Pelayanan Elia

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


 

I RAJA-RAJA 18:1-17

 

I. Ahab dan Izebel dalam penderitaan.

1. Penderitaan Ahab.

Ahab memang tidak kekurangan makan, sebaliknya dalam hal makanan ia masih tetap berkelimpahan. Ini terlihat dari mampunya Izebel memberi makan nabi-nabinya yang berjumlah ratusan itu (ay 19). Tetapi toh Ahab juga mempunyai penderitaan (ay 5).

 

Penerapan: bahwa di Indonesia orang yang merusak gereja maupun yang mengijinkan perusakan gereja tetap hidup mewah, tidak membuktikan bahwa bencana-bencana yang dialami Indonesia bukan hukuman Tuhan.

2. Sikap Ahab dan Izebel dalam penderitaan:
 

a. Ahab menyalahkan Elia (ay 17).

Ada yang menghubungkan ini dengan kata-kata Yosua kepada Akhan dalam Yos 7:25, dan lalu mengatakan bahwa Ahab menganggap Elia seperti Akhan.

b. Ahab mencari Elia (ay 10).

 

c. Izebel membunuhi nabi-nabi Tuhan (ay 4a,13a).

Ay 13: ‘Tidakkah diberitahukan kepada tuanku’.

NIV: ‘Haven’t you heard, my lord’ (= Tidakkah engkau mendengar, tuanku).

Dari sini terlihat bahwa ada kemungkinan bahwa tindakan Izebel membunuhi nabi-nabi Tuhan terjadi setelah Elia sembunyi, karena kalau itu terjadi sebelum Elia bersembunyi, pasti Obaja tidak menanyakan pertanyaan seperti itu. Jadi mungkin sekali karena mengalami penderitaan gara-gara hukuman yang diberitakan oleh Elia, maka Izebel membalas dendam kepada agama Elia dengan membunuhi nabi-nabinya. Dan Ahab membiarkan Izebel bertindak semaunya.

Kalau saudara adalah keluarga nabi-nabi yang mati dibunuh, apakah saudara lalu mengecam / mengutuk Elia?

d. Kita melihat sikap Ahab dalam ay 5.

Ada 2 hal yang bisa kita pelajari dari sikap Ahab dalam ay 5 ini:

Pulpit Commentary: "Note also the heartlessness of the idolater. He is more concerned for his stud than for his people" (= Perhatikan juga tidak berperasaannya penyembah berhala ini. Ia lebih memperhatikan kumpulan kudanya dari pada rakyatnya) - hal 440.

Penerapan: karena itu jangan heran kalau dalam krisis moneter di Indonesia ini ada pejabat-pejabat yang hanya mempedulikan bisnis / keuangan pribadinya sendiri, dan tidak mempedulikan rakyat!

 

II. Obaja dalam penderitaan.

1. Siapakah Obaja ini?
 

a. Ia adalah orang yang diangkat Ahab menjadi kepala istana (ay 3).

Mengapa Ahab mengangkat Obaja, dan bukannya seorang penyembah Baal, untuk menjadi kepala istana? Mungkin karena ia tahu kejujuran Obaja, yang merupakan sesuatu yang penting bagi seorang kepala istana.

Pulpit Commentary: "It was not to Ahab’s interest to have a Baal-worshipper at the head of his retainers. Bad men do not care to be served by their kind" (= Ahab tidak berminat untuk mendapatkan seorang pemuja Baal sebagai kepala pelayan-pelayannya. Orang jahat tidak mau dilayani oleh golongan mereka) - hal 432.

Penerapan: andaikata saja semua orang kristen begitu jujur sehingga pemerintahan yang non kristen tetap lebih mau memakai orang kristen dari pada orang non kristen, maka hal itu betul-betul memuliakan Allah / Kristus.

b. Ia adalah orang yang takut akan Tuhan sejak kecil (ay 3b,12b).

NIV: ‘Obadiah was a devout believer in the Lord’ (= Obaja adalah orang percaya yang taat / saleh / bersungguh-sungguh dalam TUHAN). Ini kurang tepat terjemahannya.

RSV: ‘Obadiah revered the LORD greatly’ (= Obaja sangat takut / hormat kepada TUHAN).

KJV/NASB: ‘Obadiah feared the LORD greatly’ (= Obaja sangat takut kepada TUHAN).

Ini pentingnya pendidikan rohani untuk anak! Bdk. Amsal 22:6 - "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu".

Penerapan: Saya tidak ingin anak saya masuk sekolah yang pelajarannya terlalu berat / banyak, karena ini bisa menyebabkan ia tidak punya waktu untuk Tuhan. Sekalipun pendidikan secular penting, tetapi pendidikan rohani lebih penting!

 

 

 

2. Apakah Obaja juga menderita? Jelas ya, karena:
 

a. Sebagai orang benar ia harus hidup dalam lingkungan yang bejat dan menyembah berhala. Tidak bisa tidak itu memberinya penderitaan (bdk. 2Pet 2:7-8 yang menunjukkan bahwa Lot menderita / tersiksa pada waktu hidup di Sodom dan Gomora, karena melihat kebejatan orang-orang Sodom dan Gomora).

 

Penerapan: kalau saudara bisa hidup di tengah-tengah orang brengsek, dan saudara tidak merasa tersiksa / menderita, mungkin saudara sama brengseknya dengan orang-orang itu. Lebih-lebih ada orang kristen yang bisa bergaul ‘secara harmonis’ dengan orang yang sering mengejek / menyerang kekristenan. Saya meragukan bahwa ini adalah kesabaran; saya lebih percaya bahwa ini adalah ketidak-pedulian terhadap kemuliaan Tuhan!

b. Melihat nabi-nabi Tuhan dibunuhi, ia jelas juga sangat menderita.

c. Dampak dari kekeringan dan kelaparan selama 3 1/2 tahun itu pasti juga mengenai dirinya. Kalau Ahab sebagai raja saja terkena, sukar terhindar bahwa Obaja juga terkena.
 

3. Tindakan Obaja dalam penderitaan.

Obaja menolong 100 nabi-nabi Tuhan dari pembunuhan oleh Izebel, menyembunyikan mereka di gua-gua, dan mengurus makanan dan minuman mereka (ay 4,13).
 

a. Nabi-nabi itu.

 

Penerapan: jangan merasa rendah diri kalau saudara adalah seorang hamba Tuhan yang tidak ngetop, atau saudara hanyalah seorang guru sekolah minggu, guru agama, chairman / pemimpin liturgi, pemain musik gereja, dsb. Tuhan tetap memperhatikan saudara!

Penerapan: kalau saudara adalah seorang hamba Tuhan / pelayan Tuhan yang sejati, jangan iri hati dengan nasib nabi-nabi palsu yang lebih baik dari saudara. Renungkan akhirnya nanti (baca Maz 73).

b. Tuhan sudah mengatur sebelumnya sehingga Obaja ada dalam posisi yang memungkinannya menolong nabi-nabi itu.

 

Obaja sudah lama menjabat jabatan itu, dan mungkin ia bertanya-tanya apa gunanya ia ada di sana. Tetapi waktu Izebel membunuhi nabi-nabi Tuhan, ia lalu tahu apa gunanya Allah menempatkan ia di sana, yaitu untuk menolong nabi-nabi itu (bdk. Ester 4:13-14).

c. Pergumulan Obaja.

Dari ay 7-14 terlihat bahwa Obaja bukan saja takut kepada Ahab, tetapi juga bahwa dalam dirinya ada sifat penakut.

Pulpit Commentary: "Faithful as Obadiah was, there was an element of timidity in his nature" (= Sekalipun Obaja adalah orang yang setia, ada sifat penakut dalam dirinya) - hal 450.

Obaja ingin menolong, tetapi jumlah nabi-nabi itu 100 orang (ay 4,13). Ini membuat misi Obaja menjadi sangat berbahaya dan sukar / berat. Kalau ia hanya menyembunyikan dan memelihara 1 orang, itu mungkin tidak terlalu sukar. Tetapi menyembunyikan 100 orang tentu besar kemungkinannya untuk ketahuan, dan kalau ketahuan ini pasti fatal. Ia bukan hanya akan kehilangan jabatannya, tetapi juga kehilangan kepalanya. Dan kalau ia mati, siapa yang memelihara keluarganya? Juga memelihara 100 orang dalam ‘masa krisis moneter’ seperti itu, tentu merupakan sesuatu yang berat. Jadi pasti pada saat itu ada godaan untuk membiarkan begitu saja nabi-nabi itu, atau ‘menyerahkan mereka dalam tangan Tuhan yang mahakuasa’. Tetapi Obaja juga takut kepada Allah (ay 3,12b). Dan Ia lebih takut kepada Allah dari pada kepada Ahab ataupun Izebel, dan karena itu ia tetap menolong nabi-nabi itu dengan menyembunyikan dan memelihara mereka. Ini jelas merupakan tindakan pengorbanan yang luar biasa. Obaja hidup sesuai dengan namanya, yaitu ‘servant of Yahweh’ (= pelayan Yahweh). Sekalipun ia memanggil Ahab dengan sebutan ‘tuan’ (ay 10), tetapi jelas bahwa tuannya yang sebenarnya adalah Tuhan.

 

Pulpit Commentary: "Because he feared the Lord greatly, he feared not the wrath of the king" (= Karena ia sangat takut kepada Tuhan, ia tidak takut pada kemurkaan raja) - hal 441. Bdk. Ibr 11:23,27.

d. Hal-hal yang harus ditiru dari Obaja:

 

 

 

Pulpit Commentary: "If men could be saints in Ahab’s and Nero’s palace, they may be saints anywhere. How constantly do men plead the adverse circumstances in which they are placed as a reason why they cannot serve God. Sometimes it is a godless street or wicked hamlet; sometimes it is an irreligious household or infidel workshop; or their trade is such, their employers or associates are such, that they cannot live a godly life. But the example of Obadiah, the example of those saints of the Praetorium, convicts them of untruth and of cowardice. They cannot have greater temptations or fiercer persecutions than befell those Roman Christians. If they proved steadfast, and lived in sweetness and purity, which of us cannot do the same wherever we may be placed?" (= Jika seseorang bisa menjadi orang kudus di istana Ahab atau Nero, ia bisa menjadi orang kudus dimanapun juga. Orang terus menerus menjadikan keadaan yang bermusuhan / tidak menyenang-kan dimana mereka berada sebagai alasan mengapa mereka tidak bisa melayani Allah. Kadang-kadang itu adalah jalanan yang tidak bertuhan atau desa yang jahat; kadang-kadang itu adalah rumah tangga yang tidak beragama atau ruang kerja yang kafir; atau perdagangan mereka sedemikian rupa, majikan atau rekan kerja mereka sedemikian rupa, sehingga mereka tidak bisa hidup saleh. Tetapi teladan Obaja, teladan orang-orang kudus di istana kekaisaran Romawi, meyakinkan mereka tentang ketidakbenaran dan sikap pengecut. Mereka tidak bisa mempunyai pencobaan yang lebih besar atau penganiayaan yang lebih hebat dari yang menimpa orang-orang kristen Roma. Jika mereka membuktikan kesetiaan / ketabahan mereka, dan hidup dalam kemanisan dan kemurnian, yang mana dari kita yang tidak bisa melakukan hal yang sama dimanapun kita diletakkan?) - hal 433.

 

Karena itu, kalau lingkungan / sikon dimana saudara hidup itu tidak menyenangkan, jangan bersungut-sungut atau berpikir: andaikata sikonnya begini tentu aku bisa hidup bagi Tuhan. Kalau Tuhan membiarkan sikonnya jelek, itu berarti bahwa Ia ingin saudara hidup saleh dan melayani Tuhan dalam sikon yang jelek itu!

Pulpit Commentary: "Let us not murmur at our providential lot. God can change it if he see fit. If He does not change it, then He has a purpose in it which we should endeavour to fulfill" (= Baiklah kita tidak bersungut-sungut mengenai nasib kita yang ditentukan oleh pengaturan Allah. Allah bisa mengubahnya jika Ia menganggapnya pantas. Jika Ia tidak mengubahnya, maka Ia mempunyai rencana / tujuan di dalamnya yang harus kita usahakan untuk memenuhinya) - hal 441.
 

Penutup.

Kita sudah melihat Ahab dan Izebel dalam penderitaan, dan kita juga sudah melihat Obaja dalam penderitaan. Saya percaya bahwa setiap saudara mempunyai penderitaannya sendiri-sendiri. Tetapi bagaimana saudara mau menghadapinya? Seperti Ahab / Izebel, atau seperti Obaja?
 
 

-AMIN-