(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 2 Desember 2012, pk 17.00
Pdt. Budi Asali
(HP: 7064-1331 / 6050-1331 / 0819-455-888-55)
c) Ro 9:5 - “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.
TDB: “yang memiliki bapak-bapak leluhur dan yang menurunkan Kristus sebagai manusia: Allah, yang ada di atas segalanya, diagungkanlah untuk selama-lamanya. Amin.”.
Kelihatannya TDB mau memisahkan kalimat yang saya garis bawahi dalam Ro 9:5 itu, dengan kalimat sebelumnya, dan menganggap bahwa kalimat pertama berbicara tentang Kristus, sedangkan kalimat kedua (yang saya garis bawahi) mereka anggap sebagai suatu doxology (= kata-kata pujian) dari Paulus kepada Allah (Bapa). Jadi, dengan terpisahnya kedua kalimat ini, maka Ro 9:5 ini tidak menunjukkan Kristus sebagai Allah.
Jawaban saya:
1. Persoalan terjemahan.
RSV juga menterjemahkan seperti TDB.
RSV: ‘to them belong the patriarchs, and of their race, according to the flesh, is the Christ. God who is over all be blessed for ever. Amen.’ (= mereka memiliki bapa-bapa leluhur, dan Kristus adalah dari bangsa mereka, menurut daging. Allah yang ada di atas segala sesuatu terpujilah selama-lamanya. Amin.).
Tetapi KJV/NIV/NASB menterjemahkan seluruhnya dalam 1 kalimat (tak termasuk kata ‘Amin’nya).
KJV: ‘Whose are the fathers, and of whom as concerning the flesh Christ came, who is over all, God blessed for ever.’ (= Yang memiliki bapa-bapa leluhur, dan dari siapa berkenaan dengan daging Kristus datang, yang ada di atas segala sesuatu, Allah yang terpuji untuk selama-lamanya.).
NIV: ‘Theirs are the patriarchs, and from them is traced the human ancestry of Christ, who is God over all, forever praised!’ (= Milik merekalah bapa-bapa leluhur, dan dari mereka ditelusuri jejak dari keturunan manusia dari Kristus, yang adalah Allah di atas segala sesuatu, dipuji selama-lamanya!).
NASB: ‘whose are the fathers, and from whom is the Christ according to the flesh, who is over all, God blessed forever.’ (= yang memiliki bapa-bapa leluhur, dan dari siapa Kristus menurut daging, yang ada di atas segala sesuatu, Allah yang terpuji selama-lamanya).
Semua terjemahan ini menunjukkan Kristus sebagai Allah.
Perhatikan beberapa komentar tentang terjemahan dari Ro 9:5 ini.
Bible Knowledge Commentary: “Some take these words as a separate sentence (see NIV marg.), but the NIV text seems preferable.” [= Sebagian / beberapa orang mengambil kata-kata ini sebagai suatu kalimat yang terpisah (lihat catatan tepi dari NIV), tetapi text dari NIV kelihatannya lebih baik.].
Adam Clarke: “I pass by the groundless and endless conjectures about reversing some of the particles and placing points in different positions, since they have been all invented to get rid of the doctrine of Christ’s divinity, which is so obviously acknowledged by the simple text; it is enough to state that there is no omission of these important words in any manuscript or version yet discovered.” (= Saya abaikan dugaan-dugaan yang tak berdasar dan tak ada habisnya tentang pembalikan / perubahan beberapa dari partikel dan penempatan titik-titik dalam posisi-posisi yang berbeda, karena semua itu diciptakan untuk menyingkirkan doktrin tentang keilahian Kristus, yang dengan begitu jelas diakui oleh text yang sederhana itu; adalah cukup untuk menyatakan bahwa di sana tidak ada penghapusan dari kata-kata penting ini dalam manuscript atau versi manapun yang telah ditemukan.).
Barnes’ Notes: “‘God blessed forever.’ This is evidently applied to the Lord Jesus; and it proves that he is divine. If the translation is fairly made, and it has never been proved to be erroneous, it demonstrates that he is God as well as man. The doxology ‘blessed forever’ was usually added by the Jewish writers after the mention of the name God, as an expression of reverence.” (= ‘Allah yang terpuji selama-lamanya’. Ini dengan jelas diterapkan kepada Tuhan Yesus; dan ini membuktikan bahwa Ia adalah Ilahi / Allah. Jika terjemahan dibuat dengan adil / jujur, dan terjemahan itu belum pernah dibuktikan sebagai salah, maka terjemahan itu mendemonstrasikan bahwa Ia adalah Allah maupun manusia. Kata-kata pujian / doxology ‘dipuji selama-lamanya’ biasanya ditambahkan oleh penulis-penulis Yahudi setelah penyebutan nama / sebutan Allah, sebagai suatu ungkapan penghormatan.).
A. T. Robertson: “‘Who is over all, God blessed for ever.’ ... A clear statement of the deity of Christ following the remark about his humanity. This is the natural and the obvious way of punctuating the sentence. To make a full stop after sarka (or colon) and start a new sentence for the doxology is very abrupt and awkward.” [= ‘Yang ada di atas segala sesuatu, Allah yang terpuji selama-lamanya’. ... Suatu pernyataan yang jelas tentang keilahian dari Kristus setelah kata-kata tentang kemanusiaanNya. Ini adalah cara yang wajar / alamiah dan jelas tentang pemberian tanda-tanda baca dari kalimat ini. Memberi suatu titik (atau titik dua) setelah SARKA / flesh / daging dan memulai suatu kalimat baru untuk doxology / kata-kata pujian adalah sangat mendadak / tak terduga dan janggal / canggung.].
Calvin: “They who break off this clause from the previous context, that they may take away from Christ so clear a testimony to his divinity, most presumptuously attempt, to introduce darkness in the midst of the clearest light; for the words most evidently mean this, - ‘Christ, who is from the Jews according to the flesh, is God blessed for ever.’” (= Mereka yang memutus anak kalimat ini dari kontext sebelumnya, sehingga mereka bisa membuang dari Kristus suatu kesaksian yang begitu jelas tentang keilahianNya, usaha yang paling kurang ajar / tak berdasar, untuk memperkenalkan kegelapan di tengah-tengah terang yang paling jelas; karena kata-kata itu dengan sangat jelas berarti ini, - ‘Kristus, yang adalah dari bangsa Yahudi menurut daging, adalah Allah yang terpuji selama-lamanya’.).
2. Dalam Ro 9:5a Paulus baru membicarakan hakekat manusia Kristus. Jadi, sangat cocok kalau dalam Ro 9:5b ini ia memberikan penggambaran tentang hakekat ilahi Kristus, dan bukannya memberikan suatu doxology bagi Bapa (seperti dalam TDB dan RSV).
Charles Hodge: “On any other interpretation there is nothing to answer to the to kata sarka / TO KATA SARKA. ... Why not simply say, ‘of whom Christ came?’ This would have expressed everything, had not the apostle designed to bring into view the divine nature” [= Pada penafsiran lain yang manapun, tidak ada apapun yang sesuai dengan kata-kata to kata sarka (TO KATA SARKA = menurut daging / sebagai manusia). ... Mengapa ia tidak sekedar berkata: ‘dari siapa Kristus datang’? Ini akan menyatakan segala sesuatu, seandainya sang rasul tidak merencanakan untuk menyatakan hakekat ilahi (dari Kristus)] - ‘Romans’, hal 300.
Kalau saya sederhanakan kata-kata dari Charles Hodge ini maka ia berkata sebagai berikut: Kalau Paulus sekedar membicarakan bahwa Mesias itu diturunkan dari bangsa Yahudi, dan ia tidak berkeinginan untuk membicarakan keilahian Mesias itu, untuk apa ia menambahkan kata-kata ‘sebagai manusia’ (terjemahan hurufiah: ‘menurut daging’)? Adanya kata-kata ‘sebagai manusia’ / ‘menurut daging’ ini menuntut kontrasnya, yaitu penggambaran tentang Mesias itu menurut hakekatNya yang lebih tinggi, yaitu sebagai Allah.
Ini serupa dengan yang ada dalam Ro 1:3-4.
Ro 1:3-4 - “(3) tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, (4) dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”.
Calvin juga memberikan argumentasi yang serupa tetapi ia menambahkan sesuatu lagi.
Calvin: “But we have here a remarkable passage, - that in Christ two natures are in such a manner distinguished, that they are at the same time united in the very person of Christ: for by saying that Christ had descended from the Jews, he declared his real humanity. The words ‘according to the flesh,’ which are added, imply that he had something superior to flesh; and here seems to be an evident distinction made between humanity and divinity. But he at last connects both together, where he says, that the Christ, who had descended from the Jew’s according to the flesh, is God blessed for ever. We must further observe, that this ascription of praise belongs to none but only to the true and eternal God; for he declares in another place, (1Timothy 1:17,) that it is the true God alone to whom honor and glory are due.” [= Tetapi di sini kita mempunyai suatu text yang luar biasa / hebat, - bahwa dalam Kristus dua hakekat dengan suatu cara tertentu dibedakan, sehingga / bahwa mereka pada saat yang sama bersatu dalam pribadi dari Kristus: karena dengan mengatakan bahwa Kristus telah diturunkan dari bangsa Yahudi, ia menyatakan kemanusiaanNya yang sungguh-sungguh. Kata-kata ‘menurut daging’, yang ditambahkan, secara implicit menunjukkan bahwa Ia mempunyai sesuatu yang lebih tinggi dari daging; dan di sini kelihatan dibuat suatu pembedaan yang jelas antara kemanusiaan dan keilahian. Tetapi ia akhirnya menghubungkan keduanya bersama-sama, dimana ia berkata, bahwa Kristus, yang telah diturunkan dari bangsa Yahudi menurut daging, adalah Allah yang terpuji selama-lamanya. Selanjutnya kita harus memperhatikan, bahwa pernyataan pujian ini tidak menjadi milik siapapun kecuali hanya bagi Allah yang benar dan kekal; karena ia menyatakan di tempat lain, (1Tim 1:17), bahwa adalah Allah yang benar saja bagi siapa hormat dan kemuliaan merupakan hak.].
1Tim 1:17 - “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.”.
Bdk. Wah 5:12-13 - “(12) katanya dengan suara nyaring: ‘Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!’ (13) Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: ‘Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!’”.
Catatan: kata ‘puji-pujian’ dalam Wah 5:12 maupun Wah 5:13 diterjemahkan ‘blessing’ oleh KJV/RSV/NASB, dan sebetulnya sama dengan yang digunakan dalam Ro 9:5, hanya saja di sini digunakan kata bendanya, sedangkan dalam Ro 9:5 digunakan kata kerjanya.
d) Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.
Sekarang perhatikan bagaimana terjemahan dari Kitab Suci Saksi Yehuwa.
TDB: “(5) Peliharalah sikap mental ini dalam dirimu, yang juga ada dalam Kristus Yesus, (6) yang, walaupun ada dalam wujud Allah, tidak pernah mempertimbangkan untuk merebut kedudukan, yakni agar ia setara dengan Allah”.
Jadi, dalam penafsiran / penterjemahan dari Kitab Suci Saksi Yehuwa ini, ayat ini menunjukkan bahwa Yesus tidak mempunyai kesetaraan dengan Allah, dan Ia tidak memikirkan untuk menjadi setara dengan Allah / merebut kesetaraan itu.
Catatan: saya tak tahu bagaimana mereka menafsirkan kata-kata ‘dalam wujud Allah’ dalam ay 6nya.
Jawaban saya:
1. Text ini juga jelas menunjukkan keilahian Kristus, karena:
a. Istilah ‘dalam rupa Allah’ dan ‘kesetaraan dengan Allah’ dalam ay 6a sudah jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.
b. Dan kalau kata-kata dalam ay 7 yang mengatakan ‘mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia’ diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, maka konsekwensinya, kata-kata dalam ay 6a yang mengatakan bahwa Yesus ada ‘dalam rupa Allah’ dan ‘setara dengan Allah’ haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah.
2. Penterjemahan Saksi Yehuwa (TDB) itu bertentangan dengan ay 6a.
Kita tidak boleh menafsirkan seakan-akan ayat itu artinya adalah: ‘Yesus itu lebih rendah dari Allah, dan Ia tidak mempertimbangkan untuk merampas kesetaraan dengan Allah itu’, seperti penterjemahan / penafsiran dari Saksi-Saksi Yehuwa. Mengapa? Karena kalau kita memilih penafsiran Saksi-Saksi Yehuwa itu, maka Fil 2:6b ini akan bertentangan dengan Fil 2:6a, yang menunjukkan keilahian Kristus (yang sudah dijelaskan di atas).
3. Penterjemahan Saksi Yehuwa (TDB) itu tidak cocok dengan kontext (Fil 2:1-4).
Dalam Fil 2:1-4 Paulus sedang menasehati supaya jemaat Filipi mempunyai kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.
Fil 2:1-4 - “(1) Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, (2) karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, (3) dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; (4) dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”.
Lalu dalam Fil 2:5-dst, Paulus menunjuk kepada Yesus sebagai teladan dalam hal kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.
Fil 2:5-7 - “(5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”.
Sedangkan dalam terjemahan dari TDB itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu lebih rendah dari Allah dan tidak ingin merebut kesetaraan dengan Allah, maka itu bukan merupakan suatu contoh kerendahan hati ataupun kasih / ketidak-egoisan, tetapi hanya merupakan absennya suatu kegilaan!
Illustrasi: kalau saudara adalah warga negara Indonesia, dan saudara tidak berusaha untuk melakukan kudeta, menggulingkan presiden, dan menjadi presiden menggantikan presiden yang sah, maka apakah itu menunjukkan bahwa saudara adalah warga negara yang baik dan rendah hati? Tentu saja tidak! Itu hanya menunjukkan bahwa saudara tidak gila!
Demikian juga kalau Yesus lebih rendah dari Allah, dan Ia hanya tidak berusaha untuk menjadi setara dengan Bapa, itu sama sekali tidak menunjukkan suatu kerendahan hati ataupun kasih. Itu hanya menunjukkan bahwa Ia tidak gila. Dengan demikian Fil 2:5-6 ini menjadi tidak cocok dengan kontextnya (Fil 2:1-4).
Tetapi dalam terjemahan kita sendiri, maka Yesus yang setara dengan Allah itu, rela direndahkan dengan menjadi manusia, supaya bisa mati menebus dosa kita. Ini dengan jelas memang menunjukkan suatu kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan.
Jadi, terjemahan kita lebih cocok dengan kontextnya, sedangkan TDB sama sekali tidak cocok dengan kontextnya!
e) Tit 2:13 - “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus”.
Bagian terakhir dari ayat ini (yang saya garis bawahi) memungkinkan 2 cara pembacaan:
1. (Allah yang Mahabesar) dan (Juruselamat kita Yesus Kristus).
Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini membicarakan 2 pribadi, yang pertama adalah ‘Allah yang Mahabesar’, dan yang kedua adalah ‘Juruselamat kita Yesus Kristus’. Dengan demikian ayat ini tidak menunjukkan Yesus sebagai Allah.
2. (Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita), Yesus Kristus.
Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini hanya membicarakan satu pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang digambarkan sebagai ‘Allah yang Mahabesar’ maupun sebagai ‘Juruselamat kita’.
Saksi Yehuwa jelas memilih pembacaan pertama.
TDB: “seraya kita menantikan harapan yang bahagia dan manifestasi yang mulia dari Allah yang besar dan dari Juru Selamat kita, Kristus Yesus”.
NIV memilih pembacaan kedua karena NIV menterjemahkannya sebagai berikut: ‘while we wait for the blessed hope - the glorious appearing of our great God and Savior, Jesus Christ’ (= sementara kita menantikan pengharapan yang mulia - penampilan yang mulia dari Allah kita yang besar dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).
Saya sendiri memilih pembacaan kedua, karena:
a. Kata ‘appearing’ (= penampilan / pemunculan), yang dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘penyataan’, diterjemahkan dari kata bahasa Yunani EPIPHANEIA, yang selalu menunjuk pada kedatangan Yesus, dan tidak pernah menunjuk kepada Bapa.
Perhatikan ayat-ayat di bawah ini, yang adalah semua ayat dalam Perjanjian Baru, selain Tit 2:13, yang menggunakan kata Yunani EPIPHANEIA itu.
· 2Tes 2:8 - “pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali”. Ini salah terjemahan.
NASB: ‘by the appearance of His coming’ (= oleh pemunculan / penampilan kedatanganNya).
Di sini digunakan kata EPIPHANEIA.
· 1Tim 6:14 - “Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diriNya”.
NIV/NASB: ‘the appearing’ (= pemunculan / penampilan).
Di sini digunakan EPIPHANEIA.
· 2Tim 1:10 - “dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa”.
NIV/NASB: ‘the appearing’ (= pemunculan / penampilan).
· 2Tim 4:1,8 - “(1) Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataanNya dan demi KerajaanNya: ... (8) Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya”.
NIV/NASB menterjemahkan ‘appearing’ (= pemunculan / penampilan), baik untuk ay 1 maupun untuk ay 8.
Karena itu jelas bahwa ayat ini tidak berbicara tentang 2 pribadi (yang pertama adalah ‘Allah yang mahabesar’, dan yang kedua adalah ‘Juruselamat kita Yesus Kristus’), karena kalau demikian maka kata Yunani EPIPHANEIA harus diterapkan kepada Bapa. Ayat ini hanya berbicara tentang 1 pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang disebutkan sebagai ‘Allah yang mahabesar dan Juruselamat kita’, atau dalam NIV disebutkan sebagai ‘our great God and Savior’ (= Allah yang besar dan Juruselamat kita). Sebutan ‘our great God’ / ‘Allah yang mahabesar’ untuk Yesus ini secara jelas menunjukkan keilahianNya.
2. Pembacaan kedua ini sesuai dengan hukum bahasa Yunani yang diberikan oleh Dana & Mantey, dan juga ahli-ahli bahasa Yunani yang lain.
Dana & Mantey mengatakan bahwa bila kata Yunani KAI (= dan) menghubungkan 2 kata benda dengan case / kasus yang sama, dan jika ada kata sandang yang mendahului kata benda yang pertama, dan kata sandang itu tidak diulangi sebelum kata benda yang kedua, maka kata benda yang terakhir selalu berhubungan dengan pribadi / orang yang dinyatakan / digambarkan oleh kata benda yang pertama. Dengan kata lain, kata benda yang kedua merupakan pengambaran lebih jauh tentang pribadi / orang itu (‘A Manual Grammar of the Greek New Testament’, hal 147). Dengan kata lain, kedua kata benda itu berkenaan dengan satu pribadi!
Jadi, rumus ini berlaku kalau 3 syarat ini dipenuhi:
a. Ada 2 kata benda dengan case / kasus yang sama.
b. Kedua kata benda itu dihubungkan dengan kata penghubung KAI (= dan).
c. Kata benda pertama mempunyai kata sandang tertentu, sedangkan kata benda kedua tidak.
Catatan: ‘case’ / ‘kasus’ merupakan suatu istilah dalam gramatika bahasa Yunani.
Gresham Machen: “The noun in Greek has gender, number, and case. ... There are five cases; nominative, genitive, dative, accusative, and vocative. ... The subject of a sentence is put in the nominative case. ... The object of a transitive verb is placed in the accusative case. ... The genitive case expresses possession. ... The dative case is the case of the indirect object. ... The vocative case is the case of direct address” [= Kata benda dalam bahasa Yunani mempunyai jenis kelamin (laki-laki, perempuan dan netral), bilangan / jumlah (tunggal dan jamak), dan case / kasus. ... Ada lima cases / kasus; nominatif, genitif, datif, akusatif, dan vokatif. ... Subyek dari suatu kalimat diletakkan dalam kasus nominatif. ... Obyek dari suatu kata kerja transitif ditempatkan dalam kasus akusatif. ... Kasus genitif menyatakan kepemilikan. ... Kasus datif adalah kasus dari obyek tidak langsung. ... Kasus vokatif adalah kasus dari sapaan langsung] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 23,24,25.
Sekarang mari kita melihat hubungan rumus bahasa Yunani ini dengan Tit 2:13.
Tit 2:13 - “Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus”.
k.b. 1 k.b.
2 pribadi yg digbrkan
kata penghubung KAI
Di sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case), yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ dan ‘Juruselamat’.
Kedua kata benda itu dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan).
Kata benda yang pertama, yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ mempunyai definite article / kata sandang tertentu (TOU MEGALOU THEOU / the great God), tetapi kata benda yang kedua, yaitu ‘Juruselamat’ tidak mempunyainya (SOTEROS).
Kata benda pertama, yaitu ‘Allah yang Mahabesar’ merupakan penggambaran dari kata ‘Yesus Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’ merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus Kristus’. Jadi, Tit 2:13 ini menggambarkan Yesus Kristus dengan istilah ‘Allah yang Mahabesar’ maupun ‘Juruselamat’.
f) 2Pet 1:1 - “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.
2Pet 1:1 (NASB): ‘... by the righteousness of our God and Savior, Jesus Christ’ (= ... oleh kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).
Jadi di sini Yesus disebut dengan istilah ‘Allah dan Juruselamat kita’.
Di sini kita kembali bertemu dengan hukum bahasa Yunani yang telah kita bahas pada pembahasan Tit 2:13 di depan.
2Pet 1:1b - “Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.
k.b.1 k.b.2 pribadi yg digbrkan
kata penghubung KAI
Di sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case), yaitu ‘Allah’ dan ‘Juruselamat’.
Kedua kata benda itu dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan).
Kata benda yang pertama (k.b.1), yaitu ‘Allah’ mempunyai kata sandang (TOU THEOU / the God), tetapi kata benda yang kedua (k.b.2), yaitu ‘Juruselamat’, tidak mempunyainya (SOTEROS).
Kata benda pertama, yaitu ‘Allah’ merupakan penggambaran dari kata ‘Yesus Kristus’. Maka kata benda kedua, yaitu ‘Juruselamat’ merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama, yaitu ‘Yesus Kristus’. Jadi, 2Pet 1:1b ini menggambarkan Yesus Kristus dengan istilah ‘Allah’ maupun ‘Juruselamat’.
Sekarang mari kita bandingkan dengan terjemahan dari TDB.
TDB: “Dari Simon Petrus, budak dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh iman sebagai hak istimewa yang sama seperti yang kamu miliki, oleh karena keadilbenaran Allah kita dan Yesus Kristus, Juru Selamat itu”.
Ini terjemahan yang kurang ajar, karena dalam bahasa Yunaninya kata ‘Juruselamat’ ada di depan kata ‘Yesus Kristus’. Dalam TDB dibalik, untuk memisahkan kata ‘Allah’ dan ‘Juruselamat’.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ