(Jl. Dinoyo
19b, lantai 3)
Rabu, tgl 09
Januari 2008, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Ayub 2:9-13 - “(9) Maka berkatalah
isterinya kepadanya: ‘Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah
Allahmu dan matilah!’ (10) Tetapi jawab Ayub kepadanya: ‘Engkau berbicara
seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi
tidak mau menerima yang buruk?’ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa
dengan bibirnya. (11) Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang
segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya
masing2, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar,
orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan
menghibur dia. (12) Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak
mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka
mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. (13) Lalu
mereka duduk bersama2 dia di tanah selama 7 hari 7 malam. Seorangpun tidak
mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat
penderitaannya”.
Pulpit: ujian /
pencobaan yang paling dahsyat sering muncul pada saat yang tidak terduga, dan
dari sudut yang paling tidak diharapkan.
Pulpit: adalah
mungkin bagi seorang benar untuk menderita dalam tingkat yang paling extrim.
Merupakan sebagian dari tujuan kitab ini untuk mengilustrasikan kebenaran ini
bagi para penderita dalam semua waktu, menunjukkan bahwa penderitaan orang benar
itu bisa banyak.
Ay 9-10: “(9) Maka berkatalah isterinya kepadanya:
‘Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!’
(10) Tetapi jawab Ayub kepadanya: ‘Engkau berbicara seperti perempuan gila!
Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang
buruk?’ Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya”.
1)
Ay 9: pencobaan bagi Ayub yang datang dari istrinya sendiri.
a)
‘kutukilah Allah’. Bdk. 1:11 dan 2:5.
Pulpit:
berkat lahiriah yang terbesar kadang2 terbukti merupakan suatu jerat -
istri Ayub, dan istri Adam.
Wycliffe:
Cerita ini berulang2 mengingatkan kita tentang pencobaan di Eden (Kej 3).
Istri Ayub memainkan peranan yang sangat hebat seperti peranan dari Hawa. Kedua
perempuan ini tunduk kepada si penggoda dan menjadi alatnya untuk menghancurkan
suaminya.
Matthew
Henry: bagi
Ayub ia adalah seperti Mikhal bagi Daud, seorang pengejek terhadap kesalehannya.
... Merupakan poilitik dari setan untuk mengirimkan pencobaannya dengan
menggunakan mereka yang kita kashi, seperti ia mencobai Adam menggunakan Hawa,
dan mencobai Kristus menggunakan Petrus. Karena itu kita harus dengan hati2
berjaga2 supaya kita tidak ditarik untuk mengatakan atau melakukan hal yang
salah karena pengaruh, kepentingan, atau permohonan, dari siapapun, bahkan dari
mereka yang pandangannya dan kebaikannya sangat kita hargai.
2Sam 6:14,16,20-23
- “(14) Dan Daud menari2 di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju
efod dari kain lenan. ... (16) Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal,
anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat2
serta menari2 di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya.
... (20) Ketika Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya, maka keluarlah
Mikhal binti Saul mendapatkan Daud, katanya: ‘Betapa raja orang Israel, yang
menelanjangi dirinya pada hari ini di depan mata budak2 perempuan para hambanya,
merasa dirinya terhormat pada hari ini, seperti orang hina dengan tidak
malu-malu menelanjangi dirinya!’ (21) Tetapi berkatalah Daud kepada
Mikhal: ‘Di hadapan TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu
dan segenap keluarganya untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni
atas Israel, - di hadapan TUHAN aku menari2, (22) bahkan aku akan menghinakan
diriku lebih dari pada itu; engkau akan memandang aku rendah, tetapi bersama2
budak2 perempuan yang kaukatakan itu, bersama2 merekalah aku mau dihormati.’
(23) Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya”.
Mat 16:21-23
- “(21) Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid2Nya bahwa Ia
harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua2,
imam2 kepala dan ahli2 Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
(22) Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya:
‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa
Engkau.’ (23) Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ‘Enyahlah
Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa
yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”.
Pulpit:
ia membiarkan dirinya menjadi sekutu setan dan musuh terburuk suaminya. Terlihat
dengan jelas bahwa ia mendesak suaminya untuk melakukan hal yang persis sama
dengan yang dikatakan oleh setan (1:11; 2:5), dan yang jelas diinginkan oleh
setan untuk dilakukan oleh Ayub, dan dengan demikian berkelahi di pihak setan,
dan menambah kesukaran suaminya.
b)
Kita tidak boleh lupa bahwa istri Ayub melakukan kesalahan ini dalam
penderitaan yang hebat.
c)
Sekarang terlihat mengapa tadinya setan ‘berbaik hati’ dengan tidak
membunuh istri Ayub bersama-sama dengan semua anak-anaknya.
Wycliffe:
Iblis telah menyimpan / tidak membunuh istri Ayub - seperti ia telah
menyimpan / tak membunuh keempat utusan - untuk penggunaannya lebih lanjut dalam
peperangannya terhadap jiwa Ayub.
Matthew
Henry: Ia
disimpan baginya, pada waktu sisa dari kesenangan-kesenangannya diambil, untuk
tujuan ini, menjadi pengganggu dan penggoda baginya. Jika Iblis meninggalkan
apapun yang diijinkan untuk ia ambil, itu adalah dengan suatu rencana jahat.
Pulpit:
Tidak perlu diragukan, itu merupakan suatu politik untuk menyerang Ayub
melalui istrinya; dan mungkin untuk alasan ini ia disimpan / dikecualikan -
bukan karena mempunyai istri merupakan ujian / pencobaan yang lebih besar bagi
Ayub dari pada kehilangan istri, tetapi karena setan menginginkan suatu alat
terhadap suaminya.
Pulpit:
Belas kasihan setan (misalnya dalam mengecualikan / tak membunuh istri
Ayub) selalu mempunyai sedikit kekejaman di dalamnya.
Pulpit:
Chrysostom bertanya: ‘Mengapa setan meninggalkan padanya istrinya?’
dan menjawab: ‘Karena ia berpikir bahwa perempuan itu merupakan cambuk yang
bagus untuk mengganggu / menggoda dia dengan lebih tajam dibandingkan dengan
cara2 lain’. Jelas bahwa pencobaan yang datang melalui seseorang yang kita
cintai merupakan pencobaan yang paling kuat.
2)
Jawaban Ayub terhadap kata-kata istrinya (ay 10).
a) ‘Engkau berbicara
seperti perempuan gila’.
KJV/RSV/NIV/NASB:
‘foolish’ (= bodoh).
Matthew
Henry: Bagaimana
ia benci / marah terhadap pencobaan. Ia sangat marah karena disebutkannya hal
itu kepadanya: ... Dalam kasus2 yang lain Ayub berargumentasi dengan istrinya
dengan kelembutan, bahkan pada saat istrinya tidak baik kepadanya. ... Tetapi,
pada waktu ia membujuknya untuk mengutuki Allah, ia sangat tidak senang: Engkau
berbicara seperti salah satu dari perempuan2 tolol berbicara. ... pencobaan
untuk mengutuki Allah harus ditolak dengan kejijikan yang terbesar, dan bukannya
diajak berembuk.
Jamieson, Fausset & Brown: ‘Perempuan2
tolol’. Dosa dan ketololan dihubungkan dalam Kitab Suci (1Sam 25:25; 2Sam
13:13; Maz 14:1).
1Sam 25:25
- “Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu,
sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya.
Tetapi aku, hambamu ini, tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh”.
2Sam 13:13
- “Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan
dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah
dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu.’”.
Maz 14:1
- “Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Orang bebal berkata dalam
hatinya: ‘Tidak ada Allah.’ Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada
yang berbuat baik”.
Yes 32:6
- “Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan yang
jahat, yaitu bermaksud murtad dan mengatakan yang menyesatkan tentang TUHAN,
membiarkan kosong perut orang lapar dan orang haus kekurangan minuman”.
Francis
I. Andersen:
Apapun yang terletak dibalik kata2nya, Ayub menolaknya dengan kemurkaan.
Tetapi ia tidak menyebutnya ‘jahat’, tetapi hanya ‘bodoh’, yaitu tidak
mempunyai ketajaman dalam membedakan. Ia berpikir Allah telah memperlakukan Ayub
dengan buruk, dan layak mendapatkan kutukan; Ayub tidak menemukan apapun yang
salah dengan apa yang telah terjadi padanya.
Barnes:
Kata yang diterjemahkan ‘tolol’ sebetulnya berarti bodoh atau tolol,
dan lalu jahat, dibuang / ditinggalkan, tidak saleh – gagasan tentang dosa dan
kebodohan dihubungkan secara dekat dalam Kitab Suci, atau dosa dianggap sebagai
ketololan yang tertinggi.
Ul 13:6-10
- “(6) Apabila saudaramu laki2, anak ibumu, atau anakmu laki2 atau
anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau
diam2, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu
ataupun oleh nenek moyangmu, (7) salah satu allah bangsa2 sekelilingmu, baik
yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi,
(8) maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah
engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi
salahnya, (9) tetapi bunuhlah dia! Pertama2 tanganmu sendirilah yang
bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. (10) Engkau harus
melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan
engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah
Mesir, dari rumah perbudakan”.
b)
‘Apakah kita mau menerima yang
baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?’ (ay 10b).
Pulpit:
Itu mengenali Allah sebagai Sumber segala sesuatu. ... Tidak ada yang
terjadi kecuali oleh ijin Allah.
Pulpit:
Ia mempercayai bahwa baik kemakmuran maupun penderitaan / kesusahan
datang dari Allah, dan menyatakan bahwa dirinya mau tunduk pada kehendakNya.
Pulpit:
Suara itu, bukan suara acuh-tak acuh dari ajaran Stoic, atau suara dari
keputus-asaan yang tidak punya semangat, atau suara dari penerimaan yang dingin,
tak berperasaan, segan kepada nasib yang tidak bisa dihindari, tetapi suatu
ketundukan yang cerdas dan gembira kepada Providensia yang ia kenali sebagai
benar dan baik sekaligus.
Francis
I. Andersen:
Sikapnya sama seperti sebelumnya (1:21). Adalah sama benarnya bagi Allah
untuk memberikan pemberian dan untuk mengambilnya kembali (ronde pertama);
adalah sama benarnya bagi Allah untuk mengirimkan hal yang baik atau hal yang
buruk (ronde kedua).
Barnes:
Setelah menerima begitu banyak tanda kebaikan dari Dia, adalah tidak
masuk akal untuk mengeluh pada waktu hal2 itu diambil kembali, dan pada waktu Ia
mengirimkan bencana sebagai gantinya.
Barnes:
Apakah kita akan segera kehilangan semua keyakinan kita kepada Dermawan
kita yang besar pada saat Ia mengambil semua hal-hal yang menyenangkan, dan
mengunjungi kita dengan kesakitan? Ini merupakan pernyataan kesalehan yang
benar. Ia tunduk kepada semua pengaturan Allah tanpa sungut2. Ia menerima berkat
dengan syukur; ia berserah pada waktu bencana2 dikirimkan sebagai gantinya.
Matthew
Henry: Bagaimana
ia berargumentasi terhadap pencobaan: Apakah
kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?
Mereka yang kita marahi harus kita yakinkan; dan tidak sukar untuk memberi
alasan mengapa kita harus tetap berpegang erat2 pada kesalehan kita bahkan pada
saat segala sesuatu diambil dari kita. Ia mempertimbangkan bahwa hal2 yang baik
dan buruk memang bertentangan, tetapi mereka tidak datang dari penyebab yang
bertentangan / berbeda, tetapi keduanya dari tangan Allah (Yes 45:7, Rat 3:38),
dan karena itu dalam keduanya kita harus tetap mengarahkan mata kita kepadaNya,
dengan rasa syukur untuk hal baik yang Ia kirimkan, dan tanpa sikap menggerutu
untuk hal yang buruk.
Pkh 7:14
- “Pada hari mujur bergembiralah,
tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah
seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai
masa depannya”.
Yes 45:6b-7
- “(6b) Akulah TUHAN dan tidak ada yang
lain, (7) yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib
mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”.
Rat 3:37-38
- “(37) Siapa berfirman, maka semuanya
jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? (38) Bukankah dari mulut Yang
Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?”.
Amos 3:6 - “Adakah
sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi
malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?”.
c)
‘Dalam kesemuanya itu Ayub tidak
berbuat dosa dengan bibirnya’ (ay 10c).
Pulpit:
Sampai sejauh ini, yaitu, Ayub ‘menjaga pintu mulutnya’ dengan
ketat, dengan benar, dengan saleh. Belakangan ia tidak selalu begitu bebas
sepenuhnya dari kesalahan.
Ay 11-13: “(11) Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar
kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari
tempatnya masing2, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta
Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya
dan menghibur dia. (12) Ketika mereka memandang dari jauh, mereka tidak
mengenalnya lagi. Lalu menangislah mereka dengan suara nyaring. Mereka mengoyak
jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. (13) Lalu mereka duduk
bersama2 dia di tanah selama 7 hari 7 malam. Seorangpun tidak mengucapkan
sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat
penderitaannya”.
1) Ini merupakan permulaan dari pencobaan yang dilakukan oleh setan
melalui sahabat2 Ayub.
2) ‘bulan-bulan
yang sia-sia’ (Ayub 7:3).
Pulpit: masa penderitaan yang berlarut2
secara rohani lebih berbahaya dari pada pukulan2 yang tajam dan mendadak dengan
kekerasan yang lebih besar.
3) Tiga sahabat Ayub datang untuk mengucapkan belasungkawa dan menghibur
Ayub (ay 11b).
a) Di sini hanya disebutkan 3 orang sahabat.
Ay 11b: “Elifas, orang Teman, dan
Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama”.
1. Elifas orang Teman.
Kej 36:4,15 - “Ada
melahirkan Elifas bagi Esau, dan Basmat melahirkan Rehuel, ... (15) Inilah
kepala2 kaum bani Esau: keturunan Elifas anak sulung Esau, ialah kepala kaum
Teman, kepala kaum Omar, kepala kaum Zefo, kepala kaum Kenas”.
2. Bildad, orang Suah.
Kej 25:1-2 - “(1)
Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura. (2) Perempuan itu
melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah”.
3. Zofar, orang Naama.
b) Belakangan pada pasal 32 muncul seorang lagi, yaitu Elihu.
Ayub 32:2 - “Lalu
marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub,
karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah”.
1.
Siapakah Elihu ini?
Clarke: Bus
adalah anak laki2 kedua dari Nahor, saudara laki2 dari Abraham, Kej 22:21.
Kej 22:20-21 - “(20)
Sesudah itu Abraham mendapat kabar: ‘Juga Milka telah melahirkan anak2 lelaki
bagi Nahor, saudaramu: (21) Us, anak sulung, dan Bus, adiknya, dan
Kemuel, ayah Aram”.
2. Elihu masih muda tetapi ketiga orang ini sudah tua.
Ayub 32:6 - “Lalu
berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: ‘Aku masih muda dan kamu
sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku
kepadamu”.
c) Ada hal-hal yang baik dalam diri ketiga sahabat Ayub ini.
1. Mereka mempunyai simpati terhadap orang menderita, mereka mau menjadi
sahabat dalam penderitaan dan kemiskinan.
Amsal 17:17 - “Seorang
sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam
kesukaran”.
‘A
friend in need is a friend indeed’ (= seorang sahabat dalam kebutuhan adalah sungguh-sungguh seorang
sahabat).
2. Mereka juga tetap menjadi sahabat Ayub pada saat teman2 Ayub yang
lain menghindarinya / meninggalkannya.
Ayub 19:14 - “Kaum
kerabatku menghindar, dan kawan2ku melupakan aku”.
3.
Mereka bersepakat untuk menghibur Ayub.
Ay 11b: “Mereka bersepakat
untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.”.
c) Ay 11b: ‘mengucapkan belasungkawa
kepadanya’.
NIV/NASB: ‘sympathyze
with him’ (= bersimpati dengan dia).
KJV: ‘to
mourn with him’ (= berkabung dengan dia).
RSV: ‘to
condole with him’ (= turut berdukacita dengan dia).
Ro 12:15 - “Bersukacitalah
dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”.
d) Ay 11b: ‘dan
menghibur dia’.
Matthew Henry:
mereka datang dengan rencana (dan kami mempunyai
alasan untuk menganggapnya sebagai suatu rencana yang tulus) untuk menghibur
dia, tetapi mereka terbukti merupakan penghibur2 yang menyedihkan, melalui
pengelolaan mereka yang tidak cakap tentang kasusnya. Banyak orang yang
bertujuan baik, oleh kesalahan, tidak mencapai tujuan mereka.
Pulpit: Maksud / tujuan yang baik, ...
Bahwa mereka gagal untuk melaksanakan maksud / tujuan mereka (pasal 16:2; 21:34)
disebabkan karena salah penilaian, dan mungkin, sebagian, karena kurangnya kasih.
4)
Ay 12: ‘mereka tidak mengenalnya lagi’.
Pulpit: Ayub begitu berubah bentuk
karena penyakit itu sehingga mereka tidak mengenalinya.
5) Ay 13: “Lalu
mereka duduk bersama2 dia di tanah selama 7 hari 7 malam. Seorangpun tidak
mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat
penderitaannya”.
Pkh 3:7b - “ada waktu
untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara”.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali