Pelayanan Elia

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


 

I RAJA-RAJA 17:17-24

 

I. Janda Sarfat.

1. Ia adalah orang beriman.

Dalam ay 12 ia tidak bersumpah demi Baal / Asyera, tetapi demi Tuhan, Allah Israel. Pada pelajaran yang lalu sudah saya bahas bahwa sekalipun ia mengatakan ‘Allahmu’, itu tidak menunjukkan bahwa ia tidak beriman, karena dalam 1Raja 18:10, Obaja, yang adalah orang beriman, bersumpah dengan kata-kata yang persis sama.

Kalaupun pada saat itu ia belum sungguh-sungguh beriman, maka setelah Elia tinggal beberapa waktu dengan dia, jelas ia sudah menjadi orang beriman.

 

2. Ia melakukan tindakan iman (ay 15).

3. Ia memberikan kamar atas kepada Elia (ay 19,23).
 

a. Adanya kamar atas di rumahnya, menunjukkan bahwa janda itu sebetulnya kaya.

Untuk itu kita perlu mengetahui latar belakang tentang rumah pada jaman itu.

Fred H. Wright: "In Bible times men did not build houses with the idea in mind that most of their daily living would be spent inside them. ... The house served as a place of retirement." (= Pada jaman Alkitab orang tidak membangun rumah dengan pemikiran bahwa sebagian besar dari hidupnya sehari-hari akan dihabiskan di dalamnya. ... Rumah berfungsi sebagai tempat istirahat.) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 20.

 

Fred H. Wright: "The average home of the common people was a one-room dwelling." (= Rumah pada umumnya dari orang-orang biasa adalah tempat tinggal dengan satu kamar.) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 20.

Fred H. Wright: "Among the Arabs of Palestine villages and towns, houses of more than one room are owned by those who are more or less prosperous. ... The same thing was true of the houses belonging to the ancient Hebrews. As a rule the houses of one room were in the villages, and those of more than one room were in the cities." (= Di kalangan orang-orang Arab di desa-desa dan kota-kota di Palestina, rumah dengan lebih dari satu kamar dimiliki oleh mereka yang makmur / kaya. ... Hal yang sama berlaku untuk rumah kepunyaan orang-orang Ibrani kuno. Biasanya rumah dengan satu kamar ada di desa, dan rumah dengan lebih dari satu kamar ada di kota.) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 35.

‘The International Standard Bible Encyclopedia’, vol IV, hal 948: "Two-story houses appear to have been common, at least among the wealthy, in biblical times (e.g., 2K. 1:2; 23:12; Jer. 22:13f.)" [= Rumah bertingkat dua kelihatannya umum, setidaknya di kalangan orang kaya, dalam jaman Alkitab (misalnya, 2Raja 1:2 23:12 Yer 22:13-dst].

 

Catatan: kata ‘anjung’ (Yer 22:13,14) dalam NIV adalah upper room’ (= kamar atas).
 

Dari semua ini jelas bahwa janda ini dulunya kaya. Tetapi ay 12 menunjukkan bahwa ia lalu menjadi sangat miskin. Mungkin ini juga terjadi karena kematian suaminya, tetapi jelas juga terjadi karena ‘krisis moneter’. Jadi sekalipun ia tidak tinggal di Israel, dan sekalipun ia adalah orang pilihan / orang percaya, ia juga terkena imbas hukuman Tuhan kepada Israel. Mungkin sekali saat itu ia ingin menjual rumah, tetapi tidak ada orang mau membeli rumah pada masa seperti itu. Mungkin ia berdoa minta Tuhan menolong, tetapi pertolongan tidak kunjung datang. Mungkin ia berusaha menghemat habis-habisan, tetapi tetap saja uang dan persediaan makanan makin lama makin menipis, sampai tinggal hanya cukup untuk sekali makan (ay 12). Pada saat itulah, tidak kepagian, tidak juga terlambat, Tuhan mengatur sehingga Elia datang ke rumah janda itu (dengan mengeringkan Sungai Kerit dan menyuruh Elia pindah ke Sarfat) dan melakukan mujijat untuk mencukupi kebutuhan Elia maupun janda dan anaknya itu (bdk. Luk 4:25-26).

 

Penerapan: apakah cadangan uang / makanan saudara menipis karena krisis moneter saat ini? Tetaplah percaya / setia kepada Tuhan! Ia tidak pernah terlambat dalam menolong!

b. Memberikan kamar atas itu kepada Elia menunjukkan penghormatan kepada Elia.

Fred H. Wright: "It (the upper room) provides a place of coolness in the hot weather, a place of retreat, and a distinguished guest is given accommo-dations there" [= Itu (kamar atas) menyediakan tempat yang sejuk dalam cuaca panas, tempat menyendiri, dan tamu terhormat diberikan penginapan di sana] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 40.

 

Komentar Matthew Poole tentang ‘kamar atas’: "often the best apartment in an Eastern house" (= sering merupakan kamar / ruangan yang terbaik dalam rumah orang Timur).

Jadi, janda itu menyediakan yang terbaik untuk Elia sebagai suatu penghormatan, karena Elia adalah nabi Tuhan!

Penerapan: apakah saudara juga menghormati hamba Tuhan dengan memberikan yang baik / terbaik untuknya?
 

II. Muncul penderitaan.

Bahwa janda itu beriman, hidup benar, hidup bersama seorang nabi Tuhan, menghormati nabi itu, dsb, tidak menjamin bahwa hidup janda itu bebas dari penderitaan! Lihat ay 17.

1. Apakah anaknya itu betul-betul mati atau tidak, diperdebatkan dengan sangat hebat.

Ada banyak yang mengatakan bahwa anak ini sebetulnya tidak mati.

 

Alasannya: ay 17: ‘tidak ada nafasnya lagi’. Kata ‘nafas’ berasal dari kata Ibrani NESHAMAH. Dalam Daniel 10:17 kata-kata yang sama dipakai dan tidak menunjuk pada kematian (kata Ibrani yang dipakai dalam Daniel 10:17 ini juga adalah NESHAMAH). Juga bandingkan dengan 1Raja 10:5 - ‘tercenganglah ratu itu’. Lit: ‘in her there was no longer breath’ (= dalam dia tidak ada lagi nafas). Kata ‘breath’ / ‘nafas’ di sini menggunakan kata Ibrani RUACH. Jelas bahwa ratu Syeba dalam 1Raja 10:5 itu tidak mati, tetapi toh digunakan ungkapan seperti itu.

Tetapi saya percaya bahwa anak janda itu betul-betul mati. Alasannya:

 

 

 

 

Catatan: baru-baru ini saya membaca tulisan dari Ir. Herlianto, M. Th. yang menentang kremasi terhadap orang kristen yang mati, dengan alasan bahwa pada saat mati selama beberapa waktu jiwa / roh orang itu masih bersama tubuhnya, sehingga kalau dibakar mungkin jiwa / roh itu akan mengalami akibat yang serius. Saya berpendapat bahwa tulisan ini tidak berdasar, dan bahkan bertentangan dengan Alkitab, khususnya dengan ay 21-22 ini, dan juga dengan Luk 8:55 (‘Maka kembalilah roh anak itu’). Ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa pada saat seseorang mati, jiwa / rohnya langsung meninggalkan tubuhnya, dan kalau terjadi pembangkitan maka jiwa / roh itu akan kembali ke tubuhnya. Bdk. juga dengan Luk 23:43 Dan Kis 7:59. Perlu juga dicamkan bahwa dari dulu orang memberikan definisi tentang kematian sebagai ‘perpisahan tubuh dengan jiwa / roh’.

Ay 23: ‘Ini anakmu, ia sudah hidup’.

 

2. Penderitaan orang beriman bisa sangat berat.

Pulpit Commentary: "God’s blow may be very heavy. Her son, her only child, is taken. God’s plough sinks deep that His work may be rightly done. The very greatness of our anguish is a measure by which we may gauge the greatness of the Lord’s purpose and of the love which will not suffer us to miss the blessing" (= Pukulan Allah bisa sangat berat. Anak laki-lakinya, satu-satunya anak, diambil. Bajak dari Allah menghunjam dalam supaya pekerjaanNya bisa dilakukan dengan benar. Hebatnya penderitaan / kesedihan kita adalah ukuran dengan mana kita bisa mengukur kebesaran rencana / tujuan Tuhan dan kasihNya yang tidak akan membiarkan kita tidak mendapatkan berkat) - hal 415.

 

III. Sikap janda dan Elia pada saat menghadapi penderitaan.

1. Janda itu datang kepada Elia (ay 18).
 

a. Datangnya ia kepada Elia untuk menceritakan kematian anaknya adalah sesuatu yang benar. Ingat bahwa ini terjadi dalam jaman Perjanjian Lama dimana orang awam tidak boleh langsung datang kepada Tuhan. Tetapi dalam jaman Perjanjian Baru, Yesuslah pengantara antara kita dengan Allah, dan karena itu orang kristen tidak perlu datang kepada hamba Tuhan, tetapi boleh langsung datang kepada Allah melalui Kristus (doa dalam nama Yesus).

b. ‘Apakah maksudmu datang kemari, ya abdi Allah?’ (ay 18a).

Kata-kata yang saya garisbawahi itu salah terjemahan. Terjemahan hurufiahnya adalah: ‘What to me and to thee / you’ (= apa bagiku dan bagimu). Ungkapan ini muncul berulangkali dalam Kitab Suci (Hak 11:12 2Sam 16:10 2Raja 3:13 Mat 8:29 Yoh 2:4) dan selalu menunjukkan ketidak-senangan.

Ini adalah sesuatu yang salah. Janda itu seharusnya ingat bahwa jika tidak ada Elia yang melakukan mujijat dengan tepung dan minyaknya (ay 14-16), bukan hanya anaknya, tetapi juga dia sendiri sudah mati sejak dulu. Tetapi kesalahan janda ini bisa dimengerti dalam kasus seseorang yang kematian anak tunggalnya.

c. ‘Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?’ (ay 18b).

Kata-kata ini menunjukkan bahwa janda itu mengira bahwa kematian anaknya itu merupakan hukuman / hajaran Tuhan atas dosanya.

Kadang-kadang setan bekerja sehingga orang yang dihukum Tuhan dengan penderitaan itu tidak sadar akan dosanya (bahkan menyalahkan orang lain - bdk. 18:17). Tetapi kadang-kadang setan bekerja sebaliknya. Ia mendustai orang yang menderita bukan karena hukuman Tuhan sehingga orang itu menganggapnya sebagai hukuman Tuhan. Setan memang bapa segala dusta.

Memang ada banyak penafsir menganggap bahwa janda itu mengalami hal ini karena dosanya, tetapi saya menganggap penafsiran itu tidak berdasar. Penderitaan janda ini, berbeda dengan kekeringan dan kelaparan selama 3 1/2 tahun yang dialami Ahab dan Israel, bukan terjadi karena dosanya!

Pulpit Commentary: "Affliction and its fruits. ... It is no proof of God’s anger. ... Affliction is no more proof of wrath than is the farmer’s ploughing of his field. To him, with his eye upon the future harvest, it is only the needful preparation of the soil. And the great Husbandman, with His eye upon the eternal glory, must open a bed within the soul’s depths for the seed of life." (= Penderitaan dan buahnya. ... Itu bukanlah bukti murka Allah. ... Penderitaan bukanlah bukti murka sama seperti petani membajak tanahnya juga bukan karena murka. Bagi dia, dengan matanya diarahkan pada panen yang akan datang, itu hanyalah suatu persiapan yang dibutuhkan oleh tanah itu. Dan Petani Agung itu, dengan mataNya diarahkan pada kemuliaan kekal, harus membuka suatu jalur di dalam kedalaman jiwa untuk benih kehidupan) - hal 415.

Keil & Delitzsch: "Like the blindness in the case of the man born blind mentioned in John 9, the death of this widow’s son was not sent as a punishment for particular sins, but was intended as a medium for the manifestation of the works of God in her (John 9:3)" [= Seperti kebutaan dalam kasus orang yang dilahirkan buta yang disebutkan dalam Yoh 9, kematian dari anak janda itu bukanlah diberikan sebagai hukuman atas dosa tertentu, tetapi dimaksudkan sebagai alat untuk perwujudan pekerjaan Allah dalam diri janda itu (Yoh 9:3)].
 

2. Elia membawa persoalan itu kepada Tuhan dalam doa (ay 19-21).
 

a. Ay 20: ini tidak berarti bahwa Elia menyesali Tuhan, tetapi hanya merupakan ungkapan kesedihan Elia.

b. Ay 21a: Elia mengunjurkan badannya di atas anak itu 3 x.

 

 

 

 

 

 

 

Semua tindakan ini berhubungan dengan penyakit yang mau disembuhkan. Sekalipun tindakan itu sendiri, tanpa pekerjaan / kuasa Tuhan, tidak mungkin menyembuhkan, dan sebetulnya Tuhan bisa menyembuhkan tanpa tindakan seperti itu, tetapi anehnya tindakan seperti itu sering dilakukan.

o        Mungkin di sini kita harus mengakui bahwa kita tidak mengerti mengapa tindakan itu dilakukan.

The New Bible Commentary: Revised: "We miss the point if we feel that this manipulation of the son by Elijah was a means of resuscitating him; at the same time we recognize that the same technique is mentioned in two other cases (2Ki. 4:34f; Acts 20:10). The exact significance we do not understand" [= Kita salah kalau kita menganggap bahwa perlakuan Elia terhadap anak ini adalah suatu cara untuk menyadarkan / menghidupkan anak itu; pada saat yang sama kita mengakui bahwa tehnik yang sama disebutkan dalam dua kasus yang lain (2Raja 4:34-dst; Kis 20:10). Arti yang tepat tidak kita mengerti.].

o        Yang jelas kita tidak berhak meniru untuk melakukan hal seperti ini, karena kita memang tidak pernah diperintahkan untuk meniru hal ini. Kalau ada orang meniru hal ini, menurut saya itu lebih menunjukkan kelancangan / kelatahan dari pada ketaatan!

c. Elia berdoa supaya anak itu dihidupkan kembali (ay 21).

 

 

IV. Akibat semua ini.

Ay 24: janda itu percaya bahwa Elia adalah abdi Allah (Lit: ‘a man of God’), dan bahwa firman yang dikatakannya adalah benar. Tetapi jelas bahwa tadinya ia sudah percaya bahwa Elia adalah abdi Allah (ay 18). Dan ia juga sudah mengalami sendiri bahwa Firman Tuhan yang diucapkan Elia adalah benar pada waktu ia mengalami mujijat dengan tepung dan minyaknya yang tidak habis-habis (ay 14-16). Jadi jelas bahwa yang dimaksud dengan ay 24 bukanlah bahwa janda itu mulai beriman, tetapi bahwa janda itu mengalami pertumbuhan iman.

Sekarang terlihat bahwa penderitaan tadi ternyata membawa kebaikan bagi janda itu, sesuai dengan Ro 8:28.

Pulpit Commentary: "The cross is the forerunner of the crown" (= Salib adalah pendahulu dari mahkota) - hal 398.
 

Kesimpulan / Penutup.

Dalam mengalami penderitaan tetaplah percaya dan setia kepada Tuhan, dan bawalah penderitaan itu kepadaNya dalam doa. Pada akhirnya penderitaan itu pasti akan membawa kebaikan bagi saudara, asal saudara betul-betul adalah anak Tuhan.
 
 

-AMIN-