Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 21 September 2011, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

http://www.golgothaministry.org

Unconditional Election

(Pemilihan tanpa syarat)

pelajaran 14 tanggal 21 September

6) Ajaran Predestinasi menimbulkan reaksi yang salah.

 

a)   Untuk orang kristen.

1.   Menyebabkan orang mudah lalai dan berani bermain-main dengan dosa (Pdt. Jusuf B. S., ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 27,29).

2.   Menyebabkan orang menganggap tidak perlu pikul salib (Pdt. Jusuf B. S., ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 32).

3.   Hilang semangat pelayanan (Pdt. Jusuf B. S., ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 35).

4.   Menyebabkan orang menjadi apatis / acuh tak acuh.

 

b)        Untuk orang non kristen.

Doktrin ini menyebabkan orang non kristen menjadi kecil hati dalam mencari Yesus / datang kepada Yesus.

 

Jawab:

 

a)   Tidak perlu disangkal bahwa doktrin Predestinasi memang bisa menimbulkan reaksi negatif dari orang kristen. Ini diakui oleh Calvin sendiri yang berkata:

“Obviously they are not completely lying, for there are many swine that pollute the doctrine of predestination with their foul blasphemy, and by this pretext evade all admonitions and reproofs” (= Jelas bahwa mereka tidak sepenuhnya berdusta, karena ada banyak babi yang mengotori doktrin predestinasi dengan hujatan mereka yang kotor, dan dengan dalih ini menghindari semua nasehat dan teguran) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 12.

 

Tetapi perhatikan komentar-komentar dari Spurgeon dan Calvin di bawah ini:

 

·               Charles Haddon Spurgeon:

“But do not men abuse the doctrine of grace? I grant you that they do; but if we destroyed everything that men misuse, we should have nothing left. Are there to be no ropes because some fools will hang themselves? (= Tetapi bukankah manusia menyalahgunakan doktrin kasih karunia? Saya mengakui bahwa mereka memang menyalahgunakannya; tetapi kalau kita menghancurkan segala sesuatu yang disalahgunakan manusia, kita tidak akan mempunyai apapun yang tersisa. Apakah tidak boleh ada tali karena beberapa orang tolol akan menggantung diri mereka sendiri?) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 9.

 

Saya sangat setuju dengan kata-kata Spurgeon ini. Memang kalau kita mau membuang semua ajaran yang disalahgunakan / ditanggapi secara salah, maka tidak ada ajaran apapun yang akan tersisa pada kita. Mengapa? Karena manusia begitu berdosa / condong kepada dosa sehingga ajaran yang bagaimanapun baiknya selalu bisa saja ditanggapi secara salah! Bahkan Injil, yang mengatakan bahwa semua dosa kita sudah dibayar oleh Kristus, bisa ditanggapi secara salah dengan terus menerus berbuat dosa. Apakah karena itu kita harus berhenti memberitakan Injil?

Dalam kutipan di atas Spurgeon juga menganalogikan dengan dunia jasmani. Apakah kita harus membuang semua tali yang ada hanya karena ada orang tolol yang menggantung dirinya sendiri? Tali, pisau, bahkan morfin sebetulnya mempunyai manfaat yang sangat besar, dan hanya karena ada orang-orang yang menyalahgunakannya, tidak berarti bahwa kita harus membuang semua hal itu. Kalau ini berlaku dalam hal jasmani, maka ini berlaku juga dalam hal rohani / ajaran.

 

·               Charles Haddon Spurgeon:

“I know that some men who have embraced the doctrine of election have become Antinomians; such men would probably have found other excuses for their misdeeds if they had not sheltered themselves under the shadow of this doctrine” [= Saya tahu bahwa beberapa orang yang mempercayai doktrin pemilihan telah menjadi Antinomian (= orang yang anti hukum, sehingga lalu hidup seenaknya); orang-orang seperti itu mungkin akan menemukan alasan-alasan yang lain untuk kelakuan buruk mereka jika mereka tidak berlindung di bawah bayang-bayang doktrin ini] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 9.

 

Saya berpendapat bahwa kata-kata Spurgeon ini sangat tepat. Orang yang menggunakan doktrin Predestinasi sebagai alasan untuk hidup dalam dosa, jelas adalah orang yang kurang ajar, sehingga andaikatapun doktrin Predestinasi ini tidak ada, kekurang-ajaran mereka pasti akan menemukan hal lain yang bisa dijadikan alasan untuk hidup dalam dosa!

 

·               Charles Haddon Spurgeon:

“in Scotland you will scarcely find a congregation of Hyper-Calvinists, the simple reason being that the Church in Scotland holds entire the whole doctrine upon this matter, and her ministers as a rule, are not ashamed to preach it fearlessly and boldly, and in connection with the rest of the faith” (= di Skotlandia engkau hampir tidak akan menemukan sebuah jemaat Hyper-Calvinist, alasannya adalah karena Gereja di Skotlandia memegang seluruh doktrin ini dalam persoalan ini, dan pelayan / pendetanya biasanya tidak malu mengkhotbahkannya tanpa rasa takut dan dengan berani, dan dalam hubungan dengan pelajaran iman yang lain) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

 

Saya percaya bahwa kata-kata ini benar. Kalau kita mengajarkan seluruh doktrin Predestinasi dengan benar, dan juga mengajarkan doktrin-doktrin penting lainnya secara seimbang, maka tidak akan muncul reaksi negatif, kecuali dari ‘kambing-kambing’ (orang kristen KTP) yang kurang ajar. Yang menimbulkan problem adalah kalau doktrin Predestinasi ini diajarkan sedikit-sedikit dan tidak diimbangi oleh doktrin-doktrin penting lainnya.

 

·               Calvin mengatakan bahwa sebetulnya Kitab Suci mengajarkan doktrin Predestinasi dengan suatu tujuan yang baik, yaitu supaya kita menjadi rendah hati dan lebih menghargai belas kasihan Allah. Paulus sendiri mengatakan bahwa kita dipilih supaya menjadi kudus dan tak bercacat (Ef 1:4) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 12.

 

b)  Juga tidak bisa disangkal bahwa doktrin Predestinasi bisa menimbulkan reaksi negatif dari orang non kristen.

 

Charles Haddon Spurgeon:

“It must be sorrowfully admitted that the doctrine of election has discouraged many who were seeking the Saviour, but the truth is that it ought not to do so” (= Dengan sedih harus diakui bahwa doktrin pemilihan telah mengecilkan hati banyak orang yang mencari Juruselamat, tetapi kebenarannya adalah bahwa doktrin itu tidak seharusnya berbuat demikian) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 37.

 

Charles Haddon Spurgeon:

“Some are ordained unto eternal life, and therefore believe in the Lord Jesus Christ. Does this fact discourage you? I do not see why it should. Why should not you be among that number? ‘But suppose that I am not?’ says one. Why do you not suppose that you are? You do not know anything about it: therefore why suppose at all? To give up supposing would be a far more sensible thing than to brew for yourself a deadly potion of despair out of the worthless husks of mere supposition” (= Sebagian orang ditentukan untuk hidup yang kekal, dan karena itu percaya kepada Yesus Kristus. Apakah fakta ini mengecilkan hatimu? Saya tidak melihat mengapa harus begitu. Mengapa engkau harus tidak berada di antara orang-orang yang dipilih itu? ‘Tetapi bagaimana jika aku bukan termasuk orang pilihan?’ kata seseorang. Mengapa engkau tidak menduga bahwa engkau adalah orang pilihan? Engkau tidak tahu apa-apa tentang hal itu: karena itu mengapa menduga-duga? Membuang segala dugaan adalah hal yang jauh lebih masuk akal dari pada membuat untuk dirimu sendiri suatu minuman keputusasaan yang mematikan dari sekam dugaan semata-mata yang tak berharga) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 38.

 

c)   Calvin:

“Even though discussion about predestination is likened to a dangerous sea, still, in traversing it, one finds safe and calm - I also add pleasant - sailing unless he willfully desire to endanger himself” (= Sekalipun diskusi tentang Predestinasi digambarkan seperti laut yang berbahaya, tetap, dalam melintasinya seseorang mendapatkan pelayaran yang aman dan tenang bahkan menyenangkan, kecuali mereka secara sengaja ingin membahayakan diri mereka sendiri) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, chapter XXIV, no 4.

 

d)  Adanya tanggapan negatif terhadap doktrin Predestinasi, baik dari orang kristen maupun non kristen, adalah kesalahan si penanggap, dan tidak menunjukkan bahwa doktrin Predestinasi itu yang salah.

Saya akan mengutip ulang kata-kata John Murray, yang sudah saya pernah kutip dalam pelajaran tentang Total Depravity, yang berbunyi: “But perversion does not refute the truth of the doctrine perverted” (= Tetapi penyimpangan tidak menyangkal / membuktikan salah kebenaran dari doktrin yang disimpangkan itu) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 87.

 

e)   Kebenaran harus tetap diberitakan sekalipun menimbulkan reaksi yang salah.

Kebijaksanaan mengijinkan kita untuk menunda pemberitaan doktrin Predestinasi, dengan alasan bahwa orang yang diajar itu belum cukup matang / dewasa dalam iman untuk menerima ‘makanan keras’ itu, tetapi kita tidak boleh membuang doktrin ini atau memutuskan untuk tidak akan pernah mengajarkannya.

Memang ada banyak orang yang menyatukan kebenaran dengan keuntungan. Jadi kalau menguntungkan maka kebenaran diberitakan, sedangkan kalau merugikan kebenaran tidak diberitakan atau bahkan diubah. Ini jelas merupakan politik / strategi yang tidak alkitabiah. Dalam Kitab Suci kebenaran tetap diberitakan sekalipun diketahui bahwa pemberitaannya akan menimbulkan reaksi yang negatif. Misalnya Yesaya tetap memberitakan kebenaran sekalipun Tuhan sudah mengatakan bahwa tidak ada orang Israel yang akan bertobat (Yes 6:9-10).

 

f)   Juga mesti kita pikirkan bahwa sekalipun doktrin Predestinasi bisa menimbulkan reaksi negatif, tetapi juga bisa menimbulkan reaksi positif, karena menyebabkan seseorang menjadi lebih rendah hati, dan lebih menghargai kasih karunia / belas kasihan Allah, juga menyebabkannya lebih mengasihi Allah yang sudah memilihnya sekalipun ia tidak berlayak untuk dipilih.

Mengapa kita harus kehilangan hasil positif ini hanya karena ada beberapa orang kurang ajar yang menanggapi doktrin Predestinasi ini secara salah?

 

g)  Jangan mengira bahwa hanya Calvinisme saja yang bisa ditanggapi secara salah.

 

Ajaran Arminian juga bisa menimbulkan tanggapan yang salah. Melihat penekanan perbuatan baik yang berlebihan dari ajaran Arminian yang diajarkan oleh Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty, saya yakin ada banyak jemaat mereka yang mempercayai doktrin ‘salvation by works’ (= keselamatan karena perbuatan baik) yang adalah ajaran sesat!

 

7) Penentuan binasa menunjukkan Allah itu kejam / tidak kasih.

 

Pdt. Jusuf B. S.:

“Itu bertentangan dengan sifat Allah sendiri yang kasih adanya (1Yoh 4:8). Menentukan sepihak itu sangat kejam sebab resikonya masuk Neraka kekal. Dan pasti Allah sudah tahu tentang akibat yang dahsyat ini” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 41.

 

Jawab:

 

a)   Calvin dan beberapa orang Reformed kelihatannya beranggapan bahwa ‘penetapan binasa’ dan ‘kasih Allah’ memang tidak bisa diharmoniskan, karena Kitab Suci memang hanya menyatakan kedua ajaran itu tanpa mengharmoniskannya.

 

Calvin:

“For God’s will is so much the highest rule of righteousness that whatever he wills, by the very fact that he wills it, it must be considered righteous. When, therefore, one asks why God has so done, we must reply: because he has willed it. But if you proceed further to ask why he so willed, you are seeking something greater and higher than God’s will, which cannot be found” (= Karena kehendak Allah adalah peraturan tertinggi dari kebenaran sehingga apapun yang Ia kehendaki, karena / oleh fakta bahwa Ia menghendakinya, harus dianggap sebagai benar. Karena itu, pada waktu seseorang bertanya mengapa Allah telah bertindak begitu, kita harus menjawab: karena Ia menghendakinya. Tetapi jika engkau meneruskan lebih jauh dan menanyakan mengapa Ia menghendakinya, engkau sedang mencari sesuatu yang lebih besar dan lebih tinggi dari kehendak Allah, yang tidak bisa ditemukan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 2.

 

Loraine Boettner:

“Let it be remembered that we are under no obligation to explain all the mysteries connected with these doctrines. We are only under obligation to set forth what the Scriptures teach concerning them, and to vindicate this teaching so far as possible from the objections which are alleged against it” (= Biarlah diingat bahwa kita tidak berkewajiban untuk menjelaskan semua misteri yang berkenaan dengan doktrin-doktrin ini. Kita hanya berkewajiban untuk menyatakan apa yang Kitab Suci ajarkan mengenai mereka, dan mempertahankan ajaran ini sejauh dimungkinkan dari keberatan-keberatan yang dinyatakan tanpa bukti terhadapnya) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 124.

 

William G. T. Shedd:

“Since both classes of passages come from God, he must perceive that they are consistent with each other whether man can or not. Both, then, must be accepted as eternal truth by an act of faith, by every one who believes in the inspiration of the Bible. They must be presumed to be self-consistent, whether it can be shown or not” (= Karena kedua golongan text Kitab Suci itu datang dari Allah, Ia pasti mengerti bahwa mereka konsisten satu dengan lainnya tak peduli manusia bisa mengertinya atau tidak. Jadi, keduanya harus diterima sebagai kebenaran yang kekal oleh suatu tindakan iman oleh setiap orang yang percaya pada pengilhaman Alkitab. Mereka harus dianggap sebagai konsisten, tak peduli apakah itu bisa ditunjukkan atau tidak) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 43.

 

Catatan: yang ia maksudkan dengan ‘both’ (= keduanya), adalah ayat-ayat / bagian-bagian Kitab Suci yang kelihatannya bertentangan, seperti ayat yang menunjukkan penetapan binasa dan ayat yang menunjukkan Allah itu kasih, ayat yang menunjukkan penetapan Allah dan ayat yang menunjukkan tanggung jawab manusia.

 

b)  Pertentangan tentang ‘Allah yang adalah kasih’ dan ‘masuknya orang-orang tertentu ke dalam neraka’, merupakan problem yang tidak terpecahkan bukan untuk orang Reformed / Calvinist saja, tetapi juga untuk orang Arminian. Mengapa? Karena sekalipun orang Arminian tidak percaya pada ‘penentuan binasa’, tetapi mereka percaya bahwa Allah maha tahu, sehingga pada waktu mencipta Ia tahu ada orang-orang yang akan masuk neraka. Kalau Ia memang maha kasih, lalu mengapa tetap menciptakan orang-orang itu? Jadi persoalan ini sebetulnya menyerang dan membingungkan Calvinisme dan Arminianisme secara sama kuat.

 

Loraine Boettner:

“As a matter of fact the Arminians do not escape any real difficulty here. For since they admit that God has foreknowledge of all things they must explain why He creates those who He foresees will lead sinful lives, reject the Gospel, die impenitent, and suffer eternally in hell” (= Faktanya, orang Arminian tidak lepas dari kesukaran di sini. Karena mereka mengakui bahwa Allah mempunyai pengetahuan lebih dulu dari segala sesuatu, mereka harus menjelaskan mengapa Ia menciptakan mereka yang dilihatNya lebih dulu akan menempuh kehidupan yang berdosa, menolak Injil, mati tanpa bertobat, dan menderita selama-lamanya dalam neraka) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 125.

 

Karena itu, mungkin di tempat ini kita harus mentaati kata-kata Calvin, yang dalam komentarnya tentang Ro 9:14, berkata sebagai berikut:

“Let this then be our sacred rule, to seek to know nothing concerning it, except what Scripture teaches us: when the Lord closes his holy mouth, let us also stop this way, that we may not go farther” [= Biarlah ini menjadi peraturan kudus kita, berusaha mengetahui hal itu (doktrin Predestinasi) hanya sejauh yang diajarkan oleh Kitab Suci: pada waktu Tuhan menutup mulutNya yang kudus, biarlah kita juga berhenti dan tidak pergi lebih jauh].

 

c)   Sekalipun Allah menentukan kebinasaan seseorang, pada akhirnya orang itu binasa karena kesalahan orangnya sendiri. Jadi pada waktu ia dihukum / dibinasakan, itu bukan menunjukkan kekejaman Allah tetapi keadilan Allah.

 

8) Itu bertentangan dengan tawaran Injil kepada semua orang.

 

Pdt. Jusuf B. S.:

·               “Ini adalah kabar baik, sebab siapa saja, tidak ada yang terkecuali kalau mau percaya kepada Tuhan Yesus, akan beroleh selamat yang kekal, ini betul-betul kabar baik. Kalau Allah menentukan lebih dahulu menurut kuasa dan kedaulatan-Nya sendiri, siapa yang akan selamat dan siapa yang akan binasa, itulah berita yang dahsyat, istimewa untuk orang-orang yang ditentukan akan binasa dan keluarganya ini berita celaka. Lagipula semua ayat-ayat yang menawarkan keselamatan harus diganti bukan untuk semua orang, tetapi kabar baik itu hanya untuk orang-orang tertentu saja, yang ditentukan lebih dahulu akan selamat oleh Allah. Maka ayat-ayat dalam Alkitab harus diubah dan itu akan berbunyi kira-kira seperti ini: Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal. Supaya barang siapa yang sudah ditentukan lebih dahulu oleh Allah (bukan supaya setiap orang) percaya kepadaNya dan tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 2Petrus 3:9b Karena Ia menghendaki supaya orang-orang yang sudah ditentukanNya lebih dahulu akan selamat jangan binasa (bukan: supaya jangan ada yang binasa), melainkan supaya semua orang tersebut berbalik dan bertobat (Juga Yoh 1:12, 1Tim 2:4 dll)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 17-18.

·               “Jelas sekali Allah ingin semua manusia selamat. Kalau Allah menentukan sebagian orang selamat dan sebagian orang binasa, maka ayat-ayat Firman Tuhan seperti Yoh 1:12 / 3:16 / 2Pet 3:9 / Yeh 18:23 / 33:11 dan lain-lain adalah bohong. Ini tidak betul” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 25.

·               “Itu bertentangan dengan tawaran yang sudah diberikan-Nya kepada manusia misalnya Yoh 1:12 / Yoh 3:16 dan sebagainya. Ia selalu berkata: ‘Barangsiapa yang mau percaya ...’, ‘Siapa yang mau ...’ Kalau ternyata sudah ditentukan lebih dahulu, itu berarti Allah bohong, ini tidak mungkin. Allah itu tidak kusut (1Kor 14:33), dan tidak mungkin Allah berdusta (Tit 1:2 / Ibr 6:18 / Bil 23:19)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 42.

 

Jawab:

 

a)   Adanya penentuan selamat / binasa sama sekali tidak bertentangan dengan tawaran keselamatan kepada semua orang.

Tawaran keselamatan bagi siapapun yang mau percaya kepada Yesus tetap berlaku untuk semua orang. Tetapi nanti akan terbukti bahwa hanya orang pilihan Allah yang mau percaya kepada Kristus.

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Andaikata orang yang bukan pilihan juga mau percaya, maka pasti mereka juga akan diselamatkan. Tetapi mereka tidak akan bisa dan tidak akan mau percaya! Ini kesalahan mereka, bukan kesalahan dari penawaran Injil ataupun kesalahan Allah!

Karena itu, Allah memang tidak bohong, dan ayat-ayat yang berisikan penawaran Injil kepada semua orang seperti Yoh 3:16  Yoh 1:12 dsb, tidak perlu diubah seperti yang dikatakan oleh Pdt. Jusuf B. S.

 

Ada orang yang menggambarkan keharmonisan antara Predestinasi dan tawaran Injil kepada semua orang dengan illustrasi sebagai berikut: semua manusia dihadapkan pada sebuah pintu yang di atasnya bertuliskan: ‘Barangsiapa yang percaya kepada Kristus akan selamat’. Kalau seseorang percaya dan masuk melalui pintu itu, maka pada waktu ia menoleh ke belakang, ternyata di ambang pintu bagian dalam tertulis kata-kata ‘Kamu telah dipilih sejak dunia belum dijadikan’.

 

b)  Saya akan menunjukkan kasus yang lain, dimana kalau kasus ini benar, maka Allah memang pendusta dan semua tawaran keselamatan dalam ayat-ayat seperti Yoh 3:16  Yoh 1:12 dsb harus diubah seperti kata-kata Pdt. Jusuf B. S.

Kasusnya adalah: kalau Injil ditawarkan kepada semua orang dengan janji bahwa barangsiapa yang percaya akan selamat, dan lalu ada:

1.   Orang non pilihan yang percaya, tetapi tetap tidak diselamatkan.

2.   Orang pilihan yang tidak percaya tetapi tetap diselamatkan.

Kalau kasus ini terjadi, maka Allah memang pendusta, dan ayat-ayat seperti Yoh 3:16 dan Yoh 1:12 itu memang harus diubah. Tetapi kenyataannya, seperti dinyatakan oleh Kis 13:48 di atas, kasus-kasus seperti ini tidak mungkin bisa terjadi. Orang pilihan pasti akan bertobat / percaya kepada Yesus dan karena itu lalu diselamatkan, sedangkan orang non pilihan pasti tidak akan mau bertobat / percaya kepada Yesus sehingga pasti tidak akan selamat. Ingat bahwa Predestinasi tidak mungkin gagal.

 

c)   Kita harus membedakan berita Injil dan doktrin / ajaran tentang Predestinasi!

Injil memang adalah kabar baik, karena manusia yang seharusnya semuanya dibuang ke dalam neraka, ternyata mempunyai jalan untuk bisa masuk surga, yaitu dengan percaya kepada Yesus.

Tetapi Predestinasi bukanlah Injil. Ini memang bukan kabar baik, khususnya untuk orang yang tidak dipilih. Tetapi juga mesti diperhatikan bahwa berita penetapan binasa ini tidak bisa disampaikan kepada orang yang tidak dipilih itu, karena tidak seorangpun bisa tahu bahwa seseorang itu tidak dipilih, kecuali orang itu mati tanpa percaya kepada Yesus!

 

9) Doktrin Predestinasi ini menimbulkan kebimbangan.

Pdt. Jusuf B. S.:

“Bagi orang-orang yang cinta Tuhan akan menimbulkan keragu-raguan dan kebimbangan yang sangat sewaktu jatuh dalam dosa. Mereka akan bertanya: ‘Mengapa saya berdosa lagi? Apakah saya sudah ditentukan untuk binasa, sebab ternyata gagal lagi dan berbuat dosa? ... Lebih-lebih bila pengertian rohani orang-orang ini belum cukup, ia mudah ditipu setan, jadi bimbang dan binasa! Keyakinan selamat dan gembira karena tetap selamat yang dijanjikan teori ini adalah bohong belaka, sebagian yang lain menjadi sangat bimbang dan hilang sejahtera. Justru dengan pengajaran ini orang-orang jadi ragu-ragu dan bingung sebab tidak ada orang bisa tahu apakah ia dipilih untuk selamat atau binasa. ... Justru pengajaran ini membuat orang jadi kacau tanpa pengharapan yang pasti” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 34-35.

 

Jawab:

 

a)   Saya berpendapat bahwa serangan ini betul-betul menggelikan.

 

Karena kalau kita membandingkan ajaran Calvinisme dengan Arminianisme, dan kita harus memilih ajaran mana yang menimbulkan kebimbangan, atau ajaran yang mana yang tidak mempunyai pengharapan yang pasti, maka orang yang mempunyai logika pasti akan memilih ajaran Arminian. Mengapa? Karena Arminianisme mempercayai bahwa keselamatan bisa hilang, orang bisa murtad, dsb. Kalau saudara adalah orang kristen yang mengerti betapa mengerikannya neraka itu, dan saudara sebagai seorang Arminian percaya bahwa sekalipun saat ini saudara adalah orang kristen yang sudah diselamatkan, tetapi bisa saja besok saudara murtad dan lalu masuk neraka, saya betul-betul tidak mengerti bagaimana saudara bisa tidak bingung, gelisah, takut, dsb!

 

b)  Seorang Calvinist yang sejati tidak akan bingung kalau ia jatuh ke dalam dosa. Mengapa?

 

1.   Seorang Calvinist yang sejati tidak percaya bahwa orang kristen bisa hidup suci.

 

1Yoh 1:8,10 - “(8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. ... (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita”.

 

Ini memang berbeda sekali dengan Pdt. Jusuf B. S. yang dengan Hermeneuticsnya yang kacau balau menafsirkan bahwa ada orang kristen ‘tingkat ruang maha suci’, yang tidak bisa lagi berbuat dosa! - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 52-53,67-70. Tentang ini nanti akan saya bahas lebih mendetail pada waktu membahas point ke 5 Calvinisme, yaitu Perseverance of the Saints (= ketekunan orang-orang kudus).

 

2.   Seorang Calvinist yang sejati percaya pada doktrin Total Depravity sehingga ia tahu bahwa dirinya memang brengsek, dan tanpa pertolongan Tuhan ia hanya bisa melakukan dosa, dosa dan dosa! Jadi, kejatuhannya ke dalam dosa hanya akan membuat ia lebih bersandar kepada Tuhan dalam pengudusannya.

 

3.   Seorang Calvinist yang sejati percaya bahwa betapapun seringnya ia jatuh ke dalam dosa, darah Kristus cukup untuk menghapus semua dosa itu!

Yes 1:18 - “Marilah, baiklah kita berperkara! - firman TUHAN - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

1Yoh 1:9 - “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.

1Yoh 2:1-2 - “(1) Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. (2) Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia”.

 

4.   Seorang Calvinist yang sejati percaya bahwa sekalipun ia tidak setia, Tuhan itu tetap setia.

2Tim 2:12-13 - “(12) jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita; (13) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.’”.

 

5.   Seorang Calvinist yang sejati percaya bahwa ia diselamatkan karena iman kepada Kristus, bukan karena perbuatan baiknya / ketaatannya.

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.

 

6.   Seorang Calvinist yang sejati percaya bahwa keselamatan tidak bisa hilang.

Yoh 10:27-29 - “(27) Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.

 

Semua kepercayaan ini memang tidak berarti bahwa ia lalu meremehkan dosa atau sengaja berbuat dosa. Semua orang kristen yang sejati, pasti mempunyai Roh Kudus yang mendorongnya kepada kekudusan, dan karenanya tidak akan senang berbuat dosa.

 

c)   Satu hal yang perlu saya tegaskan adalah bahwa saya adalah seorang Calvinist, dan saya juga adalah manusia berdosa yang berulangkali jatuh ke dalam dosa. Tetapi semua apa yang dikatakan Pdt. Jusuf B. S. di atas tentang bimbang dan ragu-ragu akan keselamatan, atau mengira diri saya tidak dipilih, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Saya lalu bertanya-tanya: ‘Bagaimana mungkin Pdt. Jusuf B. S. yang adalah seorang Arminian bisa menebak-nebak pikiran orang Calvinist? Apakah mungkin apa yang dikatakan oleh Pdt. Jusuf B. S. di atas tentang bimbang dan hilang sejahtera, sebetulnya adalah gambaran dari pikirannya sendiri?’.

Bahwa Pdt. Yusuf B. S. mungkin sekali sering ragu-ragu akan keselamatannya sendiri, bisa terlihat dengan lebih jelas dari pasal 13 dari buku ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, yang diberi judul ‘Perasaan ragu-ragu akan keselamatan’, dimana ia berkata bahwa perasaan ragu-ragu akan keselamatan adalah sesuatu yang normal!

 

Pdt. Jusuf B. S.:

“Ada beberapa orang yang senang dengan teori Calvin sebab memberikan keyakinan keselamatan yang kuat. Orang-orang ini tidak suka diganggu oleh perasaan ragu-ragu akan keselamatannya. Betulkah pengertian dan pendirian seperti ini? Ini tidak normal, ini keliru. Yang betul: Orang-orang beriman kadang-kadang diganggu oleh perasaan ragu-ragu akan keselamatannya, bahkan ada yang sering dan sangat terganggu. Mengapa? Sebab orang-orang beriman belum sempurna, kadang-kadang masih berbuat dosa, bahkan ada yang sering dan ada yang tidak atau belum lepas dari ikatan-ikatan dosa” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 81.

 

Dari kata-kata ini terlihat 2 hal:

1.   Di sini Pdt. Jusuf B. S. berkata bahwa Calvinisme justru mempunyai keyakinan keselamatan yang kuat. Ini kontradiksi dengan tuduhan kebimbangan yang ia tuduhkan pada Calvinisme tadi!

2.   Jelas bahwa kebimbangan memang lebih cocok untuk dituduhkan pada ajaran Arminian, bahkan kepada Pdt. Jusuf B. S. sendiri, dan bukannya pada Calvinisme!

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali