(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Rabu,
tgl 4 Desember 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Ayub 1:13-22
- “(13)
Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan
makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, (14)
datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: ‘Sedang lembu sapi
membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, (15) datanglah
orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan
mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal
itu kepada tuan.’ (16) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain
dan berkata: ‘Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan
habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput,
sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (17) Sementara orang itu
berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Orang-orang Kasdim membentuk
tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya
dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat
memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (18) Sementara orang itu berbicara,
datanglah orang lain dan berkata: ‘Anak-anak tuan yang lelaki dan yang
perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang
sulung, (19) maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun;
rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda
itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat
memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (20) Maka berdirilah Ayub, lalu
mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,
(21) katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan
telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang
mengambil, terpujilah nama TUHAN!’ (22) Dalam kesemuanya itu Ayub tidak
berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”.
Ay 13-19:
“(13) Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang
lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka
yang sulung, (14) datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: ‘Sedang
lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, (15)
datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya
dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan
hal itu kepada tuan.’ (16) Sementara orang itu
berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Api telah menyambar
dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga.
Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada
tuan.’ (17) Sementara orang itu berbicara,
datanglah orang lain dan berkata: ‘Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan,
lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata
pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu
kepada tuan.’ (18) Sementara orang itu berbicara,
datanglah orang lain dan berkata: ‘Anak-anak tuan yang lelaki dan yang
perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang
sulung, (19) maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun;
rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda
itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat
memberitahukan hal itu kepada tuan.’”.
Bencana-bencana
yang menimpa Ayub.
1)
Ia kehilangan seluruh ternaknya, dan juga semua (10 orang) anak-anaknya.
2)
Bencana-bencana itu datang secara susul-menyusul dengan cepat.
Perhatikan
kata-kata ‘sementara
orang itu berbicara’ yang muncul 3 x dalam ay
16,17,18.
Barnes’
Notes: “All
this indicates the rapidity of the movement of Satan, and his desire to
overwhelm Job with the suddenness and greatness of his calamities. The object
seems to have been to give him no time to recover from the shock of one form of
trial before another came upon him. If an interval had been given him he might
have rallied his strength to bear his trials; but afflictions are much more
difficult to be borne when they come in rapid succession. - It is not a very
uncommon occurrence, however, that the righteous are tried by the rapidity and
accumulation as well as the severity of their afflictions. It
has passed into a proverb that ‘afflictions do not come alone.’” [= Semua ini menunjukkan
cepatnya gerakan dari Setan, dan keinginannya untuk membanjiri Ayub dengan
mendadaknya dan besarnya bencana-bencananya. Kelihatannya tujuannya adalah untuk
tidak memberinya waktu untuk pulih dari goncangan dari satu pencobaan sebelum
pencobaan yang lain datang kepadanya. Jika kepadanya diberikan selang waktu maka
ia mungkin bisa mengerahkan kekuatannya untuk menanggung pencobaannya; tetapi
penderitaan / kesusahan akan jauh lebih sukar untuk ditanggung pada saat mereka
datang secara berturut-turut dan cepat. - Bukan merupakan hal yang jarang
terjadi bahwa orang benar dicobai oleh kecepatan dan akumulasi maupun oleh
beratnya penderitaan / kesusahan mereka. Itu telah berubah menjadi suatu pepatah
bahwa ‘penderitaan-penderitaan tidak datang sendirian’.]
- hal 106.
Illustrasi:
dalam pertandingan tinju, serangan dengan pukulan beruntun yang dilakukan dengan
terus menerus dan cepat, merupakan serangan yang sukar sekali untuk dibendung.
3)
Bandingkan serangan setan atau bencana-bencana yang menimpa Ayub ini
dengan ayat-ayat seperti Maz 34:8 dan Maz 91:7-11.
Maz 34:8
- “Malaikat
TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan
mereka.”.
Maz 91:7-11
- “(7)
Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi
itu tidak akan menimpamu. (8) Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan
melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. (9) Sebab TUHAN ialah tempat
perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, (10)
malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada
kemahmu; (11) sebab malaikat-malaikatNya akan diperintahkanNya kepadamu untuk
menjaga engkau di segala jalanmu.”.
Kalau
kita membaca ayat-ayat di atas ini, maka kita perlu membandingkan ayat-ayat
tersebut dengan Ayub 1:9-19 ini (dan juga Ayub 2:6-9), yang
menunjukkan bahwa ada keadaan dimana Allah mengijinkan bencana yang begitu
banyak dan hebat menimpa orang percaya yang begitu setia seperti Ayub, dan
bahkan lalu seakan-akan tidak mempedulikannya.
Pada
saat yang sama kita juga harus memperhatikan batasan yang Allah berikan dalam
Ayub 1:12 dan Ayub 2:6, dan juga tujuan baik Allah dalam mengijinkan semua itu.
Tetapi
ingat bahwa dalam kehidupan sehari-hari yang terlihat oleh mata kita hanyalah
penderitaan dan bencana yang menimpa kita, dan bahkan sikap Allah yang
kelihatannya acuh tak acuh, sedangkan batasan Allah maupun tujuan baik Allah itu
tidak terlihat oleh mata kita (kecuali kita melihat dengan mata iman).
Ay 20-22:
“(20) Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak
jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, (21)
katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang
juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil,
terpujilah nama TUHAN!’ (22) Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan
tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”.
1)
Pengoyakan jubah dan pencukuran rambut (ay 20a).
Ini
merupakan perwujudan dari kesedihan / perkabungan, dan kesedihan / perkabungan
ini bukan hal yang salah, bahkan pada jaman sekarang. Ayat yang menyuruh untuk
bersukacita senantiasa, seperti Fil 4:4, tidak harus dilakukan secara
mutlak (ini terbukti dari adanya ayat yang menunjukkan bahwa Yesus sedih atau
bahkan menangis, Mat 26:37-38 Yoh
11:35).
2)
Ayub menyembah Tuhan (ay 20b).
3)
Ayub mengucapkan ay 21: “katanya: ‘Dengan telanjang
aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke
dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.
a)
Apakah pada saat orang mati ia kembali ke kandungan ibunya?
Jelas
tidak. Tetapi mengapa ayat ini mengatakan demikian? Ada 2 kemungkinan jawaban:
1.
Arti hurufiahnya tidak perlu ditekankan.
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“The
literal meaning of ‘I shall return there’ need not be pressed.” [= Arti hurufiah dari ‘Aku
akan kembali ke dalamnya’ tidak perlu ditekankan.]
- hal 88.
Artinya
sekedar adalah ‘mati’. Jadi, ini mungkin sama seperti ungkapan yang sangat
sering muncul, khususnya dalam Perjanjian Lama, dimana dikatakan bahwa seseorang
‘dikumpulkan
kepada kaum leluhurnya’.
Kej 25:7-8
- “(7) Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, (8)
lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk
umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.”.
Kej 25:17
- “Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia
meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.”.
Kej 35:29
- “Lalu meninggallah Ishak, ia mati dan dikumpulkan kepada kaum
leluhurnya; ia tua dan suntuk umur, maka Esau dan Yakub, anak-anaknya itu,
menguburkan dia.”.
Kej 49:33
- “Setelah Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya,
ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan
kepada kaum leluhurnya.”.
Perhatikan
bahwa ungkapan ini digunakan baik untuk orang-orang yang percaya (Abraham, Ishak
dan Yakub) maupun yang tidak percaya (Ismael). Jadi, tentu tidak mungkin
ungkapan ini diartikan secara hurufiah, kecuali kita mau percaya pada adanya
tempat penantian umum (bagi orang percaya maupun tidak percaya), yang jelas
bukan merupakan ajaran Reformed / Alkitab. Ajaran Reformed mempercayai bahwa
orang mati langsung pergi ke surga atau neraka.
2.
Kata ‘kandungan’
diartikan sebagai ‘kandungan bumi’.
Pulpit
Commentary: “The
expression must not be pressed. It arises out of the analogy, constantly felt
and acknowledged, between ‘mother’ earth and a man’s actual mother (comp.
Ps. 129:15).”
[= Ungkapan ini tidak boleh ditekankan. Itu muncul dari analogi, yang dirasakan
dan diakui secara terus menerus, antara ‘ibu’ bumi dan ibu yang sesungguhnya
dari seseorang (bdk. Maz 129:15).] - hal 7.
Catatan:
a.
‘Mother earth’ artinya “the earth considered as the source of all its
living beings and inanimate things.”
[= bumi dianggap / dipertimbangkan sebagai sumber dari semua makhluk-makhluk
hidupnya dan benda-benda matinya].
b. Rasanya
yang dimaksud bukan Maz 129:15 tetapi Maz 139:15 - “Tulang-tulangku
tidak terlindung bagiMu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan
aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;”.
Calvin:
“Whereas he nameth his
mother’s womb, he meaneth another thing that is to wit, the womb of the earth,
who is the mother of all things.”
[= Sekalipun ia menyebutkan kandungan ibunya, tetapi sebetulnya ia memaksudkan
hal yang lain yaitu kandungan bumi, yang merupakan ibu dari segala sesuatu.]
- ‘Sermons on Job’, hal 30.
Saya
lebih condong pada penafsiran yang pertama.
b)
Ay 21a ini sesuai dengan 1Tim 6:7.
Ay 21a:
“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku,
dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.”.
1Tim 6:7
- “Sebab kita tidak membawa sesuatu
apapun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.”.
Barnes’ Notes: “He had nothing when he came into the world, and all that he had obtained had been by the good providence of God. As he gave it, he had the right to remove it. Such was the feeling of Job, and such is the true language of submission everywhere. He who has a proper view of what he possesses will feel that it is all to be traced to God, and that he has a right to remove it when he pleases.” [= Ia tidak mempunyai apa-apa pada waktu ia datang ke dalam dunia ini, dan semua yang telah ia dapatkan adalah karena providensia yang baik dari Allah. Karena Ia yang memberinya, Ia mempunyai hak untuk menyingkirkannya. Ia yang mempunyai pandangan yang benar tentang apa yang ia miliki akan merasa bahwa itu semua harus dilacak sampai kepada Allah, dan bahwa Ia mempunyai hak untuk menyingkirkannya pada waktu Ia menghendakinya.] - hal 111.
Adam
Clarke: “I had no earthly possessions when I came into
the world; I cannot have less going out of it. What I have the Lord gave: as it
was his free gift, he has a right to resume it when he pleases; and I owe him
gratitude for the time he has permitted me to enjoy this gift.” [= Aku tidak mempunyai milik duniawi pada saat aku
datang ke dalam dunia ini; aku tidak bisa mempunyai lebih sedikit pada waktu
meninggalkannya. Apa yang aku miliki Tuhan yang memberikannya: karena hal itu
merupakan pemberian cuma-cuma dariNya, maka Ia mempunyai hak untuk mengambilnya
kembali pada waktu Ia menghendakinya; dan aku harus berterima kasih kepadaNya
untuk waktu yang Ia ijinkan bagiku untuk menikmati pemberian ini.]
- hal 27.
Saya
berpendapat ini berlaku bukan hanya untuk harta, tetapi juga untuk orang-orang
yang kita cintai, atau apapun juga yang lain.
c) Kata-kata
‘TUHAN
yang memberi, TUHAN yang mengambil’ menunjukkan bahwa:
1.
Ayub menganggap semua berkat merupakan pemberian Allah.
Bandingkan juga dengan:
a. Maz 127:1-3
- “(1)
[Nyanyian ziarah Salomo.] Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah,
sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal
kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. (2) Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan
duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah
- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur. (3)
Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah
kandungan adalah suatu upah.”.
b. Maz 65:10-11
- “(10)
Engkau mengindahkan tanah itu, mengaruniainya kelimpahan, dan membuatnya sangat
kaya. Batang air Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka. Ya,
demikianlah Engkau menyediakannya: (11) Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau
membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau
menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya.”.
c. Maz 104:10-12,21-23,27-28
- “(10)
Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara
gunung-gunung, (11) memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus
keledai-keledai hutan; (12) di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul
dari antara daun-daunan. ... (21) Singa-singa muda mengaum-aum akan mangsa, dan
menuntut makanannya dari Allah. (22) Apabila matahari terbit, berkumpullah
semuanya dan berbaring di tempat perteduhannya; (23) manusiapun keluarlah ke
pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang. ... (27) Semuanya menantikan
Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau
memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka
kenyang oleh kebaikan.”.
Penerapan:
pada saat Tuhan memberi banyak berkat, khususnya secara duniawi, jangan menjadi
lupa daratan, lupa Tuhan, menjadi sombong, dan sebagainya. Sebaliknya sadarilah
bahwa semua itu merupakan berkat dari Tuhan, dan bersyukurlah kepadaNya, dan
berusahalah untuk makin mengasihi Dia, dan juga untuk menggunakan berkat-berkat
itu untuk kemuliaanNya.
2.
Ayub menelusuri semua bencana itu sampai kepada Allah.
Bandingkan
juga dengan:
a. Kej 45:5,7-9
- “(5)
Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena
kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh
aku mendahului kamu. ... (7) Maka Allah telah menyuruh aku mendahului
kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara
hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. (8) Jadi bukanlah
kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan
aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa
atas seluruh tanah Mesir. (9) Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah
kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai
tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu.”.
b. Kej 50:20
- “Memang
kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah
mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang
terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”.
c. 2Sam 16:5-11
- “(5)
Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum
keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia
terus-menerus mengutuk. (6) Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan
batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya. (7)
Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: ‘Enyahlah, enyahlah, engkau
penumpah darah, orang dursila! (8) TUHAN telah membalas kepadamu segala darah
keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan
kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung
malang, karena engkau seorang penumpah darah.’ (9) Lalu berkatalah Abisai,
anak Zeruya, kepada raja: ‘Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja?
Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.’ (10) Tetapi kata raja:
‘Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab
apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya:
mengapa engkau berbuat demikian?’ (11) Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada
semua pegawainya: ‘Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih
lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab
TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian.”.
d. Yoh 3:25-27
- “(25)
Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi
tentang penyucian. (26) Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya:
‘Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang
tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang
pergi kepadaNya.’ (27) Jawab Yohanes: ‘Tidak ada seorangpun yang dapat
mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.”.
e. Yoh 18:11
- “Kata
Yesus kepada Petrus: ‘Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum
cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?’”.
Ini
menyebabkan Ayub tidak marah kepada:
a. Angin
ribut yang membunuh anak-anaknya, ataupun petir yang memusnahkan kambing
dombanya.
b. Orang-orang
Syeba yang merampok kumpulan lembu, sapi dan keledainya ataupun orang-orang
Kasdim yang merampok kumpulan untanya.
Catatan:
ini tidak berarti bahwa kalau ada orang merampok / merugikan kita, kita tidak
boleh melaporkannya ke polisi atau menyeretnya ke pengadilan. Semua ini boleh
dilakukan demi keadilan, dan supaya hal itu tidak terjadi lagi.
c. Para
penjaga ternaknya (dengan anggapan bahwa mereka ceroboh dalam menjaga
ternaknya).
d. Setan.
Barnes’
Notes: “the loss of his property was to be traced to
God, and that he had a right to do as he had done.”
[= kehilangan milik harus dilacak jejaknya sampai kepada Allah, dan bahwa Ia
mempunyai hak untuk melakukan apa yang telah Ia lakukan.]
- hal 111.
Barnes’
Notes: “It is not by accident; it is not the result of
hap-hazard; it is not to be traced to storms and winds and the bad passions of
men. It is the result of intelligent design, and whoever has been the agent or
instrument in it, it is to be referred to the overruling providence of God.” [= Itu bukan kebetulan; itu bukan merupakan akibat
dari kesembronoan; itu tidak boleh diikuti jejaknya kepada badai dan angin dan
nafsu jahat manusia. Itu merupakan hasil dari rencana yang cerdas, dan siapapun
yang merupakan agen atau alat di dalamnya, itu harus menunjuk pada providensia
Allah yang berkuasa.] - hal 111.
Barnes’
Notes: “When we are afflicted, we should not vent our
wrath on winds and waves; on the fraud and perfidy of our fellow-men; on
embarrassments and changes in the commercial world; on the pestilence and the
storm. Any or all of these may be employed as instruments in taking away our
property or our friends, but we should trace the calamity ultimately to God.
Storms and winds and waves, malignant spirits and our fellow-men, do no more
than God permits. They are all restrained and kept within proper limits. They
are not directed by chance, but they are under the control of an intelligent
Being, and are the wise appointment of a holy God.”
[= Pada waktu kita mengalami penderitaan / kesusahan, kita tidak boleh
melepaskan kemarahan kita pada angin dan ombak; pada kecurangan dan
pengkhianatan dari sesama manusia kita; pada kesukaran dan perubahan dalam dunia
perdagangan; pada wabah dan badai. Yang manapun dari hal-hal ini bisa digunakan
sebagai alat untuk mengambil milik kita atau teman kita, tetapi kita harus
mengikuti jejak dari bencana kepada Allah. Badai dan angin dan ombak, roh jahat
dan sesama manusia kita, tidak melakukan lebih jauh dari yang Allah ijinkan.
Mereka semua dikekang dan dijaga dalam batasan-batasan yang tepat. Mereka tidak
diarahkan secara kebetulan, tetapi mereka ada di bawah kontrol dari Makhluk yang
cerdas, dan merupakan penentuan yang bijaksana dari Allah yang suci.]
- hal 111.
Barnes’
Notes: “We see the true source of comfort in trials. It
is not in the belief that things are regulated by chance and hap-hazard; or even
that they are controlled by physical laws. ... It is only when we perceive an
intelligent Being presiding over these events, and see that they are the result
of plan and intention on his part, that we can find comfort in trial.” [= Kita melihat sumber penghiburan yang sebenarnya
dalam pencobaan. Itu tidak ada dalam kepercayaan bahwa hal-hal diatur secara
kebetulan dan sembarangan; atau bahkan bahwa mereka dikontrol oleh hukum-hukum
alam. … Hanya pada waktu kita merasa seorang Makhluk cerdas memimpin
peristiwa-peristiwa ini, dan melihat bahwa mereka merupakan akibat / hasil dari
rencana dan maksudNya, maka kita bisa mendapatkan penghiburan dalam pencobaan.]
- hal 112.
Pulpit
Commentary: “whether
suffering or rejoicing, saints should imitate the piety of Job, recognize
God’s hand in everything, and ‘in everything give thanks.’” [= baik dalam penderitaan
ataupun sukacita, orang kudus harus meniru kesalehan Ayub, mengenali tangan
Allah dalam segala sesuatu, dan ‘mengucap syukur dalam segala sesuatu’.]
- hal 13.
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“The
intense faith of Job immediately sees the hand of God in every ‘natural’
event. There are no ‘accidents’ in a universe ruled by the one sovereign
Lord.” [= Iman yang hebat dari Ayub
segera melihat tangan Allah dalam setiap peristiwa alamiah. Tidak ada
‘kebetulan’ dalam alam semesta yang diperintah / diatur oleh satu Tuhan yang
berdaulat.] -
hal 86.
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“Job
sees only the hand of God in these events. It never occurs to him to curse the
desert brigands, to curse the frontier guards, to curse his own stupid servants,
now lying dead for their watchlessness. All secondary causes vanish. It was the
Lord who gave; it was the Lord who removed; and in the Lord alone must be the
explanation of these strange happenings be sought.” [= Ayub hanya melihat tangan
Allah dalam peristiwa-peristiwa ini. Tidak pernah terpikir olehnya untuk
mengutuk perampok-perampok padang pasir itu, mengutuk penjaga-penjaga
perbatasan, mengutuk para pelayannya sendiri yang bodoh, yang sekarang terbaring
tak bernyawa karena tidak berjaga-jaga. Semua penyebab kedua hilang. Tuhanlah
yang memberi; Tuhanlah yang menyingkirkan; dan dalam Tuhan saja penjelasan dari
peristiwa-peristiwa aneh ini harus dicari.]
- hal 88.
Adam
Clarke: “Good when he gives, supremely good; Nor less
when he denies; Afflictions from his sovereign hand, Are blessings in
disguise.” [= Baik pada waktu Ia memberi, amat baik; tidak
kurang dari itu pada waktu Ia menolak; Penderitaan-penderitaan /
kesusahan-kesusahan dari tangan / kuasaNya yang berdaulat, Merupakan
berkat-berkat dalam penyamaran.]
- hal 27.
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“It
is harder to say ‘Praise the Lord’ when He takes than when He gives.” [= Adalah lebih sukar untuk
berkata ‘Puji Tuhan’ pada waktu Ia mengambil dari pada pada waktu Ia
memberi.] - hal
89.
Calvin:
“For the story here written,
showeth us how we be in God’s hand, and that it lieth in him to determine of
our lives, and to dispose of the same according to his good pleasure: and that
it is our duty to submit ourselves unto him with all humbleness and obedience:
and that it is good reason, that we should be wholly his, both to live and die:
and specially that when it pleaseth him to lay his hand upon us, although we
perceive not for what cause he doth it, yet we should glorify him continually,
acknowledging him to be just and upright, and not to grudge against him.” [= Karena cerita yang ditulis
di sini menunjukkan kepada kita bahwa kita ada dalam tangan Allah, dan Dialah
yang menentukan hidup kita, dan mengatur / membuangnya sesuai kehendakNya: dan
merupakan kewajiban kita untuk menundukkan diri kita sendiri kepadaNya dengan
segala kerendahan hati dan ketaatan: dan merupakan pertimbangan yang baik bahwa
kita adalah milikNya sepenuhnya, baik hidup atau mati: dan khususnya pada waktu
Ia berkenan untuk meletakkan tanganNya atas kita, sekalipun kita tidak mengerti
mengapa Ia melakukan hal itu, tetapi kita harus memuliakan Dia secara terus
menerus, mengakui Dia sebagai adil dan lurus / benar, dan tidak bersungut-sungut
terhadap Dia.] - ‘Sermons on Job’, hal
1.
Calvin:
“there is nothing better, than
to submit ourselves unto God, and to suffer peaceably whatsoever he sendeth us,
until he deliver us of his own mere goodness.”
[= tidak ada yang lebih baik, dari pada menundukkan diri kita sendiri kepada
Allah, dan memikul dengan tenang apapun yang Ia kirimkan kepada kita, sampai Ia
membebaskan kita semata-mata karena kebaikanNya sendiri.]
- ‘Sermons on Job’, hal 1.
d)
Sikap Ayub ini membuktikan bahwa kata-kata Setan dalam ay 9-11
tentang Ayub adalah salah.
Dalam
Ayub 1:9-11, setan meramalkan bahwa kalau segala sesuatu yang dimiliki Ayub
diambil, Ayub pasti akan mengutuki Tuhan. Tetapi ternyata pada waktu hal itu
terjadi, Ayub hanya menjadi sedih. Ia bukan saja tidak mengutuki Tuhan, tetapi
sebaliknya ia memuji Tuhan. Ini pasti mengecewakan setan!
Adam
Clarke: “In this Satan was utterly disappointed; he found
a man who loved his God more than his earthly portion. This was a rare case,
even in the experience of the devil. He had seen multitudes who bartered their
God for money, and their hopes of blessedness in the world to come for secular
possessions. He had been so often successful in this kind of temptation, that he
made no doubt he should succeed again. He saw many who, when riches increased,
set their hearts on them, and forgot God. He saw many also who, when deprived of
earthly comforts, blasphemed their Maker. He therefore inferred that Job, in
similar circumstances, would act like the others; he was disappointed. Reader,
has he, by riches or poverty, succeeded with thee? Art thou pious when affluent,
and patient and contented when in poverty?” [= Di sini Setan sangat kecewa; ia menemukan orang
yang mengasihi Allahnya lebih dari milik duniawinya. Ini merupakan kasus yang
jarang terjadi, bahkan dalam pengalaman dari setan. Ia telah melihat banyak
orang yang menukarkan Allah mereka dengan uang, dan menukarkan pengharapan
mereka akan berkat dalam dunia yang akan datang dengan milik duniawi. Ia telah
begitu sering berhasil dalam pencobaan jenis ini, sehingga ia tidak ragu-ragu
bahwa ia akan berhasil lagi. Ia melihat banyak orang yang pada waktu harta
bertambah meletakkan hatinya pada hartanya, dan melupakan Allah. Ia melihat
banyak orang yang pada waktu kesenangan hidup duniawinya dicabut, menghujat
Penciptanya. Karena itu ia menduga bahwa Ayub, dalam keadaan yang mirip, akan
bertindak seperti yang lain; ia kecewa. Pembaca, apakah ia, melalui kekayaan
atau kemiskinan, telah berhasil dengan engkau? Apakah engkau saleh pada waktu
kaya, dan sabar dan puas pada saat melarat?] - hal 27.
4)
Ay 22: “Dalam
kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang
kurang patut.”.
Pulpit
Commentary: “It
is easy to hide sin from view in times of quiet. ... The most difficult thing is
not to sin when one is most tempted.”
[= Adalah mudah untuk menyembunyikan dosa dari pandangan pada masa tenang. ...
Hal yang paling sukar adalah untuk tidak berdosa pada waktu seseorang dicobai
secara paling hebat.] - hal 33.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali