(Rungkut
Megah Raya Blok D No 16)
Rabu,
tgl 28 September 2011, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP:
7064-1331 / 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
Unconditional
Election
(Pemilihan tanpa syarat)
pelajaran
15 tanggal 28 September
10)Allah
hanya tahu dan memberi tahu, tidak menetapkan / memilih.
Pdt.
Jusuf B. S.:
“Biasanya sekalipun Allah mengetahui lebih dahulu,
tetapi Allah tidak mengatakan hal itu supaya tidak mempengaruhi orang tersebut. Pada
hanya beberapa kasus (tidak rutin), Allah memberi tahu lebih dahulu, itu namanya
Allah bernubuat (ini juga tindakan yang pasif, menceritakan apa yang akan
terjadi), tetapi Allah tidak menentukan lebih dahulu. Apa yang dikatakan
Allah itu sekedar karena Allah tahu lebih dahulu, bukan karena Allah menentukan
lebih dahulu, misalnya: Ribkah, ia bertanya-tanya pada Tuhan dan Tuhan memberitahukan
apa yang akan dibuat oleh kedua anak di dalam kandungan Ribkah (Kej 25:22-23). Allah
tidak menentukan atau menetapkan nasib
anak-anaknya, hanya memberitahukan apa yang memang sudah diketahui-Nya” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 41.
Ia
bahkan melanjutkan dengan menunjukkan mengapa Allah tidak mungkin menentukan
lebih dahulu nasib seseorang (hal 41-43).
Jawab:
a)
Khusus untuk menanggapi kata-kata Pdt. Jusuf B. S. ini ada 3 hal yang
ingin saya kemukakan:
1.
Kalau di sini Pdt. Jusuf B. S. mengatakan bahwa Allah tidak menentukan /
memilih, maka saya ingin ingatkan dia apa yang ia katakan dalam bukunya hal 39,
yang akan saya kutip ulang di sini:
“Di sini disebutkan bahwa Allah mengenal lebih
dahulu dan baru sesudah itu, mereka yang sudah dikenalNya terdahulu, mereka
itu juga yang ditetapkan lebih dahulu (ditentukan atau dipilih untuk ini dan
itu), dengan sangat adil. Di dalamnya sudah termasuk segala kehendak
dan perbuatan orang itu, semua ini diperhitungkan dengan teliti (1Pet 1:2a)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal
39.
Bukankah
terlihat bahwa kata-kata Pdt. Jusuf B. S. bertentangan satu sama lain? Dia
percaya ‘Allah menentukan / memilih (berdasarkan pengetahuan lebih dulu)’
atau ‘Allah sama sekali tidak menentukan / memilih’?
2.
Mengapa Pdt. Jusuf B. S. hanya melihat Kej 25:22-23 atau Ro 9:12-13?
Ini memang bisa menunjukkan seakan-akan Allah hanya memberi tahu. Tetapi kalau
Ro 9:12-13 itu dibaca mulai Ro 9:11 pasti tidak akan terlihat demikian, tetapi
sebaliknya akan terlihat bahwa Allah betul-betul melakukan pemilihan.
Ro 9:11-13
- “(11) Sebab waktu anak-anak itu belum
dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana
Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi
berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan
menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi
Yakub, tetapi membenci Esau’”.
3.
Kalau pandangan Pdt. Jusuf B. S. ini benar, mengapa lalu keluar
pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’
dalam Ro 9:14? Penjelasan Pdt. Jusuf B. S. bahwa Allah bukannya menentukan
tetapi hanya memberitahukan, sama sekali tidak memungkinkan seseorang
mempertanyakan keadilan Allah!
b)
Pengetahuan lebih dahulu menunjuk pada kepastian terjadinya hal itu, dan
ini menunjuk pada penentuan Allah.
Loraine
Boettner:
“Foreknowledge
implies certainty and certainty implies foreordination” (= Pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung
menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada
penetapan lebih dulu) - ‘The
Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44.
Robert
L. Dabney:
“If
they were certainly foreseen, their occurrence was certain; if this was certain,
then there must have been something to determine that certainty; and that
something was either God’s wise foreordination, or a blind physical fate. Let
the Arminian choose”
(= Jika hal-hal itu memang dilihat lebih dulu, maka hal-hal itu pasti terjadi;
dan jika ini pasti, maka harus ada sesuatu yang menentukan kepastian itu; dan
sesuatu itu adalah Penentuan lebih dulu yang bijaksana dari Allah atau takdir
fisik yang buta. Biarlah orang Arminian memilih) - ‘Lectures
in Systematic Theology’, hal 219.
c)
Ada banyak ayat yang menggunakan kata ‘memilih’, ‘dipilih’,
‘pilihan’, ‘ditentukan’, ‘ditetapkan’, dsb (bacalah ulang ayat-ayat
yang saya tuliskan dalam point II,A,2 di depan). Kalau saudara percaya bahwa
Allah tidak memilih / menetapkan, tetapi hanya tahu / memberi tahu, lalu
bagaimana saudara akan menafsirkan ayat-ayat itu?
Kis 13:48 - “Mendengar
itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan
firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah
untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.
Kis 22:14 - “Lalu
katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan
engkau untuk mengetahui kehendakNya, untuk melihat Yang Benar dan untuk
mendengar suara yang keluar dari mulutNya”.
Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari
semula, mereka juga ditentukanNya dari semula
untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu,
menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang
ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka
yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang
dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.
Ef 1:4-5 - “(4)
Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum
dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya.
(5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari
semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan
kerelaan kehendakNya”.
Ef 1:11 - “Aku
katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian
yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan
untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam
segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya”.
1Tes 5:9 - “Karena
Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka,
tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.
2Tes 2:12-13 - “(12)
supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka
kejahatan. (13) Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah
karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya
telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh
yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.
Yak 2:5 - “Dengarkanlah,
hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah
memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi
kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikanNya
kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?”.
d)
Kalau Allah menubuatkan sesuatu / menyatakan akan terjadinya sesuatu,
maka sebetulnya Ia memberitahukan apa yang dari semula sudah Ia tetapkan.
Ini
terlihat kalau kita membandingkan Mat 26:24 dengan ayat paralelnya yaitu
Luk 22:22.
Mat 26:24 - “Anak
Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia,
akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah
lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”.
Jadi
Mat 26:24 ini mengatakan bahwa Yesus harus pergi / mati ‘sesuai dengan yang
ada tertulis tentang Dia’. Ini jelas menunjuk pada nubuat dalam Kitab Suci
/ Perjanjian Lama tentang pengkhianatan Yudas, seperti Maz 41:10 (bdk. Yoh 13:18)
dan Zakh 11:12-13 (bdk. Mat 26:15 Mat
27:9-10).
Tetapi
sekarang perhatikan bagaimana Lukas menuliskan hal itu. Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan,
akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.
Jadi,
apa yang oleh Matius dikatakan sebagai nubuat, oleh Lukas dikatakan sebagai
ketentuan / ketetapan Allah! Jelas bahwa nubuat / pernyataan Allah tentang
akan terjadinya suatu hal tertentu merupakan pemberitahuan tentang apa yang dari
semula sudah ditetapkan oleh Allah.
Contoh-contoh
lain (dari buku ‘providence of God’):
1.
Perbandingan Kis 2:23 Kis
3:18 dan Kis 4:27-28.
Kis 2:23 - “Dia
yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan
dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.
Kis 3:18
- “Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah
difirmankanNya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya, yaitu bahwa Mesias
yang diutusNya harus menderita”.
Kis 4:27-28 - “(27)
Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus
beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang
kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah
Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.
Semua
ayat di atas ini berbicara tentang penderitaan / penyaliban yang dialami oleh
Kristus. Tetapi kalau Kis 3:18 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘menggenapi
apa yang telah difirmankannya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya’,
yang hanya menunjuk-kan bahwa hal itu terjadi karena sudah dinubuatkan, maka Kis 2:23
mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘menurut maksud dan rencana-Nya’ dan Kis 4:28 mengatakan
bahwa hal itu terjadi ‘untuk
melak-sanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa
dan kehendakMu’, yang jelas menunjukkan bahwa hal itu terjadi karena sudah
ditentukan oleh Allah dalam kekekalan.
2.
Yes 44:26a - “Akulah yang menguatkan
perkataan hamba-hambaKu dan melaksanakan keputusan-keputusan yang diberitakan
utusan-utusanKu”.
Perhatikan
bahwa apa yang diberitakan (dinubuatkan) oleh utusan-utusan Tuhan itu adalah
keputusan dari Tuhan.
3. Yes 46:10-11 - “(10)
yang memberitahukan dari mulanya hal yang
kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu
akan sampai, dan segala kehendakKu akan
Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang
melaksanakan putusanKu dari negeri yang
jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku
hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya,
maka Aku hendak melaksanakannya”.
Perhatikan
bahwa dalam Yes 46:10a dikatakan bahwa Tuhan ‘memberitahukan’,
tetapi dalam Yes 46:10b-11a dikatakan bahwa itu adalah ‘keputusanKu’,
‘kehendakKu’, dan ‘putusanKu’.
Selan-jutnya Yes 46:11b terdiri dari 2 kalimat paralel yang sebetulnya
memaksudkan hal yang sama, tetapi kalimat pertama meng-gunakan istilah ‘mengatakannya’,
yang hanya menunjukkan nubuat Allah, sedangkan kalimat kedua menggunakan istilah
‘merencana-kannya’, yang jelas menunjuk pada rencana / ketetapan
Allah.
4. Yer 4:28
- “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit
di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah
merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada
itu”.
Ayat ini baru mengatakan ‘Aku
telah mengatakannya’ dan lalu langsung
menyambungnya dengan ‘Aku telah merancangnya’.
Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengatakan sesuatu kepada nabi-nabi (yang lalu
dinubuatkan oleh para nabi itu), karena Tuhan telah merancang / merencanakannya.
5. Amos 3:7 - “Sungguh,
Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu
tanpa menyatakan keputusanNya kepada hamba-hambaNya, para nabi”.
Ayat
ini menunjukkan secara jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Tuhan kepada pada
nabi (dan lalu dinubuatkan oleh nabi-nabi itu) adalah keputusanNya [NIV: ‘his
plan’ (= rencanaNya)].
6. Rat 2:17a - “TUHAN
telah menjalankan yang dirancangkanNya, Ia melaksanakan yang difirmankanNya”.
Bagian
akhir dari ayat ini mengatakan bahwa Tuhan melaksanakan yang difirmankanNya /
dinubuatkanNya; tetapi bagian awal dari ayat ini mengatakan bahwa Tuhan
menjalankan yang dirancangkanNya. Jelas bahwa apa yang dinubuatkan adalah
apa yang dahulu telah dirancangkanNya.
7. Rat 3:37 - “Siapa
berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?”.
NIV:
‘Who
can speak and have it happen if the Lord has not decreed it’ (=
Siapa yang bisa berbicara dan membuatnya terjadi jika Tuhan tidak menetapkannya?).
Ini
jelas menunjukkan bahwa tidak ada nabi atau siapapun juga yang bisa menubuatkan
apapun kecuali Tuhan lebih dulu menetapkan hal itu.
8. Yes 28:22b - “sebab
kudengar tentang kebinasaan yang sudah pasti yang datang dari Tuhan ALLAH
semesta alam atas seluruh negeri itu”.
NIV:
‘The
Lord, the LORD Almighty, has told me of the destruction decreed against
the whole land’ (= Tuhan, TUHAN yang mahakuasa, telah memberitahu aku
tentang kehancuran yang telah ditetapkan terhadap seluruh negeri itu).
Ini
jelas menunjukkan bahwa kehancuran yang oleh Tuhan diberitahukan kepada Yesaya,
dan lalu dinubuatkan oleh Yesaya, merupakan ketetapan Allah (decree
of God).
Jadi,
kalau dalam Kitab Suci dinubuatkan sesuatu, itu tidak sekedar berarti bahwa
Allah hanya tahu lebih dulu bahwa hal itu akan terjadi (foreknowledge) dan lalu memberitahukan hal itu kepada manusia,
tetapi itu berarti bahwa Allah sudah menetapkan lebih dulu akan hal itu (foreordination)
dan lalu memberitahukan ketentuan / rencanaNya itu kepada manusia! Dengan
demikian jelas bahwa ayat-ayat diatas yang seakan-akan hanya memberitahukan
akan adanya dosa-dosa tertentu, sebetulnya menunjukkan bahwa dosa-dosa
tertentu itu sudah ditetapkan dan karenanya harus terjadi!
Kesimpulan:
1.
Penyerang-penyerang doktrin Predestinasi tidak mempunyai dasar Kitab Suci
yang kuat.
Kalau
saudara memperhatikan 10 serangan terhadap Predestinasi yang sudah kita bahas di
atas dengan seksama, maka bisa terlihat bahwa sebetulnya serangan-serangan ini tidak
mempunyai dasar Kitab Suci yang kuat. Berbeda dengan serangan terhadap Limited
Atonement (= Penebusan Terbatas) dan Perseverance
of the Saints (= Ketekunan orang-orang kudus), yang memang mempunyai banyak
ayat Kitab Suci sebagai dasar (sekalipun tetap saja penafsirannya salah), maka
serangan terhadap Predestinasi, tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang kuat.
Sebaliknya doktrin Predestinasi itu sendiri mempunyai dasar Kitab Suci yang luar
biasa banyaknya dan kuatnya. Karena itu tepatlah komentar Loraine Boettner di
bawah ini:
“Although
this doctrine is harsh, it is, nevertheless, Scriptural. And since it is so
plainly taught in Scripture, we can assign no reason for the opposition which it
has met other than the pure ignorance and unreasoned prejudice with which
men’s mind have been filled when they come to study it” (= Sekalipun doktrin ini keras, tetapi doktrin ini
alkitabiah. Dan karena doktrin ini diajarkan dengan begitu jelas dalam Kitab
Suci, kami tidak bisa memberikan alasan untuk oposisi yang ditemui oleh doktrin
ini kecuali ketidaktahuan / kebodohan yang murni
dan prasangka yang tak beralasan dengan mana pikiran
manusia telah diisi pada waktu mereka mempelajari doktrin ini) - ‘The
Reformed Doctrine of Predestination’, hal 112.
Saya
sangat setuju dengan kata-kata Loraine Boettner ini. Saya berpendapat bahwa
kebanyakan orang yang menentang Predestinasi mempelajari Predestinasi dengan
pikiran yang sudah mempunyai prasangka buruk terhadap Predestinasi. Dengan kata
lain, mereka mempelajari doktrin Predestinasi dengan suatu keyakinan bahwa
Predestinasi itu salah / sesat, padahal keyakinan itu tidak berdasar pada Kitab
Suci, tetapi hanya pada perasaan / pikiran mereka saja!
Loraine
Boettner lalu mengutip kata-kata Rice sebagai berikut:
“In
their presumption they have sought to comprehend ‘the deep things of God,’
and have interpreted the Scriptures, not according to their obvious meaning, but
according to the decisions of their finite mind” (= Dalam kesombongan / kelancangan mereka mereka
berusaha mengerti ‘hal-hal yang dalam dari Allah’ dan telah menafsirkan
Kitab Suci, bukan menurut artinya yang jelas, tetapi menurut keputusan dari
pikiran mereka yang terbatas)
- ‘The Reformed Doctrine of
Predestination’, hal 112-113.
2.
Sekalipun doktrin Predestinasi memang mempunyai problem / kesukaran yang
tidak bisa dijelaskan secara tuntas, tetapi orang yang menolak doktrin ini
mempunyai problem / kesukaran yang jauh lebih besar.
Jerom
Zanchius:
“I
grant that the twin doctrines of predestination and providence are not without
their difficulties, but the denial of them is attended with ten thousand times
more and greater. The difficulties on one side are but as dust upon the balance,
those on the other as mountains in the scale” (= Saya mengakui bahwa doktrin kembar tentang
Predestinasi dan Providence bukan tanpa kesukaran, tetapi penyangkalan terhadap
mereka diikuti oleh problem yang 10.000 x lebih banyak dan lebih besar. Pada
timbangan, kesukaran-kesukaran pada pihak yang satu hanyalah seperti debu,
sedangkan kesukaran-kesukaran pada pihak yang lain seperti gunung)
- Jerom Zanchius, ‘The Doctrine of
Absolute Predestination’, hal 25.
Sebagai contoh, orang yang menolak Predestinasi pasti
akan mendapat problem yang luar biasa dengan puluhan ayat Kitab Suci dan
dasar-dasar lain tentang Predestinasi yang sudah saya berikan dalam point II,
A, B di depan. Saya menantang siapapun, termasuk Pdt. Jusuf B. S., untuk
menjelaskan ayat-ayat dan dasar-dasar itu dari sudut Arminianisme!
Tetapi
ada satu hal yang perlu diingat, yaitu bahwa ada orang-orang Arminian, bisa
melihat debu atau selumbar di mata orang-orang Calvinist, tetapi tidak melihat
gunung atau balok di pelupuk matanya sendiri. Bandingkan dengan Mat 7:3-5 yang
berbunyi:
“(3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata
saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4)
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan
selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5) Hai orang
munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan
jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”.
Ini
yang menyebabkan mereka bisa mempunyai pandangan yang begitu merendahkan
terhadap Calvin / Calvinisme.
VI)
Serangan balik.
1) Menolak Predestinasi menunjukkan kesombongan manusia.
Penolakan
terhadap doktrin Predestinasi, sama dengan penolakan terhadap doktrin Total
Depravity, merupakan wujud kesombongan manusia. Mengapa demikian? Karena
pandangan yang mengatakan bahwa segala sesuatu tergantung ketetapan Allah,
sangat merendahkan manusia, karena manusia menjadi seperti tidak ada apa-apanya.
Orang yang sombong akan merasa sangat terpukul harga dirinya oleh doktrin ini,
dan karena itu manusia mempunyai kecenderungan menolak doktrin ini.
Loraine
Boettner:
“In
the Calvinistic system it is God alone who chooses those who are to be the heirs
of heaven, those with whom He will share His riches in glory; while in the
Arminian system it is, in the ultimate analysis, man who determines this, - a
principle somewhat lacking in humility to say the least” (= Dalam sistim Calvinis,
hanya Allah sendiri yang memilih mereka yang akan menjadi ahli waris surga,
mereka dengan siapa Ia akan membagikan kekayaanNya dalam kemuliaan; sedangkan dalam
sistim Arminian, dalam analisa yang terakhir, manusialah yang menetapkan hal ini,
- suatu prinsip yang sedikitnya kekurangan kerendahan
hati)
- ‘The Reformed Doctrine of
Predestination’, hal 96.
2) Orang yang menolak Predestinasi harus menjadi atheis.
R.
C. Sproul menceritakan dalam bukunya bahwa suatu kali ia mengajar dengan
menggunakan Westminster Confession of
Faith, pasal III, no 1a yang menyatakan bahwa Allah menetapkan semua yang
akan terjadi. Lalu ia bertanya: ‘Siapa yang tidak percaya kata-kata itu?’
Banyak mahasiswa yang mengangkat tangannya. Ia bertanya lagi: ‘Apakah ada
atheis di ruangan ini?’ Tidak ada tangan yang diangkat. Lalu R. C. Sproul
berkata: ‘Orang yang mengangkat tangannya pada pertanyaan pertama seharusnya
juga mengangkat tangannya pada pertanyaan kedua’. Mengapa demikian?
R.
C. Sproul:
“That
God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of
his sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his
permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He
decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. ... To say
that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is
sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from
his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his
sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened
anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power
than God himself. If there is any part of creation outside of God’s
sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God
is not God. ... Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine
sovereignty then we must embrace atheism”
(= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan
akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. ... segala
sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia
mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia
memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya.
... Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah
sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika
ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang
terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk
mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal
itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika
ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak
berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. ...
Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah
Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme)
- ‘Chosen By God’, hal 26-27
Jerom
Zanchius juga memberikan kesimpulan yang sama dengan mengatakan bahwa:
“Arminianism,
therefore is atheism”
(= Karena itu, Arminianisme adalah atheisme) - ‘The
Doctrine of Absolute Predestination’, hal 24.
VII) Sikap
salah terhadap Predestinasi.
1)
Rasa ingin tahu siapa yang adalah orang pilihan, dan siapa yang adalah
orang yang bukan pilihan.
Calvin:
“Human
curiosity renders the discussion of predestination, already somewhat difficult
of itself, very confusing and even dangerous”
(= Keingintahuan manusia membuat diskusi tentang predestinasi, yang sudah
merupakan sesuatu yang sukar, menjadi sangat membingungkan, dan bahkan
berbahaya) - ‘Institutes of the Christian
Religion’, Book III, Chapter XXI, no1.
2)
Menebak-nebak.
Ini
bisa terjadi kalau kita melihat orang yang sangat jahat atau yang anti kristen,
dimana kita lalu menganggap bahwa orang itu pasti ditetapkan untuk binasa,
sehingga kita tidak mendoakannya ataupun berusaha untuk memberitakan Injil
kepadanya.
Atau
kalau kita memberitakan Injil kepada seseorang, tetapi mendapatkan reaksi yang
negatif, maka kita lalu menganggap bahwa orang itu adalah orang yang ditetapkan
untuk binasa, dan kita lalu berhenti memberitakan Injil ataupun mendoakan orang
itu. Ini jelas adalah sikap yang salah, karena kalaupun seseorang sudah didoakan
selama 10 tahun dan diinjili 1000 x dan ia selalu menolak Yesus, belum tentu ia
adalah orang yang ditetapkan untuk binasa. Siapa tahu ia akan bertobat kalau
saja saudara bertekun sebentar lagi dalam mendoakan maupun menginjilinya? Sebelum
seseorang mati tanpa percaya kepada Kristus, kita tidak mempunyai hak untuk
berkata bahwa ia adalah orang yang ditetapkan untuk binasa!
3)
Sikap diam / tidak berani mengajarkan doktrin ini.
Karena
doktrin ini memang bersifat kontroversial / menimbulkan pertanyaan / serangan /
perdebatan, maka banyak orang Reformed / Calvinist memilih untuk tidak
mengajarkan doktrin ini. Mungkin mereka takut tidak bisa menjawab pertanyaan /
serangan yang diajukan. Tetapi ini jelas adalah sikap yang salah. Orang Reformed
/ Calvinist yang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang doktrin ini, harus
belajar lebih banyak dan lebih mendalam, sehingga lebih menguasai doktrin ini
dan bisa menjawab pertanyaan / serangan.
Tentang
orang Reformed / Calvinist yang tidak berani mengajarkan doktrin ini, Calvin
berkata:
“They
who shut the gates that no one may dare seek a taste of this doctrine wrong men
no less than God”
(= Mereka yang menutup pintu sehingga tak ada yang berani mencicipi doktrin ini,
menyalahi baik manusia maupun Allah) - ‘Institutes
of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 1.
Calvin:
“Profane
men, I admit, in the matter of predestination abruptly seize upon something to
carp, rail, bark, or scoff at. But if their shamelessness deters us, we shall
have to keep secret the chief doctrines of the faith, almost none of which they
or their like leave untouched by blasphemy. ... God’s truth is so powerful,
both in this respect and in every other, that it has nothing to fear from the
evilspeaking of wicked men”
(= Saya mengakui bahwa dalam persoalan predestinasi, orang dunia / yang tidak
kudus dengan kasar mencari kesalahan, menista / mencemooh, menyalak /
menggonggong, atau mengejek. Tetapi jika ketidak-tahu-maluan mereka menghalangi
kita, kita akan harus merahasiakan doktrin-doktrin utama tentang iman, karena
hampir tidak ada dari doktrin-doktrin itu yang tidak disentuh oleh hujatan. ...
kebenaran Allah begitu berkuasa, baik dalam persoalan ini maupun yang lain,
sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan menghadapi omongan jahat dari orang
jahat) -
‘Institutes of the Christian Religion’,
Book III, Chapter XXI, no 4.
VIII) Mengapa
doktrin Predestinasi ini diajarkan?
1)
Doktrin Predestinasi harus diajarkan karena ini adalah kebenaran.
Charles
Haddon Spurgeon:
“Why
preach upon so profound a doctrine as election? I answer, because it is in
God’s word, and whatever is in the Word of God is to be preached” (= Mengapa berkhotbah tentang doktrin yang begitu
mendalam seperti pemilihan? Saya menjawab, karena itu ada dalam Firman Allah,
dan apapun yang ada dalam Firman Allah harus dikhotbahkan)
- ‘Spurgeon’s Expository
Encyclopedia’, vol 7, hal 9.
Spurgeon
juga berkata bahwa banyak orang pada waktu membaca Kitab Suci bertemu dengan
doktrin ini, tetapi tidak mengerti dan bingung tentang doktrin ini dan bahkan
membuat kesalahan dengan doktrin ini. Kalau kita tidak mengajarkannya dan
membetulkan mereka, lalu siapa yang membetulkannya?
2)
Doktrin Predestinasi membuat orang menjadi rendah hati, merasa berhutang
kepada Allah, dan makin mengasihi Allah.
Berbeda
dengan orang Arminian, yang dalam kesombongannya beranggapan bahwa mereka bisa
percaya karena jasa mereka sendiri (yaitu karena mereka mau percaya), kita
sebagai orang Calvinist percaya bahwa kita bisa percaya kepada Kristus
semata-mata karena anugerah Allah melalui pemilihan. Kepercayaan dan kesadaran
ini menghancurkan semua kesombongan, dan membuat kita makin mengasihi Allah,
yang sudah memilih kita, sekalipun kita tidak lebih baik dari orang lain, yang
tidak dipilih.
Calvin:
“And
yet let not the knowledge of predestination be hindered, in order that those who
obey may not be proud as of something of their own but may glory in the Lord” (= Dan biarlah pengetahuan tentang Predestinasi
tidak dihalangi, supaya mereka yang taat tidak menjadi sombong seakan-akan
ketaatan itu adalah sesuatu dari diri mereka sendiri tetapi bisa bermegah dalam
Tuhan) -
‘Institutes of the Christian Religion’,
Book III, Chapter XXIII, no 13.
Loraine
Boettner:
“We
shall never be clearly convinced as we ought to be that our salvation flows from
the fountain of God’s free mercy, till we are acquainted with this eternal
election ... Ignorance of this principle evidently detracts from the divine
glory, and diminishes real humility”
(= Kita tidak akan pernah diyakinkan secara jelas, seperti yang seharusnya,
bahwa keselamatan mengalir dari mata air belas kasihan Allah yang cuma-cuma,
sampai kita mempelajari / mengenal pemilihan kekal ini ... Ketidaktahuan
tentang prinsip ini jelas mengurangi kemuliaan ilahi dan mengurangi kerendahan
hati yang sejati) - ‘The
Reformed Doctrine of Predestination’, hal 85.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali