(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 8 Desember 2019, pk 08.00 & 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Bil 22:21-35
- “(21) Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya
yang betina, dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. (22) Tetapi
bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan
sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang
bujangnya ada bersama-sama dengan dia. (23) Ketika keledai itu melihat
Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tanganNya,
menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul
keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan. (24) Kemudian pergilah
Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur
dengan tembok sebelah-menyebelah. (25) Ketika keledai itu melihat Malaikat
TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit
kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. (26) Berjalanlah pula Malaikat TUHAN
terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan
untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. (27) Melihat Malaikat TUHAN
meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah
Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat. (28) Ketika itu TUHAN
membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang
kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?’ (29) Jawab Bileam
kepada keledai itu: ‘Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada
pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.’ (30) Tetapi keledai
itu berkata kepada Bileam: ‘Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi
selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?’
Jawabnya: ‘Tidak.’ (31) Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam;
dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tanganNya berdiri di
jalan, lalu berlututlah ia dan sujud. (32) Berfirmanlah Malaikat TUHAN
kepadanya: ‘Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali?
Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandanganKu menuju
kepada kebinasaan. (33) Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia
menyimpang dari hadapanKu; jika ia tidak menyimpang dari hadapanKu, tentulah
engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.’ (34) Lalu
berkatalah Bileam kepada Malaikat TUHAN: ‘Aku telah berdosa, karena aku
tidak mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka
sekarang, jika hal itu jahat di mataMu, aku mau pulang.’ (35) Tetapi
Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: ‘Pergilah bersama-sama dengan
orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus
kaukatakan.’ Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka
Balak itu.”.
1)
Dari mana Musa mendapat cerita tentang Bileam, keledainya dan Malaikat
TUHAN?
Barnes’
Notes (tentang ay 28):
“The
account was perhaps given by Balaam to the Israelites after his capture in the
war against Midian. Compare Num. 31:8. That which is here recorded was
apparently perceived by him alone among human witnesses.”
[= ‘TUHAN membuka mulut keledai itu’. Cerita
ini mungkin diberikan oleh Bileam kepada orang-orang Israel setelah
penangkapannya dalam perang melawan Midian. Bandingkan dengan Bil 31:8. Apa yang
dicatat di sini rupanya dilihat olehnya saja di antara saksi-saksi manusia.].
Bil
31:8 - “Selain dari orang-orang yang
mati terbunuh itu, merekapun membunuh juga raja-raja Midian, yakni Ewi, Rekem,
Zur, Hur dan Reba, kelima raja Midian, juga Bileam
bin Beor dibunuh mereka dengan pedang.”.
2)
Malaikat TUHAN berdiri di jalan Bileam sebagai lawannya.
Ay
21-22a:
“(21) Lalu bangunlah Bileam
pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama
dengan pemuka-pemuka Moab. (22a) Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi,
dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya.”.
a)
Malaikat TUHAN.
Bible
Knowledge Commentary:
“The
Angel of the Lord was a manifestation of the presence of the LORD Himself, that
is, He was a theophany. This is clear from the fact that He frequently was
equated with Deity and that He was offered and accepted worship, something
absolutely forbidden to ordinary angels (see comments on Gen 16:7; and cf. Gen
18:1-2; 22:14-18; Ex 3:1-6; Josh 5:13-15; Judg 6:20-22; 13:17-23; etc.).” [= Malaikat TUHAN adalah
manifestasi dari kehadiran TUHAN sendiri, artinya, Ia adalah suatu THEOPHANY.
Ini adalah jelas dari fakta bahwa Ia berulang-ulang disamakan dengan Allah dan
bahwa Ia diberi dan menerima penyembahan, sesuatu yang secara mutlak dilarang
bagi malaikat-malaikat biasa (lihat tafsiran tentang Kej 16:7; dan bdk. Kej
18:1-2; 22:14-18; Kel 3:1-6; Yos 5:13-15; Hak 6:20-22; 13:17-23; dsb.).].
Catatan:
kata THEOPHANY berasal dari 2 kata Yunani yaitu THEOS [= God
/ Allah] + PHAINESTHAI [= to appear /
menampakkan].
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘The angel of the Lord’ is the old formula for the
covenant God of Israel (see the note at Gen. 16:7), which occurs in this
narrative not less than nine times, interchanged with ‘the Lord’ twice.” [= ‘Malaikat TUHAN’ adalah suatu
pernyataan kuno untuk Allah perjanjian dari Israel (lihat catatan tentang Kej
16:7), yang muncul dalam cerita ini tidak kurang dari 9 x, dibolak-balik dengan
‘Tuhan’ 2 kali.].
Catatan:
seharusnya istilah ‘Malaikat TUHAN’ muncul bukan 9 x tetapi 10 x (ay
22,23,24,25,26,27,31,32,34,35). Istilah ‘Yahweh’ (TUHAN) muncul 2 x,
yaitu dalam ay 28,31.
Bil 22:21-35
- “(21) Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya
yang betina, dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. (22) Tetapi
bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat
TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya
yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia. (23) Ketika
keledai itu melihat Malaikat TUHAN
berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tanganNya, menyimpanglah keledai itu
dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk
memalingkannya kembali ke jalan. (24) Kemudian pergilah Malaikat
TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun
anggur dengan tembok sebelah-menyebelah. (25) Ketika keledai itu melihat Malaikat
TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki
Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. (26) Berjalanlah pula Malaikat
TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit,
yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. (27) Melihat Malaikat
TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya.
Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat.
(28) Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia
berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul
aku tiga kali?’ (29) Jawab Bileam kepada keledai itu: ‘Karena engkau
mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau
kubunuh sekarang.’ (30) Tetapi keledai itu berkata kepada Bileam: ‘Bukankah
aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah
aku berbuat demikian kepadamu?’ Jawabnya: ‘Tidak.’ (31) Kemudian TUHAN
menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN
dengan pedang terhunus di tanganNya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan
sujud. (32) Berfirmanlah Malaikat TUHAN
kepadanya: ‘Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat,
Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandanganKu menuju kepada
kebinasaan. (33) Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang
dari hadapanKu; jika ia tidak menyimpang dari hadapanKu, tentulah engkau yang
Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.’ (34) Lalu berkatalah
Bileam kepada Malaikat TUHAN:
‘Aku telah berdosa, karena aku tidak mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di
jalan menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di mataMu, aku mau
pulang.’ (35) Tetapi Malaikat TUHAN
berfirman kepada Bileam: ‘Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi
hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.’ Sesudah itu
pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka Balak itu.”.
b)
Sebagai lawannya.
Jamieson,
Fausset & Brown:
“For
an adversary against him, (lasaaTaan). This is the first
occurrence of the word ‘Satan’ - but as used here, in the form of a verb, it
describes the attitude of the angel, who appeared to withstand Balaam in the
commission of an act forbidden by God”
[= ‘Sebagai lawannya’, (lasaaTaan).
Ini pemunculan pertama dari kata ‘Satan’ - tetapi sebagaimana digunakan di
sini, dalam bentuk suatu kata kerja, itu menggambarkan sikap dari malaikat, yang
muncul untuk menahan Bileam dalam suatu perbuatan yang dilarang oleh Allah].
Catatan:
saya tidak mengerti mengapa Jamieson, Fausset & Brown mengatakan kata kerja,
karena sebetulnya itu merupakan kata benda.
The
Biblical Illustrator:
“An
angel stood in the way for an adversary. Now God fulfilled His promise to
Israel, ‘I will be an enemy to thine enemies’ (Ex 23:22). The holy angels
are adversaries to sin, and perhaps are employed more than we are aware of in
preventing it, particularly in opposing those that have any ill designs against
God’s Church and people,”
[= Seorang malaikat berdiri di jalan sebagai seorang lawan / musuh. Sekarang
Allah menggenapi janjiNya kepada Israel, ‘Aku akan memusuhi musuhmu’ (Kel
23:22). Malaikat-malaikat kudus adalah lawan / musuh terhadap dosa, dan mungkin
digunakan lebih dari yang kita sadari untuk mencegahnya, khususnya dalam melawan
mereka yang mempunyai rencana buruk apapun terhadap Gereja dan bangsa / umat
Allah,].
Kel 23:22
- “Tetapi
jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang
Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu.”.
3)
Keledai Bileam melihat Malaikat TUHAN dan menghindariNya.
Ay 23a: “Ketika
keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di
tanganNya, ...”.
a)
Keledai itu melihat Malaikat TUHAN tetapi Bileam tidak.
Merupakan
sesuatu yang memungkinkan dan beberapa kali terjadi dalam Kitab Suci bahwa pada
saat Tuhan memberikan penglihatan, hanya orang-orang yang Tuhan inginkan yang
bisa melihatnya, sedangkan yang lain, sekalipun berada di tempat yang sama,
tidak melihatnya.
Dan 10:4-7
- “(4)
Pada hari kedua puluh empat bulan pertama, ketika aku ada di tepi sungai besar,
yakni sungai Tigris, (5) kuangkat mukaku, lalu kulihat, tampak seorang yang
berpakaian kain lenan dan berikat pinggang emas dari ufas. (6) Tubuhnya seperti
permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh yang
menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara
ucapannya seperti gaduh orang banyak. (7) Hanya aku,
Daniel, melihat penglihatan itu, tetapi orang-orang yang bersama-sama dengan
aku, tidak melihatnya; tetapi mereka ditimpa oleh ketakutan yang
besar, sehingga mereka lari bersembunyi;”.
Yoh 12:27-29
- “(27)
Sekarang jiwaKu terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku
dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. (28)
Bapa, muliakanlah namaMu!’ Maka terdengarlah suara dari sorga: ‘Aku telah
memuliakanNya, dan Aku akan memuliakanNya lagi!’ (29) Orang
banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur.
Ada pula yang berkata: ‘Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.’”.
Kis 9:3-7
- “(3)
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya
memancar dari langit mengelilingi dia. (4) Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah
olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ‘Saulus, Saulus, mengapakah engkau
menganiaya Aku?’ (5) Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau, Tuhan?’ KataNya:
‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu. (6) Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam
kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.’ (7) Maka
termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka
memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.”.
Kis 22:9
- “Dan
mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu,
tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak
mereka dengar.”.
Karena
itu, kalau di sini hanya keledai itu yang melihat Malaikat TUHAN, sedangkan
Bileamnya tidak, itu bukan sesuatu yang aneh.
Penerapan:
demikian juga dalam hal banyak orang mendengar Firman Tuhan bersama-sama. Tuhan
bisa saja memberi pengertian kepada sebagian saja, dan tidak kepada yang lain.
Bdk.
Mat 13:10-17 - “(10) Maka datanglah
murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada
mereka dalam perumpamaan?’ (11) Jawab Yesus:
‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi
kepada mereka tidak. (12) Karena siapa
yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa
yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
(13) Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena
sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak
mendengar dan tidak mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat
Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan
mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak
menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya
berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat
dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu
berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. (16) Tetapi berbahagialah matamu
karena melihat dan telingamu karena mendengar. (17) Sebab Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat,
tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak
mendengarnya.”.
b)
Ini sama sekali tidak boleh diartikan bahwa binatang bisa melihat sesuatu
yang supranatural lebih dari manusia.
Pulpit
Commentary: “‘And
the ass saw the angel of the Lord.’ This was clearly part of the miracle, ...
It is nothing to the point that the lower animals have a quicker perception of
some natural phenomena than men, for this was not a natural phenomenon; it is
nothing to the point that the lower animals are credited by some with possessing
‘the second sight,’ .... If the ass saw the angel, it was because the Lord
opened her eyes then, as he did her mouth afterwards.” [= ‘Dan keledai itu melihat
Malaikat TUHAN’. Ini jelas merupakan bagian dari mujijat, ...
Ini tidak menunjukkan bahwa binatang yang lebih
rendah mempunyai daya menanggapi yang lebih cepat tentang fenomena alam dari
manusia, karena ini bukan fenomena alam; ini tidak menunjukkan, bahwa seperti
yang dipercaya oleh sebagian orang, binatang yang lebih rendah mempunyai
‘penglihatan kedua’, ... Jika keledai
itu melihat malaikat itu, itu disebabkan TUHAN membuka matanya pada saat itu,
seperti Ia membuka mulutnya belakangan.]
- hal 292.
c)
Merupakan sesuatu yang mempermalukan Bileam bahwa keledainya bisa melihat
Malaikat TUHAN itu sedangkan ia sendiri tidak bisa melihatNya.
Calvin:
“to the great disgrace of the
Prophet, the glory of the Angel was first revealed to the ass. ... He had
previously boasted of his extraordinary visions; a vision now escapes him which
was manifest to the eyes of a beast. Whence did such blindness as this arise,
except from avarice, by which he was so stupefied as to prefer filthy lucre to
the holy calling of God?”
[= untuk suatu aib yang besar bagi sang nabi, kemuliaan dari Malaikat itu
pertama-tama dinyatakan kepada si keledai. ... Ia sebelumnya telah membanggakan
diri karena penglihatan-penglihatannya yang luar biasa; sekarang suatu
penglihatan lolos dari dia, tetapi dinyatakan pada mata dari seekor binatang. Dari
mana muncul kebutaan seperti ini, kecuali dari ketamakan, oleh apa ia begitu
dipesonakan sehingga lebih memilih uang yang kotor dari pada panggilan kudus
dari Allah?]
- hal 194.
Matthew
Henry: “The
ass saw the angel, v. 23. How vainly did Balaam boast that he was a man whose
eyes were open, and that he saw the visions of the Almighty (Num 24:3-4), when
the ass he rode on saw more than he did, his eyes being blinded with
covetousness and ambition and dazzled with the rewards of divination!”
[= Keledai itu melihat Malaikat itu, ay 23. Alangkah sia-sianya Bileam
membanggakan diri bahwa ia adalah seorang manusia yang matanya terbuka, dan
bahwa ia melihat penglihatan-penglihatan dari Yang Mahakuasa (Bil 24:3-4), pada
waktu keledai yang ia tunggangi melihat lebih dari yang ia lihat, matanya
dibutakan oleh ketamakan dan ambisi dan disilaukan dengan upah penenungan!].
Bil 24:3-4
- “(3)
Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: ‘Tutur kata Bileam bin Beor, tutur
kata orang yang terbuka matanya; (4) tutur kata orang yang mendengar firman
Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun dengan
mata tersingkap.”.
4)
Penyelamatan yang disalah-mengerti.
Ay 23-27: “(23) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang
terhunus di tanganNya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang.
Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan. (24)
Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara
kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah-menyebelah. (25) Ketika keledai itu
melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki
Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. (26) Berjalanlah pula
Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak
ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. (27) Melihat Malaikat TUHAN
meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah
Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat.”.
Penerapan:
Mirip dengan itu, ada
banyak orang salah mengerti tentang penyelamatan yang Kristus lakukan, sehingga
mereka justru memusuhi Kristus, yang bertujuan menyelamatkan mereka.
5)
Percakapan keledai Bileam dengan tuannya.
Ay 28-30:
“(28) Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai
itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan kepadamu,
sampai engkau memukul aku tiga kali?’ (29) Jawab Bileam kepada keledai itu:
‘Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku,
tentulah engkau kubunuh sekarang.’ (30) Tetapi keledai itu berkata kepada
Bileam: ‘Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai
sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?’ Jawabnya: ‘Tidak.’”.
a)
Keledai Bileam berbicara kepada Bileam.
Ay 28:
“Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu,
sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai
engkau memukul aku tiga kali?’”.
1.
Keledai Bileam betul-betul berbicara.
Ada
penafsir yang menafsirkan bahwa keledai itu meringkik seperti keledai, tetapi
Bileam, yang adalah seorang tukang tenung / tukang sihir, bisa menafsirkannya
sehingga ia mengerti kata-kata keledai itu. Tetapi penafsiran ini bertentangan
dengan dengan kata-kata Petrus ini.
2Pet 2:16
- “Tetapi
Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang
bisu berbicara dengan suara manusia dan
mencegah kebebalan nabi itu.”.
2.
Anehkah kalau keledai bisa berbicara?
Sebetulnya
bukan merupakan hal yang aneh bahwa binatang bisa berbicara kalau Tuhan
menghendaki / mengijinkannya. Apa bedanya dengan orang Kristen yang bisa
berbahasa Roh (yang asli)? Mereka tidak pernah belajar bahasa itu, tetapi
tahu-tahu bisa menggunakannya dalam berbicara, karena Tuhan yang mengatur lidah
mereka. Kalau Tuhan bisa bekerja seperti itu dalam diri orang Kristen, mengapa
Ia tidak bisa melakukan hal yang sama untuk binatang?
Hal
yang perlu diperhatikan adalah: kalau dalam memberi ‘bahasa Roh’ untuk
keledai, ternyata ‘bahasa Roh’ itu merupakan bahasa manusia, tidakkah aneh
kalau banyak orang Kristen jaman sekarang menggunakan bahasa Roh, yang sama
sekali tidak ada artinya dan tidak bisa dimengerti oleh siapapun?
Bdk.
Kel 4:10-12 - “(10) Lalu kata Musa kepada
TUHAN: ‘Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak
Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat
lidah.’ (11) Tetapi TUHAN berfirman kepadanya:
‘Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau
tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?
(12) Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau,
apa yang harus kaukatakan.’”.
3.
Tujuan Allah membuat keledai itu berbicara.
a.
Untuk menegur Bileam.
Matthew
Henry: “when
all this would not work upon him, God opened the mouth of the ass, and she spoke
to him once and again; ... This was a great miracle, quite above the power of
nature, ... He that made man speak could, when he pleased, make the ass to speak
with man’s voice, 2 Pet. 2:16. Here Mr. Ainsworth observes that the devil,
when he tempted our first parents to sin, employed a subtle serpent, but that
God, when he would convince Balaam, employed a silly ass, ... for Satan
corrupts men’s minds by the craftiness of those that lie in wait to deceive,
but Christ has chosen the foolish things of the world to confound the wise. By
a dumb ass God rebukes the madness of the prophet, for he will never want
reprovers, but when he pleases can make the stones cry out as witnesses to him,
Lu. 19:40; Hab. 2:11.” [= ketika semua ini tidak
menghasilkan hasil apapun padanya, Allah membuka mulut dari keledai, dan keledai
itu berbicara kepadanya sekali dan lalu sekali lagi; ... Ini merupakan suatu
mujijat yang besar, betul-betul melampaui kuasa alam, ... Ia yang membuat
manusia berbicara, bisa, pada waktu Ia berkenan, membuat keledai untuk berbicara
dengan suara manusia, 2Pet 2:16. Di sini Mr. Ainsworth memperhatikan bahwa setan
/ Iblis, pada waktu ia mencobai orang tua pertama kita untuk berbuat dosa,
menggunakan seekor ular yang cerdik, tetapi
bahwa Allah, pada waktu ia mau meyakinkan Bileam, menggunakan seekor keledai yang
tolol, ... karena setan / Iblis merusak
pikiran manusia dengan kecerdikan dari mereka yang berbaring dan menunggu untuk
menipu / mendustai, tetapi Kristus telah
memilih hal-hal yang bodoh dari dunia untuk membingungkan orang-orang berhikmat.
Oleh seekor keledai yang bisu / bodoh, Allah
menegur kegilaan sang nabi, karena Ia tidak akan pernah kekurangan
penegur-penegur, tetapi pada waktu Ia berkenan Ia bisa membuat batu-batu
berteriak sebagai saksi-saksi bagiNya, Luk 19:40; Hab 2:11.].
2Pet 2:16
- “Tetapi
Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya,
sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah
kebebalan nabi itu.”.
Luk 19:40
- “JawabNya:
‘Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu
ini akan berteriak.’”.
Hab 2:11
- “Sebab
batu berseru-seru dari tembok, dan balok
menjawabnya dari rangka rumah.”.
Kel 4:10-12
- “(10)
Lalu kata Musa kepada TUHAN: ‘Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara,
dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hambaMupun tidak, sebab aku
berat mulut dan berat lidah.’ (11) Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: ‘Siapakah
yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat
orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? (12) Oleh sebab
itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus
kaukatakan.’”.
1Kor 1:27-29
- “(27)
Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah
untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi
dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, (28) dan apa
yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang
tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, (29)
supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”.
The
Bible Exposition Commentary:
“A
person has reached a very low level in life if God has to use brute beasts to
communicate His mind.”
[= Seseorang telah mencapai tingkat yang sangat rendah dalam hidupnya jika Allah
harus menggunakan binatang yang tidak berakal untuk menyampaikan pikiranNya.].
b.
Untuk mengajar Bileam bahwa Tuhan bisa mengontrol semua pembicaraan,
termasuk kata-katanya nanti pada saat ia mau mengutuk Israel.
The
Biblical Illustrator:
“THE
OBJECT OF THE MIRACLE. ... He might also have learned that all speech was under
Divine control, and that he would be able to utter only such words as God would
permit.”
[= TUJUAN DARI MUJIJAT ITU. ... Ia bisa juga mempelajari bahwa semua ucapan ada
dibawah kontrol Ilahi, dan bahwa ia akan bisa mengucapkan hanya kata-kata
seperti yang Allah ijinkan.].
c.
Untuk menunjukkan bahwa Tuhan bisa membuat makhluk bicara tanpa memberi
penghargaan kepada makhluk itu.
IVP
Bible Background Commentary:
“The
effect of the speaking animal in this story is to make it clear to Balaam that
God can speak through any creature he chooses, with no credit to the
creature.” [= Pengaruh / akibat dari
berbicaranya binatang dalam cerita ini adalah untuk membuatnya jelas kepada
Bileam bahwa Allah bisa berbicara melalui makhluk manapun yang Ia pilih, tanpa
pujian kepada makhluk itu.].
Misalnya
pada waktu Tuhan membuat Kayafas bernubuat dalam Yoh 11:49-52. Ini nubuat dari
Tuhan, tetapi Kayafasnya sama sekali tidak dianggap berjasa karena nubuat yang
ia keluarkan.
4.
Sebetulnya dalam hidup kita sehari-hari, kita memang bisa / harus belajar
dari binatang.
The
Biblical Illustrator:
“‘But
ask now the beasts, and they shall teach thee; and the fowls of the air, and
they shall tell thee.’ ‘The stork in heaven knoweth her appointed times.’
‘The ox knoweth his owner, and the ass his master’s crib.’ ‘Go to the
ant, thou sluggard; consider her ways, and be wise.’ Dumb creatures are
continually teaching us.” [= ‘Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran,
kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan’. ‘Burung
bangau berpegang pada waktu kembalinya’. ‘Lembu mengenal pemiliknya, dan
keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya’. ‘Hai pemalas, pergilah
kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak’. Makhluk-makhluk bisu /
bodoh secara terus menerus mengajar kita.].
Ayub 12:7-9
- “(7)
Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan
diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya
keterangan. (8) Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran,
bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. (9) Siapa
di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu;”.
Yang
percaya teori ‘Big Bang’ lebih tolol dari binatang / bumi.
Yer 8:7
- “Bahkan
burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur, burung
layang-layang dan burung bangau berpegang pada waktu kembalinya, tetapi
umatKu tidak mengetahui hukum TUHAN.”.
Yes 1:3
- “Lembu
mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak;
keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya,
tetapi umatKu tidak memahaminya.’”.
Amsal
6:6 - “Hai
pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah
lakunya dan jadilah bijak:”.
Mau
belajar tentang kesetiaan? Belajarlah pada anjing!
b)
Jawaban Bileam pada keledainya.
Ay 29: “Jawab
Bileam kepada keledai itu: ‘Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya
ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.’”.
1.
Bileam tidak kelihatan heran / terkejut melihat / mendengar keledainya
berbicara.
Merupakan
sesuatu yang aneh bahwa Bileam tidak merasa heran / bingung mendengar keledainya
berbicara. Ada yang mengatakan bahwa karena ia adalah seorang petenung, itu
bukan hal yang luar biasa baginya, dan ada juga yang mengatakan bahwa nafsunya
yang begitu keras kepala begitu membutakannya sehingga ia tidak bisa
memperhatikan atau mempertimbangkan keanehan dari peristiwa itu.
The
Bible Exposition Commentary:
“Why
wasn’t Balaam shocked when his beast spoke to him ‘with a man’s voice’?
... Satan spoke through a serpent when he deceived Eve
(Gen 3:1 ff; 2 Cor 11:3), and it’s possible that in the past
Satan’s demons had spoken to Balaam through animals.” [= Mengapa Bileam tidak
terkejut pada waktu binatangnya berbicara kepadanya ‘dengan suara manusia’?
... Setan / Iblis berbicara melalui seekor ular pada saat ia menipu Hawa (Kej
3:1-dst; 2Kor 11:3), dan adalah mungkin bahwa dalam
masa lalu roh-roh jahat dari Iblis telah berbicara kepada Bileam melalui
binatang-binatang.].
2.
Bileam berharap bisa mempunyai pedang untuk membunuh keledainya.
Matthew
Henry: “Balaam
in his fury wished he had a sword to kill his ass with, v. 29. See his
impotency; can he think by his curses to do mischief to Israel that has it not
in his power to kill his own ass?” [= Bileam dalam kemurkaannya
berharap seandainya ia mempunyai sebuah pedang untuk membunuh keledainya, ay 29.
Lihatlah ketidak-mampuannya; bisakah ia berpikir / mengira bahwa dengan
kutukan-kutukannya ia bisa melakukan kerusakan kepada Israel padahal ia tidak
mempunyai kuasa untuk membunuh keledainya sendiri?].
Catatan:
jangan artikan ‘pedang’ sebagai firman Tuhan. Ini cerita sejarah, dan karena
itu tidak bisa diartikan secara simbolis / alegoris seperti itu.
c)
Jawaban keledai kepada Bileam.
Ay 30: “Tetapi
keledai itu berkata kepada Bileam: ‘Bukankah aku ini keledaimu yang
kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian
kepadamu?’ Jawabnya: ‘Tidak.’”.
Tuhan
bukan hanya membuat keledai ini bisa bicara, tetapi juga bisa berargumentasi!
Sebetulnya dalam kata-kata keledai itu dalam ay 28 sudah terdapat
argumentasi, tetapi dalam ay 30 ini argumentasinya lebih kuat lagi! Karena
itu adalah aneh kalau banyak orang Kristen tidak bisa berargumentasi, tetapi
mengclaim dipenuhi Roh Kudus, dipakai oleh Tuhan, dan sebagainya. Mereka
kalah oleh seekor keledai!
6)
Tuhan menyingkapkan mata Bileam.
Ay 31: “Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam;
dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tanganNya berdiri di
jalan, lalu berlututlah ia dan sujud.”.
Bdk.
2Raja 6:15-17 - “(15)
Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah
suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah
bujangnya itu kepadanya: ‘Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?’
(16) Jawabnya: ‘Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada
yang menyertai mereka.’ (17) Lalu berdoalah Elisa:
‘Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.’ Maka TUHAN membuka
mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh
dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.”.
Calvin:
“‘Then
the Lord opened the eyes of Balaam.’ This passage teaches us, that
whatever be the acuteness of our senses, it is not only implanted in us by God,
but also either sustained or extinguished by His secret inspiration. Balaam’s
eyes are opened; consequently there was a veil before them previously, which
prevented him from seeing what was manifest. Thus God at His pleasure makes dull
the senses of those who seem to themselves to be very acute; since perception is
His special gift.” [= ‘Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam’. Text ini mengajar kita, bahwa
bagaimanapun tajamnya pikiran kita, itu bukan hanya ditanamkan dalam
diri kita oleh Allah, tetapi juga atau ditopang atau dipadamkan oleh ilhamNya
yang rahasia. Mata Bileam terbuka; dan
karena itu sebelum itu ada suatu tudung / selubung di depannya, yang menghalangi
dia untuk melihat apa yang nyata / jelas. Jadi,
Allah sesuai perkenanNya membuat tumpul pikiran mereka yang bagi diri mereka
sendiri kelihatan tajam; karena pengertian merupakan anugerahNya yang khusus.].
7)
Percakapan Malaikat TUHAN dengan Bileam.
a)
Malaikat TUHAN berbicara kepada Bileam.
Ay 32-33: “(32)
Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: ‘Apakah sebabnya engkau memukul
keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini
pada pemandanganKu menuju kepada kebinasaan. (33) Ketika keledai ini melihat
Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapanKu; jika ia tidak menyimpang dari
hadapanKu, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan
hidup.’”.
Tadi
Bileam mengalami sesuatu yang menyebalkan. Keledainya tahu-tahu ngadat, dan
menyebabkan kakinya terhimpit tembok. Itu menyebabkan ia marah, padahal
sebetulnya hal itu menyelamatkan nyawanya. Ini memberi pelajaran kepada kita
untuk tidak marah, mengomel, dsb, kalau ada hal-hal yang terjadi bertentangan
dengan keinginan kita, karena bisa saja hal-hal itu justru digunakan oleh Allah,
atau diijinkan terjadi oleh Allah, untuk menyelamatkan kita.
Tetapi
Matthew Henry juga mengatakan bahwa pada saat kita mengalami hal yang tidak
menyenangkan, kita harus memeriksa apakah kita ada di jalan yang benar atau
tidak.
b)
Jawaban Bileam kepada Malaikat TUHAN.
Ay
34: “Lalu
berkatalah Bileam kepada Malaikat TUHAN: ‘Aku telah berdosa, karena aku tidak
mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika
hal itu jahat di mataMu, aku mau pulang.’”.
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘I have sinned ... if it displease thee.’
Notwithstanding this confession, he evinced no spirit of penitence, as he speaks
of desisting only from the outward act.” [= ‘Aku telah berdosa ... jika hal itu
jahat di mataMu’. Sekalipun ada pengakuan ini, ia tidak menunjukkan dengan
jelas roh penyesalan, karena ia berbicara hanya tentang penghentian tindakan
lahirah.].
The Bible Exposition Commentary:
“His words, ‘I have sinned,’ were not evidence of sincere
repentance. Pharaoh (Ex 9:27), King Saul (1 Sam 15:24,30; 26:21), and Judas
Iscariot (Matt 27:4) all uttered these words but didn’t turn to God for mercy.
What good is it to say pious words if your heart goes right on sinning? Listen
to David (2 Sam 12:13; Ps 51:4; 2 Sam 24:10,17; 1 Chron 21:8,17) or the Prodigal
Son if you want to hear real confession.” [= Kata-katanya
‘Aku telah berdosa’, bukan bukti dari pertobatan yang sungguh-sungguh.
Firaun (Kel 9:27), Raja Saul (1Sam 15:24,30; 26:21), dan Yudas Iskariot (Mat
27:4) semua mengucapkan kata-kata ini, tetapi tidak berbalik kepada Allah untuk
belas kasihan. Apa baiknya untuk mengucapkan kata-kata saleh jika hatimu terus
berbuat dosa? Dengarlah Daud (2Sam 12:13; Maz 51:6; 2Sam 24:10,17; 1Taw 21:8,17)
atau anak yang hilang jika engkau ingin mendengar pengakuan yang sejati.].
Kel 9:27
- “Lalu
Firaun menyuruh memanggil Musa dan Harun serta berkata kepada mereka: ‘Aku
telah berdosa sekali ini, TUHAN itu yang benar, tetapi aku
dan rakyatkulah yang bersalah.”.
1Sam 15:30
- “Tetapi
kata Saul: ‘Aku telah berdosa; tetapi
tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan
di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud
menyembah kepada TUHAN, Allahmu.’”.
1Sam 26:21
- “Lalu
berkatalah Saul: ‘Aku telah berbuat dosa,
pulanglah, anakku Daud, sebab aku tidak akan berbuat jahat lagi kepadamu, karena
nyawaku pada hari ini berharga di matamu. Sesungguhnya, perbuatanku
itu bodoh dan aku sesat sama sekali.’”.
Mat 27:4
- “dan
berkata: ‘Aku telah berdosa karena
menyerahkan darah orang yang tak bersalah.’ Tetapi jawab mereka: ‘Apa urusan
kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!’”.
2Sam 12:13
- “Lalu
berkatalah Daud kepada Natan: ‘Aku sudah berdosa
kepada TUHAN.’ Dan Natan berkata kepada Daud: ‘TUHAN telah
menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.”.
Maz 51:6
- “Terhadap
Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan
melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam
putusanMu, bersih dalam penghukumanMu.”.
2Sam 24:10,17
- “(10)
Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu
berkatalah Daud kepada TUHAN: ‘Aku telah sangat
berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, TUHAN, jauhkanlah
kiranya kesalahan hambaMu, sebab perbuatanku itu
sangat bodoh.’ ... (17) Dan berkatalah Daud kepada TUHAN, ketika
dilihatnya malaikat yang tengah memusnahkan bangsa itu, demikian:
‘Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah
membuat kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan
mereka? Biarlah kiranya tanganMu menimpa aku dan kaum keluargaku.’”.
1Taw
21:8,17 - “(8)
Lalu berkatalah Daud kepada Allah: ‘Aku telah
sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, jauhkanlah
kiranya kesalahan hambaMu, sebab perbuatanku itu
sangat bodoh.’ ... (17) Dan berkatalah Daud kepada Allah: ‘Bukankah
aku ini yang menyuruh menghitung rakyat dan aku sendirilah yang telah berdosa
dan yang melakukan kejahatan, tetapi domba-domba ini, apakah yang
dilakukan mereka? Ya TUHAN, Allahku, biarlah kiranya tanganMu menimpa aku dan
kaum keluargaku, tetapi janganlah tulah menimpa umatMu.’”.
Kalau
diperhatikan hanya kata-kata lahiriahnya, maka pengakuan dosa Daud tidak berbeda
dengan ‘pengakuan dosa’ dari Saul, Firaun, dan Yudas Iskariot. Yang
membedakan adalah ketulusan / kesungguhan, motivasinya, dan pertobatannya.
The
Biblical Illustrator:
“There
is many a man who says, in his own room, very often, and at church, ‘I have
sinned’; but throughout the week, every day, and all the day, he is grasping
in his business, he is anxious in his home, he is occupied in his thoughts about
money. It is money, money everywhere. Money gives its tone and colour to his
whole life. That is Balaam to the very letter.” [= Ada orang yang berkata, di
ruangannya, sangat sering, dan di gereja, ‘Aku telah berdosa’; tetapi
sepanjang minggu, setiap hari, dan sepanjang hari, ia tamak dalam bisnis /
pekerjaannya, ia kuatir / sangat ingin di rumahnya, ia dipenuhi dalam pikirannya
tentang uang. Uang, uang dimana-mana. Uang memberinya nada dan warna pada
seluruh kehidupannya. Itu secara hurufiah adalah Bileam.].
Yang
kita cintai itu, atau yang memenuhi pikiran kita itu, bisa saja bukan uang,
tetapi hal-hal lain.
The
Biblical Illustrator:
“That
was Balaam - and that may be you! Or is it thus? You have an object in life very
dear. You know that the object is not after God’s will, but still you pursue
it. You recur to it again and again - after voices - after providences - which
have all told you that it is wrong. But you will have your darling object at any
cost - even though it forfeit peace of mind, and though you lose God’s favour.
This, again, is Balaam.”
[= Itulah Bileam - dan itu bisa adalah engkau! Atau apakah memang seperti itu?
Engkau mempunyai obyek dalam kehidupan yang sangat engkau cintai. Engkau tahu
bahwa obyek itu tidak sesuai kehendak Allah, tetapi engkau tetap mengejarnya.
Engkau kembali kepadanya lagi dan lagi - setelah suara-suara - setelah
providensia-providensia - yang semuanya telah memberitahumu bahwa itu adalah
salah. Tetapi engkau tetap menghendaki obyek kecintaanmu tidak peduli berapa
ongkosnya - sekalipun itu menghilangkan / mengorbankan damai dari pikiran, dan
sekalipun engkau kehilangan kebaikan / perkenan Allah. Ini lagi-lagi adalah
Bileam.].
c)
Jawaban Malaikat TUHAN kepada Bileam.
Ay 35: “Tetapi
Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: ‘Pergilah bersama-sama dengan
orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus
kaukatakan.’ Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka
Balak itu.”.
The
Bible Exposition Commentary:
“In
His permissive will, God allowed Balaam to continue on his journey, but He
cautioned him to speak only the messages that God gave him. For the first time,
Balaam realized that there was more involved in this adventure than cursing a
nation and making some money. As the Lord used the donkey to rebuke her master,
God would use Balaam to reveal great truths about Israel and Israel’s promised
Messiah.”
[= Dalam kehendakNya yang mengijinkan, Allah mengijinkan Bileam untuk
melanjutkan perjalanannya, tetapi Ia memperingatkannya untuk mengatakan hanya
pesan-pesan yang Allah berikan kepadanya. Untuk pertama kalinya Bileam menyadari
bahwa ada lebih banyak yang terlibat dalam petualangannya ini dari pada sekedar
mengutuki suatu bangsa dan mencari uang. Sebagaimana Tuhan mengunakan keledai
untuk menegur tuannya, Allah akan menggunakan Bileam untuk menyatakan
kebenaran-kebenaran besar tentang Israel dan Mesias yang dijanjikan kepada
Israel.].
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali