(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 1 Januari 2012, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
4) Semua manusia lahir dengan dosa asal (kecuali Kristus).
Ro 5:12,18-19 - “(12) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. ... (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.
Jelas bahwa ‘satu orang’ dalam ay 12 adalah Adam, dan jelas juga bahwa yang dimaksud dengan ‘satu pelanggaran’ dan ‘ketidaktaatan satu orang’ adalah dosa pertama Adam. Jadi, ayat-ayat ini mengatakan bahwa gara-gara dosa pertama Adam, maka dosa masuk ke dalam dunia dan semua manusia menjadi orang berdosa di hadapan Tuhan. Mengapa? Karena Adam, yang adalah manusia pertama, dianggap sebagai wakil dari seluruh umat manusia oleh Allah.
Illustrasi: Kalau Indonesia mengirimkan team sepak bola ke luar negeri untuk suatu pertandingan, maka pada waktu team itu kalah, orang berkata ‘Indonesia kalah’. Kita tidak ikut main sepak bola, tetapi tetap dianggap kalah, karena wakil kita kalah.
Ro 5:12 - “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia (KOSMOS) oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”.
Charles Hodge (tentang Ro 5:12): “These words clearly declare a causal relation between the one man, Adam, and the entrance of sin into the world. … ‘Sin entered into the world.’ It is hardly necessary to remark, that κόσμος does not here mean ‘the universe’. ... It can only mean ‘the world of mankind.’ Sin entered the world; it invaded the face. ... It means that the world, κόσμος, mankind became sinners; because this clause is explained by saying, ‘all sinned.’” [= Kata-kata ini dengan jelas menyatakan suatu hubungan sebab-akibat antara satu orang itu, Adam, dan masuknya dosa ke dalam dunia. ... ‘Dosa telah masuk ke dalam dunia’. Hampir tak perlu dikatakan bahwa κόσμος (KOSMOS) di sini tidak berarti ‘alam semesta’. ... Itu hanya bisa berarti ‘dunia umat manusia’. Dosa telah masuk ke dalam dunia; itu menyerbu permukaannya / wajahnya. ... Itu berarti bahwa dunia, κόσμος (KOSMOS), umat manusia, telah menjadi orang-orang berdosa; karena anak kalimat ini dijelaskan dengan mengatakan ‘semua orang telah berdosa / berbuat dosa’].
Tentang kata-kata ‘semua orang telah berbuat dosa’ pada akhir Ro 5:12, perhatikan komentar Charles Hodge dan Calvin di bawah ini.
Charles Hodge: “The fourth class of interpreters, including commentators of every grade of orthodoxy, agree in saying that what is meant is, that all sinned in Adam as their head and representative. Such was the relation, natural and federal, between him and his posterity, that his act was putatively their act. That is, it was the judicial ground or reason why death passed on all men. In other words, they were regarded and treated as sinners on account of his sin” (= Golongan keempat dari para penterjemah, termasuk para penafsir dari setiap kelas dari ke-ortodox-an, setuju dalam mengatakan bahwa apa yang dimaksud adalah, bahwa semua berdosa / berbuat dosa dalam Adam sebagai kepala dan wakil mereka. Demikianlah hubungannya, alamiah dan bersifat perjanjian, antara dia dan keturunannya, sehingga tindakannya dianggap sebagai tindakan mereka. Artinya, itu merupakan dasar atau alasan yang berhubungan dengan pengadilan mengapa maut telah menjalar kepada semua orang. Dengan kata-kata lain, mereka dianggap dan diperlakukan sebagai orang-orang berdosa karena dosanya).
Calvin: “But ‘to sin’ in this case, is to become corrupt and vicious; for the natural depravity which we bring, from our mother’s womb, though it brings not forth immediately its own fruits, is yet sin before God, and deserves his vengeance: and this is that sin which they call original” (= Tetapi ‘berbuat dosa’ dalam kasus ini, artinya menjadi rusak dan jahat / keji; karena kebejatan alamiah yang kita bawa dari kandungan ibu kita, sekalipun itu tidak segera melahirkan / menimbulkan buah-buahnya sendiri, tetap adalah dosa di hadapan Allah, dan layak mendapatkan pembalasanNya: dan ini adalah dosa yang mereka sebut dosa asal).
Ro 5:18-19 - “(18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.
Charles Hodge (tentang Ro 5:18-19): “In ver. 18, it is our being treated as sinners for the sin of Adam, and our being treated as righteous for the righteousness of Christ, that is most prominently presented. In ver. 19, on the contrary, it is our being regarded as sinners for the disobedience of Adam, and our being regarded as righteous for the obedience of Christ, that are rendered most conspicuous. … Though the one idea seems thus to be the more prominent in ver. 18, and the other in ver. 19, yet it is only a greater degree of prominency to the one, and not the exclusion of the other, that is in either case intended” (= Dalam ay 18, adalah diperlakukannya kita sebagai orang berdosa karena dosa Adam, dan diperlakukannya kita sebagai orang benar karena kebenaran Kristus, yang secara paling menyolok diajukan / disampaikan. Dalam ay 19, sebaliknya, adalah dianggapnya kita sebagai orang berdosa karena ketidak-taatan Adam, dan dianggapnya kita sebagai orang benar karena ketaatan Kristus, yang dibuat paling menyolok. ... Sekalipun gagasan yang satu kelihatan lebih menonjol dalam ay 18, dan gagasan yang lain dalam ay 19, tetapi itu hanya suatu tingkatan yang lebih besar dari ke-menonjol-an bagi yang satu, dan bukan pengeluaran dari yang lain, yang dimaksudkan dalam kasus yang manapun).
Ada agama lain yang percaya bahwa pada waktu lahir, manusia itu suci. Tetapi kekristenan tidak mempercayai hal seperti itu. Kekristenan mengatakan bahwa sejak lahir, bahkan pada waktu masih dalam kandungan, manusia sudah adalah orang berdosa. Inilah yang disebut dosa asal / original sin.
Ayat-ayat lain yang menjadi dasar dosa asal ini adalah:
a) Ayub 14:4 - “Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!”.
Barnes’ Notes: “This passage is of great value as showing the early opinion of the world in regard to the native character of man. The sentiment was undoubtedly common - so common as to have passed into a proverb - that man was a sinner; and that it could not be expected that anyone of the race should be pure and holy. ... As a historical record, this passage proves that the doctrine of original sin was early held in the world. Still it is true that the same great law prevails, that the off-spring of woman is a sinner - no matter where he may be born, or in what circumstances he may be placed. No art, no philosophy, no system of religion can prevent the operation of this great law under which we live, and by which we die” (= Text ini sangat berharga karena menunjukkan pandangan awal dari dunia berkenaan dengan karakter asli / alamiah dari manusia. Perasaan itu tak diragukan adalah sesuatu yang umum - begitu umum sehingga menjadi suatu pepatah - bahwa manusia adalah orang berdosa; dan bahwa tidak bisa diharapkan bahwa siapapun dari umat manusia adalah murni dan suci. ... Sebagai suatu catatan sejarah, text ini membuktikan bahwa doktrin dosa asal dipercaya / dipegang sejak awal dalam dunia. Juga adalah benar bahwa hukum besar yang sama berlaku, bahwa keturunan dari perempuan adalah orang berdosa - tak peduli dimana ia dilahirkan, atau dalam keadaan apa ia ditempatkan. Tak ada seni, tak ada filsafat, tak ada sistim agama, bisa mencegah bekerjanya hukum yang besar ini di bawah mana kita kidup, dan oleh apa kita mati).
b) Ayub 15:14 - “Masakan manusia bersih, masakan benar yang lahir dari perempuan?”.
c) Ayub 25:4 - “Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?”.
d) Maz 51:7 - “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”.
Calvin: “The expression intimates that we are cherished in sin from the first moment that we are in the womb. ... The passage affords a striking testimony in proof of original sin entailed by Adam upon the whole human family” (= Ungkapan ini menunjukkan bahwa kita memegang dosa erat-erat sejak saat pertama kita ada dalam kandungan. ... Text ini memberikan suatu kesaksian yang menyolok untuk bukti dari dosa asal yang dilibatkan oleh Adam kepada seluruh keluarga umat manusia).
Spurgeon: “He is thunderstruck at the discovery of his inbred sin, and proceeds to set it forth. This was not intended to justify himself, but it rather meant to complete the confession. It is as if he said, not only have I sinned this once, but I am in my very nature a sinner. The fountain of my life is polluted as well as its streams. ... He goes back to the earliest moment of his being, not to traduce his mother, but to acknowledge the deep tap-roots of his sin. It is a wicked wresting of Scripture to deny that original sin and natural depravity are here taught” (= Ia seperti disambar petir pada penemuan dari dosa bawaannya, dan meneruskan untuk menyatakannya. Ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan dirinya sendiri, tetapi sebaliknya dimaksudkan untuk melengkapi pengakuan dosanya. Seakan-akan ia mengatakan, bukan hanya aku telah berdosa kali ini, tetapi aku, dalam hakekatku / sifat dasarku, adalah seorang berdosa. Sumber dari kehidupanku maupun alirannya dikotori / terpolusi. ... Ia pergi ke belakang pada saat yang paling awal dari keberadaannya, bukan untuk mempermalukan ibunya, tetapi untuk mengakui akar utama yang dalam dari dosanya. Merupakan suatu pemuntiran yang jahat dari Kitab Suci untuk menyangkal bahwa dosa asal dan kebejatan alamiah diajarkan di sini).
Spurgeon: “Infants are no innocents, being born with original sin, ... They are said to sin as they were in the loins of Adam, just as Levi is said to pay tithes to Melchizedek, even in the loins of his forefather Abraham (Hebrews 7:9-10); otherwise infants would not die, for death is the wages of sin (Romans 6:23)” [= Bayi-bayi tidaklah tak berdosa, karena dilahirkan dengan dosa asal, ... Mereka dikatakan berdosa / berbuat dosa pada waktu mereka ada dalam pinggang / tubuh dari Adam, sama seperti Lewi dikatakan membayar persembahan persepuluhan kepada Melkisedek, bahkan dalam pinggang / tubuh dari nenek moyangnya Abraham (Ibr 7:9,10); kalau tidak bayi-bayi tidak akan mati, karena maut adalah upah dari dosa (Ro 6:23)].
Ibr 7:9-10 - “(9) Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, (10) sebab ia masih berada dalam tubuh bapa leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapa leluhurnya itu”.
e) Maz 58:4 - “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat”.
Calvin: “David accuses his enemies of being leavened with wickedness from the womb, alleging that their treachery and cruelty were born with them. We all come into the world stained with sin, possessed, as Adam’s posterity, of a nature essentially depraved, and incapable, in ourselves, of aiming at anything which is good; but there is a secret restraint upon most men which prevents them from proceeding all lengths in iniquity. The stain of original sin cleaves to the whole humanity without exception; but experience proves that some are characterised by modesty and decency of outward deportment; that others are wicked, yet, at the same time, within bounds of moderation; while a third class are so depraved in disposition as to be intolerable members of society. Now, it is this excessive wickedness - too marked to escape detestation even amidst the general corruption of mankind - which David ascribes to his enemies. He stigmatises them as monsters of iniquity” (= Daud menuduh musuh-musuhnya sebagai dipengaruhi dengan kejahatan sejak dari kandungan, dengan menyatakan bahwa pengkhianatan dan kekejaman mereka dilahirkan bersama mereka. Kita semua datang ke dalam dunia dengan dikotori / dinodai oleh dosa, dan memiliki, sebagai keturunan Adam, suatu sifat dasar / alamiah yang rusak / bejat secara hakiki, dan tidak mampu, dalam diri kita sendiri, mengarahkan pada apapun yang baik; tetapi di sana ada suatu pengekangan rahasia terhadap kebanyakan orang yang mencegah mereka dari maju / meneruskan sampai sejauh mungkin dalam kejahatan. Noda dari dosa asal memegang erat-erat seluruh umat manusia tanpa kecuali; tetapi pengalaman membuktikan bahwa sebagian / beberapa orang diberi ciri dengan kesederhanaan / kerendahan hati dan kesopanan dari tingkah laku lahiriah; bahwa orang-orang lain adalah jahat, tetapi pada saat yang sama, ada di dalam batasan-batasan dari sikap yang tidak berlebih-lebihan; sementara golongan yang ketiga begitu rusak / bejat dalam kecenderungan sehingga menjadi anggota-anggota masyarakat yang tidak bisa ditoleransi. Kejahatan yang berlebih-lebihan inilah - yang terlalu terlihat jelas untuk bisa lolos dari kebencian / kejijikan bahkan di antara kejahatan / kerusakan umum dari umat manusia - yang Daud perhitungkan kepada musuh-musuhnya. Ia menandai mereka sebagai monster-monster dari kejahatan).
5) Semua manusia berbuat dosa, condong kepada dosa, dan tidak bisa berbuat baik.
Karena semua manusia dilahirkan dengan dosa asal, maka semua manusia lahir sebagai orang berdosa. Dan ini menyebabkan mereka hidupnya juga terus berdosa.
Ilustrasi: kalau suatu makhluk lahir sebagai monyet, maka secara alamiah ia akan melakukan apapun yang biasanya dilakukan oleh monyet. Demikian juga kalau kita dilahirkan sebagai orang berdosa, maka secara alamiah kita akan melakukan apapun yang biasanya dilakukan oleh orang berdosa.
a) Kitab Suci menunjukkan bahwa semua manusia berdosa / berbuat dosa.
1. 1Raja 8:46 - “Apabila mereka berdosa kepadaMu - karena tidak ada manusia yang tidak berdosa - dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri musuh yang jauh atau yang dekat”.
2. Amsal 20:9 - “Siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?’”.
3. Pkh 7:20 - “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”.
4. Yes 53:6 - “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
Calvin: “‘We all, like sheep, have gone astray.’ In order to impress more deeply on our hearts the benefit of the death of Christ, he shows how necessary is that healing which he formerly mentioned. If we do not perceive our wretchedness and poverty, we shall never know how desirable is that remedy which Christ has brought to us, or approach him with due ardor of affection. As soon as we know that we are ruined, then, aware of our wretchedness, we eagerly run to avail ourselves of the remedy, which otherwise would be held by us in no estimation. In order, therefore, that Christ may be appreciated by us, let every one consider and examine himself, so as to acknowledge that he is ruined till he is redeemed by Christ. We see that here none are excepted, for the Prophet includes ‘all.’ The whole human race would have perished, if Christ had not brought relief. He does not even except the Jews, whose hearts were puffed up with a false opinion of their own superiority, but condemns them indiscriminately, along with others, to destruction” (= ‘Kita semua, seperti domba, telah sesat’. Untuk menanamkan kesan dengan lebih dalam pada hati kita manfaat dari kematian Kristus, ia menunjukkan betapa pentingnya penyembuhan yang ia sebutkan sebelumnya. Jika kita tidak mengerti keburukan dan kemiskinan kita, kita tidak akan pernah tahu betapa sangat diperlukannya obat yang telah Kristus bawa bagi kita, atau mendekati Dia dengan perasaan yang bersemangat / sangat ingin yang seharusnya. Begitu kita tahu bahwa kita hancur / rusak, maka sadar akan keburukan kita, kita dengan sungguh-sungguh / bersemangat berlari untuk mengambil manfaat dari obatnya, yang kalau tidak, akan tidak kita hargai sama sekali. Karena itu, supaya Kristus bisa kita hargai, hendaklah setiap orang dari kita mempertimbangkan / merenungkan dan memeriksa dirinya sendiri, sehingga mengakui bahwa ia rusak / hancur sampai ia ditebus oleh Kristus. Kita melihat bahwa di sini tak ada yang dikecualikan, karena sang Nabi mencakup ‘semua’. Seluruh umat manusia akan binasa seandainya Kristus tidak membawa pertolongan / pembebasan. Ia bahkan tidak mengecualikan orang-orang Yahudi, yang hatinya menggelembung / sombong dengan suatu pandangan yang salah tentang kesuperioran mereka, tetapi mengecam mereka tanpa membedakan, bersama-sama dengan orang-orang lain, kepada kehancuran).
Calvin: “By comparing them to sheep, he intends not to extenuate their guilt, as if little blame attached to them, but to state plainly that it belongs to Christ to gather from their wanderings those who resembled brute beasts” (= Dengan membandingkan mereka dengan domba, ia tidak bermaksud untuk meringankan kesalahan mereka, seakan-akan melekatkan kesalahan yang kecil kepada mereka, tetapi menyatakan dengan jelas / terang-terangan bahwa Kristuslah yang cocok untuk mengumpulkan dari pengembaraan mereka, mereka yang mirip dengan binatang yang bodoh).
Calvin: “‘Every one hath turned to his own way.’ By adding the term ‘every one,’ he descends from a universal statement, in which he included all, to a special statement, that every individual may consider in his own mind if it be so; for a general statement produces less effect upon us than to know that it belongs to each of us in particular. Let ‘every one,’ therefore, arouse his conscience, and present himself before the judgment-seat of God, that he may confess his wretchedness. Moreover, what is the nature of this ‘going astray’ the Prophet states more plainly. It is, that every one hath followed the way which he had chosen for himself, that is, hath determined to live according to his own fancy; by which he means that there is only one way of living uprightly, and if any one ‘turn aside’ from it, he can experience nothing but ‘going astray.’ He does not speak of works only, but of nature itself, which always leads us astray; for, if we could by natural instinct or by our own wisdom, bring ourselves back into the path, or guard ourselves against going astray, Christ would not be needed by us. Thus, in ourselves we all are undone unless Christ (John 8:36) sets us free; and the more we rely on our wisdom or industry, the more dreadfully and the more speedily do we draw down destruction on ourselves” [= ‘Masing-masing kita mengambil jalannya sendiri’. Dengan menambahkan istilah ‘masing-masing / setiap orang’, ia turun dari suatu pernyataan umum / universal, dalam mana ia mencakup semua orang, pada suatu pernyataan khusus, bahwa setiap individu bisa mempertimbangkan dalam pikirannya sendiri jika itu memang demikian; karena suatu pernyataan yang umum menghasilkan efek / hasil yang lebih kecil / rendah kepada kita dari pada mengetahui bahwa itu merupakan milik dari masing-masing kita secara khusus. Karena itu, hendaklah ‘masing-masing / setiap orang’, membangunkan hati nuraninya, dan menghadirkan dirinya sendiri di hadapan kursi penghakiman Allah, supaya ia bisa mengakui keburukannya. Selanjutnya, bagaimana sifat dari ‘kesesatan’ ini dinyatakan oleh sang Nabi dengan lebih jelas. Yaitu bahwa masing-masing / setiap orang telah mengikuti jalan yang telah ia pilih bagi dirinya sendiri, yaitu, telah tentukan untuk hidup sesuai dengan kesukaannya sendiri; dengan mana ia memaksudkan bahwa di sana hanya satu jalan untuk hidup secara benar / lurus, dan jika siapapun ‘menyimpang’ darinya, ia tidak bisa mengalami apapun kecuali ‘tersesat’. Ia tidak berbicara hanya tentang pekerjaan / perbuatan, tetapi tentang alam / sifat dasar sendiri, yang selalu membimbing kita untuk sesat; karena, jika kita oleh naluri alamiah atau hikmat kita sendiri bisa membawa diri kita sendiri kembali pada jalan yang benar, atau menjaga diri kita sendiri supaya tidak sesat, maka Kristus tidak akan kita butuhkan. Demikianlah, dalam diri kita sendiri kita semua berjalan menuju kehancuran kecuali Kristus (Yoh 8:36) membebaskan kita; dan makin kita bersandar pada hikmat atau usaha / kerajinan kita, makin menakutkan dan dengan makin cepat kita mendatangkan kehancuran kepada diri kita sendiri].
Yoh 8:36 - “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.’”.
5. Yes 64:6 - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin”.
Calvin (tentang Yes 64:6): “Some commentators torture this passage, by alleging that the Prophet, when he speaks of the pollutions of sins, describes all Jews without exception, though there still remained some of them who were sincere worshippers of God. But there are no good grounds for this; for the Prophet does not speak of individuals, but of the whole body, which, being trodden under foot by all men, and subjected to the utmost indignity, he compares to a filthy garment” (= Beberapa penafsir membengkokkan text ini, dengan mengatakan bahwa sang Nabi, pada waktu ia berbicara tentang polusi dari dosa, menggambarkan semua orang Yahudi tanpa kecuali, sekalipun di sana tetap tersisa beberapa / sebagian dari mereka yang adalah penyembah-penyembah yang tulus dari Allah. Tetapi di sana tak ada dasar untuk hal ini; karena sang Nabi tidak berbicara tentang individu-individu, tetapi tentang seluruh tubuh, yang karena diinjak-injak oleh kaki semua orang, dan ditundukkan pada penghinaan / kehinaan yang sepenuhnya, ia bandingkan dengan pakaian yang kotor).
E. J. Young: “After the expression of confidence just made, the people state their true nature. The speaker is not the entire nation, for the unbelieving portion of Israel would have no true knowledge of itself. Beginning with a verb in the past, the confession concludes with one in the future, for the purpose is to show what the true nature of the people has been and what will happen to them if there is no divine intervention. As in chapter fifty-three, emphasis here falls upon kullanu (all of us), i.e. all who make this confession. The term ‘unclean’ (Tame’) is the technical word to indicate a legal impurity (cf. Lev. 5:2; 7:19, etc.), and the people are acknowledging that they were like those whom the law required to cry out, ‘Unclean!’ so that other men might not be contaminated by them. The second comparison, lit., ‘like a garment of times,’ refers to the menstrual periods of a woman. Both these comparisons are intended to stress the character of sin as pollution and to point out its disgusting nature. The righteous works that the people could present before God were even in their own eyes as disgusting and filthy as the menstrual cloths of women” [= Setelah pernyataan keyakinan baru dilakukan, orang-orang / bangsa itu menyatakan keadaan mereka yang sebenarnya. Si pembicara bukanlah seluruh bangsa, karena bagian yang tidak percaya dari Israel tidak akan mempunyai pengenalan yang benar tentang diri mereka sendiri. Dimulai dengan suatu kata kerja dalam bentuk lampau, pengakuan itu diakhiri dengan satu kata kerja dalam bentuk akan datang (future), karena tujuannya adalah untuk menunjukkan bagaimana keadaan sebenarnya dari bangsa itu sampai pada saat itu, dan apa yang akan terjadi dengan mereka jika di sana tidak ada campur tangan ilahi. Seperti dalam pasal lima puluh tiga, penekanan di sini jatuh pada KULLANU (‘semua kita’ / ‘kami sekalian’), artinya ‘semua yang membuat pengakuan ini’. Istilah ‘najis’ (TAME’) adalah suatu kata tehnis untuk menunjukkan suatu kenajisan hukum (bdk. Yes 5:2; 7:19, dsb), dan bangsa itu sedang mengakui bahwa mereka adalah seperti mereka yang disuruh oleh hukum Taurat untuk berteriak, ‘Najis!’ supaya orang-orang lain tidak terkontaminasi oleh mereka. Perbandingan yang kedua, secara hurufiah, ‘seperti pakaian dari masa-masa / saat-saat’, menunjuk pada masa datang bulan dari seorang perempuan. Kedua perbandingan ini dimaksudkan untuk menekankan karakter dari dosa sebagai polusi dan untuk menunjukkan sifat yang menjijikkan dari dosa. Pekerjaan-pekerjaan kebenaran yang bangsa itu bisa bawa ke hadapan Allah, bahkan dalam pandangan mereka sendiri, adalah sama menjijikkan dan kotornya seperti kain untuk datang bulan dari perempuan-perempuan] - Libronix.
Matthew Henry (tentang Yes 64:6): “There was a general corruption of manners among them (v. 6): ‘We are all as an unclean thing,’ or as an unclean person, as one overspread with a leprosy, who was to be shut out of the camp. The body of the people were like one under a ceremonial pollution, who was not admitted into the courts of the tabernacle, or like one labouring under some loathsome disease, from the crown of the head to the sole of the foot ‘nothing but wounds and bruises,’ ch. 1:6. We have all by sin become not only obnoxious to God’s justice, but odious to his holiness; for sin is that ‘abominable thing which the Lord hates,’ and cannot endure to look upon” [= Di sana ada suatu kerusakan / kejahatan kelakuan yang umum di antara mereka (ay 6): ‘Kami sekalian / kami semua seperti hal yang najis’, atau seperti seorang najis, seperti seseorang yang diliputi / dipenuhi seluruhnya dengan kusta, yang harus dikurung di luar perkemahan / dijaga supaya tidak masuk ke dalam perkemahan. Tubuh dari bangsa itu seperti seseorang yang ada di bawah polusi yang bersifat upacara, yang tidak diijinkan untuk masuk ke dalam halaman dari Kemah Suci, atau seperti seseorang yang bekerja di bawah suatu penyakit yang menjijikkan, dari bagian teratas dari kepala sampai telapak kaki ‘tak ada lain kecuali luka-luka dan bengkak-bengkak’, pasal 1:6. Kita semua, oleh dosa, telah menjadi bukan hanya menjijikkan bagi keadilan Allah, tetapi menjijikkan bagi kekudusanNya; karena dosa adalah ‘hal menjijikkan yang dibenci oleh Tuhan’, dan Ia tidak bisa tahan melihatnya].
Yes 1:6 - “Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat: bengkak dan bilur dan luka baru, tidak dipijit dan tidak dibalut dan tidak ditaruh minyak”.
Yes 30:22 - “Engkau akan menganggap najis patung-patungmu yang disalut dengan perak atau yang dilapis dengan emas; engkau akan membuangnya seperti kain cemar sambil berkata kepadanya: ‘Keluar!’”.
KJV: ‘a menstruous cloth’ (= kain menstruasi).
NIV: ‘a menstrual cloth’ (= kain menstruasi).
6. Ro 3:9-12,23 - “(9) Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, (10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. ... (23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Bdk. Maz 14:1-3 / Maz 53:2-4.
Charles Hodge: “However men may differ among themselves as to individual character, as to outward circumstances, religious or social, when they appear at the bar of God, all appear on the same level. All are sinners, and being sinners, are exposed to condemnation, ver. 9” (= Bagaimanapun manusia bisa berbeda di antara mereka sendiri berkenaan dengan karakter individu, berkenaan dengan keadaan luar / lahiriah, agamawi atau sosial, pada waktu mereka tampil pada pengadilan Allah, semua terlihat di tingkat yang sama. Semua adalah orang-orang berdosa, dan sebagai orang-orang berdosa, mereka terbuka terhadap hukuman / kutukan, ay 9) - Libronix.
Kata-kata ini sangat perlu diperhatikan kalau kita menilai orang-orang yang dianggap saleh, khususnya mereka dari kalangan non Kristen, seperti Khong Hu Cu, Socrates, dan sebagainya. Di hadapan manusia mereka bisa dianggap baik, tetapi di hadapan Allah, semua adalah orang berdosa.
Jadi, pandangan Pdt. Stephen Tong bahwa Khong Hu Cu itu baik, ataupun pandangan Zwingli bahwa Socrates itu baik, bertentangan dengan ayat-ayat ini.
7. 1Yoh 1:8,10 - “(8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. ... (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita”.
Ay 10 (KJV): ‘If we say that we have not sinned, we make him a liar, and his word is not in us’.
Herschel H. Hobbs: “‘Have sinned’ is a perfect tense ... It expresses action in the past which is still going on at the time of speaking, with the assumption that it will continue in the future. The perfect tense is the tense of completeness. It reads, ‘If we say that we have not sinned in the past, do not sin now, and will not sin in the future.’ Whereas in verse 8 the reference is to the principle of sin, in verse 10 it involves acts of sin” (= ‘Telah berbuat dosa’ merupakan perfect tense ... Itu menyatakan tindakan di masa lampau yang masih terus berlangsung pada saat berbicara, dengan anggapan bahwa itu akan berlanjut di masa yang akan datang. Perfect tense merupakan tense dari kelengkapan / kesempurnaan. Itu artinya: ‘Jika kita berkata bahwa kita tidak berbuat dosa di masa lampau, tidak berbuat dosa sekarang, dan tidak akan berbuat dosa di masa yang akan datang’. Kalau ay 8 berhubungan dengan kwalitet dosa, maka sebaliknya ay 10 menyangkut tindakan berdosa) - hal 35.
William Barclay: “Any number of people do not really believe that they have sinned and rather resent being called sinners. Their mistake is that they think of sin as the kind of thing which gets into the newspapers” (= Banyak orang tidak sungguh-sungguh percaya bahwa mereka telah berbuat dosa dan tersinggung / marah pada waktu disebut sebagai orang berdosa. Kesalahan mereka adalah bahwa mereka menganggap dosa sebagai hal-hal yang dimasukkan ke surat kabar) - hal 33.
Kata ‘dosa’ dalam ay 8,10 adalah HAMARTIA, yang arti hurufiahnya adalah ‘a missing of the target’ (= suatu keluputan dari sasaran). Ini menggambarkan orang yang memanah suatu sasaran, luputnya sedikit atau banyak, itu tetap namanya dosa. Sasaran seharusnya adalah Kitab Suci. Jadi kalau hidup kita tidak sesuai dengan Kitab Suci, apakah tidak sesuainya sedikit atau banyak, itu tetap adalah dosa.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube: