(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 12 Januari 2020, pk 08.00 & 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Bil 23:13-26
- “(13)
Lalu Balak berkata kepadanya: ‘Baiklah pergi bersama-sama dengan aku ke
tempat lain, dan dari sana engkau dapat melihat bangsa itu; engkau akan
melihat hanya bagiannya yang paling ujung, tetapi seluruhnya tidak akan
kaulihat; serapahlah mereka dari situ bagiku.’ (14) Lalu dibawanyalah dia ke
Padang Pengintai, ke puncak gunung Pisga; ia mendirikan tujuh mezbah dan
mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap
mezbah itu. (15) Kemudian berkatalah ia kepada Balak: ‘Berdirilah di sini di
samping korban bakaranmu, sedang aku hendak bertemu dengan TUHAN di situ.’
(16) Lalu TUHAN menemui Bileam dan menaruh perkataan ke dalam mulutnya, dan
berfirman: ‘Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.’ (17) Ketika
ia sampai kepadanya, Balak masih berdiri di samping korban bakarannya
bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. Berkatalah Balak kepadanya: ‘Apakah
yang difirmankan TUHAN?’ (18) Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya:
‘Bangunlah, hai Balak, dan dengarlah; pasanglah telingamu mendengarkan aku,
ya anak Zipor. (19) Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak
manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya,
atau berbicara dan tidak menepatinya? (20) Ketahuilah, aku mendapat perintah
untuk memberkati, dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat
membalikkannya. (21) Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub,
dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel. TUHAN, Allah mereka,
menyertai mereka, dan sorak-sorak karena Raja ada di antara mereka. (22)
Allah, yang membawa mereka keluar dari Mesir, adalah bagi mereka seperti
tanduk kekuatan lembu hutan, (23) sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap
Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan
dikatakan kepada Yakub, begitu juga kepada Israel, keajaiban yang diperbuat
Allah: (24) Lihat, suatu bangsa, yang bangkit seperti singa betina, dan yang
berdiri tegak seperti singa jantan, yang tidak membaringkan dirinya, sebelum
ia memakan mangsanya dan meminum darah dari yang mati dibunuhnya.’ (25) Lalu
berkatalah Balak kepada Bileam: ‘Jika sekali-kali tidak mau engkau
menyerapah mereka, janganlah sekali-kali memberkatinya.’ (26) Tetapi Bileam
menjawab Balak: ‘Bukankah telah kukatakan kepadamu: Segala yang akan
difirmankan TUHAN, itulah yang akan kulakukan.’”.
1)
Pindah ke tempat yang lain.
Ay 13-14: “(13)
Lalu Balak berkata kepadanya: ‘Baiklah pergi bersama-sama dengan aku ke tempat
lain, dan dari sana engkau dapat melihat bangsa itu; engkau akan melihat hanya
bagiannya yang paling ujung, tetapi seluruhnya tidak akan kaulihat; serapahlah
mereka dari situ bagiku.’ (14) Lalu dibawanyalah dia ke Padang Pengintai, ke
puncak gunung Pisga; ia mendirikan tujuh mezbah dan mempersembahkan seekor lembu
jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu.”.
Calvin: “Balak,
therefore, removes his sorcerer to another place, that there he might the better
exercise his divinations. There is some ambiguity in the words. Some render them
thus, ‘Come to another place, that thou mayest see from thence, mayest see a
part, and not the whole,’ as if Balak feared that the multitude itself
frightened Balaam, or diminished the power of his incantations. Their opinion,
however, is the more probable, who take the verb see,
where it is used the second time, in the perfect tense, so that the sense
is, ‘Come to a place where thou mayest behold them; for as yet thou hast not
seen the whole, but only a part;’ for we know how common a thing with the
Hebrews is such an employment of one tense for another.”
[= Karena itu, Balak memindahkan penyihirnya ke tempat yang lain, supaya di sana
ia bisa menggunakan sihirnya dengan lebih baik. Ada keraguan arti dalam
kata-kata ini. Sebagian orang menterjemahkan kata-kata ini demikian,
‘Datanglah ke tempat lain, supaya engkau bisa melihat dari sana, bisa melihat
sebagian, dan bukan seluruhnya’ seakan-akan Balak takut bahwa banyaknya
orang-orang itu membuat Bileam menjadi takut, atau mengurangi kuasa dari
manteranya. Tetapi pandangan mereka lebih memungkinkan, yang menganggap kata
kerja ‘melihat’ dimana kata itu digunakan untuk kedua-kalinya, dalam perfect tense, sehingga artinya adalah, ‘Datanglah ke suatu tempat
dimana engkau bisa melihat mereka; karena engkau belum melihat seluruhnya tetapi
hanya sebagian’; karena kita tahu betapa umum bagi orang-orang Ibrani untuk
menggunakan satu tensa untuk tensa yang lain.].
Tetapi
baik Kitab Suci Indonesia maupun KJV/RSV/NIV/NASB/ASV kelihatannya memilih arti
pertama, yang bukan merupakan arti yang dipilih oleh Calvin. Demikian juga
Matthew Henry kelihatannya mengambil pandangan pertama.
Tetapi,
yang manapun pandangan yang benar, yang jelas adalah: Balak mencari tempat lain,
seakan-akan dari tempat baru itu Tuhan akan mengubah sikap, dan mau mengutuk
Israel, atau mau mengijinkan Bileam mengutuk Israel.
Matthew
Henry menganggap ini sebagai usaha yang tidak henti-hentinya dari musuh-musuh
gereja dalam menyerang gereja. Dan ia berharap kita juga mempunyai sikap yang
sama dalam usaha kita memuliakan Allah.
Matthew
Henry: “See
how restless and unwearied the church’s enemies are in their malicious
attempts to ruin it; they leave no stone unturned, no project untried, to
compass it. O that we were as full of contrivance and resolution in prosecuting
good designs for the glory of God!” [= Lihatlah betapa tanpa
istirahat dan dengan tidak bosan-bosannya musuh-musuh gereja dalam usaha jahat
mereka untuk menghancurkan gereja; mereka tidak membiarkan satu batupun tidak
dibalikkan, tidak membiarkan satu proyekpun tidak dicobai, untuk mengepungnya.
Oh, seandainya kita sama penuhnya dengan rencana dan keputusan dalam
melaksanakan rancangan-rancangan yang baik untuk kemuliaan Allah!].
2)
Firman Tuhan kepada Balak melalui Bileam (ay 19-23).
a)
Ay 19:
“Allah bukanlah manusia, sehingga Ia
berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan
tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.
Catatan:
bahwa ayat ini mempertentangkan ‘Allah’ dan ‘manusia’ merupakan salah
satu alasan yang membuat saya beranggapan bahwa ‘Allah’ adalah ‘jenis
makhluk’! Dan kalau ‘Allah’ adalah ‘jenis
makhluk’ maka ‘Anak Allah’ adalah ‘Allah’! Karena
itu jangan ubah gelar ‘Anak Allah’ dari Yesus menjadi ‘Anak Tuhan’!!!
Juga kalau gelar ‘Anak
Manusia’ dari Yesus menunjukkan Ia sebagai manusia, maka gelar
‘Anak Allah’ dari Yesus harus menunjukkan Ia sebagai Allah!
Ini
merupakan jawaban terhadap pemikiran Balak, bahwa Allah bisa mengubah sikap dari
‘memberkati Israel’ menjadi ‘mengutuk Israel’. Jadi, Allah menjawab
dengan menekankan bahwa Ia tidak mungkin menyesal / mengubah pemikiran /
keputusanNya.
Berkenaan
dengan Allah menyesal atau tidak menyesal, ada dua kelompok ayat yang
kelihatannya saling bertentangan.
1.
Kelompok ayat yang menunjukkan ‘Allah menyesal’.
Kej
6:6-7 - “(6)
maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan
hal itu memilukan hatiNya. (7)
Berfirmanlah TUHAN: ‘Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu
dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan
burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan
mereka.’”.
2Sam 24:16
- “Ketika
malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka
menyesallah TUHAN karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat
yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: ‘Cukup! Turunkanlah sekarang
tanganmu itu.’ Pada waktu itu malaikat TUHAN itu ada dekat tempat pengirikan
Arauna, orang Yebus.”. Bdk. 1Taw 21:15.
Maz 106:45
- “Ia ingat akan perjanjianNya
karena mereka, dan menyesal sesuai dengan kasih setiaNya yang besar.”.
Yer 18:8
- “Tetapi
apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari
kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan
malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka.”.
Yer 26:3
- “Mungkin mereka mau
mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat,
sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap
mereka oleh karena perbuatan-perbuatan mereka yang jahat.”.
Yer 26:13
- “Oleh sebab itu, perbaikilah
tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu,
sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkanNya atas kamu.”.
Yer 26:19
- “Apakah Hizkia, raja Yehuda,
beserta segenap Yehuda membunuh dia? Tidakkah ia takut akan TUHAN, sehingga ia
memohon belas kasihan TUHAN, agar TUHAN menyesal akan malapetaka yang
diancamkanNya atas mereka? Dan kita, maukah kita mendatangkan malapetaka yang
begitu besar atas diri kita sendiri?’”.
Yer
42:10 - “Jika kamu tinggal tetap di
negeri ini, maka Aku akan membangun dan tidak akan meruntuhkan kamu, akan
membuat kamu tumbuh dan tidak akan mencabut kamu; sebab Aku menyesal
telah mendatangkan malapetaka kepadamu.”.
Yoel
2:13 - “Koyakkanlah hatimu dan jangan
pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena
hukumanNya.”.
Yoel 2:14
- “Siapa tahu, mungkin Ia mau
berbalik dan menyesal, dan ditinggalkanNya berkat, menjadi korban sajian dan
korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.”.
Amos 7:3,6
- “(3)
Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. ‘Itu tidak akan terjadi,’
firman TUHAN. ... (6) Maka menyesallah TUHAN karena hal itu. ‘Inipun
tidak akan terjadi,’ firman Tuhan ALLAH.”.
Yunus 3:9
- “Siapa tahu, mungkin Allah
akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murkaNya yang bernyala-nyala
itu, sehingga kita tidak binasa.’”.
Yunus 4:2
- “Dan berdoalah ia kepada
TUHAN, katanya: ‘Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di
negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku
tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang
sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka
yang hendak didatangkanNya.”.
Dalam
kelompok ini ada text yang ‘paling extrim’ dalam menggambarkan ‘Allah
menyesal’, yaitu Kel 32:10-14 - “(10)
Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murkaKu bangkit terhadap mereka dan Aku
akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang
besar.’ (11) Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan
berkata: ‘Mengapakah, TUHAN, murkaMu bangkit terhadap umatMu, yang telah
Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan
yang kuat? (12) Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar
dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung
dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murkaMu yang
bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan
kepada umatMu. (13) Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hambaMu
itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diriMu sendiri dengan
berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di
langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada
keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.’ (14) Dan menyesallah
TUHAN karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatNya.”.
2.
Kelompok ayat yang menunjukkan ‘Allah tidak menyesal’.
Bil
23:19 - “Allah bukanlah manusia,
sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia
berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.
Maz 110:4
- “TUHAN telah bersumpah, dan Ia
tidak akan menyesal: ‘Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut
Melkisedek.’”.
Yeh 24:14
- “Aku, TUHAN, yang
mengatakannya. Hal itu akan datang, dan Aku yang akan membuatnya. Aku tidak
melalaikannya dan tidak merasa sayang, juga tidak menyesal. Aku akan
menghakimi engkau menurut perbuatanmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.’”.
Zakh
8:14 - “Sebab beginilah firman TUHAN
semesta alam: ‘Kalau dahulu Aku telah bermaksud mendatangkan malapetaka kepada
kamu, ketika nenek moyangmu membuat Aku murka, dan Aku tidak menyesal,
firman TUHAN semesta alam,”.
Ibr 7:21
- “tetapi Ia dengan sumpah,
diucapkan oleh Dia yang berfirman kepadaNya: ‘Tuhan telah bersumpah dan Ia
tidak akan menyesal: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya’ -”.
Seakan-akan
untuk menambah kerumitan dari hal ini, ada satu pasal dimana ‘Allah
menyesal’ dan ‘Allah tidak menyesal’ muncul secara bergantian, sehingga
seakan-akan terjadi suatu kontradiksi dalam satu pasal.
1Sam 15:10-11,29,35
- “(10)
Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian: (11) ‘Aku menyesal,
karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan
tidak melaksanakan firmanKu.’ Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru
kepada TUHAN semalam-malaman. ... (29) Lagi Sang
Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan
manusia yang harus menyesal.’ ... (35)
Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel
berdukacita karena Saul. Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul
raja atas Israel.”.
Kita
tidak boleh menganggap kedua kelompok ayat ini sebagai kontradiksi, dan kita
juga tidak boleh mengambil hanya satu kelompok saja dan mengabaikan kelompok
yang lain, karena kedua kelompok ayat adalah sama-sama Firman Tuhan.
Secara
sama ada kelompok ayat yang menunjukkan Yesus sebagai manusia, dan kelompok yang
lain yang menunjukkan Yesus sebagai Allah. Tidak ada kelompok ayat yang boleh
diabaikan, sehingga kita harus menarik ajaran bahwa Yesus adalah Allah dan
manusia, satu Pribadi dan dua hakekat, ilahi dan manusia.
Dan
ada kelompok ayat yang menekankan keesaan Allah, dan ada kelompok ayat yang
seakan-akan menunjukkan kejamakan Allah. Lagi-lagi tak boleh ada kelompok ayat
yang diabaikan. Kita harus menyimpulkan Allah itu 3 Pribadi, tetapi 1 Hakekat.
Jadi ini mendasari doktrin Allah Tritunggal!
Juga
dalam kasus Allah menyesal atau tidak, kita tidak boleh hanya mengambil satu
kelompok dan mengabaikan kelompok yang lain.
Kalau
kita mengambil pandangan Arminian, yang menganggap Allah bisa mengubah
rencanaNya, maka pertama, kita menabrak kelompok ayat yang satunya yang
menunjukkan Allah tidak menyesal. Kedua, kita akan bertentangan dengan banyak
ayat lain yang menunjukkan bahwa rencana Allah itu tidak akan berubah ataupun
gagal, seperti:
·
Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku
tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu
yang gagal.”.
·
Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa;
Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap
selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.”.
·
Yes 14:24,26-27 - “(24) TUHAN semesta alam telah bersumpah,
firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi,
dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah
rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang
teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang,
siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang
dapat membuatnya ditarik kembali?”.
·
Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan
Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan
kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib
yang telah ada sejak dahulu.”.
·
Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah
menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang
Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu
menjadi timbunan batu,”.
·
Yes 43:13
- “Juga
seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku
melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?”.
·
Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang
kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu
akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil
burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang
jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah
merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.”.
·
Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit
di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah
merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.’”.
Catatan:
jadi hati-hati terhadap pandangan populer yang mengatakan bahwa Allah
menempatkan Adam dan Hawa di Taman Eden dan rencanaNya adalah mereka akan terus
hidup di sana. Tetapi mereka jatuh dalam dosa, sehingga rencana Allah gagal, dan
Allah lalu mengubah rencanaNya. Ajaran seperti ini sama sekali tidak Alkitabiah
dan salah, karena menentang semua ayat-ayat di atas ini. Rencana Allah memang
adalah supaya Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, tetapi pada saat yhg sama Allah
juga merencanakan penebusan dosa manusia melalui Yesus Kristus!
Tetapi
sebaliknya, kalau kita mengambil pandangan Calvinisme / Reformed, yang
menganggap Allah tidak mungkin mengubah rencanaNya, bukankah kita menabrak
kelompok ayat yang lain yang menunjukkan bahwa ‘Allah menyesal’? Lalu
bagaimana menjelaskannya / mengharmoniskannya?
a.
Istilah ‘Allah menyesal’ merupakan bahasa Anthropopathy.
Kitab
Suci sering menggunakan bahasa Anthropomorphism (bahasa yang menggambarkan
Allah seakan-akan Ia adalah manusia) dan Anthropopathy (bahasa yang
menggambarkan Allah dengan perasaan-perasaan manusia). Bahasa-bahasa ini harus /
terpaksa digunakan, karena tanpa ini kita tidak bisa berbicara apapun tentang
Allah!
Kalau
Kitab Suci menggunakan bahasa Anthropomorphism, maka tidak boleh diartikan
betul-betul demikian.
Misalnya
pada waktu dikatakan ‘tangan Allah tidak kurang
panjang’ (Yes
59:1), atau pada waktu dikatakan ‘mata
TUHAN ada di segala tempat’
(Amsal 15:3), ini tentu tidak berarti bahwa Allah betul-betul mempunyai
tangan / mata. Ingat bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa Allah adalah Roh (Yoh 4:24).
Bahwa roh tidak mempunyai tangan, kaki, daging dan tulang terbukti dari text
ini:
Luk
24:37-40 - “(37)
Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu
(roh). (38) Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu terkejut dan
apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? (39) Lihatlah tanganKu
dan kakiKu: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu
(roh) tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada
padaKu.’ (40) Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan
dan kakiNya kepada mereka.”.
Catatan:
kata ‘hantu’ seharusnya adalah ‘roh’. Kata bahasa Yunani yang digunakan
adalah PNEUMA!
Contoh
lain adalah Kel 31:17b - “sebab
enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh
Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.’”.
NIV menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia, tetapi KJV, RSV, NASB
menterjemahkan secara berbeda.
KJV:
‘for in six days the LORD made heaven and earth, and on the seventh day
he rested, and was refreshed’
[= karena dalam enam hari TUHAN membuat langit dan bumi, dan pada hari ketujuh
Ia beristirahat, dan segar kembali].
Jelas
bahwa kita tidak bisa menafsirkan ayat ini ‘apa adanya’ dan lalu mengatakan
bahwa Allahnya betul-betul capek / loyo setelah bekerja berat selama enam hari,
dan lalu setelah beristirahat pada hari yang ketujuh, Ia menjadi segar kembali
dan pulih kekuatanNya! Ayat ini hanya menggambarkan
Allah seakan-akan Ia adalah manusia,
yang bisa letih, membutuhkan istirahat, dan bisa segar kembali.
Demikian
juga pada waktu Kitab Suci menggunakan Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan
Allah menggunakan perasaan-perasaan manusia), maka kita tidak boleh mengartikan
bahwa Allahnya betul-betul seperti itu. Contohnya adalah ayat-ayat yang
menunjukkan ‘Allah menyesal’ ini.
Keil
& Delitzsch (tentang Bil 23:20):
“The
unchangeableness of the divine purposes is a necessary consequence of the
unchangeableness of the divine nature. With regard to His own counsels, God
repents of nothing; but this does not prevent the repentance of God, understood
as an anthropopathic expression, denoting the pain experienced by the love
of God, on account of the destruction of its creatures (see at Gen. 6:6, and Ex.
32:14).” [= Ketidak-bisa-berubahan dari
rencana-rencana ilahi merupakan suatu konsekwensi yang harus ada dari
ketidak-bisa-berubahan dari hakekat ilahi. Berkenaan dengan rencanaNya sendiri,
Allah tidak menyesali apapun; tetapi ini tidak menghalangi ‘pertobatan /
perubahan dari Allah’, dimengerti sebagai suatu ungkapan yang bersifat
anthropopathy, menunjukkan rasa sakit yang dialami oleh kasih Allah, karena
penghancuran dari makhluk-makhluknya (lihat Kej 6:6, dan Kel 32:14).].
Perlu
juga saudara ingat bahwa manusia bisa menyesal, karena ia tidak maha tahu.
Misalnya, seorang laki-laki melihat seorang gadis dan ia menyangka gadis itu
seorang yang layak ia peristri. Tetapi setelah menikah, barulah ia tahu akan
adanya banyak hal jelek dalam diri istrinya itu yang tadinya tidak ia ketahui.
Ini menyebabkan ia lalu menyesal telah memperistri gadis itu.
Tetapi
Allah itu maha tahu, sehingga dari semula Ia telah tahu segala sesuatu yang
akan terjadi. Karena itu tidak mungkin Ia bisa menyesal!
Kalau
Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menyesal karena terjadinya sesuatu hal, maka
maksudnya hanyalah menunjukkan bahwa hal itu tidak menyenangkan Allah. Calvin
mengatakan bahwa ‘Allah menyesal’ hanya menunjukkan perubahan tindakan.
Calvin:
“Now the mode of accommodation
is for him to represent himself to us not as he is in himself, but as he seems
to us. Although he is beyond all disturbance of mind, yet he testifies that he
is angry toward sinners. Therefore whenever we hear that God is angered, we
ought not to imagine any emotion in him, but rather to consider that this
expression has been taken from our human experience; because God, whenever he is
exercising judgment, exhibits the appearance of one kindled and angered. So we
ought not to understand anything else under the word ‘repentance’ than
change of action, ...”
[= Cara penyesuaian itu adalah dengan menyatakan diriNya sendiri kepada kita
bukan sebagaimana adanya Ia dalam diriNya sendiri, tetapi seperti Ia terlihat
oleh kita. Sekalipun Ia ada di atas segala gangguan pikiran, tetapi Ia memberi
kesaksian bahwa Ia marah kepada orang-orang berdosa. Karena itu setiap saat kita
mendengar bahwa Allah marah, kita tidak boleh membayangkan adanya emosi apapun
dalam Dia, tetapi menganggap bahwa pernyataan ini diambil dari pengalaman
manusia; karena Allah, pada waktu Ia melakukan penghakiman, menunjukkan diri
seperti seseorang yang marah. Demikian juga kita tidak boleh mengartikan apapun
yang lain terhadap kata ‘penyesalan’ selain perubahan tindakan, ...] - ‘Institutes
of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 13.
Calvin
(tentang Kel 32:12):
“When,
therefore, it is said a little further on that ‘the Lord repented of the
evil,’ it is tantamount to saying, that He was appeased; not because He
retracts in Himself what He has once decreed, but because He does not execute
the sentence He had pronounced.” [= Karena itu, pada
waktu selanjutnya dikatakan bahwa ‘Tuhan menyesal karena malapetaka,’, itu
sama dengan berkata, bahwa Ia ditenangkan / diredakan kemarahanNya; bukan karena
Ia menarik / mencabut dalam diriNya apa yang pernah Ia tetapkan, tetapi karena
Ia tidak melaksanakan keputusan yang telah Ia umumkan.].
b.
Pada waktu Kitab Suci mengatakan ‘Allah menyesal’ maka itu berarti
bahwa hal itu ditinjau dari sudut pandang manusia.
Catatan:
ini tetap berlaku, sekalipun yang mengucapkan kata-kata itu adalah Allah
sendiri, seperti dalam 1Sam 15:10-11. Allah yang mengucapkan kata-kata itu,
tetapi dalam mengucapkan, Ia menyesuaikan kata-kataNya dengan manusia yang
terbatas.
Illustrasi:
Ada seorang sutradara yang menyusun naskah untuk sandiwara, dan ia juga
sekaligus menjadi salah satu pemain sandiwara tersebut. Dalam sandiwara itu
ditunjukkan bahwa ia mau makan, tetapi tiba-tiba ada telpon, sehingga ia lalu
tidak jadi makan. Dari sudut penonton, pemain sandiwara itu berubah pikiran /
rencana. Tetapi kalau ditinjau dari sudut naskah / sutradara, ia sama sekali
tidak berubah dari rencana semula, karena dalam naskah sudah direncanakan bahwa
ia mau makan, lalu ada telpon, lalu ia mengubah rencana / pikirannya, dsb.
Pada
waktu Kitab Suci berkata ‘Allah menyesal’ maka memang dari sudut pandang
manusia, Allahnya menyesal / mengubah rencanaNya. Tetapi dari sudut pandang
Allah / Rencana Allah, sebetulnya tidak ada perubahan, karena semua perubahan /
penyesalan itu sudah direncanakan oleh Allah.
Adam
Clarke (tentang Kel 32:14):
“‘And
the Lord repented of the evil.’ This is spoken merely after the manner of
men who, having formed a purpose, permit themselves to be diverted from it
by strong and forcible reasons, and so change their minds relative to their
former intentions.”
[= ‘Dan Tuhan menyesal atas malapetaka’. Ini dikatakan semata-mata
menurut cara manusia yang, setelah membentuk suatu rencana / tujuan,
mengijinkan diri mereka sendiri untuk menyimpang darinya oleh alasan-alasan yang
kuat dan memaksa, dan dengan demikian mengubah pikiran mereka dibandingkan
dengan maksud-maksud mereka yang terdahulu.].
Catatan:
Adam Clarke adalah orang Arminian garis keras, tetapi ia adalah orang
terpelajar, dan dalam hal ini ia memberi penafsiran yang benar. Biarlah
orang-orang Arminian krucukan / rendahan belajar dari dia dalam menafsirkan ayat
tentang ‘Allah menyesal’ ini!
Kesimpulan:
kelompok ayat yang mengatakan ‘Allah menyesal’ menggunakan bahasa
Anthropopathy, yang tidak bisa ditafsirkan apa adanya, dan juga menyoroti dari
sudut pandang manusia. Sedangkan kelompok ayat yang mengatakan ‘Allah tidak
menyesal’ menyoroti dari sudut pandang Allah / rencana Allah, dan jelas bahwa ini yang benar-benar merupakan fakta!
Pembahasan
ini penting untuk bisa kita gunakan menghadapi pandangan Arminian /
non Reformed, yang seringkali hanya berbekal satu atau dua ayat tentang
‘Allah menyesal’ lalu menganggap bahwa Allah bisa mengubah rencanaNya.
Juga
doktrin ini bisa menjadi penghiburan bagi kita / orang-orang percaya pada waktu
kita mengalami penderitaan, serangan setan, bahkan kejatuhan ke dalam dosa. Pada
saat seperti itu mungkin kita merasa frustrasi, dan merasa Allah tidak mengasihi
kita lagi. Tetapi kita harus mengingat doktrin ini. Kalau kita memang adalah
orang percaya maka kita adalah orang pilihan, karena orang non pilihan tidak
mungkin bisa percaya dengan sungguh-sungguh. Dan baik bencana, penderitaan,
serangan setan, kegagalan, bahkan dosa-dosa kita tidak akan pernah mengubah
rencana Allah dalam hal keselamatan kita, atau dalam hal-hal lain apapun. Ia
tidak akan pernah menyesal dalam hal memilih kita, atau dalam rencanaNya yang
manapun tentang diri kita!
Sebagai
contoh, Abraham direncanakan untuk menurunkan bangsa yang besar, dan juga
menurunkan Mesias. Tetapi ia jatuh ke dalam dosa dengan menuruti usul Sara
dengan menikahi Hagar sehingga menurunkan Ismael. Apakah ini menyebabkan Allah
betul-betul menyesal dan mengubah rencanaNya berkenaan dengan Abraham? Sama
sekali tidak.
Lalu Yakub juga jatuh ke dalam dosa dengan menipu Ishak, dan juga melakukan
poligami. Apakah Allah betul-betul menyesal, rencana Allah menjadi gagal karena
hal-hal itu? Sama sekali tidak!
Demikian
juga Daud, dalam kejatuhannya dengan Batsyeba. Bahkan dalam kasus Daud, justru
anak kedua dengan Batsyeba (anak pertama dibunuh oleh Tuhan) yang adalah Salomo,
menjadi anak yang menurunkan Mesias!!!
Jadi
demikian juga dengan saudara. Kalau Ia memang memilih saudara, dan mempunyai
suatu rencana yang indah tentang diri saudara, Ia tidak akan pernah menyesal dan
mengubah rencanaNya, tidak peduli ada bencana, penderitaan, serangan setan,
kegagalan-kegagalan dan bahkan dosa-dosa dalam hidup saudara! Ini
bukan ijin untuk boleh berdosa seenaknya! Saudara tetap harus
berjuang untuk hidup sekudus mungkin. Tetapi kalau saudara jatuh, bahkan dalam
dosa yang besar dan hebat, itu tidak akan mempengaruhi rencana Allah berkenaan
dengan diri saudara! Ini seharusnya membuat saudara
selalu bersyukur dan memuji Dia!!!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali