(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Rabu, tgl 19 Februari 2020, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Ay 17-18: “(17) Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. (18) Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tanganNya menyembuhkan pula.”.
1) Francis I. Andersen mengatakan (hal 121) bahwa penekanan dari Ayub 5:17-27 ini adalah bahwa orang yang menghadapi penderitaan dengan cara / hati / sikap yang benar akan berbahagia.
2) Kata-kata Elifas dalam ay 17-18 ini jelas benar, dan sesuai dengan banyak ayat Kitab Suci lain, seperti:
a) Ul 32:39 - “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu.”.
b) Amsal 3:11-12 - “(11) Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatanNya. (12) Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihiNya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.”.
Catatan: kata ‘ajaran’ dalam ay 12 seharusnya diterjemahkan ‘hajaran’. NIV: ‘discipline’ [= disiplin].
c) Hos 6:1 - “‘Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita.”.
d) Ibr 12:5-11 - “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”.
Matthew Henry: “though he wounds, yet his hands make whole in due time; ... God’s usual method is first to wound and then to heal, first to convince and then to comfort, first to humble and then to exalt; and (as Mr. Caryl observes) he never makes a wound too great, too deep, for his own cure.” [= sekalipun Ia melukai, tetapi tanganNya mengutuhkan / menyembuhkan pada waktunya; ... metode Allah yang umum adalah mula-mula melukai dan lalu menyembuhkan, mula-mula meyakinkan / menyadarkan dan lalu menghibur, mula-mula merendahkan dan lalu meninggikan; dan (seperti diperhatikan oleh Mr. Caryl) Ia tidak pernah membuat luka yang terlalu besar, terlalu dalam, bagi penyembuhanNya sendiri.].
Perlu dicamkan bahwa kata-kata “berbahagialah manusia yang ditegur Allah; ... dst”, tidak berarti bahwa saat kita dilukai oleh Allah itu merupakan saat yang menyenangkan. Tetapi artinya adalah, bahwa akibat / hasil dari semua itu akan menyenangkan / menguntungkan kita. Ini sesuai dengan kata-kata dari Ibr 12:11 - “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”.
3) Ay 18: “Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tanganNya menyembuhkan pula.”.
Norman C. Habel: “Israelite theology in general leaves no room for a dualism in which the god of death or evil is distinct from the god of life and good. Yahweh, not Satan or some other figure, was ultimately responsible for calamities and sickness. Job, therefore, had to come to terms with God and why he had crushed him.” [= Theologia Israel secara umum tidak memberi tempat bagi dualisme dalam mana allah dari kematian atau bencana / kejahatan berbeda dengan allah dari kehidupan dan kebaikan. Yahweh, bukan Iblis atau makhluk lain manapun, pada akhirnya / ujung terakhir adalah penanggung jawab dari bencana dan penyakit. Karena itu, Ayub harus mencapai kata sepakat dengan Allah dan mengapa Ia telah meremukkannya.] - hal 36.
Catatan: Ini sangat berbeda dengan pandangan populer saat ini, yang mengatakan bahwa semua hal-hal yang baik berasal dari Allah, sedangkan hal-hal yang jelek / jahat berasal dari setan.
Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
a) Ayub 1:21 - “katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.
b) Maz 75:7-8 - “(7) Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, (8) tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain.”.
c) Amsal 22:2 - “Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN.”.
NIV: ‘Rich and poor have this in common: The LORD is the Maker of them all’ [= Orang kaya dan miskin mempunyai persamaan dalam hal ini: Tuhan adalah Pembuat / Pencipta mereka semua].
d) Pkh 7:14 - “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.”.
e) Yes 45:6b-7 - “(6b) Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (7) yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.”.
f) Rat 3:37-38 - “(37) Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? (38) Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?”.
g) Amos 3:6 - “Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?”.
Ay 19-20: “(19) Dari enam macam kesesakan engkau diluputkanNya dan dalam tujuh macam engkau tidak kena malapetaka. (20) Pada masa kelaparan engkau dibebaskanNya dari maut, dan pada masa perang dari kuasa pedang.”.
1) Kata-kata ‘enam ... tujuh’ merupakan ungkapan yang berarti ‘berulang-kali’ atau ‘banyak kali’ (Adam Clarke dan Norman C. Habel).
2) Ini menunjukkan bahwa akan ada banyak bencana, tetapi juga banyak pembebasan / pertolongan dari Allah.
Matthew Henry: “it is here promised that as afflictions and troubles recur supports and deliverances shall be graciously repeated, ... This intimates that, as long as we are here in this world, we must expect a succession of troubles, that the clouds will return after the rain. After six troubles may come a seventh; after many, look for more; but out of them all will God deliver those that are his, 2 Tim. 3:11; Ps. 34:19. Former deliverances are not, as among men, excuses from further deliverances, but earnests of them, Prov. 19:19.” [= di sini dijanjikan bahwa sebagaimana penderitaan dan kesukaran berulang, bantuan dan pembebasan juga akan berulang dengan penuh kemurahan, ... Ini menunjukkan bahwa, selama kita ada di dunia ini, kita harus mengharapkan suatu rangkaian kesukaran berturut-turut, dan bahwa awan akan kembali setelah hujan. Setelah 6 kesukaran, akan datang yang ke 7; setelah banyak kesukaran, lihatlah / carilah lebih banyak lagi; karena dari semua itu Allah akan membebaskan mereka yang adalah milikNya, 2Tim 3:11; Maz 34:20. Pembebasan yang dulu bukanlah, seperti di antara manusia, merupakan alasan untuk tidak adanya pembebasan selanjutnya, tetapi jaminan tentang adanya mereka, Amsal 19:19.].
2Tim 3:11 - “Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.”.
Maz 34:20 - “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;”.
Amsal 19:19 - “Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya.”.
KJV menterjemahkan secara sangat berbeda.
KJV: “A man of great wrath shall suffer punishment: for if thou deliver him, yet thou must do it again.” [= seorang dari kemarahan yang besar akan mengalami hukuman: karena jika engkau membebaskannya / menyelamatkannya, akhirnya engkau harus melakukannya lagi.].
Semua Alkitab bahasa Inggris menterjemahkan seperti KJV.
Catatan: kata ‘thou’ [= engkau] di sini tidak menunjuk kepada Tuhan, sehingga saya menganggap ayat ini sama sekali tidak cocok!
Bandingkan juga dengan ayat-ayat ini:
a) Maz 33:18-19 - “(18) Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setiaNya, (19) untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.”.
b) Maz 37:18-19 - “(18) TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya; (19) mereka tidak akan mendapat malu pada waktu kecelakaan, dan mereka akan menjadi kenyang pada hari-hari kelaparan.”.
3) Bencana / kesukaran bisa menimpa orang saleh, tetapi bukan bencana / kesukaran yang betul-betul merugikan / menghancurkan.
Matthew Henry: “whatever troubles good men may be in, there shall no evil touch them; they shall do them no real harm; the malignity of them, the sting, shall be taken out; they may hiss, but they cannot hurt, Ps. 91:10.” [= kesukaran-kesukaran apapun yang dialami oleh orang-orang yang saleh, tidak akan ada bencana yang menyentuh mereka; hal-hal itu tidak akan menyebabkan kerugian yang sungguh-sungguh pada diri mereka, bahaya dari hal-hal itu, sengatnya, akan dikeluarkan; mereka bisa mendesis, tetapi tidak bisa melukai, Maz 91:10.].
Maz 91:10 - “malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;”.
Ay 21: “Dari cemeti lidah engkau terlindung, dan engkau tidak usah takut, bila kemusnahan datang.”.
Barnes’ Notes: “‘Thou shalt be hid from the scourge of the tongue.’ ... The word rendered ‘scourge’ - showT - means properly ‘a whip.’ ... Here it is used to denote a slanderous tongue, as being that which inflicts a severe wound upon the reputation and peace of an individual. The idea is, that God would guard the reputation of those who commit themselves to him, and that they shall be secure from slander,” [= ‘Engkau akan tersembunyi dari sesahan / cambukan lidah’. ... Kata yang diterjemahkan ‘sesahan’ - SHOWT - arti sebenarnya memang adalah ‘suatu cambuk’. ... Di sini itu digunakan untuk menunjuk pada suatu lidah yang memfitnah, karena itu bisa memberikan luka yang parah pada reputasi dan damai dari seorang individu. Gagasannya adalah, bahwa Allah akan menjaga reputasi dari mereka yang menyerahkan diri mereka sendiri kepadaNya, dan bahwa mereka akan aman dari fitnahan,].
Bahwa Tuhan akan melindungi orang itu dari fitnahan, tidak berarti bahwa orang Kristen tidak bisa difitnah. Tuhan Yesus sendiri difitnah (Mat 26:60 Yoh 18:30), dan Ia mengatakan bahwa seorang murid tidak akan lebih dari Gurunya.
Mat 10:24-25 - “(24) Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. (25) Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.”.
Dan dalam Kitab Suci memang jelas ada banyak kasus orang percaya yang difitnah, seperti:
1. Nabot dalam 1Raja 21.
2. Stefanus dalam Kis 6:11,13-14.
3. Paulus dalam Kis 24:5.
Jadi, tentu tidak mungkin kita menafsirkan bahwa orang Kristen tidak bisa difitnah. Tentu orang Kristen bisa difitnah, tetapi Tuhan akan menjaga orang Kristen itu dari kehancuran akibat fitnahan tersebut.
Adam Clarke: “Perhaps no evil is more dreadful than the scourge of the tongue: evil-speaking, detraction, backbiting, calumny, slander, tale-bearing, whispering, and scandalizing, are some of the terms which we use when endeavouring to express the baleful influence and effects of that member which is a world of fire, kindled from the nethermost hell. The Scripture abounds with invectives and execrations against it. See Psa. 31:20; 52:2-4; Prov. 12:18; 14:3; James 3:5-8.” [= Mungkin tidak ada kejahatan yang lebih menakutkan dari pada cambukan lidah: membicarakan keburukan orang, merendahkan / mengolok-olok, tindakan menggigit dari belakang, fitnah, pergunjingan, bisikan / desas-desus, dan penceritaan skandal, adalah beberapa istilah yang kami gunakan pada waktu berusaha untuk menyatakan pengaruh dan akibat yang jahat / mematikan dari anggota yang merupakan dunia api, dinyalakan dari neraka yang paling bawah. Kitab Suci dibanjiri dengan cercaan dan kutukan terhadapnya. Lihat Maz 31:21; 52:4-6; Amsal 12:18; 14:3; Yak 3:5-8.].
Maz 31:19,21 - “(19) Biarlah bibir dusta menjadi kelu, yang mencaci maki orang benar dengan kecongkakan dan penghinaan! ... (21) Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajahMu terhadap persekongkolan orang-orang; Engkau melindungi mereka dalam pondok terhadap perbantahan lidah.”.
Maz 52:4-6 - “(4) Engkau merancangkan penghancuran, lidahmu seperti pisau cukur yang diasah, hai engkau, penipu! (5) Engkau mencintai yang jahat lebih dari pada yang baik, dan dusta lebih dari pada perkataan yang benar. Sela (6) Engkau mencintai segala perkataan yang mengacaukan, hai lidah penipu!”.
Amsal 12:18 - “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”.
Amsal 14:3 - “Di dalam mulut orang bodoh ada rotan untuk punggungnya, tetapi orang bijak dipelihara oleh bibirnya.”.
Yak 3:5-8 - “(5) Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. (6) Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. (7) Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, (8) tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.”.
Ay 22-23: “(22) Kemusnahan dan kelaparan akan kautertawakan dan binatang liar tidak akan kautakuti. (23) Karena antara engkau dan batu-batu di padang akan ada perjanjian, dan binatang liar akan berdamai dengan engkau.”.
1) Ay 22 menunjukkan iman, bukan kesombongan! Di tengah-tengah kesukaran dan bencana, orang Kristen itu akan tetap tenang / tidak takut.
Bdk. Maz 23:4 - “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku.”.
2) Text ini, khususnya ay 23nya, menunjukkan adanya damai antara manusia dengan alam / seluruh ciptaan.
Tetapi jelas bahwa ini hanya berlaku pada saat manusia itu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Pada waktu manusia itu hidup berdosa, maka akan lain ceritanya. Juga pada waktu manusia itu hidup secara bodoh (ini jelas merupakan kebodohan yang berdosa juga), sehingga menyebabkan terjadinya pemanasan global, maka yang sekarang terjadi adalah sebaliknya, dimana manusia dan alam kelihatannya bermusuhan!
Ay 24: “Engkau akan mengalami, bahwa kemahmu aman dan apabila engkau memeriksa tempat kediamanmu, engkau tidak akan kehilangan apa-apa.”.
1) Ada 2 terjemahan yang berbeda untuk bagian yang saya garis-bawahi.
RSV/NIV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia, tetapi KJV menterjemahkan secara berbeda.
KJV: ‘and shalt not sin’ [= dan tidak akan berbuat dosa].
Kata bahasa Ibraninya memang bisa diterjemahkan seperti KJV, dan Adam Clarke mengambil penterjemahan ini. Tetapi Albert Barnes menafsirkan secara berbeda, dan juga berbeda dengan arti yang diberikan oleh Kitab Suci Indonesia / RSV / NIV / NASB.
Barnes’ Notes: “‘And not sin.’ This is a very unhappy translation. The true sense is thou shalt not miss thy dwelling; thou shalt not wander away lost, to return no more. The word used here, and which is rendered ‘sin’ in our common version, is chaaTaa’. It is true that it is commonly rendered ‘to sin,’ and that it often has this sense. But it properly means ‘to miss;’ that is, not to hit the mark, spoken of a slinger (Judg. 20:16); then to make a false step, to stumble or fall, Prov. 19:2. It thus accords exactly in sense with the Greek hamartanoo. Here the original sense of the Hebrew word should be retained, meaning that he would not miss the way to his dwelling; that is, that he would be permitted to return to it in safety.” [= ‘Dan tidak berbuat dosa’. Ini merupakan suatu terjemahan yang sangat tidak tepat. Arti yang benar adalah ‘engkau tidak akan luput dari tempat tinggalmu; engkau tidak akan tersesat, sehingga tidak kembali lagi’. Kata yang digunakan di sini, dan yang diterjemahkan ‘berbuat dosa’ dalam versi umum kita adalah chaaTaa’. Memang benar bahwa kata itu pada umumnya diterjemahkan ‘berbuat dosa’, dan kata itu sering mempunyai arti ini. Tetapi kata itu seharusnya berarti ‘luput’; yaitu ‘tidak mengenai sasaran’, digunakan tentang seorang pengumban (Hak 20:16); lalu ‘membuat langkah yang salah, tersandung atau jatuh’, Amsal 19:2. Jadi, kata itu cocok persis artinya dengan kata Yunani HAMARTANOO. Di sini arti orisinil dari kata Ibraninya harus dipertahankan, berarti bahwa ia tidak akan luput dari jalan yang menuju tempat tinggalnya; yaitu, bahwa ia akan diijinkan pulang ke tempat tinggalnya dengan aman.].
Hak 20:16 - “Dari segala laskar ini ada tujuh ratus orang pilihan yang kidal, dan setiap orang dari mereka dapat mengumban dengan tidak pernah meleset sampai sehelai rambutpun.”.
Amsal 19:2 - “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.”.
2) Penekanan dari ayat ini adalah bahwa tempat tinggal / rumah, dan juga keluarga dan barang-barang / harta miliknya akan dijaga oleh Tuhan.
Saya berpendapat bahwa di sini lagi-lagi Elifas menyerang Ayub, yang hartanya habis, dan juga anak-anaknya mati semua. Rupanya Elifas menggunakan ini untuk menunjukkan bahwa Ayub bukan orang saleh.
Ay 25-26: “(25) Engkau akan mengalami, bahwa keturunanmu menjadi banyak dan bahwa anak cucumu seperti rumput di tanah. (26) Dalam usia tinggi engkau akan turun ke dalam kubur, seperti berkas gandum dibawa masuk pada waktunya.”.
1) Mungkin kata-kata ini juga ditujukan untuk mengecam Ayub, yang anak-anaknya mati semua.
H. H. Rowley: “This is characteristic of Eliphaz, whose conventional theology is untouched by human feeling.” [= Ini merupakan ciri dari Elifas, yang mempunyai theologia tradisionil yang tak tersentuh oleh perasaan manusia.] - hal 57.
2) Bahwa orang saleh selalu mati pada usia tua, jelas merupakan sesuatu yang tidak benar!
Ay 27: “Sesungguhnya, semuanya itu telah kami selidiki, memang demikianlah adanya; dengarkanlah dan camkanlah itu!’”.
1) Yang perlu dipertanyakan adalah: Bagaimana caranya ia menyelidiki? Berdasarkan pengalaman, seperti orang-orang yang mempercayai Theologia Kemakmuran?
Norman C. Habel: “He claimed that he, along with his companions in the wisdom school, has inquired into the teachings he has enunciated and found them to be true, despite the assertion that the great mysteries of God are ultimately ‘unsearchable’ (5:9).” [= Ia mengclaim bahwa ia, bersama-sama dengan teman-temannya dalam sekolah hikmat, telah menyelidiki ajaran-ajaran yang telah ia ucapkan dan mendapati bahwa ajaran-ajaran itu benar, bertentangan dengan penegasan bahwa misteri-misteri yang besar / agung dari Allah ‘tak terduga / terselami’ (5:9).] - hal 37.
2) Beberapa kritikan terhadap Elifas.
Francis I. Andersen mengatakan bahwa sukar menemukan sesuatu yang salah dalam theologia Elifas dalam ay 17-27 ini. Dimana kesalahannya? Lalu mengapa ia ditegur oleh Tuhan dalam Ayub 42:7?
Ayub 42:7 - “Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: ‘MurkaKu menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hambaKu Ayub.”.
Francis I. Andersen (Tyndale): “Elifaz’s fault is not that his doctrine is unsound; it is his ineptness as a counsellor. True words may be thin medicine for a man in the depths. ... Hence Eliphaz’s words, far from being a comfort, are a trap. ... Eliphaz has appealed to experience as well as to revelation. But history, certainly Job’s history, does not support his theory that you reap what you sow (4:8).” [= Kesalahan Elifas bukanlah bahwa ajarannya tidak sehat tetapi pada kebodohannya / ketidak-cakapannya sebagai seorang penasehat. Kata-kata yang benar bisa merupakan obat yang tipis / lemah bagi seseorang yang ada di kedalaman. ... Jadi, kata-kata Elifas, bukannya merupakan suatu penghiburan tetapi suatu jerat. ... Elifas telah naik banding kepada pengalaman maupun wahyu / penyataan. Tetapi sejarah, yang pasti sejarah dari Ayub, tidak mendukung teorinya bahwa engkau menuai apa yang engkau tabur (4:8).] - hal 123,124,125.
Ada banyak yang tidak saya setujui dari kata-kata Francis I. Andersen di sini. Menurut saya, jelas ada ajaran-ajaran Elifas yang tidak benar. Dan ajaran yang benarpun ia terapkan secara salah, sehingga tidak membawa kebaikan bagi orang yang menderita seperti Ayub. Juga saya berpendapat bahwa kata-kata ‘orang akan menuai apa yang ia tabur’ merupakan suatu kebenaran yang mutlak. Tetapi tuaiannya tidak selalu sama dengan apa yang ditaburkan, dan menuainya bisa terjadi dalam kehidupan setelah kematian. Juga, dalam kasus orang percaya, karena Kristus telah memikul hukuman dosa-dosanya, maka kasusnya menjadi berbeda.
Bdk. Maz 103:10 - “Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,”.
Adam Clarke: “he miserably perverted them in his application of them to Job’s case and character.” [= ia menyimpangkan mereka secara menyedihkan dalam penerapannya pada kasus dan karakter Ayub.].
H. H. Rowley: “Eliphaz ends with a somewhat pontifical observation, sure that he has apprehended the whole truth - a common mark of the closed mind. Strahan describes him as a pedantic theorist, and adds: "No wonder that, as a physician, Eliphaz only irritated the wounds he intended to heal; as a preacher, he offered ‘empty chaff well meant for grain’."” [= Elifas mengakhiri dengan pengamatan yang agak bersifat kesombongan, yakin bahwa ia telah mengerti seluruh kebenaran - suatu tanda umum dari pikiran yang tertutup. Strahan menggambarkan dia sebagai seorang teoretist yang suka memamerkan ilmunya, dan menambahkan: "Tak heran bahwa, sebagai seorang dokter, Elifas hanya memperburuk luka-luka yang ia maksudkan untuk sembuhkan; sebagai seorang pengkhotbah, ia menawarkan ‘sekam yang kosong yang dimaksudkan secara baik sebagai gandum’."] - hal 57-58.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali