Pelayanan
Elia
oleh:
Pdt. Budi Asali MDiv.
I
RAJA-RAJA 18:41-46
Setelah Israel bertobat dan
membuktikan pertobatannya dengan membasmi semua nabi-nabi Baal, maka Elia
berkata kepada Ahab dalam ay 41: ‘Pergilah,
makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran’.
Saya berpendapat bahwa ay 41 ini tidak berarti Elia betul-betul mendengar hujan;
ini hanya nubuat! Mengapa ia harus menubuatkan / mengucapkan hal itu kepada
Ahab? Karena dalam 17:1 Elia berkata: ‘tidak
akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini kecuali kalau kukatakan’.
Kalau sekarang, tahu-tahu ada hujan padahal Elia tidak mengatakan apa-apa, maka
itu berarti kata-katanya dalam 17:1 itu salah. Jadi, ia harus mengatakan hal itu
dulu, barulah ada hujan.
Ahab menuruti kata-kata Elia, dan
ia pergi untuk makan dan minum (ay 42a). Rupa-rupanya selama pertandingan itu,
yaitu dari pagi sampai sore, Ahab tidak sempat makan ataupun minum. Tetapi Elia
sendiri tidak makan atau minum. Sebaliknya ia naik ke puncak gunung Karmel, lalu
berdoa.
Hari ini saya akan membahas
tentang doa Elia, dan saya akan membahasnya bukan hanya dari 1Raja 18:41-46,
tetapi juga dari Yak 5:16b-18, yang berbunyi: "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar
kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah
sungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di
bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan
hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya".
I. Elia adalah manusia biasa
sama seperti kita (Yak 5:17).
Kata-kata ‘Elia
adalah manusia biasa sama seperti kita’
dalam Yak 5:17 itu, kurang tepat terjemahannya.
NIV: ‘Elijah
was a man just like us’ (= Elia adalah
seorang manusia sama seperti kita).
Ini sama dengan Kitab Suci Indonesia.
NASB: ‘Elijah
was a man with a nature like ours’ (=
Elia adalah seorang manusia dengan sifat dasar seperti kita).
KJV: ‘Elijah
was a man subject to like passions as we are’
(= Elia adalah seorang manusia yang tunduk pada perasaan-perasaan yang sama
seperti kita).
Kata Yunani yang digunakan adalah
HOMOIOPATHES, dan dalam Inter-linear Greek - English diterjemahkan ‘of
like feeling’ (= dengan perasaan yang
sama / serupa).
Tetapi Tasker (Tyndale)
mengatakan:
"The distinctive Greek word used here
means literally ‘suffering the same things’, homoiopathes, i.e. inheriting
the same nature, subject to the same emotions, and liable to the same
weaknesses. ‘Passions’ perhaps narrows the meaning too much; and the
rendering of the R.S.V., following R.V. margin, ‘of like nature with
ourselves’ is preferable" (= Kata
Yunani khusus yang digunakan di sini secara hurufiah berarti ‘mengalami
hal-hal yang sama’, HOMOIOPATHES, yaitu mewarisi sifat dasar yang sama, tunduk
kepada perasaan / emosi yang sama, dan bisa terkena kelemahan yang sama.
‘Perasaan’ mungkin terlalu menyempitkan artinya; dan terjemahan dari R.S.V.,
mengikuti catatan tepi dari A.V., ‘dari sifat dasar yang mirip dengan diri
kita sendiri’ lebih baik).
A. T. Robertson mengatakan bahwa
kata ini terdiri dari 2 kata Yunani yaitu HOMOIOS dan PASCHO. Artinya adalah ‘suffering
the like with another’ (= mengalami yang
sama / serupa dengan yang lain).
Kata Yunani HOMOIOPATHES hanya
digunakan 2 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Yak 5:17 dan Kis 14:15. Dalam
Kis 14 itu, Paulus dan Barnabas melakukan mujijat sehingga lalu diperlakukan
sebagai dewa, dan orang banyak mau memberikan persembahan korban untuk mereka,
maka mereka berseru dalam Kis 14:15 (KJV): "Sirs, why do ye these things? We also are men of like passions with
you" (= Tuan-tuan, mengapa kamu
melakukan hal-hal ini? Kami juga adalah manusia dengan perasaan yang sama /
serupa dengan kamu).
Thomas Manton mengomentari kata
HOMOIOPATHES dalam Kis 14:15 ini dengan mengatakan: "It
is put there for whatever differenceth man from the divine nature"
(= Itu diletakkan di sana untuk apapun yang membedakan manusia dengan Allah).
Jadi, pada waktu HOMOIOPATHES ini
digunakan terhadap Elia, menunjuk-kan bahwa Elia bukanlah makhluk ilahi atau
setengah Allah, bahkan bukan seorang superman rohani! Elia adalah manusia biasa
sama seperti kita, ia juga adalah manusia berdosa seperti kita, ia juga
mempunyai kecondongan kepada dosa seperti kita, ia juga mempunyai
perasaan-perasaan yang sama seperti kita, dan juga mengalami hal-hal yang sama
dengan kita. Karena itu dalam 1Raja 19:3 dikatakan bahwa Elia juga merasa takut
(Catatan: takutnya Elia di sini diperdebatkan), dan dalam 1Raja 19:4 Elia
merasa putus ada / frustrasi / depresi sehingga minta mati.
Pada waktu ia berdoa / mau
berdoa, mungkin sekali Elia juga dipengaruhi oleh keraguan, ketidakpercayaan,
kemalasan, dsb, tetapi ia berhasil mengatasi semua itu dan berdoa dengan
sungguh-sungguh sehingga menghasilkan jawaban doa yang luar biasa.
Saya yakin ini tidak hanya
berlaku untuk Elia saja, tetapi juga untuk semua orang-orang saleh / kudus dalam
Kitab Suci, seperti Abraham, Ayub, Daud, Paulus, Petrus dsb. Bagian ini penting,
karena kalau kepada kita ditunjukkan teladan dari orang-orang kudus itu,
misalnya Ayub, maka kita cenderung berpikir bahwa ia adalah seorang ‘superman
rohani’, dan kita tidak seperti dia, sehingga tentu saja tidak bisa menirunya
/ meneladaninya!
Thomas Manton:
"God’s eminent children are men of
like passions with us ... they are all troubled with a naughty heart, a busy
devil, and a corrupt world. We are all tainted in our originals, and infected
with Adam’s leprosy ... Many times there are notorious blemishes in the lives
of the saints; they are of the same nature with others, and have not wholly
divested and put off the interests and concernments of the flesh and blood. ...
Constancy and continuance in sin would deny them saints, and an uninterrupted
continuance in holiness would deny them men. Well, then, God’s children, that
travail under the burden of infirmities, may take comfort; such conflicts are
not inconsistent with faith and piety ... When we partake of the divine nature
we do not put off the human; we ought to walk with care, but yet with
comfort" (= Anak-anak Allah yang
terkenal adalah manusia dengan perasaan yang sama seperti kita ... mereka semua
diganggu oleh hati yang nakal, setan yang sibuk, dan dunia yang rusak. Kita
semua ternoda dari semula, dan tertular oleh penyakit kustanya Adam ...
Seringkali ada cacat yang terkenal buruk dalam hidup orang-orang kudus; mereka
mempunyai sifat dasar yang sama dengan orang yang lain, dan belum sepenuhnya
bebas dan menanggalkan kesenangan dan perhatian dari daging dan darah. ... Jika
mereka terus ada dalam dosa maka mereka bukan orang kudus, dan jika mereka terus
menerus ada dalam kesucian maka mereka bukan manusia. Jadi, anak-anak Allah,
yang menderita di bawah beban kelemahan, boleh merasa terhibur; konflik seperti
itu bukannya tidak konsisten dengan iman dan kesalehan ... Pada waktu kita
mengambil bagian dari sifat ilahi, kita tidak melepaskan sifat manusia; kita
harus hidup dengan hati-hati, tetapi juga dengan senang).
Thomas Manton juga menganggap
bahwa Yak 5:17 ini menentang adanya orang suci seperti dalam Roma Katolik, yang
menganggap mereka sebagai setengah allah, karena Kitab Suci mengatakan bahwa
mereka sama seperti kita.
II. Doa Elia berkuasa dan
efektif.
Yak 5:16b versi Kitab Suci
Indonesia berbunyi: ‘Doa orang yang benar,
bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya’.
Tetapi kata-kata ‘bila dengan yakin didoakan’ sebetulnya salah terjemahan.
TB2-LAI: ‘Doa
orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya’.
NIV: ‘The
prayer of a righteous man is powerful and effective’
(= Doa orang yang benar, berkuasa dan efektif).
‘Berkuasa’ dan ‘efektif’
memang berhubungan, karena doa tidak mungkin bisa berkuasa kalau tidak efektif.
Tetapi 2 kata itu tetap berbeda artinya. ‘Berkuasa’ menunjukkan bahwa doanya
bisa melakukan hal-hal yang besar, sedangkan ‘efektif’ menunjukkan bahwa
doanya dikabulkan oleh Allah.
Sebagai contoh dari doa orang
benar yang berkuasa dan efektif ini, Yak 5:17-18 lalu menceritakan tentang Elia
dan doanya. Memang doa Elia berkuasa dan efektif. Dengan doanya ia:
Bukan hanya
Elia yang melakukan hal-hal besar melalui kuasa doa. Kuasa doa yang luar biasa
juga terlihat dalam:
Barnes’
Notes: "prayer
moves the arm that moves the world" (=
doa menggerakkan lengan yang menggerakkan dunia).
Karena itu apapun problem
saudara, dan berapapun besar dan hebatnya problem saudara, berdoalah! Tidak ada
yang mustahil bagi Allah.
Tetapi dalam hal ini perlu diberi
satu catatan, yaitu: ini tidak berarti bahwa doa bisa mengubah kehendak /
rencana Tuhan (1Yoh 5:14 Yer 7:16 Yer 15:1 Yer 14:11 Yeh 14:14,16,18,20). Juga
lihat waktu Abraham berdoa untuk Sodom dan Gomora (Kej 18:16-33). Karena itu
pada waktu berdoa kita tetap harus meniru teladan Yesus yang tunduk pada
kehendak Bapa (Mat 6:10 Mat 26:39,42).
III. Bagaimana supaya doa bisa
berkuasa dan efektif.
Pulpit Commentary:
"God is more ready to give than we
to pray" (= Allah lebih bersedia dalam
memberi dari pada kita dalam berdoa)
- hal 439.
Tetapi dalam kenyataannya, doa
kita sering tidak dijawab, sehingga kita menjadi malas berdoa. Karena itu mari
sekarang kita mempelajari bagaimana doa bisa berkuasa dan efektif.
1. Yang berdoa haruslah orang benar (Yak 5:16b).
a. Siapa yang dimaksud dengan ‘orang benar’?
Pertama-tama ia haruslah orang yang percaya kepada Kristus.
Ro 5:1
- "Sebab itu, kita yang dibenarkan
karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan
kita Yesus Kristus".
2Kor 5:21 - "Dia yang
tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia
kita dibenarkan oleh Allah".
Jadi,
jangan bermimpi mau membenarkan diri sendiri melalui usaha sendiri, tanpa
Kristus.
Tetapi
setelah kita dibenarkan oleh iman kepada Kristus, kita juga harus menjaga
kesucian. Memang kita tidak mungkin bisa suci, tetapi kita tidak boleh hidup
dalam dosa, karena ini akan kembali menghalangi doa kita. Kitab Suci memang
menekankan bahwa dosa menghalangi doa (Bdk. 2Raja 3:1-14 Maz 66:18 Maz 145:18-19
Amsal 15:8,29 Amsal 28:9 Yes 1:15 Yes 59:1-2 Yoh 9:31).
Saya
ingin membahas satu dari ayat-ayat ini yaitu Amsal 28:9 - "Siapa
memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah
kekejian".
Penerapan:
Kalau tidak mau datang ke Pemahaman Alkitab termasuk ‘memalingkan telinganya
dari hukum’ atau tidak? Kalau ya, maka semua yang tidak mau datang ke
Pemahaman Alkitab doanya adalah kekejian [NIV: ‘detestable’
(= menjijikkan)]!
Kalau
setelah dibenarkan oleh iman kepada Kristus, saudara lalu menjaga dan
meningkatkan kesucian, itu bagus. Tetapi awas, ini tidak berarti bahwa kita
boleh berdoa dengan merasa diri layak dan lalu datang kepada Tuhan bermodalkan
kebaikan diri kita sendiri. Ingat bahwa ‘segala
kesalehan kita seperti kain kotor’ (Yes 64:6). Semua kita tidak layak menghadap Allah, dan hanya bisa
dilayakkan dan dide-ngar doanya karena jasa penebusan Kristus! Karena itu kita
berdoa dalam nama Yesus.
Penerapan:
kalau doa saudara terus menerus tidak didengar, periksalah iman dan kekudusan
saudara!
b.
Mungkinkah ada orang yang tidak benar tetapi doanya terkabul?
Pulpit
Commentary: "The
prayers of unrighteous men are sometimes heard (Luke 18:14 2Chron 33:19), but
only their prayers for grace and pardon"
[= Doa-doa dari orang-orang yang tidak benar kadang-kadang didengar (Luk 18:14
2Taw 33:19), tetapi hanya doa-doa mereka untuk kasih karunia dan pengampunan]
- hal 438.
Saya menambahkan lagi satu kemungkinan: orang yang tidak benar,
bahkan yang sesat, doanya bisa dikabulkan, tetapi pengabulan doa itu datang dari
setan, bukan dari Tuhan. Mengapa setan mau mengabulkan? Supaya orangnya sesat
terus dan akhirnya masuk ke neraka bersama dia!
2. Doanya dinaikkan dengan sungguh-sungguh (Yak 5:17 - ‘Ia telah
bersungguh-sungguh berdoa’).
Lit: ‘he
prayed in prayer’ (= ia berdoa dalam doa).
Ini adalah suatu ungkapan Ibrani yang artinya ‘ia berdoa dengan
sungguh-sungguh’. Ini sama seperti dalam Luk 22:15 yang terjemahan hurufiahnya
mestinya adalah ‘I desired with
desire’ (= Aku menginginkan dengan
keinginan) tetapi artinya
adalah ‘Aku sangat menginginkan / merindukan’.
Kesungguhan
Elia dalam berdoa terlihat dalam 1Raja 18:42, dimana sekalipun Ahab makan dan
minum, Elia berlutut dalam doa.
Penerapan:
kalau saudara berdoa, apakah saudara sungguh-sungguh atau asal doa? Atau berdoa
dengan pemikiran ‘dikabulkan baik, tidak dikabulkan ya sudah’?
3.
Doanya dinaikkan dengan kerendahan hati (1Raja 18:42).
Padahal
Tuhan sebetulnya sudah menjanjikan hujan dalam 1Raja 18:1, dan Israel sudah
bertobat, tetapi toh pada waktu Elia meminta hujan itu, ia tidak menuntut supaya
Tuhan memberi hujan, tetapi sebaliknya ia berdoa dengan berlutut.
Luk
18:9-14 (perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait
Allah) menunjukkan secara menyolok perbedaan dari orang yang berdoa dengan
sombong dan orang yang berdoa dengan rendah hati!
Penerapan:
Mungkin
saudara adalah orang tua / suami, dan anak-anak / istri saudara tunduk kepada
saudara. Tetapi begitu menghadap Tuhan, yang adalah Bapa saudara / Mempelai
laki-laki, saudara adalah anak / mempelai perempuan!
Mungkin
saudara orang kaya, berkedudukan tinggi, dan orang lain meng-hormati /
menyanjung saudara. Tetapi begitu berhadapan dengan Allah yang maha besar,
pencipta dan penguasa langit dan bumi, saudara tidak ada apa-apanya!
Mungkin
saudara adalah orang yang saleh (dibandingkan kebanyakan orang lain), atau
mungkin saudara mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja, tetapi begitu saudara
datang di hadapan Allah yang maha suci, maha tinggi dan maha mulia, saudara
najis, rendah dan hina.
Mungkin
saudara adalah hamba Tuhan / gembala / guru sekolah minggu / guru agama, tetapi
begitu menghadap kepada Tuhan, Dialah yang adalah Gembala / Guru, dan saudara
adalah domba / murid!
Karena
itu selalulah datang kepada Tuhan dengan rendah hati, dengan kesadaran bahwa
saudara dilayakkan hanya oleh jasa penebusan Kristus!
4.
Doanya dinaikkan dengan iman pada janji Tuhan.
1Raja
18:43-44 menunjukkan iman Elia (bdk. Yak 1:6-7 Mat 21:21-22 Mark 9:23). Tetapi
berbeda dengan ‘iman’ jaman ini, yang seringkali tidak didasarkan atas
apapun, iman Elia di sini didasarkan atas janji Tuhan dalam 1Raja 18:1. Doa yang
seperti ini tidak mungkin tidak dikabulkan!
Penerapan:
dalam krisis moneter saat ini, atau kapanpun saudara menghadapi problem
keuangan, selalulah ingat janji Tuhan dalam Mat 6:25-34, khususnya ay 33nya, dan
berdoalah berdasarkan janji itu! Tetapi pada saat yang sama jangan lupa / lalai
untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, karena itu adalah syaratnya!
5.
Doanya dinaikkan dengan tekun (1Raja 18:42-44).
1Raja
18:42-44 jelas menunjukkan ketekunan. Bayangkan, 6 x dia menyuruh bujangnya
melihat tanda-tanda akan adanya hujan, dan tidak ada apa-apa! Kalau kita yang
jadi dia, mungkin kita sudah lama berhenti berdoa. Tetapi Elia terus berdoa
dengan tekun (bdk. Luk 18:1-8 Ef 6:18).
Penerapan:
hal apa yang dahulu saudara doakan berkali-kali, tetapi sekarang tidak lagi,
karena saudara putus asa? Pertobatan keluarga? Perbaikan dalam negara dan bangsa
kita? Perkembangan /. perbaikan dalam gereja? Mampunya saudara mengatasi dosa /
kelemahan tertentu? Minta jodoh? Problem keluarga? Apapun yang saudara minta,
jangan berhenti berdoa sampai Allah mengabulkan doa. Saudara hanya boleh
berhenti berdoa kalau saudara tahu-tahu sadar bahwa apa yang saudara minta itu
tidak baik atau tidak sesuai kehendak Tuhan.
6.
Doanya bukan doa yang egois, tetapi sebaliknya berdasarkan kasih.
a. Elia adalah orang yang penuh dengan kasih, dan ini ia tunjukkan
dengan mengasihi Ahab.
1Raja
18:41: Ahab di suruh makan dan minum, mungkin karena sepanjang hari dalam
pertandingan mendatangkan api itu, ia tidak sempat makan ataupun minum. Ini
menunjukkan bahwa Elia mengasihi Ahab.
1Raja
18:44: Elia menyuruh Ahab cepat-cepat pulang supaya tidak terhalang hujan. Ini
lagi-lagi menunjukkan kasih Elia kepada Ahab.
b.
Tidak hujan selama 3 1/2 tahun dimintanya sebagai hukuman untuk Israel, tetapi
ini tetap karena kasih kepada Israel, yaitu supaya Israel bertobat.
Tentang
doa minta hukuman untuk orang jahat, Thomas Manton berkata:
"It is
sometimes lawful to imprecate the vengeance of God upon the wicked. Elias prayed
that it might not rain, out of a zeal of God’s glory, and detestation of their
idolatry. I confess here we must be cautious; imprecations in scripture were
often uttered with a prophetic spirit, and by special impulse and intimation
from God. Elijah’s act must not be imitated without Elijah’s spirit and
warrant" (= Kadang-kadang diijinkan
untuk meminta pembalasan Allah bagi orang jahat. Elia berdoa supaya tidak hujan,
karena semangatnya untuk kemuliaan Allah, dan kebencian / kejijikan terhadap
penyembahan berhala mereka. Saya mengakui bahwa di sini kita harus berhati-hati;
meminta sesuatu yang jelek / hukuman dalam Kitab Suci sering diucapkan dengan
suatu roh nubuat, dan oleh suatu dorongan dan isyarat / pemberitahuan dari
Allah. Tindakan Elia tidak boleh ditiru tanpa roh / semangat dan pemberian
otoritas / kuasa Elia).
Manton
menambahkan lagi:
"There is a
great deal of difference between public and private cases. In all private cases
it is the glory of our religion to bless them that curse us, ... but in public
cases, wherein divine or human right is interverted (?) and disturbed, we may
desire God to relieve oppressed innocence, to ‘wound the hairy scalp of
evil-doers,’ &c" [= Ada
perbedaan besar antara kasus umum dan pribadi. Dalam semua kasus pribadi,
merupakan kemuliaan agama kita untuk memberkati mereka yang mengutuk kita, ...
tetapi dalam kasus umum, dimana hak ilahi dan manusia di ... (?) dan diganggu,
kita boleh menginginkan supaya Allah membebaskan orang tak berdosa yang
ditindas, untuk ‘melukai kulit kepala yang berambut dari pembuat-pembuat
kejahatan’ dst].
Catatan:
kutipan di bagian akhir ini diambil dari Psalm 68:21 (Maz 68:22).
Jadi,
dalam kasus pribadi memang tidak boleh ada doa minta hukuman Tuhan. Dalam
hal ini kita harus mentaati / meneladani ayat-ayat seperti Mat 5:38-48 Luk 23:34
Kis 7:60. Dalam Luk 9:51-56, waktu orang Samaria melarang Yesus dan rombonganNya
melewati daerah mereka, Yakobus dan Yohanes bertanya kepada Yesus apakah Ia mau
mereka meminta api turun dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria itu
(mungkin mereka mau meniru Elia dalam 2Raja 1:9-12), tetapi Yesus justru
memarahi mereka.
Tetapi
dalam kasus umum, seperti dalam perusakan gereja dan penganiayaan orang
kristen, atau bahkan dalam aksi penjarahan dan pemerkosaan, maka dimungkinkan
adanya doa untuk meminta hukuman Tuhan.
c.
Elia lalu minta berkat (hujan) untuk mereka.
Pada saat ini Indonesia belum bertobat dari perusakan / pembakaran
gereja (bdk. Komentar Amien Rais, di koran Surya 23 April 1998 - pembakaran /
perusakan gereja bukan karena SARA, tetapi karena frustrasi sosial ekonomi, lalu
mengamuk mencari kambing hitam). Karena itu, kita tidak seharusnya berdoa supaya
bencana-bencana yang menimpa Indonesia diangkat. Mungkin kita perlu berdoa
supaya bencananya makin hebat, supaya Indonesia bertobat!
d. Jadi, baik pada waktu minta tidak ada hujan dan embun, maupun
pada waktu minta hujan, Elia berdoa dengan motivasi yang tidak bersifat egois.
Ia
berdoa demi Tuhan dan bangsa Israel, dan bahkan pada waktu berdoa supaya tidak
ada hujan, ia sendiri menderita karena kekeringan / kelaparan yang terjadi!
Pulpit
Commentary: "Our
prayers for rain or fine weather are often selfish. Elijah only desired the
drought, only supplicated for rain, as a means of influencing Israel and
advancing God’s work. It is partly the selfishness of our prayers which has
led men to question the efficacy of all prayer. If men want to have their own
way with the elements, or to make God’s power further their private ends, is
it strange if He declines to hear them?"
(= Doa kita untuk hujan atau cuaca baik seringkali bersifat egois. Elia hanya
menginginkan kekeringan, dan hanya memohon hujan, sebagai suatu cara untuk
mempengaruhi Israel dan memajukan pekerjaan Allah. Keegoisan dalam doa merupakan
sebagian dari hal yang menyebabkan manusia mempertanyakan keefektifan semua doa.
Jika manusia ingin mendapatkan jalan mereka sendiri dengan elemen-elemen itu,
atau membuat kuasa Allah memajukan tujuan pribadi mereka, anehkah jika Ia
menolak untuk mendengarkan mereka?)
- hal 439.
Saya kira kata-kata ini benar. Kalau kita kepanasan, kita minta
hujan, tetapi kalau mau pergi ke gereja kita minta cuaca baik. Jadi kita sering
minta hujan atau tidak hujan dengan motivasi yang egois! Juga dalam meminta
hal-hal yang lain, kita sering meminta dengan sikap egois. Karena itu tidak
heran Tuhan tidak mengabulkan doa kita (bdk. Yak 4:3). Karena itu introspeksilah
akan keegoisan dalam diri saudara, mintalah ampun atas hal-hal itu, mintalah
pengudusan dalam hal itu, supaya saudara bisa berdoa dengan kasih, bukan dengan
sikap egois!
Penutup /
kesimpulan:
Maukah saudara meniru Elia dalam
berdoa? Tuhan memberkati saudara.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali