Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 4 Juli 2012, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

http://www.golgothaministry.org

 

Limited Atonement (13)

(Penebusan terbatas)

 

Calvin (tentang Tit 2:11): “‘Bringing salvation to all men,’ That it is common to all is expressly testified by him on account of the slaves of whom he had spoken. Yet he does not mean individual men, but rather describes individual classes, or various ranks of life (= ‘Membawa keselamatan kepada semua orang’, Bahwa itu bersifat umum bagi semua orang disaksikan secara jelas olehnya karena budak-budak tentang siapa ia telah berbicara. Tetapi ia tidak memaksudkan orang-orang secara individu, tetapi sebaliknya menggambarkan golongan-golongan individu, atau bermacam-macam kedudukan dari kehidupan).

Catatan: kontext memang berkenaan dengan hamba-hamba.

Tit 2:9-11 - “(9) Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, (10) jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita. (11) Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata”.

 

William Hendriksen: It brought this salvation to ‘all men.’ ... Here in Titus 2:11 the context makes the meaning very clear. Male or female, old or young, rich or poor: all are guilty before God, and from them all God gathers his people. Aged men, aged women, young women, young(er) men, and even slaves (see verses 1–10) should live consecrated lives, for the grace of God has appeared bringing salvation to men of all these various groups or classes. ‘All men’ here in verse 11 = ‘us’ in verse 12. Grace did not bypass the aged because they are aged, nor women because they are women, nor slaves because they are merely slaves, etc. It dawned upon all, regardless of age, sex, or social standing. Hence, no one can derive, from the particular group or caste to which he belongs, a reason for not living a Christian life [= Itu membawa keselamatan ini kepada ‘semua orang’. ... Di sini dalam Tit 2:11 kontextnya membuat sangat jelas. Laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin: semua bersalah di hadapan Allah, dan dari mereka semua Allah mengumpulkan umatNya. Laki-laki tua, perempuan-perempuan tua, perempuan-perempuan muda, laki-laki (yang lebih) muda, dan bahkan hamba-hamba (lihat ayat 1-10) harus menjalani hidup yang dikuduskan, karena kasih karunia Allah telah muncul / tampak membawa keselamatan kepada orang-orang dari semua kelompok-kelompok dan golongan-golongan yang bermacam-macam ini. ‘Semua orang’ di sini dalam ay 11 = ‘kita’ dalam ay 12. Kasih karunia tidak mem-by-pass / melewati yang tua karena mereka tua, atau perempuan karena mereka adalah perempuan, atau hamba karena mereka adalah semata-mata hamba, dsb. Itu menyingsing kepada semua, tak tergantung pada usia, jenis kelamin, ataupun kedudukan sosial. Jadi, tak seorangpun bisa mendapatkan, dari kelompok atau kasta / golongan khusus dimana mereka termasuk, suatu alasan untuk tidak menjalani suatu kehidupan Kristen].

Tit 2:1-12 - “(1) Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: (2) Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. (3) Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik (4) dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, (5) hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. (6) Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal (7) dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, (8) sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. (9) Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, (10) jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita. (11) Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. (12) Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”.

 

h)            Pembahasan Ibr 2:9.

Ibr 2:9 - Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

KJV: ‘he ... should taste death for every man’ (= Ia ... merasakan / mengecap kematian untuk setiap orang).

 

Penafsiran Arminian tentang Ibr 2:9 ini.

 

1.      Penafsiran Adam Clarke.

Adam Clarke: “It was a custom in ancient times to take off criminals by making them drink a cup of poison. ... The reference in the text seems to point out the whole human race as being accused, tried, found guilty, and condemned, each having his own poisoned cup to drink; and Jesus, the wonderful Jesus, takes the cup out of the hand of each, and cheerfully and with alacrity drinks off the dregs! Thus having drunk every man’s poisoned cup, he tasted that death which they must have endured, had not their cup been drunk by another” (= Merupakan kebiasaan pada jaman kuno untuk membunuh para kriminil dengan memaksa mereka meminum secawan racun. ... Referensi dalam text ini kelihatannya menunjuk seluruh umat manusia sebagai orang-orang yang dituduh, diadili, dinyatakan bersalah, dan dijatuhi hukuman, masing-masing mempunyai cawan racunnya sendiri untuk diminum; dan Yesus, Yesus yang luar biasa, mengambil cawan itu dari tangan masing-masing, dan dengan gembira dan rela meminum sampah / ampas tersebut! Demikianlah setelah meminum cawan beracun dari setiap orang, Ia merasakan kematian yang harus mereka alami, seandainya cawan mereka tidak diminum oleh orang lain) - hal 697.

 

Clarke lalu mambandingkan cawan beracun ini dengan cawan dalam Mat 26:39 - “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’”.

 

Dan Clarke lalu mengatakan lagi: “But without his drinking it, the salvation of the world would have been impossible; and therefore he cheerfully drank it in the place of every human soul, and thus made atonement for the sin of the whole world (= Tetapi jika Ia tidak meminumnya, keselamatan dari dunia adalah mustahil; dan karena itu Ia dengan gembira meminumnya untuk menggantikan setiap jiwa manusia, dan dengan demikian membuat penebusan untuk dosa seluruh dunia) - hal 697.

 

Ada 2 hal yang perlu diberikan sebagai komentar tentang kata-kata Clarke ini:

a. Clarke terlalu gegabah dan terlalu cepat dalam mengatakan bahwa text ini menunjuk kepada seluruh umat manusia. Ia sama sekali tidak memperhatikan kontext, seperti yang dilakukan oleh para penafsir Reformed di bawah.

b. Kalau memang cawan beracun, yang merupakan hukuman dosa setiap orang / seluruh umat manusia itu, sudah diminum oleh Kristus, mengapa masih ada orang yang akhirnya harus masuk neraka? Cawan beracun mana lagi yang harus mereka minum?

 

2.      Penafsiran Albert Barnes.

Barnes’ Notes: “‘For every man.’ For all - uper pantoV - for each and all - whether Jew or Gentile, bond or free, high or low, elect or non-elect. How could words affirm more clearly, that the atonement made by the Lord Jesus was unlimited in its nature and design? How can we express that idea in more clear or intelligible language? That this refers to the atonement is evident - for it says that he ‘tasted death’ for them. The friends of the doctrine of general atonement do not desire any other than Scripture language in which to express their belief. It expresses it exactly - without any need of modification or explanation. The advocates of the doctrine of limited atonement cannot thus use Scripture language to express their belief. They cannot incorporate it with their creeds, that the Lord Jesus ‘tasted death for every man.’ They are compelled to modify it, to limit it, to explain it, in order to prevent error and misconceptions. But that system cannot be true which requires men to shape and modify the plain language of the Bible, in order to keep men from error!” [= ‘Untuk setiap orang’. Untuk semua - uper pantoV - untuk setiap dan semua orang - baik Yahudi maupun non Yahudi, budak atau orang merdeka, tinggi atau rendah, pilihan dan non pilihan. Bagaimana kata-kata bisa menegaskannya dengan lebih jelas, bahwa penebusan yang dibuat oleh Tuhan Yesus adalah tak terbatas dalam sifatnya dan rencana / tujuannya? Bagaimana kita bisa menyatakan gagasan itu dalam bahasa yang lebih jelas / bisa dimengerti? Bahwa text ini menunjuk pada penebusan adalah jelas - karena text ini mengatakan bahwa Ia ‘merasakan kematian’ untuk mereka. Teman-teman dari doktrin penebusan umum (tak terbatas) tidak menginginkan apapun selain bahasa Kitab Suci untuk menyatakan kepercayaan mereka. Text itu menyatakannya secara persis / tepat - dengan tidak membutuhkan modifikasi / perubahan atau penjelasan. Para pendukung dari doktrin penebusan terbatas tidak bisa menggunakan bahasa Kitab Suci seperti itu untuk menyatakan kepercayaan mereka. Mereka tidak bisa memasukkannya ke dalam credo / pengakuan iman mereka, bahwa Tuhan Yesus ‘merasakan kematian untuk setiap orang’. Mereka terpaksa memodifikasinya, membatasinya, menjelaskannya, untuk mencegah kesalahan dan kesalah-pahaman. Tetapi sistim yang mengharuskan orang untuk membentuk dan memodifikasi bahasa yang jelas dari Alkitab untuk mencegah manusia dari kesalahan, tidak mungkin benar] - hal 1238.

 

Tanggapan saya:

Ini lagi-lagi merupakan suatu ucapan bodoh dari orang yang mau menerima Kitab Suci apa adanya. Kalau memang Kitab Suci harus selalu diterima apa adanya, untuk apa Albert Barnes sendiri menulis buku tafsiran? Memang ada ayat-ayat Kitab Suci yang harus dimengerti apa adanya, tetapi juga ada banyak ayat Kitab Suci yang tidak bisa diterima apa adanya, tetapi harus ditafsirkan sambil memperhatikan kontext atau ayat-ayat lain dari Kitab Suci, dan ayat-ayat yang termasuk golongan kedua ini tentu saja tidak bisa dimasukkan begitu saja ke dalam credo / pengakuan iman.

Misalnya: Yoh 14:28b, dimana Yesus berkata: ‘Bapa lebih besar dari pada Aku’. Siapa yang mau menerima kata-kata ini apa adanya dan memasukkan ke dalam credo / pengakuan imannya, selain dari orang-orang sesat seperti Saksi Yehuwa / Unitarian?

Bahkan Yoh 10:30 yang menunjukkan kesatuan Yesus dengan Bapa, ataupun Fil 2:6 yang menunjukkan kesetaraan Yesus dengan Allah, tidak bisa dimasukkan begitu saja ke dalam credo tanpa penjelasan apa-apa.

Bandingkan dengan kata-kata dalam pengakuan Iman Athanasius, no 31: “Equal to the Father in respect to his divinity, less than the Father in respect to his humanity (= Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya).

 

Bandingkan juga dengan 2 text di bawah ini, yang jelas menunjukkan bahwa Kitab Suci membutuhkan penjelasan yang baik untuk bisa dimengerti dengan benar.

·               Neh 8:9 - “Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.

·               2Pet 3:15b-16 - “(15b) ... Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. (16) Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain”.

 

Penafsiran Reformed tentang Ibr 2:9 ini.

 

1.      Penjelasan John Owen.

 

a. Dalam Kitab Suci, kata-kata ‘semua manusia’ atau ‘setiap orang’ sering digunakan dalam arti terbatas.

John Owen: “The whole question is, who these ‘all’ are, whether all men universally, or only all those of whom the apostle there treateth. That this expression, ‘every man’, is commonly in the Scripture used to signify men under some restriction, cannot be denied” (= Pertanyaannya adalah: siapa ‘semua orang’ ini, apakah itu adalah semua manusia secara universal, atau hanya mereka yang sedang dibahas oleh sang rasul di sini. Bahwa ungkapan ‘setiap orang’ ini sering digunakan dalam Kitab Suci untuk menunjuk kepada orang-orang dalam batasan tertentu, tidak bisa disangkal) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 349.

Owen memberi contoh:

·               Kol 1:28 - Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.

·               1Kor 12:7 - Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.

Dalam kedua ayat di atas ini, jelas bahwa kata-kata ‘tiap-tiap orang’ tidak mungkin berarti ‘semua dan setiap orang di seluruh dunia’.

 

b. Kristus jelas hanya merasakan kematian untuk orang-orang pilihan.

John Owen: “‘To taste death’, being to drink up the cup due to sinners, certainly for whomsoever our Saviour did taste of it, he left not one drop for them to drink after him; he tasted or underwent death in their stead, that the cup might pass from them which passed not from him. Now, the cup of death passeth only from the elect, from believers; for whomsoever our Saviour tasted death, he swallowed it up into victory” (= ‘Merasakan kematian’, meminum cawan yang seharusnya untuk orang-orang berdosa, tentu untuk siapapun Juruselamat kita merasakannya, Ia tidak meninggalkan setetespun untuk mereka untuk diminum setelah Dia meminumnya; Ia merasakan atau mengalami kematian di tempat mereka, supaya cawan itu berlalu dari mereka tetapi tidak berlalu dari Dia. Nah, cawan kematian berlalu hanya dari orang-orang pilihan, dari orang-orang percaya; untuk siapapun Juruselamat kita merasakan kematian, Ia menelannya habis ke dalam kemenangan!) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 349-350.

 

c. Penulis surat Ibrani ini menuliskan suratnya untuk orang-orang Yahudi, yang menganggap bahwa penebusan Yesus hanya dimaksudkan untuk bangsa Yahudi. Untuk itulah penulis surat Ibrani mengatakan bahwa ‘Yesus merasakan kematian untuk semua orang’, maksudnya bukan hanya untuk orang Yahudi tetapi juga untuk orang non Yahudi.

John Owen: “We see an evident appearing cause that should move the apostle here to call those for whom Christ died ‘all,’ - namely, because he wrote to the Hebrews, who were deeply tainted with an erroneous persuasion that all the benefits purchased by Messiah belonged alone to men of their nation, excluding all others; to root out which pernicious opinion, it behoved the apostle to mention the extent of free grace under the gospel, and to hold out a universality of God’s elect throughout the world” (= Kita melihat penyebab yang jelas yang menggerakkan sang rasul di sini menyebut mereka untuk siapa Kristus mati dengan istilah ‘semua’, yaitu karena ia menulis kepada orang-orang Ibrani / Yahudi, yang mempunyai kepercayaan yang salah bahwa semua manfaat yang dibeli oleh Mesias hanya menjadi milik dari bangsa mereka, dengan membuang semua bangsa lain. Untuk mencabut pandangan yang jahat / merusak ini, adalah perlu bahwa sang rasul menyebutkan luasnya kasih karunia cuma-cuma di bawah injil, dan bersikeras tentang keuniversalan dari orang-orang pilihan Allah di seluruh dunia) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 350.

 

d. Kontext menunjukkan bahwa kata-kata ‘semua manusia’ atau ‘setiap orang’ di sini menunjuk hanya kepada orang-orang percaya / pilihan (Owen, hal 350).

Ibr 2:9-15 - “(9) Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. (10) Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah - yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan -, yaitu Allah yang membawa banyak orang [KJV/RSV/NIV/NASB: ‘many sons’ (= banyak anak-anak)] kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. (11) Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, (12) kataNya: ‘Aku akan memberitakan namaMu kepada saudara-saudaraKu, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,’ (13) dan lagi: ‘Aku akan menaruh kepercayaan kepadaNya,’ dan lagi: ‘Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepadaKu.’ (14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

Kata-kata yang digaris-bawahi itu jelas tidak menunjuk kepada ‘semua orang di dunia ini’, tetapi menunjuk kepada ‘orang-orang pilihan / orang-orang percaya’ saja.

 

2.      Penjelasan Arthur W. Pink.

Ibr 2:9b - Ia mengalami maut bagi semua manusia.

KJV: ‘he ... should taste death for every man (= Ia ... merasakan / mengecap kematian untuk setiap orang).

Arthur W. Pink mengatakan bahwa sebetulnya dalam bahasa Yunaninya tidak ada kata ‘manusia’. Jadi terjemahannya seharusnya adalah ‘Ia mengalami maut bagi setiap ...’.

Arthur W. Pink: “There is no word whatever in the Greek corresponding to ‘man’ in our English version. In the Greek it is left in the abstract - ‘He tasted death for every.’” (= Tidak ada kata apapun dalam bahasa Yunaninya yang sesuai dengan kata ‘manusia’ dalam versi bahasa Inggris kita. Dalam bahasa Yunani itu dibiarkan dalam keadaan abstrak - ‘Ia merasakan kematian untuk setiap’) - ‘The Sovereignty of God’, hal 67.

Dan Arthur W. Pink mengatakan bahwa kata-kata selanjutnya, yaitu Ibr 2:10, harus digunakan untuk menjelaskan bagian terakhir dari Ibr 2:9 itu. Dan Ibr 2:10 berbunyi sebagai berikut: Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah - yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan -, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan”.

Kata ‘orang’ yang saya garis bawahi merupakan terjemahan yang salah. KJV/RSV/NIV/NASB menterjemahkan ‘sons’ (= anak-anak), karena kata Yunani yang dipakai adalah HUIOUS yang artinya memang adalah ‘sons’ (= anak-anak).

 

A. W. Pink lalu mengatakan (hal 67) bahwa di sini terjadi suatu ellipsis (= penghapusan suatu kata yang sebetulnya dibutuhkan untuk pengertian kalimat itu, tetapi bisa dimengerti dari kontextnya). Dan kata itu adalah ‘sons’ (= anak-anak). Jadi, kata ‘anak-anak’ seharusnya disuplai ke dalam ayat itu tetapi ditulis dengan huruf miring (untuk menandakan bahwa dalam bahasa aslinya kata itu tidak ada).

 

A. W. Pink menambahkan lagi: “Thus instead of teaching the unlimited design of Christ’s death, Heb. 2:9-10 is in perfect accord with the other scriptures we have quoted which sets forth the restricted purpose in the Atonement: it was for the ‘sons’ and not the human race our Lord ‘tasted death.’” (= Karena itu Ibr 2:9-10 bukannya mengajarkan rencana / tujuan yang tak terbatas dari kematian Kristus, tetapi sesuai secara sempurna dengan ayat-ayat Kitab Suci lain yang telah kami kutip, yang menyatakan tujuan yang terbatas dalam penebusan: adalah untuk ‘anak-anak’ dan bukannya untuk seluruh umat manusia Tuhan kita ‘merasakan kematian’) - ‘The Sovereignty of God’, hal 67.

 

Arthur W. Pink: ‘But we see Jesus, who was made a little lower than the angels for the suffering of death, crowned with glory and honor; that He by the grace of God should taste death for every man’ (Hebrews 2:9). This passage need not detain us long. A false doctrine has been erected here on a false translation. There is no word whatever in the Greek corresponding to ‘man’ in our English version. In the Greek it is left in the abstract - ‘He tasted death for every.’ The Revised Version has correctly omitted ‘man’ from the text, but has wrongly inserted it in italics. Others suppose the word ‘thing’ should be supplied - ‘He tasted death for every thing’ - but this, too, we deem a mistake. It seems to us that the words which immediately follow explain our text: ‘For it became Him, for whom are all things, and by whom are all things, in bringing many sons unto glory, to make the captain of their salvation perfect through sufferings.’ It is of ‘sons’ the apostle is here writing, and we suggest an ellipsis of ‘son’ - thus: ‘He tasted death for every’ - and supply son in italics. Thus instead of teaching the unlimited design of Christ’s death, Hebrews 2:9, 10 is in perfect accord with the other Scriptures we have quoted which set forth the restricted purpose in the Atonement: it was for the ‘sons’ and not the human race our Lord ‘tasted death’ - ‘The Sovereignty of God’ (AGES), hal 63-64.

Catatan: kutipan dari A. W. Pink ini tidak saya terjemahkan karena intinya sudah saya berikan di atas.

 

i)            Pembahasan 2Pet 3:9.

Tentang 2Pet 3:9 - “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

 

Ayat ini biasanya lebih sering digunakan untuk menentang doktrin tentang Predestinasi, tetapi kadang-kadang / bisa juga digunakan untuk menyerang doktrin tentang Limited Atonement (= Penebusan Terbatas) ini.

 

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dan diartikan dengan benar tentang ayat ini, yaitu:

·              kata ‘menghendaki’.

·              kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua orang’.

 

Kalau ‘kehendak’ di sini diartikan sebagai kehendak / rencana Allah yang kekal yang tidak mungkin gagal (Ayub 42:2b), dan kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua orang’ diartikan ‘semua orang secara mutlak’, maka ayat ini akan mengajarkan Universalisme (= ajaran yang mengatakan bahwa akhirnya semua orang akan selamat), yang jelas merupakan ajaran sesat, dan yang jelas ditentang baik oleh Arminianisme maupun Reformed / Calvinisme.

 

Untuk menghindari ajaran Universalisme ini, ada 2 cara untuk menafsirkan 2Pet 3:9 ini:

 

1.   Kata ‘menghendaki’ ditafsirkan ‘mengingini’ atau diartikan sebagai ‘kehendak yang bisa tidak terjadi’; sedangkan kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua / semua orang’ diartikan secara mutlak.

 

Barnes’ Notes: “‘Not willing that any should perish.’ That is, he does not desire it or wish it. His nature is benevolent, and he sincerely desires the eternal happiness of all, ... the passage does not refer to what God will do as the final Judge of mankind, but to what are his feelings and desire now towards men. ... it would be agreeable to the nature of God, and to his arrangements in the plan of salvation, if all men should come to repentance, and accept the offers of mercy; ... since it is in accordance with his nature that he should desire that all men may be saved; it may be presumed that he has made an arrangement by which it is possible that they should be” (= ‘Tidak menghendaki siapapun untuk binasa’. Yaitu, Ia tidak menginginkannya atau mengharapkannya. SifatNya adalah penuh kebaikan, dan Ia dengan sungguh-sungguh menginginkan kebahagiaan kekal dari semua, ... text ini tidak menunjuk pada apa yang Allah akan lakukan sebagai Hakim terakhir bagi umat manusia, tetapi pada perasaanNya dan keinginanNya sekarang ini tentang manusia. ... adalah cocok dengan sifat dari Allah, dan dengan pengaturanNya dalam rencana keselamatan, jika semua orang bertobat, dan menerima tawaran belas kasihan; ... karena itu cocok dengan sifatNya bahwa Ia menginginkan supaya semua orang bisa diselamatkan; bisa dianggap bahwa Ia telah membuat suatu pengaturan / rencana yang memungkinkan mereka untuk diselamatkan) - hal 1458.

Catatan:

·                 kalau kita membandingkan kata-kata Barnes di sini dengan kata-katanya di atas (tentang Ibr 2:9), maka terlihat bahwa ia tidak konsisten dengan kata-katanya sendiri, karena di sini ia tidak menerima kata-kata Kitab Suci itu apa adanya, tetapi menafsirkannya / menjelaskannya untuk menghindari Universalisme.

·                 kata-kata Barnes yang saya beri garis bawah ganda jelas berbau ‘Universal Atonement’ (= Penebusan Universal).

 

Adam Clarke: “as he is willing that all should come to repentance, consequently he has never devised nor decreed the damnation of any man, nor has he rendered it impossible for any soul to be saved, either by necessitating him to do evil, that he might die for it, or refusing him the means of recovery, without which he could not be saved” (= karena Ia menghendaki supaya semua bertobat, konsekwensinya Ia tidak pernah merencanakan ataupun menetapkan kehancuran / hukuman kekal dari siapapun, ataupun membuat mustahil bagi jiwa yang manapun untuk diselamatkan, apakah itu dilakukan dengan memastikan orang itu untuk melakukan kejahatan, supaya ia mati karenanya, atau menolak untuk memberinya cara pemulihan, tanpa hal mana ia tidak bisa diselamatkan) - hal 892.

 

Baik Barnes maupun Clarke bukan hanya menghindari Universalisme, tetapi juga mengarahkan ayat ini pada Arminianisme. Tetapi sebetulnya memungkinkan untuk mengambil tafsiran pertama ini tanpa mengarahkannya pada Arminianisme, seperti yang kelihatannya dilakukan oleh Calvin sendiri. Calvin mengatakan bahwa kehendak Allah di sini tidak menunjuk kepada rencana kekal dari Allah, tetapi menunjuk kepada kehendak Allah seperti yang dinyatakan dalam Injil, yang menawarkan keselamatan kepada semua orang.

 

Calvin: “But it may be asked, If God wishes none to perish, why is it that so many do perish? To this my answer is, that no mention is here made of the hidden purpose of God, according to which the reprobate are doomed to their own ruin, but only of his will as made known to us in the gospel. For God there stretches forth his hand without a difference to all, but lays hold only of those, to lead them to himself, whom he has chosen before the foundation of the world” [= Tetapi bisa ditanyakan: Jika Allah tidak menginginkan seorangpun untuk binasa, mengapa ada banyak yang binasa? Terhadap pertanyaan ini jawaban saya adalah bahwa di sini tidak dibicarakan tentang rencana yang tersembunyi dari Allah, yang menetapkan orang-orang yang ditentukan untuk binasa (reprobate) pada kehancuran mereka sendiri, tetapi hanya tentang kehendakNya seperti yang dinyatakan kepada kita dalam injil. Karena disana Allah mengulurkan tanganNya tanpa pembedaan kepada semua orang, tetapi hanya menangkap mereka, untuk membimbing mereka kepada diriNya sendiri, yang telah Ia pilih sebelum penciptaan dunia ini] - hal 419-420.

 

Bandingkan juga dengan:

a. Yeh 18:23 - Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?”.

b. Yeh 18:32 - Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!’”.

c. Yeh 33:11 - Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”.

 

2.   Kata ‘menghendaki’ diartikan sebagai rencana yang kekal dari Allah, tetapi kata-kata ‘jangan ada’ dan ‘semua orang’ tidak diartikan secara mutlak, tetapi diartikan sesuai dengan kontexnya.

 

Pertama-tama kita perlu untuk mengetahui terjemahan yang benar dari ayat ini.

2Pet 3:9 - “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua (orang) berbalik dan bertobat”.

Kata ‘orang’ saya letakkan dalam tanda kurung, karena sebetulnya tidak ada dalam bahasa Yunaninya.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘all’ (= semua).

 

Selanjutnya, kata-kata ‘jangan ada’ maupun ‘semua’ harus diartikan sesuai dengan kontextnya, yang membicarakan ‘kamu’ (2Pet 3:9a). Untuk menafsirkan kata ‘kamu’ ini maka:

 

a. Perlu diperhatikan bahwa Petrus menujukan suratnya ini kepada ‘mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus’ (2Pet 1:1). Ini adalah orang-orang yang sama dengan yang dikatakan ‘dianugerahi janji-janji yang berharga dan yang sangat besar’ (2Pet 1:4). Ini jelas menunjuk kepada orang-orang Kristen.

 

b. Kita harus memperhatikan kontext dari 2Pet 3 ini, dan akan terlihat bahwa ‘kamu’ ini adalah orang-orang yang:

·                 disebut dengan istilah ‘saudara-saudaraku yang kekasih’ (2Pet 3:1).

·                 dikontraskan dengan ‘pengejek-pengejek’ / ‘orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya’ dalam 2Pet 3:3, untuk siapa digunakan kata ganti orang ‘mereka / nya’.

 

2Pet 3:1-9 - “(1) Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, (2) supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. (3) Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. (4) Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatanganNya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.’ (5) Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, (6) bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. (7) Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. (8) Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. (9) Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

 

Bacaan ini memang membicarakan dan mengkontraskan 2 golongan. Mula-mula Petrus berbicara kepada golongan yang pertama, yaitu ‘saudara-saudara yang kekasih’ (ay 1), dan ia menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘mu’ (ay 1,2,3).

 

Lalu Petrus mulai berbicara tentang golongan yang kedua, yaitu ‘pengejek-pengejek’ atau ‘orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya’ (ay 3b), dan ia menggunakan kata ‘mereka’ atau ‘nya’ (ay 3b,4,5).

 

Tetapi mulai ay 8 Petrus kembali berbicara kepada ‘saudara-saudara yang kekasih’ (ay 8a), dan karena itu ia kembali menggunakan kata ‘kamu’ (ay 8,9).

Karena itu jelaslah bahwa kata-kata ‘kamu’ dan ‘semua orang’ dalam ay 9 menunjuk kepada orang kristen / orang pilihan.

 

John Owen: “The text is clear, that it is all and only the elect whom he would not have to perish” (= Textnya jelas, bahwa adalah semua dan hanya orang pilihan yang tidak Ia kehendaki untuk binasa) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 349.

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali