(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 5 Januari 2020, pk 08.00 & 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Bil 23:5-12
- “(5)
Kemudian TUHAN menaruh perkataan ke dalam mulut Bileam dan berfirman:
‘Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.’ (6) Ketika ia kembali,
maka Balak masih berdiri di situ di samping korban bakarannya, bersama dengan
semua pemuka Moab. (7) Lalu Bileam mengucapkan sanjaknya, katanya: ‘Dari
Aram aku disuruh datang oleh Balak, raja Moab, dari gunung-gunung sebelah
timur: Datanglah, katanya, kutuklah bagiku Yakub, dan datanglah, kutuklah
Israel. (8) Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah?
Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN? (9) Sebab dari puncak
gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku memandang mereka.
Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara
bangsa-bangsa kafir. (10) Siapakah yang menghitung debu Yakub dan siapakah
yang membilang bondongan-bondongan Israel? Sekiranya aku mati seperti matinya
orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal mereka!’ (11) Lalu
berkatalah Balak kepada Bileam: ‘Apakah yang kaulakukan kepadaku ini? Untuk
menyerapah musuhkulah aku menjemput engkau, tetapi sebaliknya engkau
memberkati mereka.’ (12) Tetapi ia menjawab: ‘Bukankah aku harus
berawas-awas, supaya mengatakan apa yang ditaruh TUHAN ke dalam mulutku?’”.
2)
Tuhan menaruh perkataan ke dalam mulut Bileam.
a)
Bil 23:5-6 - “(5)
Kemudian TUHAN menaruh perkataan ke dalam mulut Bileam dan berfirman:
‘Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.’ (6) Ketika ia kembali,
maka Balak masih berdiri di situ di samping korban bakarannya, bersama dengan
semua pemuka Moab.”.
Pulpit
Commentary: “there
may be in a man high spiritual gifts without real goodness. Balaam was a
veritable prophet, and had in a remarkable degree the faculty both of
understanding the hidden things of God and of announcing them to men. Yet, as in
the case of Saul (1 Sam 10:11; 19:24) and Caiaphas (John 11:51), his prophetic
gifts were not accompanied by sanctification of life. Even so many in all ages
and lands have great spiritual gifts of understanding, of interpretation, of
eloquence, &c., whereby others are greatly advantaged, but they remain evil
themselves.”
[= bisa ada dalam seseorang karunia-karunia rohani yang tinggi tanpa kebaikan
yang sungguh-sungguh. Bileam adalah seorang nabi yang sungguh-sungguh / asli,
dan mempunyai dalam suatu tingkat yang hebat / luar biasa kemampuan untuk
mengerti hal-hal yang tersembunyi dari Allah dan untuk menyampaikan hal-hal itu
kepada manusia. Tetapi, seperti dalam kasus Saul (1Sam 10:11; 19:24) dan Kayafas
(Yoh 11:51), karunia-karunia nubuatnya tidak disertai dengan pengudusan hidup.
Demikian juga banyak orang dalam semua jaman dan negara mempunyai
karunia-karunia rohani yang hebat tentang pengertian, tentang penafsiran,
tentang kefasihan, dsb., dengan mana orang-orang lain mendapatkan banyak
manfaat, tetapi mereka sendiri tetap jahat.].
Catatan:
saya tidak setuju kalau Bileam disebut nabi yang sungguh-sungguh, demikian juga
dengan Saul maupun Kayafas.
1Sam 10:11
- “Dan
semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia
bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak
yang satu kepada yang lain: ‘Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish
itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?’”.
1Sam 19:24
- “Iapun
menanggalkan pakaiannya, dan iapun juga kepenuhan di depan Samuel. Ia
rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu. Itulah
sebabnya orang berkata: ‘Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?’”.
Catatan:
kata ‘kepenuhan’
seharusnya adalah ‘bernubuat’ (KJV/RSV/NIV/NASB).
Yoh 11:51-52
- “(51)
Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar
pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu,
(52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan
mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.”.
Pulpit
Commentary: “The
prophecies of Balaam were the utterances of a bad man deeply penetrated by
religious ideas, and inspired for certain purposes by the Spirit of God; hence
it is evident that many deep moral and spiritual lessons may be learnt from
them, apart from their evidential value as prophecies.” [= Nubuat-nubuat Bileam adalah
ucapan-ucapan dari seorang jahat yang dipengaruhi secara mendalam oleh
gagasan-gagasan agamawi, dan diilhami oleh Roh Allah untuk tujuan-tujuan
tertentu; karena itu adalah jelas bahwa banyak pelajaran-pelajaran moral dan
rohani yang mendalam bisa dipelajari dari ucapan-ucapannya, terpisah
dari nilai yang penting dari ucapan-ucapan itu sebagai nubuat-nubuat.].
Catatan:
saya tidak terlalu mengerti apa maksud anak kalimat yang terakhir itu (bagian
yang saya garis-bawahi).
Pulpit
Commentary: “God,
who opened the mouth of an ass and made it utter human speech, now opens the
mouth of one whose heart was ready to deceive and curse, and makes that mouth to
utter truth and blessing.”
[= Allah, yang membuka mulut dari seekor keledai dan membuatnya mengucapkan
ucapan manusia, sekarang membuka mulut dari orang yang hatinya siap untuk menipu
dan mengutuk, dan membuat mulut itu mengucapkan kebenaran dan berkat.].
Yang
ingin saya tanyakan kepada orang-orang Arminian yang begitu ‘mendewakan’
free will / kehendak bebas, adalah ini: dimanakah free will dari Bileam pada
saat ini??? Dalam tafsiran Adam Clarke tentang hal ini ia tidak membicarakan
hal itu sama sekali!
Amsal
16:1 - “Manusia
dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada
TUHAN.”.
Matthew
Henry: “And
it speaks comfort to God’s witnesses, whom at any time he calls out to appear
for him; if God put a word into the mouth of Balaam, who would have defied God
and Israel, surely he will not be wanting to those who desire to glorify God and
edify his people by their testimony, but it shall be given them in that same
hour what they should speak.” [= Dan itu memberikan
penghiburan kepada saksi-saksi Allah, yang pada setiap saat Ia panggil keluar
untuk tampil bagiNya; jika Allah meletakkan suatu
kata / firman ke dalam mulut Bileam, yang mau menentang Allah dan Israel,
pastilah Ia tidak akan kekurangan firman bagi mereka
yang ingin memuliakan Allah dan mendidik umatNya oleh kesaksian mereka, tetapi
‘apa yang harus mereka katakan akan diberikan kepada mereka pada saat itu’.].
Mat
10:17-20 - “(17)
Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada
yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di
rumah ibadatnya. (18) Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka
penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi
orang-orang yang tidak mengenal Allah. (19) Apabila
mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang
harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu
juga. (20) Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu;
Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.”.
Perhatikan
kontext dari text ini. Janji Tuhan ini hanya berlaku pada saat orang Kristen
ditangkap, diadili oleh karena imannya.
Jadi,
kata-kata Matthew Henry di atas ini, dan juga text di atas ini, tidak berarti
bahwa seseorang yang mau berkhotbah di mimbar tidak perlu mempersiapkan apa yang
akan ia khotbahkan. Kalau seseorang memang mau memuliakan Tuhan dengan
berkhotbah, ia harus belajar dan mempersiapkan apa yang akan ia khotbahkan, dan
Tuhan pasti mau memberikan kepadanya apa yang harus ia katakan.
b)
Bileam memberkati Israel.
Bil 23:7-10
- “(7)
Lalu Bileam mengucapkan sanjaknya, katanya: ‘Dari Aram aku disuruh datang oleh
Balak, raja Moab, dari gunung-gunung sebelah timur: Datanglah, katanya, kutuklah
bagiku Yakub, dan datanglah, kutuklah Israel. (8) Bagaimanakah aku menyerapah
yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN?
(9) Sebab dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit
aku memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau
dihitung di antara bangsa-bangsa kafir. (10) Siapakah yang menghitung debu Yakub
dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan Israel? Sekiranya aku mati
seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal
mereka!’”.
1. Pengakuan Bileam
bahwa ia tidak bisa mengutuk orang yang tidak dikutuk oleh Allah (ay 8).
Matthew
Henry: “he
owns the design defeated, and his own inability to accomplish it. He could not
so much as give them an ill word or an ill wish: How shall I curse those whom
God has not cursed? v. 8. Not that therefore he would not do it, but therefore
he could not do it. This is a fair confession, First, Of the weakness and
impotency of his own magic skill, for which others valued him so much, and
doubtless he valued himself no less. He was the most celebrated man of that
profession, and yet owns himself baffled. God had warned the Israelites not to
use divination (Lev. 19:31), and this providence gave them a reason for that
law, by showing them the weakness and folly of it.”
[= ia mengakui rancangannya dikalahkan, dan ketidak-mampuannya sendiri untuk
mencapainya. Ia tidak bisa memberi mereka (Israel)
suatu kata yang buruk atau suatu keinginan / harapan yang buruk: ‘Bagaimanakah
aku mengutuk yang tidak dikutuk Allah?’ ay 8. Bukan bahwa karena itu ia tidak
mau melakukannya, tetapi karena itu ia tidak bisa
melakukannya. Ini merupakan suatu pengakuan yang jujur, Pertama, Tentang
kelemahan dan ketidak-mampuan dari keahlian magicnya sendiri, untuk mana
orang-orang lain begitu memuji-muji dia, dan tak diragukan ia menilai dirinya
tidak kurang dari itu. Ia adalah orang yang paling terkenal dari pekerjaan itu,
tetapi ia mengakui dirinya sendiri dibingungkan / dihalangi. Allah telah
memperingatkan orang-orang Israel untuk tidak menggunakan ramalan / tenungan (Im
19:31), dan providensia ini memberi mereka suatu alasan untuk hukum itu, dengan
menunjukkan kepada mereka kelemahan dan kebodohan dari hal itu.].
Im 19:31
- “Janganlah
kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari
mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN,
Allahmu.”.
Catatan:
saya berpendapat bahwa Allah melarang ramal, karena hal itu berhubungan dengan
roh jahat, dan karenanya hal itu merupakan dosa. Bukan bahwa hal itu adalah
‘kelemahan’, dalam arti hal itu tidak bisa digunakan. Terhadap Israel yang
adalah umat Allah, hal itu tidak bisa digunakan, karena adanya perlindungan
Allah, tetapi terhadap orang-orang lain hasilnya akan sangat berbeda. Kalau
tidak, bagaimana mungkin Bileam bisa terkenal karena hal itu? Perlu diketahui
bahwa dalam urusan okultisme, seperti dalam kasus ini, maupun dalam kasus raja
Saul yang memanggil peramal perempuan (1Sam 28), banyak penafsir Barat yang
mempunyai pemikiran Barat, yang sangat skeptis tentang adanya hal-hal yang
bersifat magic, seperti santet, guna-guna, dan sebagainya. Sebetulnya ini
merupakan sesuatu yang aneh dan salah, karena mereka seharusnya percaya bahwa
baik Allah maupun setan bisa melakukan hal-hal yang bersifat supranatural,
sekalipun setan bisa melakukan itu hanya dengan ijin Allah.
Matthew
Henry: “It
is a confession of the sovereignty and dominion of the divine power. He owns
that he could do no more than God would suffer him to do, for God could overrule
all his purposes, and turn his counsels headlong.”
[= Itu merupakan suatu pengakuan tentang kedaulatan dan penguasaan dari kuasa
ilahi. Ia mengakui bahwa ia tidak bisa melakukan lebih dari yang Allah ijinkan
ia lakukan, karena Allah bisa mengesampingkan semua tujuannya, dan membalikkan
rencananya dengan cepat.].
Matthew
Henry: “It
is a confession of the inviolable security of the people of God.”
[= Ini merupakan suatu pengakuan tentang keamanan yang pasti dari umat Allah.].
2.
Kata-kata Bileam tentang bangsa Israel (ay 9b-10a).
Ay 9b-10a:
“(9b)
Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara
bangsa-bangsa kafir. (10a) Siapakah yang menghitung debu Yakub dan siapakah yang
membilang bondongan-bondongan Israel?”.
a.
Keterpisahan Israel dari bangsa-bangsa lain merupakan kemuliaan Israel.
Ay 9b:
“Lihat,
suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa
kafir.”.
The
Bible Exposition Commentary: “Balaam’s
second basic truth was that the Jews were chosen by God and therefore were a
nation set apart from the other nations (Num 23:9). The Lord had declared this
to Israel at Mount Sinai (Ex 19:5-6), and the laws that He gave them at Sinai
made it possible for them to live like a special people. In his farewell message
to Israel, Moses also emphasizes the uniqueness of Israel as the people of God
(Deut 4:20; 14:2,21; 26:18-19; 32:8-9; 33:3,28-29) and reminded them that God
chose them because He loved them (Num 7:6-8). See also Lev 20:26; 1 Kings
8:52-53; Amos 3:2; and Isa 43:21. Israel’s great temptation was in wanting to
be like the other nations, and this is what led to their downfall and captivity.
Instead of rejoicing in their uniqueness as the people of the true and living
God, they imitated their neighbors in their worship and conduct, and God had to
discipline them. Instead of letting God rule as their King, they asked for a
king ‘like all the nations’ (1 Sam 8:5), and this brought the nation into
all kinds of trouble. Unfortunately, many people in the church today have the
mistaken idea that being like the world is the way to reach the world. They
forget that the church is the people of God, a very special people, saved by His
grace. Instead of maintaining separation (2 Cor 6:14-7:1) they promote imitation
(1 John 2:15-17; Rom 12:2), so that it’s becoming more and more difficult to
distinguish the people of God from the people of the world. And yet, as Campbell
Morgan reminded us, ‘The church did the most for the world when the church was
the least like the world.’” [= Kebenaran dasar
kedua dari Bileam adalah bahwa orang-orang Yahudi dipilih oleh Allah dan karena
itu merupakan suatu bangsa yang dipisahkan dari bangsa-bangsa lain (Bil 23:9).
Tuhan telah menyatakan ini kepada Israel di gunung Sinai (Kel 19:5-6), dan hukum
Taurat yang Ia berikan kepada mereka di Sinai memungkinkan mereka untuk hidup
sebagai bangsa yang spesial / khusus. Dalam berita / pesan perpisahannya kepada
Israel, Musa juga menekankan keunikan Israel sebagai umat Allah (Ul 4:20;
14:2,21; 26:18-19; 32:8-9; 33:3,28-29) dan mengingatkan mereka bahwa Allah
memilih mereka karena Ia mengasihi mereka (Bil 7:6-8). Lihat juga Im 20:26;
1Raja 8:52-53; Amos 3:2; dan Yes 43:21. Pencobaan yang besar bagi Israel adalah dalam menginginkan untuk
menjadi seperti bangsa-bangsa lain, dan ini adalah apa yang membawa mereka pada
kejatuhan mereka dan pada pembuangan. Bukannya bersukacita dalam keunikan mereka sebagai umat dari
Allah yang benar dan hidup, mereka meniru tetangga-tetangga mereka dalam
penyembahan dan tingkah laku, dan Allah harus mendisiplin mereka. Bukannya
membiarkan Allah memerintah sebagai Raja mereka, mereka meminta seorang raja
‘seperti bangsa-bangsa lain’ (1Sam 8:5), dan ini membawa bangsa itu ke
dalam semua jenis kesukaran. Patut disayangkan bahwa banyak orang dalam gereja jaman sekarang
mempunyai gagasan yang salah bahwa menjadi seperti dunia adalah cara untuk
menjangkau dunia. Mereka lupa bahwa gereja adalah umat Allah, suatu umat yang
spesial / khusus, diselamatkan oleh kasih karuniaNya. Mereka bukannya
memelihara / mempertahankan pemisahan itu (2Kor 6:14-7:1), tetapi mereka
mempromosikan peniruan (1Yoh 2:15-17; Ro 12:2), sehingga menjadi makin lama
makin sukar untuk membedakan umat Allah dari orang-orang dunia. Tetapi, seperti Campbell Morgan mengingatkan kita, ‘Gereja melakukan yang
paling banyak untuk dunia pada waktu gereja paling tidak menyerupai dunia’.].
Bil 23:9 - “Sebab
dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku
memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam
tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir.”.
2Kor 6:14-7:1
- “(6:14)
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang
dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat
antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan
gelap? (6:15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah
bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (6:16) Apakah
hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang
hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan
hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka
akan menjadi umatKu. (6:17) Sebab itu: Keluarlah kamu
dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan,
dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. (6:18) Dan
Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan
anak-anakKu perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.’ (7:1)
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu,
marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan
dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”.
Ro 12:2
- “Janganlah
kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa
yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”.
Pulpit
Commentary: “THE
SINGULAR GLORY OF ISRAEL WAS HIS SEPARATENESS - a separateness which was
outwardly marked by a sharp line of distinction from other peoples, but was
founded upon an inward and distinctive holiness of life and worship. Even so is
the glory of the Church of Christ and of each faithful soul to be ‘separate
from sinners,’ as was Christ. And this separation must needs be outwardly
marked in many ways and in many cases (1 Cor 5:11; 2 Cor 6:17); but its essence
is an inward divergence of motive, of character, and of condition before God. To
be ‘even as others’ is to be the ‘children of wrath’ (Eph 2:3); to be
Christians is to be ‘a peculiar people’ (Titus 2:14). If men cannot bear to
be peculiar, they need not look to be blessed; if they must adopt the fashions
of this world, they must be content to share its end (Gal 1:4; 2 Tim 4:10; 1
John 2:15-17).”
[= Kemuliaan yang unik / luar biasa dari
Israel adalah keterpisahannya - suatu keterpisahan yang ditandai secara
lahiriah oleh suatu garis perbedaan yang tajam dari bangsa-bangsa lain, tetapi
didasarkan pada kekudusan hidup dan penyembahan yang ada di dalam dan bersifat
membedakan. Demikian juga kemuliaan dari Gereja Kristus dan dari setiap jiwa
yang setia / beriman adalah ‘terpisah dari orang-orang berdosa’, seperti
Kristus. Dan keterpisahan ini harus ditandai secara lahiriah dengan banyak cara
dan dalam banyak kasus (1Kor 5:11; 2Kor 6:17); tetapi hakekatnya adalah
perbedaan di dalam dari motivasi, dari karakter, dan dari kondisi di hadapan
Allah. Menjadi ‘serupa dengan orang-orang lain’ adalah menjadi ‘anak-anak
kemurkaan’ (Ef 2:3); menjadi orang-orang Kristen adalah menjadi ‘umat yang
khusus’ (Titus 2:14). Jika manusia tidak tahan untuk menjadi khusus, mereka
tidak perlu mengharapkan untuk diberkati; jika mereka harus mengadopsi cara /
kebiasaan dunia ini, mereka harus puas dengan ikut ambil bagian dalam keadaan
akhir mereka (Gal 1:4; 2Tim 4:10; 1Yoh 2:15-17).].
1Kor
5:11 - “Tetapi
yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang,
yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir
(tamak), penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang
demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”.
Ef
2:3 - “Sebenarnya
dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam
hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada
dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka
yang lain.”.
KJV:
‘and were by nature the children of wrath’ [= dan pada dasarnya
merupakan anak-anak kemurkaan].
Tit
2:14 - “yang
telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk
membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya
suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik.”.
Gal 1:4
- “yang
telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita, untuk
melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut
kehendak Allah dan Bapa kita.”.
2Tim
4:10 - “karena
Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah
berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke
Dalmatia.”.
1Yoh
2:15-17 - “(15)
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang
mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. (16) Sebab
semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta
keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (17) Dan
dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan
kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”.
Matthew
Henry: “this
was Israel’s praise, though their enemies turned it to their reproach, that
they differed from all the neighbouring nations, not only in their religion and
sacred rites, but in their diet, and dress, and common usages, as a people
called out of the world, and not to be conformed to it. They never lost their
reputation till they mingled among the heathen, Ps. 106:35. Note, It is the duty
and honour of those that are dedicated to God to be separated from the world,
and not to walk according to the course and custom of it.”
[= ini adalah pujian Israel, sekalipun musuh-musuh mereka membalikkan hal itu
menjadi celaan mereka, bahwa mereka berbeda dari semua bangsa-bangsa tetangga,
bukan hanya dalam agama dan upacara-upacara keramat, tetapi dalam makanan,
pakaian dan pemakaian kata-kata mereka, sebagai suatu bangsa yang dipanggil
keluar dari dunia, dan tidak menyesuaikan dengannya. Mereka tidak pernah
kehilangan reputasi mereka sampai mereka bercampur di antara orang-orang kafir,
Maz 106:35. Perhatikan, Merupakan kewajiban dan kehormatan dari mereka yang
dipersembahkan / didedikasikan kepada Allah untuk menjadi terpisah dari dunia,
dan bukannya berjalan sesuai dengan jalan dan kebiasaan dari dunia.].
Maz 106:34-42
- “(34)
Mereka tidak memunahkan bangsa-bangsa, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada
mereka, (35) tetapi mereka bercampur baur dengan
bangsa-bangsa, dan belajar cara-cara mereka bekerja. (36) Mereka
beribadah kepada berhala-berhala mereka, yang menjadi perangkap bagi mereka.
(37) Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka
kepada roh-roh jahat, (38) dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah
anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada
berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah. (39) Mereka
menajiskan diri dengan apa yang mereka lakukan, dan berzinah dalam
perbuatan-perbuatan mereka. (40) Maka menyalalah
murka TUHAN terhadap umatNya, dan Ia jijik kepada milikNya sendiri. (41)
DiserahkanNyalah mereka ke tangan bangsa-bangsa, sehingga orang-orang yang
membenci mereka berkuasa atas mereka. (42) Mereka diimpit oleh musuhnya,
sehingga takluk ke bawah kuasanya.”.
Barnes’
Notes: “‘Dwell
alone.’ i. e., apart from others, undisturbed by their tumults, and therefore
in safety and just security. ... This tranquility was realized by the Israelites
so long as they clave to God as their shelter and protection. But the inward
‘dwelling alone’ was the indispensable condition of the outward ‘dwelling
alone,’ and so soon as the influence of the pagan world affected Israel
internally, the external power of paganism prevailed also. Balaam himself, when
he eventually counseled tempting the people into sin, acted upon the knowledge
that God’s blessing and Israel’s prosperity depended essentially on
faithfulness to God.”
[= ‘Diam / tinggal tersendiri’ yaitu, terpisah dari orang-orang lain, tidak
terganggu oleh keributan mereka, dan karena itu dalam keamanan dan perlindungan
yang benar. ... Ketenangan ini direalisasikan oleh
Israel selama mereka berpegang erat-erat kepada Allah sebagai naungan dan
perlindungan mereka. Tetapi ‘diam /
tinggal tersendiri’ yang ada di dalam merupakan syarat yang sangat diperlukan
dari ‘diam / tinggal tersendiri’ yang ada di luar / bersifat lahiriah, dan
begitu pengaruh dari dunia kafir mempengaruhi Israel di dalam diri mereka, maka
kuasa luar dari kekafiran juga berkuasa. Bileam sendiri, pada waktu
ia akhirnya menasehati untuk mencobai bangsa itu ke dalam dosa, bertindak
berdasarkan pengetahuan bahwa berkat Allah dan kemakmuran Israel pada dasarnya
tergantung pada kesetiaan kepada Allah.].
b.
Ay 10a hanya menunjukkan banyaknya bangsa Israel.
Ay 10a:
“Siapakah
yang menghitung debu Yakub dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan
Israel?”.
KJV/RSV/NIV/NASB:
‘the fourth part of Israel’ [= seperempat dari Israel].
Istilah
‘seperempat’ ini sesuai dengan pembagian Israel menjadi 4 kelompok (timur,
barat, utara, selatan), seperti yang bisa kita lihat dalam Bil 2.
Jadi
kelihatannya Bileam hanya bisa melihat sebagian dari Israel, tetapi yang
seperempat itu jumlahnya sudah sangat banyak.
Kata-kata
‘debu Yakub’
merupakan suatu gaya bahasa hyperbole, yang menunjukkan banyaknya bangsa
keturunan Yakub ini. Bandingkan dengan janji Allah kepada Abraham bahwa
keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan debu tanah / pasir di laut (Kej
13:16 15:5
22:17).
3.
Keinginan Bileam untuk mati seperti orang-orang benar.
Ay 10b:
“Sekiranya
aku mati seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti
ajal mereka!’”.
KJV/RSV/NIV:
‘the righteous’
[= orang benar].
a.
Israel bahagia bukan hanya dalam kehidupan, tetapi juga dalam kematian.
Jamieson,
Fausset & Brown: “The piercing eye of the seer discerned this to be the
real secret of their extraordinary prosperity; and from a strong, though
temporary admiration of their privileged state, he pronounced them a people
happy above all others, not only in life, but at death, from their
knowledge of the true God, and their hope through His grace.” [= Mata yang menembus dari pelihat ini
melihat ini sebagai rahasia yang nyata dari kemakmuran mereka yang luar biasa;
dan dari kekaguman yang kuat, sekalipun bersifat sementara, tentang keadaan yang
merupakan hak istimewa mereka, ia menyatakan mereka sebagai bangsa yang bahagia
di atas semua bangsa lain, bukan hanya dalam kehidupan, tetapi juga dalam kematian, dari pengenalan mereka tentang Allah yang
benar, dan pengharapan mereka melalui kasih karuniaNya.].
b.
Kata-kata ini membuktikan kepercayaan tentang ketidak-bisa-binasaan jiwa.
Matthew
Henry: “he
goes upon the supposition of the soul’s immortality, and a different state on
the other side death, to which this is a noble testimony, and an evidence of its
being anciently known and believed. For how could the death of the righteous be
more desirable than the death of the wicked upon any other account than as it
involved happiness in another world, since in the manner and circumstances of
dying we see all things come alike to all?”
[= ia melanjutkan pada anggapan tentang
ketidak-bisa-binasaan jiwa, dan suatu
keadaan yang berbeda pada sisi lain dari kematian, untuk mana ini
merupakan kesaksian yang mulia, dan merupakan bukti bahwa hal-hal itu diketahui
dan dipercaya sejak jaman dulu / kuno. Karena
bagaimana bisa kematian dari orang benar lebih diinginkan dari pada kematian
dari orang jahat berdasarkan perhitungan lain selain karena itu mencakup
kebahagiaan di dunia yang lain, karena dalam cara dan keadaan dari kematian kita
melihat segala sesuatu datang secara sama kepada semua orang?].
c.
Kalau mau mati seperti orang benar, harus mau hidup sebagai orang benar.
Pulpit
Commentary: “BALAAM
WAS MOVED TO WISH HE MIGHT DIE THE DEATH OF THE RIGHTEOUS, BUT WAS NOT DISPOSED
TO LIVE THE LIFE OF THE RIGHTEOUS; hence his wish was as futile as the mirage of
the desert, and was signally reversed by the actual character of his end. Even
so do evil men continually desire the rewards of goodness, which they cannot but
admire, but they will not submit to the discipline of goodness. A sentimental
appreciation of virtue and piety is worse than useless by itself.” [= Bileam
digerakkan untuk mengingini / mengharapkan supaya ia bisa mengalami kematian
dari orang benar, tetapi tidak ingin / cenderung untuk menjalani kehidupan dari
orang benar; karena itu keinginan / harapannya sama sia-sianya seperti
fata morgana di padang pasir, dan dibalikkan dengan cara yang menyolok oleh
karakter yang sesungguhnya dari akhir hidupnya. Demikian juga orang-orang jahat
terus menerus menginginkan upah / pahala dari kebaikan, yang tidak bisa tidak
mereka kagumi, tetapi mereka tidak mau tunduk pada disiplin dari kebaikan.
Sekedar suatu penghargaan yang sentimentil tentang suatu sifat baik dan
kesalehan, lebih buruk dari tidak berguna.].
Matthew
Henry: “He
shows his opinion of religion to be better than his resolution; there are many
who desire to die the death of the righteous, but do not endeavour to live the
life of the righteous. Gladly would they have their end like theirs, but not
their way. They would be saints in heaven, but not saints on earth. This is the
desire of the slothful, which kills him, because his hands refuse to labour.
This of Balaam’s is only a wish, not a prayer, and it is a vain wish, being
only a wish for the end, without any care for the means.”
[= Ia menunjukkan bahwa pandangannya tentang agama lebih baik dari pada
keputusannya; ada banyak orang yang ingin mengalami
kematian orang benar, tetapi tidak berusaha untuk menjalani kehidupan
orang-orang benar. Dengan gembira mereka menginginkan akhir hidup
mereka seperti akhir hidup orang-orang benar itu, tetapi mereka tidak mau jalan
/ cara hidup orang-orang benar itu. Mereka mau
menjadi orang-orang kudus di surga, tetapi tidak mau menjadi orang-orang kudus
di bumi. Ini adalah keinginan dari orang malas, yang membunuh dia,
karena tangannya menolak untuk bekerja. Dari Bileam ini hanya merupakan suatu
keinginan / pengharapan, bukan suatu doa, dan itu merupakan suatu keinginan /
pengharapan yang sia-sia, karena hanya merupakan keinginan / pengharapan untuk
akhirnya, tanpa kepedulian apapun untuk cara / jalannya.].
Jamieson,
Fausset & Brown: “Balaam was the representative of a large class in the
world who express a wish for the blessedness of the Lord’s people at last, but
are averse to lead a corresponding life.” [= Bileam adalah wakil dari suatu kelompok besar di
dunia yang menyatakan suatu keinginan / pengharapan untuk keadaan diberkati dari
umat Tuhan pada akhirnya, tetapi menolak untuk menjalani suatu kehidupan yang
sesuai.].
Adam
Clarke: “He
who would die well should live well; for a bad death must be the issue of a bad
life.”
[= Ia yang mau mati dengan baik harus hidup baik; karena suatu kematian yang
buruk harus / pasti merupakan hasil dari suatu kehidupan yang buruk.].
The
Bible Exposition Commentary: “Balaam
was sent to curse Israel, yet he ended his oracle by declaring that he wanted to
be like Israel! ‘Let me die the death of the righteous,
and let my last end be like his’ (Num 23:10). But you don’t die the death of
the righteous unless you live the life of the righteous, and that was
something Balaam wasn’t prepared to do. His love of money so controlled his
life that he would do anything to get wealth. Balaam
died with the wicked when Israel defeated the Midianites (31:8), and his end was
eternal judgment.” [= Bileam diutus untuk mengutuk Israel, tetapi ia mengakhiri
sabdanya dengan menyatakan bahwa ia ingin menjadi seperti Israel! ‘Sekiranya
aku mati seperti matinya orang-orang jujur (orang-orang benar) dan sekiranya ajalku seperti ajal mereka!’ (Bil
23:10). Tetapi engkau tidak akan mengalami kematian
orang benar kecuali engkau menjalani kehidupan orang benar, dan itu adalah
sesuatu yang Bileam tidak siap untuk lakukan. Kecintaannya pada uang
begitu mengendalikan kehidupannya sehingga ia mau melakukan apapun untuk
mendapatkan kekayaan. Bileam mati bersama dengan
orang jahat pada waktu Israel mengalahkan orang Midian (31:8), dan akhir
hidupnya adalah penghakiman kekal.].
Bil 31:8
- “Selain
dari orang-orang yang mati terbunuh itu, merekapun membunuh juga raja-raja
Midian, yakni Ewi, Rekem, Zur, Hur dan Reba, kelima raja Midian, juga Bileam
bin Beor dibunuh mereka dengan pedang.”.
Pulpit
Commentary: “He
wishes to die the death of the righteous. Do not be misled by the prominence of
the word ‘righteous’ into supposing that for its own sake Balaam cared about
righteousness. It was not righteousness that he desired, but what he saw to be
the pleasant, enviable effects of righteousness. He cared nothing about the
cause if only he could get the effects. He loved the vine because it produced
grapes, and the fig-tree because it produced figs, but if he could have got
grapes from thorns and figs from thistles, he would have loved thorns and
thistles just as well.” [= Ia menginginkan / mengharapkan kematian dari orang benar.
Jangan disesatkan oleh menonjolnya kata ‘benar’ ke dalam dugaan bahwa demi
hal itu sendiri Bileam peduli pada kebenaran. Bukan kebenaran yang ia inginkan,
tetapi apa yang ia lihat sebagai hasil / akibat yang menyenangkan dan
menyebabkan iri hati, dari kebenaran. Ia tidak peduli pada penyebabnya asal ia
bisa mendapatkan hasil / akibatnya. Ia mencintai pohon anggur karena pohon itu
menghasilkan buah anggur, dan pohon ara karena pohon itu menghasilkan buah ara,
tetapi seandainya ia bisa mendapatkan buah anggur dari semak duri dan buah ara
dari rumput duri, ia akan sudah mencintai semak duri dan rumput duri juga.].
3)
Teguran Balak.
Bil 23:11
- “Lalu
berkatalah Balak kepada Bileam: ‘Apakah yang kaulakukan kepadaku ini? Untuk
menyerapah musuhkulah aku menjemput engkau, tetapi sebaliknya engkau memberkati
mereka.’”.
Matthew
Henry: “How
Balak fretted at it, v. 11. He pretended to honour the Lord with his sacrifices,
and to wait for the answer God would send him; and yet, when it did not prove
according to his mind, he forgot God, and flew into a great passion against
Balaam, as if it had been purely his doing: ‘What hast thou done unto me! How
hast thou disappointed me!’ Sometimes God makes the enemies of his church a
vexation one to another, while he that sits in heaven laughs at them, and the
efforts of their impotent malice.”
[= Bagaimana Balak marah-marah / mengomel pada hal itu, ay 11. Ia berpura-pura
untuk menghormati Tuhan dengan korban-korbannya, dan menunggu untuk jawaban yang
akan Allah kirimkan kepadanya; tetapi pada waktu terbukti bahwa itu tidak sesuai
dengan pikirannya, ia melupakan Allah, dan marah terhadap Bileam, seakan-akan
itu semata-mata merupakan tindakan Bileam: ‘Apa yang telah kaulakukan
kepadaku! Betapa engkau telah mengecewakan aku!’. Kadang-kadang Allah membuat
musuh-musuh gerejaNya jengkel satu sama lain, sementara Ia yang duduk di surga
mentertawakan mereka, dan usaha-usaha dari kejahatan mereka yang tidak berdaya.].
4)
Jawaban Bileam.
Bil 23:12
- “Tetapi
ia menjawab: ‘Bukankah aku harus berawas-awas, supaya mengatakan apa yang
ditaruh TUHAN ke dalam mulutku?’”.
Ini
betul-betul merupakan kata-kata yang benar dan mulia. Tetapi bandingkan dengan:
a)
Bil 25:1-2 - “(1)
Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan
perempuan-perempuan Moab. (2) Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke
korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu
dan menyembah allah orang-orang itu.”.
b)
Bil 31:16 - “Bukankah
perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam,
menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor,
sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN.”.
Alangkah
tidak stabilnya ‘nabi’ ini dalam mengajar, sebentar ia mengucapkan hal-hal
yang indah, dan sebentar lagi mengajarkan ajaran sesat!
Penerapan:
semua hamba Tuhan / pemberita Firman Tuhan harus sangat waspada untuk selalu
memberitakan kebenaran, bukan sebentar benar sebentar sesat seperti Bileam!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali