(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Rabu,
tgl 20 Nopember 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Ayub 1:1-5
- “(1)
Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia
takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. (2) Ia mendapat tujuh anak laki-laki
dan tiga anak perempuan. (3) Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga
ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan
budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang
terkaya dari semua orang di sebelah timur. (4) Anak-anaknya yang lelaki biasa
mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga
saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka.
(5) Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka,
dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu
mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab
pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah
di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”.
Pendahuluan:
Ada
banyak hal yang tidak diketahui tentang kitab Ayub, seperti:
1)
Kapan Ayub hidup.
Tetapi
kita bisa memperkirakan kapan Ayub hidup dengan cara memperkirakan usia Ayub
pada waktu ia mati. Dan ini bisa kita perkirakan dengan cara sebagai berikut:
Ayub 1:2
- “Ia
mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.”.
Untuk
mengetahui perkiraan pada umur sekitar berapa orang pada saat itu kawin / punya
anak pertama, kita bisa membaca text di bawah ini:
Kej 11:10-26
- “(10) Inilah keturunan Sem.
Setelah Sem berumur 100 tahun, ia memperanakkan Arpakhsad, dua tahun
setelah air bah itu. (11) Sem masih hidup lima ratus tahun, setelah ia
memperanakkan Arpakhsad, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.
(12) Setelah Arpakhsad hidup 35 tahun, ia memperanakkan Selah. (13)
Arpakhsad masih hidup empat ratus tiga tahun, setelah ia memperanakkan Selah,
dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. (14) Setelah Selah hidup
30 tahun, ia memperanakkan Eber. (15) Selah masih hidup empat ratus tiga
tahun, setelah ia memperanakkan Eber, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan
perempuan. (16) Setelah Eber hidup 34 tahun, ia memperanakkan Peleg. (17)
Eber masih hidup empat ratus tiga puluh tahun, setelah ia memperanakkan Peleg,
dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. (18) Setelah Peleg
hidup 30 tahun, ia memperanakkan Rehu. (19) Peleg masih hidup dua
ratus sembilan tahun, setelah ia memperanakkan Rehu, dan ia memperanakkan
anak-anak lelaki dan perempuan. (20) Setelah Rehu hidup 32 tahun, ia
memperanakkan Serug. (21) Rehu masih hidup dua ratus tujuh tahun, setelah ia
memperanakkan Serug, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. (22)
Setelah Serug hidup 30 tahun, ia
memperanakkan Nahor. (23) Serug masih hidup dua ratus tahun, setelah ia
memperanakkan Nahor, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. (24)
Setelah Nahor hidup 29 tahun, ia
memperanakkan Terah. (25) Nahor masih hidup seratus sembilan belas tahun,
setelah ia memperanakkan Terah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan
perempuan. (26) Setelah Terah hidup 70 tahun,
ia memperanakkan Abram, Nahor dan Haran.”.
Lalu
ia mengalami segala macam bencana yang tidak kita ketahui berapa lamanya.
Percakapan
Ayub dengan ‘sahabat-sahabat’nya mungkin berlangsung setelah 7 hari dimana
mereka hanya berdiam diri (Ayub 2:13).
Ayub 2:11-13
- “(11) Ketika ketiga sahabat
Ayub mendengar kabar tentang segala
malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka
dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad,
orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan
belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. (12) Ketika mereka memandang dari
jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara
nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap
langit. (13) Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh
hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan
sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat
penderitaannya.”.
Dan
semua percakapan-percakapan Ayub dengan ‘sahabat-sahabat’nya itu (termasuk
waktu Tuhan bicara dengan Ayub), mungkin berlangsung hanya dalam waktu beberapa
hari saja (Ayub 3:1-42:9).
Dan
lalu Tuhan memulihkan segala sesuatu.
Ayub
42:12 - “TUHAN memberkati Ayub dalam
hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia
mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang
lembu, dan seribu ekor keledai betina.”.
Ini
pasti butuh waktu cukup lama, bertahun-tahun.
Juga
dikatakan bahwa Ayub mempunyai 10 orang anak lagi (Ayub 42:13).
Ayub 42:13
- “Ia juga mendapat tujuh orang
anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan;”.
Kecuali
ia punya anak kembar, ini pasti butuh waktu cukup lama, bisa 10-20 tahun.
Dan
setelah semua itu, muncul Ayub 42:16-17.
Ayub
42:16-17 - “(16) Sesudah
itu Ayub masih hidup seratus empat puluh
tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai
keturunan yang keempat. (17) Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.”.
Karena
itu banyak penafsir menyimpulkan bahwa Ayub mencapai usia sekitar 200 tahun.
Sekarang
setelah bisa memperkirakan usia Ayub pada saat ia mati, kita bisa memperkirakan
kapan ia hidup. Usia sepanjang ini lebih panjang dari usia Abraham (175 tahun -
Kej 25:7) dan Ishak (180 tahun - Kej 35:28), lebih-lebih dari Yakub (147 tahun -
Kej 47:28), Yusuf (110 tahun - Kej 50:22), Musa (120 tahun - Ul 34:7), dan Yosua
(110 tahun - Yos 24:29). Usia sepanjang itu ada pada jaman Terah (ayah Abraham,
yang mati pada usia 205 - Kej 11:32). Karena itu ada yang menganggap bahwa Ayub
hidup pada jaman Abraham atau bahkan sebelumnya.
2)
Kapan kitab Ayub ditulis.
Ada
yang beranggapan bahwa kitab Ayub bahkan lebih kuno dari kitab Kejadian.
3)
Siapa penulis kitab Ayub.
Matthew
Poole memberikan 3 kemungkinan yaitu Ayub sendiri, Elihu, atau Musa.
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“We
do not know who wrote the book of Job or when he lived. Nor do we know where. If
several persons were involved, we still know nothing about them. ... A wide
range of dates has been proposed, extending from the time of Moses to the
Hellenistic period.”
[= Kita tidak tahu siapa yang menulis kitab Ayub atau kapan ia hidup. Juga kita
tidak tahu dimana. Jika ada beberapa orang yang terlibat (dalam
penulisan kitab Ayub), kita tetap tidak
mengetahui apa-apa tentang mereka. ... Ada jangka waktu yang lebar yang
diusulkan, membentang mulai jaman Musa sampai jaman Yunani.]
- hal 61.
1)
Cerita Ayub bukanlah sekedar suatu illustrasi, dongeng, atau perumpamaan,
tetapi merupakan cerita sejarah, yang sungguh-sungguh terjadi.
Perhatikan
ay 1a yang berbunyi: ‘Ada
seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub’.
Ada
penafsir yang mengatakan bahwa cara membuka cerita tentang Ayub dalam Ayub 1:1a
ini bisa menunjuk pada:
a)
Cerita sejarah (seperti dalam 1Sam 25:2 - ‘Ketika
itu ada seorang laki-laki di Maon, yang mempunyai perusahaan di Karmel. Orang
itu sangat kaya: ia mempunyai 3.000 ekor domba dan 1.000 ekor kambing’).
b)
Perumpamaan (seperti dalam 2Sam 12:1 -
‘Ada 2 orang dalam suatu kota:
yang seorang kaya, yang lain miskin’).
Tetapi
penafsir yang lain mengatakan bahwa pembukaan cerita dalam ay 1a ini sudah
menunjukkan bahwa ini adalah cerita sejarah, karena adanya nama Ayub maupun nama
tempat dimana ia tinggal (beda dengan 2Sam 12:1 dimana baik nama orang
maupun nama tempat tidak disebutkan).
Barnes’
Notes: “the
book opens with the appearance of reality; and the express declaration that
there was such a man, the mention of his name and of the place where he lived,
show that the writer meant to affirm that there was in fact such a man.” [= kitab ini dibuka / dimulai
dengan kenyataan; dan pernyataan yang jelas bahwa di sana ada seseorang,
penyebutan namanya dan tempat dimana ia hidup menunjukkan bahwa penulis kitab
ini bermaksud untuk menegaskan bahwa dalam faktanya memang ada orang seperti
itu.] - hal 90.
Ada
juga penafsir yang menambahkan bahwa bagian-bagian Kitab Suci lain yang
menggunakan cerita Ayub menunjukkan bahwa Ayub adalah seorang yang betul-betul
ada dalam sejarah. Bandingkan dengan:
1.
Yeh 14:14,20 - “(14)
biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel dan Ayub,
mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka,
demikianlah firman Tuhan ALLAH. ... (20) dan biarpun Nuh, Daniel dan Ayub berada
di tengah-tengahnya, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka
tidak akan menyelamatkan baik anak laki-laki maupun anak perempuan, melainkan
mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka.”.
2.
Yak 5:11 - “Sesungguhnya
kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah
mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya
disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas
kasihan.”.
Matthew
Poole: “this
was no fiction or parable, as some have dreamed, but a real history,” [= ini bukan fiksi atau
perumpamaan, seperti yang dimimpikan oleh sebagian orang, tetapi sejarah yang
sungguh-sungguh,]
- hal 921.
Ini
perlu dicamkan untuk menghadapi orang-orang Liberal, yang menafsirkan banyak
cerita sejarah sebagai dongeng atau perumpamaan.
2)
‘Ada seorang laki-laki’
(ay 1a).
KJV:
‘There was a man’ [= di sana ada seseorang / seorang laki-laki].
Pulpit
Commentary: “A
man. Job first appears before us as a man. ... Only a man. Not a demi-god, not
an angel. Frail as a man, feeble, and fallible.”
[= Seorang manusia / laki-laki. Ayub muncul / tampak di hadapan kita sebagai
seorang manusia. ... Hanya seorang manusia. Bukan setengah allah / dewa, bukan
seorang malaikat. Rapuh seperti manusia, lemah, dan bisa berbuat salah.]
- hal 28.
Memang
nabi-nabi, rasul-rasul dsb, semua adalah manusia biasa yang sama seperti kita.
Bdk.
Yak 5:17-18 - “(17)
Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah
bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun
di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. (18) Lalu ia berdoa pula dan langit
menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.”.
Jadi,
kalau nanti kita melihat bagaimana hebatnya Ayub maupun dosa-dosa Ayub, kita
perlu mengingat bahwa Ayub bukanlah malaikat atau setengah allah. Ia adalah
manusia biasa sama seperti kita.
Penerapan:
pada waktu menyoroti seorang hamba Tuhan, kita juga perlu mengingat bahwa ia
adalah manusia biasa, bukan superman rohani!
3)
‘Ayub’
dan ‘tanah
Us’.
Tidak
diketahui dengan pasti tentang arti dari nama ‘Ayub’
maupun dimana ‘tanah
Us’.
Tentang
‘tanah
Us’, Matthew
Poole mengatakan bahwa itu mungkin ada di Edom (bdk. Rat 4:21), atau bagian
dari Arab, tidak jauh dari Syeba (Ayub 1:15) dan Kasdim (Ayub 1:17).
Rat 4:21
- “Bergembira
dan bersukacitalah, hai puteri Edom, engkau
yang mendiami tanah Us, juga kepadamu piala akan sampai, engkau akan
jadi mabuk lalu menelanjangi dirimu!”.
Ayub
1:15,17 - “(15)
datanglah orang-orang Syeba menyerang dan
merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang
luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ ... (17) Sementara
orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Orang-orang
Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan
merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang
luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’”.
4)
Kesalehan Ayub (ay 1b).
Ay 1b:
“bernama
Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”.
Ini
diakui oleh Allah sendiri (ay 8 2:3).
Ay
8: “Lalu
bertanyalah TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub?
Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang
takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.’”.
Ayub
2:3 - “Firman
TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada
seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan
Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau
telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.’”.
Bdk.
Ayub 31:1 - “‘Aku
telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?”.
Gambaran
ay 1b tentang kesalehan Ayub: saleh, jujur, takut akan Allah, menjauhi
kejahatan.
Ada
beberapa hal yang perlu dibahas / dipersoalkan:
a)
Ini tidak menunjukkan bahwa Ayub adalah orang yang suci murni tanpa dosa
sedikitpun (bdk. Ro 3:10-12 Ro 3:23 Ayub 4:17 Ayub 25:4
Pkh 7:20).
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“Job
is not considered to be perfect or sinless. All the speakers in the book,
including Job himself, are convinced that all men are sinful.” [= Ayub tidak dianggap sebagai
sempurna atau tanpa dosa. Semua pembicara dalam kitab ini, termasuk Ayub
sendiri, yakin bahwa semua manusia itu berdosa.] - hal 79.
Bdk.
Ayub 9:20 (KJV): ‘If I justify
myself, mine own mouth shall condemn me; if I say, I am perfect, it shall also
prove me perverse’ [= Jika aku membenarkan diriku sendiri, mulutku sendiri
akan menyalahkan aku; jika aku berkata: aku sempurna, itu juga akan membuktikan
aku sesat].
Catatan:
ini adalah kata-kata Ayub sendiri (bdk. Ayub 9:1).
b)
Ayub saleh tetapi toh menderita bahkan sangat menderita, untuk jangka
waktu yang cukup lama.
Beberapa
komentar dari Francis I. Andersen (Tyndale) tentang kesalehan dan penderitaan
yang luar biasa dari Ayub:
1. “The
fact of Job’s genuine righteousness is essential to the book. It begins with a
clash of opinion between Yahweh and the Satan on this point. The slanderer
denies it; Yahweh sets out to prove it.”
[= Fakta dari kebenaran sejati dari Ayub merupakan sesuatu yang penting bagi
kitab ini. Kitab ini dimulai dengan suatu pertentangan pendapat antara Yahweh
dan Setan tentang hal ini. Sang pemfitnah menyangkalnya; Yahweh bermaksud untuk
membuktikannya.]
- hal 79.
2. “The
book of Job tells the story of a good man overwhelmed by troubles. He is
stripped of his wealth, his family, his health. He does not know why God has
done this to him. Only the reader knows that God is trying to prove to the Devil
that Job’s faith is genuine.”
[= Kitab Ayub menceritakan cerita tentang seorang yang baik yang dibanjiri
dengan kesukaran. Ia dikuliti / ditelanjangi dari kekayaannya, keluarganya,
kesehatannya. Ia tidak tahu mengapa Allah telah melakukan ini kepadanya. Hanya
pembaca yang tahu bahwa Allah sedang mencoba untuk membuktikan kepada Setan
bahwa iman Ayub itu asli / sejati.]
- hal 15.
3. “Many
thoughtful people, horrified by the helplessness of humanity in the face of
natural disasters or outraged by the ruthless exploitation of ‘the downtrodden
and the injured’ by the unscrupulous masters of political and economic power,
have lost faith in the goodness of God. ‘If I had the power of God,’ they
protest, ‘I could do more about these things than He seems to be doing!’” [= Banyak pemikir, menjadi
takut oleh ketidak-berdayaan manusia terhadap bencana alam atau menjadi sakit
hati oleh pemerasan yang kejam terhadap ‘orang yang tertindas dan terluka /
menderita’ oleh penguasa yang jahat dari kekuatan politik dan ekonomi, telah
kehilangan iman pada kebaikan Allah. Mereka memprotes: ‘Seandainya aku
mempunyai kuasa Allah, aku bisa melakukan lebih banyak tentang hal-hal ini dari
pada yang kelihatannya dilakukan oleh Allah!’]
- hal 64.
Pada
saat hal buruk seperti itu terjadi pada saudara, janganlah berkata seperti dalam
kutipan di atas. Kalau saudara seorang anak Allah, percayalah bahwa Allah
pasti mempunyai tujuan yang baik bagi saudara!
4. “It
is especially the book for any who find themselves in ‘Job’s sick day’ as
a result of some shattering experience.”
[= Ini khususnya merupakan kitab untuk seadanya orang yang mendapati dirinya
sendiri dalam ‘hari sakitnya Ayub’ sebagai akibat dari pengalaman yang
menghancurkan.]
- hal 9.
Ay 2: “Ia
mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.”.
Ayub
mempunyai 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Awas,
ini ditulis bukan untuk ditiru! Tetapi dari kata-kata ini kita bisa
memperkirakan secara kasar umur Ayub pada saat itu. Kalau menurut ukuran kita
pada saat ini, Ayub sudah termasuk orang berumur (mungkin sekitar 50 tahun).
Ay 3: “Ia
memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang
lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar,
sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.”.
Ayat
ini menunjukkan besarnya harta Ayub, yang menyebabkan ia disebut sebagai orang
terkaya di sebelah timur. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan
hal ini:
1)
Ayub adalah orang yang rajin bekerja.
Barnes’
Notes: “The
fact that Job had so many oxen implies that he devoted himself to the
cultivation of the soil as well as to keeping flocks and herds; comp. ver. 14.” [= Fakta bahwa Ayub mempunyai
begitu banyak lembu jantan menunjukkan secara tidak langsung bahwa ia menekuni
pengolahan tanah maupun pemeliharaan kawanan ternak; bdk. ay 14.]
- hal 94.
Pulpit
Commentary (hal 8) juga mengatakan bahwa adanya pembajak (ay 14) dan penjaga
ternak (ay 15,16,17) menunjukkan bahwa Ayub bukan orang yang malas dalam bekerja
/ mencari uang.
2)
Hubungan kesalehan dan pekerjaan.
Pulpit
Commentary (hal 8) mengatakan bahwa Ayub bukan orang malas, dan ini menunjukkan
bahwa kesalehan tidak bertentangan dengan aktivitas bisnis yang besar. Juga
tidak menunjukkan bahwa pekerjaan pasti merusak / mengganggu pemeliharaan /
pertumbuhan jiwa / kerohanian.
3)
Hubungan dan perbandingan antara kesalehan dan kekayaan.
Matthew Henry: “He was prosperous and yet pious. Though it is hard and rare, it is not impossible, for a rich man to enter into the kingdom of heaven. With God even this is possible, and by his grace the temptations of worldly wealth are not insuperable.” [= Ia kaya tetapi saleh. Sekalipun itu sukar dan jarang, itu bukannya mustahil, bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Dengan Allah, bahkan ini adalah mungkin, dan oleh kasih karuniaNya pencobaan-pencobaan dari kekayaan duniawi bukannya mustahil untuk dikalahkan.].
Pulpit
Commentary: “Job
was rich, material wealth being in his case allied with spiritual treasure, thus
proving that, though good men are not always rich, as unfortunately rich men are
not always good, it is yet by no means impossible to be both;” [= Ayub kaya, baik kekayaan
materi maupun kekayaan rohani, dan dengan demikian membuktikan bahwa, sekalipun
orang baik / saleh tidak selalu kaya, sama seperti orang kaya tidak selalu baik
/ saleh, tetapi bukannya tidak mungkin untuk menjadi keduanya;]
- hal 8.
Pulpit
Commentary: “1.
Piety may be obtained by all; wealth can be secured only by a few. 2. Piety
is useful to all; wealth is injurious to some. 3. Piety will abide with
all; wealth can remain with none.”
[= 1. Kesalehan bisa didapatkan oleh semua orang; kekayaan bisa diperoleh
hanya oleh sedikit orang. 2. Kesalehan berguna bagi semua orang; kekayaan
merugikan / berbahaya bagi sebagian orang. 3. Kesalehan akan tinggal /
menetap dengan semua orang; kekayaan tidak bisa tinggal / menetap dengan
siapapun.] - hal
9.
Pulpit
Commentary: “1. They
that have piety can do without wealth. 2. They that have wealth cannot do
without piety.”
[= 1. Mereka yang mempunyai kesalehan bisa hidup tanpa kekayaan. 2. Mereka
yang mempunyai kekayaan tidak bisa hidup tanpa kesalehan.]
- hal 9.
Ay 4-5: “(4)
Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing
menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan
minum bersama-sama mereka. (5) Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah
berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya,
pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah
mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan
telah mengutuki Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub
senantiasa.”.
1)
Kelihatannya anak-anak Ayub mempunyai rumah masing-masing (Ay 4: ‘di rumah mereka
masing-masing’;
ay 18: ‘di
rumah saudara mereka yang sulung’).
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“In
spite of the intimacy of the extended family, rich or royal children might each
have their own residence, without necessarily being married (Gn. 25:5,6; Jdg.
10:4; 2Sa. 13:7; 14:24,31). Compare Job 1:18. Presumably the sisters were still
living with their parents.”
[= Sekalipun ada keintiman keluarga, anak-anak orang kaya atau raja bisa
mempunyai tempat tinggal sendiri, sekalipun mereka tidak / belum menikah (Kej
25:5,6 Hakim 10:4 2Sam 13:7 14:24,31).
Bandingkan Ayub 1:18. Diperkirakan bahwa saudara-saudara perempuan tetap
tinggal dengan orang tua mereka.] - hal 80.
2)
Anak-anak Ayub mengadakan pesta secara bergiliran.
Ada
yang menganggap bahwa ini adalah pesta ulang tahun, yang tentu saja tidak bisa
disalahkan. Jadi, jangan mengatakan bahwa karena mereka berpesta, dan itu
merupakan hal yang salah / berdosa, maka mereka semua dibunuh dalam ay 19.
3)
Ayub menguduskan anak-anaknya (ay 5).
Ay 5:
“Setiap
kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan
menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu
mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya:
‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam
hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”.
a)
Ayub melakukan hal ini setiap anak-anaknya selesai berpesta. Mengapa?
Karena pesta / saat bersenang-senang merupakan
pencobaan bagi banyak orang, sehingga memudahkan jatuh ke dalam dosa.
Karena itu, hati-hatilah pada waktu sedang pesta / bersenang-senang!
b)
Sebagai kepala keluarga, Ayub bertindak sebagai imam antara Allah dan
keluarganya.
Pulpit
Commentary: “In
the old world, outside the Mosaic Law, the father of the family was the priest,
to whom alone it belonged to bless, purify, and offer sacrifice.” [= Dalam dunia kuno, di luar
hukum Musa, ayah dari keluarga merupakan imam, dan hanya ia yang boleh
memberkati, menguduskan / menyucikan, dan mempersembahkan korban.]
- hal 3.
Ingat
bahwa ini terjadi pada jaman kuno. Kalau pada jaman Perjanjian Baru ayah menjadi
imam, seperti dalam ajaran Pria Sejati, itu sesat, karena dalam Perjanjian Baru
kita hanya punya satu Imam / Pengantara, dan itu adalah Yesus!
c)
Korban bakaran (ay 5b bdk. Im 9:7 Kel
29:42 Bil 28:3,6,10,15,24,31).
Adam
Clarke (hal 27) mengatakan bahwa adanya korban bakaran merupakan dasar untuk
mengatakan bahwa Ayub hidup setelah ada hukum Taurat. Tetapi keberatannya
adalah: kalau memang ia hidup setelah jaman Taurat, bagaimana ia melakukan semua
ini padahal ia bukan imam?
Pulpit
(hal xv, hal 2) tidak setuju dengan Clarke. Usia Ayub diperkirakan mencapai
200-250 tahun (bdk. Ayub 42:16), dan ini membuatnya sejaman dengan Terah /
Abraham. Disamping itu, korban bakaran sudah ada jauh sebelum jaman Musa /
Taurat.
Pulpit
Commentary: “Burnt
offerings were instituted soon after the Fall, as we learn from Gen. 4:4, and
were in common use long before the Mosaic Law was given (see Gen. 8:20; 22:8,13;
31:54; Exod. 18:12 ...).”
[= Korban bakaran diadakan segera setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa,
seperti yang kita pelajari dari Kej 4:4, dan sudah biasa dilakukan jauh sebelum
hukum Musa diberikan (lihat Kej 8:20 22:8,13
31:54 Kel 18:12 ...).]
- hal 3.
d)
‘mengutuki
Allah’.
1.
Apa yang sangat aneh di sini adalah bahwa kata ‘mengutuki’ ini secara hurufiah adalah ‘memberkati’.
Ada yang tetap menterjemahkan ‘memberkati’
dan mengartikan bahwa dosa yang Ayub maksudkan adalah dimana anak-anaknya ‘memberkati
/ memuji allah lain’. Tetapi pada umumnya para penafsir mengartikan ‘mengutuki
Allah’. Hal
seperti ini terjadi beberapa kali dalam Kitab Suci, yaitu dalam:
a.
1Raja 21:10,13 - “(10)
Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi
terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk
Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu
sampai mati.’ ... (13) Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila
itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap
Nabot di depan rakyat, katanya: ‘Nabot telah mengutuk
Allah dan raja.’ Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari
dia dengan batu sampai mati.”.
b.
Ayub 1:5,11 - “(5)
Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan
menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu
mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya:
‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki
Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. ... (11) Tetapi
ulurkanlah tanganMu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki
Engkau di hadapanMu.’”.
c.
Ayub 2:5,9 - “(5)
Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki
Engkau di hadapanMu.’ ... (9) Maka berkatalah isterinya kepadanya: ‘Masih
bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah
Allahmu dan matilah!’”.
2.
Tetapi bagaimana mungkin kata ‘memberkati’
diartikan ‘mengutuki’?
Untuk ini ada beberapa penafsiran:
a.
Adam Clarke (tentang 1Raja 21:10): “Many
think that the word BARACH signifies both to bless and curse; and so it is
interpreted in most Lexicons:”
[= Banyak orang yang beranggapan bahwa kata BARAKH berarti baik ‘memberkati’
maupun ‘mengutuk’; dan demikianlah ditafsirkan dalam kebanyakan kamus:]
- hal 472.
b.
Ini merupakan suatu euphemisme, yaitu suatu penghalusan bahasa, karena
kata-kata ‘mengutuki
Allah’
merupakan sesuatu yang terlalu mengerikan untuk diucapkan.
Pulpit
Commentary (tentang 1Raja 21:10):
“The
Lexicographers are not agreed as to how this word, the primary meaning of which
is to kneel, hence to pray, to bless, came to signify curse or blaspheme.
According to some, it is an euphemism,
the idea of cursing God being altogether too horrible for the Jew to express in
words; whilst others derive this signification from the fact that a curse is
really a prayer addressed to God;”
[= Para penulis / penyusun kamus tidak sependapat tentang bagaimana kata ini,
yang arti utamanya adalah ‘berlutut’, dan karenanya ‘berdoa’,
‘memberkati’, bisa berarti ‘mengutuk’ atau ‘menghujat’. Menurut
sebagian orang, ini adalah suatu euphemisme,
(karena)
gagasan tentang pengutukan terhadap Allah merupakan sesuatu yang terlalu
mengerikan bagi seorang Yahudi untuk dinyatakan dalam kata-kata; sementara yang
lain mendapatkan arti ini dari fakta bahwa suatu kutukan sebetulnya merupakan
suatu doa yang ditujukan kepada Allah;]
- hal 509.
Catatan:
‘euphemism’ = ‘to use a
good and auspicious word for an evil or inauspicious’ [= menggunakan kata
yang baik dan menyenangkan untuk kata yang jahat / jelek dan tidak
menguntungkan]. Dengan kata lain euphemisme ini adalah penghalusan bahasa.
Francis
I. Andersen (Tyndale):
“The
word translated cursed here and in 1:11; 2:5,9 (cf. 1Ki. 21:10,13), is literally
‘blessed’. It could be a euphemism,
introduced by the scribes, to avoid even reading such a horrid expression. ...
It could be, however, that out of such a practice the word actually acquires the
opposite meaning when the context determines.” [= Kata yang diterjemahkan
‘mengutuk’ di sini dan dalam 1:11; 2:5,9 (bdk. 1Raja 21:10,13), secara
hurufiah adalah ‘memberkati’. Itu bisa merupakan euphemism,
diperkenalkan oleh penulis, untuk menghindari pembacaan dari ungkapan yang
begitu mengerikan. ... Tetapi bisa terjadi bahwa dari praktek seperti itu kata
itu betul-betul mendapatkan arti yang berlawanan pada waktu kontex menentukan
hal itu.] - hal
81.
Catatan:
perlu diperhatikan bahwa dalam Kel 22:28 tetap digunakan kata ‘mengutuki’
sekalipun digunakan terhadap Allah.
Kel 22:28
- “‘Janganlah
engkau mengutuki Allah dan janganlah
engkau menyumpahi seorang pemuka di tengah-tengah bangsamu.”.
KJV/RSV: ‘revile’ [= memaki-maki].
NIV:
‘blaspheme’ [= menghujat].
NASB:
‘curse’ [= mengutuk].
c.
Orang sering memberkati pada waktu berpisah, sehingga ‘memberkati’
akhirnya diartikan ‘mengucapkan
selamat jalan’
atau ‘menyuruh pergi / mengusir’,
dan akhirnya diartikan ‘menghujat’
/ ‘mengutuk’.
Keil
& Delitzsch (tentang 1Raja 21:10):
“to
bless God, i.e. to bid Him farewell, to dismiss Him, as in Job 2:9,
equivalent to blaspheming God.”
[= memberkati Allah, yaitu mengucapkan selamat jalan kepadaNya, menyuruhNya
pergi, seperti dalam Ayub 2:9, sama dengan menghujat Allah.]
- hal 271.
e)
Kalau Ayub menguatirkan bahwa anak-anaknya mengutuki Allah, mungkin
maksudnya adalah bahwa mereka bukannya betul-betul mengutuki / memaki-maki
Allah, tetapi bahwa mereka melupakan / mengabaikan Allah. Memang di atas telah
saya katakan bahwa pesta dan bersenang-senang, sekalipun sebetulnya bukanlah
dosa, tetapi mempunyai kecenderungan untuk menyebabkan hati seseorang melupakan
Allah.
Bdk.
Luk 21:34 - “‘Jagalah
dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta
kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba
jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.”.
f)
Dosa yang ia takutkan terjadi di kalangan anak-anaknya ini, adalah dosa
ke dalam mana Setan menginginkan Ayub jatuh (1:11
2:5), dan ke dalam mana istrinya mencobainya (2:9).
Ayub
1:11 - “Tetapi ulurkanlah tanganMu
dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti
mengutuki Engkau di hadapanMu.’”.
Ayub
2:5 - “Tetapi ulurkanlah tanganMu
dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki
Engkau di hadapanMu.’”.
Ayub
2:9 - “Maka berkatalah isterinya
kepadanya: ‘Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah
Allahmu dan matilah!’”.
g)
Ay 5b ini menunjukkan bahwa Ayub sangat memperhatikan kerohanian
anak-anaknya! Bagaimana dengan saudara? Banyak orang tua kristen yang
memperhatikan kesehatan dan pendidikan dan pergaulan anak-anaknya, tetapi
mengabaikan kerohaniannya.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali