Calvinisme yang difitnah : Kontroversi Calvinisme & Armenianisme

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


 IV) Exposisi Ro 9:6-29.

Ini adalah bagian Kitab Suci yang terpenting, terpanjang dan mungkin ter-lengkap yang membahas Predestinasi, dan karena itu saya akan memberi-kan exposisi dari bagian ini.

Supaya bisa membahas bagian ini sesuai dengan kontexnya, sebelum kita mulai membahas ay 6, bacalah Ro 9:1-5 dalam Kitab Suci saudara.

Dalam Ro 9:1-5 ini kita melihat Paulus menyatakan kesedihannya karena banyak orang Yahudi, yang sebetulnya adalah bangsa pilihan, menolak Kris-tus, sehingga tentu tidak akan selamat.

Ay 6:

‘Firman Allah tidak mungkin gagal’ (ay 6a). Ini ditekankan oleh Paulus, karena ia takut bahwa kesedihannya dalam ay 2-3 ditafsirkan seakan-akan rencana / firman Tuhan tentang Israel gagal. Karena itu ia sekarang jelaskan bahwa ‘tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel’ (ay 6b). Dengan ini ia menunjukkan bahwa janji / firman Tuhan tentang pemilihan Israel memang tidak pernah dimaksudkan untuk seluruh Israel. Jadi, adanya banyak orang Israel yang menolak Kristus tidak membuktikan gagalnya rencana / firman Allah.

Ay 7-9:

a) Untuk membuktikan kebenaran kata-katanya dalam ay 6, maka dalam ay 7 ini Paulus mulai membahas dari Abraham. Ay 7 ini mengatakan bahwa tidak semua keturunan Abraham adalah anak Abraham. Bdk. Kej 17:19-21. Paulus juga menambahkan ay 7b yang ia kutip dari Kej 21:12. Dengan kata-kata ini Paulus menunjukkan bahwa pemilihan tidak tergan-tung keturunan secara daging / jasmani.

Martin Luther mengomentari bagian ini dengan berkata: Jika Israel pasti adalah orang pilihan karena mereka adalah keturunan jasmani dari Abra-ham, maka pasti Ismael dan anak-anak Ketura (istri ketiga dari Abraham - Kej 25:1-dst) juga adalah orang pilihan. Tetapi jelas bahwa baik Ismael maupun anak-anak Ketura bukanlah orang pilihan, dan karena itu jelas bahwa Israelpun tidak semuanya adalah orang pilihan!

b) Dalam ay 8 ada istilah ‘anak-anak daging’ dan ‘anak-anak perjanjian’.

Yang disebut ‘anak-anak daging’ adalah keturunan Abraham yang tidak mempunyai apapun yang lain selain fakta bahwa mereka diturunkan secara jasmani oleh Abraham.

Sedangkan yang disebut ‘anak-anak perjanjian’ adalah mereka yang secara khusus dipilih oleh Tuhan. Inilah orang pilihan yang sejati.

c) Ay 9b dikutip dari Kej 18:10.

d) Dari ay 7-9 ini terlihat bahwa sekalipun Abraham mempunyai banyak anak, tetapi yang merupakan pilihan Tuhan hanyalah satu yaitu Ishak.

Ay 10:

‘Bukan hanya itu saja’ artinya: bukan hanya kasus pemilihan Ishak dan penolakan Ismael, tetapi ada juga kasus lain, yaitu pemilihan Yakub dan penolakan Esau.

Ini ditambahkan karena dalam persoalan Ismael dan Ishak, orang bisa ber-kata bahwa Ismael ditolak karena ia adalah anak seorang hamba. Sekarang dalam ay 10 Paulus memberikan contoh tentang Ribka yang mengandung dari satu orang yaitu dari Ishak, dan bahkan melahirkan anak kembar, tetapi dari kedua anak kembar itu yang satu dipilih dan yang lain ditolak! Jadi terlihat dengan lebih jelas bahwa penggenapan janji Tuhan tidak terjadi pada semua anak secara daging / jasmani.

Ay 11:

Mulai ayat ini Paulus tidak hanya menekankan pemilihan / predestinasi, tetapi juga menekankan bahwa pemilihan itu tidak tergantung perbuatan baik manusia, tetapi hanya tergantung pada kehendak Allah. Ini ditekankannya dengan menyatakan 2 hal yaitu:

a) Dengan kata-kata ‘Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat’.

Dengan kata-kata ini, Paulus menunjukkan bahwa dalam Allah melakukan pemilihan, Ia sama sekali tidak dipengaruhi oleh perbuatan orang itu, karena pemilihan dilakukan sebelum perbuatannya dilakukan.

Orang yang menganggap bahwa Allah memilih karena tahu lebih dulu bahwa orangnya akan mau percaya dan bakal menjadi baik, harus menjelaskan mengapa dalam ay 11 ini ada kata-kata "Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat"! Kalau memang Allah memilih karena tahu bahwa orangnya bakal beriman / menjadi baik, bukankah kalimat ini seha-rusnya dibuang? Dengan adanya kalimat ini bukankah semuanya jadi membingungkan?

Disamping itu, dalam diri manusia yang sudah rusak karena dosa, sebetulnya Allah tidak melihat kebaikan apapun yang akan terjadi (God could foresee nothing good), kecuali kalau Ia memberi kasih karunia kepada mereka untuk bisa percaya dan berubah menjadi baik (Ingat pelajaran di depan tentang doktrin Total Depravity / kebejatan total, yang menunjukkan bahwa manusia tidak bisa berbuat baik / percaya kalau bukan karena kasih karunia Allah).

b) Dengan kata-kata ‘supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguh-kan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya’ (ay 11b).

Ini lebih-lebih lagi menunjukkan bahwa dalam melakukan predestinasi, Allah sama sekali tidak terpengaruh oleh perbuatan manusia!

Sekarang mari kita perhatikan bagaimana Guy Duty membahas bagian ini. Mula-mula Guy Duty berkata sebagai berikut:

"Sekarang kita sampai ke surat Roma pasal 9 dan memasuki benteng Agustinus, Calvin, dan para guru Kepastian Keselamatan Kekal. ... Janganlah kita menghindar atau membelokkan sesuatu seperti yang sering mereka lakukan" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 93.

Tetapi lucunya, atau lebih tepat, tololnya, pada waktu Guy Duty membahas tentang Ro 9:10-13, ia menafsirkan sebagai berikut:

"Lalu mengapa Allah lebih menyukai Yakub dan mengabaikan Esau? Ingat definisi-definisi Leksikon-leksikon terkemuka tentang pemilihan yang menyiratkan arti ‘pilihan (choice), memilih (select), yaitu, yang terbaik dari antara jenisnya atau kelasnya’ -- ‘dipilih (selected), yaitu dari antara yang berkualitas lebih baik dari lainnya’. Alasan-alasan Allah bagi pemilihannya atas Yakub dengan melampaui Esau adalah alasan-alasan yang ditemukan dalam kepribadian kedua orang ini, ... Marilah kita melihat sekilas kepribadian dari kedua orang itu, dan melihat jika hal ini benar" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 103.

Guy Duty lalu menguraikan panjang lebar segala kebaikan Yakub dan kejelekan Esau (hal 103-104), dan lalu menyimpulkan sebagai berikut:

"Allah mengetahui terlebih dahulu segala hal tentang mereka sedemikian sempurnanya. ... Allah bukannya tidak adil karena memilih Yakub, yang seperti seorang ‘pangeran yang bergulat dengan Allah’ dan ‘menang’ -- seorang manusia yang telah diubahkan menjadi ‘Israel’ yang perkasa, ketika Allah menyatakan diriNya muka dengan muka. Allah juga bukannya tidak adil karena menolak Esau yang cabul dan bernafsu rendah, yang mengikatkan diri-nya dengan orang-orang kafir" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 105-106.

Sekarang pikirkan sendiri, siapa yang membelokkan Kitab Suci, khusus-nya Ro 9:10-13? Calvin, Agustinus, orang-orang Calvinist, atau Guy Duty sendiri? Bahwa Guy Duty bisa menafsirkan Ro 9:10-13 sehingga berarti bahwa Allah memilih Yakub karena kebaikan Yakub dan menolak Esau karena kejelekan Esau, jelas menunjukkan bahwa Guy Dutylah yang membelokkan, memutarbalikkan, bahkan memperkosa Kitab Suci! Hanya orang-orang yang sudah dibutakan oleh prasangka terhadap orang Reformed / Calvinist yang tidak bisa melihat hal ini!

Pada jaman Calvin sudah ada orang yang mempunyai pandangan seperti Guy Duty, dan inilah pandangan Calvin tentang orang-orang itu dan pan-dangan mereka.

Calvin:

"when any one ascribes the cause of the difference to their works, he thereby subverts the purpose of God. Now by adding, not through works, but through him who calls, he means, not on account of works, but of the calling only; for he wishes to exclude works together. We have then the whole stability of our election inclosed in the purpose of God alone: here merits avail nothing, as they issue nothing but death; no worthiness is regarded, for there is none; but the goodness of God reigns alone. False then is the dogma, and contrary to God’s word, - that God elects or rejects, as he foresees each to be worthy or unworthy of his favour" (= pada waktu seseorang menganggap bahwa penyebab perbedaan itu berasal dari perbuatan mereka, ia dengan itu menghancurkan / menumbangkan tujuan Allah. Dengan menambahkan ‘bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya’, ia memaksudkan bukan disebabkan oleh perbuatan, tetapi hanya disebabkan panggilan; karena ia ingin membuang perbuatan sama sekali. Jadi kita mendapati seluruh kestabilan pemilihan kita terbungkus hanya dalam rencana Allah: di sini jasa / perbuatan baik tidak berguna, karena mereka tidak memberikan apapun selain kematian; tidak ada kelayakan yang dianggap, karena memang tidak ada kelayakan; tetapi kebaikan Allah saja yang bertahta. Dogma yang menyatakan bahwa Allah memilih atau menolak, sebagaimana Ia lihat lebih dulu tiap-tiap orang layak atau tidak layak menerima kebaikanNya, adalah salah dan bertentangan dengan Firman Allah).

Editor dari Calvin Commentary tentang surat Roma menambahkan:

"Yet some of the Fathers, as Chrysostom and Theodoret, as well as some modern divines, ascribes election to foreseen works. How this is reconcilable with the argument of the Apostle, and with the instances he adduces, it is indeed a very hard matter to see. ... but surely nothing could be suggested more directly contrary to the statement and the argument of the Apostle" (= Sekalipun demikian beberapa bapa-bapa gereja, seperti Chrysostom dan Theodoret, dan juga sebagian ahli-ahli theologia modern, menganggap pemilihan berasal dari perbuatan yang dilihat lebih dulu oleh Allah. Bagaimana ini bisa diperdamaikan dengan argumentasi sang rasul, dan dengan contoh / kejadian yang ia kemukakan, merupakan suatu hal yang sangat sukar terlihat. ... tetapi pasti tidak ada yang bisa diusulkan yang lebih bertentangan secara langsung dengan pernyataan dan argumentasi sang rasul).

Ay 12:

a) Ay 12 ini menunjuk pada Kej 25:23.

b) Perhatikan istilah ‘tua’ dan ‘muda’ dalam ay 12 ini.

Dari Kej 25:25-26 kita tahu bahwa Esau adalah anak sulung. Dan juga Ro 9:12 ini secara explicit menyebutkan hal itu, karena ayat ini mengata-kan ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda. Jadi Yakub sebetulnya bukan saja tidak mempunyai kelebihan apapun atas Esau, tetapi sebaliknya bahkan lebih rendah dibandingkan dengan Esau, ka-rena Esau adalah kakaknya. Tetapi Tuhan toh memilih dia, dan jelas pemilihan ini didasarkan pada kehendak Allah, bukan pada apapun yang baik dalam diri Yakub (Ro 9:11).

Ay 13:

a) Arti kata ‘benci’ di sini.

Dalam Kitab Suci kata ‘benci’ sering diartikan ‘kurang mengasihi’ (Kej 29:31 Ul 21:15 Mat 6:24 Mat 10:37-38 Luk 14:26 Yoh 12:25). Tetapi dalam persoalan Ro 9:13 ini, kebanyakan orang Reformed mengatakan bahwa kata ‘benci’ ini tidak sekedar berarti ‘kurang mengasihi’. John Murray mengatakan bahwa ada ‘ketidaksenangan’ yang dinyatakan oleh kata ‘benci’ di sini. William Hendriksen juga menolak arti ‘kurang menga-sihi’ di sini dengan alasan:

Dan Hendriksen lalu menyimpulkan:

"These passages refer to reprobation, nothing less" [= bagian-bagian Kitab Suci ini (maksudnya Mal 1:3 dan Ro 9:13) menunjuk pada penetapan binasa, tidak kurang dari itu].

Apapun arti yang benar dari kata ‘benci’ di sini, ayat ini tetap menun-jukkan adanya perbedaan sikap Allah kepada Yakub dan kepada Esau. Dari sini dan dari jawaban ‘mustahil’ dalam Ro 9:15 terlihat bahwa ‘adil’ tidak berarti harus bersikap sama rata (bdk. Mat 20:13-15)!

b) Sekarang mari kita melihat bagaimana orang-orang Arminian menafsirkan bagian tentang Yakub dan Esau dalam Ro 9 ini!

Ro 9 menurut Arminian bukanlah pemilihan pribadi untuk diselamatkan tetapi pemilihan nasional / bangsa / kumpulan. Tetapi ini jelas adalah omong kosong yang bodoh, karena Ro 9 ini jelas membicarakan individu-individu, yaitu pemilihan Ishak dan penolakan Ismael (ay 7-9), pemilihan Yakub dan penolakan Esau (ay 10-13). Juga nanti membicarakan peno-lakan Firaun (ay 17), yang juga adalah individu.

Ay 14:

a) Di sini Paulus menanyakan suatu pertanyaan yang ia tahu pasti akan muncul dalam diri orang yang mendengar ajarannya tentang Predestinasi, yaitu: ‘Apakah Allah tidak adil?’.

Adanya pertanyaan ini jelas menunjukkan bahwa doktrin Predestinasi itu memang ajaran Alkitab / Paulus. Kalau doktrin Predestinasi tidak ada, tidak mungkin akan ada pertanyaan tentang keadilan Allah.

Calvin:

"we may observe that this very objection clearly proves, that inasmuch as God elects some and passes by others, the cause is not to be found in anything else but in his own purpose; for if the differences had been based on works, Paul would have to no purpose mentioned this question respecting the unrighteousness of God, no suspicion could have entertained concerning it if God dealt with every one according to his merit" (= kita bisa melihat bahwa keberatan ini secara jelas membuktikan bahwa pada waktu Allah memilih sebagian orang dan melewati / tak memilih lainnya, penyebabnya tidak ada dalam apapun juga selain dalam rencanaNya sendiri; karena jika perbedaan itu didasarkan pada perbuatan, tidak ada gunanya Paulus menyebutkan pertanyaan mengenai ketidakbenaran Allah, tidak ada kecurigaan tentang hal ini yang akan muncul jika Allah memperlakukan setiap orang sesuai dengan jasanya).

Catatan: KJV menterjemahkan ‘tidak adil’ dalam Ro 9:14 ini dengan ‘un-righteousness’ (= ketidakbenaran). Tetapi saya berpendapat bahwa ‘tidak adil’ adalah terjemahan yang lebih tepat.

Sekarang mari kita melihat beberapa komentar Calvin yang lain tentang ayat ini:

b) Adanya keberatan / serangan terhadap doktrin Predestinasi seperti dalam ay 14 ini (dan juga dalam ay 19) tidak membuat Paulus lalu tidak mengajarkan doktrin ini. Seharusnya hal ini ditiru oleh pengajar-pengajar jaman sekarang, karena kalau semua pengajar takut mengajarkan kebenaran ini, maka kebenaran ini akan hilang, dan akan makin sukar orang menerimanya.

Ay 15:

a) Hubungan ay 15 dengan ay 14.

Pada akhir ay 14 Paulus menjawab pertanyaan dalam ay 14 itu dengan kata ‘mustahil’, dan ia lalu melanjutkan dengan memberikan ay 15.

Kalau memang Yakub / Esau dipilih / ditolak karena perbuatan mereka yang sudah lebih dulu dilihat oleh Allah, maka di sinilah tempat yang terbaik untuk menjelaskan hal itu. Paulus seharusnya berkata: ‘Kok bisa Allah tidak adil? Ia memilih Yakub karena sudah melihat lebih dulu bahwa Yakub akan menjadi baik. Ia menolak Esau karena sudah melihat lebih dulu bahwa Esau bakal bejat’. Tetapi ternyata Paulus tidak berkata demikian. Sebaliknya ia menekankan hak Allah dalam memberi atau menahan belas kasihan (ay 15-18).

Calvin:

"It may indeed appear a frigid defence that God is not unjust, because he is merciful to whom he pleases; but as God regards his own authority alone as abundantly sufficient, so that he needs the defence of none, Paul thought it enough to appoint him the vindicator of his own right" (= Memang keli-hatannya suatu pembelaan yang kaku / dingin bahwa Allah itu bukannya tidak adil karena Ia berbelaskasihan kepada siapa yang dikehendakiNya; tetapi karena Allah menganggap otoritasNya sendiri saja sudah sangat cukup, sehingga Ia tidak membutuhkan pembelaan dari siapapun, Paulus menganggapnya cukup untuk mengangkatNya sebagai pembela dari hakNya sendiri).

b) Ay 15 ini dikutip secara hurufiah dari Kel 33:19 versi Septuaginta / LXX (Perjanjian Lama berbahasa Yunani).

Dalam Kel 33:19 digunakan 2 kata kerja:

Kedua kata ini menunjukkan bahwa manusia yang dipilih itu sudah jatuh ke dalam dosa, karena mereka membutuhkan kemurahan hati / belas kasihan. Jadi bagian ini jelas mendukung Infralapsarianisme.

Ay 16:

a) ‘tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang’.

Ro 9:16 versi KJV yang menterjemahkan ayat ini secara hurufiah:

"So then it is not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that sheweth mercy" [= Jadi hal itu bukanlah dari dia yang mau, bukan juga dari dia yang berlari (maksudnya ‘berusaha’), tetapi dari Allah yang menunjuk-kan belas kasihan].

Jadi, kata yang diterjemahkan ‘usaha’, secara hurufiah adalah ‘running’ (= berlari). Dalam Kitab Suci, kata ‘lari’ sering menunjuk pada ‘usaha manu-sia’ (bdk. 1Kor 9:24,26 Gal 2:2 Gal 5:7 Ibr 12:1).

Editor dan penterjemah Calvin’s Commentary tentang surat Roma, yaitu John Owen, memberikan catatan kaki yang menarik dengan mengatakan bahwa istilah ‘willing’ dan ‘running’ didapatkan dari sejarah Esau. Sia-sia Esau menginginkan berkat, sia-sia ia berlari untuk mendapatkan daging buruan bagi ayahnya (Kej 27:1-5,30-40). John Owen lalu mengutip kata-kata Turretin:

"‘In vain,’ says Turretin, ‘did Esau seek the blessing. In vain did Isaac hasten to grant it and in vain did Esau run to procure venison for his father; neither the father’s willingness nor the running of the son availed anything; God’s favour overruled the whole’" (= ‘Sia-sia,’ kata Turretin, ‘Esau mencari berkat. Sia-sia Ishak bergegas untuk memberikannya dan sia-sia Esau ber-lari untuk mendapatkan daging buruan / rusa untuk ayahnya; kemauan sang ayah maupun berlarinya sang anak tidak ada gunanya sama sekali; kemurahan / kebaikan hati Allah mengesampingkan / mengalahkan selu-ruhnya’).

John Owen melanjutkan:

"Isaac’s ‘willingness’ to give the blessing to Esau, notwithstanding the announcement made at his birth, and Rebecca’s conduct in securing it to Jacob, are singular instances of man’s imperfections, and of the overruling power of God. Isaac acted as though he had forgotten what God had expressed as his will; and Rebecca acted as though God could not effect his purpose without her interference, and an interference, too, in a way highly improper and sinful. It was the trial of faith, and the faith of both halted exceedingly; yet the purpose of God was still fulfilled, but the improper manner in which it was fulfilled was afterwards visited with God’s displeasure" (= Kemauan Ishak untuk memberikan berkat kepada Esau meskipun ada pemberitahuan yang diberikan pada saat kelahirannya, dan kelakuan Ribka untuk memastikan berkat itu bagi Yakub, merupakan contoh yang luar biasa tentang ketidak-sempurnaan manusia, dan tentang kuasa Allah yang mengesampingkan / mengalahkan. Ishak bertindak seakan-akan ia telah lupa apa yang Allah nyatakan sebagai kehendakNya; dan Ribka bertindak seakan-akan Allah tidak bisa melaksanakan rencanaNya tanpa campur tangannya, dan ini adalah campur tangan yang sangat tidak tepat dan berdosa. Itu adalah ujian iman, dan iman dari keduanya sangat terputus-putus; tetapi rencana Allah tetap tergenapi, tetapi cara yang tidak tepat melalui mana rencana itu digenapi akhirnya mendapatkan ketidaksenangan Allah).

Pada waktu berkata bahwa pemilihan tidak tergantung pada kehendak / usaha kita, kita harus memperhatikan peringatan dari Luther:

"This does not mean that God’s mercy altogether excludes our willing or running" (= Ini tidak berarti bahwa belas kasihan Allah sama sekali mem-buang kemauan dan usaha / larinya kita).

Maksud Luther adalah: sekalipun pemilihan tidak tergantung pada kehendak atau usaha orang, tetapi itu tidak berarti bahwa kalau Allah sudah memilih seseorang maka orang itu pasti akan selamat sekalipun ia tidak mau dan tidak berusaha. Yang benar adalah: kalau Allah sudah memilih seseorang maka Allah akan bekerja dalam diri orang itu sehingga ia akan mau dan berusaha (bdk. Fil 2:13).

b) ‘tetapi kepada kemurahan hati Allah’.

Ini, sama dengan NIV, kurang tepat terjemahannya. Yang benar adalah terjemahan NASB yang berbunyi: ‘but on God who has mercy’ (= tetapi kepada Allah yang mempunyai belas kasihan). Jadi pemilihan tidak tergantung pada ‘kemurahan hati Allah’, tetapi kepada ‘Allah yang murah hati’.

c) Jadi seluruh ay 16 ini menekankan bahwa pemilihan kita bukan didasar-kan pada kehendak / kemauan orang atau usaha orang, tetapi pada Allah yang mempunyai belas kasihan / kemurahan hati. Ini secara jelas menda-sari sifat unconditional (= tidak bersyarat) dari pemilihan.

Ay 17:

a) Ro 9:17 ini dikutip dari Kel 9:16.

Kel 9:16 - ‘membiarkan engkau hidup’.

Perhatikan juga Kel 9:16 versi-versi bahasa Inggris di bawah ini.

NASB: ‘I have allowed you to remain’ (= Aku telah membiarkan engkau untuk tetap ada).

RSV: ‘have I let you live’ (= Aku telah membiarkan engkau hidup).

NIV: ‘I have raised you up’ (= Aku telah membangkitkan engkau).

KJV: ‘have I raised thee up’ (= Aku telah membangkitkan engkau).

b) Allah membangkitkan Firaun (Ro 9:17).

Kata ‘membangkitkan’ di sini tidak berarti ‘preserved’ (= memelihara / mempertahankan / menjaga supaya tetap hidup), seperti dalam terje-mahan Kitab Suci Indonesia, NASB dan RSV. Juga tentu saja kata ‘mem-bangkitkan’ tidak menunjuk pada tindakan Allah untuk menghidupkan Firaun kembali dari kematian karena ini memang tidak pernah terjadi. Tetapi kata ‘membangkitkan’ menunjuk pada tindakan Allah untuk me-munculkan Firaun ke dalam sejarah.

Catatan: Kel 9:16 versi Septuaginta / LXX memakai ‘preserved’, tetapi pada waktu mengutip Kel 9:16 Paulus mengubahnya menjadi mem-bangkitkan’, karena ini lebih sesuai dengan bahasa Ibrani dari Kel 9:16.

c) Jadi Ro 9:17 ini menunjukkan bahwa Allah memunculkan / melahirkan / menciptakan Firaun untuk menunjukkan kuasaNya sehingga namaNya termasyhur.

Bagaimana dengan munculnya Firaun kuasa Allah bisa terlihat sehingga namaNya termasyhur? Dengan Allah mengeraskan hati Firaun (bdk. ay 18), sehingga ia menolak melepaskan Israel. Dengan demikian Allah bisa memberikan tulah demi tulah dan akhirnya menghancurkan Firaun dan tentaranya di Laut Teberau. Dengan demikian kuasa Allah terlihat dengan jelas, dan nama Allah menjadi termasyhur.

Jadi, adanya reprobate (=orang yang ditentukan binasa) juga bertujuan untuk kemuliaan Allah.

Ay 18:

Ayat ini berbicara tentang ‘menegarkan hati / mengeraskan hati’.

W. G. T. Shedd:

W. G. T. Shedd lalu mengutip Charnoke, dalam bukunya yang berjudul ‘Holiness of God’: "God hardened his heart, by not converting his already hard heart into a heart of flesh" (= Allah mengeraskan hatinya, dengan tidak meng-ubah hatinya yang sudah keras menjadi hati dari daging).

John Murray:

"God is said to do what he permitted. God allowed Pharaoh to harden his own heart but the action of hardening was Pharaoh’s own" (= Allah dikatakan melakukan apa yang Ia ijinkan. Allah mengijinkan Firaun untuk mengeraskan hatinya sendiri tetapi tindakan pengerasan itu adalah tindakan Firaun sendiri).

Ay 19:

a) Sama seperti dalam ay 14 di sini Paulus menanyakan pertanyaan yang ia tahu akan muncul dalam diri orang yang mendengar ajarannya tentang Predestinasi dan kedaulatan Allah yang baru ia ajarkan sampai dengan ay 18.

b) Saya berpendapat bahwa dalam ay 19 ini NIV memberikan terjemahan yang paling jelas artinya, yang berbunyi sebagai berikut: "One of you will say to me: Then why does God still blame us? For who resists his will?" (= Salah satu dari kamu akan berkata kepadaku: Lalu mengapa Allah masih menyalahkan kita? Karena siapa yang menahan / menolak kehendakNya?).

‘Kehendak’ Allah bisa menunjuk kepada salah satu dari 3 hal ini:

Yang dimaksud dengan ‘kehendak’ di sini bukanlah kehendak dalam arti ke 2 atau ke 3, tetapi kehendak dalam arti ‘Rencana Allah yang kekal’. Mengapa? Karena Ro 9:19b itu menunjukkan bahwa kehendak Allah itu tidak bisa ditentang / ditolak. Dengan kata lain kehendak Allah itu pasti terjadi. Sekarang, mengingat bahwa kehendak Allah itu pasti terjadi, dan tidak mungkin ditolak / ditahan / diubah / digagalkan oleh siapapun, si penanya menanyakan: mengapa kita masih disalahkan pada waktu kita berbuat dosa / tidak percaya? Bukankah Allah yang menetapkan semua itu dan karena itu semua itu pasti terjadi? Kesimpulannya: adanya ke-daulatan Allah / penetapan Allah dipakai oleh si penanya untuk meragu-kan adanya tanggung jawab manusia.

Ay 20-21:

a) Dalam ay 20-21 ini terlihat jelas bahwa Paulus berbicara berdasarkan Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama. Tetapi bagian mana dari Perjanjian Lama yang ia gunakan?

Guy Duty, dalam buku ‘Keselamatan bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 116-118, berkata bahwa Paulus menggunakan Yer 18 (bacalah bagian ini dalam Kitab Suci saudara mulai ay 1 sampai ay 12). Guy Duty lalu berkata:

"Di sini, di sumber kutipan Paulus tentang tukang periuk - tanah liat ini, Sang Tukang Periuk menghimbau tanah-liat-Nya agar bertobat dari kejahatan mereka dan mentaati suara-Nya, tetapi si tanah liat yang keras kepala dan pemberontak, menolak tawaran belas kasihan Sang Tukang Periuk dan mengatakan bahwa mereka mau berjalan dalam jalan mereka sendiri dan melakukan kejahatan hati mereka sendiri. Dua kali Sang Tukang Periuk memakai syarat-jikaNya untuk menyelamatkan mereka dari penghukuman yang segera akan jatuh ke atas mereka. Tanah liat ini bukanlah sebuah benda mati. Dengan roh pemberontakannya sendiri, ia menolak syarat-jika-taat-Nya Allah. Bacalah selebihnya sampai akhir kitab Yeremia, bagaimana dengan syarat Allah berurusan dengan mereka; dan anda akan mengerti mengapa mereka disebut ‘benda-benda kemurkaan’. Fakta-fakta ini sebenarnya cukup untuk meyakinkan seorang dengan pikiran yang tak berprasangka, bahwa Paulus, dalam Roma 9 ini, tidak berbicara tentang keselamatan tanpa syarat" (hal 118).

Tetapi Calvin mengatakan bahwa Paulus bukannya menggunakan Yer 18 tetapi Yes 45:9. Beberapa penafsir yang lain menambahkan Yes 29:16, demikian juga catatan kaki dari Kitab Suci Indonesia, tetapi saya berpen-dapat bahwa Yes 45:9 adalah ayat yang paling tepat.

Sekarang pikirkan sendiri siapa yang benar dalam hal ini, Guy Duty atau Calvin? Bacalah sekali lagi Ro 9:19-21, lalu Yer 18:1-12 dan Yes 45:6-12, maka saudara akan melihat dengan jelas bahwa Ro 9:20-21 jauh lebih mirip pada Yes 45:9 dari pada Yer 18:1-12. Untuk mempermudah dalam membandingkan, saya menuliskan ketiga text itu di bawah ini.

Ro 9:20-21 - "Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapa-kah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?".

Yer 18:1-12 - "Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: ‘Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataanKu kepadamu.’ Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: ‘Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tanganKu, hai kaum Israel! Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka. Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mataKu dan tidak mendengarkan suaraKu, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka. Sebab itu, katakanlah kepada orang Yehuda dan kepada penduduk Yerusalem: Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku ini sedang menyiapkan malapetaka terhadap kamu dan merancangkan rencana terhadap kamu. Baiklah kamu masing-masing bertobat dari tingkah langkahmu yang jahat, dan perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu! Tetapi mereka berkata: Tidak ada gunanya! Sebab kami hendak berkelakuan mengikuti rencana kami sendiri dan masing-masing hendak bertindak mengikuti kedegilan hatinya yang jahat.’".

Yes 45:6-12 - "... supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini. Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah TUHAN yang menciptakan semuanya ini.’ Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: ‘Apakah yang kaubuat?’ atau yang telah dibuatnya: ‘Engkau tidak punya tangan!’ Celakalah orang yang berka-ta kepada ayahnya: ‘Apakah yang kauperanakkan?’ dan kepada ibunya: ‘Apakah yang kaulahirkan?’ Beginilah firman TUHAN, Yang Mahakudus, Allah dan Pembentuk Israel: ‘Kamukah yang mengajukan pertanyaan kepa-daKu mengenai anak-anakKu, atau memberi perintah kepadaKu mengenai yang dibuat tanganKu? Akulah yang menjadikan bumi dan yang mencipta-kan manusia di atasnya; tanganKulah yang membentangkan langit, dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya".

Baik Ro 9:20-21 maupun Yes 45:9 mempersoalkan orang yang memban-tah Allah, tetapi tidak demikian dengan Yer 18! Dengan demikian jelas terlihat bahwa pada waktu ia menuliskan Ro 9:20-21 ini, Yes 45:9lah yang ada dalam pikirannya, dan bukannya Yer 18:1-12.

Hal lain yang saudara perlu perhatikan dalam membandingkan text-text ini adalah: Yer 18:1-12 sama sekali tidak cocok untuk menjawab perta-nyaan Paulus dalam Ro 9:19, sedangkan Yes 45:9 itu cocok sekali untuk menjawab pertanyaan dalam Ro 9:19 itu.

Satu hal yang harus diperhatikan dari buku Guy Duty dalam bagian ini adalah bahwa Guy Duty ‘melarikan diri’ dari Ro 9:20-21 ini. Ia mengatakan bahwa Paulus menggunakan Yer 18 sebagai dasar, dan ia lalu membahas Yer 18, tetapi menghindari Ro 9:20-21 ini. Alangkah tidak konsistennya sikap ‘menghindari / melarikan diri’ ini dengan kata-kata Guy Duty sendiri pada waktu ia mulai membahas Ro 9, dimana ia berkata: "Sekarang kita sampai ke surat Roma pasal 9 dan memasuki benteng Agustinus, Calvin, dan para guru Kepastian Keselamatan Kekal. ... Janganlah kita menghindar atau membelokkan sesuatu seperti yang sering mereka lakukan" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 93.

b) Dari jawaban dalam ay 20-21 terlihat bahwa si penanya disalahkan / dihardik karena menanyakan pertanyaan seperti itu. Tetapi beberapa penafsir, termasuk Martin Luther, secara tepat mengatakan bahwa yang disalahkan adalah kalau manusia dengan sikap sombong, jahat, marah, bersungut-sungut mencoba membantah Allah dengan pertanyaan seperti ini. Ini terlihat dari kata ‘membantah’ dalam Ro 9:20 dan juga dari kata ‘berbantah’ dalam Yes 45:9, yang jelas menunjukkan sikap yang tidak benar dalam menanyakan pertanyaan ini.

c) Dalam Ro 9:20-21 ini ada beberapa kontras yang harus diperhatikan yaitu:

Calvin:

"And surely there is no reason for a mortal man to think himself better than earthen vessel, when he compares himself with God" (= Dan memang jelas bahwa tidak ada alasan bagi manusia yang fana untuk berpikir bahwa dirinya sendiri lebih baik dari bejana tanah, pada waktu ia memban-dingkan dirinya sendiri dengan Allah).

Kontras inilah yang menyebabkan manusia tidak berhak untuk memban-tah Allah, bagaimanapun logisnya bantahan itu. Juga kontras ini menye-babkan manusia pantas dikecam pada waktu membantah Allah.

d) ‘mulia’ dan ‘biasa’.

NIV: ‘noble’ (= mulia) dan ‘common’ (= biasa).

NASB: ‘honorable’ (= terhormat) dan ‘common’ (= biasa).

RSV: ‘beauty’ (= cantik / indah) dan ‘menial’ (= kasar / rendah).

KJV: ‘honour’ (= terhormat) dan ‘dishonour’ (= tidak terhormat).

Saya menyetujui terjemahan KJV dengan alasan:

Kecuali dalam 2Tim 2:20 dimana ATIMIA masih memungkinkan diarti-kan sebagai sesuatu yang netral / tidak negatif, maka dalam ayat-ayat yang lain ATIMIA selalu mempunyai arti negatif.

Misalnya:

Karena itu kalau kata pertama diterjemahkan ‘mulia / terhormat’, maka kata kedua tidak boleh sekedar diterjemahkan ‘biasa’, tetapi harus diterjemahkan ‘tidak mulia / tidak terhormat’.

e) Sekarang kita menghubungkan Ro 9:20-21 ini dengan pertanyaan dalam Ro 9:19.

Ada beberapa hal yang bisa didapatkan:

1. Jawaban Paulus terhadap pertanyaan dalam ay 19 tidak akan demi-kian jika:

2. Sebetulnya Paulus tidak menjawab pertanyaan dalam ay 19 itu yaitu bagaimana kedaulatan dan penetapan Allah itu bisa harmonis dengan tanggung jawab manusia. Dengan jawaban dalam ay 20-21 itu, secara tidak langsung ia berkata: ‘Pokoknya Allah sudah menetapkan kedua hal itu (kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia), dan kita ma-nusia tidak berhak membantah’.

Calvin, dalam komentarnya tentang Ro 9:14, berkata sebagai berikut:

"Let this then be our sacred rule, to seek to know nothing concerning it, except what Scripture teaches us: when the Lord closes his holy mouth, let us also stop this way, that we may not go farther" [= Biarlah ini menjadi peraturan kudus kita, berusaha mengetahui hal itu (doktrin Predestinasi) hanya sejauh yang diajarkan oleh Kitab Suci: pada waktu Tuhan menu-tup mulutNya yang kudus, biarlah kita juga berhenti dan tidak pergi lebih jauh].

Kata-kata ini penting kita camkan pada waktu menghadapi hal-hal yang memang tidak dijelaskan oleh Kitab Suci dalam persoalan Pre-destinasi, misalnya bagaimana kedaulatan Allah dan kebebasan ma-nusia bisa ada bersama-sama, juga bagaimana Allah yang suci dan kasih bisa menetapkan dosa dan kebinasaan, dsb.

Ay 22-23:

a) Persamaan ay 20-21 dan ay 22-23:

Tukang periuk (ay 21) = Allah (ay 22).

Benda mulia (ay 21) = benda belas kasihan (ay 23).

Benda tak mulia (ay 21) = benda kemurkaan (ay 22).

b) Calvin tentang ay 22-23.

c) Ada 2 x kata ‘glory’ / ‘kemuliaan’ dalam ay 23 dan ini menunjuk pada ‘belas kasihan Allah’.

d) Guy Duty menggunakan Ro 9:22 versi KJV yang berbunyi:

"What if God, willing to shew his wrath, and to make his power known, endured with much longsuffering the vessels of wrath fitted to destruction".

Oleh penterjemah buku Guy Duty, ini diterjemahkan sebagai berikut:

"Jadi jika Allah, hendak menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemur-kaan-Nya, yang cocok untuk kebinasaan" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 118.

Guy Duty lalu berkata:

"kata ini tidak menyatakan subyek dari kata kerja ini sebagai penyebab" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 118.

"Kata yang diterjemahkan dengan kata ‘cocok’ ini, dalam bahasa Yunani mempunyai ‘bentuk pemakaian Medium (Middle Voice), yang menunjukkan bahwa bejana-bejana kemurkaan itu membuat diri mereka cocok untuk kebinasaan’" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 119.

Tanggapan:

Dua hal di atas ini terlihat misalnya dari Ro 9:11, tentang mana A. T. Robertson sendiri berkata: "Here it is the purpose (prothesis) of God which has worked according to the principles of election" [= Di sini adalah rencana (prothesis) dari Allah yang telah bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip pemilihan] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol IV, hal 382. Juga dua hal itu terlihat dari Ef 1:4, tentang mana A. T. Robert-son berkata: "Definitive statement of God’s elective grace concerning believers in Christ" (= Pernyataan yang pasti tentang kasih karunia pemilihan dari Allah mengenai orang-orang yang percaya kepada Kristus) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol IV, hal 517.

e) Guy Duty juga menghubungkan Ro 9:22-23 ini dengan 2Tim 2:20-21 yang berbunyi:

"Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia".

Catatan:

Kata-kata ‘perabot rumah untuk maksud yang mulia’ oleh KJV diterjemah-kan ‘a vessel unto honour’ (= bejana untuk kehormatan / kemuliaan), dan kata Yunani yang dipakai dalam 2Tim 2:21 ini memang sama dengan kata Yunani yang dipakai dalam Ro 9:21.

Guy Duty lalu menyimpulkan:

"Bejana kemuliaan di sini dihubungkan dengan syarat ‘jika’. Untuk menjadi sebuah bejana yang mulia, seseorang harus menyucikan diri dari segala perkara yang tidak berkenan kepada Sang Tukang Periuk" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 120.

Tanggapan:

Guy Duty tidak bisa melihat bahwa dalam Kitab Suci ada ayat-ayat yang ditinjau dari sudut Allah dan ada ayat-ayat yang ditinjau dari sudut manu-sia. Ro 9:20-23 jelas merupakan ayat-ayat yang ditinjau dari sudut Allah, sedangkan 2Tim 2:20-21 merupakan ayat-ayat yang ditinjau dari sudut manusia, dan karena itu menekankan kewajiban / tanggung jawab manusia.

Ay 24-26:

a) Dari ay 23-24 terlihat bahwa Paulus tahu bahwa ia dan orang kristen Roma adalah orang pilihan. Ini bertentangan dengan kata-kata Pdt. dr. Yusuf B. S. yang berulangkali menyatakan bahwa tidak ada orang yang bisa tahu bahwa dirinya orang pilihan (buku ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 35,36,37).

b) Ay 24 ini menunjukkan bahwa orang-orang pilihan tidak hanya ada dalam kalangan Yahudi tetapi juga dalam kalangan bangsa-bangsa lain / non Yahudi. Ini berpasangan dengan ay 6 yang menyatakan bahwa tidak semua Yahudi adalah orang pilihan.

c) Untuk menunjukkan bahwa pemanggilan orang non Yahudi bukanlah suatu ajaran baru, maka dalam ay 25-26, Paulus lalu memberikan dasar Kitab Suci dari Perjanjian Lama tentang panggilan / pilihan Allah terhadap orang non Yahudi, yaitu dari Hos 2:22 (dalam Kitab Suci Inggris Hos 2:23) dan Hos 1:10.

Ay 27-29:

Sekarang Paulus kembali pada apa yang sudah ia bicarakan dalam ay 6, yaitu bahwa tidak semua orang Yahudi adalah orang pilihan, tetapi sekarang ia bahkan menambahkan bahwa hanya ada sedikit orang Yahudi yang adalah orang pilihan.

Ay 30-33:

Sekarang Paulus mulai berganti haluan. Dari tadi (mulai ay 6) ia meninjau dari sudut Allah. Dan dari sudut Allah, seseorang tidak percaya dan tidak selamat karena Allah tidak memilihnya. Sekarang, mulai ay 30, Paulus menyorotinya dari sudut manusia, dan menunjukkan bahwa mereka tidak selamat karena tidak beriman.

Tetapi Guy Duty yang tidak mempedulikan dari sudut mana suatu ayat harus diperhatikan, menafsirkan bagian ini secara kacau balau.

Guy Duty:

"Ikutilah Paulus dengan menyelesaikan seluruh Roma 9, dan dapatkanlah pemikirannya yang lengkap. Jangan berhenti pada ayat 23 seperti halnya para ekspositor Kepastian Keselamatan Kekal, karena dalam ayat-ayat 30-33 Paulus mengembangkan pikirannya dan memperjelas pokok tentang bejana-bejana belas kasihan dan kemurkaan itu" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 120.

Guy Duty lalu mengutip Ro 9:30-33, dan lalu melanjutkan:

"Kata-kata iman dan kebenaran (righteousness - KJV) sangat menonjol dalam teks-teks ini. Tanah liat bangsa-bangsa lain ‘telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman’. Tetapi tanah liat Israel tidak sampai pada kebenaran itu. Dan Paulus bertanya: ‘Mengapa tidak?’ Apakah mereka telah dipredesti-nasikan untuk tidak mencapainya? Paulus menjawab: ‘Karena Israel menge-jarnya bukan karena iman ... Mereka tersandung pada batu sandungan’" - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 120.

Kalau penafsiran Guy Duty ini benar, berarti Paulus menghancurkan / me-nentang sendiri apa yang ia ajarkan sejak ay 6 tentang Predestinasi!

Calvin:

"That he might cut off from the Jews every occasion of murmuring against God, he now begins to show those causes, which may be comprehended by human minds, why the Jewish nation had been rejected. But they do what is absurd and invert all order, who strive to assign and set up causes above the secret pre-destination of God, which he has previously taught us is to be counted as the first cause" (= Supaya ia bisa membuang semua alasan untuk bersungut-sungut terhadap Allah, sekarang ia mulai menunjukkan penyebab-penyebab, yang bisa dimengerti oleh pikiran manusia, mengapa bangsa Yahudi telah ditolak. Tetapi mereka melakukan apa yang menggelikan dan terbalik, yang berjuang meng-angkat dan mendirikan penyebab-penyebab di atas predestinasi yang bersifat rahasia dari Allah, yang sebelumnya telah ia ajarkan kepada kita sebagai pe-nyebab pertama).

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com