DOKTRIN MANUSIA : Anthropology

oleh : Pdt. Budi Asali MDiv.


VII. KEJATUHAN KE DALAM DOSA

Peristiwa kejatuhan manusia / Adam diceritakan dalam Kej 3.

1)   Kejadian 3 adalah bagian yang bersifat hurufiah! Dasar pandangan ini:

a)   Kitab Kejadian adalah kitab yang bersifat sejarah / hurufiah (tetapi itu tidak berarti bahwa kitab Kejadian hanya sekedar kitab sejarah dan bukan Firman Tuhan!).

b)   Hal-hal yang terjadi secara historis dalam Kej 3 mendasari doktrin-doktrin lain dalam Kitab Suci. Bandingkan dengan Ro 5:12,18,19   1Kor 15:21,22.

Ro 5:12,18-19 - “(12) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. ... (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar”.

1Kor 15:21-22 - “(21) Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”.

Adalah tidak masuk akal, kalau kejadian-kejadian dalam Kej 3 itu hanya merupakan dongeng / perumpamaan, tetapi bisa menjadi dasar dari doktrin-doktrin penting dalam kekristenan.

c)   Ayat-ayat seperti Ro 5:12,18,19  2Kor 11:3  1Tim 2:14 menunjukkan bahwa Paulus mempercayai bahwa Kej 3 adalah bagian Kitab Suci yang bersifat hurufiah.

2Kor 11:3 - “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya”.

1Tim 2:14 - “Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”.

2)   Penggoda: ular yang dipakai / diperalat oleh setan.

Sekalipun Kej 3 hanya menyebutkan ‘ular’, dan sama sekali tidak menyebut ‘setan’, tetapi jelas ada setan yang memperalat ular itu. Dasar pandangan ini:

a)   Sekalipun Kej 3:1 mengatakan bahwa ular adalah binatang yang paling cerdik, tetapi bagaimanapun ia adalah binatang dan Kitab Suci mengatakan bahwa binatang tidak berakal budi (Ayub 39:16,20  Maz 32:9  Maz 49:21  Maz 73:22  Yudas 10). Sedangkan penggoda dalam Kej 3 jelas menunjukkan bahwa ia mempunyai akal yang luar biasa hebatnya.

b)   Kej 3:15 jelas merupakan nubuat tentang kekalahan setan dari Yesus. Ini digenapi ketika Yesus bangkit dari antara orang mati.

c)   Dalam Wahyu 12:9 dan Wahyu 20:2 setan disebut naga / ular tua.

3)   Adanya setan yang menggoda Adam dan Hawa dalam Kej 3, menunjukkan dengan jelas bahwa sebelum dosa pertama manusia, sudah ada dosa dalam alam semesta, yaitu yang ada dalam dunia malaikat.

a)   Dasar Kitab Suci yang salah tentang kejatuhan setan:

1.   Kej 1:1-2 - “(1) Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (2) Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”.

‘Gap theory’ (= teori selang waktu) mengatakan bahwa dalam Kej 1:1 seluruh alam semesta sudah tercipta dengan sempurna, tetapi lalu menjadi kacau balau dalam Kej 1:2 gara-gara pemberontakan setan. Antara Kej 1:1 dan Kej 1:2 terdapat suatu ‘gap’ (= selang waktu) yang panjang sekali (ratusan juta tahun).

Dasar teori ini:

·        Adanya fosil-fosil manusia yang umurnya ratusan juta tahun, sehingga tidak sesuai dengan waktu kehidupan Adam dan Hawa, yang kalau diperkirakan dari silsilah-silsilah dalam Kitab Suci, hanya 6-7 ribu tahun yang lalu.

·        Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang kacau seperti dalam Kej 1:2.

·        Kej 1:2 yang berbunyi ‘Bumi belum berbentuk dan kosong’, bisa diterjemahkan ‘bumi menjadi tak berbentuk dan kosong’.

Keberatan terhadap ‘gap theory’ ini:

a.   Kitab Suci tidak pernah menggunakan istilah ‘re-creation’ (= penciptaan kembali / ulang) pada waktu berbicara tentang 6 hari penciptaan. Istilah yang dipakai selalu ‘creation’ (= penciptaan).

b.   Orang-orang yang menganut ‘gap theory’ itu percaya bahwa pada ‘penciptaan kembali / ulang’ itu Allah juga melakukannya step by step / langkah demi langkah. Juga pada waktu Allah menciptakan manusia, Ia mula-mula menciptakan tubuh lalu memberi roh, lalu menciptakan perempuan. Lalu mengapa mereka menganggap bahwa pada waktu penciptaan pertama Allah harus menciptakannya secara langsung?

c.   Pada Kej 1:1 sudah ada manusia atau tidak?

·        Kalau ada, berarti Adam bukan manusia pertama dan ini bertentangan dengan banyak bagian Kitab Suci, misalnya dengan 1Kor 15:45a yang berbunyi: “Seperti ada tertulis: ‘Manusia pertama, Adam menjadi makhluk hidup’”.

·        Kalau tidak ada, maka teori ini toh juga tidak bisa menyesuaikan umur manusia dengan fosil yang umurnya ratusan juta tahun.

d.   Kalaupun antara Kej 1:1 dan Kej 1:2 terjadi pemberontakan setan, apakah ‘pertempuran’ antara Allah dan setan itu perlu menghancurkan seluruh alam semesta ciptaan Allah? Perlu diingat bahwa sekalipun setan itu kuat (jika dibandingkan dengan kita), tetapi ia sama sekali bukan tandingan Allah, sehingga pertempurannya dengan Allah tidak akan seru dan tidak akan menghancurkan alam semesta.

e.   Teori ini menggunakan prinsip penafsiran ‘reading between the lines’ (= membaca di antara baris-baris) / Eisegesis yang tidak mempunyai dukungan dari bagian lain Kitab Suci.

f.    Ilmu Geologia sama sekali tidak mempunyai kepastian dalam menentukan umur bumi.

Perlu diketahui bahwa ada banyak metode yang bisa digunakan untuk menentukan umur bumi, dan ternyata metode-metode ini menghasilkan hasil yang sangat bervariasi. Misalnya metode pertama menghasilkan bilangan 100 juta tahun, maka metode kedua ternyata menghasilkan bilangan 20 ribu tahun, dsb. Disamping itu perlu diketahui bahwa para ahli ilmu pengetahuan itu kebanyakan adalah orang yang bukan kristen, bahkan anti kristen. Karena itu, kalau dengan metode tertentu mereka menemukan bahwa umur bumi adalah jutaan tahun, maka hasil itu dipublikasikan, sedangkan kalau dengan metode yang lain menghasilkan bilangan ribuan atau puluhan ribu tahun (sehingga cocok dengan Alkitab), maka hasil itu mereka sembunyikan.

g.   Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa pada waktu Allah menciptakan segala sesuatu dalam Kej 1, maka semua itu diciptakan dalam keadaan sudah mempunyai umur tertentu (yang tidak kita ketahui). Misalnya:

·        Pada waktu Adam diciptakan pada hari ke 6, ia tidak diciptakan sebagai seorang bayi yang baru lahir, tetapi sebagai manusia dewasa. Karena itu, andaikata pada hari ke 7 seorang ilmuwan memeriksa Adam, maka mungkin sekali ia mendapatkan bahwa Adam sudah berumur 30 tahun, atau 50 tahun, padahal Adam baru berumur 1 hari!

·        Pada waktu pohon-pohonan diciptakan oleh Allah pada hari ke 3, mereka tidak diciptakan sebagai tunas yang baru tumbuh, tetapi sebagai pohon yang sudah besar. Karena itu, andaikata pada hari ke 4 seorang ilmuwan memeriksa sebuah pohon, maka mungkin sekali ia akan mendapatkan bahwa pohon itu sudah berumur 100 tahun, padahal sebetulnya baru berumur 1 hari.

·        Demikian juga pada waktu Allah menciptakan bumi dengan lapisan batu-batuannya, Allah menciptakannya dalam keadaan sudah mempunyai umur tertentu. Dan kita tidak tahu berapa umur bumi itu pada waktu diciptakan. Bisa saja 1000 tahun, atau satu juta tahun, atau bahkan ratusan juta tahun!

Karena itu, andaikata para ilmuwan jaman sekarang bisa menemukan suatu metode penentu umur bumi yang betul-betul dapat dipercaya, dan dengan metode itu didapatkan bahwa umur bumi sudah 5 juta tahun, maka itu tidak menunjukkan bahwa Kitab Sucinya salah. Siapa tahu bahwa Allah memang menciptakan bumi ini dalam keadaan sudah berumur mendekati 5 juta tahun?

2.   Kej 6:2 - “maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka”.

Ada yang menafsirkan bahwa ‘anak-anak Allah’ di sini adalah ‘malaikat-malaikat’. Tetapi bandingkan dengan Mat 22:30 yang mengatakan: “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga”. Ayat ini jelas mengatakan bahwa malaikat-malaikat tidak mungkin melakukan hubungan sex. Apalagi Kej 6:2 bukan sekedar mengatakan ‘melakukan hubungan sex’ tetapi ‘mengambil istri’. Ini lebih-lebih  tidak mungkin dilakukan oleh malaikat atau setan!

3.   Yes 14:12 - “‘Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!”.

Istilah ‘bintang timur’ di sini diterjemahkan ‘Lucifer’ oleh KJV / NKJV / Living Bible!

Catatan:

·        Kata / nama ‘Lucifer’ hanya muncul satu kali dalam Kitab Suci, yaitu dalam Yes 14:12 ini, dan itupun hanya dalam versi-versi Kitab Suci tertentu, seperti KJV, NKJV dan Living Bible. Selain ketiga versi ini, saya tidak tahu apakah ada versi lain lagi yang menterjemahkannya seperti itu.

·        Kata / nama ‘Lucifer’, berarti ‘light-bearer’ (= pembawa terang), dan merupakan nama bahasa Latin untuk planet Venus, benda yang paling terang di langit selain matahari dan bulan, yang kelihatan sebagai suatu bintang, kadang-kadang pada malam dan kadang-kadang pada pagi (‘The New Bible Dictionary’).

Kata ‘bintang timur’ / ‘Lucifer’ dalam Yes 14:12 ini oleh banyak orang lalu ditujukan kepada Iblis, karena:

¨      kontext dari Yes 14:12, khususnya Yes 14:12-14 yang berbunyi: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!”.

¨      dihubungkan dengan ayat-ayat seperti:

*        Luk 10:18 - “Lalu kata Yesus kepada mereka: ‘Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.”.

*        Wah 9:1 - “Lalu malaikat yang kelima meniup sangkakalanya, dan aku melihat sebuah bintang yang jatuh dari langit ke atas bumi, dan kepadanya diberikan anak kunci lobang jurang maut”.

*        Wah 12:9 - “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya”.

Ini adalah penafsiran yang salah, karena jelas bahwa dalam Yes 14 istilah ‘Bintang Timur’ / ‘Lucifer’ itu sebetulnya menunjuk kepada raja Babel (Yes 14:4,22-23).

Yes 14:4,22-23 - “(4) maka engkau akan memperdengarkan ejekan ini tentang raja Babel, dan berkata: ‘Wah, sudah berakhir si penindas sudah berakhir orang lalim! ... (22) ‘Aku akan bangkit melawan mereka,’ demikianlah firman TUHAN semesta alam, ‘Aku akan melenyapkan nama Babel dan sisanya, anak cucu dan anak cicitnya,’ demikianlah firman TUHAN. (23) ‘Aku akan membuat Babel menjadi milik landak dan menjadi air rawa-rawa, dan kota itu akan Kusapu bersih dan Kupunahkan,’ demikianlah firman TUHAN semesta alam”.

Tetapi ‘Unger’s Bible Dictionary’ berkata bahwa istilah ‘raja Babel’ merupakan simbol dari setan / Lucifer, dan demikian juga dengan istilah ‘raja Tirus’ dalam Yeh 28:12-15 - “(12) Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. (13) Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. (14) Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah-tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. (15) Engkau tidak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu”.

Perhatikan juga Yeh 28:16-17 - “(16) Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. (17) Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya”.

Unger’s Bible Dictionary: “As a symbolical representation of the king of Babylon in his pride, splendor and fall, the passage goes beyond the Babylonian prince and invests Satan who, at the head of this present world-system, is the real though invisible power behind the successive world rulers of Tyre, Babylon, Persia, Greece and Rome. This far-reaching passage goes beyond human history and marks the beginning of sin in the universe and the fall of Satan and the pristine, sinless spheres before the creation of man. Similarly Ezekiel (28:12-14), under the figure of the king of Tyre, likewise traces the fall of Satan and the corruption of his power and glory. In the Ezekiel passage Satan’s glorious and splendid unfallen state is described. In Isa. 14:12-14 his fall is depicted” [= Sebagai wakil simbolis dari raja Babel dalam kesombongan, kemegahan dan kejatuhannya, text ini melampaui pangeran Babel dan menanamkan / menobatkan (?) Setan yang, sebagai kepala dari sistim duniawi sekarang ini, adalah kuasa yang sebenarnya sekalipun tak kelihatan dibalik pemerintah duniawi yang berturut-turut dari Tirus, Babel, Persia, Yunani dan Roma. Text yang jangkauannya jauh ini melampaui sejarah manusia dan menandai permulaan dosa dalam alam semesta dan kejatuhan setan dan dunia yang murni dan tak berdosa sebelum penciptaan manusia. Mirip dengan itu Yehezkiel (28:12-14), di bawah gambaran raja Tirus, juga menelusuri kejatuhan setan dan perubahan ke arah jahat dari kuasa dan kemuliaannya. Dalam text Yehezkiel, digambarkan keadaan setan yang mulia dan sangat bagus sebelum kejatuhannya. Dalam Yes 14:12-14 digambarkan kejatuhannya] - hal 670.

Saya tidak bisa menerima penafsiran ini karena kejatuhan raja Babel dalam Yes 14:12-14 dan raja Tirus dalam Yeh 28:12-14 itu merupakan peristiwa sejarah. Dan peristiwa sejarah tidak boleh dilambangkan / dialegorikan. Peristiwa sejarah memang bisa menjadi TYPE, tetapi kalau demikian maka peristiwa itu akan menunjuk ke masa depan, tidak pernah menunjuk ke masa lalu. Misalnya Adam yang adalah TYPE dari Kristus, dan domba Paskah yang juga adalah TYPE dari Kristus. Tetapi kejatuhan setan terjadi di masa lalu. Karena itu saya menganggap bahwa kedua text tersebut (Yes 14 dan Yeh 28) itu tidak berbicara tentang setan maupun kejatuhannya. Kalau saudara merasa bahwa penggambaran tentang raja Babel dan raja Tirus itu (perhatikan bagian-bagian yang saya garisbawahi dalam Yes 14:12-14 dan Yeh 28:12-17 itu) rasanya tidak menunjuk kepada seorang manusia, maka ingatlah bahwa bagian ini berbentuk suatu puisi, dan karenanya menggunakan bahasa puisi, yang tentunya tidak bisa diartikan secara hurufiah.

Untuk mendukung pandangan saya ini, saya memberikan 2 kutipan di bawah ini, yang merupakan komentar John Calvin dan Adam Clarke tentang Yes 14:12.

Calvin: “The exposition of this passage, which some have given, as if it referred to Satan, has arisen from ignorance; for the context plainly shows that these statements must be understood in reference to the king of the Babylonians. But when passages of Scripture are taken at random, and no attention is paid to the context, we need not wonder that mistake of this kind frequently arise. Yet it was an instance of very gross ignorance, to imagine that Lucifer was the king of devils, and that the Prophet gave him this name. But as these inventions have no probability whatever, let us pass by them as useless fables” (= Exposisi yang diberikan oleh beberapa orang tentang text ini, seakan-akan text ini menunjuk kepada setan / berkenaan dengan setan, muncul / timbul dari ketidaktahuan; karena kontext secara jelas menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan ini harus dimengerti dalam hubungannya dengan raja Babel. Tetapi pada waktu bagian-bagian Kitab Suci diambil secara sembarangan, dan kontext tidak diperhatikan, kita tidak perlu heran bahwa kesalahan seperti ini muncul / timbul. Tetapi itu merupakan contoh dari ketidaktahuan yang sangat hebat, untuk membayangkan bahwa Lucifer adalah raja dari setan-setan, dan bahwa sang nabi memberikan dia nama ini. Tetapi karena penemuan ini tidak mempunyai kemungkinan apapun, marilah kita mengabaikan mereka sebagai dongeng / cerita bohong yang tidak ada gunanya) - hal 442.

Adam Clarke: “And although the context speaks explicitly concerning Nebuchadnezzar, yet this has been, I know not why, applied to the chief of the fallen angels, who is most incongruously denominated Lucifer, (the bringer of light!) an epithet as common to him as those of Satan and Devil. That the Holy Spirit by his prophets should call this arch-enemy of God and man the light-bringer, would be strange indeed. But the truth is, the text speaks nothing at all concerning Satan nor his fall, nor the occasion of that fall, which many divines have with great confidence deduced from this text. O how necessary it is to understand the literal meaning of Scripture, that preposterous comments may be prevented!” [= Dan sekalipun kontextnya berbicara secara explicit tentang Nebukadnezar, tetapi entah mengapa kontext ini telah diterapkan kepada kepala dari malaikat-malaikat yang jatuh, yang secara sangat tidak pantas disebut / dinamakan Lucifer (pembawa terang!), suatu julukan yang sama umumnya bagi dia, seperti Iblis dan Setan. Bahwa Roh Kudus oleh nabiNya menyebut musuh utama dari Allah dan manusia sebagai ‘pembawa terang’, betul-betul merupakan hal yang sangat aneh. Tetapi kebenarannya adalah, text ini tidak berbicara sama sekali tentang Setan maupun kejatuhannya, ataupun saat / alasan kejatuhan itu, yang dengan keyakinan yang besar telah disimpulkan dari text ini oleh banyak ahli theologia. O alangkah pentingnya untuk mengerti arti hurufiah dari Kitab Suci, supaya komentar-komentar yang gila-gilaan / tidak masuk akal bisa dicegah!] - hal 82.

Sebagai tambahan, perlu diketahui bahwa istilah ‘bintang timur’ itu digunakan oleh Kitab Suci sebagai gelar bagi Yesus.

Wah 22:16 - “‘Aku, Yesus, telah mengutus malaikatKu untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.’”.

4.   Yeh 28:1-2,6,12,14-17 - “(1) Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: (2) ‘Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah. ... (6) Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah ... (12) ‘Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. ... (14) Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. (15) Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. (16) Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. (17) Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya”.

Bagian-bagian yang saya garis bawahi seakan-akan menunjuk pada setan. Tetapi ay 2 jelas mengatakan bahwa bagian ini menunjuk pada ‘raja Tirus’, dan ay 2 itu juga mengatakan ‘engkau adalah manusia’. Istilah ‘raja Tirus’ tidak mungkin merupakan simbol / TYPE dari setan dengan alasan yang sama dengan point c) di atas.

b)   Dasar Kitab Suci yang benar tentang kejatuhan setan:

1.   2Pet 2:4 - “Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman”.

Untuk menafsirkan ayat ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

·        Kata ‘neraka’ di sini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani TARTARUS yang hanya dipergunakan satu kali ini saja dalam Kitab Suci. Karena itu sukar diketahui artinya secara pasti.

·        Bagian ini tidak boleh ditafsirkan seakan-akan setan sudah masuk neraka, karena ini akan bertentangan dengan Mat 8:29  Mat 25:41  Wah 20:10 yang menunjukkan secara jelas bahwa saat ini setan belum waktunya masuk neraka. Hal itu baru akan terjadi pada kedatangan Yesus yang keduakalinya.

·        Disamping itu, kalau ditafsirkan bahwa setan sudah masuk ke neraka, maka itu akan bertentangan dengan 2Pet 2:4 itu sendiri, yang pada bagian akhirnya berbunyi: ‘dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman’.

Jadi, mungkin bagian ini hanya menunjukkan kepastian bahwa setan akan masuk neraka.

2.   1Tim 3:6 - “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis”.

3.   Yudas 6 - “Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar”.

Jadi, mungkin sekali ia yang diciptakan sebagai malaikat, merasa sombong dan tidak puas dengan kedudukannya, lalu ingin menjadi lebih tinggi dan ingin menjadi Allah. Karena itu tidak heran ia meminta Yesus menyembahnya (Mat 4:9) dan ia menggoda Hawa dengan keinginan untuk menjadi seperti Allah (Kej 3:5).

4)   Setan / ular pertama-tama menyerang Hawa, bukan Adam, karena:

a)   Hawa bukan kepala dari perjanjian (head of covenant) sehingga dibandingkan dengan Adam, ia mempunyai rasa tanggung jawab yang lebih rendah.

b)   Hawa belum diciptakan pada saat Allah memberikan larangan makan buah (Kej 2:16-17). Jadi, Hawa tahu tentang larangan itu dari Adam, bukan langsung dari Allah.

c)   Hawa adalah jalan yang terbaik untuk menjatuhkan Adam.

Penerapan:

Setan sering menyerang orang yang kurang penting dengan tujuan nantinya ia bisa menjatuhkan orang yang lebih penting! Misalnya: ia menyerang istri hamba Tuhan dengan tujuan bisa menjatuhkan hamba Tuhannya. Atau ia menyerang majelis / pengurus dengan tujuan nantinya ia bisa menjatuhkan hamba Tuhannya. Karena itu orang-orang yang kurang penting juga harus waspada terhadap serangan setan, dan dalam berdoa, kita juga harus berdoa untuk mereka.

5)   Pohon pengetahuan baik dan jahat.

Kebanyakan orang mempercayai bahwa buah pohon itu betul-betul bisa memberikan pengetahuan tentang baik dan jahat.

a)   Bukan karena buahnya mengandung sesuatu, tetapi karena Allah menentukan demikian.

b)   Pengetahuan yang didapat adalah ‘experimental knowledge’ (= pengetahuan dari pengalaman).

6)   Dosa Adam dan Hawa bukan sekedar terletak pada tindakan makan buah, tetapi juga pada hal-hal lain yang terjadi lebih dulu:

a)   Ketidak-percayaan pada Tuhan / Firman Tuhan. Mereka lebih percaya pada kata-kata setan. Bandingkan Kej 2:16-17 dengan Kej 3:4-6.

Kej 2:16-17 - “(16) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (17) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’”.

Kej 3:4-6 - “(4) Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, (5) tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.’ (6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya”.

b)   Kesombongan / ambisi / rasa tak puas dan keinginan menjadi seperti Allah. Bandingkan dengan sikap Yesus dalam Fil 2:5-7 - “(5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.

Penerapan:

Hati-hatilah terhadap:

·        Ketidak-percayaan pada Tuhan / Firman Tuhan!

·        Kesombongan, ambisi, rasa tidak puas, dsb.

Bdk. 1Tim 6:6-10 - “(6) Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup [KJV/RSV/NIV/NASB: ‘contentment’ (= rasa puas)], memberi keuntungan besar. (7) Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. (8) Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah [KJV/RSV/NIV/NASB: ‘content’ (= puas)]. (9) Tetapi mereka yang ingin kaya (= tidak puas) terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. (10) Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang (bertentangan dengan ‘puas’). Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.

7)   Hal-hal yang sukar dipecahkan yang berhubungan dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa:

a)   Dosa terjadi karena sudah ditentukan oleh Allah. Lalu mengapa manusia bertanggung jawab terhadap dosanya?

Ro 9:19-21 - “(19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.

Ro 9:19 (NIV): “One of you will say to me: ‘Then why does God still blame us? For who resists his will?’” [= Satu dari kamu akan berkata kepadaku: ‘Lalu mengapa Allah tetap menyalahkan kita? Karena siapa (bisa) menentang kehendakNya?’].

b)   Mengapa Allah menentukan terjadinya dosa? Pasti untuk kemuliaan Allah. Tetapi mengapa mesti melalui dosa? Lihat ayat-ayat ini:

·        Ro 11:33-35 - “(33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! (34) Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya? (35) Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya, sehingga Ia harus menggantikannya?”.

·        Ayub 11:7-9 - “(7) Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? (8) Tingginya seperti langit - apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati - apa yang dapat kauketahui? (9) Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera”.

·        Ayub 26:14 - Sesungguhnya, semuanya itu hanya ujung-ujung jalanNya; betapa lembutnya bisikan yang kita dengar dari padaNya! Siapa dapat memahami guntur kuasaNya?’”.

·        Ayub 37:23 - Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilanNya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya”.

·        Maz 97:2 - Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhtaNya”.

c)   Bagaimana mungkin manusia yang suci bisa jatuh dalam dosa? Lebih sukar lagi, bagaimana malaikat yang suci bisa jatuh dalam dosa?

Tidak ada jawaban yang memuaskan secara total terhadap ketiga pertanyaan ini!

-o0o-

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com