Golgotha
School of Ministry
(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 7 Nopember 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
Mereka
menjawab:
1. Tentang
orang-orang kudus Perjanjian Lama (seperti Abraham):
Yoh 8:56
- “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia
akan melihat hariKu dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.’”.
Saya
jawab balik:
Apa
arti ayat ini untuk kamu? Apakah ayat ini berarti bahwa Abraham percaya kepada
Kristus seperti yang kamu percayai? Itu mustahil! Ia bahkan tidak tahu semua
fakta-fakta tentang Kristus. Lalu bagaimana ia bisa mempercayainya? Saya memang
percaya bahwa Kristus tercakup dalam iman Abraham, tetapi ia tidak bisa percaya
tentang kematian dan kebangkitan Kristus persis seperti kita percaya karena ia
tidak tahu tentang hal-hal itu. Bersikaplah realistik dalam menafsir!
Mereka
menjawab:
“Hmmm.
Abraham is an Old Testament saint; did he believe in Christ? According to Budi,
he never heard of Him. But if Abraham never heard, never believed in Christ,
then what is he seeing that he should rejoice so? Budi, what dispensationalist
teacher are you reading that you could be so ignorant of what the Old Testament
saints believed? I mean, even the New Testament is very clear about what the Old
Testament believers like Abraham believed. The Old Testament saints believed the
same gospel as the New Testament saints.”
(= Hmmm. Abraham adalah seorang kudus Perjanjian Lama; apakah ia percaya kepada
Kristus? Menurut Budi, ia tidak pernah mendengar tentang Dia. Tetapi jika
Abraham tidak pernah mendengar, tidak pernah percaya kepada Kristus, lalu apa
yang sedang ia lihat sehingga ia bersukacita seperti itu? Budi, guru
dispensasionalis mana / apa yang kamu sedang baca sehingga kamu bisa begitu
tidak tahu tentang apa yang orang-orang kudus Perjanjian Lama percayai? Aku
memaksudkan, bahkan Perjanjian Baru adalah sangat jelas tentang apa yang
orang-orang percaya Perjanjian Lama seperti Abraham percayai. Orang-orang kudus
Perjanjian Lama percaya injil yang sama seperti orang-orang kudus Perjanjian
Baru).
Ia
lalu mengutip Ro 3:21-22 - “(21) Tetapi
sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang
disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, (22a) yaitu kebenaran
Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.”.
Apakah
kelihatannya injil Yesus Kristus adalah sesuatu yang orang-orang kudus
Perjanjian Lama percayai? Ya, itu ‘disaksikan dalam kitab Taurat dan
kitab-kitab para nabi’, itu adalah Perjanjian Lama.
Ia
lalu mengutip Maz 32:1-2 dan Ro 4:6-8.
Maz 32:1-2
- “(1) [Dari Daud.]
Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang
dosanya ditutupi! (2) Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak
diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!”.
Ro
4:6-8 - “(6) Seperti juga Daud menyebut
berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: (7)
‘Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang
ditutupi dosa-dosanya; (8) berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak
diperhitungkan Tuhan kepadanya.’”.
Sekarang,
setelah membaca Maz 32:1-2 dan Ro 4:6-8, apakah kita tahu bahwa Daud sedang
berbicara tentang kebenaran yang diperhitungkan (kepada kita)? Sangat jelas.
Daud, dalam Maz 32, sedang berbicara tentang keadaan diberkati dari orang-orang
kepada siapa Allah memperhitungkan kebenaran terpisah dari perbuatan baik.
Kebenaran sempurna dari Kristus diperhitungkan kepada umatNya / bangsaNya, dan
Daud percaya hal ini, sama seperti semua orang-orang kudus Perjanjian Lama
mempercayainya. Bahkan Maz 32 menunjukkan kepada kita ungkapan yang kami terus
menerus pakai - ‘darah yang menebus’ dan ‘kebenaran Kristus yang
diperhitungkan’. Jadi kita melihat bahwa injil keselamatan yang disyaratkan
pada ‘darah yang menebus’ dan ‘kebenaran Kristus yang diperhitungkan’,
diberitakan dalam Perjanjian Lama.
Mereka
lalu mengutip Gal 3:8 - “Dan Kitab
Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan
Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada
Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.’”.
Ini
merupakan satu ayat lagi yang menunjukkan dengan jelas bahwa Abraham percaya
pada injil Kristus.
Saya
jawab balik:
Apakah
kamu lupa bahwa Abraham hidup sebelum hukum Taurat dan nabi-nabi? Dan bahkan
dalam Hukum Taurat dan nabi-nabi, Yesus Kristus tidak digambarkan sejelas
seperti dalam Perjanjian Baru! Karena itu, bahkan semua murid-murid pertama-tama
salah mengerti banyak hal tentang sang Mesias!
Lalu
tentang Maz 32:1-2 dan Ro 4:6-8, adalah memungkinkan bahwa Daud
menulis apa yang ia tidak sepenuhnya mengerti. Mengapa Paulus menjelaskan apa
yang Daud katakan, jika itu sudah cukup jelas?
Bdk.
1Pet 1:10-12 - “(10) Keselamatan itulah
yang diselidiki
dan diteliti oleh nabi-nabi,
yang
telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. (11) Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang
bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi
kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang
menyusul sesudah itu. (12) Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan
melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang
telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh
Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh
malaikat-malaikat.”.
Jika
malaikat-malaikat saja tidak mengerti, apalagi nabi-nabi!
Saya
gunakan text lain lagi yaitu Mat 13:10-17 - “(10) Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa
Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ (11) Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui
rahasia Kerajaan Sorga,
tetapi kepada mereka tidak. (12) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan
diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun
juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (13) Itulah sebabnya Aku
berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka
tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak
mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan
mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat,
namun tidak menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya
berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat
dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu
berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. (16) Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan
telingamu karena mendengar.
(17) Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin
melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa
yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”.
Tentang
Gal 3:8, ya itu adalah injil yang Abraham dengar.
Bdk.
Kej 12:3 - “Aku akan memberkati
orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk
engkau, dan olehmu
semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.’”.
Apakah
injil itu sama jelasnya dengan injil kita dalam Perjanjian Baru?
2.
Kembali tentang Petrus.
Mereka
berkata:
Bukan
hanya memungkinkan bagi orang pilihan yang belum lahir baru / belum selamat
untuk diberkati secara rohani, tetapi bahkan adalah memungkinkan untuk orang
pilihan yang belum lahir baru / belum selamat untuk diberkati sebelum mereka
ada, bahkan sebelum dunia dijadikan.
Ef
1:3-4 - “(3) Terpujilah Allah dan Bapa
Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. (4) Sebab
di
dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di
hadapanNya.”.
Jawaban
saya:
Ya,
tetapi berkat itu adalah bahwa kita
telah dipilih sebelum dunia dijadikan. Tetapi memuji seseorang pada
saat ia masih belum percaya, adalah mustahil. Dan Yesus tidak akan, dan tidak
bisa, memuji Petrus, seandainya Petrus pada saat itu belum percaya.
Mereka
menjawab:
Tentang
pertanyaan saya berkenaan dengan Mat 16:19, apakah Kristus memberikan kunci
kerajaan surga kepada seseorang yang belum percaya, mereka menjawab ‘Pada
akhirnya tidak, karena Petrus adalah orang pilihan’. Tetapi apa pandanganmu
tentang ‘kunci kerajaan surga’ itu? Apa yang seseorang bisa lakukan dengan
‘kunci’ ini? Apakah itu adalah kunci yang membuka pintu bagi pemberitaan
Injil kepada orang-orang non Yahudi dan orang-orang Yahudi? Jika demikian, ada
orang-orang yang tidak percaya yang memberitakan injil yang benar / sejati
dengan motivasi yang salah (Fil 1:15-18).
Fil 1:15-18
- “(15) Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakanNya
dengan maksud baik. (16) Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab
mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, (17) tetapi yang lain karena kepentingan
sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka
memperberat bebanku dalam penjara. (18) Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus
diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku
bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,”.
Catatan:
dalam bagian awal dari ay 18 ini Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.
KJV/RSV/NASB: ‘What then?’ (= Lalu
apa?).
Dan
tentang ayat-ayat yang saya gunakan, yang menunjukkan Petrus dan murid-murid
sudah percaya, mereka menjawab: Simon tukang sihir juga dikatakan percaya (Kis
8:13). Apakah ini menunjukkan ia memang betul-betul percaya?
Mereka
juga menggunakan Yoh 8:31-40 - “(31)
Maka kataNya kepada orang-orang
Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah
muridKu (32) dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan
memerdekakan kamu.’ (33) Jawab mereka: ‘Kami adalah keturunan Abraham dan
tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan
merdeka?’ (34) Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. (35) Dan hamba tidak tetap
tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. (36) Jadi apabila
Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.’ (37) ‘Aku tahu,
bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku
karena firmanKu tidak beroleh tempat di dalam kamu. (38) Apa yang Kulihat pada Bapa,
itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu
dengar dari bapamu.’ (39) Jawab mereka kepadaNya: ‘Bapa kami ialah
Abraham.’ Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau sekiranya kamu anak-anak
Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. (40)
Tetapi yang
kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran
yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh
Abraham.”.
Di
sini ada suatu text yang berbicara tentang orang-orang yang percaya kepada
Kristus. Jika kamu konsisten, kamu harus mengatakan bahwa adalah mungkin bagi
seorang yang percaya untuk membunuh Kristus.
Tentang
Yoh 13:9-11, ia berkata bahwa ‘bersih’ atau ‘tidak bersih’ harus
diartikan sesuai kontextnya, dan karena itu harus diartikan ‘siapa yang
mengkhianat dan siapa yang tidak mengkhianati Yesus’.
Baca ini: “Sebab
Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: ‘Tidak semua
kamu bersih.’”.
Saya
menjawab:
Tentang
‘kunci’, itu memang adalah kunci yang membuka injil kepada dunia. Mungkinkah
itu diberikan kepada orang yang tidak percaya?
Siapa
mengatakan bahwa orang-orang yang memberitakan Injil dalam Fil 1:15-18
adalah orang-orang yang tidak percaya? Apakah tidak mungkin bahwa bahkan
orang-orang percaya memberitakan Injil dan melayani Tuhan dengan motivasi yang
salah?
Tentang
Simon tukang sihir, memang kadang-kadang Alkitab menulis / berbicara bukan
sesuai dengan fakta, tetapi sesuai dengan kelihatannya. Jadi kalau dikatakan
seseorang percaya, kontext harus memutuskan apakah ia memang percaya atau tidak.
Dalam Kis 8, kata-kata Petrus jelas menunjukkan bahwa Simon tukang sihir bukan
orang percaya. Tetapi dalam Yoh 2:11, kontextnya sama sekali tidak menuntut
penafsiran seperti itu.
Tentang
Yoh 8 dimana orang-orang percaya mau membunuh Yesus, jelas bahwa dalam
text itu ada dua kelompok orang Yahudi.
Pada bagian awal dari text itu, Yesus berbicara kepada orang-orang Yahudi yang
percaya, tetapi dialog bagian akhir adalah antara Yesus dengan orang-orang
Yahudi yang tidak percaya! Merekalah yang dikatakan mau membunuh Kristus!
Tentang
‘bersih’ dan ‘tidak bersih’ yang ia katakan sebagai ‘orang yang tidak
mengkhianat’ dan ‘orang yang mengkhianat’, saya tanya: apakah kamu
betul-betul percaya akan apa yang kamu katakan? Bagi aku, tafsiranmu itu konyol
/ menggelikan! Tentu saja ‘orang yang tidak bersih’ itu menunjuk kepada
Yudas Iskariot, tetapi adalah tidak benar bahwa ‘bersih’ atau ‘tidak
bersih’ menunjuk kepada apakah orang itu mengkhianat atau tidak.
Bdk.
Yoh 15:3 - “Kamu memang sudah bersih
karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.”.
Mereka
menjawab:
Dalam
arti apa Petrus itu bersih pada waktu ia menyangkal bahwa adalah perlu bahwa
Yesus menderita dan mati di salib? Pastilah Petrus adalah bersih karena dianggap
diberkati secara kekal / dari kekekalan dalam Pribadi dan Pekerjaan dari
Kristus. Tetapi apakah Petrus dianggap bersih dalam arti sudah selamat?
Budi,
kamu menghindar dengan membuat perkecualian-perkecualian bagi / terhadap injil
dengan menyangkal peraturan-peraturan dari Mark 16:16 dan Ro 1:16-17,
dengan membuat pembedaan palsu tentang orang-orang kudus Perjanjian Lama dan
orang-orang kudus pada masa transisi yang percaya secara berbeda dengan
orang-orang kudus Perjanjian Baru.
Mereka
lalu mengutip Ro 1:1-2 - “(1) Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil
menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. (2) Injil itu
telah dijanjikanNya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabiNya dalam kitab-kitab
suci,”.
Dan
mereka berkata: injil Allah dijanjikan melalui nabi-nabiNya, dan ini pasti
adalah nabi-nabi Perjanjian Lama. Budi baru mengatakan bahwa berkenaan dengan
jaman Perjanjian Lama itu adalah cerita yang berbeda. Budi salah.
Saya
menjawab:
Tidak
mungkin! Jika Petrus adalah orang yang tidak percaya pada saat itu, ia bisa
dianggap bersih secara hukum, tetapi tidak secara actual /
sungguh-sungguh.
Yoh 5:24
- “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan
tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam
hidup.”.
Aku
tidak menghindar. Aku menunjukkan kepadamu semua ayat-ayat ini supaya kamu
bisa tahu bahwa ayat-ayatmu, yaitu Mark 16:16 dan Ro 1:16-17 dll,
harus ditafsirkan dengan mempertimbangkan ayat-ayat yang aku
tunjukkan kepadamu. Apa yang kamu lakukan adalah ini: kamu hanya melihat ayat-ayatmu,
lalu kamu membuat suatu peraturan / ketentuan, suatu peraturan / ketentuan yang
sangat ketat, dan
kamu mengabaikan ayat-ayatku, atau bahkan kamu mengabaikan seluruh sisa Alkitab!
Dengan kata lain, kamu menggunakan hanya sebagian dari Alkitab, ayat-ayat
favoritmu! Bagi aku, mottoku adalah ‘Kitab
Suci menafsirkan Kitab Suci’. Apakah kamu percaya seluruh Alkitab, atau hanya ayat-ayat
favoritmu? Kamu tak senang pada ayat-ayatku, bukan? Dan kamu lelah / bosan
memuntir ayat-ayatku, bukan? Dan bagi aku, bahkan ayat-ayatmu tidak membuktikan
pandanganmu!
Untuk
menjawab argumentasi mereka yang menggunakan Ro 1:1-2, dimana mereka mengatakan
bahwa injil Allah dijanjikan kepada nabi-nabi Perjanjian Lama, dan karena itu
tidak ada ‘cerita yang berbeda’ antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,
saya menjawab: Kadang-kadang kelihatannya kamu mempunyai logika yang sangat
kuat, tetapi kadang-kadang, seperti di sini, kamu kelihatannya tidak punya
logika sama sekali! Saya percaya sudah ada injil dalam Perjanjian Lama, tetapi
bagaimana mungkin bahwa injil dalam Perjanjian Lama sama jelas dan lengkapnya
dengan injil dalam Perjanjian Baru? Pada jaman itu Kristus belum dilahirkan,
apalagi menderita dan mati untuk dosa-dosa kita dan bangkit untuk pembenaran
kita. Jika kamu katakan bahwa injil dalam Perjanjian Lama sama jelas dan
lengkapnya seperti injil dalam Perjanjian Baru, bagaimana mungkin semua orang
Yahudi bisa salah mengerti tentang sang Mesias? Dan
bagaimana mungkin injil disebut berulang-ulang sebagai ‘mystery’ (misteri /
rahasia) dalam Perjanjian Baru? Mari kita melihat ayat-ayatnya.
Ro
16:25-27 - “(25) Bagi Dia, yang
berkuasa menguatkan kamu, - menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan
tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia,
yang didiamkan berabad-abad lamanya, (26)
tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh
kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada
ketaatan iman - (27) bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus
Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”.
1Kor
2:7 - “Tetapi yang kami beritakan ialah
hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia,
yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.”.
Ef
3:2-6 - “(2) - memang kamu telah
mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan
kepadaku karena kamu, (3) yaitu bagaimana rahasianya
dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas
dengan singkat. (4) Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya
pengertianku akan rahasia
Kristus,
(5) yang
pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia,
tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabiNya
yang kudus,
(6) yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi
ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan
dalam Kristus Yesus.”.
Kol
1:25-27 - “(25) Aku telah menjadi
pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk
meneruskan firmanNya dengan sepenuhnya kepada kamu, (26) yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan,
tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudusNya. (27) Kepada mereka Allah mau
memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia
itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu,
Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”.
c)
Rasul Yohanes.
Ia
sampai 2 x menyembah malaikat!
Wah 19:10
- “Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku:
‘Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan
saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena
kesaksian Yesus adalah roh nubuat.’”.
Wah 22:8-9
- “(8) Dan aku, Yohanes, akulah yang
telah mendengar dan melihat semuanya itu. Dan setelah aku mendengar dan melihatnya, aku tersungkur di depan
kaki malaikat,
yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya. (9) Tetapi ia berkata kepadaku: ‘Jangan berbuat demikian! Aku
adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua
mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!’”.
Iman
apa yang ia punyai sehingga ia bisa melakukan hal itu? Haruskah kita menganggap
rasul Yohanes sebagai orang yang unregenerate (belum lahir baru / tidak
selamat)?
Mereka
menjawab:
Kamu
menganggap rasul Yohanes tahu atau tidak tahu kalau itu adalah seorang malaikat?
Yohanes mungkin mengira itu adalah Yesus.
Kesalahan Yohanes berbeda dengan kesalahan orang Arminian, yang mengatakan bahwa
Yesus mati untuk orang-orang yang masuk neraka.
Saya
menjawab balik:
Tentu
saya menganggap bahwa Yohanes tahu kalau itu adalah seorang malaikat. Dalam
kitab Wahyu berulang-ulang dikatakan bahwa Yohanes melihat malaikat /
malaikat-malaikat (Wah 5:2,11 7:1,2
8:2 10:1,5
14:6 18:1
19:17 20:1). Dan Yohanes
juga sudah melihat Kristus yang dimuliakan dalam Wah 1:9-20. Jadi, apakah
mungkin ia masih tidak bisa membedakan antara Kristus dan malaikat /
malaikat-malaikat? Apakah kamu anggap mereka mirip?
Bdk.
Yes 46:9 - “Ingatlah hal-hal yang
dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah
Allah dan tidak
ada yang seperti Aku,”.
Jadi,
sekalipun seorang malaikat bersinar, tetapi Yesus pasti bersinar dengan jauh
lebih terang, sehingga mustahil Yohanes tak bisa membedakan antara Yesus dan
malaikat.
Juga
seandainya dalam penyembahan pertama kepada malaikat, ia melakukan kesalahan
(karena salah mengenali), apakah mungkin ia salah mengenali lagi untuk
kedua-kalinya sehingga ia menyembah malaikat lagi? Malaikat itu pastilah saudara
kembarnya Yesus!
Mereka
menjawab:
Argumentasi
bodoh / konyol. Bagaimana terangnya Yesus tampil kepada orang-orang dalam
perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-16)?
Saya
jawab balik:
Itu
terjadi sebelum kenaikan Yesus ke surga. Setelah kenaikanNya, Yesus tidak pernah
menunjukkan diriNya sendiri dalam bentuk manusia biasa, seperti sebelum Ia mati
/ naik ke surga.
d)
Rasul Tomas.
Bahkan
setelah 10 murid yang lain memberitahu dia bahwa Yesus telah bangkit, ia tetap
tidak mau percaya.
Yoh 20:24-25 - “(24)
Tetapi
Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada
bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. (25) Maka kata
murid-murid yang lain itu kepadanya: ‘Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi
Tomas berkata kepada mereka: ‘Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya
dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan
tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’”.
Iman apa yang dipunyai Tomas pada saat ini? Ia tidak percaya
kebangkitan Yesus, yang bukan hanya telah dinubuatkan oleh Yesus sendiri, tetapi
juga telah disaksikan oleh 10 murid-murid Yesus yang lain!
Dan kalau mereka mengutip 1Kor 15:3, sekarang saya
mengutip lebih panjang.
1Kor 15:1-4
- “(1) Dan sekarang, saudara-saudara,
aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh
berdiri. (2) Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh
berpegang padanya, seperti
yang telah kuberitakan kepadamu
- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. (3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan
kepadamu,
yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, (4) bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai
dengan Kitab Suci;”.
Ay 3 berbicara tentang kematian Yesus karena dosa-dosa kita,
sesuai dengan Kitab Suci. Tetapi ay 4nya berbicara tentang penguburan dan kebangkitanNya
pada hari ke 3, sesuai dengan Kitab Suci.
Kalau mereka mengatakan berdasarkan 1Kor 15:3 bahwa
orang-orang Arminian tidak mengerti tentang penebusan / injil, dan karena itu
termasuk orang yang unregenerate (belum lahir baru / tidak selamat), maka
bukankah dari 1Kor 15:4nya kita juga harus menyimpulkan bahwa Tomas juga seperti
itu?
Mereka menjawab:
Mereka mengatakan bahwa 1Kor 15:3-4 memang menunjukkan
bahwa kebangkitan Yesus merupakan sesuatu yang hakiki dari injil, dan karena
Tomas tidak percaya hal itu, maka pada saat itu ia memang seorang unregenerate
(belum lahir baru / tidak selamat).
Mereka lalu mengutip Yoh 20:27-29 - “(27)
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah
tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan
engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’ (28) Tomas menjawab Dia: ‘Ya
Tuhanku dan Allahku!’ (29) Kata Yesus kepadanya: ‘Karena engkau telah
melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun
percaya.’”.
Dan mereka mengatakan: Yesus sendiri mengatakan bahwa pada
saat itu Tomas memang belum percaya.
Saya menjawab balik:
Tomas tidak percaya tentang apa? Bukan tidak percaya kepada
Yesus, tetapi tidak percaya tentang
kebangkitan Yesus. Itu yang Yesus bicarakan dalam Yoh
10:27,29.
Bukan hanya Tomas, tetapi juga murid-murid yang lain
mula-mula tidak percaya pada kebangkitan Yesus. Bahkan Yohanes percaya
kebangkitan baru pada saat ia melihat kubur yang kosong.
Yoh 20:8 - “Maka
masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.”.
Jadi, semua mereka adalah unregenerate (belum lahir baru /
tidak selamat) pada saat itu? Jika demikian, bagaimana kamu menjelaskan
ayat-ayat yang sudah saya berikan di atas?
Apa anggapanmu tentang orang-orang pada jaman Perjanjian
Lama? Iman yang bagaimana yang harus mereka punyai untuk selamat? Haruskah
mereka juga percaya pada kematian dan kebangkitan Yesus? Dan juga tentang substitution
(penggantian), imputation
(pemerhitungan), propitiation
(peredaan / pemenuhan tuntutan), 5 points Calvinisme, dsb?
Jika kita bisa membedakan iman dari orang-orang jaman
Perjanjian Lama dari iman orang-orang pada jaman Perjanjian Baru, maka mengapa
kita tak boleh membedakan iman rasul-rasul dan iman kita? Mereka hidup pada
jaman dimana Perjanjian Baru belum ada / belum selesai ditulis. Saya menyebut
ini sebagai masa transisi.
e)
Bagaimana dengan Maria, ibu Yesus?
Malaikat telah memberitahunya tentang ke-Anak-an dari Yesus.
Luk 1:31-35 - “(31) Sesungguhnya
engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah
engkau menamai Dia Yesus. (32) Ia akan menjadi besar dan akan
disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan
mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, (33) dan Ia akan menjadi
raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan
berkesudahan.’ (34) Kata Maria kepada malaikat itu: ‘Bagaimana hal itu
mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?’ (35) Jawab malaikat itu
kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan
menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan
itu akan disebut kudus, Anak Allah.”.
Tetapi setelah itu ia masih tidak mengerti tentang hal itu.
Luk 2:49-50 - “(49) JawabNya
kepada mereka: ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah
kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?’ (50) Tetapi
mereka tidak mengerti apa yang dikatakanNya kepada mereka.”.
Mereka menjawab:
“Is this the same
Mary that is recorded here? ‘And they said to her, Woman, why do you weep? She
said to them, Because they took away my Lord, and I do not know where they put
Him’ (John 20:13). Does this appear that Mary has any idea that it was
necessary for Jesus to suffer and to rise again? If she is ignorant of the
resurrection then of course she is unregenerate.”
[= Apakah ini adalah Maria yang sama dengan yang dicatat di sini? ‘Dan mereka
berkata kepadanya: ‘Perempuan, mengapa engkau menangis?’ Ia berkata kepada
mereka, Karena mereka mengambil Tuhanku, dan aku tidak tahu di mana mereka
meletakkan Dia’ (Yoh 20:13). Apakah ini menunjukkan bahwa Maria mempunyai
gagasan / pengertian apapun bahwa adalah perlu bagi Yesus untuk menderita dan
bangkit kembali? Jika ia tidak tahu tentang kebangkitan maka tentu saja ia
adalah seorang yang unregenerate
(belum lahir baru / tidak selamat).]
- dari file ‘Heterodoxy3.doc’.
Saya menjawab balik:
Tentu mereka berbeda. Yang saya bicarakan adalah Maria ibu
Yesus, dan yang ada dalam Yoh 20:13 itu adalah Maria Magdalena.
Jadi, bagaimana jawabmu tentang ibu Yesus? Apakah ia
unregenerate (belum lahir baru / tidak selamat) pada saat itu? Jika kamu katakan
ia sudah percaya, lalu mengapa ada kontradiksi dalam pengertiannya tentang
ke-Anak-an Yesus? Jika kamu katakan ia unregenerate (belum lahir baru / tidak
selamat), bagaimana kamu menjelaskan ayat-ayat di bawah ini?
Luk 1:28,30,38,41,42,46-48 - “(28) Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ‘Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan
menyertai engkau.’
... (30) Kata malaikat itu kepadanya: ‘Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan
Allah.
... (38) Kata Maria: ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku
menurut perkataanmu itu.’ Lalu malaikat itu meninggalkan dia. ... (41) Dan
ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya
dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, (42) lalu berseru dengan suara nyaring:
‘Diberkatilah engkau di antara semua
perempuan
dan diberkatilah buah rahimmu. ... (46) Lalu kata Maria: ‘Jiwaku memuliakan
Tuhan, (47) dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, (48) sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya.
Sesungguhnya, mulai
dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia [blessed
(= diberkati)],”.
Kata ‘diberkati’ pasti ada dalam arti rohani, dan itu
mustahil kalau Maria adalah seorang yang tidak percaya.
Saya mau menambahi beberapa argumentasi:
1.
Bagaimana anggapanmu tentang orang-orang Kristen, tua-tua dan rasul-rasul
dalam Kis 15? Mereka pasti setidaknya mempunyai keraguan / kebingungan tentang
apakah mereka diselamatkan oleh iman saja, atau oleh iman dan perbuatan baik /
ketaatan pada hukum Taurat (bdk. Kis 15:1), karena kalau tidak, mereka tidak
akan mengadakan sidang gereja Yerusalem. Jadi, mereka semua unregenerate (belum
lahir baru / tidak selamat)?
Mereka menjawab:
Sidang Gereja itu bukan mempersoalkan tentang apakah
seseorang diselamatkan oleh perbuatan baik atau tidak. Persoalan dari Sidang
Gereja itu adalah apakah mereka yang diselamatkan oleh Kristus saja harus hidup
seperti orang-orang Yahudi. Persoalannya adalah apakah orang-orang non Yahudi
harus disunat untuk menunjukkan bahwa iman mereka kepada Kristus adalah iman
yang sejati.
Saya jawab balik:
Tidakkah memuntir ayat-ayat Alkitab membuat kamu lelah? Mari
kita baca textnya.
Kis 15:1,5,11 - “(1)
Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada
saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat
yang diwariskan oleh Musa, kamu
tidak dapat diselamatkan.’
... (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya,
datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan
untuk menuruti hukum Musa.’ ... (11) Sebaliknya,
kita percaya, bahwa oleh kasih karunia
Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.’”.
2.
Bagaimana tentang orang-orang Kristen dalam Kis 11:19?
Kis 11:19 - “Sementara
itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul
sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan
Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.”.
Saya kira mereka harus adalah sama dengan orang-orang Kristen
yang tersebar dalam Kis 8:1,4 - “(1)
Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. Pada waktu itu mulailah
penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali
rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. ... (4) Mereka yang tersebar itu menjelajah
seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.”.
Mengapa mereka memberitakan Injil hanya
kepada orang-orang Yahudi? Jelas karena mereka masih punya
kepercayaan dari orang-orang Yahudi, bahwa hanya orang-orang Yahudi saja yang
bisa diselamatkan. Ini teologia yang buruk, tetapi mereka yang punya teologia
yang buruk itu adalah orang-orang Kristen!
Mereka menjawab:
Kalau mereka tetap mempunyai teologia dari orang-orang Yahudi
lalu mengapa mereka pergi dan memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi dan
menyuruh mereka bertobat dan percaya injil? Itu tidak masuk akal. Mereka
memberitakan kepada orang-orang Yahudi karena teologia mereka bertentangan
frontal dengan teologia orang-orang Yahudi. Jadi, bagimu doktrin dari
orang-orang Yahudi (Yudaisme) adalah doktrin Kristen?
Saya jawab balik:
Tentu saja aku tidak memaksudkan bahwa teologia mereka persis
sama seperti orang-orang Yahudi yang tidak percaya itu. Berbeda dengan
orang-orang Yahudi yang tidak percaya itu, mereka
sudah percaya kepada Yesus. Tetapi
tetap ada sisa
dari teologia Yahudi yang salah dalam diri mereka, bahwa hanya orang-orang
Yahudi yang bisa diselamatkan. Karena itu, mereka memberitakan Injil
hanya kepada orang-orang Yahudi. Dalam hal ini, saya juga memberikan dukungan
dari buku tafsiran Adam Clarke dan Albert Barnes.
3.
Dan bagaimana tentang orang-orang / jemaat dari gereja Korintus pada
jaman Paulus? Mereka mempunyai teologia yang buruk (1Kor 15 - tentang
kebangkitan orang mati) dan juga kehidupan yang buruk (1Kor 5 - incest; 1Kor 6 -
percabulan). Ada golongan-golongan / grup-grupan di antara mereka (1Kor 1:10-13
3:3-4), mereka menyalah-gunakan bahasa Roh (1Kor 12-14). Tetapi Paulus
mengatakan bahwa mereka adalah bayi dalam Kristus (1Kor 3:1). Dan sebelum
Paulus memberitakan Injil kepada mereka, Allah telah memberitahu Paulus bahwa Ia
mempunyai banyak umat di sana (Kis 18:9-10). Juga baca text ini.
1Kor 1:2-9 - “(2)
kepada jemaat
Allah di Korintus,
yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus
Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus
Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. (3) Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan
Yesus Kristus menyertai
kamu.
(4) Aku senantiasa mengucap syukur kepada
Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkanNya kepada kamu
dalam Kristus Yesus.
(5) Sebab di
dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan
segala macam pengetahuan, (6) sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang
telah diteguhkan di antara kamu. (7) Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam
suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.
(8) Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak
bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. (9) Allah, yang memanggil kamu kepada
persekutuan dengan AnakNya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.”.
Juga perhatikan ay 3, dimana Paulus
mengucapkan damai kepada mereka. Kalau mereka unregenerate (belum lahir
baru / tidak selamat), maka berdasarkan pengertianmu sendiri, Paulus haruslah
juga unregenerate (belum lahir baru / tidak selamat).
Sekarang baca 1Kor 1:10 - “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara,
demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada
perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati
sepikir.”.
Paulus menyebut mereka ‘saudara’.
Jika mereka adalah orang-orang yang tidak percaya, maka berdasarkan teologiamu
sendiri, Paulus juga haruslah bukan orang percaya.
Jadi, dari semua ayat-ayat ini bukankah kita harus menganggap
bahwa sekalipun mereka mempunyai theologia yang buruk (tentang kebangkitan),
tetapi mereka tetap adalah orang-orang percaya?
Mereka menjawab:
Paulus mengucapkan damai dan menyebut ‘saudara’ hanya
kepada jemaat Korintus yang percaya.
Kamu memuntir Kitab Suci untuk menerapkan ay 3 kepada mereka yang
menyangkal kebangkitan dalam 1Kor 15:12. Paulus membedakan antara mereka
yang percaya kebenaran yang hakiki dari injil dan mereka yang menyangkalnya.
Saya jawab balik:
Kamu mungkin benar, jika kita berbicara tentang guru-guru
dari ajaran sesat yang menyangkal kebangkitan itu. Tetapi bagaimana tentang
mereka yang hanya ragu-ragu tentang hal itu? Saya kira Paulus menulis bagian ini
untuk mereka yang ragu-ragu. Jika tidak ada satupun yang ragu-ragu, mengapa ia
menulis bagian ini? Jadi, saya pikir bahwa adalah mungkin bagi
seorang Kristen sejati untuk meragukan hal-hal yang penting.
Kita
tidak harus mempunyai pengertian yang sempurna dan iman yang sempurna untuk
diselamatkan.
4.
Juga bagaimana dengan jemaat Galatia pada jaman Paulus? Mereka bingung
tentang selamat karena iman saja dan selamat karena iman + perbuatan baik!!
Tetapi apa yang Paulus katakan kepada mereka? Gal 1:3-4 - “(3)
kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan
Yesus Kristus, (4) yang telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita,
untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah
dan Bapa kita.”.
Kata ‘kita’
mencakup jemaat Galatia, bukan? Dan Paulus
mengucapkan damai kepada mereka!
Juga lihat Gal 3:2-4 - “(2)
Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau
karena percaya kepada pemberitaan Injil? (3) Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di
dalam daging?
(4) Sia-siakah
semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!”.
Gal 3:26 - “Sebab
kamu
semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”.
Gal 6:18 - “Kasih
karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.”.
Jika mereka unregenerate
(belum lahir baru / tidak selamat), maka menurut teologiamu, Paulus juga harus unregenerate
(belum lahir baru / tidak selamat)!
Mereka menjawab:
Apa yang terjadi dengan pembedaanmu tentang jaman Perjanjian
Lama dan masa transisi? Surat Galatia bukan Perjanjian Lama, dan juga itu bukan
masa transisi, tetapi kamu mengatakan mereka yang percaya pada keselamatan
karena iman dan perbuatan baik adalah orang percaya.
Jadi, lupakan tentang masa transisi dan jaman Perjanjian
Lama, bahkan dalam kasus orang-orang Galatia kamu akan memeluk orang-orang yang
percaya pada keselamatan karena iman dan perbuatan baik sebagai saudara
rohanimu!
Saya jawab balik:
Adalah mungkin untuk tetap mengatakan bahwa mereka tetap
hidup dalam masa transisi, karena pada saat itu Alkitab belum lengkap.
Dan juga, seperti dalam gereja Korintus, saya pikir mereka hanya ragu-ragu.
Jika mereka sungguh-sungguh percaya keselamatan karena iman dan perbuatan baik,
saya setuju dengan kamu bahwa mereka pasti bukan orang-orang percaya. Tetapi
jika mereka ragu-ragu, itu hanya menunjukkan bahwa pengertian dan iman mereka
tidak sempurna. Itu tidak membuat mereka tidak selamat.
Catatan:
saya tidak memasukkan seluruh perdebatan. Ada jawaban lagi dari mereka tetapi
sangat tidak masuk akal, dan kelihatan jelas mereka memaksakan ayat-ayat
sehingga artinya sesuai dengan kemauan mereka. Saya tak bisa memasukkan semua
karena nanti akan menjadi ruwet sekali. Bagi yang mengerti bahasa Inggris,
bisa meminta debat lengkapnya dari saya.
Saya akan mengakhiri bagian ini dengan memberikan seluruh jawaban
terakhir mereka (seluruh file) dan jawaban balik dari saya (juga seluruhnya).
Dan yang menulis bagian ini adalah Marc D. Carpenter sendiri.
Mereka berkata:
“Budi,
you’re just laughable. I mean, take a look at these two blatantly
contradictory things you said: ‘I think almost all of them had a very imperfect understanding
about the Trinity, the deity of Jesus, and even about salvation by faith alone.
But many of them died as martyrs!’. ‘You
are slandering me! In this New Testament period, I will never consider anybody
saved if they believe in salvation by works!’.
Hmmmm... let’s see here ... the church fathers didn’t understand
‘salvation by faith alone,’ and yet you believe they were saved. Yet
these church fathers are in the New Testament period, and you ‘will never
consider anybody saved if they believe in salvation by works.’” (= Budi, kamu menggelikan. Saya memaksudkan, lihatlah pada dua hal
yang bertentangan secara menyolok yang kamu katakan: ‘Aku
kira hampir semua dari mereka / bapa-bapa gereja mempunyai pengertian yang
sangat tidak sempurna tentang Tritunggal, keilahian Yesus, dan bahkan tentang
keselamatan oleh iman saja. Tetapi banyak dari mereka yang mati sebagai
martir’. ‘Kamu memfitnah aku! Dalam jaman Perjanjian Baru ini, aku tidak
akan pernah menganggap siapapun diselamatkan jika mereka percaya pada
keselamatan karena perbuatan baik’.
Hmmmm ... mari kita lihat di sini ... bapa-bapa gereja tidak mengerti
‘keselamatan karena iman saja’, tetapi kamu percaya mereka diselamatkan.
Tetapi bapa-bapa gereja ini ada dalam jaman Perjanjian Baru, dan kamu ‘tidak
akan pernah menganggap siapapun diselamatkan jika mereka percaya pada
keselamatan karena perbuatan baik’.).
Jawaban saya:
“You always
jump to the conclusion too fast. Did I say that The Church Fathers were saved? I
did not say that! I am just confused, how was it possible for people with such a
bad understanding, died as martyrs? I don’t doubt that some of them, with a
real bad understanding, went to hell. I asked you about this to know whether you
think that ALL of them went to hell or not. If you say that not all of them went
to hell, then you have to believe that Christians with an imperfect
understanding can go to heaven. If you say no, then isn’t it strange that not
one of them went to heaven?” (= Kamu
selalu menyimpulkan terlalu cepat. Apakah aku mengatakan bahwa bapa-bapa gereja
itu diselamatkan? Aku tidak mengatakan itu! Aku hanya bingung, bagaimana mungkin
orang-orang dengan teologia seburuk itu, mati sebagai martir? Aku tidak
meragukan bahwa sebagian dari mereka, dengan pengertian yang betul-betul buruk,
pergi ke neraka. Aku menanyakan hal ini kepadamu untuk mengetahui apakah kamu
menganggap bahwa SEMUA dari mereka pergi ke neraka atau tidak. Jika kamu katakan
bahwa tidak semua dari mereka pergi ke neraka, maka kamu harus percaya bahwa
orang-orang Kristen dengan pengertian yang tidak sempurna bisa pergi ke surga.
Jika kamu katakan tidak, maka tidakkah aneh bahwa tak seorangpun dari mereka
pergi ke surga?).
Mereka
berkata:
“And
then another hilarious quote: ‘Those Arminians just misunderstand Him and His
works. But as long as their misunderstanding is not about the most basic things,
they are still saved.’ Yeah, those Arminians don’t have a misunderstanding
of ‘the most basic things’; they just have a misunderstanding of ‘Him and
His works.’ Okay, let’s see ... what are ‘the most basic things’ in
the gospel? Well ... could they have to do with ... well ... the PERSON of
Christ and the WORK of Christ? My, my. ‘Those Arminians just
misunderstand Him and His works.’ No doubt. And yet these people
also believe ‘the most basic things.’ Thus, you believe that Christ and
His works are not the most basic things about the gospel. So, Budi,
let’s take out these two things: (1) Christ, and (2) Christ’s
works. Alright, Budi, what do we have left? What are the ‘most
basic things’ in the gospel if you take away (1) Christ and (2) Christ’s
works? Give me a definition of the gospel that doesn’t include (1)
Christ and (2) Christ’s works. Of course, that’s rhetorical; you can
do no such thing. You’re a fool. [=
Dan lalu suatu kutipan lain yang sangat lucu: ‘Orang-orang
Arminian itu hanya salah mengerti tentang Dia dan pekerjaanNya. Tetapi selama
kesalah-mengertian mereka bukan tentang hal-hal yang paling dasari, mereka tetap
diselamatkan’. Ya, orang-orang Arminian itu tidak mempunyai kesalah-mengertian
tentang ‘hal-hal yang paling dasari’; mereka hanya mempunyai
kesalah-mengertian tentang ‘Dia dan pekerjaanNya’. Oke, mari kita lihat ...
apa ‘hal-hal yang paling dasari’ dalam injil? Apakah hal-hal itu bisa
berhubungan dengan ... Pribadi
Kristus dan pekerjaan Kristus?
Astaga. ‘Orang-orang Arminian itu hanya salah mengerti tentang Dia dan
pekerjaanNya’. Tak diragukan. Tetapi orang-orang ini juga percaya ‘hal-hal
yang paling dasari’. Jadi, kamu percaya bahwa Kristus dan pekerjaanNya
bukanlah hal-hal yang paling dasari tentang injil. Jadi, Budi, mari mengambil
dua hal ini: (1) Kristus, dan (2) Pekerjaan Kristus. Oke, Budi, apa yang
tersisa? Apa ‘hal-hal yang paling dasari’ dalam injil jika kamu
menyingkirkan (1) Kristus dan (2) Pekerjaan Kristus? Berikan aku suatu definisi
dari injil yang tidak mencakup (1)
Kristus dan (2) pekerjaan Kristus. Tentu saja itu merupakan pertanyaan yang tak
perlu dijawab; kamu tidak bisa melakukan hal seperti itu. Kamu tolol.].
Jawaban saya:
“Wait a
minute. What do you mean by ‘Christ’? If you mean that Christ is God and
Man, and Saviour / Redeemer, then of course every Christian must believe it. But
how about whether or not Jesus could fall into sin (theoretically)? If someone
is wrong about it, must he go to hell? Also what do you mean by ‘his works’?
I think that you mean different things about ‘his works’ from what I do. I
think they just mean that ‘He died for my sins’. Yeah, the whole world is a
fool for you. All other Christians are fools for you. Prov 12:15 - “The way
of a fool is right in his own eyes: but he that hearkeneth unto counsel is
wise”. Prov 26:12 - “Seest thou a man wise in his own conceit? there is more
hope of a fool than of him”. And, if I am a fool, why don’t you answer the
arguments of this fool? Are you going to answer them or not? Are you more
foolish than a fool? What are you then? An idiot?” [= Tunggu
sebentar. Apa yang kamu maksudkan dengan ‘Kristus’? Jika kamu maksudkan
bahwa Kristus adalah Allah dan Manusia, dan Juruselamat / Penebus, maka tentu
saja setiap orang Kristen harus percaya hal itu. Tetapi bagaimana tentang apakah
Yesus bisa jatuh ke dalam dosa (secara teoretis)? Jika seseorang salah tentang
itu, haruskah ia pergi ke neraka? Juga apa yang kamu maksudkan dengan
‘pekerjaanNya’? Aku kira kamu memaksudkan hal-hal yang berbeda tentang
‘pekerjaanNya’ dengan yang aku maksudkan. Aku pikir itu hanya berarti bahwa
‘Ia mati untuk dosa-dosaku’. Ya, seluruh dunia adalah orang tolol bagimu.
Semua orang-orang Kristen yang lain adalah orang-orang tolol bagimu. Amsal 12:15
- ‘Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa
mendengarkan nasihat, ia bijak.’. Amsal 26:12 - ‘Jika engkau melihat orang
yang menganggap dirinya bijak, harapan bagi orang bebal lebih banyak dari pada
bagi orang itu.’. Dan jika aku adalah orang tolol, mengapa kamu tak menjawab
argumentasi-argumentasi dari orang tolol ini? Apakah kamu akan menjawabnya atau
tidak? Apakah kamu lebih tolol dari orang tolol? Kalau demikian apa kamu itu?
Seorang idiot?].
Mereka juga
berkata:
“And
your whole thing about Common Grace was just pathetic.” (= Dan seluruh halmu tentang kasih karunia umum hanyalah merupakan
sesuatu yang menyedihkan).
Jawaban
saya:
“I think you
are pathetic. You cannot answer my arguments that destroys your argument. I have
proven that God is kind to unbelievers / reprobates (Mat 5:45). And I have shown
you that Jacob blessed Pharaoh, and God blessed Ishmael. What is your answer?
You can’t answer the arguments of this fool, can you?” [= Saya kira kamu yang menyedihkan. Kamu tidak bisa menjawab
argumentasi-argumentasiku yang menghancurkan argumentasimu. Saya telah
membuktikan bahwa Allah itu baik kepada orang-orang yang tidak percaya /
orang-orang yang ditentukan binasa (Mat 5:45). Dan saya telah menunjukkan
kepadamu bahwa Yakub memberkati Firaun, dan Allah memberkati Ismael. Apa
jawabanmu? Kamu tidak bisa menjawab argumentasi dari orang tolol ini, bukan?].
Mereka
berkata:
“You
kept saying over and over that just letting the reprobate live is evidence of
God’s grace, and if God were not gracious to them, why didn’t he just
immediately kill them. The reprobate are ‘vessels
of wrath, having been fitted out for destruction’ (Rom 9:22). Their
time on earth is to be spent being hardened according to God’s desire (Rom
9:18), in order for God to display His wrath and to make His power known (Rom
9:22), and also to make the riches of His glory known to the elect (Rom 9:33).
The reprobate, during their lives, are being fattened for the kill. They are
heaping up damnation upon themselves. The fact that they do not immediately go
to hell after they are conceived is certainly not grace by any stretch. By
living their lives, they increase their condemnation, which is exactly what they
deserve. Did God show common grace toward Judas? After all, God did not
immediately destroy Judas when Judas was conceived. Not only did Judas live
until adulthood, but he was with the Lord Jesus Christ in person, witnessed His
miracles, and heard Him preach. Yet Jesus Christ said, ‘Truly
the Son of Man goes as it as been written concerning Him, but woe to that man
through whom the Son of Man is betrayed! It were GOOD for him if
that man had NEVER BEEN BORN’ (Mar 14:21)! Was God doing what was better
for Judas by prolonging his life? Was God blessing
or cursing Judas by causing him
not only to live but to live with Jesus Christ Himself and to hear the gospel
right from the mouth of Christ?” [= Kamu terus menerus berkata berulang-ulang bahwa hanya
membiarkan orang reprobate (orang yang ditentukan untuk binasa) hidup adalah
bukti dari kasih karunia Allah, dan jika Allah tidak murah hati / bersifat kasih
karunia kepada mereka, mengapa Ia tidak langsung membunuh mereka. Orang-orang
yang ditentukan untuk binasa adalah ‘bejana kemurkaan, dibentuk untuk
kebinasaan / kehancuran’ (Ro 9:22). Waktu mereka di bumi harus dihabiskan
untuk dikeraskan sesuai dengan keinginan Allah (Ro 9:18), supaya Allah
menunjukkan murkaNya dan untuk menyatakan kuasaNya (Ro 9:22), dan juga untuk
membuat kekayaan dari kemuliaanNya dinyatakan kepada orang-orang pilihan (Ro
9:33). Orang-orang yang ditentukan untuk binasa, sepanjang hidup mereka,
digemukkan untuk dibunuh. Mereka menumpuk hukuman kepada diri mereka sendiri.
Fakta bahwa mereka tidak langsung pergi ke neraka setelah mereka ditipu jelas
bukan kasih karunia yang dilebarkan dengan cara bagaimanapun. Dengan menjalani
kehidupan mereka, mereka meningkatkan hukuman mereka, yang adalah persis apa
yang mereka layak dapatkan. Apakah Allah menunjukkan kasih karunia yang bersifat
umum kepada Yudas? Bagaimanapun juga, Allah tidak langsung menghancurkan Yudas
pada waktu Yudas ditipu. Bukan hanya Yudas hidup sampai dewasa, tetapi ia ada
bersama Tuhan Yesus Kristus secara pribadi, menyaksikan mujijat-mujijatNya, dan
mendengar khotbahNya. Tetapi Yesus Kristus berkata, ‘Anak Manusia memang akan
pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang
yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu
sekiranya ia tidak dilahirkan.’ (Mark 14:21)! Apakah Allah lakukan apa yang
lebih baik untuk Yudas dengan memperpanjang hidupnya? Apakah Allah memberkati
atau mengutuk Yudas dengan menyebabkan dia bukan hanya hidup tetapi hidup dengan
YAHWEH sendiri dan untuk mendengar injil langsung dari mulut Kristus?].
Jawaban saya:
“You cannot
answer my questions, can you? That is why you wrote a new email, and avoided all
my questions / arguments. What about God’s blessing to Ishmael? And how about
Jacob’ giving a blessing to Pharaoh? If you cannot answer my questions, it is
better for you, if you repent! I have proved that your understanding and
teaching contradict many verses from the Bible! And you still hold it? You are a
stiff-necked fool!”
[= Kamu tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku, bukan? Itu sebabnya kamu
menulis email yang baru, dan menghindari semua pertanyaan-pertanyaan dan
argumentasi-argumentasiku. Bagaimana tentang berkat Allah kepada Ismael? Dan
bagaimana tentang pemberian berkat dari Yakub kepada Firaun? Jika kamu tidak
bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku, adalah lebih baik bagimu, jika kamu
bertobat! Saya telah membuktikan bahwa pengertianmu dan ajaranmu bertentangan
dengan banyak ayat-ayat dari Alkitab! Dan kamu tetap memegang / mempercayainya?
Kamu adalah orang tolol yang tegar tengkuk!].
Catatan:
saya tak menjawab kata-katanya tentang Yudas Iskariot. Itu sebetulnya bisa
dijawab sebagai berikut: semua yang Allah berikan, seperti hidup lebih lama,
bisa bersama-sama dengan Yesus Kristus, dan mendengar ajaranNya secara
langsung, memang merupakan berkat bagi Yudas Iskariot, dan bahwa itu
akhirnya memperburuk keadaannya, itu bukan karena salahnya Allah, tetapi
karena salahnya Yudas Iskariot sendiri dalam menanggapi secara buruk
berkat-berkat tersebut. Memang ia ditentukan untuk menjadi seperti itu,
tetapi jangan lupa bahwa dalam teologia Reformed, kedaulatan Allah tidak
membuang tanggung jawab manusia!
Mereka mengatakan:
“You
do not worship the same God I worship.”
(= Kamu tidak menyembah Allah yang sama yang aku sembah).
Marc
Jawaban
saya:
“Maybe you are
right! My God is the God of the Bible, and very different from the crazy god
that you worship! I think your god is your belief / teaching! You really worship
it!” (=
Mungkin kamu benar! Allahku adalah Allah dari Alkitab, dan sangat berbeda dengan
allah gila yang kamu sembah! Saya kira allahmu adalah kepercayaan / ajaranmu!
Kamu betul-betul menyembahnya!).
Budi
Asali.
Setelah
ini, tak ada jawaban lagi dari mereka.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali