.   Kontradiksi yang tidak mungkin bisa diharmoniskan dalam Kitab Suci.

Misalnya: 2Taw 22:2 dan 2Raja 8:26 adalah ayat-ayat yang paralel, yang sama-sama menceritakan naiknya Ahazia ke takhta kerajaan. Tetapi kalau 2Taw 22:2 mengatakan bahwa Ahazia berusia 42 tahun pada waktu ia menjadi raja, maka bagian paralelnya, yaitu 2Raja 8:26, mengatakan bahwa Ahazia berusia 22 tahun pada waktu ia menjadi raja. Ini betul-betul kontradiksi yang tidak bisa diharmoniskan, dan semua orang yang bisa menggunakan logika / akal sehatnya pasti setuju bahwa 2 kebenaran tidak mungkin bisa bertentangan. Pada saat terjadi pertentangan antara 2 hal, maka pasti salah satu salah atau bahkan kedua-duanya salah.

 

2Taw 22:2 - “Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri.”.

 

2Raja 8:26 - “Ia berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja Israel.”.

 

Catatan: dalam NIV, untuk 2Taw 22:2 dituliskan ‘twenty two’ (= dua puluh dua), sehingga menjadi sama dengan dalam 2Raja 8:26. Tetapi pada catatan kakinya dituliskan bahwa itu didapatkan dari beberapa naskah LXX / Septuaginta (Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke bahasa Yunani) dan Alkitab bahasa Syria / Aram, sedangkan dalam bahasa Ibrani ‘forty two’ (= empat puluh dua).

 

Jadi, kalau kita melihat naskah dalam bahasa asli, yaitu Ibrani, maka kedua ayat di atas bertentangan! Ini menunjukkan bahwa salah satu pasti salah, dan dengan demikian, naskah-naskah itu sudah tidak lagi inerrant!

 

Yang benar tentu saja yang 22 tahun, karena kalau kita melihat 2Taw 21:20 dikatakan sebagai berikut:  Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja..

Catatan:

‘Ia’ di sini menunjuk kepada Yoram. Ini bisa kita lihat dari kontext yang mendahuluinya, khususnya ay 9.

Dari 2Taw 21:20 itu terlihat bahwa Yoram mati pada usia 40 tahun. Kalau anaknya (Ahazia) menggantikan dia pada usia 42 tahun maka anaknya lebih tua dua tahun dari bapaknya, dan ini mustahil.

 

c)   Mengapa Allah tidak menjaga supaya copy-copy / manuscript-manuscript itu juga inerrant? Mungkin tidak ada jawaban yang pasti tentang hal ini, tetapi seorang penafsir dan ahli theologia Reformed yang bernama William G. T. Shedd menjawab pertanyaan ini dengan kata-kata sebagai berikut:

“Why did not God inspire the copyists as well as the original authors? Why did he begin with absolute inerrancy, and end with relative inerrancy? For the same reason that, generally, he begins with the supernatural and end with the natural. For illustration, the first founding of his church, in both the Old and New dispensations, was marked by miracles; but the development of it is marked only by his operations in nature, providence and grace. The miracle was needed in order to begin the kingdom of God in this sinful world, but is not needed in order to its continuance and progress. And the same is true of the revelation of God in his written Word. This must begin in a miracle. The truths and facts of revealed religion, as distinguished from natural, must be supernaturally communicated to a few particular persons especially chosen for this purpose. Inspiration comes under the category of the miracle. It is as miraculous as raising the dead. To expect, therefore, that God would continue inspiration to copyists after having given it to prophets and apostles, would be like expecting that because in the first century he empowered men to raise the dead, he would continue to do so in all centuries.” [= Mengapa Allah tidak mengilhami para penyalin sama seperti para pengarang orisinil? Mengapa Ia mulai dengan ketidakbersalahan yang mutlak dan mengakhiri dengan ketidak-bersalahan yang relatif? Karena alasan yang sama dimana Ia biasanya mulai dengan hal-hal supranatural dan mengakhiri dengan hal-hal yang natural / alamiah. Sebagai ilustrasi: pendirian pertama dari gereja, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ditandai oleh mujizat-mujizat; tetapi perkembangan gereja hanya ditandai oleh pekerjaanNya dalam alam, providensia dan kasih karunia. Mujizat itu dibutuhkan untuk memulai Kerajaan Allah dalam dunia yang berdosa ini, tetapi itu tidak dibutuhkan untuk kelanjutan dan kemajuannya. Dan hal yang sama juga benar untuk wahyu Allah dalam Firman tertulisNya. Ini harus dimulai dengan mujizat. Kebenaran dan fakta dari agama yang diwahyukan, berbeda dengan yang alamiah, harus diberikan secara supranatural kepada beberapa orang tertentu yang dipilih secara khusus untuk tujuan ini. Pengilhaman termasuk kategori mujizat. Itu sama mujizatnya dengan pembangkitan orang mati. Karena itu, mengharapkan bahwa Allah terus mengilhami para penyalin setelah memberikannya kepada nabi-nabi dan rasul-rasul, sama seperti mengharapkan bahwa karena pada abad pertama Ia memberikan kuasa kepada manusia untuk membangkitkan orang mati, Ia akan terus melakukan hal itu dalam semua abad.] - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 135-136.

 

d)   Satu hal lagi yang ingin saya persoalkan adalah suatu pertanyaan yang mungkin sekali akan muncul dalam persoalan ini, yaitu: apa gunanya kita mempercayai bahwa Alkitab asli (autograph) itu inerrant / tidak ada salahnya, padahal autograph / Alkitab asli itu sudah tidak ada lagi, dan manuscript-manuscript / naskah-naskah yang ada sudah tidak lagi inerrant? Bukankah itu menjadi sama saja dengan kepercayaan bahwa autographnyapun ada salahnya?

 

Saya menjawab: tidak sama. Mengapa? Karena jika autographnya ada salahnya, maka kita tidak mempunyai cara / jalan untuk mengetahui bagian mana yang salah dan bagian mana yang benar. Tetapi jika manuscript yang salah, kita bisa mengetahui hal itu, karena biasanya akan terjadi perbedaan antara manuscript yang satu dengan manuscript yang lain.

 

e)   Sekalipun Kitab Suci kita yang sekarang ini ada salahnya, tetapi hal ini tidak perlu menggoncangkan iman kita terhadap Kitab Suci, karena:

 

1.   Persentase kesalahan itu sangat kecil, mungkin di bawah 1 %, dan dengan membanding-bandingkan manuscript-manuscript yang ada, seringkali kita bisa mendeteksi adanya kesalahan, dan bahkan mengetahui yang mana yang salah dan yang mana yang benar.

 

2.   Kita boleh percaya bahwa Allah pasti melindungi firmanNya dari kesalahan-kesalahan yang fatal. Apa dasar dari kepercayaan ini? Dasarnya adalah kebijaksanaan Tuhan. Tidak mungkin Tuhan membiarkan kesalahan besar / fatal masuk ke dalam firmanNya!

 

Tentang ketelitian para penyalin dalam menyalin manuscript-manuscript, perhatikan 2 kutipan di bawah ini.

 

‘Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible’: “Until 1947 the oldest known Hebrew manuscripts of the Old Testament dated from the ninth and tenth centuries AD. They were copies of the first five books of the Bible - the Pentateuch. Then in 1947 came the remarkable discovery of the Dead Sea Scrolls. ... These manuscripts are about a thousand years earlier than the ninth century AD documents. Amongst the Dead Sea Scrolls are copies of all the Old Testament books except Esther. These early manuscripts from Qumran are very important because they have essentially the same text as the ninth-century manuscripts. The text of the Old Testament had changed very little for a thousand years. The careful copyists had made few errors or alteration. ... we can be confident that the Old Testament as we now have it is substantially the same as its authors wrote many centuries ago.” [= Sampai tahun 1947 manuscripts Ibrani dari Perjanjian Lama tertua yang dikenal, berasal dari abad ke 9 dan ke 10 Masehi. Lalu pada tahun 1947 terjadilah penemuan yang luar biasa tentang Dead Sea Scrolls (gulungan-gulungan manuscript dari Laut Mati). ... Manuscript-manuscript ini berumur sekitar 1000 tahun lebih kuno dari pada dokumen-dokumen pada abad ke 9 Masehi. Di antara gulungan-gulungan dari Laut Mati itu ada naskah-naskah dari kitab-kitab Perjanjian Lama kecuali Ester. Manuscript-manuscript dari Qumran ini sangat penting karena mereka pada dasarnya memiliki text yang sama dengan manuscript dari abad ke 9 itu. Text dari Perjanjian Lama telah berubah sangat sedikit untuk waktu 1000 tahun. Penyalin-penyalin yang teliti telah membuat sedikit kesalahan atau perubahan. ... kita bisa yakin bahwa Perjanjian Lama seperti yang kita miliki sekarang pada pokoknya adalah sama seperti yang ditulis oleh para pengarangnya berabad-abad yang lalu.] - hal 65-66.

 

‘Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible’: “Over the last 250 years many careful scholars have worked hard to make sure that we have a New Testament which is as close as possible to what its authors originally wrote. The few small areas of doubt which remain are over minor matters of wording. But none of these questions raises any doubt whatever about the basic meaning of the New Testament.” [= Selama 250 tahun terakhir ini banyak ahli-ahli yang teliti yang telah bekerja keras untuk memastikan bahwa kita memiliki Perjanjian Baru yang sedekat mungkin dengan apa yang ditulis secara orisinil oleh para pengarangnya. Sedikit daerah-daerah keragu-raguan yang tertinggal hanyalah tentang persoalan kecil tentang penyusunan kata. Tetapi tidak ada dari pertanyaan-pertanyaan ini yang menimbulkan keraguan apapun tentang arti dasar dari Perjanjian Baru.] - hal 68.

 

Saya akan memberikan satu tulisan dari web yang penting tentang hal ini:

 

In light of this, the number of ancient writings containing the New Testament is staggering. To date, over 5800 Greek New Testament fragments have been found (Taylor, 2012). Over 10,000 Latin New Testament manuscripts dating from the 2nd to 16th century have been located. The earliest are in fragments that cover a substantial amount of the New Testament. Some manuscripts have also been found in a number of other languages, including Coptic, Syriac, Gothic, and Arabic. Taking all languages together, over 25,000 handwritten copies of the New Testament have been recovered. But there is more. Almost the entire New Testament could be reproduced by quotes from the ancient church fathers. ‘So extensive are these citations that if all other sources for our knowledge of the text of the New Testament were destroyed, they would be sufficient alone for the reconstruction of practically the entire New Testament’ (Metzger & Ehrman, 2005).

 

Berdasarkan hal ini, jumlah tulisan kuno yang memuat Perjanjian Baru sangatlah mengejutkan. Hingga saat ini, lebih dari 5.800 fragmen Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani telah ditemukan (Taylor, 2012). Lebih dari 10.000 manuskrip Perjanjian Baru dalam bahasa Latin yang berasal dari abad ke-2 hingga abad ke-16 juga telah ditemukan. Manuskrip-manuskrip paling awal berbentuk fragmen yang mencakup sebagian besar isi Perjanjian Baru. Selain itu, manuskrip dalam beberapa bahasa lain seperti Koptik, Suryani, Gotik, dan Arab juga telah ditemukan. Jika digabungkan dari semua bahasa, lebih dari 25.000 salinan tulisan tangan Perjanjian Baru telah ditemukan. Namun, ada hal yang lebih luar biasa lagi. Hampir seluruh isi Perjanjian Baru dapat direkonstruksi melalui kutipan-kutipan dari para bapa gereja kuno. ‘Begitu luasnya kutipan-kutipan ini sehingga jika semua sumber lain untuk pengetahuan kita tentang teks Perjanjian Baru dihancurkan, kutipan-kutipan ini saja sudah cukup untuk merekonstruksi hampir seluruh Perjanjian Baru’ (Metzger & Ehrman, 2005).

 

Determining Age and Examining Quality

Over the last 100 years, thousands of ancient Greek manuscripts have been found in countries all along the Mediterranean. The majority has come from Egypt. When looking at ancient texts, scholars begin by examining the manuscript’s age and quality.

 

Menentukan Usia dan Memeriksa Kualitas

Selama 100 tahun terakhir, ribuan manuskrip kuno dalam bahasa Yunani telah ditemukan di berbagai negara di sekitar kawasan Mediterania. Sebagian besar manuskrip tersebut berasal dari Mesir. Dalam mempelajari teks-teks kuno, para ahli biasanya memulai dengan memeriksa usia dan kualitas manuskrip tersebut.

 

Age

As stated before, the earlier the manuscript, the more valuable they are. If there are fewer copies between themselves and the originals, the potential for error is reduced. ‘The more direct pipeline a manuscript has to the original, the better are its chances of getting the wording right’ (Komoszewski, Sawyer, & Wallace, 2006). How can we be sure of the age of ancient writing? Can we actually find conclusive evidence that proves their age?

 

Usia
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, semakin awal usia sebuah manuskrip, semakin berharga nilainya. Jika terdapat lebih sedikit salinan yang memisahkan manuskrip tersebut dari naskah aslinya, maka potensi kesalahan akan berkurang. ‘Semakin langsung jalur sebuah manuskrip ke naskah asli, semakin besar kemungkinannya memiliki kata-kata yang benar’ (Komoszewski, Sawyer, & Wallace, 2006).

Bagaimana kita dapat memastikan usia tulisan kuno? Apakah mungkin menemukan bukti yang meyakinkan untuk membuktikan usia manuskrip tersebut?

 

First, we might think that scientific tests, examining archaeological evidence regarding the physical nature of the papyrus might be in order. But, such tests have been proven to be inaccurate. While external factors can help, most manuscripts cannot be dated this way because of the ambiguous circumstances (Comfort P. W., 2005). So, scholars are left with more subjective methods to date the ancient writings. The best way to date a manuscript is to examine the style of handwriting. Things are written differently generation to generation. The same is true today. Compare your handwriting with that from a century ago. You will see a distinct difference. While exact dates cannot be established, comparative morphology (a study of comparable handwriting styles) allows writings to be narrowed down to differing decades.  

The various handwriting styles in one time period over another help with dating. During the first and early second century, writers tried to keep letters on an imaginary top line. Slanted handwriting begins later in the 2nd century. The earlier manuscripts are written with mostly upright characters in a kind of print where letters tend to be as wide as they are high.

 

Pertama, kita mungkin berpikir bahwa pengujian ilmiah, seperti memeriksa bukti arkeologis terkait sifat fisik papirus, adalah cara yang tepat. Namun, pengujian semacam itu terbukti tidak akurat. Meskipun faktor eksternal dapat membantu, sebagian besar manuskrip tidak dapat diberi tanggal secara pasti karena keadaan yang ambigu (Comfort P. W., 2005). Oleh karena itu, para ahli menggunakan metode yang lebih subjektif untuk menentukan usia tulisan kuno.

Cara terbaik untuk menentukan usia sebuah manuskrip adalah dengan memeriksa gaya tulisan tangan. Gaya tulisan berubah dari generasi ke generasi. Hal ini juga berlaku saat ini. Bandingkan tulisan tangan Anda dengan tulisan tangan dari satu abad yang lalu, dan Anda akan melihat perbedaan yang mencolok. Meskipun tanggal pasti tidak dapat ditentukan, morfologi komparatif (studi tentang gaya tulisan tangan yang sebanding) memungkinkan penanggalan tulisan disempitkan ke dekade-dekade tertentu.

Gaya tulisan tangan yang berbeda pada satu periode waktu dibandingkan dengan periode lain membantu menentukan usia manuskrip. Pada abad pertama dan awal abad kedua, penulis berusaha menjaga huruf tetap pada garis atas imajiner. Tulisan tangan yang miring mulai muncul pada akhir abad kedua. Manuskrip yang lebih awal umumnya ditulis dengan karakter tegak lurus dalam bentuk cetak di mana huruf-hurufnya cenderung selebar tinggi mereka.

 

The earliest examples have something of a childish appearance, are rough and labored, the curves jerky rather than flowing. As better effect was sought with time, it took the form of attaching serifs to all terminal lines, and these characterize the style from the middle of the first to the middle of the second centuries. Gradually, too, cursive features appear. Letters tend to be connected without lifting the pen. Curves and loops are employed wherever possible, and letters tend to be oval rather than round, sloping rather than upright, varied in height rather than even, with long and dashing initial and terminal strokes. Within this process it is possible to date a given hand typologically with some confidence, although given scribes may be ahead of or behind the general development (Oates, Samuel, & Welles, 1967). 

 

Contoh-contoh tulisan tangan paling awal memiliki kesan yang agak kekanak-kanakan, kasar, dan tampak dibuat dengan susah payah. Lengkungan-lengkungannya cenderung kaku daripada mengalir dengan halus. Seiring waktu, untuk mencapai hasil yang lebih baik, gaya tulisan mulai menggunakan serif pada semua garis ujung huruf, yang menjadi ciri khas tulisan dari pertengahan abad pertama hingga pertengahan abad kedua.

Secara bertahap, ciri-ciri tulisan kursif mulai muncul. Huruf-huruf cenderung saling terhubung tanpa mengangkat pena. Lengkungan dan lingkaran mulai digunakan sebanyak mungkin, dan huruf-hurufnya cenderung berbentuk oval daripada bulat, miring daripada tegak lurus, bervariasi dalam tinggi daripada seragam, dengan goresan awal dan akhir yang panjang dan bergaya.

Dalam perkembangan ini, dimungkinkan untuk menentukan usia suatu gaya tulisan dengan cukup yakin berdasarkan tipologi, meskipun para penulis tertentu mungkin lebih maju atau tertinggal dibandingkan perkembangan umum (Oates, Samuel, & Welles, 1967).

 

Another method of dating the early manuscripts is to compare the handwriting style to secular writing that is tracked to the same time. This practice is known as comparative paleography. The number of comparative materials between the first and third centuries is not large. Pagan literary texts were often exactly dated, while ‘as a rule New Testament manuscripts on papyrus are not’ (Minnen, 1995).

 

Metode lain untuk menentukan usia manuskrip-manuskrip awal adalah dengan membandingkan gaya tulisan tangan dengan tulisan sekuler yang diketahui berasal dari waktu yang sama. Praktik ini dikenal sebagai paleografi komparatif. Namun, jumlah materi pembanding antara abad pertama hingga ketiga tidak terlalu banyak. Teks-teks sastra pagan sering kali diberi tanggal secara spesifik, sedangkan ‘pada umumnya manuskrip Perjanjian Baru pada papirus tidak demikian’ (Minnen, 1995).

 

What about Variances in the Early Texts?

As we know it today, there are around 138,000 words in the Greek New Testament. There are literally hundreds of thousands of variants where there is not uniformity of wording. On average, for every word in the Greek New Testament, there are almost three variants. The large number is due to the large number of manuscripts. Are these differences capable in changing the meaning of the intent of the original authors? No. An overwhelming majority of alterations are accidental and trivial. 

 

Bagaimana dengan Perbedaan dalam Teks-Teks Awal?

Seperti yang kita ketahui saat ini, terdapat sekitar 138.000 kata dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani. Ada ratusan ribu varian di mana tidak ada keseragaman kata. Rata-rata, untuk setiap kata dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani, terdapat hampir tiga varian. Jumlah besar ini disebabkan oleh banyaknya manuskrip yang ditemukan.

Apakah perbedaan-perbedaan ini mampu mengubah makna dari maksud penulis aslinya? Tidak. Mayoritas besar perubahan ini bersifat tidak disengaja dan sepele.

 

Textual differences are typically divided into four categories.

 

Perbedaan teks biasanya dibagi ke dalam empat kategori utama:

 

1.   Spelling and Nonsense Errors. This is by far the largest of the categories and the majority of these are spelling differences that have no impact on the meaning of the text. For example, in the Greek, ‘John’ is spelled two different ways. The same person is in view; but the difference is in whether the scribe decided to spell John using two "n’s" or one. Another common difference found in Greek manuscripts is similar to the two forms of the indefinite article in English: ‘a’ or ‘an’. These variances are so insignificant that most textual critics ignore them. Scribes who were tired or inattentive often created ‘nonsense errors.’ For example, Codex Washingtonianus contains an error where a scribe wrote the word ‘and’ instead of the word ‘Lord’. In the Greek, the two words are very similar (kai and kurios) and the mistake probably happened due to mental fatigue. In the overall context, the usage of the word ‘and’ does not change the meaning of the text.

 

1.      Kesalahan Ejaan dan Nonsens. Ini adalah kategori terbesar dan mayoritas dari kesalahan ini adalah perbedaan ejaan yang tidak mempengaruhi makna teks. Misalnya, dalam bahasa Yunani, ‘Yohanes’ dieja dengan dua cara yang berbeda. Orang yang sama yang dimaksud, namun perbedaannya terletak pada apakah penulis memilih untuk mengeja Yohanes dengan dua ‘n’ atau satu. Perbedaan umum lainnya yang ditemukan dalam manuskrip Yunani mirip dengan dua bentuk artikel tak tentu dalam bahasa Inggris: ‘a’ atau ‘an’. Variasi ini sangat tidak signifikan sehingga sebagian besar kritikus teks mengabaikannya. Penulis yang lelah atau tidak perhatian sering membuat ‘kesalahan nonsens’. Misalnya, Codex Washingtonianus mengandung kesalahan di mana seorang penulis menulis kata ‘dan’ alih-alih kata ‘Tuhan’. Dalam bahasa Yunani, kedua kata tersebut sangat mirip (kai dan kurios) dan kesalahan ini mungkin terjadi karena kelelahan mental. Dalam konteks keseluruhan, penggunaan kata ‘dan’ tidak mengubah makna teks.

 

2.   Minor changes and alterations that do not affect translation. This category consists of variations in the usage of a definite article with proper names. Sometimes Greek uses the definite article with proper names while English does not. For example, in Luke 2:16, some manuscripts identify ‘Mary and Joseph’ as ‘the Mary and the Joseph’ instead of just ‘Mary and Joseph’. In other manuscripts, the article was not used. Also, word-order differences account for many of the discrepancies. An example of this can be seen in a sentence such as ‘Jesus loves John.’ ‘In Greek, that sentence can be expressed in at least sixteen different ways without affecting the basic sense’ (Grudem, Collins, & Schreiner, 2012). Word order changes are frequent in the manuscripts, yet these do not affect the basic meaning of what is being said.

 

2.   Perubahan kecil dan perubahan yang tidak mempengaruhi terjemahan. Kategori ini terdiri dari variasi dalam penggunaan artikel tertentu dengan nama-nama diri. Terkadang bahasa Yunani menggunakan artikel tertentu dengan nama diri, sementara bahasa Inggris tidak. Misalnya, dalam Lukas 2:16, beberapa manuskrip menyebutkan ‘Maria dan Yusuf’ sebagai ‘Maria yang itu dan Yusuf yang itu’ alih-alih hanya ‘Maria dan Yusuf’. Dalam manuskrip lainnya, artikel tersebut tidak digunakan. Selain itu, perbedaan urutan kata menjadi penyebab banyaknya ketidaksesuaian. Sebagai contoh, kalimat seperti ‘Yesus mengasihi Yohanes’. ‘Dalam bahasa Yunani, kalimat itu dapat diungkapkan dalam setidaknya enam belas cara berbeda tanpa mempengaruhi makna dasar’ (Grudem, Collins, & Schreiner, 2012). Perubahan urutan kata sering ditemukan dalam manuskrip, namun ini tidak mempengaruhi makna dasar dari apa yang sedang dikatakan.

 

3.   Meaningful changes that are not ‘Viable.’ One example is found in 1Thessalonians 2:9. A late medieval manuscript (from the 13th century) uses the phrase ‘the gospel of Christ.’ This is a meaningful change, but not viable because almost all of the other manuscripts use the term ‘the gospel of God.’ Other examples are seen throughout the gospels as scribes often tried to harmonize the wording between the gospel accounts. When they did so, they ‘tended to add material to one Gospel rather than take away material from another’ (Komoszewski, Sawyer, & Wallace, 2006).

 

3.      Perubahan bermakna yang tidak ‘mungkin / realistik’. Salah satu contoh ditemukan dalam 1Tesalonika 2:9. Sebuah manuskrip abad pertengahan akhir (dari abad ke-13) menggunakan frasa ‘injil Kristus’. Ini adalah perubahan yang bermakna, tetapi tidak mungkin / realistik karena hampir semua manuskrip lain menggunakan istilah ‘injil Allah’. Contoh lainnya dapat ditemukan di seluruh Injil, di mana para penulis naskah sering berusaha untuk menyelaraskan kata-kata antara catatan-catatan Injil. Ketika mereka melakukannya, mereka ‘cenderung menambahkan materi ke dalam satu Injil daripada mengurangi materi dari Injil yang lain’ (Komoszewski, Sawyer, & Wallace, 2006).

 

4.   Meaningful and ‘Viable’ Variants. This represents about 1 percent of all textual variants. In these cases, the difference in the manuscripts can affect the understanding of a passage. Daniel Wallace identifies three significant examples:

 

4.   Variasi Bermakna dan ‘mungkin / realistik’. Ini mewakili sekitar 1 persen dari semua variasi teks. Dalam kasus-kasus ini, perbedaan dalam manuskrip dapat memengaruhi pemahaman suatu ayat. Daniel Wallace mengidentifikasi tiga contoh signifikan:

 

a.   Romans 5:1 - Some manuscripts read ‘we have peace’ while others say ‘let us have peace’. In the original language, the difference in the word is found in one letter. "If ‘we have peace’ is authentic, Paul is speaking about believer’s status with God; if ‘let us have peace’ is authentic, the apostle is urging Christians to enjoy the experience of this harmony with God in their lives. As important as this textual problem is, neither variant contradicts any of the teachings of Scripture elsewhere, and both readings state something that is theologically sound,[3]" (Grudem, Collins, & Schreiner, 2012).

 

a.   Roma 5:1 - Beberapa manuskrip membaca ‘kita memiliki damai’ sementara yang lain mengatakan ‘marilah kita memiliki damai’. Dalam bahasa asli, perbedaan kata ini terletak pada satu huruf. 'Jika ‘kita memiliki damai’ yang autentik, Paulus sedang berbicara tentang status orang percaya dengan Allah; jika ‘marilah kita memiliki damai’ yang autentik, rasul sedang mendorong orang Kristen untuk menikmati pengalaman keharmonisan ini dengan Allah dalam hidup mereka. Sebagai masalah teks yang penting, tidak ada variasi yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Alkitab di tempat lain, dan kedua bacaan tersebut menyatakan sesuatu yang teologis benar' (Grudem, Collins, & Schreiner, 2012).

 

b.   Mark 16:9-20 and John 7:53-8:11 are omitted in the earliest manuscripts and do not fit well with the style of writing of the authors. Even if one were to take away these passages, no essential matters of doctrine are changed.

 

b. Markus 16:9-20 dan Yohanes 7:53-8:11 tidak ada dalam manuskrip-manuskrip tertua dan tidak cocok dengan gaya penulisan para penulisnya. Bahkan jika ada orang yang membuang text-text ini, tidak ada hal-hal penting dalam doktrin yang berubah.

 

What are we to make of these variants? Should our faith be shaken? Absolutely not. ‘For more than two centuries, most biblical scholars have declared that no essential affirmation has been affected by the variants’ (Taylor, 2012). In their attempts to recover the originals, textual critics have recovered at least 95% of the inspired words. Some even go farther, placing the number as high as 99%. Scholars such as Philip Comfort have ascertained that while there are differing conclusions on some of the variants in the manuscripts, ‘this is, by no means, a large number… And this should not cause us to abandon the task of recovering the original wording of the New Testament. New insights have come and will keep coming, in the new form of actual documents, new methodologies, and new understandings’ (Comfort P. W., 2005). Another scholar writes, ‘The verbal agreement between various New Testament manuscripts is closer than between many English translations of the New Testament and the percentage of variants in the New Testament is small…and no matter of doctrine hinges on a variant reading’ (Wegner, 2006). Think about the first part of Wegner’s statement. There are thousands of Greek manuscripts available, coming from different times and places. They agree more often than our English translations! Amazing!

 

Apa yang harus kita buat dari variasi-variasi ini? Haruskah iman kita terguncang? Tentu saja tidak. ‘Selama lebih dari dua abad, sebagian besar ahli Alkitab telah menyatakan bahwa tidak ada penegasan penting yang terpengaruh oleh variasi-variasi tersebut’ (Taylor, 2012). Dalam upaya mereka untuk memulihkan naskah asli, para kritikus teks telah memulihkan setidaknya 95% dari kata-kata yang diinspirasikan. Beberapa bahkan lebih jauh, menempatkan jumlahnya setinggi 99%. Para ahli seperti Philip Comfort telah memastikan bahwa meskipun ada kesimpulan yang berbeda tentang beberapa variasi dalam manuskrip, ‘ini, sama sekali bukan jumlah yang besar... Dan ini seharusnya tidak membuat kita meninggalkan tugas untuk memulihkan kata-kata asli dari Perjanjian Baru. Wawasan-wawasan baru telah datang dan akan terus datang, dalam bentuk dokumen-dokumen yang aktual, metodologi baru, dan pemahaman baru’ (Comfort P. W., 2005). Seorang ahli lain menulis, ‘Kesepakatan verbal antara berbagai manuskrip Perjanjian Baru lebih dekat daripada antara banyak terjemahan bahasa Inggris dari Perjanjian Baru dan persentase variasi dalam Perjanjian Baru sangat kecil... dan tidak ada masalah doktrin yang bergantung pada bacaan yang bervariasi’ (Wegner, 2006). Pikirkan tentang bagian pertama dari pernyataan Wegner. Ada ribuan manuskrip Yunani yang tersedia, berasal dari waktu dan tempat yang berbeda. Mereka lebih sering sepakat daripada terjemahan bahasa Inggris kita! Luar biasa!

 

 

Concluding Thoughts

Even though the original autographs disappeared thousands of years ago, God has preserved His word. Over the course of history, has not God worked through human beings to accomplish His purposes? Arlandson (2007) makes a powerful comparison when referencing the writing of C.S. Lewis on miracles. ‘The moment (a miracle) enters (nature’s) realm, it obeys her laws. Miraculous wine will intoxicate, miraculous conception will lead to pregnancy, inspired books will suffer all the ordinary processes of textual corruption, and miraculous bread will be digested’ (Lewis, 1947).

Despite undergoing all the processes of time, the fact that the Biblical manuscripts have been preserved in the way they have should strengthen our faith. The ancient inspired writings are not alone - no text coming from the ancient world has the originals. It should humble us when we see how Scripture has been handed down through the generations. Many scribes spent countless hours copying and checking their work to ensure an accurate text for the generations that would come after them. Theirs was often a behind-the-scenes endeavor that garnered little attention. But, there is little doubt they understood the significance of the Word of God. Instead of having our faith shaken, we should be strengthened when we consider that Modern Greek texts are very close to the original.

 

Pikiran Penutupan

Meskipun naskah asli telah hilang ribuan tahun yang lalu, Allah telah memelihara firmanNya. Sepanjang sejarah, bukankah Allah telah bekerja melalui manusia untuk mencapai tujuanNya? Arlandson (2007) membuat perbandingan yang kuat ketika merujuk pada tulisan C. S. Lewis tentang mujizat. ‘Begitu (sebuah mujizat) memasuki ranah (alam), ia tunduk pada hukum-hukumnya. Anggur mujizat akan memabukkan, konsepsi mujizat akan menyebabkan kehamilan, buku yang diinspirasikan akan mengalami semua proses korupsi teks yang biasa, dan roti mujizat akan dicerna’ (Lewis, 1947).

Meskipun mengalami semua proses waktu, kenyataan bahwa manuskrip Alkitab telah dipelihara dengan cara yang seperti ini seharusnya menguatkan iman kita. Tulisan-tulisan kuno yang diinspirasikan tidak sendirian - tidak ada teks dari dunia kuno yang memiliki naskah asli. Ini seharusnya merendahkan hati kita ketika kita melihat bagaimana Kitab Suci telah diturunkan melalui generasi-generasi. Banyak penulis naskah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyalin dan memeriksa pekerjaan mereka untuk memastikan teks yang akurat bagi generasi yang akan datang setelah mereka. Pekerjaan mereka sering kali dilakukan di balik layar yang tidak mendapat banyak perhatian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa mereka memahami signifikansi dari Firman Allah. Alih-alih membiarkan iman kita terguncang, kita seharusnya dikuatkan ketika kita mempertimbangkan bahwa teks-teks Yunani modern sangat dekat dengan naskah asli.

 

In the end, we simply need to fall back on faith. We can rest in confidence that our sovereign and powerful God not only inspired the Biblical writers, but He has also providentially overseen its preservation in such a way that the Bible we have today is reliable. It is nothing less than the infallible, inerrant Word of God Himself. What Isaiah said 2700 years ago will always ring true: ‘The grass withers, the flower fades, but the word of our God will stand forever,’ Isaiah 40.8.

 

Pada akhirnya, kita hanya perlu kembali pada iman. Kita dapat beristirahat dengan keyakinan bahwa Allah kita yang maha kuasa dan berdaulat tidak hanya menginspirasi para penulis Alkitab, tetapi Dia juga dengan bijaksana mengawasi pemeliharaannya dengan cara yang memastikan bahwa Alkitab yang kita miliki hari ini dapat dipercaya. Itu tidak lain adalah Firman Allah yang tidak bisa salah dan tak tergoyahkan. Apa yang dikatakan oleh Yesaya 2700 tahun yang lalu akan selalu benar: ‘Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya,’ Yesaya 40:8.

 

Catatan: tulisan di atas saya ambil dari link ini: http://www.bible.ca/ef/topical-the-earliest-new-testament-manuscripts.htm

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin