(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Rabu,
tgl 11 Desember 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Ayub 2:1-8
- “(1)
Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka
datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN. (2) Maka bertanyalah TUHAN kepada
Iblis: ‘Dari mana engkau?’ Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Dari
perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.’ (3) Firman TUHAN kepada Iblis:
‘Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi
seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi
kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk
Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.’ (4) Lalu jawab Iblis
kepada TUHAN: ‘Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang
dipunyainya ganti nyawanya. (5) Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah tulang
dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.’ (6) Maka firman
TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.’ (7)
Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah
yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. (8) Lalu Ayub
mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di
tengah-tengah abu.”.
Ay 1-6:
“(1)
Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka
datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN. (2) Maka bertanyalah TUHAN kepada
Iblis: ‘Dari mana engkau?’ Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Dari perjalanan
mengelilingi dan menjelajah bumi.’ (3) Firman TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah
engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia,
yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia
tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia
untuk mencelakakannya tanpa alasan.’ (4) Lalu jawab Iblis kepada TUHAN:
‘Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti
nyawanya. (5) Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia
pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.’ (6) Maka firman TUHAN kepada Iblis:
‘Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan nyawanya.’”.
1)
Ay 1: ‘Pada suatu hari’.
Kita
tidak tahu berapa selang waktu yang terjadi antara selesainya pasal 1 dengan 2:1
ini.
2)
Tuhan mengakui ketekunan Ayub dalam kesalehannya, dan
‘membanggakannya’ terhadap Iblis (ay 3). Ini pasti membuat Iblis makin
membenci Ayub!
3)
Jawaban Iblis.
Ay 4-5:
“(4)
Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan
segala yang dipunyainya ganti nyawanya. (5) Tetapi ulurkanlah tanganMu dan
jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.’”.
a)
Seandainya setan adalah seseorang yang jujur / fair, maka ia seharusnya
mengakui bahwa kata-katanya dalam Ayub 1:9-11 adalah salah. Tetapi kalau ia
melakukan hal itu, maka ia pasti bukan setan. Yang ia lakukan justru adalah
melakukan tuduhan lebih lanjut.
b)
Apa arti kata-kata setan dalam ay 4: ‘kulit ganti kulit’?
NIV:
‘Skin for skin’ [= kulit untuk kulit].
Barnes’
Notes mengatakan bahwa asal usul maupun arti dari pepatah ini tidak jelas. Ay 4b-5
dianggap menjelaskan arti dari pepatah ini.
Pulpit
Commentary (hal 34) mengatakan bahwa untuk menjaga kulitnya sendiri tetap utuh,
seseorang mau mengorbankan kulit orang lain, bahkan kulit keluarga /
anak-anaknya sendiri. Ayub tidak marah / mengomel pada waktu kehilangan
anak-anaknya karena ia takut bahwa Allah akan menghajar dirinya sendiri.
c)
Kebenaran kata-kata setan ini.
Kata-kata
Setan ini memang benar tetapi hanya untuk sebagian orang. Ada orang yang rela
kehilangan keluarga dan harta asal dirinya selamat. Tetapi ada juga orang yang
rela mati untuk menyelamatkan hartanya, atau keluarganya.
d)
‘Tetapi ulurkanlah tanganMu
dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.’.
Barnes’
Notes: “‘And
touch his bone.’ ... The words ‘bone’ and ‘flesh’ denote the whole
body. The idea was, that the whole body should be subjected to severe pain.”
[= ‘Dan sentuhlah tulangnya’. ... Kata-kata ‘tulang’ dan ‘daging’
menunjuk pada seluruh tubuh. Gagasannya adalah, bahwa seluruh tubuh harus
menjadi sasaran dari rasa sakit yang sangat hebat.].
e)
Apakah ay 4-5 adalah Firman Tuhan? Kalau ya, mengapa salah / tidak
benar? Untuk menjawab pertanyaan ini perhatikan kutipan di bawah ini.
Barnes’
Notes: “It
is to be remembered that these are the words of Satan, and that they are not
necessarily true. Inspiration is concerned only in securing the exact record of
what is said, not in affirming that all that is said is true.” [= Harus diingat bahwa ini
adalah kata-kata setan, dan bahwa kata-kata itu tidak harus benar. Pengilhaman
hanya peduli dengan pemastian catatan yang tepat / persis tentang apa yang
dikatakan, bukan dengan penegasan bahwa semua yang dikatakan itu benar.]
- hal 115.
Catatan:
ini berlaku bukan hanya untuk kata-kata setan tetapi juga untuk kata-kata
manusia yang dicatat dalam Kitab Suci.
E. J. Young: “All that the Bible-believing Christian asserts when he declares that the Bible is inerrant is that the Bible in its statements is not contrary to fact. It records things as they actually were.” [= Semua yang ditegaskan oleh orang kristen yang percaya Alkitab pada waktu ia menyatakan bahwa Alkitab tidak ada salahnya adalah bahwa Alkitab dalam pernyataannya tidak bertentangan dengan fakta. Alkitab mencatat hal-hal sebagaimana adanya hal-hal itu.] - ‘Thy Word Is Truth’, hal 135.
f)
Kata-kata setan dalam ay 4-5 membuatnya memang cocok disebut sebagai
‘pendakwa’.
Bdk.
Wah 12:10 - “Dan
aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: ‘Sekarang telah tiba
keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang
diurapiNya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa
mereka siang dan malam di hadapan Allah
kita.”.
Zakh 3:1
- “Kemudian
ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN
sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia.”.
4)
Tuhan memberi ijin kepada setan untuk menyerang diri Ayub, tetapi
lagi-lagi memberi batasan dengan melarangnya untuk membunuh Ayub.
Ay 6:
“Maka
firman TUHAN kepada Iblis: ‘Nah, ia dalam kuasamu; hanya sayangkan
nyawanya.’”.
a)
Dengan kata-kata ‘Nah,
ia dalam kuasamu’,
itu berarti Tuhan mengijinkan setan untuk menyerang Ayubnya sendiri dalam arti
memberinya penyakit.
Rat
3:31-33 - “(31)
Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. (32) Karena walau Ia
mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setiaNya. (33)
Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia”.
b)
Tetapi adanya kata-kata ‘hanya
sayangkan nyawanya’,
menunjukkan bahwa Allah tidak memberikan keleluasaan
mutlak kepada setan dalam menyerang diri Ayub. Allah tetap memberikan
batasan, yang tidak mungkin bisa dilampaui oleh setan, yaitu bahwa ia tidak
boleh membunuh Ayub.
Pulpit
Commentary: “Again
it is strongly marked that Satan’s power is under God’s control, and extends
only so far as God allows.”
[= Lagi-lagi ditandai secara kuat bahwa kuasa setan ada di bawah kontrol Allah,
dan hanya mencapai sejauh yang Allah ijinkan.]
- hal 34.
Batasan
‘hanya sayangkan nyawanya’
dalam ay 6b ini perlu, karena kalau Ayub mati, maka:
1.
Tak bisa dibuktikan bahwa tuduhan setan dalam ay 4-5 itu salah.
2.
Tujuan pengajaran yang Allah maksudkan bagi Ayub akan musnah.
3.
Ayub tidak akan bisa menjadi teladan bagi kita.
Ay 7-8:
“(7)
Kemudian Iblis pergi dari hadapan TUHAN, lalu ditimpanya Ayub dengan barah yang
busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya. (8) Lalu Ayub mengambil
sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah
abu.”.
1)
Apa penyakit yang diderita Ayub?
Ayat-ayat
yang bisa memberikan petunjuk tentang penyakit Ayub adalah:
a)
Ay 7b: “lalu
ditimpanya Ayub dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke
batu kepalanya.”.
KJV/NASB:
‘sore boils’ [= barah-barah yang menyakitkan].
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘Sore boils.’ - malignant boils. Rather, as it
is singular in the Hebrew, a burning sore, Job was covered with one universal
inflammation.”
[= ‘Barah-barah yang menyakitkan’ - barah-barah yang sangat jahat /
membahayakan. Seharusnya, karena itu merupakan bentuk tunggal dalam bahasa
Ibraninya, ‘suatu barah yang menyakitkan’, Ayub ditutupi dengan satu
pembengkakan yang bersifat universal / menyeluruh.].
Catatan:
Albert Barnes memberikan komentar yang kurang lebih sama dengan ini.
b)
Ay 8: ia merasa badannya sangat gatal, sehingga menggaruknya dengan
sekeping beling.
c)
Ay 12a: ‘Ketika
mereka memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi.’.
Ini dianggap menunjukkan bahwa Ayub berubah bentuk karena penyakitnya.
d)
Ayub 7:5 - “Berenga dan abu menutupi
tubuhku, kulitku menjadi keras lalu pecah.”.
NIV:
‘My body is clothed with worms and scabs, my skin is broken and
festering’ [= Tubuhku penuh dengan cacing dan keropeng, kulitku pecah dan
membusuk / bernanah].
e)
Ayub 9:17 - “Dialah
yang meremukkan aku dalam angin ribut, yang memperbanyak lukaku dengan
tidak semena-mena,”.
KJV/RSV/NASB/ASV/NKJV:
‘without cause’ [= tanpa sebab /
alasan].
f)
Ayub 16:8 dan 19:20 menunjukkan Ayub menjadi sangat kurus.
Ayub 16:8
- “sudah
menangkap aku; inilah yang menjadi saksi; kekurusanku
telah bangkit menuduh aku.”.
Ayub 19:20
- “Tulangku
melekat pada kulit dan dagingku, dan hanya gusiku yang tinggal
padaku.”.
Ayat
terakhir ini mungkin juga menunjukkan bahwa giginya habis semua!
g)
Ayub 19:17 menunjukkan bahwa nafasnya, dan juga tubuhnya, berbau
sangat busuk.
Ayub
19:17 - “Nafasku
menimbulkan rasa jijik kepada isteriku, dan bauku memualkan saudara-saudara
sekandungku.”.
h)
Ayub 30:17 menunjukkan bahwa Ayub mengalami rasa sakit yang terus
menerus.
Ayub 30:17
- “Pada
waktu malam tulang-tulangku seperti digerogoti, dan rasa nyeri yang menusuk tak
kunjung berhenti.”.
i)
Ayub 30:30 - “Kulitku
menjadi hitam dan mengelupas dari tubuhku, tulang-tulangku mengering karena
demam;”.
Tidak
ada kesatuan pendapat tentang apa penyakit yang diderita oleh Ayub. Inilah
beberapa ‘tebakan’ tentang penyakit Ayub:
a)
Penyakit kusta, karena kelihatannya ia dikucilkan (19:13-19).
b)
Penyakit kaki gajah (Elephantiasis).
Barnes’
Notes: “a
species of black leprosy commonloy called Elephantiasis, ... a chronic and
contagious disease,”
[= suatu jenis kusta hitam yang biasanya disebut Elephantiasis, ... suatu
penyakit khronis dan menular,] - hal 116.
Pulpit
Commentary: “Satan
has now obtained permission to go a step further, and lay his hand on the person
of God’s servant. He uses the new privilege with skilful ingenuity, selecting
the most horrible and loathsome disease, and smiting Job with the worst form
of leprosy - elephantiasis.”
[= Sekarang setan telah mendapatkan ijin untuk berjalan lebih jauh, dan
meletakkan tangannya pada diri dari pelayan Allah ini. Ia menggunakan hak yang
baru ini dengan kelihaian yang ahli / mahir, memilih penyakit yang paling
mengerikan dan menjijikkan, dan menghantam Ayub dengan bentuk kusta / lepra
yang terburuk - elephantiasis.]
- hal 47.
Pulpit
Commentary: “Elephantiasis
was thought to be incurable. Job took no medical remedies. He only retired to
his ash-heap, seeking temporary alleviations. The worst agony can be endured
with some patience if there is a prospect of cure; but even a milder complaint
becomes intolerable if there is no hope of escape.” [= Elephantiasis dianggap tidak
bisa disembuhkan. Ayub tidak mencari pengobatan. Ia hanya menyendiri pada
tumpukan abu, mencari peredaan sementara. Penderitaan yang paling hebat bisa
ditanggung dengan sabar jika ada kemungkinan untuk sembuh; tetapi bahkan
penyakit yang lebih ringan menjadi tak tertanggungkan jika tidak ada harapan
untuk sembuh.] -
hal 47.
Keil
& Delitzsch:
“The
description of this disease ... is, according to the symptoms mentioned further
on in the book, elephantiasis ... the most fearful form of lepra. ... a disease
incurable in the eye of man,”
[= Penggambaran dari penyakit ini adalah, sesuai dengan gejala-gejala yang
disebutkan dalam kitab ini selanjutnya, elephantiasis ... bentuk lepra / kusta
yang paling menakutkan. ... suatu penyakit yang dalam pandangan manusia tidak
dapat disembuhkan,]
- hal 70,71.
Catatan:
mungkin ilmu kedokteran jaman dulu (pada jaman para penafsir di atas) menganggap
bahwa penyakit kaki gajah termasuk suatu bentuk penyakit kusta, tetapi ini jelas
salah. Dalam ‘Webster’s New World
Dictionary’ dikatakan bahwa Elephantiasis adalah: “a
chronic disease of the skin characterized by the enlargement of certain parts of
the body, especially the legs and genitals, and
by the hardening and ulceration of the surrounding skin: it is caused by small,
threadlike worms (filariae) which obstruct the lymphatic glands.” [= penyakit kulit yang khronis
yang ditandai dengan membesarnya bagian-bagian tertentu dari tubuh, khususnya seluruh
kaki (mulai paha ke bawah) dan alat kelamin, dan dengan pengerasan dan
pemborokan dari kulit di sekitarnya: ini disebabkan oleh cacing seperti benang
(filariae) yang menghalangi kelenjar getah bening.].
c)
Penyakit cacar.
Adam
Clarke menganggap bahwa penyakit Ayub bukanlah Elephantiasis ataupun kusta.
Adam
Clarke: “In
the elephantiasis and leprosy there is, properly speaking, no boil or detached
inflammation, or swelling, but one uniform disordered state of the whole
surface, so that the whole body is covered with loathsome scales, and the skin
appears like that of the elephant, thick and wrinkled, from which appearance the
disorder has its name.”
[= Pada elephantiasis dan kusta tidak ada bisul / borok atau peradangan atau
pembengkakan setempat, tetapi suatu keadaan berantakan yang bersifat seragam /
sama pada seluruh permukaan / kulit, sehingga seluruh tubuh ditutupi dengan
sisik / kerak yang menjijikkan, dan kulitnya kelihatan seperti kulit gajah,
tebal dan berkerut, dari mana penyakit ini mendapatkan namanya.]
- hal 29.
Catatan:
kata-kata Clarke tentang ‘tidak
adanya borok’
kelihatannya bertentangan dengan penggambaran dari Webster’s New World
Dictionary di atas tentang Elephantiasis.
Clarke
menduga penyakit Ayub adalah cacar, karena penyakit ini memang memberikan banyak
sekali borok / bisul pada seluruh tubuh dan wajah dan memberikan rasa gatal yang
menyebabkan orang menggaruki tubuhnya sampai menyobeknya. Ini dianggapnya cocok
dengan apa yang dikatakan dalam ay 7-8. Tetapi ini tidak cocok dengan pandangan
Jamieson, Fausset & Brown dan Albert Barnes yang mengatakan bahwa kata ‘barah’
ada dalam bentuk tunggal, dan harus diartikan sebagai suatu barah yang universal
/ menyeluruh.
d)
Tidak bisa diketahui apa penyakitnya.
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“The
lack of detail prevents clinical diagnosis. In assessing the symptoms described
by Job in the dialogue, we must remember the poetic medium.” [= Kurangnya perincian tentang
penyakit ini menghalangi diagnosa secara klinis. Dalam menilai gejala-gejala
penyakit ini yang digambarkan oleh Ayub dalam dialognya dengan
sahabat-sahabatnya, kita harus ingat akan medium puisi yang digunakan.]
- hal 91.
Saya
berpendapat kata-kata ini penting. Medium puisi yang digunakan menyebabkan
banyak bagian tidak bisa diartikan secara hurufiah (Misalnya kata-kata ‘tidak
membiarkan aku bernafas’ dalam Ayub 9:18). Dan ini menyukarkan kita untuk mengetahui dengan
pasti penyakit yang diderita Ayub.
Sekalipun
kita tidak bisa mengetahui dengan pasti apa penyakit yang diderita Ayub, tetapi
pastilah ini merupakan penyakit yang sangat hebat membuatnya sangat menderita.
Setan, yang sangat membenci Ayub, dan yang sangat ingin mempermalukan Tuhan yang
telah membanggakan Ayub kepadanya, tentu akan memilih penyakit yang akan
menyebabkan penderitaan terhebat yang bisa ia pikirkan. Ingat bahwa batasan
Allah kali ini hanyalah bahwa setan tidak boleh membunuh Ayub. Jadi, setan bisa
memberikan penyakit yang paling mengerikan. Juga tidak tertutup kemungkinan
bahwa ia memberikan lebih dari satu penyakit kepada Ayub.
2)
Pada jaman itu borok / barah dianggap sebagai kutukan ilahi.
John
E. Hartley (NICOT):
“Since
chronic illnesses like boils were often considered a divine curse, Job’s
contemporaries would quickly conclude that he was being punished for some moral
wrong.” [= Karena penyakit-penyakit
yang khronis seperti barah sering dianggap sebagai kutukan ilahi, teman-teman
Ayub dengan cepat menyimpulkan bahwa ia sedang dihukum karena suatu kesalahan
moral.] - hal
82.
Catatan:
bandingkan dengan tulah ke 6 terhadap Mesir dalam Kel 9:8-11, yang juga
adalah barah / borok. Juga bdk. Ul 28:27,35 yang menunjukkan barah / borok
sebagai hajaran / hukuman Tuhan.
Kel
9:8-11 - “(8)
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: ‘Ambillah jelaga dari dapur
peleburan serangkup penuh, dan Musa harus menghamburkannya ke udara di depan
mata Firaun. (9) Maka jelaga itu akan menjadi debu meliputi seluruh tanah Mesir,
dan akan menjadikan barah yang memecah sebagai gelembung, pada manusia dan
binatang di seluruh tanah Mesir.’ (10) Lalu mereka mengambil jelaga dari dapur
peleburan, dan berdiri di depan Firaun, kemudian Musa menghamburkannya ke udara,
maka terjadilah barah, yang memecah
sebagai gelembung pada manusia dan binatang, (11) sehingga ahli-ahli itu tidak
dapat tetap berdiri di depan Musa, karena barah-barah
itu; sebab ahli-ahli itupun juga kena barah
sama seperti semua orang Mesir.”.
Ul 28:27,35
- “(27)
TUHAN akan menghajar engkau dengan barah Mesir,
dengan borok, dengan kedal dan kudis, yang dari padanya engkau tidak
dapat sembuh. ... (35) TUHAN akan menghajar engkau dengan barah
jahat, yang dari padanya engkau tidak dapat sembuh, pada lutut dan
pahamu, bahkan dari telapak kakimu sampai kepada batu kepalamu.”.
3)
Apakah bagian ini menunjukkan bahwa orang kristen bisa diserang
menggunakan kuasa gelap / santet?
Saya
berpendapat tidak
bisa! Kasus Bileam
yang tidak bisa mengutuk Israel (Bil 22-24), jelas menunjukkan hal ini.
Khususnya perhatikan Bil 23:23a, yang merupakan kata-kata Bileam sendiri,
yang berbunyi sebagai berikut: “sebab
tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan
yang mempan terhadap Israel.”.
Tetapi
bagaimana Ayub bisa dibuat menjadi sakit oleh setan? Saya berpendapat
penjelasannya adalah sebagai berikut: penyakit Ayub, sekalipun mengerikan tetapi
tetap merupakan penyakit biasa / natural, bukan bersifat supranatural / gaib.
Keil
& Delitzsch:
“a
disease incurable in the eye of man, is
now come upon Job: a natural disease, but
brought on by Satan, permitted, and
therefore decreed, by God.” [= suatu penyakit yang dalam
pandangan manusia tidak dapat disembuhkan, sekarang datang kepada Ayub: suatu
penyakit alamiah, tetapi disebabkan oleh
Setan / Iblis, diijinkan, dan karena itu
ditetapkan, oleh Allah.]
- hal 70,71.
Penyakit
biasa / alamiah, terjadi melalui kecelakaan, bakteri, virus dsb, bisa diberikan
oleh setan kepada kita, sepanjang Tuhan mengijinkan ia melakukan hal itu. Ini
yang terjadi dalam kasus Ayub, dan hampir pasti juga dalam kasus Paulus (2Kor 12:7
- “maka aku diberi suatu
duri di dalam dagingku, yaitu seorang
utusan Iblis untuk menggocoh aku,”).
Ini
berbeda dengan ‘penyakit’ yang bersifat supranatural, yang ditimbulkan
secara langsung oleh setan, dan biasanya melalui dukun santet dsb, seperti
paku atau rambut yang bisa masuk ke dalam tubuh. Menurut saya, yang ini tidak
bisa mengenai orang kristen.
Kalau
orang kristen yang sejati tidak bisa disantet, apalagi dirasuk setan. Itu jelas
lebih tidak mungkin bagi orang kristen yang sejati. Karena
itu, saya berpendapat bahwa pandangan / ajaran dari Pdt. Yakub Tri Handoko M.
Th. dari GKRI EXODUS yang mengatakan bahwa orang kristen yang sejati bisa
kerasukan setan merupakan pandangan yang tidak Alkitabiah!
Bdk.
1Kor 10:13 - “Pencobaan-pencobaan
yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan
manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu
dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan
kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”.
Adanya
janji Tuhan bagi orang Kristen ini menyebabkan saya yakin bahwa orang kristen
yang sejati tidak mungkin mengalami hal-hal ini:
a)
Bunuh diri yang berhasil.
b)
Menjadi gila.
c)
Murtad.
d)
Kerasukan setan.
Mengapa?
Karena saya berpendapat bahwa kalau hal-hal ini terjadi pada diri seorang
Kristen yang sejati, itu berarti janji Tuhan dalam 1Kor 10:13 ini dilanggar. Dan
saya tidak percaya Tuhan bisa melanggar janjiNya sendiri.
Pdt.
Yakub Tri Handoko M. Th. mengatakan: ‘Kalau Tuhan mau mengijinkan seorang
kristen sejati kerasukan setan, mengapa tidak bisa?’.
Tetapi adanya janji dalam 1Kor 10:13 ini menyebabkan kata-kata ini terlihat
menggelikan dan bodoh! Tuhan tidak bisa melanggar janjiNya sendiri!
Pdt.
Yakub Tri Handoko M. Th. berkata orang kristen yang sejati bisa dirasuk setan,
dengan memberikan Luk 13:10-16 sebagai dasar Kitab Suci.
Luk 13:10-16
- “(10)
Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari
Sabat. (11) Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk
roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat
berdiri lagi dengan tegak. (12) Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil
dia dan berkata kepadanya: ‘Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.’ (13) Lalu Ia
meletakkan tanganNya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah
perempuan itu, dan memuliakan Allah. (14) Tetapi kepala rumah ibadat gusar
karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang
banyak: ‘Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu
hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.’ (15) Tetapi Tuhan
menjawab dia, kataNya: ‘Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di
antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan
membawanya ke tempat minuman? (16) Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan
belas tahun diikat oleh Iblis, harus
dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah
keturunan Abraham?’”.
Menurut
saya ini merupakan dasar yang salah, karena:
a)
Istilah ‘keturunan
Abraham’
sekalipun memang memungkinkan, tetapi belum tentu menunjukkan, bahwa ia adalah
orang percaya.
Memang
kadang-kadang istilah ini digunakan untuk menunjuk kepada orang percaya,
misalnya dalam kasus Zakheus (Luk 19:9). Tetapi bisa saja istilah ini hanya
menunjukkan bahwa ia adalah orang Yahudi (keturunan Abraham secara jasmani),
sama seperti orang kaya dalam cerita Lazarus dan orang kaya, juga menyebut
Abraham dengan sebutan ‘Bapa’,
dan disebut ‘anak’
oleh Abraham (Luk 16:24-25).
b)
Perempuan ini tidak dirasuk oleh setan!
1.
Ay 11 dalam Kitab Suci Indonesia memang mengatakan ‘dirasuk roh’,
tetapi ini salah terjemahan! Bandingkan dengan terjemahan-terjemahan Kitab Suci
bahasa Inggris di bawah ini.
KJV:
‘a woman which had a spirit of infirmity’ [= seorang perempuan yang
mempunyai suatu roh kelemahan].
RSV:
‘a woman who had had a spirit of infirmity’ [= seorang perempuan yang
telah mempunyai suatu roh kelemahan].
NIV:
‘a woman was there who had been crippled by a spirit’ [= seorang
perempuan ada di sana yang telah dilumpuhkan / dibuat jadi cacat oleh suatu
roh].
NASB:
‘a woman who ... had had a sickness caused by a spirit’ [= seorang
perempuan yang ... telah mempunyai suatu penyakit yang disebabkan oleh suatu
roh].
Catatan:
A. T. Robertson menghubungkan ‘a spirit of infirmity’ / ‘suatu roh
kelemahan’ (KJV/RSV) dengan ‘a spirit of bondage’ / ‘suatu roh
perbudakan’ (Ro 8:15).
Ro 8:15
- “Sebab kamu tidak menerima roh
perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima
Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya
Bapa!’”.
Ini
pasti tidak menunjuk kepada orang yang kerasukan setan, dan demikian juga dengan
perempuan dalam Luk 13 ini.
Memang
ada yang menafsirkan bahwa perempuan ini sakit karena kerasukan setan
(Wycliffe). Sepanjang yang saya ketahui hanya dia yang menafsirkan seperti ini.
Tetapi saya tidak setuju dengan penafsiran ini, dan boleh dikatakan semua
penafsir yang lain menganggap bahwa perempuan ini tidak kerasukan.
Matthew
Henry: “The
object of charity that presented itself was a woman in the synagogue that had
a spirit of infirmity eighteen years, v. 11. She
had an infirmity, which an evil spirit, by divine permission, had brought upon
her,”
[= ].
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘And, behold, there was a woman which had a spirit
of infirmity eighteen years.’ From the expression used in Luke 13:16, ‘whom Satan
hath bound,’ it has been conjectured that her protracted infirmity was the
effect of some milder form of possession; but this is a precarious inference.” [= ].
Barnes’
Notes: “‘There
was a woman which had a spirit of infirmity.’ Was infirm, or was weak and
afflicted. This was produced by Satan,
Luke 13:16.”
[= ].
A.
T. Robertson: “‘A spirit of infirmity.’ ... A spirit that caused the weakness (astheneias
‘lack of strength’) like a spirit of bondage (Rom. 8:15),” [= ].
Calvin:
“Luke
says that the woman was held by a ‘spirit of infirmity,’ so that her body
was bent by the contraction of her nerves. As the nature of the disease is no
farther described, it is probable that it was not one of an ordinary kind, or
which was understood by physicians; and, therefore, he calls it a spirit of
‘infirmity.’ We know that diseases of an unusual and extraordinary kind
are, for the most part, inflicted on men through the agency of the devil; ...
Not that Satan rules over men according to his pleasure, but only so far as
God grants to him permission to injure them.”
[= ].
The
Bible Exposition Commentary: “Perhaps it is a matter
of semantics, but I prefer to speak of
demonic work in believers as
‘demon oppression’ rather than ‘demon possession.’ In fact the Greek word is ‘demonized,’
so we need not think of
‘possession’ in spatial terms. Certainly Satan
can and does attack the bodies and minds of God’s people. Some satanic
oppression could last for many years until someone detects that Satan is at
work. Not all sickness is caused by demons (Luke 6:17-19), so we must not
blame everything on Satan.” [= ].
Catatan:
saya tidak mengerti dari mana ia mendapatkan istilah ‘demonized’
itu, karena kata itu tidak ada dalam text itu, baik dalam
terjemahan-terjemahan bahasa Inggris yang saya gunakan, maupun dalam text
bahasa Yunaninya.
2.
Demikian juga para penafsir menganggap bahwa istilah ‘diikat oleh Iblis’
dalam ay 16nya tidak menunjukkan bahwa ia dirasuk setan.
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘Whom Satan hath bound.’ Probably there is nothing
more intended by this expression than a strong contrast between the exalted
character of the woman, and the suffering of which the dark author of all evil
had so long made her the victim.” [= ].
Barnes’
Notes: “‘Whom
Satan hath bound.’ ... By his ‘binding’ her is meant that he had
inflicted this disease upon her. It was not properly a ‘possession’ of the
devil, for that commonly produced derangement; but God had suffered him to
afflict her in this manner, similar to the way in which he was permitted to
try Job.”
[= ].
A.
T. Robertson: “‘Whom Satan bound.’ ... Definite statement that
her disease was due to Satan.” [= ].
3.
Bukti lain bahwa perempuan ini tidak dirasuk oleh setan, adalah bahwa
dalam menyembuhkan dia, Yesus tidak menengking /
mengusir setannya (ay 12-13), seperti yang biasanya Ia lakukan, kalau
berhadapan dengan orang yang betul-betul kerasukan setan (Mat 8:16 Mat 8:30-32 / Mark 5:8-13 Mat 9:32-34 Mat 12:22-24,28
Mat 17:14-19 / Mark 9:17-29
Mark 1:23-27 Mark 1:32-34).
Ada
satu peristiwa yang agak kurang jelas dalam hal ini, yaitu dalam Mat 15:21-28,
tetapi bandingkan text ini dengan bagian paralelnya dalam Mark 7:24-30,
khususnya ay 29-30nya yang berbunyi: “(29) Maka kata Yesus kepada
perempuan itu: ‘Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu
sudah keluar dari anakmu.’ (30) Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu
didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah
keluar.”. Saya
berpendapat dalam text inipun Yesus melakukan pengusiran setan, sekalipun hanya
diceritakan secara implicit.
Saya
kira, satu-satunya peristiwa dimana tidak diceritakan pengusiran setan adalah
Mat 4:23-25, dan saya kira itu disebabkan karena penceritaannya dilakukan
secara global, bukan individual.
Mat 4:23-25
- “(23) Yesuspun berkeliling di
seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil
Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa
itu. (24) Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah
kepadaNya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit
dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit
ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.
(25) Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari
Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang
Yordan.”.
4)
Penderitaan jasmani Ayub ini masih ditambah dengan penderitaan batin /
rohani, dimana ia dikucilkan oleh semua orang, tidak mempunyai damai, dan merasa
ditinggalkan oleh Allah / dimusuhi oleh Allah.
Ayub 19:13-16,18-19
- “(13)
Saudara-saudaraku dijauhkanNya dari padaku, dan kenalan-kenalanku tidak lagi
mengenal aku. (14) Kaum kerabatku menghindar, dan kawan-kawanku melupakan aku.
(15) Anak semang dan budak perempuanku menganggap aku orang yang tidak dikenal,
aku dipandang mereka orang asing. (16) Kalau aku memanggil budakku, ia tidak
menyahut; aku harus membujuknya dengan kata-kata manis. ... (18) Bahkan
kanak-kanakpun menghina aku, kalau aku mau berdiri, mereka mengejek aku. (19)
Semua teman karibku merasa muak terhadap aku; dan mereka yang kukasihi, berbalik
melawan aku.”.
Ayub 3:23,26
- “(23)
kepada orang laki-laki yang jalannya tersembunyi, yang dikepung
Allah? ... (26) Aku tidak mendapat
ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah
yang timbul.’”.
Ayub 7:4
- “Bila
aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang
panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai
dinihari.”.
Ayub 7:13-14
- “(13)
Apabila aku berpikir: Tempat tidurku akan memberi aku penghiburan, dan tempat
pembaringanku akan meringankan keluh kesahku, (14) maka
Engkau mengagetkan aku dengan impian dan mengejutkan aku dengan khayal,”.
Ayub 16:9,11-14
- “(9)
MurkaNya menerkam dan memusuhi aku, Ia menggertakkan
giginya terhadap aku; lawanku memandang aku dengan mata yang
berapi-api. ... (11) Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan
aku ke dalam tangan orang fasik. (12) Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia
menggelisahkan aku, aku ditangkapNya pada
tengkukku, lalu dibantingNya, dan aku ditegakkanNya menjadi sasaranNya.
(13) Aku dihujani anak panah, ginjalku ditembusNya
dengan tak kenal belas kasihan, empeduku ditumpahkanNya ke tanah. (14) Ia
merobek-robek aku, menyerang aku laksana seorang pejuang.”.
Jadi,
dalam hal ini sikap Ayub tidak terlalu berbeda dengan sikap Naomi, yang
sekalipun mempercayai semua hal datang dari Allah, tetapi tidak percaya bahwa
Allah memberikan semua itu karena kasihNya, dan untuk kebaikannya.
Rut
1:12-13,19-21 - “(12) Pulanglah, anak-anakku,
pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada
harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih
melahirkan anak laki-laki, (13) masakan kamu menanti sampai mereka dewasa?
Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya
demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab
tangan TUHAN teracung terhadap aku?’ ... (19) Dan berjalanlah
keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem,
gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata:
‘Naomikah itu?’ (20) Tetapi ia berkata kepada mereka: ‘Janganlah sebutkan
aku Naomi; sebutkanlah aku Mara,
sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. (21)
Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan
tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan
aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang
aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.’”.
5)
Semua penderitaan ini menyebabkan Ayub lebih suka mati.
Penderitaan
Ayub yang hebat ini menyebabkan ia berkata: “aku
lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku.”
(Ayub 7:15).
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali