(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 3 Nopember 2019, pk 08.00 & 17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Cerita
tentang Bileam ada dalam Bil 22-25, dan selain itu ayat-ayat lain yang
membicarakan Bileam adalah: Bil 31:8,15-17
Ul 23:3-5 Yos 13:22 Yos 24:9-10
Neh 13:1-3 Mikha 6:5
2Pet 2:15-16 Yudas 11 Wah 2:14.
Bil 22:1-41
- “(1) Kemudian berangkatlah orang Israel, dan berkemah di dataran Moab, di
daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho. (2) Balak bin Zipor melihat
segala yang dilakukan Israel kepada orang Amori. (3) Maka sangat gentarlah
orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan
takutlah orang Moab karena orang Israel. (4) Lalu berkatalah orang Moab kepada
para tua-tua Midian: ‘Tentu saja laskar besar itu akan membabat habis segala
sesuatu yang di sekeliling kita, seperti lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan
hijau di padang.’ Adapun pada waktu itu Balak bin Zipor menjadi raja Moab.
(5) Raja ini mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, ke Petor yang di tepi
sungai Efrat, ke negeri teman-teman sebangsanya, untuk memanggil dia, dengan
pesan: ‘Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai
tertutup permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku. (6)
Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat
dari padaku; mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri
ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang
kaukutuk, dia kena kutuk.’ (7) Lalu berangkatlah para tua-tua Moab dan para
tua-tua Midian dengan membawa di tangannya upah penenung; setelah mereka
sampai kepada Bileam, disampaikanlah kepadanya pesan Balak. (8) Lalu
berkatalah Bileam kepada mereka: ‘Bermalamlah di sini pada malam ini, maka
aku akan memberi jawab kepadamu, sesuai dengan apa yang akan difirmankan TUHAN
kepadaku.’ Maka tinggallah pemuka-pemuka Moab itu pada Bileam. (9) Kemudian
datanglah Allah kepada Bileam serta berfirman: ‘Siapakah orang-orang yang
bersama-sama dengan engkau itu?’ (10) Dan berkatalah Bileam kepada Allah:
‘Balak bin Zipor, raja Moab, mengutus orang kepadaku dengan pesan: (11)
Ketahuilah, ada bangsa yang keluar dari Mesir, dan permukaan bumi tertutup
olehnya; karena itu, datanglah, serapahlah mereka bagiku, mungkin aku akan
sanggup berperang melawan mereka dan menghalau mereka.’ (12) Lalu
berfirmanlah Allah kepada Bileam: ‘Janganlah engkau pergi bersama-sama
dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah
diberkati.’ (13) Bangunlah Bileam pada waktu pagi, lalu berkata kepada
pemuka-pemuka Balak: ‘Pulanglah ke negerimu, sebab TUHAN tidak mengizinkan
aku pergi bersama-sama dengan kamu.’ (14) Lalu berangkatlah pemuka-pemuka
Moab itu dan setelah mereka sampai kepada Balak, berkatalah mereka: ‘Bileam
menolak datang bersama-sama dengan kami.’ (15) Tetapi Balak mengutus pula
pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih terhormat dari yang pertama. (16) Setelah
mereka sampai kepada Bileam, berkatalah mereka kepadanya: ‘Beginilah kata
Balak bin Zipor: Janganlah biarkan dirimu terhalang-halang untuk datang
kepadaku, (17) sebab aku akan memberi upahmu sangat banyak, dan apapun yang
kauminta dari padaku, aku akan mengabulkannya. Datanglah, dan serapahlah
bangsa itu bagiku.’ (18) Tetapi Bileam menjawab kepada pegawai-pegawai
Balak: ‘Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh,
aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang
melanggar titah TUHAN, Allahku. (19) Oleh sebab itu, baiklah kamupun tinggal
di sini pada malam ini, supaya aku tahu, apakah pula yang akan difirmankan
TUHAN kepadaku.’ (20) Datanglah Allah kepada Bileam pada waktu malam serta
berfirman kepadanya: ‘Jikalau orang-orang itu memang sudah datang untuk
memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya
apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kaulakukan.’ (21) Lalu bangunlah
Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi
bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. (22) Tetapi bangkitlah murka Allah
ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya.
Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada
bersama-sama dengan dia. (23) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN
berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tanganNya, menyimpanglah keledai
itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk
memalingkannya kembali ke jalan. (24) Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri
pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok
sebelah-menyebelah. (25) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN,
ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada
tembok. Maka ia memukulnya pula. (26) Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus
dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk
menyimpang ke kanan atau ke kiri. (27) Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah
keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam,
lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat. (28) Ketika itu TUHAN membuka
mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan
kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?’ (29) Jawab Bileam kepada
keledai itu: ‘Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di
tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.’ (30) Tetapi keledai itu berkata
kepada Bileam: ‘Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu
sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?’ Jawabnya:
‘Tidak.’ (31) Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah
Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tanganNya berdiri di jalan, lalu
berlututlah ia dan sujud. (32) Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya:
‘Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku
keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandanganKu menuju kepada
kebinasaan. (33) Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang
dari hadapanKu; jika ia tidak menyimpang dari hadapanKu, tentulah engkau yang
Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.’ (34) Lalu berkatalah
Bileam kepada Malaikat TUHAN: ‘Aku telah berdosa, karena aku tidak
mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang,
jika hal itu jahat di mataMu, aku mau pulang.’ (35) Tetapi Malaikat TUHAN
berfirman kepada Bileam: ‘Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu,
tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.’
Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka Balak itu. (36)
Ketika Balak mendengar, bahwa Bileam datang, keluarlah ia menyongsong dia
sampai ke Kota Moab di perbatasan sungai Arnon, pada ujung perbatasan itu.
(37) Dan berkatalah Balak kepada Bileam: ‘Bukankah aku sudah mengutus orang
memanggil engkau? Mengapakah engkau tidak hendak datang kepadaku? Sungguhkah
tidak sanggup aku memberi upahmu?’ (38) Tetapi berkatalah Bileam kepada
Balak: ‘Ini aku sudah datang kepadamu sekarang; tetapi akan mungkinkah aku
dapat mengatakan apa-apa? Perkataan yang akan ditaruh Allah ke dalam mulutku,
itulah yang akan kukatakan.’ (39) Lalu pergilah Bileam bersama-sama dengan
Balak dan sampailah mereka ke Kiryat-Huzot. (40) Balak mengorbankan beberapa
ekor lembu sapi dan kambing domba dan mengirimkan sebagian kepada Bileam dan
kepada pemuka-pemuka yang bersama-sama dengan dia. (41) Keesokan harinya Balak
mengambil Bileam dan membawa dia mendaki bukit Baal. Dari situ dilihatnyalah
bagian yang paling ujung dari bangsa Israel.”.
1)
Moab takut, biarpun sebetulnya tidak ada alasan untuk takut.
Ay 1-3: “(1)
Kemudian berangkatlah orang
Israel, dan berkemah di dataran Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat
Yerikho. (2) Balak bin Zipor melihat segala yang dilakukan Israel kepada orang
Amori. (3) Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena
jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel.”.
a)
Memang Israel baru saja mengalahkan raja orang Amori yaitu Sihon (Bil
21:21-30) dan raja Basan yaitu Og (Bil 21:31-35). Bdk. Ul 2:26-3:11.
Keil
& Delitzsch mengatakan bahwa pasti tadinya orang Moab percaya bahwa Sihon
dan Og bisa menahan / mengalahkan orang Israel, tetapi ternyata baik Sihon
maupun Og dikalahkan oleh orang Israel.
b)
Bangsa Israel tidak mengambil daerah orang Moab, kecuali daerah Moab yang
tadinya sudah diambil oleh Sihon dari tangan orang Moab.
Adam
Clarke: “‘And
pitched in the plains of Moab.’ They had taken no part of the country that at
present appertained to the Moabites; they had taken only that part which had
formerly belonged to this people, but had been taken from them by Sihon, king of
the Amorites.” [= ‘Dan berkemah di dataran Moab’.
Mereka tidak mengambil bagian dari negara yang pada saat itu menjadi milik orang
Moab; mereka hanya mengambil bagian yang dulunya adalah milik dari bangsa ini,
tetapi telah diambil dari mereka oleh Sihon, raja orang Amori.].
Bdk.
Bil 21:21-26 - “(21)
Kemudian orang Israel mengirim utusan kepada Sihon, raja orang Amori, dengan
pesan: (22) ‘Izinkanlah kami melalui negerimu; kami tidak akan menyimpang
masuk ke ladang-ladang dan kebun-kebun anggurmu, kami tidak akan minum air
sumurmu, di jalan besar saja kami akan berjalan, sampai kami melalui batas
daerahmu.’ (23) Tetapi Sihon tidak mengizinkan orang Israel berjalan melalui
daerahnya, bahkan ia mengumpulkan seluruh laskarnya, lalu keluar ke padang gurun
menghadapi orang Israel, dan sesampainya di Yahas berperanglah ia melawan orang
Israel. (24) Tetapi orang Israel mengalahkan dia dengan mata pedang dan
menduduki negerinya dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok, sampai kepada bani
Amon, sebab batas daerah bani Amon itu kuat. (25) Dan orang Israel merebut
segala kota itu, lalu menetaplah mereka di segala kota orang Amori, di Hesybon
dan segala anak kotanya. (26) Sebab Hesybon ialah kota kediaman Sihon, raja
orang Amori; raja ini tadinya berperang melawan raja Moab yang lalu, dan merebut
dari tangannya seluruh negerinya sampai ke sungai Arnon.”.
c)
Lebih dari itu, Tuhan sendiri melarang Israel untuk menduduki daerah dari
orang Edom, Moab, dan Amon (Ul 2:4-5,9,19).
Catatan:
Edom adalah bangsa keturunan Esau (Kej 36:1,9), dan Moab maupun Amon adalah
bangsa-bangsa keturunan Lot (Kej 19:30-38).
Ul 2:9
- “Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Janganlah melawan Moab dan janganlah
menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu apapun dari negerinya
menjadi milikmu, karena Ar telah Kuberikan kepada bani Lot menjadi miliknya.”.
d)
Tetapi orang Moab toh merasa takut dengan kehadiran bangsa Israel.
Ay 3:
“Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu,
karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah
orang Moab karena orang Israel.”.
1.
Terjemahan dari ay 3.
Kata
‘muak’
tidak ada dalam terjemahan bahasa Inggris.
KJV:
‘And Moab was sore afraid of the people,
because they were many: and Moab was
distressed
because of the children of Israel’ [= Dan orang Moab sangat takut
terhadap bangsa itu, karena mereka banyak: dan orang Moab susah
/ kuatir karena anak-anak Israel].
RSV:
‘And Moab was in great dread of the people, because they were many; Moab was
overcome with fear of the people of Israel’
[= Dan Moab berada dalam ketakutan yang besar terhadap bangsa itu, karena mereka
banyak; orang Moab dikuasai oleh rasa takut
terhadap bangsa Israel].
NIV:
‘and Moab was terrified because there
were so many people. Indeed, Moab was filled with dread because of the Israelites’
[= dan orang Moab takut karena ada begitu banyak orang. Memang, orang Moab dipenuhi
dengan rasa takut karena orang-orang Israel].
NASB:
‘So Moab was in great fear because of the people, for they were numerous;
and Moab was in dread of the sons of
Israel’
[= Demikianlah orang Moab berada dalam rasa takut yang besar karena bangsa itu,
karena mereka banyak; dan orang Moab ada
dalam ketakutan terhadap anak-anak Israel].
Tetapi
menurut Jamieson, Fausset & Brown kata ‘muak’
itu sebetulnya ada.
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘And Moab was distressed because of the children of
Israel.’ The addition of this clause being tautological, Michaelis and
Hengstenberg take the verb quwts
in its primary signification, ‘to loathe, to be disgusted, or wearied of a
thing’ (Num. 21:5: cf. Gen. 27:46). The Septuagint translates prosoochthise
Mooab, ‘was indignant,’ but Gesenius shows that the idea of loathing
in several verbs is also transferred to that of fear.” [= ‘dan orang Moab susah / kuatir karena anak-anak
Israel’. Karena penambahan anak kalimat ini merupakan suatu pengulangan,
Michaelis dan Hengstenberg mengartikan kata kerja QUWTS dalam artinya yang
utama, ‘muak, jijik, atau jemu terhadap sesuatu’ (Bil 21:5: bdk. Kej 27:46).
Septuaginta menterjemahkan prosoochthise
Mooab, ‘marah’, tetapi Gesenius menunjukkan bahwa gagasan dari muak
dalam beberapa kata kerja juga diberikan pada rasa takut.].
Bil 21:5
- “Lalu
mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: ‘Mengapa kamu memimpin kami keluar
dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti
dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.’”.
Kej 27:46
- “Kemudian
Ribka berkata kepada Ishak: ‘Aku telah jemu hidup karena
perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari
antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup
lagi?’”.
Mungkin
sekalipun arti ‘muak’ itu ada, tetapi dianggap tidak sesuai dengan kontext,
maka terjemahan-terjemahan bahasa Inggris semua membuang arti itu, dan hanya
menterjemahkan ‘takut’.
2.
Mengapa orang Moab tetap merasa takut?
a.
Karena curiga tanpa alasan.
Matthew
Henry: “They
needed not to fear any harm from them if they knew (and it is probable that
Moses let them know) the orders God had given to Israel not to contend with the
Moabites, nor to use any hostility against them, Deut. 2:9. But, if they had any
notice of this, they were jealous that it was but a sham, to make them secure,
that they might be the more easily conquered. Notwithstanding the old friendship
between Abraham and Lot, the Moabites resolved to ruin Israel if they could, and
therefore they will take it for granted, without any ground for the suspicion,
that Israel resolves to ruin them. Thus it is common for those that design
mischief to pretend that mischief is designed against them; and their groundless
jealousies must be the colour of their causeless malice. They hear of their
triumphs over the Amorites (v. 2), and think that their own house is in danger
when their neighbour’s is on fire.”
[= Mereka tak perlu takut ada gangguan / bahaya apapun dari orang Israel jika
mereka tahu (dan adalah mungkin bahwa Musa memberitahu mereka) perintah-perintah
yang diberikan Allah kepada Israel untuk tidak melawan orang-orang Moab, atau
bersikap bermusuhan terhadap mereka, Ul 2:9. Tetapi, jika mereka memperhatikan
hal ini, mereka kuatir bahwa itu hanyalah suatu kepura-puraan, untuk membuat
mereka merasa aman, sehingga mereka bisa dikalahkan dengan lebih mudah.
Sekalipun ada persahabatan tua / kuno antara Abraham dan Lot, orang-orang Moab
memutuskan untuk menghancurkan Israel jika mereka bisa melakukannya, dan mereka
menganggap, tanpa dasar apapun untuk curiga, bahwa Israel memutuskan untuk
menghancurkan mereka. Demikianlah merupakan sesuatu yang umum bagi mereka yang
merencanakan kejahatan untuk mengira bahwa kejahatan direncanakan terhadap
mereka; dan kewaspadaan / ketakutan mereka yang tak berdasar pastilah merupakan
alasan dari kejahatan mereka yang tak berdasar. Mereka mendengar tentang
kemenangan Israel terhadap orang-orang Amori (ay 2), dan mengira bahwa
rumah mereka ada dalam bahaya pada waktu tetangga mereka kebakaran.].
Penerapan:
dalam jaman sekarang ini, dimana begitu banyak orang melakukan kejahatan secara
tidak terduga, adalah sesuatu yang bijaksana untuk selalu waspada terhadap
orang-orang yang tidak dikenal. Tetapi bagaimanapun, ‘sikap waspada’ ini
berbeda dengan ‘curiga tanpa alasan’.
b.
Bahwa orang Moab tetap takut, menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak
percaya / reprobate (orang-orang yang ditentukan untuk binasa) selalu
takut tanpa alasan.
Calvin:
“In his very alarm we see the
truth of what Scripture declares, viz., that the reprobate are always agitated
by groundless terrors; and this is the just reward of those who seek not peace
with God, that they should be constantly harassed by wretched disquietude.” [= Dalam rasa takutnya kita
melihat kebenaran dari apa yang dinyatakan oleh Kitab Suci, yaitu bahwa
orang-orang yang ditentukan untuk binasa selalu digelisahkan oleh rasa takut
yang tak berdasar; dan ini merupakan upah yang benar / adil bagi mereka yang
tidak mencari damai dengan Allah, sehingga mereka secara terus menerus diganggu
oleh ketidak-tenangan yang buruk sekali.]
- hal 182.
Bandingkan
dengan ayat-ayat di bawah ini:
·
Yes 48:22
- “‘Tidak
ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!’ firman TUHAN.”.
·
Amsal 28:1 - “Orang
fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa
aman seperti singa muda.”.
·
Maz 53:5-6 - “(5) Tidak sadarkah orang-orang yang
melakukan kejahatan, yang memakan habis umatKu seperti memakan roti, dan yang
tidak berseru kepada Allah? (6) Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang
besar, padahal tidak ada yang mengejutkan; sebab Allah menghamburkan
tulang-tulang para pengepungmu; mereka akan dipermalukan, sebab Allah telah
menolak mereka.”.
·
Im 26:36 - “Dan mengenai mereka yang masih tinggal hidup dari antaramu, Aku
akan mendatangkan kecemasan ke dalam hati mereka di dalam negeri-negeri musuh
mereka, sehingga bunyi daun yang ditiupkan anginpun akan mengejar mereka, dan
mereka akan lari seperti orang lari menjauhi pedang, dan mereka akan rebah,
sungguhpun tidak ada orang yang mengejar.”.
·
Ul 28:65 - “Engkau tidak akan mendapat ketenteraman di antara bangsa-bangsa
itu dan tidak akan ada tempat berjejak bagi telapak kakimu; TUHAN akan
memberikan di sana kepadamu hati yang gelisah, mata yang penuh rindu dan
jiwa yang merana.”.
Calvin:
“For as the brightness of the
sun is painful and injurious to those who have weak eyes, so the blessings which
God bestows upon the Church, in token of His paternal favour, torment the
reprobate and stir them up to envy.”
[= Karena seperti terangnya matahari merupakan sesuatu yang menyakitkan dan
melukai bagi orang-orang yang mempunyai mata yang lemah, demikian juga
berkat-berkat yang Allah berikan kepada Gereja, sebagai tanda kebaikanNya
sebagai Bapa, menyiksa orang-orang yang ditentukan untuk binasa dan mengaduk /
menggerakkan mereka pada iri hati.] - hal 182.
Penerapan:
berkat dari Allah kepada seseorang bisa menyiksa orang-orang jahat karena mereka
menjadi iri hati. Ini terjadi, tidak jauh-jauh, tetapi bahkan di gereja ini
sendiri. Masalahnya, saya pergi ke Malaysia, makan durian dsb. Tentu saya tak
bisa pergi sendiri, dan kalau saya mengajak orang, tentu saya memilih orang yang
cocok dengan saya, menyenangkan untuk diajak bicara dan sebagainya. Ini lalu
menjadi obyek iri hati dari orang tertentu di gereja ini, yang lalu kirim WA ke
orang-orang lain, dan bertanya: ‘Kamu tak diajak ke
Malaysia? Kamu tak diajak makan durian?’ dan sebagainya. Dan kabarnya
ada yang terhasut dan lalu tak mau ke gereja ini lagi.
Saya
ingin tegaskan, tugas saya sebagai pendeta di gereja ini adalah belajar dan
mengajarkan Injil dan firman Tuhan di gereja ini, BUKAN MEMBERI DURIAN ATAU
MENGAJAK JALAN-JALAN KE MALAYSIA!
Kalau
ada yang berpikiran sinting bahwa tugas saya sebagai pendeta adalah mengajak
jalan-jalan ke Malaysia dan mengajak makan durian, lalu tidak mau ke gereja
ini lagi, silahkan pergi dari gereja ini dan tidak usah kembali ke gereja ini.
Carilah gereja yang pendetanya punya pikiran yang sama gilanya dengan pikiran
tolol kalian!
Bdk.
Ro 12:15 - “Bersukacitalah
dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang
menangis!”.
Banyak
orang membaca bagian pertama dari ayat ini seakan-akan bunyinya adalah: ‘Iri
hatilah dengan orang-orang yang bersukacita’!
2)
Menghadapi hal seperti itu, maka Balak, raja Moab, memutuskan untuk
memanggil Bileam.
Ay 4-5a:
“(4)
Lalu berkatalah orang Moab kepada para tua-tua Midian: ‘Tentu saja laskar
besar itu akan membabat habis segala sesuatu yang di sekeliling kita, seperti
lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang.’ Adapun pada waktu itu
Balak bin Zipor menjadi raja Moab. (5a) Raja ini mengirim utusan kepada Bileam
bin Beor, ke Petor yang di tepi sungai Efrat, ke negeri teman-teman sebangsanya,
untuk memanggil dia,”.
a)
‘tua-tua
Midian’ (ay
4a).
Orang-orang
Midian merupakan keturunan dari Abraham dan Ketura.
Kej 25:1-4
- “(1) Abraham mengambil pula seorang isteri,
namanya Ketura. (2) Perempuan itu
melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian,
Isybak dan Suah. (3) Yoksan memperanakkan Syeba dan Dedan. Keturunan Dedan ialah
orang Asyur, orang Letush dan orang Leum. (4) Anak-anak
Midian ialah Efa, Efer, Henokh, Abida dan Eldaa. Itulah semuanya keturunan
Ketura.”.
b) Orang-orang
Midian juga tinggal di Moab pada saat itu, dan karena itu mereka juga merasa
terancam.
Bible
Knowledge Commentary: “Because the Midianites were
living in Moab at the time they too felt themselves to be in peril.” [= Karena orang-orang Midian
tinggal di Moab pada saat itu, mereka juga merasa diri mereka ada dalam bahaya.].
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘Moab said unto the elders of Midian.’ While
branches of the Midianites established themselves in various localities (Gen.
36:35; Exo. 3:1, etc.), the main portion of the tribe were settled on the high
table-lands east of Moab and south of Ammon, being under the government of five
kings (shiekhs) (Num. 31:8; Josh. 13:21) - evidently those who are here called
‘elders’ (ziqniym; Septuagint,
gerousia, the senate of
Midian).” [= ‘Lalu berkatalah orang Moab kepada para
tua-tua Midian’. Sekalipun bagian-bagian keluarga dari orang-orang Midian
menetap di berbagai tempat (Kej 36:35; Kel 3:1, dsb), bagian utama dari suku itu
mendiami dataran tinggi di Timur Moab dan Selatan Amon, dan berada di bawah
pemerintahan dari 5 raja / sheik (Bil 31:8; Yos 13:21) dan mereka ini jelas
adalah yang di sini disebut ‘tua-tua’ (ziqniym;
Septuaginta, gerousia, majelis
dari Midian).].
Pulpit Commentary: “It
appears from verse 7 that Balak acted for Midian as well as for Moab; as the
Midianites were but a weak people, they may have placed themselves more or less
under the protection of Balak.” [= Terlihat dari ay 7 bahwa Balak bertindak untuk Midian maupun
untuk Moab; karena orang-orang Midian hanyalah bangsa yang lemah, mereka mungkin
telah menempatkan diri mereka, sedikit atau banyak, di bawah perlindungan
Balak.].
c)
Ay 4 menunjukkan bahwa orang kafir (Moab) mengajak orang kafir lain
(Midian) untuk melawan orang Israel / Gereja.
1. Merupakan
sesuatu yang umum kalau anak-anak setan bersatu melawan anak-anak Tuhan. Ini
seharusnya mendorong anak-anak Tuhan untuk juga bersatu.
2. Fakta
ini membuat Calvin menduga bahwa Bileam adalah orang Midian.
d)
Balak tahu bahwa kalau mereka melawan Israel dengan perang biasa mereka
pasti kalah, dan karena itu ia lalu memanggil Bileam, yang dikenal sebagai
semacam tukang sihir.
1. Prasangka
yang menguasainya menyebabkan ia tidak berusaha menempuh jalan damai.
Pulpit
Commentary: “War being useless, what shall
Balak do? In his mind there were only two alternatives, either to fight or to
send for Balaam. And yet there was a better course, had he thought of it, viz.,
to approach Israel peacefully. But prejudice, a fixed persuasion that Israel was
his enemy, dominated his mind. We do very foolish things through allowing
traditional conceptions to rule us. That Israel was the enemy of Moab was an
assumption with not the smallest basis of experience. Many of the oppositions
and difficulties of life arise from assuming that those who have the opportunity
to injure are likely to use the opportunity. He who will show himself friendly
may find friends and allies where he least expects them.” [= Perang merupakan sesuatu
yang sia-sia, apa yang akan dilakukan oleh Balak? Dalam pikirannya hanya ada dua
pilihan, atau berperang, atau memanggil Bileam. Tetapi sebetulnya di sana ada
jalan yang lebih baik, seandainya ia memikirkan tentang hal itu, yaitu,
mendekati Israel secara damai. Tetapi prasangka, suatu keyakinan yang sudah
pasti, bahwa Israel adalah musuhnya, mendominasi pikirannya. Kita melakukan
hal-hal yang sangat tolol dengan mengijinkan pemikiran tradisionil memerintah
kita. Bahwa Israel adalah musuh orang Moab merupakan suatu anggapan tanpa dasar
pengalaman yang terkecil. Banyak dari oposisi dan kesukaran dalam hidup muncul
dari anggapan bahwa mereka yang mempunyai kesempatan untuk melukai / merugikan
kita sangat mungkin akan menggunakan kesempatan itu. Ia yang menunjukkan dirinya
sendiri ramah / bersahabat akan mendapatkan sahabat dan sekutu dimana ia paling
sedikit mengharapkannya.].
2. Karena tidak bisa
menemukan bantuan yang biasa / alamiah, ia lalu mencari bantuan yang sifatnya
supra-natural.
Pulpit
Commentary: “Balak
cannot find sufficient resources in nature, therefore he seeks above nature.
When men, who in their selfishness and unspirituality are furthest from God,
find themselves in extremity, it is then precisely that they are seen turning to
a power higher than their own (1 Sam 28).” [= Balak tidak bisa mendapatkan
/ menemukan sumber yang cukup dalam alam, dan karena itu ia mencarinya di atas
alam. Pada saat manusia yang dalam keegoisan dan ke-tidak-rohani-an mereka
berada paling jauh dari Allah, mendapati diri mereka sendiri dalam kebutuhan
yang sangat, maka persis pada saat seperti itulah mereka terlihat berpaling
kepada suatu kuasa / kekuatan yang lebih tinggi dari diri mereka (1Sam 28).].
Catatan:
1Sam 28 adalah cerita raja Saul yang memanggil pemanggil arwah.
The
Bible Exposition Commentary: “Conventional
warfare was out of the question. Moab and Midian needed the help of the devil,
and Balaam was in touch with the devil. ... Balaam must have had a wide
reputation as a successful practitioner of occult arts, other-wise Balak
wouldn’t have ignored both distance and
price when he sent for him.”
[= Perang biasa merupakan sesuatu yang mustahil. Moab dan Midian butuh
pertolongan setan, dan Bileam berhubungan dengan setan. ... Bileam pasti telah
mempunyai reputasi yang luas dan seorang yang dengan sukses mempraktekkan kuasa
gelap, kalau tidak, Balak tidak akan mengabaikan jarak maupun harga / ongkos
pada waktu ia memanggilnya.].
Penerapan:
ini sama seperti banyak orang, bahkan ‘orang Kristen’, yang kalau sakit /
menghadapi problem, lalu mencari paranormal, dukun dan sebagainya. Atau
mengikuti ‘olah raga’ yang bersifat okultisme seperti Yoga, Taichi, Wai Tang
Kung dan sebagainya.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali